Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Briefing Penanaman Terumbu Karang

    Briefing Penanaman Terumbu Karang

    Bulukumba, RBB (26/09)—Sebelum transplantasi coral (terumbu karang ), panitia World Tourism Day (WTD), khususnya para divers (penyelam) melakukan briefing untuk memudahkan cara memasang coral pada replika layar Pinisi yang telah sukses diletakkan di Ruku-Ruku. Selain itu akan diturunkan juga 2 (dua) buah pod (tempat pemasangan coral) untuk menambah jumlah coral di daerah dekat pinisi.

    Teknik yang digunakan artificial structure (struktur tidak alami) karena dipasang di replika. Adapun jenis coral yang dipasang adalah soft coral (terumbu karang yang mudah patah) dan hard coral (terumbu karang yang tidak mudah patah). Beberapa cara membersihkan coral juga dibahas agar coral yang nantinya telah dipasang tidak mudah terkena penyakit.

    Setelah semuanya jelas, terdapat 7 orang divers yang akan turun menyelam di Ruku-Ruku dengan tugas masing-masing. Harapannya, di masa akan datang, daerah Ruku-Ruku yang mempunyai wilayah berpasir tersebut dapat dikunjungi ragam ikan berwarna warni sehingga spot diving daerah tersebut semakin menarik.

    Zulkarnain Patwa
    Panitia World Tourism Day
    Anggota Pinisi Diving Club

  • Kesuksesan Penurunan Replika Pinisi ke Dasar Laut untuk Menyambut Hari Pariwisata Sedunia

    Kesuksesan Penurunan Replika Pinisi ke Dasar Laut untuk Menyambut Hari Pariwisata Sedunia

    Panitia World Tourism Day (WTD) di Bulukumba membawa miniatur Pinisi dan Cor Flat (baca: landasan perahu) yang total beratnya lebih 1 ton dengan 2 perahu kayu tradisional. Titik berangkat dari pantai Bira sekitar pukul 14.30 Wita menuju Ruku-Ruku. Perjalanan sekitar satu jam untuk tiba di lokasi (22/09).

    Saat
    Replika Pinisi sedang dibawa ke laut untuk ditarik dengan perahu ke Ruku Ruku
    Foto drone dari Saiful–Ade Project

    Untuk menjaga keseimbangan daya apung dalam perjalanan, cor plat yang beratnya sekitar lebih 850 kilo didampingi 2 ponton dan Jergen 12 jeregen. Di tengah perjalanan, sebuah tali pengikat ponton putus namun hal itu dengan sigap diatasi para divers dengan menyambung tali kembali. Dibuatlah keputusan dengan memperpanjang jarak perahu dengan Cor Flat yang awalnya 5 meter menjadi 30 meter. Sedangkan replika Pinisi yang beratnya sekitar 250 kilo diikat dengan 2 drum plastik besar dan tetap dalam keadaaan seimbang hingga tiba di lokasi dengan jarak sekitar 10 meter dari perahu.

    Persiapan penurunan replika Pinisi di Ruku Ruku.
    Foto drone dari Syaeful–Ade Project.

    Saat prosesi penurunan dimulai, Abdul Rahman yang merupakan senior dan sekaligus intruktur divers yang memimpin para divers. Cor Flat terlebih dahulu diturunkan dengan cara melepas ponton tapi tidak melepas jeregen agar Cor Flat dapat turun secara perlahan. Divers (penyelam) tetap mengawasi Cor Flat hingga sampai ke dasar laut dengan kedalaman 13, 6 meter.

    Adapun penurunan berikutnya yaitu replika Pinisi menyerap metode lift bag dengan melepas udara yang terperangkap drum secara teratur. Drum telah didesain sedemikian rupa sehingga para divers dapat mudah mengontrol pelepasan dan pemasukan udara pada drum sehingga divers dapat membawa replika tersebut tepat di area Cor Flat.

    Perjuangan divers menempatkan replika Pinisi agar terpasang tepat di Cor Flat (landasan perahu) saat berada di dasar laut.
    Foto dari Jihad–Skansa

    Ketua panitia WTD, Imbang Perdana Sair menjelaskan bahwa para divers telah dibekali Training Camp untuk meminimalisir anggaran. Bila kita menggunakan teknologi lift bag, harganya mahal. Oleh karena itu panitia mempelajari segala hal prinsip yang ada pada lift bag. Lalu panitia memodifikasi jegeren sehingga prinsipnya sama dengan lift bag. Setelah Training Camp ini sukses, metode ini diterapkan. penyelam pun telah dibekali perfect buoyancy (mengapung saat menyelam) sehingga penyelam leluasa bergerak di dalam air dan tetap aman.

    Ketika replika Pinisi terpasang dengan sempurna di Cor Flat di dasar laut pada kedalaman 13.6 meter

    Sementara itu, Syamsul Jihad dan Andi Tije dkk menjelaskan bahwa yang agak sulit dikerjakan divers yaitu mengontrol Cor Flat yang turun agak cepat karena seharusnya butuh 20 jeregen untuk memperlambat kecepatan menuju dasar laut. Dan yang paling rumit adalah menggeser Cor Flat yang telah rapat di dasar laut ke tempat yang tepat dan datar. Sedangkan Replika Pinisi itu bebannya ringan, sedikit saja repotnya yaitu saat memasang Pinisi di tepat landasan.

    Jihad menambahkan bahwa ini moment untuk belajar bagaimana menurunkan barang yang berat ke dalam air dengan cara yang tradisional. Ketika tidak ada alat yang canggih dan mahal, kita dapat menggunakan apa yang ada. Segala hal mungkin. Ibarat pepatah, tidak ada tali, rotan pun jadi.

    Kegembiraan panitia World Tourism

    Acara ini diharapkan mampu memajukan ekonomi pendapat ekonomi masyarakat khususnya di kawasan wisata dan secara umum dapat menambah APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Bulukumba karena hal ini akan meningkatkan kunjungan wisata ke Bira serta pengembangan spot diving yang berkelanjutan.

    Kesuksesan ini berkat dukungan segala pihak; masyarakat setempat, Sponsorship dari berbagai kalangan, Dinas Pariwisata Bulukumba, Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Daerah Bulukumba, Divers, dan semua rekan rekan relawan dan relawati yang begitu banyaknya sehingga tidak dapat disebut satu persatu.

    Zulkarnain Patwa
    1. A member of World Tourism Day in Bulukumba
    2. Anggota Pinisi Diving Club

  • Uji Air Laut untuk Terumbu Karang

    Uji Air Laut untuk Terumbu Karang

    Bulukumba, RBB (30/8)—Dalam melakukan proses transplantasi karang, Panitia Hari Pariwisata Dunia ini terlebih dahulu mekukan penelitian dipandu oleh Mr. Marco dan Pak Rahman di Blue Planet, Bira. Mereka telah mengambil sample (contoh) air laut di Liukang dengan kedalaman 12 Meter dan di Ruku-Ruku dengan kedalaman 10 Meter. Hari ini mereka mengguji salisitas (keasinan) air sebagai standar kelayakan.

    Jarak aman Ph air pada 7.4 sampai 8.5. Pada Liukang Ph nya 7.83 dan pada Ruku-Ruku ph nya 7.75. untuk kepadatan air diukur menggunakan salinometer.  Jarak aman pada 1.24 sampai 1.25. Ruku-Ruku dan Liukang berada pada angka 1.26. Adapun solidity, Ruku Ruku di angka 340 dan Liukang di angka 300. Angka tersebut aman meskipun khusus solidity ada sedikit kelemahan yaitu hilangnya sendok pengukur takaran sehingga campuran yang diberikan pada air tersebut agak sedikit berlebih.

    Kesimpulan yang dapat diambil yaitu kedua tempat tersebut layak untuk dilakukan transplantasi karang.

    Setelah uji laboratorium ini, para panitia langsung melakukan diving yang dikhususkan untuk mengenal ragam terumbu karang. Rencana pada minggu berikutnya, hasil penelitian ini akan dilanjutkan tentang cara merawat, menanam dan menumbuhkan karang-karang di laut.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Kecerdasan Super Anak pada Ibunya

    Kecerdasan Super Anak pada Ibunya

    Bulukumba, RBB (29/8)—B. J. Habibie pernah menyampaikan bahwa super intelligent sofware (Perangkat lunak kecerdasan yang luar biasa) pada anak ada pada ibu. Seorang anak kelas 3 di SMP 4 Matekko bernama Andi Zaky Diryananda adalah satu-satunya anak remaja yang telah menamatkan buku Basic English Grammar dan Fundamentals of English Grammar karya Betty Scampfer Azar di Bulukumba. Dari bekal handal tersebut, Zaky mendapatkan “ticket” pelatihan basic TOEFL (Test of English as a Foriegn Language)—Sebuah pengantar  bila suatu saat ia ingin kuliah di kampus ternama atau sekolah ke luar negeri.

    Dari mana kemampuan anak 14 tahun ini?  Mari kita telusuri super intelligent sofware-nya. Andi Ayu Cahyani yang merancang anaknya ini memberi pengantar, “Tipe Zaky itu lebih gampang menerima pelajaran dalam situasi yang agak santai. Ia tidak suka pelajaran yang begitu serius seperti belajar di sekolah. Bila di tempat kursus serius lagi, kan membosankan. Saya putuskan untuk memilih lembaga yang mempunyai metode belajar yang yang tidak monoton, ada permainan dan rileks”, katanya.

    Langkah yang cerdas dari Ayu ini bukan tanpa masalah. “Awalnya Zaky agak malas. Saya memberi pertimbangan pentingnya belajar Bahasa Inggris.  Dia dan anak seumurannya suka main game yang kosa katanya rata-rata berbahasa Inggris. Nah, saya agak lebih mudah mempengaruhi pikirannya bagaimana pentingnya untuk belajar Inggris.” Zaky bergabung di Rumah Belajar dan sukses menyelesaikan buku tebal Basic English Grammar dalam 7 bulan.

    Pada perjalanan menuntaskan buku Fundamentals of English Grammar dan basic TOEFL, Zaky membutuhkan energi lebih ekstra. Ia dihadapkan pada kumpulan soal-soal grammar, listening and reading yang jauh lebih rumit. Kosa katanya pun aneh-aneh dan jarang digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Ragam soal-soal tersebut memang menciptakan tantangan tersendiri tapi siapapun juga yang selalu bertemu dengan rutinitas, kebosanan pasti datang mendera juga. Hal ini pun terjadi pada anak remaja seperti dirinya.

    Di sini lah peran ibu yang selalu hadir mendampingi. “Saya mendorong bahwa Bhs. English mendukung masa depannya dan bisa survive di mana saja”, terang Ayu. Selangkah lebih maju,  “Saya pahamkan bahwa Bhs. Inggris itu kebutuhan, bukan kewajiban. Dalam sebulan, satu dua kali saya bolehkan tidak pergi. Kalau saya sudah capek membujuk, saya sedikit memaksa juga”, lanjutnya.  Ibunya selalu mencari cara agar ia mau berangkat karena ibunya yakin bahwa bila ia sudah berada di kelas, ia larut dalam pembelajaran dan enjoy (baca: menikmati)”. Karena itu, Zaky mampu lalui tahapan sulit dengan sangat baik.

    Pembuktian kemajuan belajar Zaky dapat dilihat dari pengalaman. “Alhamdulilllah, kalau ada pekerjaan saya di Bira, Zaky sering ikut dan berbicara dengan turis mancanegara. Rumah belajar sering juga mengundang tamu mancanegara yang membuatnya mudah berinteraksi langsung dengan orang asing. Selain itu, ia pun biasa praktek sesama pelajar”, terang Ayu yang juga menjabat sebagai kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata, Dinas Pariwisata Bulukumba.

    Adapun mengenai pelajaran sekolahnya, “Saya sering mengevaluasi buku-bukunya. Saya lihat hasil pemeriksaan gurunya, rata-rata tinggi. Komentar guru Bhs. Inggrisnya, “Excelent.” Rata-rata nilainya 90 ke atas. Kursus Bhs. Inggris sangat bagus menunjang pembelajarannya di sekolah”, ugkap ibunya.

    Proses penamatan buku Fundamentals of English Grammar karya Betty Scrampfer Azar. Buku ini menjadi panduan Universitas Gadjah Mada untuk pelatihan TOEFL bagi calon mahasiswa S 2 pada tahun 2000.

    Dari pengalaman Bu Ayu dan Zaky ini, orang tua dan pelajar sebenarnya tidak perlu takut lagi pada Bhs. Inggris. Sebagai motivasi, Ayu memberi pesan, “Pelajari karakter anak kita. Dimana dia tertarik, di situ kita masuk untuk mempengaruhi keinginannya untuk belajar, termasuk Bahasa Inggris”, tutupnya.

    * Disadur dari petikan wawancara pada 25 Agustus 2020 di kantor Dinas Pariwisata Bulukumba.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Pendapat Dewan Juri pada Juara Duta Wisata Bulukumba (2)

    Pendapat Dewan Juri pada Juara Duta Wisata Bulukumba (2)

    Bulukumba, RBB (25/8)—Kekayaan destinasi wisata menjadikan Bulukumba menjadi menarik perhatian publik. Hal yang sama pun terjadi pada lomba Duta Wisata Bulukumba 2020 yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata Bulukumba.

    Setelah melalui ujian yang panjang, para peserta finalis sampai pada tahapan akhir, penentuan juara. Dewan Juri yang mengetahui sosok dan sumber daya manusia seperti apa yang dibutuhkan menjatuhkan pilihan pada Muhammad Arsan dan Nur Aliyah Patwa sebagai Duta Wisata Bulukumba.

    Berikut ini pendapat 5 (lima) Dewan Juri sesaat setelah lomba di GOR (Gedung Olah Raga) Bulukumba (22/7). Mari kita simak petikannya:

    Tomy Satria Yulianto
    Wakil Bupati Bulukumba

    “Ini ajang komptesi yang sehat. Anak anak millenial Bulukumba kita harapkan membicarakan hal hal baik tentang Bulukumba nantinya. Kita ini sebagai dewan juri hanya menjadi bagian yang menegaskan talenta (Baca: bakat) yang mereka miliki. Mereka telah perlihatkan bahwa mereka mengetahui tentang pariwisata Bulukumba. Bagi saya, ini modal luar biasa bagi masa depan Bulukumba di akan datang.”

    Rezky Hutama Putra
    Ketua Adwindo (Asosiasi Duta Wisata) Bulukumba

    “Sebagai ketua Adwindo, saya sangat merasa bersyukur bisa melaksanakan Duta Wisata ini meskipun sekarang kita berada di tengah pandemi. Kita juga mengingat bahwa pariwisata di Kab. Bulukumba sangat banyak sehingga perlu diadakan lomba Duta Wisata. Kita butuh sumber daya manusia yang khusus mempromosikan wisata-wisata yang ada di Kab. Bulukumba. Harapan buat yang terpilih, mereka bisa berdedikasi di Bulukumba, bisa melaksanakan dan mengemban tugas sehingga apa yang diharapkan bisa terlaksana.”

    Andi Ayu Cahyani
    Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata di Dinas Pariwisata Bulukumba

    “Grand final ini kita adakan sebagai salah satu cara untuk bagaimana mengapresiasi bakat-bakat mereka, khususnya dalam promosi pariwisata di Kab. Bulukumba yang kita tahu memiliki banyak potensi wisata. Harapannya, dengan mengemban dan memegang predikat sebagai juara, mereka tentunya kita ajak bersama-sama Dinas Pariwisata untuk promosi wisata di seluruh Indonesia dan bahkan ke luar negeri.”

    Saat Dewan Juri melakukan penilaian pada Grand Final Duta Wisata Bulukumba.
    Sumber foto: Rumah Belajar Bersama.

    Andi Minie Patongai
    Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata di Dinas Pariwisata Bulukumba

    “Grand Finalis kali ini berjalan dengan lancar. Kita melihat adik-adik dari Adwindo (Asosiasi Duta Wisata) Bulukumba mengadakan acara meskipun tanpa bantuan anggaran dari Dinas Pariwisata Bulukumba tapi mereka tetap mengadakan pemilihan Duta Wisata Bulukumba dengan baik. Saya harapkan pada yang juara mudah-mudahan bisa mempromosikan objek destinasi wisata Bulukumba, baik ke dalam maupun ke luar negeri. Dan semoga tahun tahun ke depan lebih baik dari tahun ini.”

    Resky Permatasari
    Dara 2011 Bulukumba dan Supervisor Program Keluarga Harapan di Dinas Sosial Bulukumba

    “Sebagai dewan juri, Duta Wisata yang terpilih betul-betul bisa membawa nama baik Bulukumba ke depan. Mereka ini benar-benar memenuhi kriteria dalam penilaian. Mulai dari masalah fisik, keilmuan, penguasaan panggung, mereka semua mantap.”

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Games pada Anak-Anak dan Buku

    Games pada Anak-Anak dan Buku

    Bulukumba, RBB (25/8)—Bila berkunjung ke Rumah Belajar Bersama, Anda akan sulit menemukan anak-anak sibuk bermain handphone dengan segala permainan gamesnya. Sebagai pengganti, ribuan buku telah disiapkan mulai dari buku anak-anak hingga dewasa.

    Larangan bermain games hp ini berdasarkan pengalaman. Seringkali guru menemukan pelajar kategori anak anak pura-pura menunduk saat jam belajar. Saat dicek, bukan belajar tapi bermain games. Pantas saja tidak mereka tidak mengerti karena perhatian bukan pada pelajaran. Ada juga yang berpura-pura izin keluar ruangan dan bermain games di teras. Banyaklah cara “kreatif” mereka. Kreatif sih boleh tapi tujuan kedatangan untuk belajar harus tercapai juga kan.

    Sedangkan pada kasus anak-anak yang telah kecanduan games, pandangan matanya sangat berbeda, tidak bisa fokus. Ada pepatah mengatakan, “Masuk dari telinga kanan, keluar di telinga kiri”. Itu mungkin masih baik karena ada yang singgah. Tapi bila masuk di telinga kanan, mantul keluar, tidak ada yang singgah. Sebagai langkah penyelamatan, guru berkoordinasi dengan orang tuanya agar ada tindakan di rumah untuk mengalihkan perhatian dari games. Minimal membatasi bila tidak bisa dihentikan secara langsung.

    Menanti jemputan orang tua dengan bermain catur di Rumah Belajar Bersama. Foto pada 2 Agustus 2020

    Lalu, apa yang dilakukan saat anak anak berada di Rumah Belajar? Memanfaatkan waktu luang.  Di sela-sela waktu luang seperti terlalu cepat datang, keluar main atau menunggu jemputan pulang dari orang tua masing-masing, kami mengajak anak anak mengambil buku kesukaannya di rak perpustakaan dan mencari tempat duduk yang membuatnya nyaman membaca. Bila ada yang tidak mau membaca, tidak dipaksakan tapi dibiarkan bermain dengan teman-temannya. Hal yang terbaru yang mereka senangi adalah bermain catur. Itu malah baik untuk mengasah logika dan kecerdasan otak.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Terpilihnya Duta Wisata Bulukumba 2020 (1) Bersambung…

    Terpilihnya Duta Wisata Bulukumba 2020 (1) Bersambung…

    Bulukumba, RBB (24/8)—Kepopuleran pariwisata Bulukumba telah sampai pada tingkat dunia. Ini bisa dilihat dari icon Bulukumba yaitu Pinisi telah ditetapkan oleh UNESCO (United Nations Scientific and Cultural Organization) sabagai bagian dari warisan dunia pada 2017. Dinas Pariwisata (Dispar) Bulukumba dari tahun ke tahun terus melakukan eksplorasi lebih jauh agar potensi pariwisata yang lainnya terus tergali dan turut terkenal ke dunia internasional.

    Dan untuk pengembangan sumber daya pariwisata pemuda dan pemudi, Dispar Bulukumba mengadakan acara tahunan lomba Duta Wisata. Tahun 2020 ini, Dispar menggandeng Adwindo (Asosiasi Duta Wisata) Bulukumba sebagai panitia dan mengangkat tema “Peran Millenial Bulukumba menuju Era Industri 4.0”.

    Terdapat 24 peserta dengan komposisi 12 putra dan 12 putri. Untuk memperoleh kwalitas yang terbaik, ditetapkanlah 3 kategori penilaian yaitu:

    1. Attitude (sikap)
    2. Knowledge (Pengetahuan)
    3. Performance (Penampilan).

    Menurut Rezky Hutama Putra, Ketua Adwindo Bulukumba, “Sikap yang kami utamakan dalam penilaian ini. Selama kurang lebih 1 minggu, kami memperhatikan sikap peserta dalam menghadapi beberapa moment. Sedangkan mengenai pengetahuan, tentunya semua sudah tahu kalau menjadi duta membutuhkan pengetahuan yang baik. Dan penampilan, kami menilai postur tubuh yang proporsional serta penampilan yang menarik”, terangnya.

    Babak penyisihan hingga Grand Final Duta Wisata ini dilaksanakan di GOR (Gelanggang Olah Raga), berakhir pada 22 Agustus 2020. Pada Grand Final, 5 (lima) orang juri yang telah matang pengalaman yaitu Tomy Satria Yulianto (Wakil Bupati), Rezky Hutama Putra (Ketua Adwindo), Andi Ayu Cahyani (Kepala Bidang Sumber Daya Pariwisata Dispar), Andi Minie Patongai (Kepala Bidang Destinasi Dispar), dan Rezky Purnamasari masing-masing memberikan penilaian terbaiknya.

    Keputusan team juri yang diumumkan oleh pembawa acara menetapkan bahwa juara 1 putra jatuh pada Muhammad Arsal, Mahasiswa Politeknik Pariwisata Makassar. Adapun Juara Putri jatuh pada Nur Aliyah Patwa, Mahasiswi Universitas Negeri Makassar. Suara musik menggema diirigi tepuk tangan meriah dan ucapan selamat pun menyambut.

    Sebagai juara Duta Wisata Bulukumba, mereka diharapkan mampu berpikir, berkreasi dan memanfaatkan Era Industri 4.0 sebagai alat percepatan promosi pariwisata Bulukumba yang ber-tagline Pesona Tanpa Batas.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Saatnya Anak SD Praktek Bhs. Inggris dengan Wisatawan

    Saatnya Anak SD Praktek Bhs. Inggris dengan Wisatawan

    Bulukumba, RBB (22/8)—Andi Alodia Syahda Syakira adalah pelajar kelas 6 di SD 32 Palambarae, Kec. Gantarang.  Kedua orang tuanya sangat menyadari bahwa Bahasa Inggris sebagai bekal utama dalam menghadapi tuntutan perubahan zaman di masa akan datang. Untuk itulah, Alo diikutkan kelas Bahasa Inggris.

    Pada saat liburan keluarga di Dego-Dego Na Bira (9/8), seorang wisatawan dari Italia berkunjung. Dengan bekal pengetahuan belajar bahasa selama 2 tahun, Alo memberanikan diri menyapa dan berkenalan dengan Mr. Marco. Pembicaraan hangat pun terjadi. Ia menanyakan berbagai hal tentang tempat wisata yang pernah Marco kunjungi di Indonesia, Eropa, dan negara-negara yang pernah dikunjunginya di dunia. Marco melayani semua pertanyaan. Dan karena Alo mengerti pembicaraan, Marco bersemangat menjelaskan satu persatu.

    Bahasa Inggris layaknya telah menjadi jendala Alo untuk menambah wawasannya dalam mengenal dunia yang luas ini. Ia pun sering mengekspresikan diri dengan mengatakan, “Wah!” saat Marco menceriterakan dunia bawah laut dan hal-hal yang baru baginya. Ifha Musdalifa yang juga tahu berbahasa Inggris dan hadir di tempat tersebut mengatakan, “Itu pertanda bahwa ia mengerti apa yang bule tersebut bicarakan”. Sebagai bentuk dukungan, “Pengalaman dan praktek seperti ini perlu untuk menambah kepercayaan dirinya”, kata ibu Alo ini.

    Saat Marco menanyakan siapa saja orang ramai yang berada di sekelilingnya, anak berumur 11 tahun ini dengan sigap menjelaskan semua orang tersebut adalah keluarganya. Ia menerangkan bahwa ia datang ke sini bersama ibu, ayah, 1 orang saudara laki laki, 2 orang saudara perempuan, dan 4 orang tantenya untuk kunjungan liburan. Marco pun memberikan berbagai pertanyaan yang menarik perhatian dunia anak yang membuat Alo menjawab dengan riang gembira.

    Sementara itu, Nain yang juga turut mendidik Alo di Rumah Belajar Bersama mengatakan, “Kemampuan Alo ini adalah hal yang wajar karena ia teratur mengikuti kelas belajar, tekun mengerjakan latihan yang membuatnya paham Basic English. Anak ini pun telah mengerti struktur tense—sangat sedikit anak SD di Indonesia yang menguasainya—yang memudahkannya berbicara dengan benar atau tidak terbalik balik sehingga orang lain cepat mengerti. Inilah yang membantunya untuk tidak perlu menerjemahkan pembiacaraan kata per kata, betapa pun penambahan kosa kata itu penting untuk terus ditingkatkan.”

    Ia menambahkan, “Dialog dengan orang asing itu menambah semangat para pelajar. Pelajar pun dapat tahu sejauh mana kemampuan dirinya dalam berbahasa Inggris. Kita pun sebagai pengajar akan lebih tahu hal-hal apa yang kurang dan lebih sehingga kita dapat mengambil langkah yang paling tepat untuk  percepatan pencerdasan pelajar tersebut.”

    Saat ini Alo bersama rekan rekannya di Rumah Belajar sedang giat-giatnya membaca buku cerita berbahasa Inggris. Tiap pertemuan, mereka diwajibkan tampil di depan kelas untuk mengkisahkan kembali apa yang dipahami dari bacaannya. Menurut Nain, “Kelas tersebut khusus bagi pelajar kategori pre-intermediate.”, tutupnya.

    Rumah Belajar Bersama sekarang ini terdapat  di 2 kabupaten. Kab. Bulukumba beralamat di Jl. Teratai No. 16, Kecamatan Ujung Bulu. Adapun yang Kab. Bantaeng beralamat di Jl. Sungai Calendu No. 5, Kelurahan Mallilingi.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Nurmala Usman: Mensukseskan Pendidikan pada Anak-Anak

    Nurmala Usman: Mensukseskan Pendidikan pada Anak-Anak

    Bulukumba, RBB (21/8)—Nurmala Usman adalah seorang ibu yang mengikuti pesan bahwa belajar di waktu kecil bagaikan menulis di atas batu. Hal inilah yang ia tiap hari terapkan pada kedua orang anaknya yang masih di bawah 10 tahun.

    Karena kebiasaannya memberi perhatian pendidikan yang tinggi di rumah, anak-anaknya sudah lancar membaca sejak kelas 1 SD (Sekolah Dasar). Kemudian, rekannya sewaktu sekolah di Pesantren Babul Khaer bernama Bu Risma yang mengajak agar anak anaknya turut bergabung di Rumah Belajar. “Karena saya tidak sembarang ikutkan anakku,  saya lebih dahulu ikuti akunnya di media sosial. Saya cek, ini bagus. Saya pun meminta izin pada suami. Suami meminta agar saya mendidik anak-anak di rumah saja tapi saya berpikir,  siapa tahu ada metode lain”, kata Nurmala.

    Saat berkunjung, Nurmala melanjutkan, “Kesan pertama saya temukan di Rumah Belajar yaitu cara guru menyapa yang sangat ramah anak-anak saat bertemu guru Baca Tulis, Siti Satriana. Anakku tiba-tiba bilang bahwa dia mau belajar di sini sampai kelas 6”, katanya.

    Saat mengikuti perkembangan pelajaran, Nurmala yang juga guru SMK 2 Borong Rappoa Kindang ini melanjutkan, “Di sini lebih fokus karena ada pendekatan langsung ke individu. Karena tiap kelas itu tidak boleh ramai, satu persatu dapat dididik menyelesaikan masalah sehingga anak bisa lebih bisa mandiri. Terdapat cara menghitung di save (disimpan) di kepala. Kini, anakku malah mengajar saya. Anakku biasa berkata, begini kata Bu Siti. Saya tanyakan, Nak, kalau penjumlahan puluhan dan ratusan bagaimana caranya yang naik satu itu? Anakku menjawab, Ibu, 2 disimpan di kepala, 10 di tangan. Contoh 12 – 5 = … jawabnya 10 di tangan, 2 di kepala. Kurangi 5 di tangan. Jadi sisanya 5. Lalu, sisa 5 di tangan tambah 2 di kepala, sama dengan 7”, Kata Nurmala sambil mencontohkan dengan gerakan tangan.

    Lebih lanjut ia menjelaskan kemajuan belajar anaknya. Umratul Qadsa yang berumur 8 tahun sudah bisa penjumlahan ratusan. Ia sudah tahu simbol kurang dari, lebih dari dan sama banyak. Perkalian juga sudah paham. Adapun Qiran yang masih 7 tahun, belajar cara menyelesaikan penjumahan bersusun, pengurangan dari buku paket sekolah. Ia telah bisa menyelesaikan penjumlahan sederhana. Guru Siti mampu membuat cara agar soal-soal pelajaran sekolah yang dalam bentuk cerita yang masih sulit dipahami anak anak kelas 1 SD. metode jarimatikanya menarik memudahkan Qiran menyelasaikan tiap soal. Perkenalan dasar perkalian juga diberikan.

    Agar anak anak bertambah rajin, “Waktu mau lebaran Idul Adha, libur, saya beritahukan ke Bu Siti agar  anak anak diberi banyak PR (Pekerjaan Rumah) supaya waktu yang kosong di rumah bisa terisi. Anak anak diajar bertanggung jawab dengan tugasnya”, terang Nurmala.

    “Cara ini memicu semangat belajar anak-anak. Ketika belajar tatap muka tidak ada, ini moment bagus. Kalau sekedar belajar daring di hp, anak anak mengnga mengnga (termangu-mangu) saja. Inisiatif sangat perlu karena saya takut semangat belajar anak hilang karena terlalu banyak bermain”, ungkap Nurmala

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Pengaruh Pendidikan pada Kemerdekaan Indonesia

    Pengaruh Pendidikan pada Kemerdekaan Indonesia

    Bulukumba, RBB (19/8)—Penderitaan rakyat Indonesia yang sangat tinggi membuat Ratu Wilhelmina mengeluarkan kebijakan Politik Etis pada 1901 yang berisi 3 (tiga) hal:

    1. Irigasi (pengairan). Membangun dan memperbaiki bendungan untuk pertanian
    2. Transmigrasi. Perpindahan penduduk dari daerah yang padat ke daerah sedikit penduduk.
    3. Pendidikan bagi pribumi.

    Tulisan kali ini hendak membahas poin nomor 3 yaitu pendidikan. Untuk itulah, Belanda mendirikan:

    1. SD terdapat HIS (Hollandsche Inlandsche School) dikhususkan bagi pribumi yang kaya.
    2. SD terdapat ELS (Europesche Lager School) dikhususkan bagi warga Belanda dan anak pembesar pribumi.
    3. SMP bernama MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).
    4. SMA bernama AMS (Algemeene Middelbare School).

    (lebih…)