Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Zoom Inggris untuk Pelajar Indonesia

    Zoom Inggris untuk Pelajar Indonesia

    Diskusi lewat zoom video merupakan gagasan cerdas dalam mempertemukan orang orang yang berbakat dalam pengembangan Bahasa Inggris yang sedang kami gerakkan. Jauh sebelum virus Corona mengamuk, RBB (Rumah Belajar Bersama) dan EPC (English Practice Club) telah menjalankan ini dengan mengundang berbagai alumni pelajar luar negeri Indonesia dengan berdialog dengan pelajar dan khalayak umum yang berminat praktek Bahasa Inggris. Sayangnya, pertemuan zoom ini hanya delapan kali saja.

    Pada April 2026, setelah zoom pertemuan pertama dengan Salma Minasaroh–lulusan Universitas Gadjah Mada, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Kampung Inggris Pare, Jawa Timur, penulis mendapatkan usulan dari Mr. Ancha, pengajar RBB, lulusan UIN Alauddin, Muhammadiyah Makassar dan UGM Yogyakarta plus Kampung Inggris Pare agar RBB menjalin komunikasi yang erat dengan pengiat Bahasa Inggris super aktif di Bulukumba. Miss Sindar English dan Miss Fathy Cayadi kami ajak agar para pelajarnya bisa berkenalan dan bertukar gagasan dengan orang-orang baru di Sulawesi Selatan dan Jawa meskipun mereka tidak pernah bertatap muka langsung.

    Miss Sindar yang sukses merancang murid-muridnya di SMA 6 Kec. Herlang Bulukumba membuat buku Tenses menyambut gembira gagasan tersebut tentu punya stok pelajar yang siap untuk menindaklanjutinya. Untuk tahap awal, diskusi akan lebih banyak pada mengasah kemampuan berbicara dimana para pelajar yang masih pemula speaking pun diperkenankan bergabung. Grammar dan Pronunciation (tata bahasa dan pengucapan) juga bisa dibahas bila peserta zoom membutuhkan nantinya.

    Tahap berikutnya, ketika para peserta zoom ini telah aktif berbahasa Inggris, kita akan kembali mengundang alumni Indonesia yang pernah kuliah di luar negeri dan termasuk bule, para orang asing yang aktif atau pemerhati dunia pendidikan.

    Oh iya, sekedar info. Suasana makan siang bersama keluarga Sindar ini ditemani oleh Edi Iswandi Mallihorang, sang suami tercintanya
    Edi adalah rekan bermain penulis semasa kecil di Kalumpang dan menganggap penulis anak yang nakal. Setelah dewasa dan bertemu kembali, pemahamannya terhadap penulis berubah dan malahan mendorong anaknya di desa untuk ke kota Bulukumba belajar Inggris untuk masuk sekolah pelayaran, target Kapten. Dia pun sangat mendukung gerakan yang sedang diagendakan ini. Ia pun yakin bahwa banyak pelajar akan termudahkan dalam belajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, April 2026

  • Mengenang Ust. Safwan di HMI

    Mengenang Ust. Safwan di HMI

    Membaca kabar dari Muhammad Irfandi, seorang kawan baik semasa aktivis tentang kembalinya Ust. Andi Muhammad Safwan ke pangkuan ilahi membuat saya terpaku, diam dalam keheningan malam pada Kamis, 16 April 2026. Saya coba mengecek, ternyata Irfan memperolehnya dari sebaran info media sosial Ust. Muhsin Labib. Tanpa sadar, air mata menetes mengenang masa-masa berguru ke beliau. HMI-MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) Yogyakarta memperkenalkanku pemikiran tokoh-tokoh intelektual dunia termasuk penggerak Revolusi Islam Iran, 1979. Dan dari Ust. Safwan, kami di HMI pun belajar mengenal lebih jauh pemikiran Imam Khomaeni, Murtadha Muthahhari, Ali Syariati dan lainnya.

    Saat kami Intermediate Training (Latihan Kepemimpinan 2) HMI di Yogyakarta, ada sesi pengantar oleh pemandu (semacam Mater of Ceremony Plus karena mengacak otak peserta) yang membuat kami secara alami bikin kubu-kubuan dalam berdebat, pro kontra dan saling tidak percaya pada kubu lawan. Kemudian, setelah perdebatan sangat tajam, pemateri utama Ust. Safwan masuk. Beliau mengatakan, ‘Jangankan Al Qur’an, semua realitas harus diragukan’.

    Sebagai anak muda yang belasan tahun yang masih lugu, pernyataan itu wow banget! Para peserta terdiam. ‘Kenapa mesti takut mengkritik Al Qur’an? Toh kalau Al Qur’an itu sebuah kebenaran, semakin dikritisi, kebenarannya makin tampak’ Kata Ust. Safwan. Rekan rekan peserta tergugah. Ya, aktivis HMI itu memang mendidik kadernya tidak doktrinal.

    Saya pun bergabung di RausyanFikr mengikuti kajian kajian Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan tokoh tokoh intelektual Islam. Kegandrungan membaca buku tentang pemikiran intelektual Islam di Iran lebih terarah karena ada tempat untuk bertanya dan mengkaji lebih lanjut. Bahkan, para mahasiswa bisa memilih program kajian pemikiran yang mendalam dibahas khusus selama berbulan bulan. Saya ikut menikmati beberapa programnya dan belajar selama bertahun tahun. Skripsiku tentang Pemikiran Politik Ahmadinejad, Presiden Iran.

    Seminar
    FAI UMY (Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) mengundang Ulil Abshar Abdalla, jaringan Islam Liberal. Rekan saya di HMI, Abdul Wahab Nasaru menyarankan kepada penyelenggara agar Ulil panel dengan Safwan mengingat 24 premis kesalahan berpikir Ulil telah dikritisi di berbagai macam forum. Saat seminar, Ulil tidak dapat membantah satu pun kritik dari Safwan. Betapapun demikian, Safwan tetap mengapresiasi keberanian berpikir Ulil dan ia tetap menghormatinya sebagaimana layaknya seorang manusia. Ada kedewasaan dalam perbedaan.

    Sebenarnya Ust. Safwan tidak suka popularitas tapi karena kami terus meminta agar beliau berkenan menanggapi isu booming masa itu pada buku Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur!, akhirnya beliau berkenan jadi pembicara panel dengan Ust. Yunahar Ilyas (Tokoh Muhammadiyah, Alm.) dan Muhidin M. Dahlan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Seluruh sudut ruang seminar terbesar kampus dipenuhi manusia, hampir tidak jarak antara pembicara dengan peserta. Seperti biasa, Ust. Safwan mengkritik Muhidin, sang penulis buku, yang menggunakan kecerdasannya membuat roman dalam membaca kebutuhan pasar. Adapun pembelaan yang diberikan, buku itu adalah novel fiksi, tak bisa dikriminalisasi.

    Secara pribadi, satu kesyukuran yang hampir terlupakan atas pemahaman saya dalam Bahasa Inggris adalah Ust. Safwan pernah menunjuk saya jadi MC saat saudara kandung Ayatullah Ali Khamenei (maaf, saya lupa namanya) berkunjung ke Indonesia dan mengadakan seminar internasional di UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga Yogyakarta tentang Peradaban Besar Dunia diselenggarakan oleh Rausyan Fikr. Posisi MC membuat saya hati saya girang karena mendengarkan dan melihat lebih dekat tokoh besar yang punya aura intelektual dan spiritual yang dahsyat. Dan saya benar-benar menikmati dan bahagia.

    Beragam seminar yang kami buat selalu Ust. Safwan hadiri baik itu kegiatan kecil atau besar. Selama punya kesempatan, beliau tidak pernah menolak. Semua itu tanpa bayaran. Malahan, Komisariat dan Korkom (Koordinator Komisariat) HMI UMY dalam berusaha mendapatkan dana kegiatan hanya cukup dengan selembar kertas berstempel saja dapat membawa buku-buku Rausyan Fikr untuk dijual. Beliau mengerti betapa beratnya para aktivis HMI dalam mempertahankan independensinya.

    Selamat jalan Ust. Andi Muhammad Safwan. Kami sungguh kehilangan sosok yang berjihad di jalur intelektual. Kami tahu bahwa kami tidak mungkin lagi duduk untuk mendengarkan ceramah sang guru yang tersistematis yang sangat menyentuh pikiran dan hati. Semoga ilmu yang telah diajarkan kepada kami dapat terus kami sebarkan dan memberikan manfaat kepada sesama. You are our beloved teacher. Al Fatihah.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at, 18 April 2026

  • Perseturuan

    Perseturuan

    Sejak kecil kami berdua sudah sering berantem karena perbedaan paham. Tidak ada yang mengalah dan mau kalah. Ia hebat dalam berhitung dan menganalisa masalah dengan terstruktur. Bakat itu ia peroleh dari Ummi (ibu, terjemahan khas Indonesia) kami. Sedangkan penulis terbiasa membaca buku yang diperoleh dari kebiasaan ayah kami.

    Karena Saiful Patwa adalah kakak dan badan lebih tinggi dan besar, penulis lebih banyak tertindas semasa kecil. Penulis cuma pernah memberinya tendangan Mawashi Geri (istilah karate yang berarti roundhouse kick, tendangan melingkar) ke arah punggungnya dengan keras dan ia tidak sempat membalas karena ayah dan ibuku segera melerai. Ia tidak pernah membalasnya dan menganggapnya persoalan itu sudah lama berlalu, marahnya sudah kadaluarsa.

    Sebenarnya sih, perkelahian itu tidak berhenti. Benturan fisik tidak pernah terjadi lagi tapi berlanjut ke perang pemikiran. Kecerdasan Kak Iful telah dikenal sejak SD 234 Kalumpang, Kec. Bonto Tiro, Bulukumba. Ia selalu saja dapat nilai sepuluh dan akrab dengan panggilan Sampulo (sepuluh)–Itu pujian tapi dirinya sepertinya kurang tertarik. Penulis pernah memanggilnya ‘Sampulo’ dan dibalas ‘Kujaguruko intu’, (Kutinju kamu) balasnya. Mungkin saja itu ditafsirkan ejekan karena ia punya nama panggilan, Iful. Heran juga. Orang lain yang bicara, tidak diapa apain namun kalau ke penulis kena ancaman.

    Di SMPN 1 Bulukumba, sebagian guru memanggil penulis dengan nama Iful padahal nama panggilan penulis Nain. Di SMAN 1 Bulukumba, ia pelajar terbaik lagi, mewakili Bulukumba untuk sekolah khusus di Makassar. Lagi lagi nama Iful pun melekat pada penulis padahal saya kurang tertarik dengan pelajaran sekolah sebagaimana Kak Iful. Bacaan penulis kebanyakan bukan buku sekolah. Pelajaran sekolah itu penting dipelajari kalau mau ujian saja.

    Wasit Juri Karate
    Kak Iful lebih dahulu masuk karate di INKAI Kodim 1411 Bulukumba. Berkat dirinya, penulis tertarik.gabung. Kebiasaan sipatappasa (Saling membanting semacam gulat,) kalau berkelahi di kampung berubah pada kecepatan pukulan dan tendangan. Namun kebersamaan tidaklah berlangsung lama karena ia sudah harus sekolah di Makassar sebagaimana disebutkan di atas.

    Saling tes kecerdasan di karate mulai muncul sejak kami ikut Ujian Wasit Juri Karate, 2023 di FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan. Ia lulus sebagai bagian dari peserta ujian tulis terbaik pada Kumite dan poinnya sedikit lebih tinggi dari penulis. Kak Iful bilang, ‘Tidak usah lawan saya. Kamu kalah’, katanya sambil tertawa. ‘Saya bisa membalas pada ujian berikutnya’. Pada 2024, kami sama-sama telah belajar serius ke Jakarta untuk ujian Wasit Juri Nasional INKAI. Sayangnya, entah karena apa, hasil tidak keluar. Tidak ada pemenang.

    13 sampai 15 April 2026, FORKI Sulawesi Selatan kembali mengadakan ujian Wasit Juri Karate. Pada ujian tulis Kumite (Pertarungan), Kak Iful menang angka, penulis kalah angka tapi pada Kata (Jurus), penulis menang angka, Kak Iful Kalah angka. Skor berimbang, satu sama.

    Selanjutnya, kesialan mulai tampak. Pada praktek Kumite, kami sama sama lulus. Pada ujian praktek praktek Kata, Kak Iful lulus, penulis tidak lulus. Lagi lagi ia memang satu. Ujian lain yaitu Sertifikasi Pelatih, kami sama sama lulus. Penilaiannya hanya bersandar pada ujian tulis Kumite atau Kata.

    Penulis dengan lapang hati memberinya selamat sembari mengingatkan bahwa untuk ujian tingkat Daerah sampai Nasional, dirinya bolehlah tersenyum lebar, soal soalnya masih dalam Bahasa Indonesia. Kalau sudah luar Indonesia, nah kusarankan agar ia mau belajar ke penulis menghadapi trik soal soal berbahasa Inggris. Dengan percaya diri ia mengatakan, ‘Saya bisa Bahasa Inggris’. Maksudnya, ia tidak aktif komunikasi Inggris di rumah semasa ayah kami masih hidup namun ia cukup punya pemahaman saat membaca teks Inggris. Apa iya? Pada waktunya nanti, ia pasti akan bertanya.

    Perseturuan ini asyik untuk dipelihara. Kami suka dan terbiasa perbedaan ‘berantem pendapat’ dan berjuang dengan cara sendiri. Dari perseturuan positif ini, kami malahan tambah semangat belajar untuk menambah pengetahuan dan untuk saling meledek.

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Kamis, 16 April 2026

  • Karate, Bahasa Inggris dan Intelektualitas

    Karate, Bahasa Inggris dan Intelektualitas

    Soal ujian Kumite dan Kata (Pertarungan dan Jurus) standar WKF (World Karate Federation) yang diikuti Indonesia memang bikin pening kepala para peserta yang ikut ujian. Beruntung, di Sulawesi Selatan ada sosok Prof. Muzakkir yang telah malang melintang di dunia internasional dan punya kecerdasan menyederhanakan dengan Bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh peserta pelatihan FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan yang penulis ikuti pada 2023 dan 2026.

    Dari modul pembelajaran yang tersebar versi Bahasa Indonesia, orang orang yang tidak mengerti dasar-dasar Bahasa Inggris pasti sangat kewalahan memahaminya. Misal, kata ‘tongkat kegembiraan’ sebenarnya berasal dari kata ‘joy sticks’, alat elektronik yang dipegang oleh juri untuk menilai poin. Kemungkinan besar proses penerjemahan sekedar menggunakan terjemahan google atau semacamnya tanpa melibatkan manusia mengeditnya.

    Karena terlanjur mengikuti WKF, Bahasa Inggris menjadi alat komunikasi yang penting, minimal dasar-dasarnya. Bila tidak, Wasit Juri kita hanya mampu sampai level nasional saja, sulit bersaing di tingkat internasional. Soal soal ujian tindak lanjut pun tidak pakai bahasa Indonesia lagi, pasti Inggris. Itu saja sudah repot. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya wasit juri Indonesia berkomunikasi dengan sesama juri yang berbeda negara bila terdapat protes yang sulit dipecahkan dalam suatu pertandingan.

    Penulis mengajukan beberapa penjelasan dan pertanyaan pada pembahasan aturan WKF (World Karate Federation) yang disosiasikan melalui FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan. Seminar ini dipandu  langsung oleh Sensei Uceng sebagai MC (Master of Ceremony) dan Prof. Muzakkir sebagai pembicara utama di Universitas Kristen Indonesia Paulus. Makassar, Senin 13 April 2026.

    Kapasitas lain yang dibutuhkan adalah kecerdasan intelektual. Wasit Juri bukanlah atlet yang harus menampilkan keahliannya dalam bela diri. Mereka adalah orang-orang dituntut menganalisa gerakan yang sesuai dengan standar WKF, termasuk kesalahan yang diperbuat. Persoalan yang tidak tercatat dalam aturan pun biasanya muncul. Misal, dalam aturan 10 detik, tiba tiba seorang atlet pingsan. Apa guna menghitung 10 detik bagi orang pingsan? Dan bagaimana bila ia sadar dan siap lagi bertarung sebelum atau setelah tiga menit ditangani dokter? Keputusan mesti dibuat dan itu tidak boleh bertentangan dasar aturan. Itu butuh nalar intelektual.

    Intelektual yang bisa berbahasa Inggris–Bahasa Jepang juga perlu juga agar tahu asal usul kata dari istilah yang dipakai dalam karate–perlu dicetak lebih banyak guna membantu menerjemahkan dan menjelaskan kepada pelajar karate tahap awal. Sosok Prof. Muzakkir yang juga Dosen UNHAS (Universitas Hasanuddin) Makassar berhasil mengkombinasikan pengetahuan berbasis akademik dengan pengetahuan karate patut dicontoh karena punya peranan besar dalam membuat karate itu mudah dimengerti oleh orang orang yang menggeluti dunia karate.

    Zulkarnain Patwa
    * Peserta Ujian Wasit Juri FORKI Sulawesi Selatan.
    * Humas INKAI Sulawesi Selatan.
    * Direktur dan Pengajar Bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama.

    Makassar, Senin 13 April 2026

  • Teman

    Teman

    Menjalin silaturahmi dengan teman-teman itu wow banget deh. Kita bisa ngobrol apa saja, tidak perlu menentukan tema, tanpa alur sistematika berpikir dan tanpa menang atau kalah kayak debat. Obrolan bebas sebagaimana air yang mengalir. Dan yang paling asyik, canda tawa bikin bahagia.

    Memang sih, hidup itu butuh serius dalam menempuh cita cita. Tapi apa iya hidup kita ini lebih banyak serius dari pada santai? Dengan memperbanyak kawan, kita bisa lebih santai membicarakan hal hal yang serius. Bahkan, hampir tiada beban bertanya hal hal remeh temeh.

    Rekan di foto ini adalah Senpai Sardi Sar. Saat ujian sabuk hitam DAN 3 karate, penulis satu kamar hotel dengannya. Penulis minta tolong agar berkenan memperagakan beberapa Kata (Jurus) bahan ujian. Sembari baring, penulis nonton dan begitu pun sebaliknya hingga ada keyakinan bahwa Kata tersebut bisa dipraktekkan dengan baik saat ujian.

    Yang satu lagi Senpai Wama Andi Patawari. Senior kami satu ini orangnya periang dan suka terus terang. Apa yang ingin dikatakannya tidak dicicil, kontan saja tanpa ada beban. Humoris? Iya. Kritis? Iya juga. Ia punya kemauan yang kuat dan berjuang sekuat tenaga.

    Hasil ujian tulis Senpai Wama pada Wasit Juri Karate yang kami ikuti di FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan yang baru-baru kami ikuti juga bagus. Itu berkat hasil belajarnya disertai keramahtamahannya, beberapa orang dari daerah berkumpul di rumahnya di Makassar membahas soal-soal ujian. Untuk memimpin Wasit Juri Karate di atas Tatami (matras tanding), dengan memperbanyak praktek, ia pasti akan jadi lebih baik.

    Silaturahmi memperkuat ikatan persaudaraan, menepis prasangka. Kita jadi lebih mengerti mengapa teman kita seperti ini dan itu. Saling menghargai perbedaan pun terbangun. Pada saat yang sama, kita tetap bisa ngobrol santai yang sesekali diselingi candaan tawa tanpa beban melepaskan kepenatan berpikir dan hidup. Tidakkah itu membahagiakan?

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Rabu 15 April 2026.

  • Ragam Kekayaan Karate

    Ragam Kekayaan Karate

    Di luar dari perkiraan, penulis pun tidak pernah menyangka akan terlibat aktif dalam dunia Wasit Juri Karate. Pengetahuan yang selama ini dibangun menuntut ilmu dan urusan kesehatan dengan bela diri. Itu semuanya membangun mental kepercayaan diri, Eh, tahunya ada ujian Wasit Juri yang mana orang-orang bisa berkarir hingga ke tahap internasional.

    Memang sih, perancang ujian tulis standar WKF (World Karate Federation) cerdas. Mengutip istilah Prof. Muzakkir, pemateri saat kami pelatihan, mengatakan, ‘Yang bikin soal ini (maksudnya soal WKF) otaknya di atas Professor’.

    Penulis hanya tersenyum dan menganggap bahwa itu cara saja agar orang lebih serius. Pada akhirnya, penulis harus mengakui tingkat kerumitan soalnya karena meskipun lolos standar pada Ujian Tulis Kumite dan Kata (pertarungan dan jurus), penulis tidak mampu mencapai yang terbaik, kena jebakan juga.

    Berangkat dari pengalaman ‘menganggap enteng’ tersebut, Refleksi yang kemudian muncul adalah sekedar membaca dan memahami tidak cukup. Semestinya, penulis menerjemahkan sendiri modul materi berbahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. Dengan demikian, pemahaman tentu lebih mendalam dan teliti.

    Sebelumnya, penulis merasa cukup puas dengan bahan modul Bahasa Indonesia yang diberikan padahal tahu bahwa banyak terjemahannya yang kacau. Pantas saja banyak peserta yang berwajah tegang menghadapi ujian. Beruntung, penjelasan Prof. Muzakkir saat seminar yang sangat baik sehingga banyak masalah terselesaikan.

    FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan berniat mengadakan pelatihan Wasit Juri Karate minimal sekali dalam enam bulan. Itu ide sangat bagus karena selain dapat menghemat biaya peserta yang tempat tinggalnya jauh dari pusat, pemahaman orang di daerah tentang aturan karate dapat berkembang pesat.

    Pertimbangan lainnya terletak iuran bulanan atlet karate itu super terjangkau yang efek ekonominya ke para pelatih sudah pasti biasa saja. Kapitalisme pada karate akan membuat para pelatih itu otomatis keok yang dampak besarnya menimpa prestasi atlet karate itu sendiri.

    FORKI adalah penghimpun seluruh perguruan karate dan tulang punggung dalam membumikan karate di Indonesia dan poros utama untuk mendorong atlet, pelatih dan wasit juri karate mampu bersaing di tatami (matras tanding) internasional. Siapa sangka, Advent Bangun (Alm) yang dikenal sebagai artis laga film Indonesia yang populer pada zamannya adalah seorang karate ka yang mengharumkan nama Indonesia di berbagai kejuaraan dunia. Prof. Muzakkir yang dosen Hukum UNHAS (Universitas Hasanuddin) Makassar adalah Wasit Juri Karate di berbagai negara. Siapa lagi? Berikutnya adalah Anda.

    Zulkarnain Patwa
    * Humas INKAI Sulawesi Selatan
    * Pelatih INKAI Bulukumba

    Pada foto adalah kumpulan pelatih INKAI Sulawesi Selatan yang mengikuti Ujian Wasit Juri Karate oleh FORKI Sulawesi Selatan di Makassar

    Makassar, Selasa 14 April 2026

  • Percakapan Inggris Anak Anak

    Percakapan Inggris Anak Anak

    Melatih keaktifan anak anak berbicara Inggris itu gampang gampang susah. Mereka yang suka berpasangan dengan teman dekatnya dijadikan teman bicaranya. Mula-mula kita siapkan bahan pertanyaan dimana mereka menjawab sesuai dengan keinginannya. Kemudian, bahan tersebut dijadikan tanya jawab.

    Anak anak yang belum lancar alias mengerti luar kepala diperkenankan untuk membaca lembaran kertas percakapan sedangkan anak yang sudah lancar dengan sendirinya tidak butuh kertas lagi untuk menjawab. Ia akan berekspresi dalam mengungkapkan gagasannya.

    Kebiasaan berbicara Inggris tersebut perlu dibarengi dengan gerakan literasi. Hal ini bertujuan untuk membantu para pelajar kita berwawasan luas sehingga mereka tidak sekedar bicara. Ada bahan bahan obrolan yang terbaru untuk membuat pembicaraan mereka jadi lebih menarik.

    Membaca realistis sangat berperan menentukan metode belajar yang efektif. Ketika anak anak asyik berbicara Inggris dengan teman dekatnya, kita memulai saja dari hal hal yang disukainya. Berikutnya, rancangan pengembangan metode belajar lainnya dapat dengan serta merta mengikuti.

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Sabtu 11 April 2026

  • Tidak Bandel

    Tidak Bandel

    Palaguna Patwa yang masa kecil dan remajanya terkenal bandel dan suka berantem kini berubah. Pilihan lanjut kuliah dan lulus masuk di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta membuatnya punya lingkungan kondusif yang baru. Beruntung, kebiasaan membaca buku yang perhatian dari kedua orang tuanya, Syamsu Alam Patwa (Alm.) dan Andi Rachmawati, menurun padanya sehingga otaknya dapat memilah milah hal yang baik ia lakukan.

    Pulang kampung sejenak, Palaguna banyak mengisi waktu di RBB (Rumah Belajar Bersama). Ia tidak berkeliaran lagi sebagaimana waktu sekolah tapi terlibat aktif mendidik anak anak RBB. Berbekal pengalaman masa kecilnya, ternyata ia tahu cara mengatasi anak-anak yang bandel dan tidak mau belajar.

    Anak anak yang satu persatu berlatih menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam Bahasa Inggris oleh Palaguna.

    Pertama, mereka sepakat bermain sambil belajar tapi tidak membuat kegaduhan selama belajar. Kedua, semua anak anak boleh keluar main bila bacaannya selesai. Karena enjoy (senang), anak anak berkata, ‘Pecat mi (saja) itu Mr. Nain’. Maksudnya, Mr. Nain yang menjadi guru utama diganti saja dengan Mr. Palaguna. Palaguna tertawa melihat keberanian dan kebebasan anak anak berekspresi di RBB.

    Setiap anak melatih kepercayaan diri dengan mengekspresikan pendapatnya sendiri. Palaguna mendengarkan dengan penuh perhatian dan menindaklanjuti usulan anak anak tersebut.

    Palaguna sebenarnya juga pelajar Bahasa Inggris di RBB semasa SMA. Setelah kuliah di Jawa, memperdalam ilmunya di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur adalah langkah yang sangat tepat. Menjelang sarjana sekarang ini, ia juga ingin lanjut lagi kuliah S 2 sehingga kembali ke RBB mempelajari dasar dasar TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan IELTS (International English Language Test System). Dari hal tersebut, ada kesempatan berbagi ilmu kepada anak-anak di kampung halamannya.

    Tawar menawar materi yang akan dipelajari dengan anak anak. Anak anak tetap ingin waktu belajar itu dikemas dalam suasana bermain agar tidak membosankan. Dan Palaguna sepakat.

    Palaguna bersyukur menempuh jalur pendidikan akademik karena hal itu membuatnya lebih sadar bahwa banyak waktu yang berlalu telah ia sia-siakan. Masa lalu tidak mungkin berulang kembali. Ia berharap jangan sampai generasi kids zaman now menjalani masa kecil seperti dirinya sehingga sehingga sangat termotivasi mengajar anak anak. Dalam urusan literasi, semua anak anak yang ia didik mampu menyelesaikan tugas bacaan yang ia berikan. Dahsyat kan! Tidak ada lagi anak bandel dan berantem sedikitpun saat ia mengisi kelas.

    Selamat jelang sarjana, Palaguna dan semoga dapat menempuh S 2 di kampus yang dicita-citakan yang didasarkan oleh ilmu pengetahuan untuk berkembang pesat.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 10 April 2026

  • Tanya Jawab Inggris secara Online

    Tanya Jawab Inggris secara Online

    Dua gadis cilik memperoleh kesempatan berharga bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris lewat zoom. Pilihan Miss Salma Minasaroh pada Adeeva kelas 4 SD dan Faika kelas 3 SD ini dari hasil pengamatan belajar anak anak di media sosial RBB (Rumah Belajar Bersama). Adeeva anak yang lancar berbicara, tamat dua cerita buku Inggris dan paham perundang-undangan tenses luar kepala dan Faika selain tamat juga dua buku berbahasa Inggris, jika juga peraih medali emas olimpiade Bahasa Inggris pada National Olympiad.

    Salma yang merupakan alumni Bahasa Inggris di UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta dan UAD di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta serta BEC (Basic English Course) di Kampung Inggris Pare, Jawa Timur tahu betul cara melakukan pendekatan pada anak anak agar suasana perkenalan tidak kaku. Ia terlebih dahulu mengirimkan dua puluh pertanyaan sederhana sebagai pembuka untuk dipelajari anak anak.

    Berikut pernyataannya:

    1. What is your full name?
    2. Spell your name, please.
    3. Where and when were you born?
    4. What is your father’s name?
    5. What is he? Or what is his job?
    6. What is your mother’s name?
    7. What is she? Or what is her job?
    8. What is your favourite drink? Why?
    9. What is your favourite food? Why?
    10. What are your hobbies?
    11. Who is your idol?
    12. What do you want to be?
    13. What favourite vegetable do you like?
    14. What favourite fruit do you like?
    15. Can you tell me about your last birthday?
    16. How many siblings do you have?
    17. What is the most important thing in your living room?
    18. What is the most important thing in your kitchen?
    19. What is your favourite spot at your home?
    20. What do you want to eat and drink (now)?

    Adeeva dan Faika terlebih dahulu diberikan kesempatan untuk bertanya hingga tuntas. Setelah itu, Miss Salma balik bertanya. Anak-anak yang selama tiga hari dilatih cara menjawab soal oleh Mr..Ancha, pengajar RBB, berekspresi mengungkapkan gagasannya sebisa mungkin tidak menjawab dalam satu kalimat saja melainkan minimal dua atau tiga kalimat. Kedua anak tersebut pun puas.

    Sebagai pengembangan, anak-anak kembali bertanya :

    1. What is your job?
    2. Where do you study?
    3. What games do you like?
    4. What is your favorite color?
    5. Where do you live?
    6. What books do you like?
    7. What countries do you want to visit?
    8. How old are you?
    9. What kind of music do you like?

    Tentu saja Miss Salma menjawab dengan perlahan agar anak anak mengerti penjelasannya. Di sela-sela pertanyaan itu, Miss Salma juga memberikan pertanyaan lain. Sesekali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar anak anak mampu menyusun jawaban dengan benar. Itulah tahap di mana tanpa disadari, anak anak Sulawesi Selatan memperoleh informasi tentang kehidupan di Jawa Tengah. Obrolan ini berjalan selama tujuh puluh menit.

    Inisiatif Miss Salma untuk terhubung dengan para pelajar berbakat secara online sangat membantu pelajar di berbagai daerah untuk mengenal dunia luar. Segelintir anak yang terpilih merasa menjadi istimewa dan termotivasi belajar lebih giat untuk bisa tampil lebih meyakinkan. Sedangkan anak anak yang belum memperoleh kesempatan ingin juga mendapatkan tiket untuk bisa juga tampil bicara dengan orang luar. Mereka makin tahu ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk ngobrol Inggris dengan orang luar. Intinya semua itu memicu semangat belajar yang lebih tinggi.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 10 April 2026

  • Teladan Kepemimpinan, Pendidikan dan Alam

    Teladan Kepemimpinan, Pendidikan dan Alam

    Ayatullah Ali Khamenei terkenal dengan sosok pemimpin Islam di Iran dengan kesederhanaannya. Di Indonesia juga ada tapi itu bukan presiden atau pejabat negara tapi pemimpin adat yang bernama Amma Toa, pimpinan ada di Kajang yang kehidupan masyarakatnya murni menyatu dengan alam. Kehidupan Amma Toa dan rakyatnya sungguh sederhana. Jangankan listrik, semua hal-hal yang berbau modernitas tidak boleh masuk di kawasan adat, Kajang Dalam. Bagi masyarakatnya yang ingin bersandingan dengan modernitas, silahkan saja tinggal luar kawasan adat, Kajang Luar.

    Pada Minggu (5/04/2026), penulis menghadiri pesta pernikahan anak kandung Amma Toa bernama Jaja Ramlah di Kajang Luar. Saat bersalaman dengan pengantin, Ramlah mengatakan, “Terima kasih Pung Nain’. Tentu penulis kaget. Dari mana ia mengenalku? Kan bukan orang terkenal. Penulis memang sering berkunjung ke rumah Amma Toa menemani tamu wisatawan mancanegara dan tokoh tokoh nasional termasuk Dina Sulaeman, pakar Timur Tengah (Tinur Barat) yang konsentrasi pada pembebasan rakyat Palestina dari penjajahan Israel tapi tidak pernah bertemu Ramlah. Tak ingin kikuk, segera setelah Ramlah bicara, ucapan “Semoga pernikahan kalian bahagia dunia hingga akhirat’ untuk membuat suasana tetap terasa akrab. Sejurus kemudian, sesi foro bersama rombongan kami dengan pasangan pengantin pun terjadi.

    Karena tidak banyak bisa terhubung dengan Ramlah, memori penulis langsung menghubungkan masa tiga belas tahun yang lalu, 2012 ketika memilih mengabdi untuk berbagi ilmu dengan rakyat Kajang berpusat di rumah Abdul Kahar Muslim dan SD (Sekolah Dasar) 115 Balagana — tempat Daeng Kamsuri Muslim, adik Daeng Kahar mengajar. Tepat setelah shalat subuh, anak-anak belajar di rumah Daeng Kahar dan di pagi, di sekolah. Waktu itu, belajar wajib sekolah mulai jam delapan pagi. Karena kegiatan ini hanya inisiatif dan tidak terdaftar di sekolah, jam mengajar yang penulis peroleh yaitu jam tujuh sampai delapan pagi. Wah, seru banget. Tidak menyangka, ruangan kelas selalu saja penuh karena anak-anak mau datang lebih awal. Mungkin, mereka menganggap pelajaran Bahasa Inggris itu hal baru dan menyenangkan . Ya, percakapan sehari hari dalam dalam permainan dan diterjemahkan ke dalam bahasa kaum, konjo. Sore hingga malam hari kegiatan belajar dilaksanakan lagi di rumah Daeng Kahar. Itulah yang terjadi dalam sebulan.

    Keinginan untuk berbagi ilmu ke Kajang muncul ketika masih kecil dan sering berlibur panjang di rumah Daeng Kahar di tahun 90-an. Beberapa waktu sebelum acara pernikahan Daeng Kahar dengan Andi Nurlindah, penulis menyaksikan belum ada sekolah didirikan di sana. Pemandangan sehari-hari adalah anak anak dan orang dewasa terang-terangan pakai badik di pinggang sambil beraktivitas, berjalan kaki atau naik kuda menuju suatu tempat. Jalanan aspal belum ada, apalagi sekolah. Malam hari menggunakan sulo (pelita). Sesuatu hal yang sangat berbeda di kampungku di Kalumpang, Kecamatan Bonto Tiro, Bulukumba. Itu adalah masa di mana penulis berniat melakukan sesuatu untuk rakyat Kajang, sekecil apapun itu. Dan alhamdulillah niat itu dapat terwujud dengan menemui Daeng Kahar setelah menyelesaikan kuliah Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

    Dari pengabdian tahun 2012 itu, gerakan pembaharuan yang digerakkan Daeng Kahar dkk tampak. Jalanan telah beraspal, listrik dan yang paling penting sekolah mulai dari TK hingga SMA telah tersedia. Kehidupan ekonomi rakyat tumbuh dengan banyaknya rumah-rumah kayu yang baru dibangun dan para muda-mudi banyak
    melanjutkan kuliah di universitas. Ini memang bukanlah Restorasi Meiji sebagaimana Jepang oleh Kaisar Meiji dengan nama asli Mutsuhito yang harus berperang menumpahkan darah para samurai untuk membuat modernitas masuk tapi sebuah jalan tengah agar rakyat Kajang tidak terhimpit dari kepungan modernisasi. Ramlah anak anak muda-mudi generasi zaman sekarang telah banyak yang sarjana dan punya beragam gagasan berkembang untuk memajukan Kajang yang tidak berbenturan dengan adat istiadatnya.

    Menjaga adat-istiadat mengantarkan Kajang sebagai penjaga hutan paling lestari dunia. Para sarjana kehutanan, intelektual, pengambil kebijakan dapat bercermin dari pengetahuan dan kearifan lokal Kajang dalam menahan laju para kapitalis super rakus yang merusak dan mengeruk bumi dan memproduksi cerobong asap mencemari udara yang membuat pemanasan global. Ini juga tanda bahwa betapapun manusia jadi serba modern, ia tidak boleh tercerabut dari rumpunnya, nilai nilai luhur yang tumbuh di masyarakatnya. Bila lupa, tutup mata atau pura-pura lupa, bencana besar pasti datang mengikuti. Modernitas juga harus terkontrol, tidak boleh membiarkan keuntungan ekonomi untuk segelintir orang semata karena hal itu semakin memperparah ketimpangan sosial masyarakat.

    Ayatullah Ali Khamenei, sosok pemimpin tertinggi Republik Islam Iran adalah simbol tokoh agama yang konsisten membela kaum tertindas di Palestina dan pengembangan ilmu pengetahuan rakyatnya di Iran telah mampu menunjukkan kemandirian kepada dunia, tidak bisa didikte oleh Amerika Serikat dan Israel*hell dan Amma Toa hutannya seluas sekitar 313, 99 hektar tetap bagian dari paru paru bumi tetap lestari sebagai pemimpin adat sama-sama hidup dalam kesederhanaan. Spirit agama dan budaya dapat hidup selaras yang tercermin dari sikap dan kehidupan kedua pemimpin tersebut. Kita tahu, kesederhanaan sosok teladan dari para pemimpin yang sudah begitu sulit ditemukan sekarang ini masih dapat kita temukan dari kedua tokoh ini. Mereka adalah pemimpin yang dicintai rakyatnya.

    Selamat mengarungi hidup baru buat Jaja Ramlah, S. I. P. dan Zulkifli T., S.Kom. Semoga kedua pasangan mendapatkan ketenangan kehidupan dan saling menyayangi.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 8 April 2026