Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Pengakuan Kementerian Pendidikan kepada Ansar Langnge

    Pengakuan Kementerian Pendidikan kepada Ansar Langnge

    Penemuan merubah arah pengetahuan dan dunia. Abu Ja’far Muḥammad bin Mūsā Al-Khwārizmī dikenal dengan bapak Aljabar (Algebra) dan angka nol yang berkat jasanya yang luar biasa itu, kita dapat menyaksikan pengembangan teknologi seperti penemuan komputer melalui oposisi biner (0 vs 1).

    Tanpa penemuan intelektual Persia (sekarang Iran) ini, kita bisa bayangkan betapa gelapnya dunia ilmu pengetahuan khususnya Matematika. Barat yang pada masa itu di mana awalnya menggunakan angka Romawi berubah, berhasil melewati dark ages (zaman kegelapan) berkat karya-karya Al-Khwārizmī diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin oleh cendekiawan Eropa.

    Nama Al-Khwārizmī sangat besar. Agar tidak muluk-muluk, mari kita tarik ke Indonesia terutama dunia pendidikan guru. Ansar Langnge, seorang guru Matematika di Bulukumba, Sulawesi Selatan mendapat pengakuan dan penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2015 berkat karyanya pada Penggunaan Alat Peraga Tongmini untuk Meningkatkan Kemampuan Menyelasaikan Pembagian Bilangan Bulat Siswa kelas VIIB SMPN 11 Bulukumba. Ansar tidak mengubah dunia seperti Al-Khwārizmī tapi ia telah memberikan peranan yang sangat besar dalam turut merubah wajah pendidikan Matematika yang begitu sangat menakutkan di sekolah-sekolah Indonesia.

    Penghargaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia kepada Anshar Langnge berhasil menyederhanakan Bilangan Bulat menggunakan alat peraga Tongmini.

    Pembelajaran tentang bilangan bulat yang biasanya hadir di papan tulis seringkali masih terlihat abstrak dapat tergambar lebih visual dalam bentuk alat peraga dengan harga terjangkau, lebih mudah dipahami oleh siswa. Bukankah itu mengubah kerumitan  menjadi lebih kemudahan? Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa orang yang pintar itu adalah orang yang mampu menyederhanakan persoalan rumit menjadi sederhana. Guru intelek yang seperti Anshar mampu menjawab persoalan tersebut.

    Setiap siswa-siswi berprestasi mandapatkan kehormatan untuk hadir di tengah lapangan dan mendapatkan apresiasi dari Ansar Langnge, Kepala Sekolah. Hal ini melahirkan kebanggaan bagi sang juara dan motivasi bagi pelajar lainnya untuk turut berjuang meraih prestasi.

    ”Berapa orang Sulawesi-Selatan yang mendapat penghargaan?”, tanya penulis sembari menatap piagamnya. “Saya satu-satunya guru dari Sulawesi Selatan berangkat Yogyakarta untuk menerima penghargaan itu”, katanya dengan suara tenang. Sosoknya yang ramah, murah senyum dan pandai bergaul menambah kesan bahwa ia sama sekali bukan guru killer (menakutkan. Diambil dari Bahasa Inggris: pembunuh). Dari “satu-satunya”, terbetik sebuah kritik dan harapan. Kita masih banyak kekurangan guru yang mau berkreasi meskipun Kementrian Pendidikan Pendidikan Nasional telah membuka ruang untuk berkarya. Padahal, itu adalah peluang besar untuk menaikkan kwalitas dan karir guru.

    Sosok Ansar Langnge yang kini menjabat sebagai Kepala Sekolah SMPN 1 Bulukumba, Sulawesi Selatan. Selama dalam kepemimpinannya, sekolah ini makin terus meningkatkan jumlah siswa siswi berprestasi mulai dari lokal hingga nasional.

    Ansar kini menjabat (Kepsek) Kepala Sekolah SMPN 1 Bulukumba, sebuah sekolah lokal terbaik dari generasi ke generasi. Perpaduan antara sosok Kepsek inovatif dengan siswa-siswi berbakat menambah daya ledak kemajuan sekolah ini. Karena begitu banyaknya yang berprestasi, ia mengatakan tiap minggu, maksudnya Senin di hari upacara, ada proses penghormatan kepada siswa siswi yang berprestasi akademik dan akademik meliputi juara tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional. Bagaimana bisa sehebat itu? Menurutnya, sekolah melakukan pemetaan yang terstruktur dan rapi pada pengenalan pada bakat dan minat siswa dan kemudian mendorong siswa tersebut mengikuti lomba.

    Ansar Langnge juga aktif membangun jaringan dan memperkuat ikatan persaudaraan. Pada foto ini, ia melantik IKA (Ikatan Alumni) SMPN 1 Bulukumba, 2026.

    Bangunan fisik sekolah yang megah dilengkapi segala fasilitas pendukungnya—Betapapun itu super penting—memang menjadi kebanggaan, digembor-gemborkan sebagai sebuah kemajuan mentereng tapi apa guna semua itu bila otak siswanya kosong? Sekolah sekedar sebagai alat legitimasi mendapatkan ijazah, pemikiran mundur layaknya dark ages, masa kelam Eropa. Sekolah bukan iklan hotel mewah bintang lima. Iklan terbaik sekolah adalah bukti peningkatan kwalitas sumber daya manusia yang dapat meyakinkan para siswanya menuntut ilmu itu sangat penting agar punya masa depan.

    Banyak lemari berisi Piala juara siswa siswi SMPN 1 Bulukumba di ruang Kepala Sekolah.

    Bila barat berinisiatif mengejar ketertinggalannya dengan menerjemahkan karya Al-Khwārizmī dan kemudian diterjemahkan ke segala bahasa, apakah karya Ansar Langnge itu dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah Daerah dan Pusat untuk diterapkan di sekolah?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 3 Mei 2026

  • Dari Hal Biasa ke Luar Biasa

    Dari Hal Biasa ke Luar Biasa

    “Memilih lesson (Pelajaran), Mr.”, anak anak mengusulkan ketika kelas baru saja mulai. Usulan diterima. “Okay. Tiap orang boleh memilih satu lesson dan memimpin kelas secara bergantian saat membaca pilihan lesson tersebut”, kata guru kelas. Mereka sepakat.

    Secara tiba tiba, Nisa mengangkat tangan paling cepat untuk dapat memimpin paling awal. Yang tercepat selanjutnya diikuti oleh Adeeva, Belva dan Gavino. Pada pilihan cerita, yang memimpin kegiatan listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) namun soal soal pada cerita dibaca secara bersamaan, tanpa menjawab soal karena fokus kali ini pada perbaikan pengucapan (Pronunciation) dan intonasi (Intonation).

    Praktek berbicara Inggris sesama rekan.

    Nisa memilih lesson 3, He’s not an Artist. Adeeva memilih lesson 48, The Ploughboy. Bacaan ini tergolong sulit sehingga ia agak sulit diikuti oleh rekan kelasnya untuk membaca dengan tepat. Belva memih lesson 2, In the Park dan Gavino memilih A Good Book. Kedua bersaudara ini sangat menikmati karena mereka sudah tahu dengan baik cara melafalkan dengan benar.

    Setelah itu, waktu keluar main selama lima belas menit. Dunia bermain mereka semarak dan ribut. Ada juga yang saling mendukung dan menyalahkan tapi kemudian berdamai. Ini terlihat seru karena ada sosialisasi, dunia anak anak mereka tidak dirampas oleh smartphone.

    Ketika kelas berjalan kembali, mereka membuat percakapan di mana setiap orang berpasangan sesuai pilihannya. Faika yang berada di kelas lain turut bergabung. Selain itu, ia juga bertugas sebagai pembaca narasi sebelum percakapan dimulai. Pembelajaran bukanlah hal yang sulit dan semuanya mampu berdialog dengan lancar betapapun dialognya masih harus merujuk pada buku.

    Pada tahap akhir, anak anak memberanikan diri untuk praktek bicara tanpa teks. Tiga orang mau tampil yaitu Faika, Nisa dan Adeeva. Mereka sepakat berakting sesuai alur cerita pada A Good Book. Setelah beberapa kali latihan memainkan peran sebagai inspektur Robert Jones, Miss Green dan Narrator, mereka pun mengusulkan agar aktivitas percakapannya direkam. Hingga waktu jam belajar telah habis, tidak ada satu pun yang mau pulang dan tetap meminta pergantian peran pada dialog dilakukan secara bergantian hingga semuanya dapat giliran. Dan pada akhirnya, apa yang mereka inginkan tercapai.

    Semangat dan ketekunan belajar yang luar biasa, bukan?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 1 Mei 2026

  • Children’s Leadership Training

    Children’s Leadership Training

    Adam was the star that night .
    He has gained the trust to lead two of his classmates, Abizar and Sirin. When asked by the teacher to freely choose a lesson, Adam said, “Lesson 1 to 10.” The teacher responded, “You’re overdoing it, Adam. You know your friends have understood those lessons.” He thought for a moment, “Lesson 11 to 20.” That was also too easy, but because Adam was the one we were training to lead, whatever he determined was simply agreed upon.

    At the beginning of reading lesson 11, he immediately read several sentences. His reading speed was difficult to follow. For that, he received a suggestion to read slowly so that his classmates could follow correctly. If there was a mistake in reading, Adam only laughed without making any correction. They all seemed to want to finish their reading quickly to get playtime.

    Adam’s desire to speed up the reading did not go smoothly. He was the one who received the reprimand, not the students who made the mistakes. A leader must be able to direct the people they lead, but for Adam, that had no effect at all. He was merely proud to be appointed as a leader with the consideration of being more fluent and having finished the Basic Reading book. If someone is not fluent in reading, that is each person’s private business, that’s not Adam’s responsibility.

    When it was time to break, Adam played on an Android. Not long after, he studied a storybook, the second book which was his main task. It was a bit difficult for him to switch back to the book. With a bit of firmness, he put the Android into his bag. The story title ‘In a Department Store’ he completed well with his same-level classmates. After that, all students asked for a rest. It turned out, all the children who brought Androids wanted to play games again.

    This was actually quite fair. There was a time for study, there was a time for Android. Unfortunately, if most children bring Androids, the social interaction among them would decrease because they all focused on their Androids. They usually suggested making a game, but with the Androids in their hands, they had no more suggestions and even though the teacher gave a review, it was rejected. The children who did not bring Androids gathered to follow Adam. Here, Adam felt like he truly became a leader.

    Leadership can be designed in a learning environment started from the smallest things like what Adam experienced. Children indeed do not yet understand the duties and responsibilities of a leader and still need to be under supervision while leading. It is the time in the process that will make him understand why he is chosen to be a leader. And when they grow up later, they will understand the importance of leadership training that is taught culturally at class.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Thursday, April 30, 2026

  • Dua Bersaudara

    Dua Bersaudara

    Dua orang bersaudara yang waktu pulang sekolahnya aktif dengan kegiatan. Tita dan Zhah telah mengikuti dua kelas sekaligus; Bahasa Inggris dan Matematika. Itu adalah cara praktis yang membantunya menyelesaikan persoalan sekolah. Orang tuanya tidak repot lagi memikirkan PR (Pekerjaan Rumah).

    Miss Ulfi, guru kelas Matematika, terlebih dahulu menekankan Matematika Dasar sembari membantu menyelesaikan pelajaran sekolah. Dengan kesabaran dan ketekunan, hal itu mengantarkannya Tita sampai pada pembelajaran tingkat Persamaan Liniar, Aljabar dan Garis dan Sudut, pelajaran SMP. Sedangkan Zhah, anak kelas 4 SD tidak kerepotan lagi materi KPK, Pecahan, Panjang dan Berat. Kendala mereka terletak pada cara menjawab pembagian puluhan dengan cepat namun Miss Ulfi percaya hal ini bisa diatasi dengan sering memberikan latihan di sela-sela pembelajaran, waktu yang relatif santai.

    Pada Bahasa Inggris, Tita memilih Grammar (Tata Bahasa) yang berguna untuk jawab-jawab soal sekolah. Sedangkan Zhah memilih Reading (Bacaan) untuk mengasah kemampuan berbicara dan cerita cerita berbahasa Inggris. Perbedaan pilihan ini sebenarnya dapat mereka gunakan untuk saling mengisi di rumah. Tapi ya, namanya juga anak anak, keduanya masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri sehingga kami di RBB (Rumah Belajar Bersama) mengajak mereka untuk saling support dalam berbahasa Inggris.

    Karena waktu belajar mereka hingga dari siang hingga jelang Maghrib, sebelum pulang, kami meminta waktunya sejenak untuk pendalaman pembelajaran. Beruntung orang tuanya yang menjemput bersedia menanti sedikit lebih lama dan kedua anak ini juga mau untuk mendapatkan pelajaran tambahan. Mereka tahu bahwa target belajar yang dicapai adalah kapasitas ilmu yang berguna melebihi pelajaran sekolah. Untuk itu, beberapa pelajaran yang belum berhubungan dengan pelajaran sekolahnya diberikan.

    Mempelajari Matematika dan Bahasa Inggris oleh kedua orang bersaudara ini adalah pilihan yang tepat. Kita tahu, itu momok menakutkan bagi kebanyakan pelajar sekolah. Mereka biasanya membawa setumpuk persoalan sekolah dan selesaikan dengan banyak berdialog dengan guru guru kelas. Selebihnya, waktu dunia anak yaitu bermain mereka dapatkan untuk melepaskan rasa lelah selama berada di RBB.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 20 April 2026

  • Melatih Kepemimpinan Anak

    Melatih Kepemimpinan Anak

    Adam jadi bintang malam ini. Ia mendapatkan kepercayaan untuk memimpin dua orang rekannya Abizar dan Sirin. Ketika diminta oleh guru bebas memilih lesson (pelajaran),
    Adam mengatakan, “Lesson 1 sampai 10”. Guru merespon “Kelewatan kau Adam. Kamu tahu teman-temanmu itu telah paham materi itu”. Ia pun berpikir sejenak, “Lesson 11 sampai 20”. Itu juga juga terlalu mudah tapi karena Adam yang sedang kita latih memimpin, apa yang ia tentukan, disepakati saja.

    Pada awal bacaan lesson 11, ia langsung membaca beberapa kalimat. Kecepatan membacanya sulit diikuti. Untuk itu, ia mendapat saran untuk membaca perlahan saja agar rekan rekannya bisa mengikuti dengan benar. Bila ada yang salah dalam membaca, Adam hanya tertawa tanpa melakukan pembenaran. Mereka semua terlihat ingin segera menyelesaikan bacaannya untuk mendapatkan waktu bermain.

    Keinginan Adam untuk mempercepat bacaan tidak berjalan mulus. Dia yang mendapat teguran, bukan pelajar yang membuat kesalahan. Seorang pemimpin harus bisa mengarahkan orang yang dipimpinnya tapi bagi Adam, itu tidak berpengaruh sama sekali. Ia cuma bangga ditunjuk jadi pemimpin dengan pertimbangan lebih lancar dan tamat bacaan Basic Reading. Kalau tidak lancar membaca, itu urusan pribadi tiap orang.

    Waktu keluar main, Adam bermain android. Tidak berapa lama berselang, ia mempelajari buku cerita, buku kedua yang menjadi tugas utamanya. Ia agak susah beralih ke buku lagi. Dengan sedikit ketegasan, ia menaruh android fam tas. Judul cerita ‘In a Department Store’ ia selesaikan dengan baik bersama rekan-rekan selevelnya. Setelah itu, semuanya minta istirahat. Ternyata, semua anak yang bawa android ingin bermain games lagi.

    Ini sebenarnya cukup adil. Ada waktu untuk belajar, ada waktu untuk android. Sayangnya, bila kebanyakan anak-anak yang bawa android, sosialisasi bermain sesama mereka akan berkurang karena mereka semua akan fokus pada androidnya. Mereka biasanya mengusulkan untuk membuat permainan tapi dengan adanya android, mereka tidak punya usulan lagi dan meskipun guru memberikan ulasan, itu ditolak. Anak anak yang tidak bawa android berkumpul mengikuti Adam. Di sini, Adam merasa benar benar jadi pemimpin.

    Kepemimpinan dapat didesain dalam lingkungan belajar dimulai dari hal hal terkecil seperti yang dialami oleh Adam. Anak anak memang belum mengerti tugas dan tanggungjawab seorang pemimpin dan perlu tetap dalam pendampingan ketika memimpin. Waktu berproses yang akan membuatnya mengerti mengapa ia dipilih jadi pemimpin. Dan saat mereka dewasa nanti, mereka akan paham pentingnya latihan kepemimpinan yang diajarkan secara kultural di kelas belajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 30 April 2026

  • Belajar tanpa Batas

    Belajar tanpa Batas

    Better” (Lebih baik). Itulah ekspresi pengembangan dikatakan oleh Miss Salma Minasaroh dari Lembaga GAIA di Pati, Jawa Tengah saat menutup pembelajaran Bahasa Inggris online tahap ketiga (29/04). Lima orang anak anak RBB (Rumah Belajar Bersama) di Bulukumba , Sulawesi Selatan hadir dari sembilan yang lolos klasifikasi. Peserta memang sengaja dibuat terbatas agar kelas pembelajaran lebih efektif, tidak boros waktu.

    Keterikatan belajar tanya-jawab online ini semakin meningkat karena
    berkenalan dengan orang baru dan mendapat perhatian dari orang pintar melahirkan kebanggaan tersendiri baginya. Para pelajar ingin agar ekspresi mereka dapat didengarkan dan diakui. Dan bagi penulis, ini mampu memberikan cara pandang baru dari kebiasaan anak-anak menggunakan android untuk bermain games menjadi sarana belajar. Aturan ketat dibuat agar mereka berjuang dan merasa menjadi istimewa ketika terpilih.

    Sehari sebelum pertemuan, ada usaha di mana beberapa pelajar yang tidak termasuk kategori diperjuangkan oleh rekan-rekannya untuk tetap bisa ikut.

    “Dua sampai tiga orang belum boleh gabung karena belum lancar bicara”, kata guru RBB.
    “Kasi ikut saja Mr.. nanti saya bantu” kata Adam.
    “Please, Mr.”, kata yang lainnya.

    Mereka pun mengurangi jatah keluar main dan saling praktek tanya-jawab lebih serius. Melihat usaha ala “gotong royong” itu, usulan mereka diterima.

    Sebagai konsekuensi, kemampuan akselerasi dalam menyampaikan pendapat lebih terlihat jelas: bicara lancar dan tidak terlihat grogi lagi. Anak anak tidak saling berebutan lagi untuk dapat kesempatan berbicara dan menanti dengan sabar mendapatkan giliran karena mereka tahu bahwa dengan jumlah peserta yang sedikit, kesempatan untuk dapat bicara jauh lebih banyak.

    Dalam hal materi pembelajaran, kemajuan yang berarti ini dipengaruhi oleh 20 model soal yang dibuat Salma dengan memasukkan information Question (Pertanyaan Informasi) seperti what, where, why dan who (Apa, di mana, kenapa dan siapa), bukan lagi soal yang mayoritas yes no questions seperti pembelajaran online Part 1. Otomatis, setiap pelajar diajak membuat argumentasi sesuai dengan apa yang mereka pikirkan dan rasakan.Bahasa Inggris telah berfungsi sebagai alat untuk membangun kemandirian anak untuk punya pendapat sendiri.

    Kemana Arah Pendidikan Kita?
    Sebagaimana yang kita sering dengar, Indonesia itu tidak kekurangan intelektual, bertaburan di mana mana. Sebagian orang yang cerdas kita malahan memilih berkarir di luar negeri karena merasa tidak dihargai di Indonesia. Sebagian tetap tinggal di dalam negeri dan melakukan perubahan secara kultural, di luar sistem pemerintahan.

    Dengan menemukan pelajar pelajar berbakat mulai dari anak anak hingga dewasa, kita dapat membangun koneksi yang tidak dibatasi oleh dengan siapapun, kalangan intelektual baik dalam dan luar negeri. Mereka dapat diundang mengisi pembelajaran secara online kepada para pelajar berbakat tersebut. Dari situ, kita dapat membaca pemikiran-pemikiran yang brilian yang kemudian kita tulis dan sebarkan untuk dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.

    Sedangkan dalam pendekatan struktural, kementrian Pendidikan RI telah menerapkan wajib belajar Bahasa Inggris di SD sejak 2025, sebuah solusi menghadapi lemahnya pelajar Indonesia berbahasa asing selama puluhan tahun Bahasa Inggris mulai di di SMP.

    Sayang sekali, langkahnya pembenahan di SD masih terseok-seok. Ada kurikulum dalam bentuk buku sebagai bahan pelajaran. Masalahnya, kebanyakan guru yang mengajar tidak tahu berbahasa Inggris. Itu salah siapa? Bukan salah guru, salah sistem yang tidak merekrut guru-guru yang tepat mengisi pos tersebut. Alasan klasik adalah keterbatasan anggaran.

    Sebenarnya sih, selama ada niat dan usaha yang sungguh-sungguh, pasti ada jalan. “Bukankah kesulitan itu adalah kesempatan untuk melakukan yang lebih baik (better)?”, kata B. J. Habibie. Seribu langkah dimulai dari satu langkah. Sekecil apapun langkah kita, we just want to make something (Kita hanya ingin membuat sesuatu), mengutip Salma, “Better”.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 30 April 2026

  • Inisiatif untuk Cepat Pintar

    Inisiatif untuk Cepat Pintar

    Kesan yang sangat menggembirakan. Pada waktu sedang istirahat, Zhah Noor Aisyah, pelajar kelas Malam Reading (Bacaan) yang telah tamat dua buku, tiba-tiba duduk di depan penulis dan membuka buku catatan grammar-nya. Ia langsung praktek bicara pada simple future menggunakan “be” sebagai kata kerja utama, nominal tenses istilah orang Indonesia. Di hari hari sebelumnya, ia mesti dirayu agar mau belajar simple present dan simple past hingga paham luar kepala. Sekarang, ia berinisiatif sendiri.

    Berbekal buku catatan, ia praktek lisan. Kewalahan menyusun kata pada perubahan simple future pasti Zhah temukan.
    Karena itu, ia lebih banyak bicara sambil melihat peta yang ia buat. Ilmu memang tidak secepat kilat bisa dipahami, butuh proses. Hukum perulangan menjadikan pelajaran melekat dengan baik di kepala.

    Seluruh proses perubahan kalimat termasuk pada penggunaan shall untuk British English pada subjek I dan We telah Zhah praktekkan. Variasi ini sengaja diajarkan karena ia tidak hanya membaca buku buku karya orang Amerika tetapi juga karya orang Inggris. Buku catatan sangat berguna untuk merujuk pada tiap kesalahan bicara yang ia praktekkan di depan gurunya.

    Setelah merasa cukup yakin, Zhah tidak memilih untuk beristirahat. Ia pun kembali mengerakkan pena, membuat catatan terbaru. Agar tidak kesulitan, ia menulis materi simple present, simple Past dan simple future pada verbal tenses sebagai pembanding dari simple pada nominal tenses. Pelajar Indonesia sering kali gagal membedakan ini, apakah menggunakan “do, does atau did” atau am, is atau are saat bertanya.

    Kemungkinan besar, Zhah tidak membutuhkan banyak penjelasan lagi dalam merangkai kata pada latihan berikutnya. Pemahaman penting yang akan disampaikan kepadanya yaitu mengapa “do” atau does” dipakai, bukan “am, is atau are” pada simple present untuk bertanya. Hal yang sama juga terjadi pada simple past. Mengapa “did” bukan “was, were” dan seterusnya.

    Apakah ini sulit dipahami oleh anak kelas 4 SD seperti Zhah? Tidak sama sekali. Zhah tergerak hari untuk mempelajari materi ini karena melihat beberapa teman seumurannya telah mengerti tenses dengan sangat baik. Berdasarkan proses belajar yang ia lakukan,
    ia dan guru guru di RBB (Rumah Belajar Bersama) yakin ia sanggup paham tenses luar kepala juga. Prediksi dalam dua atau tiga minggu ke depan, ia akan mendapatkan live (siaran langsung) disaksikan oleh publik untuk praktek perubahan seluruh kalimat tenses di luar kepala.

    Percepatan tersebut kuncinya terletak pada Zhah sendiri. Ketika ia mau menggunakan sebagian jam istirahatnya dengan duduk di depan guru, membuka buku catatan grammar-nya dan praktek, ia tidak hanya menyelesaikan tenses tapi pembelajaran Basic Grammar lainnya akan jauh lebih banyak ia mengerti yang sangat berguna memahami teks reading, speaking dan writing bila ia tertarik menulis dalam Bahasa Inggris.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 29 yang April 2026

  • Everyone Actively Learns

    Everyone Actively Learns

    Simple and engaging. That’s what we found when Steven Riley, a senior teacher from Australia, taught for a day at RBB (Rumah Belajar Bersama) in Bulukumba District, South Sulawesi, Indonesia. In communication, he taught intonation, which closely relates to question and answer exchanges. First, he asked about all the participants’ well-being and names while observing how they responded. Then, the students were asked to make statements addressed to him.

    Starting from that brief conversation, Steven who has traveled far and wide, even to Japan immediately understood the students’ capacities. Soon after that, he approached those who lacked confidence in speaking and greeted them using every day conversational vocabularies. The atmosphere then became more relaxed and more prepared. After that, he gave examples of how to control pitch. “If you want to ask a question, raise the pitch at the end of the sentence. On the other hand, if you want to answer, just lower the pitch at the end,” he said. It’s that simple.

    The lesson continued. Because Steven spoke entirely in English, he also used body language so that his explanations could be understood. The writer occasionally stepped in to help translate only the more complex parts to help students grasp more quickly. Otherwise, they were encouraged to try to interprete everything Steven explained on their own.

    Controlling pitch may seem trivial, but most students did not yet know how to raise or lower their voices properly with a pleasant tone. Steven did not give up. This seasoned the teacher knew exactly how to handle it. Each student who failed to speak correctly was asked to repeat. And if they still failed, even at the age of 72, he showed no signs of fatigue and did not hesitate to actively walk around, approaching each student one by one to help them follow what he said until they reached a level of voice he considered comfortable to listen.

    After that, Steven trained speaking skills further. To teach directions, he first drew arrows for north, south, east, and west. Then, he created winding roads with three juctions and four juctions. He also drew houses, schools, offices, and more. “Where is the school?” Steven asked. The answer was not just pointing at the drawing but explaining it. Students had to say things like “Go straight to the west, turn left, then right at the intersection” and so on. The answers varied because different locations were being asked about.

    Steven’s Teaching Outcomes
    Steven’s interactive two-way learning approach successfully stimulated thinking, encouraged active speaking, and directly ensured students’ level of understanding. Even passive students began to think and prepare themselves, anticipating that they might be asked questions. Meanwhile, those who were already confident in speaking became more creative and critical in expressing their opinions.

    The learning atmosphere also became livelier because communication was built among students and between students and the teacher. A teacher with an open mindset like Steven is appropriate to this method. He was prepared for the possibility of unexpected critical questions. Steven’s experience, insight, and mental readiness in managing the class made the learning process very enjoyable from start to finish, which lasted about 90 minutes.

    Steven Riley is actually no longer working as a teacher but as a contractor in France. He met Anjas, a guide who understands maps and the needs of his guests, which allowed Steven to channel his passion for teaching by coming to RBB. Steven’s teaching method is closely related to pronunciation, speaking, and intonation was excellent and became a valuable reference to be followed up in supporting the acceleration of students’ learning abilities.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Tuesday, April 28, 2026

  • Semua Aktif Belajar

    Semua Aktif Belajar

    Menarik dan sederhana. Itulah yang kita temukan ketika Steven Riley, seorang guru senior dari Australia, mengajar sehari di RBB (Rumah Belajar Bersama). Dalam berkomunikasi, ia mengajarkan intonasi yang erat kaitannya dalam tanya jawab. Pertama, ia menanyakan kabar dan nama peserta sembari memperhatikan cara menjawab. Kemudian, para pelajar diminta membuat pernyataan yang ditujukan kepadanya.

    Berangkat obrolan singkat tersebut, Steven yang sudah melanglang buana ke negeri terjauh sampai ke Jepang ini langsung tahu kapasitas pelajar. Dengan segera, ia mendekati pelajar yang kurang PD (percaya diri) bicara dan menyapanya menggunakan kosa-kata percakapan sehari-hari. Lalu, suasana jadi cair. Para pelajar jadi lebih siap. Setelah itu, ia memberikan contoh pengaturan tinggi rendah suara. “Kalau mau bertanya, naikkan nada suara di akhir kata pada kalimat. Sebaliknya, kalau mau menjawab, turunkan saja suara nada suara di akhir kata”, katanya. Sederhana itu.

    Pelajaran berlanjut. Karena Steven total berbahasa Inggris, ia pun menggunakan gerakan tubuh agar maksud penjelasannya bisa dimengerti. Penulis kadang-kadang hadir membantu menerjemahkan pada hal-hal yang rumit saja untuk membuat pelajar lebih cepat mengerti. Selebihnya, mereka diajak untuk berusaha menafsirkan sendiri segala hal yang dijelaskan Steven.

    Mengatur tinggi rendah suara terlihat remeh-temeh tapi mayoritas pelajar belum tahu cara menaikkan atau menurunkan suara dengan tepat dengan nada yang enak didengar. Steven tidak menyerah. Guru yang telah makan garam ini tahu betul cara mengatasinya. Pada setiap pelajar yang gagal berbicara dengan benar, ia diminta untuk membuat pengulangan. Dan bila mereka masih tetap gagal, meskipun umurnya mencapai 72 tahun, ia tidak terlihat lelah dan malahan tidak segan-segan aktif berjalan mendekati untuk membantu satu persatu pelajar mengikuti apa yang ia katakan hingga sampai pada ukuran suara yang menurutnya nyaman untuk didengarkan.

    Setelah itu, Steven melatih kemampuan berbicara lebih banyak. Untuk pemahaman tentang arah, Steven terlebih dahulu membuat tanda panah untuk arah utara, selatan, timur dan barat. Kemudian, membuat jalan berkelok-kelok mempunyai pertigaan dan perempatan. Ia juga menggambar rumah, sekolah, kantor dan lainnya. “Dimana sekolah?”, tanya Steven. Jawaban tidak sekedar menunjuk pada gambar tapi bercerita. Pelajar harus bisa mengatakan jalan terus ke arah barat, belok kiri dan kemudian kanan pada pertigaan dan seterusnya. Jawaban akan beragam karena yang ditanyakan adalah berbagai macam tempat yang berbeda.

    Capaian Pengajaran Steven
    Pembelajaran interaktif dua arah dari Steven berhasil merangsang cara berpikir, aktif berbicara dan memastikan tingkat pemahaman siswa secara langsung. Bahkan, para pelajar yang pasif pun berpikir dan mempersiapkan diri karena memprediksi dirinya akan mendapatkan pertanyaan. Dan bagi pelajar yang telah berani bicara, mereka akan lebih kreatif dan kritis dalam berpendapat.

    Suasana belajar juga terlihat lebih semarak karena terjalin hubungan komunikasi sesama pelajar dan pelajar dengan guru. Seorang guru yang berpemikiran terbuka seperti Steven tepat melakukan metode pembelajaran ini. Ia telah siap akan kemungkinan munculnya pertanyaan kritis yang tidak terduga. Pengalaman, wawasan dan mental Steven dalam mengelola kelas belajar membuat pembelajaran terlihat sangat menyenangkan dari awal hingga akhir yang berlangsung sekitar 90 menit.

    Steven Riley sebenarnya saat ini tidak lagi berprofesi sebagai seorang guru tapi kontraktor di Perancis. Ia bertemu dengan Anjas, seorang guide paham peta dan kebutuhan tamunya, yang membuat Steven dapat menyalurkan hobby mengajarnya dengan menguji RBB. Metode pengajaran Steven yang erat kaitannya dengan pronunciation, speaking and intonation (Pengucapan, bicara dan intonasi)

    Steven Riley sebenarnya saat ini tidak lagi berprofesi sebagai seorang guru tapi kontraktor di Perancis di mana sebelumnya ia mengajar di Jepang. Ia bertemu dengan Nur Anjas, seorang guide paham peta dan kebutuhan tamu di Bira, yang membuat Steven dapat menyalurkan hobby mengajarnya dengan mengunjugi RBB. Pengajaran sehari Steven yang erat kaitannya dengan pronunciation, speaking and intonation (Pengucapan, bicara dan intonasi) sangat bagus dan menjadi kekayaan referensi untuk ditindaklanjuti dalam mendukung percepatan kecerdasan para pelajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 28 April 2026

  • Jurus Belajar

    Jurus Belajar

    Jurus Kung Fu mabuk sangat cocok bagi para pelajar yang sebenarnya tidak kurang perhatian dalam belajar. Mereka datang ke kelas untuk sekedar menutupi tuntutan orang tuanya. Tidak perlu banyak hal yang harus dibebankan padanya. Yang penting, mereka membaca dan praktek. Paham atau tidak, itu urusan belakangan. Berada di lingkungan belajar itu sudah cukup membantu mereka mengurangi bermain android–Masalah besar yang dihadapi kids zaman now. Kita doakan saja agar mereka bisa paham dengan pembiasaan belajar.

    Sementara itu, para pelajar yang sudah punya sedikit lebih bagus dari yang dijelaskan di atas cocok pakai jurus Kung Fu Master–Keahlian diperoleh dari ketekuna, disiplin dan waktu yang lama. Mereka mendapatkan pelajaran yang lebih terstruktur dan punya jam tambahan di luar jam belajar wajibnya. Ada waktu bermain tapi relatif lebih sedikit. Sebelum jemputan orang tuanya datang, sedapat mungkin belajar.

    Afifah dan Zhah adalah pelajar kelas Reading (Bacaan) tapi ia tertarik belajar Grammar (tata Bahasa. Melihat para pelajar grammar punya kemampuan berbeda dengan dirinya, mereka penasaran. Untuk setelah jam belajar reading-nya selesai, kami pun memintanya mencatat beberapa hal penting pada Tenses. Kemudian, mereka pun berlatih lisan pada tenses luar kepala dengan target bukan sebatas tahu tahu paham.

    Ah, yes! Faktor kebiasaan membaca
    pasti sangat mempengaruhi kecepatan berpikir. Para pelajar ini sudah sering menemukan kalimat yang sama atau minimal mirip tapi belum tahu kenapa ditulis seperti demikian–Tentu karena tidak tahu grammar. Jadi, dengan mendapatkan dasar dasar grammar, mereka lebih girang dan bersemangat mencari tahu lebih jauh. Hal ini kami lihat dari kebiasaannya bertanya, Apa maksudnya ini dan itu? Kenapa bisa begitu dan begitu? Rasa ingin tahu tersebut memotivasinya untuk memenuhi target yang ingin dicapai.

    Jurus Kung Fu Mabuk atau Jurus Kung Fu Master, itu adalah istilah atau klasifikasi saja. Yang utama adalah kesediaan menghadapi proses belajar. Dalam menjalaninya, tentu ada kemudahan, ada kesulitan saling silih berganti. Mari terus melangkah memperbaiki cara belajar kita. Siapa tahu, ada jurus Kung Fu Belajar lainnya yang ditemukan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukimba, Sabtu, 25 April 2025