Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Bukan Bodoh

    Bukan Bodoh

    Bule yang tinggi ini sekitar 2 meter sedangkan yang orang lokal tingginya sekitar 180 cm. Apa soal?

    Steve Jobs pernah merasa bodoh dan menyesal menampilkan Bill Gates di layar raksasa dimana dia yang sedang berdiri di atas panggung terlihat kecil di hadapan penonton pada sebuah acara besar yang ia selenggarakan sendiri. Waktu itu, Bill Gates tidak ada di tempat acara sehingga komunikasi jarak jauh melalui tampilan gambar hadir.

    Steve Jobs sang legenda Apple Computer itu bolehlah berpikir demikian karena ia menganggap Bill Gates yang menggagas Windows merupakan saingan berat.

    Bagaimana bila pendapat ini dibalik? Ini bukan kebodohan karena tubuh yang lebih kecil tidak merasa kecil bertemu dengan orang yang lebih tinggi. Tidak perlu merasa minder. Malahan, si tinggi ditepuk dengan hangat sebagai tanda kesenangan berkenalan dengan orang yang punya badan lebih tinggi.

    Bule ini bukan saingan. Dia adalah kawan dalam berkomunikasi untuk membuka jendela dunia yang luas yang belum kita tapaki. Kebanyakan kita tahu dunia luar dari buku ataupun media sosial. Berbicara langsung punya cita rasa tersendiri dan mencocokkan informasi yang telah dipelajari.

    Toh bule ini juga sadar bahwa terdapat orang-orang yang lebih tinggi darinya tersebar di berbagai macam negeri. Itulah mengapa dia sadar untuk tidak tinggi hati.

    Zulkarnain Patwa
    * Pengajar Rumah Belajar Bersama

    Foto pada Senin, 19 Agustus 2024 di Bira

  • Kemerdekaan

    Kemerdekaan

    Tiap tiap orang di bumi Indonesia ini haruslah punya kebebasan berpikir dan bertanggungjawab, kata B. J. Habibie. Hal itu hanya dapat diwujudkan dengan mencerdaskan generasi anak bangsa dengan tindakan nyata.

    Didik generasi dengan sungguh sungguh dan para pendidik harus mau terus belajar menambah ilmu pengetahuannya.

    Foto pada kunjungan Noemie Fieux dari Perancis yang berkunjung ke Rumah Belajar Bersama di Bulukumba

    Zulkarnain Patwa
    * Pengajar Rumah Belajar Bersama

  • Bukan Umur Tapi Kemampuan

    Bukan Umur Tapi Kemampuan

    Bukan Umur tapi Kemampuan

    Aiska pelajar SD ini telah berhasil menamatkan dua buku bacaan berbahasa Inggris dan telah tahu cara menjawab soal-soal cerita berbahasa Inggris.

    Konsistensi diri Aiska pada minat dan bakatnya ini menyakinkan kita bahwa dia adalah salah satu anak yang akan mahir berbahasa Inggris dan tentunya ini modal yang bagus untuk mempelajari bahasa internasional lainnya karena telah mengerti seluk beluk bahasa.

    Sekarang, Aiska berhak masuk kelas Pre Intermediate. Kita ingin dia nantinya mendapatkan pelajaran tingkat tinggi meskipun dia masih anak anak. Selama dia benar benar lulus tahapan demi tahapan, kita tidak akan ragu menawarkan pelajaran tingkat SMA dan lainnya betapa pun dia masih SD. Ukuran kita bukan umur tapi kemampuan.

    Zulkarnain Patwa
    Pengajar Rumah Belajar Bersama

  • Dua Orang Ahli Perahu

    Dua Orang Ahli Perahu

    Satu adalah Pak Najib yang mempunyai tradisi turun temurun dari nenek moyangnya dari Lemo-Lemo sebagai ahli pembuat perahu kayu Pinisi dan perahu kayu sesuai pesanan pembeli. Dia juga sarjana Matematika di Universitas Hasanuddin, Makassar sehingga cara pembuatan perahunya sedikit banyak dipengaruhi ilmu hitung mendalam selain insting.

    Kedua Horst Liebner. Ia pakar Pinisi yang berhasil menyerap pengetahuan lokal cara pembuatan perahu Pinisi dan perahu kayu lainnya di Indonesia. Keilmuannya bukan saja diakui dalam dunia akademik dengan gelar doktor tapi dia diakui oleh para panrita lopi (ahli pembuat perahu). Horst mengenal baik pembuatan perahu tradisional Indonesia dan tekun menulis tentang maritim. Keberadaannya di Tanah Beru sekarang untuk Pinisi Perla Anugerah Ilahi yang sedang dalam tahapan pembenahan untuk pelayaran selanjutnya.

    Dan ketiga yang di tengah adalah orang yang sekedar numpang foto. 😀

    Senin, 19 Agustus 2024 di Pusat Pembuatan Perahu di Tanah Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan.

    Zulkarnain Patwa
    * Pengajar Rumah Belajar Bersama
    * Pemerhati Pinisi

  • Pemuda, Laut dan Pinisi Perla Anugerah Ilahi

    Pemuda, Laut dan Pinisi Perla Anugerah Ilahi

    Terlahir sebagai anak pelaut dengan dengan keseharian hidup berada di laut, Rumahnya tepat tepi laut di Kec. Herlang, Turungan Beru, Bulukumba,  Sulawesi Selatan.

    Sakkar namanya. Seorang pemuda yang punya minat belajar yang tinggi. Itu penulis temukan saat dia belajar intensif bahasa Inggris dan inisiatifnya membantu anak anak kecil untuk rajin membaca buku. Dia jadi mengerti membagi ilmu itu tidaklah membuat ilmunya berkurang tapi malah bertambah.

    Waktu luang Sakkar banyak diisi dengan membaca buku-buku sumbangan donatur Pustaka Bergerak Indonesia sebuah inisiasi Kak Nirwan Ahmad Arsuka (Almarhum) kepada perpustakaan Rumah Belajar Bersama dan tidak lupa secara jujur penulis katakan bahwa dia bermain games android–sebuah hobby digital kids dan pemuda zaman now.

    Sakkar berada di atas perahu Pinisi Perla Anugerah Ilahi ini berdasarkan pengumuman yang dibuka oleh Doktor Horst Liebner–Pakar Maritim Pinisi Indonesia–akan melakukan pelayaran tanpa mesin sebagai bagian dari upaya pelestarian pengetahuan Pinisi yang telah hampir punah karena telah dikepung oleh modernisasi.

    Pinisi apa sekarang yang tidak pakai mesin? Seandainya Perla Anugerah Ilahi sebagai satu satunya Pinisi yang mengandalkan angin saja untuk berlayar itu pakai bermesin, entah dimana lagi orang harus belajar. Tidak ada. Sebuah kemungkinan yang (hampir) pasti tidak ada.

    Setelah mengurus kapal di pagi hingga siang di Bantilang (baca: pembuatan perahu) Pak Najib, Horst tertarik dengan ketekunan Sakkar dalam bekerja saat berada di Perla Anugerah Ilahi dan pemahamannya yang cukup baik tentang perahu dan laut. Horst yang tentunya ahli mengenal potensi Sakkar menawarkan untuk bergabung. Sakkar memang sangat berminat karena sebenarnya dunianya memang laut ditambah lagi dia sebenarnya pernah bertemu Horst pada Pelatihan Pelestarian Pinisi diadakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan XIX Sul Sel dan Tenggara pada Maret 2024 di Bira dan telah sedikit banyak tahu latar belakang Horst melalui kabar mulut dan berselancar di internet.

    Tapi entah mengapa, tiba tiba saja, Sakkar bilang ‘Saya pikir-pikir dulu’.

    Sakkar mengalami konflik bathin dihadapkan pada pilihan antara melaut bersama Horts dkk atau tetap belajar Bahasa Inggris di darat.

    Di satu sisi, dia sadar betul bahwa peluang berlayar seperti di atas super langka ditambah lagi, dia sangat percaya bahwa ilmu dan pengalaman melaut yang dimiliki Horst dan beberapa orang seperti Ridwan Alimuddin dan Guswan adalah matang dalam mengelilingi lautan luas. Dia paham betul bahwa banyak ilmu baru yang bisa diperoleh dari nama nama orang orang penting disebut di atas yang reputasinya telah melayarkan perahu Pa’dewakang tanpa mesin ke Australia dan punya segudang pengalaman berlayar.

    Di sisi lain, Sakkar merasa akan banyak ketinggalan pelajaran bila kehidupannya kembali di laut, setidaknya itulah pemikirannya saat ini. Ini karena dia telah cukup mengerti peta pelajaran Inggris dan ingin memahaminya sebelum kembali ‘terjun bebas’ di laut. Dia telah menetapkan  target untuk menjadi orang yang mahir berbahasa asing dalam waktu tertentu dan ditambah lagi dirinya telah berhasil mengembangkan bakat dalam dunia literasi. Beberapa buku yang cukup serius telah dia selesaikan. Terdapat sebuah rencana yang cukup matang tentang rancangan hidup masa depan yang cerah tertancap baik dalam kepalanya.

    Untungnya, rencana pelayaran Perla Anugerah Ilahi ini ada dalam sebulan atau beberapa bulan saja sehingga peluangnya untuk memahami ilmu pelayaran tanpa mesin terbuka lebar.

    Horst memberikan waktu beberapa hari buat Sakkar untuk memilih jalan terbaik.

    Pemahaman penulis, tinggal cerdas cerdas saja memanfaatkan waktu. Horst itu kan orang bisa bahasa Konjo, Indonesia, Inggris, Jerman sebagaimana negeri asalnya dan entah bahasa apa lagi. Semua itu berharga. Kalau cuma urusan bahasa, pastilah banyak istilah istilah baru yang bermunculan selama dalam pelayaran. Saat berlabuh, itu bisa dikaji secara detail dan dijadikan minimal kumpulan jadi buku saku istilah berdasarkan pengalaman pelayaran Pinisi.

    Selamat merenung Sakkar dalam menentukan langkah ke depan. Rumahmu yang di tepi laut itu dimana tempat bermainmu adalah laut menawarkan pandangan luas, terlihat tanpa batas. Bahkan, sebegitu luasnya laut itu seolah bersambung ke langit. Alam tempat kelahiranmu itu cukup membantu berpikir terbuka untuk membuktikan bahwa anak pelaut Turungan Beru, bisa juga. Dan itu memang bisa. Toh, nenek dan kakek moyangmu, pelaut.

    Zulkarnain Patwa
    * Pengajar Bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama
    * Pemerhati Pinisi

  • Petualangan Gadis Spanyol di Sulawesi Selatan. Part 1

    Petualangan Gadis Spanyol di Sulawesi Selatan. Part 1

    Keinginan untuk mengenal dunia luas ini membuat manusia berani untuk melangkah. Natalia, seorang pemudi periang dari Bilbao, Spanyol berkunjung ke Bira. Seorang diri berkeliling tanpa ada rasa takut sedikit pun yang terpancar di wajahnya. Alasannya sederhana. Kebaikan berbalas kebaikan. Tak heran, dia suka tersenyum yang membuatnya mudah diterima kemana pun dia pergi.

    Sebagai seorang pelancong, Natalia suka berjalan kaki sepanjang kawasan wisata Bira. Ia menemukan pantai yang sangat indah, airnya yang sangat jernih dan hangat, sesuatu yang sangat berbeda dengan di pantai utara di Spanyol yang dingin. Pantai Bira itu berpasir putih yang cukup bersih dimana hal itu dia tidak temukan di tempat dimana dia tinggal. Pantai juga menawarkan ketenangan karena tidak ramai tidak seperti di Bali yang penuh keramaian.

    Itulah mengapa Natalia betah dan memilih untuk tinggal selama seminggu. Sebagai konsekuensinya, dia akan lebih banyak menikmati diri bermandikan matahari di pantai dan jalan-jalan melihat pepohonan rindang yang tumbuh liar di atas batu karang dan sesekali beruntung melihat monyet-monyet berekor pendek khas sulawesi selatan dikenal dengan istilah Macaca Maura, keluar dari hutan semak-belukar mencari makanan ke daerah pemukiman tanpa pernah mengganggu manusia. Sedikitnya, itu menjadi nilai tambah yang jarang terpublikasikan ke media sebagai bagian dari objek wisata. Dia tertarik dengan semua itu. ‘Bila tidak, dengan segera dia akan pergi’, katanya.

    Natalia pun juga sempat berkunjung di Kajang dimana kehidupannya masyarakatnya menyatu dengan alam. Dia sangat tertarik melihat cara hidup orang-orang Kajang yang sungguh berbeda dengan membandingkan kehidupan di Eropa yang serba modern dimana hal ini tidak bisa ditemukan di Eropa. Menurutnya, beberapa tempat di Indonesia kehidupannya modern tapi beberapa tempat hidup dengan cara tradisional seperti di Kajang.

    Kesannya. Natalia harus berjalan dengan kaki telanjang tanpa sendal atau sepatu memasuki kawasan adat Kajang di Amma Toa yang membuatnya kesakitan untuk berjalan karena semua orang yang masuk tidak boleh memakai alas kaki guna sebagai bagian mendekatkan diri kepada alam. Hal ini untuk mengingatkan bahwa manusia terlahir dari tanah dan akan kembali ke tanah. Rasa sakit yang jarang dialami Natalia ini membuatnya punya ingatan panjang namun itu seolah terobati saat dia melihat anak-anak berjalan kaki dengan riang gembira dan berjalan dengan cepat, tanpa beban sama sekali. Itu manakjubkan!

    Di kawasan Amma Toa, Orang-orang terlihat bahagia menjalani kehidupannya masing-masing karena tiap orang berhak punya pilihan. Bagi yang ingin hidup tanpa peralatan seperti listrik, mesin, handphone dan segala peralatan modern, bisa tinggal menetap di kawasan. Tapi bila ingin kehidupan modern, silahkan keluar dan saat mereka ingin kembali, segala kehidupan modern itu harus ditinggalkan. Begitulah Amma Toa bersama rakyatnya menjaga kelestarian alam ini.

    Maka tidaklah mengherankan, senyum sumringah biasa kita temukan terpancar dari wajah-wajah orang desa karena selain mereka hidup dengan penuh kesederhanaan tanpa banyak kepentingan materi atau kekuasaan, mereka juga menyakini bahwa hubungan baik sesama manusia itu perlu dijaga agar manusia dapat hidup di alam ini dengan bahagia.

    Natalia sempat mengunjungi rumah Amma Toa, Sang Kepala Adat yang rumahnya yang berlantai dan berdinding dari bambu dan bertemu. Karena orang-orang Kajang berpakaian hitam dan tiap pengunjung juga wajib berpakaian hitam menarik perhatian Natalia untuk bertanya. ‘Mengapa orang-orang berpakaian hitam?’, tanya Natalia.  Amma Toa mengatakan, ‘Ketika manusia lahir, semuanya yang dia lihat hitam.’ Warna adat Kajang ini juga sebagai bentuk persamaan dalam segala hal; kesederhanaan, kekuatan dan persamaan derajat manusia di hadapan Sang Pencipta.

    Sisi lain yang mengagumkan buat Natalia saat bertamu ialah sebuah keluarga dari pulau Kalimantan jauh-jauh berkunjung agar berkenan diobati oleh Amma Toa. Baginya, itu mengagetkan melihatnya secara langsung karena itu sepertinya tidak ditemukan Natalia di negaranya. Sebenarnya, bagi masyarakat Sulawesi Selatan, pengobatan tradisional disertai dengan ramuan dedaunan adalah tradisi yang bertahan lama. Pilihan rakyat ke Amma Toa karena dipercaya bahwa Amma Toa adalah orang yang tidak banyak tergantung pada kehidupan materi dimana doa-doanya membuat pintu langit lebih mudah terbuka untuk diterima oleh Sang Pencipta.

    Yang terakhir dikisahkan oleh Natalia adalah kunjungannya di Sulawesi Selatan adalah Rantepao di Tanah Toraja. Dia turut serta pada acara kematian.  Dia menemukan makna bahwa semakin banyak kerbau yang dikorbankan untuk orang yang meninggal, semakin baik juga kehidupan orang yang telah meninggal tersebut di alam baka. Sisi lain adalah power. Orang yang punya status sosial di masyarakat yang tinggi merasa perlu melakukan pengorbanan yang lebih besar.

    Acara ini melibatkan banyak orang dan layaknya pesta yang panjang. Bersama dengan masyarakat setempat, Natalia juga turut diajak bergabung menikmati makanan dan ditawarkan untuk mencicipi beragam menu yang tersedia. ‘Coba ini, coba itu’, kata orang. Dan itu adalah keramahtamahan penduduk lokal dalam menyambut para tamu.

    Dibalik itu, hal utama yang Natalia pikirkan tentang bagaimana orang orang Toraja memberi penghargaan kepada orang meninggal. Seperti kebanyakan orang-orang di dunia, orang meninggal itu dikubur sedangkan di Toraja tidak dikubur. ‘Kita manusia tidak melupakan tapi tidak melihatnya lagi. Itu sulit membayangkan bagaimana orang yang meninggal dikeluarkan dan dibersihkan sebagaimana orang-orang lakukan di Rantepao’, terangnya. Bila saja kejadian ini terjadi pada keluarga Natalia, ‘Saya tidak pernah membayangkan bagaimana saya membersihkan ibu saya’, tambahnya.

    Begitulah keragaman budaya itu berlaku. Perbedaan itu terus terbentang di sepanjang jalan kehidupan. Mari kita simak yang berikutnya. Toraja juga terkenal dengan bangunan rumahnya yang unik. Awalnya Natalia berasumsi bahwa rumah itu kecil sebagaimana yang dia lihat melalui foto namun pada kenyataannya itu adalah rumah yang besar yang mempunyai seni arsitektur yang khas berbeda.

    Begitulah! Betapa pentingnya manusia terus bertebaran di muka bumi agar dapat menambah pengetahuan dan pengalaman yang terkadang tidak semuanya tertera di dalam buku-buku. Kemampuan beradaptasi sebagaimana yang dilakukan Natalia gadis petualang berusia dua puluh empat tahun yang selalu tersenyum manis layaknya orang Indonesia yang ramah dan dengan pemikiran terbuka patut diikuti. Layaknya pepatah Melayu, ‘Dimana langit dijunjung, disitu bumi dipijak.’ And Natalia did it well.

    Zulkarnain Patwa
    Pengajar Bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama

    * Note: Tulisan ini berdasarkan hasil wawancara podcast di Villa Malomo, Bira, Sulawesi Selatan pada Rabu, 14 Agustus 2024. Video menyusul.

  • Persiapan Pergaulan Dunia

    Persiapan Pergaulan Dunia

    Sore hari dimana semua kelas Bahasa Inggris berkumpul dalam satu ruangan karena mendapat kunjungan surprised dari Charline Jeuland and India Gegu dari Prancis. Senyum manis, tawa lepas dan keramah-tamahan pelajar Indonesia membuat kedua orang Eropa ini terpengaruh dengan penyebaran energi positif tersebut yang membuatnya merasa bahagia.

    Pada diskusi, terlebih dahulu penulis menyampaikan sedikit pengantar bahwa tidak perlu menerangkan nama lengkap saat berkenalan karena para tamu kesulitan mengingat nama lengkap. Cukup pakai nama panggilan saja. Dan kemudian, setelah kenalan, sampaikan pendapat dan bertanya lah.

     

    Dan ternyata pertanyaan pertama datang, “What is your name?”, tanya Filzah setelah memperkenalkan diri. Jeuland dan India pun mengerti bahwa penyebutan nama dan tulisan itu berbeda pada orang yang berbeda bahasa. Oleh karena itu, mereka berinisiatif menulis nama masing-masing di papan tulis. Ini sangat membantu menyelaraskan pikiran para pelajar dengan apa yang telah terucap.

    Selangkah kemudian, Jeuland dan India tahu betul cara mengakrabkan suasana. Tiap orang mendapat pertanyaan, “What is your name and how old are you?”. Trik ini cukup efektif membuat peserta yang kebanyakan masih Basic English untuk berbicara. Bila terdapat salah pengucapan dibalas dengan tawa bersama. Dan ketika pertanyaan berbalik tentang umur, kedua orang barat ini tidak merasa tersinggung sedikit pun dan dengan senang hati menjawab hal-hal privasi yang selama ini dianggap tabu bagi orang yang baru berkenalan.

    Mengetahui bahwa kebanyakan pelajar berumur belasan tahun, Jeuland and India membuat games yang membuat keramaian pecah dengan seruan “Yeaah!” sebagai tanda sepakat. Tebak kata berisi enam huruf harus diisi. Sekitar tiga menit, para pelajar berpikir dan menemukan bahwa itu adalah “France”. Kesuksesan itu disambut tepuk tangan yang meriah.

    Tantangan yang lain pun diberikan sembari memberi semangat bahwa mereka akan dapat hadiah. Karena tidak sedang berada di dalam ruangan, penulis tidak tahu apakah para pelajar tersebut menjawab benar atau tidak. Namun yang jelas, Jeuland menitipkan kartu Uno yang menurutnya ‘world game’ untuk para pelajar. Sebuah dukungan yang sangat bagus untuk menciptakan kelas belajar yang menyenangkan.

    Menjelang akhir acara, hampir seluruh pelajar berinisiatif untuk mengikat makna pertemuan ini dengan yang menyodorkan buku cetak, buku tulis dan bahkan lembaran kertas selembar untuk ditandatangani atau diberi sedikit kata-kata mutiara. Semua permintaan tersebut dilayani dengan baik oleh Charline dan India.

    Refleksi untuk Kemajuan Pendidikan

    Dari pertemuan singkat tersebut, penulis menggaris bawahi beberapa hal:

    1. Kebanyakan para pelajar masih malu untuk berpendapat saat berada dalam pertemuan betapa pun beberapa diantara mereka sebenarnya telah punya kemampuan yang baik untuk berbicara. Tugas untuk membiasakan para pelajar berekspresi  dan berpendapat dengan terbuka bukan sekedar tanggung-jawab lembaga pendidikan informal tetapi memang perlu dibentuk dari lingkungan terdekat seperti keluarga dan sekolah karena di tempat tersebut waktu mereka lebih banyak tergunakan.
    1. Sebenarnya setiap orang punya pendapat. Hanya saja banyak pelajar memilih diam dan mau jadi pendengar yang baik saja. Ada rasa khawatir akan diejek bila salah bicara. Hal lain yaitu demam panggung. Solusinya, pembiasaan untuk pertemuan yang sifatnya dialog yang berisi tanya jawab perlu ditumbuhkembangkan.
    1. Para pelajar bukan sekedar dilatih untuk menjawab soal tapi juga dilatih membuat pertanyaan. Jika sering bertanya, tentu mereka akan mencari jawaban dengan dialog atau berpikir sendiri. Dan dari jawaban, akan muncul pertanyaan lagi. Begitu seterusnya. Dengan demikian, rasa ingin tahu semakin tinggi yang dapat menjadikannya menjadi pembelajar sepanjang masa.
    1. Pengembangan wawasan melalui gerakan literasi. Para pelajar perlu terbiasa membaca buku baik sumbernya dari dalam negeri dan luar negeri. Buku buku tersebut tidak perlu ditekankan pada pelajaran sekolah karena itu sudah wajib mereka baca. Hal ini bisa dimulai dari buku yang sesuai minat dan bakat.

    Untuk menemukannya, para pelajar dapat mendekatkan diri pada perpustakaan pemerintah maupun swasta. Lebih bagus lagi bila tiap bulan mengagendakan beli buku untuk kebutuhan pribadi agar lingkungan sehari-hari di rumah dikeliingi oleh buku-buku. Hal ini sekaligus  mengingatkan penulis pada seorang filsuf Prancis, Marcus Tilius Cicero, “A room without books is like a body without soul—Sebuah ruangan tanpa buku buku seperti tubuh tanpa jiwa”.

    1. Membuat grup pertemuan yang membahas tentang bedah buku sesuai dengan minat dimana setiap orang memperoleh kesempatan menyampaikan isi pikirannya, pengalamannya dan lainnya.

    Dengan demikian, kunjungan dengan orang dari berbagai macam negeri ke tempat belajar kita tentu akan lebih semarak karena para pelajar kita telah mempersiapkan diri lebih baik dan telah mempunyai bahan pembicaraan yang lebih berkwalitas. Ini akan menjadi surprised tersendiri juga bagi para tamu mancanegara yang berkunjung ke lembaga pendidikan.

    Bulukumba, 4 Oktober 2023

    Zulkarnain Patwa
    Direktur Rumah Belajar Bersama

  • Mengapa INKAI Sul Sel Juara Umum 1 di Kejuaraan Porbikawa?

    Mengapa INKAI Sul Sel Juara Umum 1 di Kejuaraan Porbikawa?

    Tidak ada perjuangan yang sia-sia dan kesungguh-sungguhan itu memperoleh hasil maksimal. Begitulah pemikiran Saiful Patwa, Manager INKAI (Institut Karate Do-Indonesia) Sul Sel (Sulawesi Selatan) pada Kejuaraan Porbikawa di Makassar.

    Dengan naiknya INKAI Sul Sel sebagai Juara Umum mum 1 lagi, Saiful berbagi pemikiran dan pengalaman dengan menjelaskan mengapa INKAI Sul Sel berada di puncak.

    Ir. Abdul Djalil Razak, Ketua INKAI Sul Sel (Berkaca mata), Amir Uskara, Pengurus FORKI Sul Sel dan Anggota DPR RI (Tengah) dan Saiful Patwa, Manager INKAI Sul Sel pada Kejuaraan Porbikawa Sul Sel.

    Berikut ini adalah petikannya:

    Kejuaraan karate Porbikawa telah berakhir dengan hasil INKAI Makassar juara umum 1 dengan perolehan medali 17 Emas, 12 Perak dan 8 Perunggu.

    Pencapaian ini tidak serta merta hadir begitu saja tapi melalui pemikiran cerdas dari pengurus INKAI dan MSH (Majelis Sabuk Hitam) Sul Sul (Sulawesi Selatan) dimulai dari Kejurda (Kejuaraan Daerah) INKAI dimana yang juara dikirim untuk pertandingan di Porbikawa.

    Persiapan TC (Training Center/Pemusatan Latihan) cuma 2 hari. Kita bersyukur karena sebelumnya atlet kita telah digembleng di Dojo (ranting) masing masing sehingga kita dapat mengatakan bahwa ini perjuangan yang panjang untuk meraih hasil membanggakan ini.

    Terlepas dari hasil Porbikawa, arsitek yang membuat kita juara adalah:

    1. Ketua Peng Prov (Pengurus Provinsi) INKAI  Sul Sel mempunyai program dan pola latihan terstruktur serta program lainnya. Terdapat penyediakan tempat TC, menyediakan dana. Selain itu, hadir selama 3 hari di kejuaraan dari pagi sampai akhir pertandingan dengan  memperhatikan segala urusan dengan detail termasuk makanan dan medis.

    2. Ketua MSH yang melatih dan menyiapkan pelatih yang melatih para atlet.

    3. Coach dan pelatih coach yg telah melatih TC serta aktif mendampingi atlet.

    4. Orang tua kohai yg mengizinkan dan mensupport anak anaknya bertanding.

    5. Para kohai yg telah berlatih serius sehingga bisa menghasilkan prestasi maksimal.

    Jika semua pola ini berlangsung terus-menerus maka ke depan kita akan memimpin setiap event.

    Sekali lagi terima kasih yg sebesar besarnya kepada Sensei Ketua Ir. Abdul Djalil Razak atas peran yg sangat luar biasa baik secara materi dan non materi yg telah mensupport setiap event kejuaraan.

    Kehadiran Sensei Ketua dan Pengurus INKAI Sul Sel di tempat kejuaraan menjadi penyemangat tersendiri terhadap seluruh atlet INKAI yang turun berlaga.

    Sesuai pesan Sensei Ketua, “Jangan terlena maka kita harus tetap melanjutkan program program latihan selama ini berjalan.”

    Terakhir  saya sebagai manager memohon maaf atas kekurangan selama memimpin selama tiga hari. Setiap kekurangan menjadi pelajaran berharga untuk kita benahi pada kejuaraan berikutnya.

    Demikian dan terima kasih atas kepercayaan Sensei Ketua dan Pengurus INKAI Sul Sel atas penunjukannya sebagai team pendamping. Dan dengan berakhirnya pertandingan Porbikawa maka tugas kami juga berakhir sampai di sini.

    Semoga kedepan, prestasi INKAI Sul Sel jauh lebih baik.

    Zulkarnain Patwa
    Humas INKAI Sulawesi Selatan

  • INKAI Sul Sel Juara Umum 1 Kejuaraan Porbikawa

    INKAI Sul Sel Juara Umum 1 Kejuaraan Porbikawa

    Dalam tiga tahun terkahir ini, INKAI (Institut Karate Do-Indonesia) Sul Sel  (Sulawesi Selatan) mencatatkan tinta emas dengan meraih beragam juara. Dan pada Kejuaraan Porbikawa 15 – 17 September di Makassar, INKAI Sul Sel kembali mencatatkan diri sebagai Juara Umum 1.

    Semua prestasi membanggakan ini sangat erat kaitannya dengan pola kepemimpinan Ir. Abdul Djalil Razak, Ketua INKAI Sul Sel yang bukan hanya memimpin dengan kecerdasan mengelola pengurus yang hebat tapi juga dengan rasa cinta sehingga INKAI Sul Sel selalu dalam keadaan solid dan mempunyai daya juang yang tinggi.

    Berikut petikan pernyataannya:

    Alhamdulillah wa syukurillah terima kasih Ya Allah. Terima kasih untuk semua INKAI Cabang Palopo, Gowa, Pinrang, Bulukumba, Maros, Sinjai, Bone, Jeneponto, Dojo Kodim 1408 Makassar, Dojo Antang, Dojo Lifiyura, Dojo Puri dan Dojo Generasi Unggul atas kerja samanya yang baik bergabung dalam satu INKAI menjadi Tim yang solid. Dengan daya juang anak-anakku, atlit yang luar biasa tersebut menjadikan INKAI keluar sebagai Juara umum yang sekian kalinya.

    Terima kasih juga kepada Tim Manager, Koordinasi dan para pendamping atlit (generasi pelanjut INKAI) dan seluruh pengurus INKAI baik Pengurus Peng Prov (Pengurus Provinsi) maupun pengurus Cabang yang telah bekerja keras dan ikhlas sehingga juara diraih oleh INKAI yang sama kita cintai.

    Kita boleh bangga namun jangan kita terlena dengan apa yang kita telah raih. Mari kita terus menerus meningkatkan kualitas dan kuantitas atlit kita. Ewako!!!!

    Mohon maaf kalau dalam penyelenggaraan Kejurda (Kejuaraan Daerah) maupun kejuaraan Porbikawa ini adahal yang tidak berkenan..🙏

    Zulkarnain Patwa
    * Humas INKAI Sulawesi Selatan

     

  • Presiden yang Aneh

    Presiden yang Aneh

    Perkenalan penulis dengan Nur Asdar Ilahi ini cukup unik. Semasa Ospek di SMA 1 Bulukumba pada 1998, penulis dengan lancang beradu argumentasi dengan Ketua OSIS bersama pengurusnya dan termasuk guru guru pembicara pada penataran siswa baru.

    Betapa tidak, penulis sudah banyak membaca buku buku yang bukan pelajaran sekolah. Sebutlah Khilafah dan Kerajaan karya Abul A’la Al Maududi yang mana pengantarnya adalah Amien Rais. Di Bawah Bendera Revolusi karya Soerkarno. Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Michael H. Heart. Revolusi Iran karya Nasir Tamara. Psikologi Komunikasi karya Jalaluddin Rakhmat. Banyaklah. Yang jelas buku buku tersebut tidak dimengerti oleh kebanyakan pelajar tamatan SMP sehingga penulis merasa cukup percaya diri “melawan” siapa pun. Penulis memang terbebas dari kemiskinan intelektual untuk ukuran pelajar remaja tapi terjebak dalam kesombongan intelektual.

    Semua keberuntungan bacaan buku itu penulis dapatkan dari ayah Drs. H. Patiroi yang punya ribuan koleksi buku yang mencakup Bahasa Inggris, Arab dan Indonesia di rumah. Pasca Indonesia merdeka, ayah penulis bagian dari segelintir orang yang memperoleh beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar ke Jawa bersama dengan Dokter senior Mudassir Sabarrang , ayah dari dokter Timurleng Tonang Mataallo . Ada juga Pak Tajuddin Lambero yang merupakan pentolan Muhammadiyah di Bonto Tiro. Ada juga beberapa orang dari Kota Bulukumba. Sayang, karena ayah sudah almarhum,  penulis tidak sempat menulis detail siapa siapa mereka.

    Segala macam referensi itulah penulis gunakan untuk beradu akal. Pendek cerita, penulis langsung vokal, populer dan berefek positif dengan dinobatkan sebagai Presiden untuk siswa baru. Istilah “Presiden” ini aneh tapi waktu itu, penulis terima saja karena merasa suka aja mendengarnya. Tidak perlu repot mendebat urusan istilah.

    Nasib kurang beruntung dialami rekan rekan siswa baru. Mereka benar benar dipolonco oleh Pengurus OSIS. Penulis memang tidak pernah ditindaki secara fisik tapi kan sebagai Presiden, masa tidak punya pembelaan. Bila tidak bisa memperjuangkan nasib rekan rekan, tidak ada gunanya jadi Presiden. Di sini lah, penulis menarget M. Asfar Nurdin, Ketua OSIS SMA 1 Bulukumba.

    Di ruang pertemuan besar dimana seluruh pelajar berkumpul, penulis dengan lantang menuduh pengurus OSIS di bawah kepemimpinan Asfar Nurdin tidak konsisten dan tidak shalat. Seluruh siswa baru disuruh shalat dhuhur tapi setelah shalat, sepatu hilang sebelah. Siapa yang ambil? Pengurus OSIS lah. Masjid penuh berisi siswa baru dimana tidak ada satu pun pengurus OSIS terlihat shalat. Tidak mungkin orang luar sekolah masuk ambil sepatu karena sekolah dikelilingi pagar tembok.

    Segera setelah protes selesai, semua orang disuruh tunduk dan dapat jatah pukulan lagi. Saat penulis ikut menunduk, tiba tiba Asfar Nurdin membawakan sepatu penulis yang hilang sebelah. Semakin jelas pelakunya tapi penulis terkesan dengan itikad baiknya. Boleh juga ini orang. Tapi kenapa cuma satu orang diperlakukan demikian? Pertanyaan ini tidak sempat terucap. Karena saking senangnya tidak akan dimarahi ummi (baca: ibu) bila tidak kehilangan sepatu, penulis langsung mengucapkan terima kasih.

    Setelah beberapa hari Ospek, di suatu sore ketika hendak pulang, penulis bertemu dengan seseorang di pos pintu keluar sekolah. “Ini Nain ya? Adiknya Iful dan Kak Alam?” Sapanya dengan ramah. “Oh iye. Kak Asdar Kan. Temannya Kak Iful. Penulis memang mengenal wajahnya. Cara berkomunikasinya juga elegan. Ya, semacam punya daya tarik kepemimpinan lah. Dengan pesona yang natural tersebut, wajarlah bila ia pernah menjadi Ketua OSIS di SMP 1 dan SMA 1 Bulukumba. Pada masanya, Kak Asdar orang terpopuler secara organisatoris dan Kak Iful (Saiful Patwa) adalah best of the best dalam hal pelajaran sekolah karena ia satu satunya pelajar yang yang terpilih di sekolah khusus namanya BPG di Makassar.

    Penulis bertanya dalam hati, mengapa Kak Asdar di sini? Bila ia datang untuk membela sang Ketua OSIS Asfar Nurdin, penulis kan sudah berdamai dengannya. Mungkin ia silaturahmi saja karena bagaimanapun ini adalah sekolahnya juga dari 1991 sampai 1994. Sejurus kemudian, sebelum semua itu terjawab, pertanyaan mengagetkan muncul. “Katanya Nain kagum sama Hitler ya. Mengapa?”, Ini benar benar menghentak. Dari mana ia tahu segala penjelasan penulis semasa Ospek? “Oh iya. Menurut Michael Heart dalam buku Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah, tidak ada orang yang pernah mengusai 2/3 Eropa selain Hitler. Sang penakluk sekaliber Alexander The Great pun tidak”, terang penulis dengan nada sopan.

    Karena Kak Asdar adalah orang yang enak diajak berkomunikasi, perdebatan tidak terjadi. Kami pun melanjutkan dialog yang terjadi semasa Ospek. “Kata pembawa materi, bila zaman Orde Baru, saya sudah ditangkap karena saya bertentangan dengan Pancasila. Saya menjelaskan bahwa yang tidak bisa berubah itu Al Qur’an. Semua hukum buatan manusia pasti bisa berubah. Panca Sila itu kan buatan manusia”, terang penulis yang terpengaruh dengan Al Maududi terjemahan Pak Amien Rais tersebut. Macam macamlah diskusinya seputar tentang Ospek selama hampir seminggu.

    Yang menarik dari Kak Asdar adalah ia mau mendengarkan secara utuh terhadap suatu permasalahan. Tak lupa ia pun selalu bertanya referensi terhadap sebuah argumen yang agak tajam. Dan bila berbeda pendapat, ia pun tidak menohok secara langsung. Penulis tahu bahwa ia tidak sepakat dengan Hitler namun ia punya cara yang elegan dengan berbagi referensi bacaan untuk menambah khazanah intelektual. Dan ia benar. Keunggulan ras Arya sebagaimana klaim Hitler hanyalah elok dalam pidato saja. Dan bentuk negara Islam pun di berbagai macam negara tafsirnya beragam.

    Teringat dengan segala kenangan baik tersebut, penulis sempat mengunjungi rumah Kak Asdar sewaktu liburan kuliah sekitar tahun 2002. Kesan pada waktu itu, Kak Asdar orang yang punya harapan besar untuk dapat menimba ilmu lebih banyak. Dan sekarang 2023 ini, ia adalah bagian dari dosen berbakat yang merupakan aset berharga untuk pengembangan kwalitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh Universitas Muhammadiyah Bulukumba.

    Zulkarnain Patwa
    Pengajar Rumah Belajar Bersama

    Note:
    Foto di atas adalah sebuah persiapan untuk membedah buku Detik Detik yang Menentukan, Jalanan Panjang Indonesia menuju karya B. J. Habibie. Sumber foto: Rumah Belajar Bersama