Kejeniusan Mr. Crack, B. J. Habibie, tentulah turut mengharumkan nama baik Indonesia, disegani di dunia internasional. Ahli hitung ini berhasil membuat keseimbangan sayap pesawat. Kesalahan berpikir orang kemudian adalah mengidentikkan bahwa orang-orang Indonesia itu cerdas. Bahkan orang Jerman pun percaya ketika Habibie mencoba meyakinkan tempat di mana ia bekerja sehingga banyak sarjana Indonesia diterima bekerja di Jerman. Aneh tapi nyata.

Menghindari jebakan over-generalization (melebih-lebihkan) itu, video kunjungan ke SMK Taruna dari Kang Dedi Mulyadi (KDM). Gubernur Jawa Barat (Jabar) menarik dijadikan contoh. Ia tidak menyembunyikan rendahnya kemampuan numerasi pelajar sekolah. Pelajar SMK Taruna itu mayoritas tidak mampu menjawab dengan benar ketika KDM menanyakan 8 x 3 Ini sungguh tamparan yang sangat menyakitkan bagi para pelajar, sekolah dan para pemangku kebijakan pada pendidikan Indonesia.

Sesungguhnya, persoalan berhitung sederhana ini tidak perlu isu booming, separah ini. Cukup dengan permainan kartu joker—dilakukan oleh Ust. Saefuddin dan Mariyanti Yanti di Math Master Pare, Kediri, Jawa Timur—itu bisa menyelesaikan dasar-dasar aritmatika: perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan. Misal, angka 7 dan 5 pada dua lembar joker bisa dibuat jadi penjumlahan 7 + 5, pengurangan 7 – 5, dan perkalian 7 x 5. Untuk pengurangan, angka 7 dapat dikreasikan dengan membayangkan angka 70. Soalnya, 70 : 5. Untuk lebih kontekstual, orang atau guru yang mendampingi membuat cerita yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Contohnya, ada 7 kue. 5 kue dimakan. Berapa kue tersisa? Segampang itu. Permainan ini dibiasakan dalam kesehariannya. Pasti jadi jauh lebih mudah.

Sedikit lebih mendalam, Rumah Belajar Bersama (RBB) membuat modul Metode 40, semacam latihan tulis sebanyak 40 kali, berisikan aritmatika. Pelajar yang daya tangkapnya lambat, mereka cukup diminta menyelesaikan soal-soal tulis itu, sementara pelajar yang daya tangkapnya cepat, mereka mencatat waktu tercepat dalam menyelesaikan soal. Tak heran, anak kelas 1 dan 2 SD bisa mengerjakan dengan baik. Intinya terletak pada fokus kerajinan dalam melakukan latihan saja.
Dalam beberapa tahun mendatang, kita tidak perlu lagi melihat pelajar tingkat SMK/SMA yang tidak sanggup menjawab dasar aritmatika. Tokoh birokrat seperti KDM atau tokoh publik lainnya bisa saja datang lagi ke sekolah menanyakan trigonometri di mana pelajar itu dengan cepat mampu menjawab soal-soal secara lisan. Sedangkan soal-soal aritmatika itu semestinya cocok diberikan kepada anak maksimal kelas 3 SD. Realitas demikian ini—semoga saja terjadi—sedikitnya mengikis ketertinggalan, meskipun belum dapat dijadikan patokan untuk sanggup bersaing karena kita tahu, di Asia sendiri, Jepang dan Cina sudah sejak lama terkenal mempunyai sempoa. Para pelajar SD mereka sudah mampu menghitung banyak digit dalam hitungan detik. Itu bukti bahwa para pelajar mereka sejak usia dini menjadikan matematika bukan lagi sekadar hafalan, melainkan penguatan mental yang refleksif (spontan).
Jejak Habibie sebenarnya dapat kita ikuti. Menurutnya, untuk menjadi seperti dirinya, itu membutuhkan konsistensi dan disiplin. Itulah yang ia sebut “anak dan cucu intelektual Habibie.” Tentunya, itu dapat terwujud bila terdapat kreativitas yang lebih canggih lagi selain dari permainan kartu joker dan metode 40. Para matematikawan, pemerhati pendidikan kita dan para pembuat kebijakan pendidikan perlu saling bahu-membahu mencarikan solusi yang tepat sasaran yang sesuai dengan perubahan zaman.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu, 30 September 2026

Tinggalkan Balasan