Kategori: Matematika

Program dan mata pelajaran Matematika dari Rumah Belajar Bersama

  • Jadwal Padat, Bukan Hambatan Belajar

    Jadwal Padat, Bukan Hambatan Belajar

    Belva dan Gavino dua orang bersaudara yang selalu menyapa dalam Bahasa Inggris baik saat baru datang ke kelas ataupun mau pulang. Ini mereka lakukan sejak pertama kali bergabung di RBB (Rumah Belajar Bersama) dan terus bertahan sampai sekarang.

    Hebatnya lagi, mereka selalu bertanya hal hal yang baru yang mereka dapatkan di luar kelas. Misalnya, secara tiba-tiba mereka bertanya, ‘What is the English of cicak?’ Kata ‘cicak’ tidak didapatkan dari kelas tapi dari rumahnya. Beragam kosa-kata baru digunakan untuk mengetes rekan kelasnya dan bahkan ke gurunya.

    Ini menandakan bahwa dua orang bersaudara ini belajar di rumahnya. Orang tuanya nampaknya memberikan fasilitas tambahan seperti buku-buku dan mengajarkan hal-hal yang sederhana yang mampu dicerna oleh otak anak-anak.

    Keunggulan lain yang Belva dan Gavino peroleh ialah meskipun keduanya tidak full masuk kelas yaitu lima kali belajar dalam seminggu karena ikut kelas Matematika di mana sebagian jamnya bertabrakan dengan kelas Inggris, mereka tidak ketinggalan materi, bersedia membaca lebih banyak yang membuatnya lekas tamat buku basic Reading (Bacaan Dasar). Cara membacanya pun cukup bagus dan jelas dimengerti. Hal yang wajar ketika gurunya memperkenannya masuk pada buku reading tahap kedua.

    Kendala
    Belva dan Gavino mengikuti kelas mengaji di siang hingga sore hari, jam yang tidak bisa diganggu gugat mengingat orang tua berpikir bahwa mengaji itu wajib. Di sini lain, orang tuanya juga sadar bahwa Bahasa Inggris dan Matematika juga sangat penting agar anak-anaknya nyambung pelajaran sekolah dan
    bekal untuk punya daya saing dalam menempuh cita-citanya.

    Matematika dan Bahasa Inggris pada akhirnya dipelajari di malam hari. Penulis seringkali mengajaknya untuk mengikuti kelas Bahasa Inggris setelah kelas Matematikanya selesai. Belva dan Gavino lebih sering menolak daripada menerima dengan alasan capek. Maklum, anak-anak juga punya keinginan untuk bermain dan haknya itu harus diberikan. Tapi tak jarang juga, saat bermain, mereka tiba-tiba bergabung di kelas Inggris karena melihat pelajarannya seru, seperti bermain.

    Pada pembelajaran ala bermain itu, pengetahuan yang diperoleh sedikit. Bukan masalah, minimal menambah kosa-kata. Pada akhirnya, pemikiran sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit adalah pilihan terbaik.

    Khusus untuk jam pelajaran Bahasa Inggris, tidak ada kendala yang berarti. Ketekunannya dalam membaca disertai menjawab soal-soal cerita bisa diandalkan. Dengan demikian, mereka punya peluang besar untuk tamat pada buku kedua.

    Seiring dengan perjalanan waktu, kemampuan Belva dan Gavino menyapa di RBB dan di lingkungan orang berbahasa Inggris pasti akan berkembang. Mereka pasti akan bisa bercerita banyak hal, bukan lagi ‘what is the English of …?’ tapi pada hal yang berhubungan dengan pengembangan wawasan. Itulah harapan kita semua.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba,. Rabu 20 Mei 2026

  • Dunia Belajar Afwa

    Dunia Belajar Afwa

    Keistimewaan anak ini adalah di umurnya lima tahun, ia sudah lancar membaca dalam bahasa Indonesia, mengaji dan Bahasa Inggris. Berhitung sudah menjadi bagian kesehariannya karena ibunya guru Matematika. Olahraga yang ia suka adalah karate.

    Namanya Afwa. Sekarang ia sudah enam tahun. Tiap kali ketemu, ia selalu minta untuk diajar. Ia suka bawa bukunya sendiri tapi kadang juga lupa. Jadi ia sering ke perpustakaan Rumah Belajar Bersama, ambil buku bacaan dan kemudian mengatakan, “Siapma Mister” (Saya sudah siap Mister). Bacaannya sudah pertengahan Basic Reading tapi kalau ia capek atau penulis lagi sibuk dimana sulit untuk mengoreksi bacaannya secara langsung, Lesson 1 sampai 10 akan jadi hiburannya. Ia sudah sangat mahir bacaan itu. Yang terpenting, setiap datang ke RBB, ada waktu untuk membaca.

    Urusan berhitung, Afwa sudah sampai perkalian tujuh tapi ia merasa belum terlalu lancar. Jadi ia menawar untuk latihan lisan perkalian dua dan tiga saja. Tak mengapa ia mengikuti the law of repetition (Hukum perulangan). Perlahan lahan ia pasti akan suka perkalian tujuh, delapan dan sembilan. Bila itu tuntas, urusan matematikanya pasti terasa sangat ringan saat masuk SD nanti.

    Kalau karate, sekarang Afwa agak jarang latihan setelah sakit. Mungkin ia perlu banyak nonton video karate untuk mengembalikan semangatnya. Soalnya, ia tertarik gabung karena sering nonton latihan karate.

    Tahun ini, Afwa kemungkinan akan masuk SD dan akan tinggal di kampung halaman neneknya di Turungan Beru di Kec. Herlang, Kab. Bulukumba. Suasana pedesaan dekat laut akan membuatnya akrab dengan alam. Semoga orang orang yang mendidiknya nanti di sana bisa memaksimalkan bakat anak yang luar biasa ini.

    Paling sedikit, bacaan buku cerita anak anak berbahasa Inggris, Indonesia dan Matematika selalu tersedia untuk Afwa. Sedangkan mengajinya cenderung aman karena neneknya sendiri adalah guru mengaji di Masjid. Bagaimana dengan hobi karate? Karena tidak ada dojo (tempat latihan) karate hobby itu sepertinya akan beralih ke berenang di laut dekat rumah neneknya.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu 13 Mei 2026

  • Solusi Efektif pada Pendidikan Alternatif

    Solusi Efektif pada Pendidikan Alternatif

    Seorang anak kelas 3 SD belajar Perkalian dan Pembagian 2 sampai 9 dengan metode 40, latihan berulang sebanyak 40 kali dengan menulis dan kemudian menjawab lisan secara teratur dan acak. Ini pengantar utama untuk percepatan dasar dasar berhitung.

    Perkalian dasar cukup dalam satu bulan saja atau tiga bulan untuk waktu yang lama, tidak perlu tiga tahun. Mengapa pelajaran itu jadi lambat? Perhatian yang kurang. Masa Orde Baru dengan CBSA (Cara belajar siswa aktif), guru sekolah akan sangat tegas pada siswanya yang tidak hapal perkalian. Mistar melayang bila tidak sanggup menjawab. Terkesan keras namun cara itu efektif membuat yang malas jadi rajin.

    Kita lihat sekarang. Kurikulum terus berganti seiring pergantian rezim. Coba cek di kelas 4 sampai kelas 6 SD. Berapa banyak siswa-siswi paham perkalian? Bila dalam satu kelas terdapat 10 orang mampu menjawab secara acak dengan cepat, itu sudah hal luat biasa. Pada zaman CBSA, itu biasa saja.

    Lantas, kepada siapakah kesalahan harus dijatuhkan? Kepada guru, orang tua atau pelajar itu sendiri? Daripada repot saling menyalahkan, mengambil inisiatif dengan bergabung ke pendidikan alternatif semacam kursus adalah solusi. Halik terpengaruh dengan lingkungan belajarnya di mana ia juga ingin lancar perkalian seperti anak anak seumurannya.

    Para pemerhati pendidikan yang tidak bersentuhan langsung dengan kebijakan pendidikan formal seringkali merancang model pembelajaran yang tidak dikerjakan oleh pendidikan formal. Wajar saja bila pembelajaran yang tidak dapat dimaksimalkan di sekolah–Apapun nama kurikulumnya–dijadikan daya tarik untuk turut membantu mencerdaskan pelajar Indonesia. Hal hal kecil tapi sangat penting seperti Perkalian dan Pembagian ala Metode 40 seperti yang dilakukan Halik kelas 3 SD di foto ini adalah contoh kecil yang dilakukan oleh LKP (Lembaga Kursus dan Pelatihan), istilah Dinas Pendidikan di Indonesia.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 6 Mei 2026

  • Recognition of the Ministry of Education to Ansar Langnge

    Recognition of the Ministry of Education to Ansar Langnge

    Inventions change the course of knowledge and the world. Abu Ja’far Muḥammad bin Mūsā Al-Khwārizmī is known as the Father of Algebra and the pioneer of the number zero. For his extraordinary contributions, we witness the development of technology today, such as the computer through binary opposition (0 vs 1).

    Without the intellectual breakthrough of this Persian scholar, we can only imagine how dark the world of science—especially mathematics—would be. The West, which initially used Roman numerals, successfully transitioned through the Dark Ages because Al-Khwārizmī’s works were translated into Latin by European scholars.

    The name Al-Khwārizmī is monumental. To keep it grounded, let’s bring the focus to Indonesia, specifically the world of teacher education. Ansar Langnge, a Mathematics teacher in Bulukumba District, South Sulawesi Province, Indonesia received recognition and an award from the Minister of Education and Culture of the Republic of Indonesia in 2015. This was for his work on the use of “Tongmini” (Mini stick) as teaching aids to improve the ability of Grade VIIB students at Sate Junior High School 11 Bulukumba to solve integer division. Ansar did not change the world like Al-Khwārizmī, but he played a significant role in transforming the face of Mathematics education, which is often seen as terrifying in Indonesian schools.

    Award from the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia to Anshar Langnge for successfully simplifying Whole Numbers using the Tongmini (Mini Stick).

    Learning about integers, which is usually presented abstractly on the whiteboard, became more visual through affordable teaching aids that were easier for students to grasp. Is that not turning complexity into simplicity? Jalaluddin Rakhmat once said that a smart person is one who is able to simplify a complex problem. An intellectual teacher like Ansar is capable of answering that challenge.

    Every outstanding student receives the honor of standing in the middle of the field and receiving appreciation from Ansar Langnge, the headmaster. This generates pride for the champion and motivation for other students to strive for achievement.

    “How many people from South Sulawesi received this award?” I asked while looking at his certificate. “I was the only teacher from South Sulawesi who went to Yogyakarta to receive that award,” he said in a calm voice. His friendly, smiling persona and easy-going nature reinforced the impression that he is far from being a “killer” teacher. From the word “only,” a critique and a hope emerged. We still lack teachers who are willing to be creative, even though the Ministry of National Education has opened doors for innovation. In fact, it is a great opportunity to improve teacher quality and career paths.

     

    The figure of Anshar Langnge who is now the headmaster of State Junior High School 1 Bulukumba.

    Ansar Langnge now is a headmaster of State Junior High School 1 Bulukumba in South Sulawesi, the best high local school across generations. Under his leadership, the school continues to increase its number of high-achieving students, from local to national levels. The combination of an innovative principal and talented students creates a powerful momentum for progress. Because there are so many achievements, he mentioned that every week—specifically during the Monday flag ceremony—there is an appreciation ceremony for students with academic and non-academic achievements at the District, Provincial, and National levels. How can it be that great? According to him, the school performs structured and neat mapping to identify student talents and interests, then encourages them to participate in competitions.

    Ansar Langnge is also very active in building networks and strengthening brotherhood bonds. In this photo, he inaugurated the IKA (Alumni Association) of State Junior High School 1 Bulukumba, 2026.

    The grand physical structure of a school, equipped with all its supporting facilities—as important as they are—indeed becomes a source of pride and is often touted as a sign of progress. But what is the use of it all if the students’ minds are empty? A school should not merely be a tool for legitimizing certicates, reflecting backward thinking like Europe’s Dark Ages. A school is not a five-star hotel advertisement. The best advertisement for a school is the proof of improved human resource quality that convinces its students that pursuing knowledge is vital for their future.

    If the West has succeeded in taking the initiative to catch up by translating Al-Khwārizmī’s works and then translating them into all languages, can Ansar Langnge’s work be followed up by the Regional and Central Government to be implemented in schools?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, May 3, 2026

  • Bakat Anak Enam Tahun

    Bakat Anak Enam Tahun

    Afwa anak TK (Taman Kanak-Kanak) yang suka mengikuti banyak kegiatan belajar. Saat berumur lima tahun, ia telah lancar membaca dalam Bahasa Indonesia dan langsung ikut kelas Reading (Bacaaan) Bahasa Inggris. Ia juga senag berhitung khususnya penjumlahan, perkalian dan pengurangan. ‘Saya sudah Iqra dua di megaji’ kata Afwa. Miss Uchi, ibunya yang guru Matematika, mengatakan bahwa Afwa mengaji pada neneknya sendiri. Untuk olahraga, pilihannya pada Karate.

    Semua ini Afwa peroleh karena Afwa hampir tiap hari berada di lingkungan belajar. Ia selalu ikut ke RBB (Rumah Belajar Bersama) ketika ibunya mengajar. Awalnya tujuannya sekedar ikut ibu dan bermain. Lama kelamaan, ia tertarik untuk mempelajari banyak hal dan bergabung di kelas yang ia senang lihat. Ibunya yang mengajarkan membaca dalam Bahasa Indonesia. Terheran-heran pada tulisan Inggris yang berbeda cara bacaannya dengan Bahasa Indonesia dan karena teman-teman bermainnya banyak juga dari anak anak di kelas Bahasa Inggris, ia pun tertarik bergabung kelas Inggris. Dan wow! Di luar dugaan, ternyata anak umur lima tahun bisa lancar pada buku bacaan berbahasa Inggris. Sebenarnya, ia sudah bisa tamat satu buku tapi ia lebih suka mengulang-ulang bacaannya agar lebih fasih. Namun ada juga kemungkinan ia agak kewalahan membaca pada halaman pada pertengahan lembaran buku karena pada bagian itu telah terdapat banyak kosa kata yang sulit diucapkan untuk pelajar asing.

    Pada Matematika, ibunya Afwa menjadikan pelajaran tersebut sebagai ‘makanan’ harian. Perhitungan yang berhubungan dengan kehidupannya sehari-hari sangat sering ditanyakan padanya dan dilatih untuk menemukan jawabannya sendiri. Untuk penjumlahan dan pengurangan, ia sudah tergolong cepat untuk ukuran anak yang saat ini berumur enam tahun sekarang ini. Sedangkan latihan perkalian, ia banyak mengerjakan secara tertulis pada Modul Metode 40 yang berisi perkalian dan pembagian satu sampai sembilan. Ia telah sampai pada perkalian tujuh dan guru-guru di RBB selalu memberikan soal soal latihan lisan untuk membuatnya bisa paham luar kepala.

    Urusan mengaji, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Neneknya adalah seorang guru mengaji senior di salah satu Masjid di Turungan Beru, Kec. Herlang Bulukumba. Namun hal itu hanya dapat ia lakukan bila ia pulang kampung. Jadi ibunya yang lebih banyak mendidiknya. Ia juga pernah belajar mengaji di RBB sewaktu masih tersedia kelas mengaji.

    Para guru berusaha sebaik-baiknya agar Afwa minimal dapat tamat satu atau dua buku Bahasa Inggris dan menguasai perkalian dan pembagian satu sampai sembilan sebelum berumur tujuh tahun, masuk SD selama ia tetap menikmati dunia belajarnya karena kita tidak ingin memberikan beban pelajaran yang berat pada anak. Jadi cara yang biasa kita lakukan adalah membiarkannya terlebih dahulu bermain hingga puas. Setelah itu, kita mengajaknya belajar. Cara ini efektif dan ia benar-benar aktif mengerjakan latihan-latihannya dengan serius, terlebih bila ia belajar dengan anak anak yang hampir seumuran dengannya, ia merasa bahwa belajar itu adalah bermain.

    Pengetahuan itu luas, bercabang-cabang. Kita akrabkan saja ilmu pengetahuan yang ditafsirkan akan sangat berguna untuk mendukung masa depan anak. Afwa adalah salah satu anak yang dapat mempelajari banyak tanpa merasa terbebani. Berkat ibunya yang selalu berada di lingkungan belajar dimana dia hadir di dalamnya, ia menikmati dunia belajarnya. Ia pun sangat memungkinkan menekuni pelajaran lainnya selain yang disebutkan di atas dan kita di RBB memang mengharapkan hal demikian. Biarkan anak mempelajari banyak hal hingga pada suatu saat dapat memilih sendiri cabang ilmu pengetahuan yang paling ia paling minati. Pilihannya itu yang akan menemaninya sepanjang perjalanan kehidupannya.

    Zulkarnain Patwa

    * Selasa, 31 Maret 2026

  • Dukungan Keluarga

    Dukungan Keluarga

    Orang yang jauh dari pusat pendidikan tapi punya keinginan kuat untuk belajar dapat mengikuti cara yang dilakukan Naura. Ia anak dari bukit Kindang yang tidaklah mungkin baginya untuk mengikuti lembaga ekstrakurikuler untuk kebutuhannya pada Bahasa Inggris dan Matematika. Tahun lalu pada 2025 tepat setelah tamat SD, ia menggunakan waktunya secara penuh belajar dan tinggal di kota Bulukumba. Pada liburan sekolah pada Ramadhan 2026, ia pun kembali belajar dari siang hingga jelang buka puasa.

    Tindakan pelajar seperti ini agak jarang kita temui dan menimbulkan rasa ingin tahu. Penulis pun berusaha menggali informasi dari ayah Naura. Ayahnya berpikir untuk hendak menyekolahkan anaknya di Pesantren Ummul Mu’minin, sekolah binaan Muhammadiyah di Kab. Maros, Sulawesi Selatan. Selain usaha lulus ujian, ia berharap Naura tidak ketinggalan dalam hal pelajaran. Hal itu pun didiskusikan dalam keluarganya sendiri dan menghasilkan keputusan untuk menggunakan waktu liburan dengan bergabung di RBB (Rumah Belajar Bersama). Karena bermanfaat, keputusan untuk kembali belajar pada 2026 bukanlah hal yang membosankan.

    Rekan-rekan pengajar di RBB pun punya kesan yang mendalam kepada ayah Naura. Setiap mengantar ke RBB, ayahnya tidak langsung pulang. Ia suka duduk di pagar sembari memperhatikan anaknya yang sedang belajar di ruang teras rumah. Ya, itu untuk Bahasa Inggris. Hal itu membuatnya bisa menyaksikan atmosfer belajar yang sedang berlangsung. Ia tentu dapat membaca apakah anaknya menikmati atau mengerti pelajaran atau tidak. Perhatian ini berlangsung bukan dalam sehari saja tapi setiap hari. Ternyata ia adalah anak semata wayang (anak satu satunya dalam keluarga). Naura merasa nyaman bila ayahnya tidak jauh dari sisinya ketika ia sedang beraktifitas.

    Sang ayah yang berpikir mengedepankan pendidikan sama sekali tidak terusik, tak merasa membuang waktu percuma. Ini karena ia tidak harus serba sibuk di lahan pertaniannya di kampung karena ia telah menanam cengkeh dan tanaman sejenis lainnya yang tidak mengharuskan hadir di ladang tiap hari. Kami pun jadi lebih akrab dengan orang tua pelajar.
    Kelas Belajar Naura
    Naura adalah anak yang pendiam. Ia lebih suka memperhatikan rekan kelasnya daripada berbicara. Kesan sabar ini menjadikannya tidak banyak bermain, lebih banyak fokus pada lembaran kertas latihan. Pendek kata, full belajar, minus bermain. Istirahatnya dengan duduk santai tanpa mengganggu atau diganggu oleh siapapun.

    Dalam hal pelajaran Bahasa Inggris, sebenarnya berbagai macam materi Basic English telah ia pelajari dan pahami tahun lalu. Pada kedatangan keduanya ini, kami agak kaget. Ia tidak lupa tapi beberapa pelajaran inti nampaknya tersimpan di alam bawah sadarnya. Padahal kami percaya bahwa apa yang ia telah pelajari erat kaitannya dengan pelajaran sekolahnya. Tanpa harus menyalahkan siapapun, kami mengambil sikap me-review materi yang lalu dan menambahkan bahan-bahan yang kemungkinan ia pelajari untuk anak SMP seumurannya.

    Sedangkan pelajaran Matematika yang baru ia pilih tahun ini, guru kelasnya tentu banyak mengajarkan menyeimbangkan dengan pelajaran sekolahnya dan memberikan penguatan pemahaman matematika dasar agar pondasinya kokoh dalam mempelajari Matematika tingkat lanjut di SMP. Ia menikmati proses belajar ini karena merasa cukup terbantu mengetahui materi yang belum sempat ia tuntaskan di sekolah.

    Sebagai penutup, belajar itu tidaklah mesti dibatasi oleh ruang dan waktu. Keinginan yang kuat akan mendekatkan kita pada pada tempat-tempat pendidikan yang dipercaya sesuai dengan kebutuhan dan cita-cita. Naura meskipun kampung halamannya masih kurang menawarkan pendidikan ekstrakurikuler, berkat dukungan keluarga bisa menembus batas tersebut dan telah berhasil menambah bekal dan meningkatkan kwalitas diri untuk menggapai masa depan yang cerah. Sampai ketemu lagi pada liburan berikutnya!

    Zulkarnain Patwa

  • Sempurna pada Ujian Perkalian dan Pembagian

    Sempurna pada Ujian Perkalian dan Pembagian

    Izzatunnisa pelajar kelas tiga SD ini turut dinyatakan lulus ujian tulis pada Perkalian dan Pembagian dengan nilai sempurna, seratus. Hal ini karena ia melihat seorang pelajar bernama Faizah yang lebih dahulu ujian dan memperoleh nilai seratus juga.

    Nisa anak yang berhasil meningkatkan kwalitas belajarnya dengan sistem kompetisi. Bila ia melihat rekannya pintar, ia juga ingin punya kemampuan yang sama dan bahkan melebihi orang yang ia anggap pintar. Tak heran, ia selalu mengajak rekan kelasnya yang ia anggap pintar untuk berlomba menjawab soal-soal secara lisan. Dan dalam berbagai macam lomba informal tersebut, Nisa lebih sering juara 1.

    Pengembangan cara belajar dengan sistem kompetisi memang menguatkan mental dan memperteguh daya juang. Kelemahan yang biasa muncul, anak akan mudah menganggap remeh orang lain yang berada di bawah kemampuannya. Oleh karena itu, Nisa selalu kita ingatkan untuk membantu rekan kelasnya yang kewalahan memahami pelajaran dengan cara memberitahu cara menjawab soal, bukan langsung pada jawaban sehingga tercipta komunikasi yang akrab yang membuat Nisa peduli pada orang yang ada di lingkungan belajarnya.

    Mengenai pelajaran sekolah, Nisa banyak dididik oleh Suci Rahmayani Masdah, guru utamanya pada kelas Matematika di Rumah Belajar Bersama. Pelajarannya Miss Uci menekankan untuk terlebih dahulu menuntaskan semua materi yang diberikan untuk mendapatkan waktu keluar main. Dan Nisa dengan senang hati mengikuti nasehat gurunya. Nisa telah terbiasa mengerjakan soal soal Matematika yang belum dipejari di sekolahnya. Tak mengherankan bila Nisa selalu berpendapat bahwa pelajaran sekolah itu gampang yang ia buktikan dengam sering mendapatkan nilai seratus. Dan bila ia kebanyakan bermain, ia selalu mengatakan bahwa ia sudah mengerjakan semua soal yang diberikan Miss Uci.

    Sekarang ini, untuk membuat Nisa lebih bersemangat belajar, ia perlu tantangan. Selain menuntaskan Matematika sekolah sesuai tingkat kelasnya, Nisa akan mendapatkan soal yang erat kaitannya dengan aritmatika (tambah, kurang, kali dan bagi) lanjutan yang bentuk soalnya mengasah ketelitian, kecepatan dan ketelitian berpikir.

    Semua in akan kita tekankan dalam waktu dekat. Ujian lisan pada Perkalian dan Pembagian akan dihadapi Nisa sebagai konsekuensi lulus ujian tulis. Dari sini, kita akan dapat mengukur sejauh mana kemampuannya dan akan memberikan soal soal lanjutan yang sesuai dengan perkembangan otaknya.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

  • Dalam Menuntut Ilmu, Jadilah yang Terbaik

    Dalam Menuntut Ilmu, Jadilah yang Terbaik

    Selama bertahun tahun, Lois terbiasa menjawab soal tanpa cakaran. Karena sekolah masih menerapkan soal essay yang membutuhkan cara kerja, kita pun beradaptasi agar semua berjalan normal.

    Peraih juara 1 (satu) Olimpiade Matematika Kabupaten pada 2022 dan 2023 dari SDN 2 Terang-Terang ini telah kita perkenankan mempelajari Matematika SMP selama hal itu tidak memberatkan pikirannya.

    Banyak pelajar yang berbakat seperti Lois tapi mereka merasa cukup aman saja dengan nilai yang sangat baik di sekolah. Mereka tidak ambil pusing dengan segala macam kejuaraan yang bertebaran di sekelilingnya. Padahal, potensinya sangat besar. Kita punya peluang karena mereka adalah kumpulan para pelajar yang giat dan mampu. Ukurannya jelas, nilai pelajaran Matematika sekolahnya lazim dapat nilai 9 (sembilan) dan 10 (sepuluh).

    Para orang tua perlu memotivasi anak anaknya juga agar ikut kompetisi seperti Lois sehingga punya semangat belajar untuk lebih cepat maju, cara pandang dan keilmuannya bertambah luas dengan pesat.

    Zulkarnain Patwa
    * Direktur Rumah Belajar Bersama

  • Pelajar Olimpiade Matematika SD

    Pelajar Olimpiade Matematika SD

    Juara 3 (tiga) Olimpiade Matematika Ujung Bulu Bulukumba 2023 ini terus belajar cara memetakan dan memecahkan soal soal hitung

  • Demi Waktu pada Olimpiade Matematika SD

    Demi Waktu pada Olimpiade Matematika SD

    Juara satu Olimpiade Matematika Bulukumba selama 2 tahun dari SDN (Sekolah Dasar Negeri) 2 Terang-Terang Bulukumba ini telah kita persiapkan untuk berkompetisi tingkat Sulawesi Selatan. Ia telah berkaca dari pengalaman tahun lalu ketika lolos sampai tingkat Provinsi Sulawesi Selatan saja.

    Sebagai persiapan yang matang, jauh sebelum kompetisi tingkat lokal 2023, beragam soal soal Olimpiade Matematika tingkat Provinsi dan Nasional telah ia kerjakan. Itu berarti ia telah siap untuk kompetisi yang lebih besar dengan menargetkan diri lolos pada tiap tantangan

    Tapi tiba tiba ia mendapatkan kabar bahwa Bulukumba terlambat mendapatkan informasi sehingga namanya tidak sempat terdaftar.

    Ia memang tidak banyak bicara namun wajah kekecewaan mendalam tidak dapat tersembunyikan karena hal demikian terpancar dari wajahnya.

    Waktu terus berjalan. Hadapilah dengan optimisme. Banyak kejuaraan besar menanti dirimu. Dengan perjuangan belajarmu yang tak kenal lelah, suatu saat kamu berada di tempat yang layak dimana orang orang akan memberikan perhatian sesuai dengan tugasnya.

    Bersabarlah! Tuhan itu maha mendengar dan tahu siapa hamba-Nya yang bersungguh sungguh.
    That’s all