Suatu pembelajaran akan terasa sangat mudah dipelajari apabila para pelajar tidak asing dengan lingkungan kehidupan mereka. Lingkungan itu adalah keluarga. “Apa yang ayah suka? Apa yang ibu suka? Dan apa saudara lakimu dan kakak perempuanmu suka?” Itu adalah beberapa contoh dari sekian banyak pertanyaan yang Miss Fathy Cayadi buat. Sebuah inisiatif cerdas yang sangat kontekstual bagi anak-anak.
Karena pertanyaan-pertanyaan itu mempunyai daya tarik, para pelajar dengan sangat cepat menyatakan pendapat. Jawaban mereka beragam karena tiap anak dalam keluarga memiliki kesukaan yang cenderung tidak sama, tidak seragam. Tidak ada sistem meniru atau ikut-ikutan saja sesama rekan sekelas. Perbedaan itu mengajarkan mereka untuk berpikir lebih mandiri dan mengajak untuk mau bertanya lebih banyak. Kenapa ayah si A suka kopi daripada susu, tetapi ibu si A suka susu, bukan kopi? Kenapa ayahku suka teh? Hal ini membangun komunikasi dua arah kepada sesama pelajar, sekaligus mengubah kebiasaan bergosip menjadi pembicaraan yang terarah dan sedikit lebih intelek.
Ide ini bukan berdiri sendiri, melainkan berbasis literasi. Ini adalah bagian dari pelajaran review (tinjauan) yang tercantum dalam buku Basic Reading (Bacaan Dasar), lesson (pelajaran) 51 sampai 56. Jadi, mengasah kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris dengan serta-merta diikuti dengan bacaan, sehingga pendekatan pola belajar ini jauh lebih lengkap.
Apa yang hendak dikokohkan? Pengulangan pelajaran akan mengingatkan pada hal-hal yang terlupakan dan menguatkan pemahaman yang lebih mendalam. Kenapa? Karena bacaan memberikan struktur, contoh tata bahasa, dan modal kosakata. Membaca dengan suara nyaring juga mempermahir kemampuan berbicara dan pengucapan. Keselarasan pun tercipta, jauh dari klaim buta huruf atau sekadar pandai bicara, tetapi tidak pandai membaca.
Kosakata, pertanyaan, dan jawaban yang dihadirkan sesuai dengan fakta kehidupan sehari-hari tidak memaksa otak pelajar untuk berpikir berat, sehingga pelajaran itu bukan menjadi beban. Otak mereka malahan dengan cepat mencerna segala istilah asing itu karena ada rasa ingin tahu; mereka penasaran mencari apa arti bahasa Inggrisnya. Hal ini berbanding terbalik dengan menjejali istilah asing yang sama sekali tidak terhubung dengan kehidupan mereka; hafalan yang membosankan hanya akan membuat otak bekerja lebih berat dan memaksakan pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan.
Dengan pendekatan menceritakan tentang keluarga, aspek emosional dan keragaman anak menjadi lebih mudah dikenali. Pelajar tidak perlu diajarkan untuk bercerita, mereka sendiri yang antusias dan berinisiatif bercerita. Ya, benar. Beberapa pelajar ada yang pendiam. Guru bertanya untuk mencari tahu. Oh! Mereka sedih karena ada keluarga dekat yang telah meninggal: ayah, ibu, atau saudara kandung telah kembali ke pangkuan ilahi. Ini menjadi sumber data yang sangat berharga. Guru dapat lebih mengerti keadaan dan tentunya mencari solusi yang efektif agar para pelajar yang rentan itu tetap mempunyai semangat belajar yang tinggi. Empati membuat mereka merasa dihargai dan tidak kehilangan spirit belajar sebagaimana rekan-rekan kelasnya.
Kisah ini sangat memungkinkan untuk dibawa pulang ke rumah. Anak-anak akan bertanya, “Apa lagi yang ayah dan ibu suka? Nanti kalau guru atau teman bertanya, saya sudah punya jawaban.” Atau, “Ayah tahu nggak, apa itu bahasa Inggrisnya, ‘Saya suka kopi?’” Orang tua di rumah pasti akan senang terhadap antusiasme anak-anak mereka dalam belajar, sehingga memungkinkan untuk menyuruh anak-anak itu membaca buku agar menemukan jawaban yang dicari. Literasi pun pada akhirnya aktif di tempat belajar dan di rumah.
Niat dan usaha penyebaran pencerdasan dari Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete ini adalah untuk menciptakan lingkungan belajar di berbagai tempat. Memulai dari hal-hal yang mudah dan sederhana, rajin bertanya, dan menjadikan belajar sebagai aktivitas harian dalam menjalani kehidupan. Jadi, di mana pun mereka berada, setiap tempat adalah belajar. Kita turut menciptakan
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Sabtu, 26 September 2026

Tinggalkan Balasan