Ahmadi Hatta adalah mahasiswa jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 87. Pada tahun 2000-an, saya mengenalnya sebagai senior di Wisma Merapi Empat (WME)—asrama mahasiswa Sulawesi Selatan (Sulsel) di Jl. Sunaryo No. 4 Kota Baru, Yogyakarta. Mobil kuning 3000 CC miliknya menandakan ia orang mapan atau minimal pernah sukses. Masa itu, semua mahasiswa di WME hanya bersepeda, belum ada pakai motor ke kampus.
Seperti halnya para senior asrama lainnya, Kak Madi selalu mengingatkan bahwa betapa pun adik-adiknya itu bandel, sebaiknya sarjana. Itu pengingat. Orang tua di kampung tidak menuntut banyak hal, cukup sarjana. Para senior asrama WME memang bukan orang tua, tetapi ide mulianya mereka itu sama dengan orang tua kita.
Saya termasuk orang yang sungkan ke Kak Madi karena betatapun ramah, ia orang yang mempunyai ketajaman logika dalam mengkritik. Namun, ia senang bergaul dengan saya. Sesekali ia membaca buku yang saya suka dan bermain catur bersama.
Setelah akrab, ia berkata, “Nain, saya sudah tahu kamu. Kamu itu bukan mahasiswa pintar tapi orang yang suka mengutip pikiran orang lain. Kamu baca buku, lalu kamu kutip dan gabungkan pikiran orang menjadi pikiranmu.”
Saya bertanya, “Bagaimana bisa tahu seperti itu?”
Ia dengan santai menjawab, “Beberapa bukumu telah saya baca. Sudahlah! Kamu tidak bisa mengelak sekarang.”
“Oh, iya. Biarlah, Kak Madi. Itu kan masih lebih baik daripada tidak mempunya pikiran. Mahasiswa di kampus juga menyontek pemikiran dosen,” kataku membela.
Dari raut wajahnya, Kak Madi nampaknya tidak sepakat dengan pikiran saya itu. Ia kemudian menjelaskan hal yang tidak saya mengerti karena itu erat kaitannya dengan rumus kimia. Pada intinya, ia mempunyai pemikiran sendiri yang berbeda dengan dosennya. Saya mengerti maksudnya. Apalah daya, saya masih mahasiswa baru yang terpesona dengan pemikiran orang-orang besar, masih dalam tahap berproses.
Di lain kesempatan Kak Madi bercerita, “Nain, tadi pagi saya mau makan pepaya. Saya lihat ada pepaya yang matang di samping kamar. Saya jolok yang kuning itu. Anehnya, buah yang jatuh adalah buah yang besar dan muda. Saya berpikir, semestinya buah yang kuning jatuh karena tangkai buahnya lebih lemah. Ah, sudahlah! Saya jolok lagi. Eh, yang jatuh buah yang kecil dan muda. Saya tambah heran. Pada jolokan terakhir, barulah pepaya kuning itu jatuh. Saya merenung. Ini pasti ada maksudnya.”
Ia pun menghela nafas lalu melanjutkan ceritanya, “Oh! Saya kan paling tua di asrama ini. Lihatlah, rambut saya sudah putih tapi bisa jadi saya yang paling terakhir mati di asrama ini.” Saya dan rekan-rekan yang mendengar kisah ini tertawa.
Kata ‘bisa jadi’ atau mungkin adalah hiburan Kak Madi. Meskipun itu bukan hal yang tidak pasti, ia telah mengajarkan kami untuk berani berpikir sendiri. Ia mengharapkan bahwa adik-adik mahasiswa membaca buku tidak mesti membebek karena fakta tidak selamanya sesuai dengan teori. Ya, seperti halnya yang ia alami pada pohon pepaya.
Di lain kesempatan, Kak Madi pernah meminta saya mengantarnya dengan motor mengunjungi rumah saudaranya. Di tengah jalan, tiba-tiba ia menangis dengan suara yang keras. Pastilah saya kaget.
“Kenapa Kak?” tanyaku.
“Ibuku meninggal. Padahal, saya selalu membacakan doa Al Fatihah seribu kali. Sekali saya tidak berdoa. Dari perjalanan Jakarta ke Yogyakarta kemarin, saya memang tidak berdoa. Saya merasa terlalu sibuk dalam perjalanan.”
Saya juga larut dalam kesedihan sembari terus menyetir motor dengan perlahan. Saya hanya terdiam dan menyembunyikan air mataku agar terlihat tetap normal berkendara. Saya tahu pedihnya kehilangan orang tercinta karena ibuku juga telah tiada. Saya terus menyetir untuk menyelesaikan tugas agar ia dapat bertemu dengan keluarganya sesegera mungkin. Setelah tiba, Kak Madi terhibur berjumpa dengan keluarganya.
Sekitar satu bulan yang lalu, Kak Madi dan saya masih sempat saling menyapa di Facebook dan menanyakan di mana ia sekarang. Seingatku ia bilang bahwa dirinya berada di Daya, Makassar, rumah yang ia huni sewaktu saya bersilaturahmi kepadanya.
Kemarin di grup WA Kamps–alumni rekan-rekan Sulsel Yogyakarta—saya membaca kabar yang mengharukan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, telah berpulang ke Rahmatullah kakanda kami Ahmadi Hatta, Jum’at, 25 September 2026, Pukul 22.00 Wita di Pare-Pare.” Instagram syarifahandieka juga menyampaikan bela sungkawa.
Selamat jalan Kak Ahmadi Hatta. Canda tawa dari hasil pemikiran mandiri darimu takkan pernah terdengar lagi. Sewaktu saya menulis skripsi tentang Ahmadinejad, Anda berkelakar bahwa Ahmadinejad itu Ahmadihatta. Itu genuine, menghibur pikiran.
Masa di mana kakak bersama adik-adik di WME adalah kenangan terindah yang semoga segala buah pemikiran dan kebaikan hati kakak menjadi amal jariyah, melapangkan alam kubur serta dosa-dosa diampuni oleh Allah SWT. Doa keselamatan menyertai kakak.
Al Fatihah.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 27 September 2026
Ahmadi Hatta adalah mahasiswa jurusan Kimia, Universitas Gadjah Mada (UGM), angkatan 87. Pada tahun 2000-an, saya mengenalnya sebagai senior di Wisma Merapi Empat (WME)—asrama mahasiswa Sulawesi Selatan (Sulsel) di Jl. Sunaryo No. 4 Kota Baru, Yogyakarta, asrama kawasan elit terletak di jantung kota. Mobil kuning 3000 CC miliknya menandakan ia orang mapan atau minimal pernah sukses. Masa itu, semua mahasiswa di WME hanya bersepeda, belum ada pakai motor ke kampus.
Seperti halnya para senior asrama lainnya, Kak Madi selalu mengingatkan bahwa betapa pun adik-adiknya itu bandel, sebaiknya sarjana. Itu pengingat. Orang tua di kampung tidak menuntut banyak hal, cukup sarjana. Para senior asrama WME memang bukan orang tua, tetapi ide mulianya mereka itu sama dengan orang tua kita.
Saya termasuk orang yang sungkan ke Kak Madi karena betatapun ramah, ia orang yang mempunyai ketajaman logika dalam mengkritik. Namun, ia senang bergaul denganku. Sesekali ia membaca buku yang saya suka dan bermain catur bersama di kamar 1, kamar yang sangat luas di bagian depan dekat ruang tamu. Di kamar terbaik itu, terdapat dua jendela setinggi tiga meter serta dua pohon rindang di masing-masing dekat jendela. Bangunan arsitektur peninggalan Belanda itu sungguh nyaman.
Setelah akrab, ia berkata, “Nain, saya sudah tahu kamu. Kamu itu bukan mahasiswa pintar tapi orang yang suka mengutip pikiran orang lain. Kamu baca buku, lalu kamu kutip dan gabungkan pikiran orang menjadi pikiranmu.”
Saya bertanya, “Bagaimana bisa tahu seperti itu?”
Ia dengan santai menjawab, “Beberapa bukumu telah saya baca. Sudahlah! Kamu tidak bisa mengelak sekarang.”
“Oh, iya. Biarlah, Kak Madi. Itu kan masih lebih baik daripada tidak mempunya pikiran. Membaca pemikiran orang-orang besar kan, bagus. Mahasiswa di kampus juga menyontek pemikiran dosen,” kataku membela.
Dari raut wajahnya, Kak Madi nampaknya tidak sepakat dengan pikiran saya itu. Ia kemudian menjelaskan hal yang tidak saya mengerti karena itu erat kaitannya dengan rumus kimia. Pada intinya, ia mempunyai pemikiran sendiri yang berbeda dengan dosennya. Saya mengerti pun maksudnya. Apalah daya, saya masih mahasiswa baru yang terpesona dengan pemikiran orang-orang besar, masih dalam tahap berproses.
Di lain kesempatan, Kak Madi bercerita. “Nain, tadi pagi saya mau makan pepaya. Saya lihat ada pepaya yang matang di samping kamar 1. Saya jolok pepaya yang kuning itu. Anehnya, buah yang jatuh adalah buah yang besar dan muda. Saya berpikir, semestinya buah yang kuning jatuh karena secara ilmu anatomi tumbuhan, tangkai buahnya lebih lemah atau apalah. Itu urusannya mahasiswa pertanian atau biologi. Ah, sudahlah! Saya jolok lagi. Eh, yang jatuh buah yang kecil dan lebih muda. Saya tambah heran. Pada jolokan terakhir, barulah pepaya kuning itu jatuh. Saya merenung. Ini pasti ada maksudnya,” terangnya.
Kak Madi pun menghela nafas lalu melanjutkan ceritanya, “Oh! Saya kan paling tua di asrama ini. Lihatlah, rambut saya sudah putih tapi bisa jadi saya yang paling terakhir mati di asrama ini.” Saya dan rekan-rekan yang mendengar kisah ini tertawa.
Kata ‘bisa jadi’ atau mungkin adalah hiburan Kak Madi. Meskipun ia tahu itu bukan hal yang pasti, ia telah mengajarkan kami untuk berani berpikir sendiri. Ia mengharapkan bahwa adik-adik mahasiswa membaca buku tidak mesti membebek karena fakta tidak selamanya sesuai dengan teori. Ya, seperti halnya yang ia alami pada pohon pepaya.
Di lain kesempatan, Kak Madi pernah meminta saya mengantarnya dengan motor mengunjungi rumah saudaranya. Di tengah jalan, tiba-tiba ia menangis yang awalnya terisak-isak dan kemudian diikuti dengan suara yang keras. Pastilah saya kaget.
“Kenapa Kak?” tanyaku.
“Ibuku meninggal. Padahal, saya selalu membacakan doa Al Fatihah seribu kali setiap hari. Sekali saya tidak berdoa. Dari perjalanan Jakarta ke Yogyakarta kemarin, saya memang tidak berdoa. Saya merasa terlalu sibuk dalam perjalanan,” jawab Kak Madi sambil terus mencucurkan air matanya.
Saya juga larut dalam kesedihan sembari tetap menyetir motor dengan perlahan. Saya hanya terdiam dan menyembunyikan air mataku agar terlihat tetap normal berkendara. Saya tahu pedihnya kehilangan orang tercinta karena ibuku juga telah tiada. Saya menyetir tanpa henti untuk menyelesaikan tugas agar ia dapat bertemu dengan keluarganya sesegera mungkin. Setelah tiba, Kak Madi terhibur berjumpa dengan keluarganya.
Sekitar satu bulan yang lalu, Kak Madi dan saya masih sempat saling menyapa di Facebook dan menanyakan di mana ia sekarang. Seingatku ia bilang bahwa dirinya berada di Daya, Makassar, rumah yang ia huni sewaktu saya bersilaturahmi kepadanya.
Kemarin di grup WA Kamps—alumni rekan-rekan Sulsel Yogyakarta—saya membaca kabar yang mengharukan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, telah berpulang ke Rahmatullah kakanda kami Ahmadi Hatta, Jum’at, 25 September 2026, pukul 22.00 Wita di Pare-Pare.” Instagram syarifahandieka juga menyampaikan bela sungkawa kepada pendiri Group Bugis sedunia itu.
Canda tawa dari hasil pemikiran mandiri darimu takkan pernah terdengar lagi. Sewaktu saya menulis skripsi tentang Ahmadinejad, Anda berkelakar bahwa Ahmadinejad itu Ahmadihatta. Itu genuine, menghibur pikiran.
Selamat jalan Kak Ahmadi Hatta. B. J. Habibie pun yang ahli hitung berpikir bahwa dirinya lebih dahulu meninggal dibandingkan dengan istrinya. Kematian mempunyai rahasia hitungan tersendiri.
Masa di mana kakak bersama adik-adik di WME adalah kenangan terindah yang semoga segala buah pemikiran dan kebaikan hati kakak menjadi amal jariyah, melapangkan alam kubur serta dosa-dosa diampuni oleh Allah SWT. Doa keselamatan menyertai kakak.
Al Fatihah.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 27 September 2026

Tinggalkan Balasan