Menyelamatkan “Saudara-Saudara” Pinisi

Membuat tulisan tentang perahu tradisional bersama Dr. Horst H. Liebner tidak butuh banyak kata, sebisa mungkin sedikit saja dengan makna yang padat. Yang banyak adalah pembahasannya. Membahas 50, 100 sampai 200 kata saja menghabiskan lebih dari empat jam. Terlebih lagi, pembahasan yang sama akan diulang lagi di hari berikutnya.

Ah! Bagi kita orang Indonesia, itu mungkin terasa sangat melelahkan termasuk saya. Sesuatu yang sudah tersusun rapi masih saja didiskusikan atau diperdebatkan. Apakah memang begini cara otak orang Jerman yang cerdas itu bekerja? Kami—Horst, Anjar dan saya—pun harus menginap dua hari di Bira untuk memperluas waktu saling bersilat lidah untuk mencari penempatan kalimat yang benar dan mudah dipahami pada tulisan itu.

Kertas tulisan yang menjadi bahan pembahasan 

Kok masih diperdebatkan ya? Itu berarti masih ada masalah. Dari sini saya mendapatkan pelajaran bahwa sesuatu yang sungguh berkualitas baik mesti selalu siap dikoreksi dan mau menerima perubahan untuk mendapatkan hasil yang semudah dan sepraktis mungkin bagi pembaca.

 

Dr. Horst Liebner terus menerus berusaha memperbaiki tulisan dari hasil kajian bersama.

Setelah puluhan lembar dari kumpulan tulisan yang sangat pendek itu dihamparkan di atas meja, semakin jelas segala kelemahan yang telah dibuat. Kami pun terus merevisi dan mencari solusi agar setiap satu tulisan terhubung dengan lainnya, saling kait mengait. Karena bekerja dengan sebuah team yang meskipun sedikit, beragam solusi dihadirkan dan kemudian solusi terbaik dari hasil bermusyawarah–bukan debat lagi–disepakati.

Sekadar info tambahan, apa yang kami sedang kerjakan ini adalah hal yang sama berharga karena kami mengabadikan berbagai macam model perahu tradisional dengan segala bagian-bagiannya serta bagaimana para Panrita Lopi membuat perahu. Bila tidak dicatat, khazanah kekayaan ilmu pengetahuan yang luar biasa ini akan tenggelam oleh zaman, tidak meninggalkan jejak abadi. Lagi pula, bahasa yang digunakan diupayakan sebisa mungkin dipahami oleh generasi gen Z dan Alfa. Misalnya, halo cess atau gitu kan? Itulah mengapa struktur tata bahasa yang rapi digabungkan dengan gaya bahasa anak-anak zaman sekarang.

Di sela-sela kesibukan. Kami sempat berfoto. Ada rekan Nur Anjas, seorang guide profesional di Bira dan manager Nusa Bira Indah Hotel, bersilaturahmi ke tempat kami sedang bekerja di Bira Dive Camp.

Ke depan, orang akan lebih mengerti bahwa pengetahuan perahu tradisional Indonesia dari Bulukumba yang pembuatannya menyebar di kecamatan Bonto Bahari: Tanah Beru, Lemo-Lemo, Bira, dan Ara serta sekarang di Samboang Kecamatan Bonto Tiro dapat terwariskan kepada generasi berikutnya. Perahu Pinisi yang mendunia itu mempunyai banyak ‘saudara’ yang disiap diperkenankan kepada dunia minimal dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris.

Zulkarnain Patwa
Bira, 21 September 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *