Menanam Bibit Literasi Global di RBB Tanete

Orang yang bisa berbahasa Inggris dianggap pintar. Anggapan umum ini berkembang begitu saja tanpa pernah dikoreksi ulang. Itu aneh tapi nyata. Ukuran kepintaran mungkin saja karena kebanyakan orang tidak bisa berbahasa Inggris sehingga sedikit orang yang pintar itu terlihat istimewa.

Padahal, persoalan bahasa tidak sesederhana itu. Banyak orang yang bisa berbahasa Indonesia tetapi buta huruf. Demikian halnya dalam bahasa Inggris. Banyak orang Indonesia bisa berbahasa Inggris, tetapi buta huruf juga: bahasa hanya jadi ‘gaya-gayaan’, bukan alat pengetahuan. Tidak dapat dipungkiri bahwa para guide, pelayan hotel, dan pedagang mampu berbahasa Inggris dengan baik dengan kebiasaan berbahasa saja dan berfungsi dengan baik. Cuma saja, kemampuan mereka masih sangat terbatas.

Kemampuan berbicara itu semestinya mampu dibarengi dengan membaca, literasi. Bacaan buku berbahasa Inggris itu jauh lebih kompleks karena orang harus tahu cara pengucapan dengan benar. Itu tentu membutuhkan panduan dari guru yang mempunyai keahlian dalam berbicara atau pengucapan karena dalam pandangan orang Indonesia, bahasa Inggris itu lain di tulisan lain pula pengucapannya. Untuk urusan lebih tinggi, bahasa Inggris menjadi alat untuk berpengetahuan, membaca pemikiran orang luar.

Maka tidak mengherankan bila RBB Tanete membangun kemampuan pelajarnya yang multifungsi. Dengan memanfaatkan Youtube, kemampuan pelajar dilatih akrab dengan aktivitas sehari-hari. I make my bed dan I clean my room (Saya merapikan tempat tidurku dan saya membersihkan kamarku), dan sederet contoh lainnya memudahkan orang untuk berbicara.

Kemudian, agar tidak mencetak pelajar yang buta huruf, pelajar pun didekatkan dengan literasi. Pembahasan buku ada lesson 47, 48 dan 49 mengacu pada kemampuan tanya jawab. Do you like milk? Does he like coffee? dan Arika likes milk, but she doesn’t like coffee (Apakah kamu suka susu? Apakah dia suka kopi?, dan Dia suka susu, tetapi dia tidak suka kopi). Setiap kesalahan yang dibuat pada dialog, mereka kembali merujuk kepada buku. Berangkat dari hal ringan itu, mereka terus dilatih hingga mampu membaca buku-buku yang tebal nantinya. Dengan demikian, buta huruf Inggris terbantahkan.

Itu terlihat sangat sederhana, kan? Tetapi, justru karena sederhana, itu jadi mudah. Kerumitan itu terjadi karena para pelajar tidak dibiasakan membaca saja. Karena ini sudah dipersepsikan tidak rumit, anak-anak SD hingga SMA pun senang belajar. Setiap kali belajar, praktik percakapan dan literasi diajarkan.

Miss Fathy Cayadi, guru yang mengajarkan materi ini di RBB Tanete, perlahan tapi pasti turut membantu mengubah pemahaman pelajar bahwa gadget dengan pelajaran di YouTube adalah alat belajar, bukan sekadar nonton atau main game. Mengelola kemampuan berbicara berbasis pada buku adalah cara yang paling efektif untuk membiasakan para pelajar suka membaca, pengetahuan luas yang tidak sempat dijelaskan oleh guru dapat diperoleh dengan bacaan.

Ukuran standar kecerdasan pelajar yang bisa berbahasa Inggris menjadi lebih bermakna, wawasan lebih luas dan percakapan pun akan jauh lebih berbobot.

Di masa yang akan datang, kepada orang-orang yang pintar berbahasa Inggris seperti inilah yang dapat terlibat aktif dalam pergaulan dunia seperti yang dinyatakan di dalam Undang-Undang 1945: ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. RBB Tanete turut menanam bibitnya dan menumbuhkannya.

Zulkarnain Patwa
Minggu, 20 September 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *