Kanal: Uncategorized

Kertas Sakti

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya di mana sebuah kelas belajar di malam hari terkondisikan untuk mau memahami tenses di luar kepala. Pertama, semua peserta anak SD. Kedua, jadwal anak-anak itu sangat padat. Pagi sampai siang, mereka pergi ke sekolah dan siang sampai sore jelang Maghrib mengaji. Di malam hari, kami bertemu mereka. Mereka mau main-main saja karena capek belajar. Ketiga, mengingat alasan kedua itu, pelajaran yang diberikan kepada mereka tidak sepadat dengan pelajar di kelas sore.

Alasan mengapa mereka betah belajar karena anak-anak ini diberikan kebebasan berpendapat. Usulannya didengarkan dan dimusyawarahkan bersama. Tidak ada perasaan tertekan. Tekanan hanya diberikan bila melanggar kesepakatan yang telah dibuat. Misalnya, mereka yang tidak memperhatikan pelajaran di waktu jam belajar mendapatkan teguran. Guru pun membuat cara agar semangat belajar lebih tinggi dengan jalan berjanji memberikan jam keluar main lebih banyak bila semua perhatian pada pelajaran. Mereka bersorak bergembira. Teguran kepada para pelajar malas bukan lagi datang dari guru, melainkan dari sesama rekan pelajar. “Jangan begitu (baca: malas). Nanti jam keluar main kita lebih sedikit,” ungkap anak-anak mengingatkan rekannya.

Lantas, dari mana spirit menguasai tenses itu tumbuh? Beberapa anak-anak yang sangat tekun belajar terlebih dahulu dilatih. Setelah sukses, mereka menjadi contoh bagi yang lainnya. “Tenses itu susah, mister,” seorang anak bernama Audrey mengeluh. “Ya? Itu teman-teman bermainmu bisa. Kalau mereka bisa, masa kamu tidak bisa? Mau tidak lebih pintar?” balas guru. “Iya ya. Maulah pintar, Mister,” Audrey merespons. Pelajar yang lain yang mempunyai keluhan yang sama juga mendapatkan motivasi untuk mau berusaha lebih giat mengubah keluhan mereka menjadi tekad. Berlakulah, where there is a will, there is a way (di mana ada kemauan, di situ ada jalan).

Niat untuk berlomba-lomba menguasai tenses semakin tumbuh ketika selembar “kertas sakti” dipasang di papan pengumuman. Lembaran itu berisi nama-nama pelajar disertai dengan 16 kotak kosong yang diisi dengan tanda centang (✓) dari tiap setoran tenses yang telah selesai. Mereka bisa mengukur capaian dirinya dan berusaha untuk bisa menyetor lebih banyak.

Hal yang berkesan adalah tanda centang itu diisi oleh pelajar itu sendiri. Mereka sebenarnya bisa mencentang lebih banyak dari apa yang mereka setor demi terkesan lebih pintar tapi itu tidak dilakukan. Guru sengaja memberikan kepercayaan demikian untuk membiasakan berperilaku jujur. Lagi pula, pada dasarnya anak-anak itu prilakunya jujur. Kejujuran itulah menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri, tidak membohongi diri sendiri.

Patut diingat, setoran tenses itu per individu. Anak-anak yang lain harus antre menunggu, membosankan. Agar lebih aktif, tiap anak yang mempunyai setoran tenses lebih banyak berhak menguji rekannya, sedangkan yang tidak ingin menguji membantu cara menguasai segala perubahan kalimat dalam satu tense. Waktu berjalan efektif, tidak terbuang percuma. Guru dapat mendidik pelajar yang lain yang tidak bisa di-handle oleh teman sebayanya. Kelas ini terlihat sangat hidup meskipun dalam setiap kelompok kecil yang dibuat secara natural itu mempunyai tingkatan yang berbeda-beda, tetapi dapat dirangkum hanya dalam satu kelas.

Di balik kesuksesan model belajar ini, ada juga kelemahannya. Berdasarkan fakta yang ditemukan, anak-anak telah menguras sebagian besar energinya untuk menyetor satu, dua dan bahkan tiga tenses: tergantung dari kemampuannya. Setelah itu, mereka keluar main, bermain sepuasnya melepaskan kepenatan berpikir. Saat mereka kembali diajak belajar, guru memberikan pelajaran ringan dalam bentuk bahan percakapan, speaking. Biasanya, itu dimulai dengan membaca bersama-sama bahan percakapan itu untuk memperbaiki pengucapan. Pada tahap ini, suara anak-anak lebih rendah. Ketika mereka berdialog secara berpasangan, mayoritas sudah tidak bisa fokus lagi. Otak dan fisiknya benar-benar lelah dan butuh istirahat.

Menghadapi kondisi itu, guru berkata, “Baiklah anak-anak. Waktu belajar kalian tinggal lima menit. Kalian boleh pulang.” Anak-anak sangat bergembira, “Hore”. Suara riuh itu layaknya low battery pada handphone yang telah di-charge penuh. “Bagi anak-anak yang mau tinggal sejenak, bisa melanjutkan pelajaran yang disukai hingga jam belajar berakhir.”

Sebelumnya, proses belajarnya dalam bentuk reading aloud (membaca dengan suara nyaring), kemudian diikuti dengan tenses. Reading sukses, tenses tidak sukses. Sekarang, tenses diikuti dengan percakapan. Tenses kemungkinan besar sukses, percakapan tidak sukses. Pertemuan berikutnya guru akan mencoba membalik, percakapan yang kemudian diikuti tenses. Kreativitas mencari model belajar untuk anak 7 sampai 10 tahun ini akan terus dicari hingga mereka bisa minimal tiga hal: Reading, grammar, and conversation or speaking (Membaca, tata bahasa, dan percakapan atau berbicara).

Sekarang, kita bisa membayangkan cara belajar yang lebih membumi. Kesuksesan menanamkan pengetahuan berbahasa Inggris kepada anak sejak usia dini ini tidak sekadar mengandalkan ilmu pengetahuan yang dikreasikan, tetapi juga imajinasi untuk membuat sesuatu hal yang terbarukan.

Terakhir, apakah pendidikan formal di sekolah kita di Indonesia juga mempunyai “surat sakti” yang jujur dan real (nyata) untuk membuktikan efektivitas pada penerapan kewajiban belajar bahasa Inggris sejak kelas 3 SD?

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 6 Agustus 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Mendobrak Malu Belajar demi Kuliah ke Cina

Seorang pemudi tamatan SMA tertarik belajar bahasa Inggris. Ia mencari informasi di media sosial, menemukan…

1 hari ago

Menolak Omong Kosong Kesuksesan di Atas Kertas

Izzatunnisa dan Nabila dua orang pelajar kelas 4 SD baru saja (03/08/2026) membuktikan kefasihannya mendemonstrasikan…

3 hari ago

Khayalan yang Masuk Akal

Conditional sentences (kalimat pengandaian) biasa penulis sebut dengan kalimat mengkhayal. Namanya juga khayalan: pasti bertentangan…

3 hari ago

Logika Cerdas Mengolah Kata

Mengenal kosakata itu mudah, tetapi mengenalkan kelas kata pada kosakata tidak mudah. Kenapa? Orang Indonesia…

4 hari ago

Mengabdi untuk Rakyat Desa di Akhir Pekan

Kebutuhan belajar bagi rakyat di desa segera terpenuhi bila ada kesadaran dari rakyat itu sendiri.…

5 hari ago

Kreativitas dan Inovasi Pendidikan dari RBB Tanete

Perpaduan speaking and grammar (bicara dan tata bahasa) dikemas dalam bentuk game dan percakapan diolah…

6 hari ago