Seorang pemudi tamatan SMA tertarik belajar bahasa Inggris. Ia mencari informasi di media sosial, menemukan Rumah Belajar Bersama (RBB) mengadakan kegiatan belajar selama liburan sekolah, satu bulan. Kontan saja ini menarik perhatian karena jarang ada muda-mudi yang mau belajar bahasa Inggris. Alasan paling umum, malu.
“Saya mau kuliah di Cina,” kata Novi Amelia. Ide yang cukup berani. Para guru mengira Novi ingin lanjut kuliah di Indonesia. “Baiklah,” kata guru, “Kampung Belajar yang kamu pilih ini menyediakan sembilan jam sehari,” kata seorang guru RBB, “kita bisa lihat nanti sejauh mana capaianmu menyelesaikan materi dasar. Bila kamu cepat memahami, kami para guru bisa membuatnya lebih cepat lagi.” Novi menganggukkan kepala sebagai tanda menyanggupi ajakan itu.
Hari-hari belajar berlalu dengan baik. Novi memang cukup rajin datang ke kelas, menyimak pelajaran dengan baik dan praktik bicara. Sayangnya, kondisi fisiknya yang kadang kurang fit membuatnya sesekali tidak hadir di kelas. Sekali waktu ia berkata, “Apakah saya bisa ke luar negeri?” Pertanyaan itu ia ajukan pada dirinya sendiri, namun dengan suara agak nyaring. Penulis menanggapi, “Sangat bisa. Pertahankan dan kalau perlu, tingkatkan semangat dan kualitas belajarmu. Kamu masih muda dan mempunyai banyak waktu. Cita-cita yang tinggi itu harus diikuti dengan belajar ekstra giat.” Ia kembali menganggukkan kepala.
Novi menyelesaikan pelajarannya di Kampung Belajar dengan kualitas sedang. Ia pun mengambil jeda istirahat, sekitar hampir satu bulan. Tiba-tiba, ia kembali lagi belajar di RBB mendaftar dua kelas: Reading and Grammar (Bacaan dan Tata Bahasa). Kehadirannya di kelas jauh lebih efektif dari sebelumnya. Tingkat fokus belajarnya pun jauh lebih baik, aktif mengerjakan latihan Grammar dan Reading serta rajin tampil di depan video live (siaran langsung) untuk menerangkan hasil kerjanya dalam bahasa Inggris. Mr. Fajar Hamzah, guru kelas Reading, mengapresiasi usahanya itu dengan memberikan bonus kelas tambahan di malam hari. Ia bebas memilih materi yang ia suka.
Saat penulis sesekali memperhatikan kelas malam, Novi sering mengerjakan latihan pada buku Grammar-nya. Pilihannya itu sangat sejalan dengan dunia akademik yang menjadi cita-citanya. Tidak lama lagi, ia akan menamatkan Basic English Grammar—lebih dari sepuluh bab ia telah tuntaskan dari enam belas bab. Kecepatannya dalam mengerjakan latihan didukung oleh pemahamannya yang sudah lumayan baik pada latihan tenses di luar kepala. Ia tidak begitu kebingungan lagi menganalisis perubahan kalimat tingkat dasar.
Sementara itu, buku Reading yang ia pelajari itu sudah hampir tamat. Buku itu memang tidak terlalu tebal, mungkin seperempat dari Basic English Grammar. Namun, pada tiap lesson (pelajaran), Novi dituntut untuk memahami arti bacaan cerita karena ia harus mampu menjawab isi dari soal-soal cerita tersebut yang sesuai kaidah grammar. Di sini, literasi berbahasa Inggris tertanam dengan baik.
Prediksinya, dalam satu atau dua minggu, Novi bisa menamatkan buku Reading. Ini karena ia sudah punya cukup bekal grammar untuk bisa menjawab soal-soal, tanpa harus banyak bertanya lagi. Bila ia tidak berhenti, ia berhak lanjut ke tahap Pre-Intermediate Reading. Prediksi penulis tidak sepenuhnya dibenarkan oleh Mr. Fajar Hamzah. “Kalau Novi tidak datang terlambat ke kelas, itu bisa,” kata Mr. Fajar, “Pada beberapa pertemuan terakhir ini, ia agak telat karena ada urusan penting lainnya yang harus ia selesaikan.”
Sementara itu, buku Basic English Grammar membutuhkan waktu sedikit lebih lama, satu bulan karena selain jumlah soalnya yang sangat banyak, kemampuan untuk menganalisis soal pada bab yang baru membutuhkan waktu dan energi lebih. Otak benar-benar diperas untuk mampu membaca tipuan atau jebakan soal. Namun, ini bukan persoalan. Justru, pelajaran ini akan membuatnya lebih matang bila ke depan, ia bertemu dengan materi tingkat tinggi seperti TOEFL dan IELTS.
Terlepas berhasil atau tidaknya dari proses belajar Novi untuk kuliah di luar negeri—semoga saja berhasil—ia telah menjadikan dirinya sendiri sebagai contoh, pemudi yang tidak hanya berkhayal, tetapi juga berusaha mewujudkan cita-cita yang tinggi. Selama ia belajar, ia sama sekali tidak malu untuk bertanya kepada pelajar yang lebih muda darinya, terlebih kepada pelajar yang lebih dewasa dan itu adalah tanda-tanda kesuksesan bagi penuntut ilmu.
Zulkarnain Patwa
Rabu, 5 Agustus 2026
Izzatunnisa dan Nabila dua orang pelajar kelas 4 SD baru saja (03/08/2026) membuktikan kefasihannya mendemonstrasikan…
Conditional sentences (kalimat pengandaian) biasa penulis sebut dengan kalimat mengkhayal. Namanya juga khayalan: pasti bertentangan…
Mengenal kosakata itu mudah, tetapi mengenalkan kelas kata pada kosakata tidak mudah. Kenapa? Orang Indonesia…
Kebutuhan belajar bagi rakyat di desa segera terpenuhi bila ada kesadaran dari rakyat itu sendiri.…
Perpaduan speaking and grammar (bicara dan tata bahasa) dikemas dalam bentuk game dan percakapan diolah…
Sebuah kalimat seakan menghilangkan rasa lelah guru dalam berjuang. "Mauka (baca: saya mau) juga kuasai…
Leave a Comment