Rilis terbaru Programme for International Student Assessment (PISA) tentang literasi Indonesia pada 2025 baru saja dikeluarkan pada 2026 ini. Tidak ada yang mengagetkan. Dari 90 negara yang diteliti, pelajar Indonesia berada pada posisi 74 dengan 365 poin. Dengan poin rendah itu, pelajar kita masuk dalam kategori mampu menemukan informasi eksplisit tunggal yang dinyatakan dengan jelas dalam teks pendek. Begitulah ukuran kecerdasan anak Indonesia.
Bagaimana dengan para pelajar daerah yang motivasi dan akses buku bacaannya tidak memadai? Mereka tidak terdeteksi, tetapi kita telah mempunyai gambaran hasil jika mereka diteliti. Ini karena budaya literasi yang tidak diterapkan di sekolah formal tidak berjalan dengan baik. Gagasan Anies Baswedan sewaktu menjabat Menteri Pendidikan RI dalam bentuk membaca buku sekitar 15 menit sebelum kelas belajar dimulai di sekolah formal sudah lama mati suri.
Pidato memajukan pelajar kita yang mempunyai daya saing global masih dalam bentuk angan-angan. Kita pun tidak perlu menyalahkan pemerintah karena mereka sedang bergelut menyelesaikan hal-hal yang mereka anggap lebih penting, semisal memahamkan pelajaran wajib dengan baik. Bila itu terlaksana dengan baik, pastilah para pelajar dan orang tua pelajar itu bergembira.
Sebenarnya solusi itu ada. Inisiatif ini harus hadir dari Dinas Pendidikan Daerah dengan menjalin kerja sama dengan Dinas Perpustakaan. Buku-buku disalurkan ke sekolah setiap bulan dan diadakan pergiliran buku di berbagai sekolah. Perpustakaan Daerah pasti suka karena buku-bukunya dapat terbaca—target membumikan literasi tercapai. Guru sekolah mengkreasikan bagaimana cara agar anak-anak senang membaca. Pendekatan struktural ini pasti punya dampak yang sangat dahsyat.
Di luar dari pendekatan struktural, Rumah Belajar Bersama (RBB) selama lebih dari sepuluh tahun menggerakkan literasi berbahasa Inggris. Para pelajarnya telah menamatkan beragam buku asing: memahami teks panjang, mendeteksi bias, membuat inferensi abstrak, dan mengevaluasi hubungan antara teks dan pengetahuan luar. Para pelajar binaan RBB ditargetkan memiliki kompetensi setara tahapan tertinggi PISA (level 6, ≥ 698 poin) dengan pelatihan bertingkat untuk memahami teks kompleks.
Sedangkan dalam pendekatan kultural, Rumah Belajar Bersama (RBB) mempunyai perpustakaan yang tergabung dalam jaringan Pustaka Bergerak Indonesia sejak almarhum Nirwan Ahmad Arsuka masih hidup. RBB juga memiliki kelas Reading (membaca) dalam bahasa Inggris mulai dari tingkat pemula hingga tingkat tinggi.
Penguatan Reading didukung oleh grammar (tata bahasa) sehingga bacaan bisa dipahami secara komprehensif, yang kemudian mengantarkan para pelajarnya mendapatkan modal besar untuk menjawab soal-soal serta bekal untuk bisa menulis sesuai standar akademis. Pendekatan ini ternyata sangat membantu pemahaman tata bahasa Indonesia karena bahasa Inggris dan Indonesia mempunyai banyak kesamaan. Kebiasaan dalam menulis dalam bahasa Inggris berpengaruh kuat pada penulisan yang sesuai standar dalam bahasa Indonesia.
RBB percaya bahwa literasi yang sedang dijalankannya itu mampu mencetak para pelajarnya berwawasan dan berpengetahuan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Penanaman literasi ini ditumbuhkan kepada semua pelajarnya, mulai dari pelajar SD hingga mahasiswa dan umum.
Zulkarnain Patwa
Rabu, 16 September 2026
Ketika dua orang sahabat akrab telah selesai belajar di sore hari, mereka bersepakat untuk tidak…
Ketika kelas dibuka, seorang anak langsung mengusulkan praktik latihan percakapan. "Mister, supaya semua bisa bicara,…
A legend is born from a long struggle. Muhammad Ali once talked about people who…
Seorang legenda lahir dari perjuangan yang panjang. Muhammad Ali pernah mengatakan bahwa orang terkenal karena…
Kalau Anda menjawab satu pertanyaan, Anda menemukan satu jawaban. Tetapi, kalau Anda rajin bertanya, Anda…
Pembelajaran di akhir minggu diupayakan sesantai mungkin. Ini semacam 'hadiah' kecil karena pada minggu-minggu sebelumnya,…
Leave a Comment