Pintar Bareng di RBB Tanete

Pendapat umum adalah pelajar Indonesia kebanyakan tidak bisa berbahasa Inggris. Ah! Itu memang kenyataan yang terjadi. Kita bisa saja membantahnya dengan seribu alasan masuk akal dan tidak masuk akal. Fakta akan selalu lebih mudah dipercaya daripada argumentasi pembenaran. Misalnya, di sekolah bertaraf internasional, kemampuan bahasa Inggris para pelajar mereka bagus. Baiklah. Bagaimana dengan sekolah umum? Apakah kita berani mengatakan itu bagus juga?

Segelintir pelajar saja yang bisa menikmati sekolah berfasilitas mewah, super mahal dan itu hanya tersedia di kota besar.Artinya, begitu banyak pelajar Indonesia yang tidak bisa mengakses. Bagi orang yang percaya pada ilmu pengetahuan, itu adalah masalah besar yang semakin dipikirkan semakin bikin pusing kepala karena kapitalisasi pendidikan sangat menyulitkan sebagian besar orang Indonesia mengakses pendidikan yang berkualitas. Tingkat kesejahteraan ekonomi rakyat kebanyakan masih belum merata yang membuat mereka tidak bisa lebih leluasa bergerak.

Ada yang bisa pintar dengan belajar secara mandiri lewat YouTube atau media sosial lainnya. Sayangnya, itu juga sangat sedikit karena harus ada inisiatif pribadi dari pelajar itu sendiri.

Di sebuah tempat yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian, ada kecanggihan dibalut dalam bentuk kesederhanaan. Kurikulum pembelajarannya pun sangat terstruktur rapi. Gurunya pun sangat cerdas mengelola bahan pelajaran. Sebagai contoh, pada lesson 45 dan 46, kata can dan can’t (bisa dan tidak bisa) bahan percakapan yang bisa melibatkan lebih dari dua orang. “Can Rafli play football?” (Dapatkah Rafli bermain sepak bola?). Rafli akan ditanya apakah ia bisa bermain sepak bola atau tidak: kemungkinan jawaban, “Yes, he can atau No, he can’t.” Pembahasan ini pun merambah ke makhluk hidup lainnya: “Can a bird swim?” (Dapatkah seekor burung terbang?) atau “Can a rabbit fly?” (Dapatkah seekor kelinci terbang?). Para pelajar dilatih kreatif berpikir.

Fathy Cayadi, sang pengampu di Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete sangat senang pada keaktifan para pelajar bercakap. “Anak-anak kami telah memahami penggunaan can dan cannot dengan baik serta menemukan dan menyampaikan informasi dengan baik pula,” ungkap Fathy dengan nada gembira. Menjelang kelas belajar berakhir, ia pun menambahkan pembelajaran verbs (kata kerja) agar penggunaan kalimat di pertemuan berikutnya lebih beragam. Semua proses belajar mereka ini dibangun dengan semangat bekerja sama, pintar bareng, bukan seorang diri.

Marilah kita memandang pembelajaran bahasa Inggris itu bukan dari pendekatan pendidikan formal saja, mengecek pada pendidikan nonformal juga. Kita akan menemukan bahwa banyak pelajar Indonesia yang aktif berbahasa Inggris itu karena mereka aktif di lembaga nonformal. Meskipun bersekolah di pendidikan formal, kemampuan mereka bisa setara dengan para pelajar di sekolah internasional. RBB turut terlibat mengelola dan mencetak pelajar yang mempunyai keahlian di atas rata-rata.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 19 September 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Jangan Ikut Tolol!

Lomba menjawab verbal tenses di luar kepala untuk lima orang anak berumur sembilan dan sepuluh…

1 hari ago

Futri: Langkah Solutif Persiapan S-3

Seorang alumni S-2 ingin lanjut S-3 di Malaysia mengikuti kelas bahasa Inggris. Pilihannya unik. "Saya…

2 hari ago

Memecahkan Kebuntuan Literasi

Rilis terbaru Programme for International Student Assessment (PISA) tentang literasi Indonesia pada 2025 baru saja…

3 hari ago

RBB Turut Membantah Juara Dunia Catur

Ketika dua orang sahabat akrab telah selesai belajar di sore hari, mereka bersepakat untuk tidak…

4 hari ago

Murid Mengatur Guru Menuju Merdeka

Ketika kelas dibuka, seorang anak langsung mengusulkan praktik latihan percakapan. "Mister, supaya semua bisa bicara,…

5 hari ago

The Champion Mentality: Conquering Fear and Building Discipline

A legend is born from a long struggle. Muhammad Ali once talked about people who…

6 hari ago