Lomba menjawab verbal tenses di luar kepala untuk lima orang anak berumur sembilan dan sepuluh tahun ini bukan lagi dominan adu kecerdasan, melainkan adu kecepatan. Sebegitu cepatnya mereka mengangkat tangan, guru yang memberikan soal merasa kewalahan menunjuk siapa yang paling awal mengangkat tangan untuk mendapatkan kesempatan menjawab. Akhirnya, beberapa murid ditunjuk khusus bertugas untuk siapa yang lebih dahulu berhak menjawab. Para pelajar lainnya yang sedang dalam proses penguasaan tenses di luar kepala dengan penuh perhatian menyaksikan lomba dalam bentuk permainan ini. Mereka juga berharap untuk bisa ikut terlibat aktif seperti ini nantinya.
Bukti konkret tidak biasa ini menyadarkan kita bahwa sesungguhnya banyak anak Indonesia itu tidak tolol pada pelajaran bahasa Inggris. Mereka hanya tidak mendapatkan akses yang benar untuk berbahasa Inggris. Pemahaman seluruh verbal tenses itu bukan pelajaran SD, tetapi kenapa anak-anak bisa? Persoalan metode mengajar dan kualitas sumber daya manusia (SDM) guru yang menjadi hambatan utama. Inilah yang membalikkan pemahaman di mana rasa takut belajar itu berganti menjadi berani dan antusias.
Jika pihak yang bertanggung jawab mengatur pendidikan itu mempunyai kepedulian pada model pendidikan yang berkualitas baik yang ada di wilayahnya mau mengambil pelajaran, pastilah cerita kebuntuan pelajar segera teratasi. Mereka cukup mengkloning dan menerapkannya secara struktural. Jangkauannya pasti lebih luas, dirasakan secara lebih merata. Tapi, kan itu ‘jika’, sebatas angan-angan saja. Mereka itu lebih suka menggembor-gemborkan pembangunan fisik untuk mengukur kemajuan pendidikan daripada SDM. Padahal, kedua-duanya mesti saling berjalan secara bergandengan layaknya pasangan suami istri. Kan, itu lebih harmoni.
Bila kita terus terjebak dalam alur berpikir kaku seperti itu, kita hanya akan melanggengkan ketertinggalan pendidikan kita. Untuk itu, kita tidak perlu menanti dalam waktu yang tidak pasti hingga terjadi perubahan. Itu sangat membosankan dan melelahkan. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah bertindak sesegera mungkin untuk menjadi bagian dari solusi agar masa depan anak-anak kita itu berwawasan dan berpengetahuan tinggi: bekal berharga yang akan mereka gunakan dalam menumbuhkan kemampuan berdaya saing, bukan jadi penonton di negeri sendiri. Rumah Belajar Bersama (RBB) dan lembaga pendidikan alternatif lainnya yang masih peduli pada pendidikan yang memanusiakan manusia itu masih banyak bertebaran di sekitar kita.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at, 18 September 2026
Seorang alumni S-2 ingin lanjut S-3 di Malaysia mengikuti kelas bahasa Inggris. Pilihannya unik. "Saya…
Rilis terbaru Programme for International Student Assessment (PISA) tentang literasi Indonesia pada 2025 baru saja…
Ketika dua orang sahabat akrab telah selesai belajar di sore hari, mereka bersepakat untuk tidak…
Ketika kelas dibuka, seorang anak langsung mengusulkan praktik latihan percakapan. "Mister, supaya semua bisa bicara,…
A legend is born from a long struggle. Muhammad Ali once talked about people who…
Seorang legenda lahir dari perjuangan yang panjang. Muhammad Ali pernah mengatakan bahwa orang terkenal karena…
Leave a Comment