Meniti Tiga Kekuatan Bahasa

Kesulitan mengkombinasikan pelajaran grammar and speaking (tata bahasa dan bicara) akhirnya terjawab. Bila pada pertemuan sebelumnya, anak-anak terlebih dahulu mendalami tenses–bagian dasar yang sulit dari tata bahasa—kemudian speaking, tenses dinikmati tetapi energi untuk speaking telah habis karena energi berpikir telah terkuras habis. Ketika speaking di awal, semua semangat. Grammar yang diletakkan di sesi kedua tetap menyenangkan.

Kebutuhan manusia untuk berbicara memang lebih dahulu daripada memikirkan ilmu tata bahasa. Anak kecil bisa berbicara lancar jauh sebelum mengenal huruf, tulisan dan segala aturannya. Kenyataan yang tak terbantahkan ini yang sangat perlu diterapkan dalam pembelajaran bahasa.

Penulis berpikir bahwa para pelajar yang sudah mengenal banyak kosakata terlebih sudah tahu percakapan sehari-hari dan telah dibiasakan membaca buku-buku berbahasa Inggris bisa diajak untuk mempelajari banyak hal dalam satu waktu. Uji coba yang dijelaskan di atas adalah catatan perjalanan proses belajar untuk mencari hal mana yang paling efektif didahulukan. Hasil sementara yang didapatkan adalah speaking, lalu grammar. Istilah sementara dipakai karena siapa tahu di kemudian hari ada penemuan yang lebih menarik. Lagi pula, ini baru satu contoh kasus yang belum dibandingkan dengan yang lainnya.

Kepedulian untuk menguatkan kemampuan berbahasa Inggris kepada para pelajar tak lepas dari pengalaman pribadi. Sejak kecil, berumur sekitar sembilan tahun, penulis sudah berbahasa Inggris dengan almarhum ayah, Drs. H. Patiroi, yang sering mengajak penulis ke Pantai Bira untuk berenang dan berkomunikasi dengan orang asing. Kadang-kadang orang barat itu diajak datang ke rumah. Literatur ayah dalam bahasa Inggris dan Arab juga banyak di mana penulis menikmatinya di waktu senggang.

Masalah yang tidak terselesaikan adalah grammar. Ternyata, itu sangat berguna dalam dunia akademis. Semasa mahasiswa, penulis pernah terhalang masuk kelas internasional hanya karena tidak bisa menulis dengan benar, tata bahasa kacau. Solusinya, penulis berguru ke Kampung Inggris di Pare, Jawa Timur selama satu setengah tahun.

Dari pengalaman berharga itu, penulis menginginkan kesadaran tentang grammar sangat penting ditanamkan sejak anak-anak. Tiga kekuatan utama terletak pada speaking, reading, and grammar (berbicara, bacaan, dan tata bahasa) dapat tumbuh secara beriringan, bukan saling menyalahkan. Di kalangan pelajar bahasa Inggris, isu yang sering muncul, grammar tidak penting, yang penting adalah paham apa yang dibicarakan. Sebaliknya, grammarian (penganut grammar) juga membalas, orang yang terbiasa speaking tetapi tidak tahu grammar, bicaranya terbalik-balik. Padahal, semuanya penting, tergantung kebutuhan masing-masing. Sedangkan reading yang berhubungan dengan pengembangan wawasan, jarang kena hujatan.

Satu hal yang hampir terlupakan adalah writing (menulis). Pelajar yang aktif dalam dunia writing membutuhkan kekayaan kosakata dan grammar—hal yang mutlak—membuat tulisan diterima secara universal betapapun di setiap daerah atau negara menggunakan aksen bicara yang berbeda.

Sungguh sangat elok jika pelajar kita sanggup semuanya. Sederhananya, bila bahasa Inggris dibagi menjadi dua yaitu formal dan non-formal, maka pelajar yang memenuhi syarat di atas bisa mencapai semuanya.

Pekerjaan mengombinasikan pelajaran bahasa Inggris itu memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa. Sumber daya manusia yang handal yang mau berpikir dan bekerja ekstra adalah pilihan yang tepat mengerjakan tugas ini. Mereka inilah yang mampu menyesuaikan teori yang tidak sesuai dengan fakta dan bahkan mencari solusi yang baru dari persoalan kesulitan pelajar berbahasa Inggris.

Apakah kita bagian dari solusi atau masalah?

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, 7 Agustus 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Melawan Lupa di Jendela Kelas

Satu kata yang ampuh untuk melahirkan kemahiran. Perulangan namanya. Kata ini mengingatkan apa pun yang…

1 jam ago

Kertas Sakti

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya di mana sebuah kelas belajar di malam hari terkondisikan untuk mau…

2 hari ago

Mendobrak Malu Belajar demi Kuliah ke Cina

Seorang pemudi tamatan SMA tertarik belajar bahasa Inggris. Ia mencari informasi di media sosial, menemukan…

3 hari ago

Menolak Omong Kosong Kesuksesan di Atas Kertas

Izzatunnisa dan Nabila dua orang pelajar kelas 4 SD baru saja (03/08/2026) membuktikan kefasihannya mendemonstrasikan…

4 hari ago

Khayalan yang Masuk Akal

Conditional sentences (kalimat pengandaian) biasa penulis sebut dengan kalimat mengkhayal. Namanya juga khayalan: pasti bertentangan…

5 hari ago

Logika Cerdas Mengolah Kata

Mengenal kosakata itu mudah, tetapi mengenalkan kelas kata pada kosakata tidak mudah. Kenapa? Orang Indonesia…

6 hari ago