Seorang alumni S-2 ingin lanjut S-3 di Malaysia mengikuti kelas bahasa Inggris. Pilihannya unik. “Saya mau kelas pronunciation (cara pengucapan)?” kata Futri Syam. “Hah! Kenapa? Biasanya mahasiswa lanjut S-3 itu mempersiapkan diri pada tes TOEFL atau IELTS,” balas guru bahasa Inggris yang sedang ia temani berbicara. “Karena saya ingin lebih percaya diri berbicara,” balas Futri. “Okay. Tapi, saya ingin tahu dulu kemampuan reading dan speaking-mu (membaca dan berbicaramu) agar tahu tingkat apa yang saya ajarkan,” tanggap guru itu.
Kemudian, sang guru pun mengambil buku reading yang bercerita dan disodorkan ke Futri. Ia membaca dengan suara nyaring beberapa paragraf. “Bacaanmu cukup baik. Mendengar nada suaramu itu, kamu ada bakat. Cuma, ini tidak diasah dengan baik saja. Pertahankan saja semangat belajarmu ini. Orang sepertimu tidak butuh waktu lama di kelas pronunciation. Satu bulan cukuplah,” respons guru itu. “Baik,” jawab Futri singkat.
Ketika kelas perdana berjalan, Futri dengan sigap mengetahui cara membedakan kata yang pengucapannya sangat mirip, hanya dibedakan dengan nada lebih panjang dan pendek. Puluhan kosakata dan paragraf pendek ia baca dengan lancar. Untuk lebih matang, ia diminta mengulangi beberapa kali agar selain pemahaman lebih melekat, ia pun tahu cara menggabungkan atau penyingkatan beberapa kata yang sesuai aturan dan tentunya enak didengar.
Kemudahan yang Futri peroleh ini karena ia mempunyai niat dan latar belakangnya dari pendidikan agama Islam. Ini mirip saja dengan ilmu tajwid dalam mengaji atau bahasa Arab. Beberapa kosakata Inggris yang sulit ia sebutkan dihubungkan dengan bahasa Arab sehingga dengan cepat ia menemukan cara yang tepat dalam mengucapkan kata dengan benar.
Pertemuan belajar di hari pertama ini berjalan dengan sangat lancar. Menjelang kelas selesai, guru berkata, “Hari ini tidak ada rekaman video. Besok, semua pelajaran yang kamu dapatkan akan direkam. Silakan berlatih di rumah.” Maksudnya, Futri ada kesempatan berlatih di rumah sehingga penampilannya pada video yang akan disebar di media sosial terlihat lebih sempurna. Tentu saja, ia (Futri) tahu akan hal ini. Sebagai pendukung, MP3 tentang materi pronunciation yang sedang ia pelajari diberikan untuk bahan rujukan. Futri sangat senang dan terlihat siap menghadapi pelajaran hari esok.
Futri adalah salah satu di antara sekian banyak mahasiswa Indonesia yang terkendala dalam bahasa Inggris yang mengambil langkah solutif untuk bisa lebih aktif dalam pergaulan akademis dan internasional. Ia sadar akan kemampuan dirinya bahwa kuliah di luar negeri itu bukan sebatas formalitas kelulusan tes bahasa Inggris saja seperti yang telah ia lalui di S-1 dan S-2.
Agar lebih bersinergi, Futri pun dimotivasi oleh guru Rumah Belajar Bersama (RBB), tempat ia belajar, agar ia bisa menjadikan bahasa Inggris itu sebagai alat untuk membaca literatur asing yang mendukung pengembangan pengetahuannya saat proses perjalanan meraih gelar doktor di S-3-nya nanti. Ia sepakat.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 17 September 2026
Rilis terbaru Programme for International Student Assessment (PISA) tentang literasi Indonesia pada 2025 baru saja…
Ketika dua orang sahabat akrab telah selesai belajar di sore hari, mereka bersepakat untuk tidak…
Ketika kelas dibuka, seorang anak langsung mengusulkan praktik latihan percakapan. "Mister, supaya semua bisa bicara,…
A legend is born from a long struggle. Muhammad Ali once talked about people who…
Seorang legenda lahir dari perjuangan yang panjang. Muhammad Ali pernah mengatakan bahwa orang terkenal karena…
Kalau Anda menjawab satu pertanyaan, Anda menemukan satu jawaban. Tetapi, kalau Anda rajin bertanya, Anda…
Leave a Comment