Kanal: Uncategorized

RBB Meruntuhkan Kemustahilan Tenses Sejak SD

Sebuah kelas yang terdiri dari pelajar kelas 3 sampai 6 SD sedang didesain menguasai struktur nominal dan verbal tenses di luar kepala. Ini langkah yang sangat berani, jarang atau mungkin saja tidak pernah dilakukan di pendidikan formal. Berdasarkan Teori Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget, para akademisi yang sealiran dengannya pasti akan berargumen anak-anak SD belum waktunya belajar materi tenses dengan alasan bahwa mereka belum bisa berpikir abstrak. Hal ini diperkuat dengan kurikulum bahasa Inggris untuk SD di Indonesia tidak membahasnya secara khusus—hanya memasukkan tenses dalam bentuk bacaan.

Apa yang dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) itu bagus sebagai langkah pembuka tetapi itu tidak cukup. Kenapa? Karena tenses tidak selesai dibahas hingga tamat SD. Wajarlah bila kemampuan pelajar menjawab soal-soal sangat rendah; pondasi dasar tidak kokoh.

Mengatasi masalah tersebut, rekan-rekan pengajar di Rumah Belajar Bersama (RBB) memberikan solusi. Sekitar 10 orang anak SD di kelas malam dari berbagai tingkatan kelas di sekolah sekarang sedang giat-giatnya saling bahu-membahu untuk menguasai tenses di luar kepala dengan segala bentuk perubahannya. Subject-verb agreement (Kesesuaian subjek dan kata kerja) melibatkan subjek tunggal dan jamak: I, you, they, we, he, she and it.

Patut diingat, anak-anak tersebut sebelumnya telah dibiasakan membaca buku berbahasa Inggris di RBB sebagai strategi mengakrabkan diri pada bacaan dan wawasan luar. Mereka pasti mengenal beragam kalimat. Dengan menghadirkan subjek tunggal dan jamak, mereka tidak akan dengan mudah menganggap remeh pelajaran tenses. Mereka secara tidak langsung dilatih untuk mampu berpikir lebih dalam mengucapkan kalimat yang benar. Oleh karena itu, saat guru meminta setoran simple present pada nominal atau verbal tenses yang berisi empat perubahan kalimat pada setiap subjek, mereka tidak langsung menyatakan sanggup melainkan berlatih lebih dahulu. Barulah setelah beberapa waktu, mereka akan berani tampil di depan kamera rekaman video live (siaran langsung) di akun Facebook RBB.

Untuk melihat kualitas pelajar, setoran tenses dilakukan per individu. Agar terlihat lebih menarik, tantangannya adalah hanya pelajar yang bisa menyetor tenses diizinkan keluar main. Semua anak pasti suka keluar main sehingga mereka berusaha. Bagaimana dengan anak yang tidak bisa menyetor? Setoran ini diperkenankan untuk dipraktikkan secara berpasangan (peer tutoring) agar seorang pelajar yang belum terlalu lancar bisa mengikuti rekannya dalam berbicara dengan benar. Jadi, semua orang di kelompok kecil ini merasa berusaha sehingga keluar main itu dianggap hal yang berharga, bukan karena ada jam tertentu yang diberikan untuk keluar main.

Kemungkinan untuk menghadapi materi yang berat seperti perfect dan perfect progressive sudah diantisipasi. Sejak awal, anak-anak ini telah dibekali latihan irregular verbs (kata kerja yang tidak beraturan) di hampir tiap pertemuan belajar. Mereka diakrabkan pada puluhan perubahan verb 1, 2 and 3 (kata kerja 1, 2, dan 3) yang disertai dengan artinya dalam bahasa Indonesia. Ini dibaca secara bersama-sama dengan pendampingan guru dan kemudian, diulang per individu hingga paham, bukan hapal. Kalaupun hapal, itu efek dari pemahaman saja.

Ketika mereka sampai pada materi perfect, verb 3 secara otomatis berfungsi dan diberikan penjelasan tentang cara memasukkan dalam kalimat. Pendekatan melalui rumus tentu mengikuti agar terdapat kekayaan penjelasan dalam memahamkan tenses yang dianggap super rumit ini.

Pada kenyataannya, RBB memandang tenses itu adalah pelajaran yang mudah diajarkan. Jauh sebelum anak-anak ini berlatih secara berkelompok, ada banyak anak-anak SD di RBB yang telah sanggup menguasai tenses di luar kepala. Bahkan ada yang bisa menjawab tanpa bantuan kotak kosong tenses (hanya berisi nama tenses, tanpa rumus dan kalimat) sama sekali. Linknya dapat Anda tonton di sini:

Lagi pula, anak-anak ini terinspirasi belajar tenses karena melihat rekan sebayanya mampu berbahasa Inggris lebih baik dalam menjawab soal-soal tertulis dan berbicara lebih tertata. Selain itu, terdapat kesadaran dari guru-guru RBB dalam mempersiapkan para pelajarnya untuk mampu bersaing di tingkat internasional nantinya.

Perbandingan lainnya adalah dunia pendidikan Islam sejak berabad-abad yang lalu telah mentradisikan kebiasaan anak-anak bukan hanya SD tetapi TK untuk mempelajari dan menghapal Al Qur’an. Teori Jean Piaget yang meskipun berkontribusi besar dalam dunia pendidikan tidak selamanya sesuai. Ada banyak hal yang berbeda dan mampu terbukti tanpa harus mengikuti Piaget.

Ini adalah bukti bahwa otak anak kecil sebenarnya sanggup menerima materi yang dianggap berat oleh orang dewasa. Untuk bisa berjalan efektif, kita bisa berkaca dari RBB pada jangkauan yang lebih kecil dan pendidikan dunia Islam pada cakupan yang lebih luas.

Lifelong education (Pendidikan sepanjang masa). Pendidikan yang berkualitas yang mampu menjawab tantangan zaman harus dimulai sejak usia ini. Beranikah kita mendorong anak-anak kita mengikuti pembelajaran seperti ini?

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at 24 Juli 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Perjalanan Alika Menembus Kotak Kosong Tenses

Mumtazah Al Hakim anak yang telah lama belajar Reading (bacaan) di Rumah Belajar Bersama (RBB)…

1 hari ago

Sampah Plastik Merusak Keindahan Pantai Bulukumba

Kebersihan pantai adalah masalah utama yang dihadapi Bulukumba yang kaya dengan beragam keindahan pantai. Persoalan…

2 hari ago

Siasat Cerdik Belajar Irregular Verbs

Irregular Verbs (Kata kerja yang tidak beraturan) adalah kelas kata yang menarik, sesuatu yang tidak…

2 hari ago

Mengakhiri Pemborosan Waktu Belajar Bahasa Inggris

Ini bukan cerita khayalan melainkan kenyataan yang diceritakan. Tenses di luar kepala adalah materi biasa…

3 hari ago

Rahasia Sukses Juara Bahasa Inggris

Generasi penerus tenses di luar kepala sedang dimassifikasi. Rumah Belajar Bersama (RBB) telah membuktikan para…

4 hari ago

Mengabadikan Warisan Perahu Tradisional Lewat Tulisan

Bekerja mengedepankan kualitas daripada kuantitas. Itulah yang saya dapatkan saat bersama Horst Liebner. Beberapa tulisan…

5 hari ago