Kategori: Uncategorized

  • Kunjungan Team Inspektorat Provinsi Sul-Sel; Hibah Buku ke Rumah Belajar Bersama di Bulukumba Tepat Sasaran

    Kunjungan Team Inspektorat Provinsi Sul-Sel; Hibah Buku ke Rumah Belajar Bersama di Bulukumba Tepat Sasaran

    Bulukumba, RBB (18/3)—Assalamu ‘alaikum. Itulah sapaan pertama yang kami dengar dari kunjungan sekelompok orang yang berpakaian putih rapi pada Selasa, 17 Maret 2021, sekitar jam 13. 15 Wita di Rumah Belajar Bersama di Bulukumba.  Ini adalah kunjungan yang tidak biasa karena yang datang adalah Inpektorat Provinsi Sulawesi-Selatan didampingi Dinas Perpustakan Bulukumba dan Basmawati Haris sebagai penggerak literasi Bulukumba.

    Saat saling kenal dan menyapa, team ini tanpa sengaja sempat berkenalan dengan orang tua pelajar RBB yang sedang duduk mendidik anaknya membaca di teras. Ibu Yuyun menjelaskan bahwa seorang anaknya di dalam ruangan sedang belajar dan ia sengaja duduk di luar mendidik anaknya yang lebih kecil agar dapat belajar membaca dengan memperlihatkan beragam buku yang berwana warni yang menarik sembari mendidik anaknya agar senang dengan buku. Itulah kesan pertama yang pemeriksa dapatkan dalam hal literasi.

    Ibu Yuyun yang terbiasa duduk di teras Rumah Belajar mendidik anaknya membaca. Inilah kesan literasi pertama yang Inspektorat Sulawesi Selatan berkunjung ke Rumah Belajar.
    Foto: Ruang teras RBB pada 17 Maret 2021

    Saat mamasuki ruang utama belajar yang dikelilingi buku-buku perpustakaan, terdapat suasana dimana tiap orang tetap sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Bagi rekan-rekan di RBB, kesan sealami mungkin selalu kita hadirkan pada tiap tamu yang datang agar mengetahui kondisi yang sebenarnya yang terjadi.

    Pengecekan kesesuaian data terhadap hibah bantuan buku dll oleh Inspektorat Provinsi Sul-Sel kepada Rumah Belajar Bersama.
    Sumber Foto: Basmawati Haris

    Team inspektorat Provinsi Sul-Sel pun kemudian melakukan pemeriksaan terhadap keberadaan 300 buku, 2 rak dan 2 komputer yang disumbangkan ke RBB pada 2020. Menurut Ibu Suhartini dari Inpspektorat Provinsi, “Saya  dengan team inspektorat memeriksa badan kearsipan tentang bantuan dana hibah berupa buku, rak dan komputer.” Setelah diperiksa, barang-barang tersebut tetap ada di RBB dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Suhartini pun memberi pujian, “Saya melihat hasilnya. Sasarannya sudah tepat, sudah bagus”, katanya dengan ekspresi meyakinkan.

    Hal senada juga disampaikan oleh Andi Muhammad Sayuti yang juga dari Inspektorat Provinsi yang mengatakan, “Setelah kita melihat kondisi di sini, khususnya minat bacanya, bagus sekali. Iya. Saya kira perlu didukung ini baik dari pemerintah kabupaten maupun provinsi. Memang perlu diperhatikan lagi apa kebutuhan pembaca. Dengan mengetahui kebutuhan pembaca, kita kan bisa mengusulkan apa apa yang diperlukan di sini”, ungkapnya.

    Andi Muhammad Sayuti yang sedang memeriksa kelengkapan hibah pengembangan literasi di Rumah Belajar Bersama. Dia pun menyempatkan sejenak bersenda gurau dengan para pelajar.
    Sumber Foto: Basmawati Haris (17/03)

    Sedangkan tanggapannya terhadap aktivitas di RBB, Suhartini menjelaskan, “Fungsi kami adalah pengawasan. Apakah tepat sasaran sampai ke impact-nya (baca: dampaknya). Sebagai tambahan, “Bapak (baca; RBB) di sini bisa mengajak mereka (yang lain) dan melaporkan ke Dinas bulukumba yang nanti dilaporkan kepada provinsi untuk bisa dibuatkan program tindak lanjut. Makanya, semua yang menerima bantuan hibah buku itu harus membuat laporannya. Apa manfaat dan saran-sarannya”, katanya.

    Penekanan pesan dari Ibu Hartini tersebut di atas perlu menjadi perhatian serius bagi tiap penggerak literasi agar tercipta kemudahan kegiatan untuk pengembangan dan kemajuan literasi Indonesia.

    Dari 40 taman baca di Bulukumba yang telah mendapatkan bantuan, terdapat 15 tempat yang akan dikunjungi sebagai sample. Dari 3 hari rencana kunjungan, RBB mendapat kunjungan pada hari pertama.

    Semoga tiap bantuan baik dari pemerintah ataupun swasta baik diperiksa ataupun tidak diperiksa yang dipercayakan pada rekan rekan penggerak literasi dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk turut mendukung pencerdasan anak bangsa. Last but not the least, be useful for others (jadilah bermanfaat untuk orang lain).

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Ujian Terbuka Oral Total Tense dan Passive Berjalan Sukses

    Ujian Terbuka Oral Total Tense dan Passive Berjalan Sukses

    Bulukumba, RBB (6/3)—Ujian oral (lisan) terbuka tentang perubahan total struktur tense ke passive dan passive ke tense kepada pelajar Bahasa Inggris Rumah Belajar Bersama berhasil terlaksana dengan baik. Ditayangkan secara live (siaran langsung) di facebook RBB di Bulukukumba, pengujinya adalah Agustina Dewi yang merupakan pendiri Bammbo Academy yang menetap di Blitar di Jawa Timur melalui  via google meet (semacam zoom) dimana setiap orang boleh menonton dan bebas diberi kesempatan berkomentar, menyanjung, mengkritik dan sebagainya.

    Ujian oral ini menyangkut pemahaman seluruh 16 tense dan passive yang mengandung jebakan nonprogressive (kata kerja yang tidak boleh continuous—menyatakan kejadian yang sedang berlangsung), distransitive verbs (kata kerja yang berhak punya 2 objek) dan indefinite pronoun (kata ganti yang tidak jelas). Miss Tina, panggilan akrab Agustina Dewi, berhasil membuat para pelajar berpikir mendalam karena memberikan soal-soal yang penuh beragam jebakan. Bisa dapat dipastikan bahwa orang yang pernah belajar secara detail saja yang mampu menjawabnya dengan benar.

    Tantangan berat ini diawali dengan suasana yang menegangkan tiap peserta sudah sadar betul bahwa memahami struktur tense dan passive tidaklah cukup sebagai jaminan. Tiap orang satu persatu di depan komputer—sumbangan Dinas Perpustakan Provinsi Sul-Sel dan Dinas Perpustakaan Daerah Bulukumba— yang telah disediakan di RBB dan kemudian mandapatkan 10 soal oral (lisan). Sebanyak 6 orang peserta dengan menghabiskan waktu lebih dari 2 jam, terhitung dari jam 20.00 – 22.15 Wita.

    Suasana kelas di Rumah Belajar Bersama saat ujian. yang duduk di dekat rak buku berusaha serileks mungkin sambil menanti giliran untuk maju di depan komputer.

    Rifa’atul Mahmudah dan Ita Mufrita berhasil meraih angka 100, angka yang sempurna dengan tanpa membuat kesalahan. Adapun Nuraila Islamiyah yang pada ujian sebelumnya (khusus tense) yang meraih angka 100 kini harus puas di angka 90 disebabkan membuat satu kesalahan yang tidak perlu yaitu pada penentuan subjek. Sebuah subjek tunggal ia jadikan jamak.  Hal ini terlihat jelas karena pertanyaan perubahan kalimat ke present perfect.

    Ita Mufrita yang sedang berhadapan dengan Agustina Dewi pada ujian oral dan berhasil meraih angka 100 karena tidak ada kesalahan. Keseharian Ita adalah juru bahasa pada orang-orang tuli.
    Gambari diambil di ruang kelas Rumah Belajar Bersama.

    Hal yang menarik lainnya adalah Andi Alodia yang merupakan seorang pelajar kelas 6 SD (Sekolah Dasar) yang betapapun mendapatkan kwalitas soal yang sama dengan orang dewasa tapi ia tetap mampu meraih angka 70. Ia sudah berhasil memahami struktur. Sulaiman Arief yang baru-baru ini sudah sangat rajin latihan seharusnya sanggup  mendapat angka 80 tetapi kenyataannya nilainya di angka 60. Masalahnya, ia lupa jebakan indefinite pronoun dan masih teralu banyak kosa kota yang belum ia kenali, hal yang umum terjadi bagi para pelajar pemula. Sedangkan Nur Zelika yang sedang berada di Makassar dan juga ikut ujian tidak sempat menyelesaikan soal karena terkendala masalah keterputusan jaringan.

    Para pelajar ini merasa puas dengan hasil yang mereka peroleh. Mereka telah berjuang maksimal dengan menambah jam belajar secara mandiri melalui study club yang terkadang dimulai sore dan terus lanjut hingga malam hari baik untuk pendalaman dan ataupun membantu sesama rekan yang kurang menguasai materi selama sebulan terakhir. Beberapa yang beranjak dari dari zero (nol) memang bukanlah hero (pahlawan). At least, mereka membuktikan bahwa jangankan pelajaran sederhana, pelajaran rumit pun bisa mereka hadapi. Baginya, Bahasa Inggris bukan lagi pelajaran yang seperti ‘hantu’ yang harus dijauhi.

    Sebelum acara selesai, Tina sempat menyampaikan pendapat dan kegembiaraan bertemu dengan para pelajar tersebut. Ia mengatakan, “Para peserta sebenarnya sudah memahami apa yang disebut passive dan active cuma saja terkena jebakan batman. Masukan, lebih teliti saja.” Lalu ia sedikit bercerita pengalaman belajarnya. “Kami orang-orang grammarian (ahli tata bahasa) yang saat berada di Pare (Kampung Inggris di Jawa Timur) memang tidak mau soal standar kayak di sekolah. Ngapain jauh-jauh belajar hanya dapat yang standar. Overall, kalian memahami, passive saya bikin double, memiliki 2 objek.”

    Sebagai penutup, Tina yang juga Duta Ambassador pada kunjugan 10 negara  timur tengah ke Blitar menyatakan bahwa orang-orang yang mengerti dasar-dasar bahasa inggris seperti yang diujikan, dapat berharap lebih pada bahasa inggris.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • My Experience Studying English at Rumah Belajar Bersama

    My Experience Studying English at Rumah Belajar Bersama

    Nama saya Nuraila Islamiyah yang biasa dipanggil Lalla. Saya adalah seorang pelajar kelas 3 SMA (Sekolah Menengah Atas) 1 Bulukumba, Sulawesi-Selatan. Saya akan menceritakan pengalaman belajar di Rumah Belajar Bersama (RBB) yang menurutku sangat luar biasa. Saya sangat senang belajar di sana karena saya mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang belum pernah saya dapatkan ditempat lain sebelumnya.

    Saya bertemu dengan pelajar lain yang usianya jauh di bawah saya yaitu Fadel yang masih SMP (Sekolah Menengah Pertama) kelas 1 dan Alo yang masih kelas 6 SD (Sekolah Dasar). Mereka berdua adalah belajar pertama yang saya temui ketika baru masuk di kelas malam Bahasa Inggris bersama dengan teman saya, Zelika.

    Materi awal pembelajaran kami adalah reading dimana kami diharuskan untuk menamatkan buku Question and Answer karya L. G. Alexander beserta latihan soal-soal di dalamnya. Dari sana, saya akhirnya paham bahwa ternyata pelafalan Bahasa Inggris tidak sama seperti apa yang tertulis. Saya tidak  tidak hanya membaca tetapi juga saya berinisiatif dengan mencoba untuk mencari tahu arti dari kisah-kisah dalam buku tersebut untuk menambah pemahaman kosa kata baru.

    Pelajaran tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah kami menamatkan buku pertama, buku kedua pun menanti yaitu buku Practice and Progress yang masih karya L. G. Alexander. Ini tentunya lebih rumit dari buku yang pertama. berkat materi reading  ini, perlahan-lahan pronounciation (pengucapan) saya mulai terasah dan makin membaik dari hari demi hari. Buku ini pun berhasil saya tamatkan. Saat ini kami telah memasuki buku ketiga yaitu Developing skills, karya L. G. Alexander. Di cover buku itu tertulis “An Integrated Course. For Intermediate Students”. Artinya kurang lebih adalah sebuah rangkaian yang utuh. Untuk para pelajar tingkat menengah. Luar biasa!

    Tentu saja tidak hanya sekedar membaca, saya juga mengerjakan buku Basic English Grammar karya Betty Schrampfer Azar.  Seperti judulnya buku tersebut berisi dasar-dasar tata Bahasa Inggris yang sangat perlu dipahami. Saya pribadi sangat terbantu dengan buku ini. Saya yang dulunya sekedar asal nulis caption Bahasa Inggris di media sosial atau terkadang modal google translate dan tidak paham strukturnya sama sekali kini akhirnya mengerti dengan baik. ya, berkat buku ini. Tidak terasa, saya berhasil menyelesaikannya dan lanjut ke buku kedua yang berjudul Fundamentals of English Grammar karya Bety Scrampfer Azar yang saat ini masih saya sedang kerjakan.

    Tidak lengkap jika membahas grammar (tata bahasa) tanpa menyinggung pemahaman total pada Tenses. Kami telah mempelajari  verbal tense, nominal tense dan yang terbaru adalah passive voice menggunakan Metode 40 yang dulunya hanya saya lihat di spanduk RBB.

    Menurutku, Metode 40 yang digunakan untuk mempelajari kerumitan tenses ini sangat efektif dan memudahkan pelajar yang tidak hanya menghapal tapi juga perlu benar- benar memahami dasar dasar pembentukan tenses.

    Semakin jauh materi yang kami pelajari, semakin bertambah pula jumlah pelajar kelas malam di RBB. Ada Kak Ulfa, Kak ita, Kak Winie dan Kak Eman yang jauh usianya di atasku. Mereka adalah orang-orang yang berbagi kesulitan bersama dalam menyederhanakan Bahasa Inggris.

    Untuk menguji pemahaman kami, tak tanggung -tanggung Mr. Zulkarnain Patwa (Baca; Mr. Nain), pengajar kami, mendatangkan temannya yang merupakan Ex pengajar SMART International Language Collage, dan pendiri Bamboo Academy di Blitar Jawa Timur. Namanya Miss Tina atau Agustina Dewi untuk menguji kami secara oral (lisan) melalui via zoom/google meet. Itu adalah satu dari pengalaman yang menegangkan yang saya alami di RBB. Usaha belajar saya ternyata tidak sia-sia. Meskipun soalnya berisi jebakan nonprogressive dan certain adjective, Saya berhasil meraih angka 100 dengan tanpa membuat kesalahan. Alhamdulillah!

    Nuraila Islamiyah di Rumah Belajar Bersama yang sedang menghadapi ujian oral (lisan) terhadap perubahan struktur tense dari Agustina Dewi di Blitar, Jawa Timur. Soal-soal dari Kak Tina sangat menantang dan mengasah kecerdasan berpikir.

    Selain diuji secara oral, Di RBB kami juga mendapat tes tertulis yang jumlah soalnya sangat banyak dangan waktu mengerjakan yang singkat. Ini benar -benar menguras otak. Oleh karena itu kami sering mengadakan study club untuk memperdalam pemahaman kami sekaligus latihan untuk persiapan test oral maupun ujian tertulis. Tempatnya pun disesuaikan agar kami nyaman dan tidak mudah bosan. Tempat yang sering kami jadikan markas adalah Amany Café milik temannya Kak Ita. Dan Kak Ita selalu mentraktir teman-teman. Terima kasih ya Kak.

    Perjalanan belajar tidak terhenti sampai di situ. yang menjadi pengalaman paling menyenangkan selama saya di belajar di RBB ini adalah inisiatif RBB yang mempertemukan kami dengan orang -orang hebat lainnya. Kami melakukan pertemuan via online melalui zoom/google meet dengan Miss Cita Denni yang pernah menempuh pendidikan di Jerman. Kami berdiskusi tentang pendidikan, wisata dan budaya di Jerman. Ada juga Miss Nurlaeli Hidayanti yang menempuh pendidikan di Indiana University di Amerika Serikat. Kak Leli juga sekarang ini mengajar pelajar asing untuk bisa berbahasa Indonesia . Kami banyak berdiskusi dengannya tentang pendidikan, pengalaman dan tips belajar Bahasa inggris darinya.

    Nuraila Islamiyah bersama teman-teman kelasnya di kelas Bahasa Inggris.

    Kedepannya,  kami akan terus bertemu dengan orang -orang hebat di luar sana yang penuh inspirasi. Dan saya berharap, kami akan menjadi seperti orang -orang hebat tersebut di masa depan. Terima kasih Rumah Belajar Bersama, Mr. Nain  dan teman -teman atas ilmu dan pengalamannya yang sangat berharga.

    Bersambung . . . 

    Nuraila Islamiyah
    Pelajar Rumah Belajar Bersama

  • Anita Noveria: Dialog Berbahasa Inggris dan Latihan Tense ke Passive

    Anita Noveria: Dialog Berbahasa Inggris dan Latihan Tense ke Passive

    Bulukumba, RBB(25/2) — Dalam mendukung kemajuan berbahasa Inggris, Rumah Belajar Bersama membiasakan diri mengajak para pelajarnya untuk belajar berdiskusi dan latihan soal dengan para intelektual muda Indonesia yang mempunyai pengetahuan yang baik dalam bahasa asing dan juga pernah melakukan kegiatan pendidikan di luar negeri. Acara ini dilakukan melaui zoom atau google meet dan disiarkan secara langsung melalui facebook dari Rumah Belajar Bersama. Karena dibuka secara umum, setiap orang yang ingin bergabung diperbolehkan.

    Pada Senin malam (22/02), pembicara yang menginspirasi yang hadir adalah Anita Noveria yang merupakan alumnus UIN (Universitas Islam Negeri) Alauddin Makassar dan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Sewaktu masih kuliah di UIN Alauddin, ia mewakili kampusnya untuk lomba debat Se-Indonesia di Universitas gadjah Mada Yogyakarta dan setelah menamatkan diri di Unhas, ia adalah salah seorang yang terpilih mengikuti ISERD Konferensi internasional di Korea pada 2018.

    Anita Noveria saat berdiskusi dengan para pelajar dalam bahasa Inggris. (22/02).
    Picture taken from Rumah Belajar Bersama.

    Jenjang dan pengalaman pendidikan tersebut tidaklah membuat Anita enggan untuk berbagi ilmu meskipun pelajarannya masih pada tahapan dasar dasar bahasa asing. Setelah berkenalan dan berbicara beberapa hal dengan bahasa inggris yang fasih, ia berbagi soal quiz berupa 30 soal Tense dan Passive dengan pada tiap orang peserta.

    Seorang pelajar bernama Rafa’atul Mahmudah berhasil mencapai poin 96 dengan 1 (satu) kesalahan. Menurut Ulfa, panggilan akrab Rifa’atul Mahmudah, bahwa kesalahan kecil tersebut ia lakukan karena salah membaca perintah soal. Kalimatnya menyatakan untuk memilih kalimat incorrect (salah) tapi ia membaca correct (benar).

    Setelah itu, Anita kembali berdialog dalam Bahasa Ingris dengan para pelajar dengan memberikan soal-soal oral (lisan) berbahasa Indonesia yang harus dibuat ke dalam bahasa inggris dimana yang menjawab perlu jeli untuk menempatkan strukturnya karena tidak terdapat perintah pada bentuk apa kalimat passive tersebut dibuat. Dan bagi pelajar, mereka mampu menjawab dengan baik karena sebelumnya telah mendapatkan pelatihan demikian. Sayangnya, tidak semua pelajar mendapatkan kesempatan karena diskusi telah berlangsung lebih dari 2 jam dan telah memasuki jam 10 malam dimana seharusnya sudah harus selesai pada jam 9 malam. Tiap pelajar yang sedang berada di Rumah Belajar akan pulang ke rumahnya masing-masing.

    Sebagai penutup, Anita menyampaikan motivasi. Ia menjelaskan bahwa pelajar perlu tahu tujuan bahasa inggris. Lalu, buat pemetaan. Lakukan belajar sesuai hobi, bermain games dan lainnya. Bisa juga mengajar sebagaimana ia lakukan sewaktu masih kuliah di S 1. Jika mau master bahasa inggris, ajarkan pada orang lain. Dan berdiskusi lah dan melatih kepercayaan diri untuk berbicara.

    Sementara itu, sebelum acara ditutup, Andi Ayu Cahyani yang merupakan Kepala Bidang Sumber Daya Pariwisata di Dinas Pariwisata Bulukumba menanyakan perlunya sebuah club untuk melatih speaking (bicara) orang-orang dewasa di Bulukumba. Menurutnya usulan ini telah sampaikan pada Mr. Nain di Rumah Belajar dan ia mengharapkan dapat segera terwujud. Anita menanggapi bahwa club demikian memang sangat perlu dibuat. Ia menambahkan, dirinya juga berasal dari Bulukumba dan akan senang hati untuk turut hadir dalam kegiatan club praktek speaking tersebut bila pulang kampung.

    Sedangkan peserta bernama Nurailah Islamiyah menyampaikan rasa senangnya pertemuan ini dengan mengatakan, “Thank you so much for your questions and lessons. The questions are really difficult but very fun.” Hal ini langsung ditanggapi oleh Anita melalui support dengan mengatakan, “But you can do and anwer my questions.”

    Rencana Pembentukan English Practice Club

    Sehari setelah acara, tepatnya Selasa 23 Februari 2021, Andi Ayu Cahyani dan Andi Aryono dari Dinas Pariwisata Bulukumba dan Zulkarnain Patwa dari Rumah Belajar Bersama menindaklanjuti gagasan di atas. Dari hasil pembicaraan tersebut disepakati sebuah group di WA (WhatsAp) bernama English Practice Club dan mengundang berbagai macam rekan yang ingin mengasah kemampuan berbahasa Inggrisnya. Respon peserta group sangat semarak dimana semuanya langsung berkomentar berbahasa inggris. Ena Surtini mengatakan, “This is an honour that you have invited me in this group. I hope this community is a way to increase our ability to speak English more fluently with English meeting activities direct or discuss by zoom meeting.” Sedangkan Adhy Alfayed mengatakan, “We plan a meeting once a week for pronouniciation practice and conversation.” Moci membalas, “Sounds great!” dan seterusnya. Rencana pertemuan akan diadakan minimal sekali dalam seminggu.

    Study Club untuk Me-review Pelajaran

    Sedangkan beberapa pelajar yang belum meraih nilai maksimal kini telah melakukan 2 kali study club untuk menyelamatkan sesama rekan kelasnya agar mampu lulus ujian dan tidak tereleminasi dari kelas malam di Rumah Belajar Bersama.

    Adalah Rifa’atul Mahmudah (Panggilan; Ulfa) dan Nuraila Ilamiyah (Panggilan; Lalla) yang beriniastif membantu teman temannya dengan mengadakan study club mandiri. Kendala yang ditemukan dalam menghadapi soal yaitu:

    1. Mengartikan kalimat terlebih dahulu padahal cukup memperhatikan strukturnya.
    2. Mereka kaget karena terdapat kalimat passif tanpa objek.
    3. Terdapat kalimat passif tanpa preposisi (kata depan) “by”
    4. Menentukan perubahan kalimat dari aktif ke passif.

    Contoh:
    My father is reading a newspaper in the living room.
    Pilihan:
    A. Newspaper was read by my father.
    B. Newspaper was read by my father in the living room.
    C. Newspaper is being read by my father in the living room.
    D. Newspaper was being read by my father in the living room.

    Menurut Ulfa bahwa teman temannya tahu bahwa itu semua pilihan jawaban kalimat tersebut adalah passive namun mereka kebingunan harus memilih yang mana. Seandainya mereka mengerjakan latihan buku Fundamentals of English Grammar karya Betty Scrampfer Azar, tentu akan mudah menjawabnya karena kalimat aktif present progressive tersebut meminta diubah ke kalimat passive pada present progressive juga. Hal ini akan menguatkan pemahaman karena meskipun terdapat soal modal auxilary yang belum dipelajari, pasti bisa dianalisa.

    Untungnya 2 kali study club yang baru saja mereka laksanakn telah sangat membantu menyelesaikan permasalahan di atas. Pemantapan dilakukan secara terlulis dan oral (lisan) dan ditanya satu persatu oleh Ulfa dan Lalla hingga benar-benar paham struktur secara tuntas dan sanggup menjawab. Munurut Ulfa, rekan-rekanya kini sudah punya kesiapan untuk menghadapi ujian nantinya namun mereka semua masih perlu juga banyak membaca buku berbahasa inggris untuk minimal menambah kosa kata asing sehingga mereka lebih mengerti makna yang membuatnya tidak mudah “terkecoh” dengan soal.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Pertanian Alami (2). Ruang Berbagi Ilmu Pertanian

    Pertanian Alami (2). Ruang Berbagi Ilmu Pertanian

    Untuk masa yang akan datang yang entah sampai kapan, saya berharap bisa berbagi, bercerita tentang Pertanian Alami. Sudah banyak informasi, foto dan lain-lainnya tentang Pertanian Alami. Beberapa orang kawan berkesempatan untuk berkunjung dan bertemu dengan kawan petani alami di Salassae dan di tempat lain dan sebahagian besar hanya berkesempatan bertemu di media sosial.

    Bagi yang belum pernah ke Salassae, bertemu dan berdiskusi bersama dengan Petani Alami, melalui diskusi melalui dinding Facebook ini, kita bisa berbagi terutama tentang tujuan, mimpi dan cita-cita serta sedikit hal teknis penerapan Pertanian Alami.

    Tentu informasi yang akan muncul di posting-an Facebook ini sangat sedikit dibandingkan dengan informasi yang sudah pernah beredar sebelumnya di laman-laman lain, group publik maupun group rahasia.

    Tujuan dari penggunaan dinding ini untuk pembahasan Pertanian Alami antara lain ;
    1. Kawan-kawan yang punya minat untuk menyebarluaskan pertanian alami dapat bertambah semangatnya.
    2). Bagi yang memiliki pengetahuan dan pengalaman berbeda juga dapat menyumbangkan pengetahuan dan pengalamannya di sini.
    3). Bagi yang ingin ke Salassae dan memiliki tambahan hasrat … ..
    4). Yang belum bertani alami dan masih mengandalkan pertanian kimia, bisa terbuka pikirannya bahwa pertanian kimia adalah bentuk penghancuran kehidupan.
    5). Saya berharap kita bisa menyatukan pemahaman, menyatukan langkah untuk membangun komunitas pertanian alami di lingkungan kita masing-masing.

    Saya membicarakan pertanian alami, bukan karena saya ahli pertanian. Secara formal saya keluaran Universitas Tadulako Palu-Sulawesi Tengah pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Saya juga pernah kuliah di Universitas Muhammadiyah Makassar, Fakultas Keguruan dan Universitas Muhammadiyah Palu, Fakultas Hukum. Kuliah di 3 (tiga) Universitas yang tidak ada kaitannya dengan Pertanian. Tapi pada Universitas tersebut, terutama saat kuliah di Palu, di kampus dan di luar kampus bertemu dan belajar pada guru bernama Anto Sangadji dan Almarhum Haedar Laudjeng tentang pengorganisasian rakyat yang mendidik kami untuk peduli dan menerjemahkan kepedulian dalam bentuk gerakan. Pesan utamanya, “Jangan simpan kepedulian dalam hati!”

    Kembali pada Pertanian Alami, saya mengenal Pertanian Alami di Yayasan Bina Desa, diajar oleh LNB, Ika Krishnayanti, John Erryson, Nanang Hari, Dwi Astuti, Tsanil Anwar Yasfin
    dan Nining Erlina Fitri dan lain-lainnya. Sejak pertama kali mengenalnya, saya meyakini bahwa ini benih perubahan yang apabila dipelihara dan ditumbuhkan dia akan menjadi Pohon Besar yang rindang memberi kesejukan pada kehidupan, alam, lingkungan sosial dan hubungan antar sesama makhluk.

    Sekali lagi saya akan berbagi dan membuka ruang diskusi tentang Pertanian Alami bukan karena memiliki pengetahuan yang memadai melainkan karena harapan padanya. Harapan bahwa kehidupan akan lebih baik apabila lebih banyak orang bergerak pada Pertanian Alami. Saya ingin berbagi dalam keadaan berkekurangan.

    Apa yang akan kita bahas ? Sebenarnya pembahasan kita kurang lebih akan mencakup;
    1). Ragam Cara Pandang Terhadap Dunia Pertanian.
    2). Pengorganisasian Komunitas Petani. Termasuk pengorganisasian Konsumen Produk Pertanian Alami
    3). Teknis Pertanian Alami .
    4). Kerja sama perluasan praktik Pertanian Alami.
    5). Tema Khusus tentang Perubahan Iklim dan Pertanian Alami.
    6). Reform Agraria dan Pertanian Alami .
    7). Pendidikan Publik Pertanian Alami .
    8). Pendidikan Pertanian Alami untuk Anak.
    9). Revolusi Hijau (sambil tunggu gurunya, mudah-mudahan muncul).
    10). SARI BAMBU—Sumber Energi Siang dan Malam.
    11). Petani Alami Salassae.

    Mungkin materi di atas sangat sedikit. Tapi apa boleh buat, isi kepalaku memang sedikit. Sehingga berharap kawan-kawan lain akan membantu berbagi dan memberinya tambahan kualitas. Saya tahu banyak orang memiliki pengetahuan yang mumpuni tentang pertanian dan strategi penyebaran maupun bisnis produknya. Saya berharap bisa terhubung dan berguru pada mereka.

    Dan satu lagi materi yang akan saya sampaikan nanti adalah tentang Solusi Penjaga Sungai . Proyek ini dirancang untuk menjangkau jutaan orang tentang Pertanian Alami. Insya Allah.

    Armin Salassa
    * Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di media sosial pada 17 Januari 2021.

  • Pertanian Alami (1)

    Pertanian Alami (1)

    Kita harus bersyukur bahwa tanaman “sebagai mahluk” tidak dilengkapi dengan kemampuan marah dan kemampuan berteriak ketika disakiti oleh mahluk lain. Tanaman adalah mahluk yang paling pasrah yang diciptakan Ilahi Rabbi.

    Bayangkan betapa gaduhnya dapur kita apabila kangkung berteriak karena dipotong-potong , dicincang saat hendak ditumis. Atau bisakah kita bayangkan kemarahan rumput saat dia diinjak atau diracuni?

    Tanaman adalah mahluk yang paling pasrah yang diciptakan Tuhan. Pasrahnya 100 %.

    Armin Salassa
    * Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di media sosial pada 16 Januari 2021.

  • Bagaimana Cara Belajar dan Mengajar di Luar Negeri?

    Bagaimana Cara Belajar dan Mengajar di Luar Negeri?

    Bulukumba, RBB (31/1)—Dalam upaya turut mendukung dan memotivasi pelajar Indonesia mengenal lebih jauh manfaat berbahasa Inggris, Rumah Belajar Bersama (RBB) baru baru ini telah 3 x (Tiga kali) mengadakan live (siaran langsung), baik via fb, google meet dan atau zoom. 2 meeting (pertemuan) adalah latihan dan ujian oral (lisan) tense yang mewajibkan pelajar RBB menguasai tense di luar kepala dimana pengujinya adalah Agustina Dewi dari Bamboo Academy, Blitar, Jatim dan 1 meeting tentang Pendidikan di Jerman yang diisi oleh Cita Denni, alumni Europa-Universität Viadrina, Jurusan European Studies di Jerman dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jurusan Hubungan Internasional.

    Nurlaeli Hidayanti saat memberikan pelatihan TOEFL (Test of English As a Foreign Language kepada para pelajar Bulukumba pada 2019.

    Sedangkan pada meeting yang akan dilaksanakan pada Senin, 1 Februari 2021 dari pukul 20.00–21.00 Wita, diskusi berbahasa Inggris akan diisi oleh Nurlaeli Hidayanti. Ia saat ini sabagai Indonesian Intructor di Indiana University, Bloomington. South Asian and ASEAN Studies Program, United Sates. Pendidikan S 1 ia tamatkan di UIN (Universitas Islam Negeri) Alauddin, Makasar dan S 2 di Universitas Hasanuddin, Makassar.

    Nurlaeli Hidayanti yang turut mendukung memajukan pendidikan anak anak daerah dengan mengajarkan Basic English Grammar di Bulukumba pada 2020.

    Leli, panggilan akrab Nurlaeli Hidayanti, akan menginspirasi para pelajar Indonesia yang untuk berpikir bahwa bahasa inggris dapat dimanfaatkan lebih berguna, termasuk bila ingin menjadikan bahasa asing sebagai alat untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Untuk itu, kita mengangkat tema How to Study and Teach in United States (Bagaimana cara Belajar dan Mengajar di Amerika Serikat).  Kata “Mengajar” dimasukkan karena saat ini Leli sedang mendidik para pelajar asing dari berbagai macam negara untuk belajar berbahasa Indonesia dengan menggunakan penjelasan dalam bahasa Inggris.

    Para peserta meeting nantinya diharapkan dapat menyampaikan berbagai macam pertanyaan agar selain sharing (berbagi) pengetahuan dapat lebih mudah berkembang. Leli yang tipikalnya bersahabat tentu degan senang hati akan menjelaskan pengetahuan dan pengalaman berharganya sehingga target dari tema tersebut dapat tercapai.

    Nurlaeli Hidayanti saat menjadi relawan pengajar dalam mendidik masyarakat kawasan wisata pantai Bira untuk aktif berbahasa Inggris. Saat itu terdapat 3 orang tamu dari Spanyol yang praktek berbahasa Inggris depan para pelajar. Kelas tersebut dipandu oleh Leli.
    Sumber Foto: Nurlaeli Hidayanti pada 2019 di Bira.

    Silahkan gabung di zoom: https://iu.zoom.us/j/83071347659 dengan Meeting ID: 830 7134 7659

    Zulkarnain Patwa
    Staff Rumah Belajar Bersama

  • Berbagi Skill Bahasa Inggris dan Jerman dengan Cita Denni

    Berbagi Skill Bahasa Inggris dan Jerman dengan Cita Denni

    RBB, Bulukumba (26/1)—Kepedulian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan itu dapat dikembangkan berbagai macam cara. Dan khusus pada pelajaran Bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama (RBB), setelah para pelajarnya pada kelas malam dilatih memahami 124 perubahan tense di luar kepala, kini mereka beroleh kesempatan mengaplikasikan ilmunya dengan berdialog dalam bahasa Inggris dengan orang-orang yang dapat menginspirasinya untuk belajar lebih tekun lagi.

    Adalah Cita Denni kali ini yang berkenan berdiskusi melalui google meet yang bisa ditemui di https://meet.google.com/qwy-whrr-iwk pada 27 Januari 2021, Rabu malam, tepatnya pukul 20.00 -21.00 Wita. Cita adalah seorang master alumnus Europa-Universität Viadrina di Jerman, jurusan European Studies. Pendidikan tersebut ia lanjutkan setelah menamatkan diri di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

    Karena dibuka ke publik, tiap orang yang ingin berbahasa Inggris dan Jerman diperkenankan untuk bergabung. Adapun pembahasannya menyangkut tentang pendidikan, wisata, budaya dan lainnya yang tujuannya agar selain menambah skill (keahlian) berbahasa asing, sharing (berbagi) wawasan dapat terjadi agar menambah keingintahuan terhadap perkembangan dunia luar, terutama di Eropa sana.

    Kesediaan Cita berbagi ilmu ini karena ia memang peduli perkembangan pada kemajuan pendidikan para pelajar Indonesia. Ia pun sering melihat aktifitas pendidikan RBB dan turut menonton ujian oral (lisan) perubahan tense yang ditayangkan secara live (siaran langsung) di facebook RBB baru baru ini dimana pengujinya adalah Agustina Dewi—Pendiri Bamboo Academy di Jawa Timur dan juga ex pengajar SMART ILC, Kampung Inggris Pare, Jawa Timur. Ia sangat mengapresiasi semangat para pelajar dalam menjawab berbagai macam soal.

    Setelah ujian, para pelajar yang mengetahui bahwa mereka akan praktek berbahasa asing dengan Cita segera membaca berbagai macam literatur dan menonton berbagai macam hal tentang Jerman. Di ruang kelas, mereka membahas dan membuat berbagai macam soal yang menarik untuk ia tanyakan nantinya. Beberapa diantaranya membuat pertanyaan dengan diksi (pilihan kata) yang mereka buat sendiri, ada bertanya ke translator hp dan ada pula yang bertanya ke guru kelasnya.

    Hal yang mengggembirakan yang dapat kita petik adalah bahwa mereka telah mampu menjadikan bahasa sebagai alat untuk menambah pengetahuan.

    Semoga kegiatan ini dapat mendorong para pelajar Indonesia untuk tertarik belajar bahasa asing. Bila perlu, kuliah ke luar negeri juga sebagaimana yang pernah dialami Cita Denni.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

     

  • Mengalihkan Perhatian Ayla dari Games ke Belajar dan Olah Raga

    Mengalihkan Perhatian Ayla dari Games ke Belajar dan Olah Raga

    RBB, Bulukumba(26/1)— Seperti halnya kebanyakan kids zaman now, Nabila Alamanda adalah anak yang selalu ceria dengan games anroid. Betapa pun sangat dibatasi, ia selalu ada trik untuk memegang hp dengan menanti orang tuanya lengah atau tidur. Dengan kecerdikannya itu, jadilah ia seorang gamer.

    Pada 2020, Ayla, panggilan akrab Nabila Alamanda, telah naik kelas 5 SD tapi belum menguasai di luar kepala dasar-dasar perkalian 1 sampai 9 di luar kepala. Ibunya, Fatmawati Patwa, langsung turun tangan memperketat penggunaan anroid dan memberikan kelas tambahan Matematika di rumah. Fatma mengatakan, “3 orang kakaknya sewaktu kelas 1 dan 2 sudah paham perkalian. Ayla akan sulit mengikuti jejak kakak-kakaknya untuk bersekolah di pesantren Gontor bila tidak diberikan pelajaran ekstra. Ujian masuk Gontor itu selain bisa Qur’an, doa-doa harian dan Imla’  (menulis dalam bahasa Arab), matematika dasar harus tuntas. Fatma melanjutkan, “Bahasa Inggris juga sangat penting untuk pergaulan internasionalnya di masa akan datang.”

    Nabila Alamanda bersama rekan-rekannya di kelas Bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama (RBB) pada 2021

    Dengan memanfaatkan situasi Corana dimana sekolah masih tidak buka, Ayla kemudian diintensifkan belajar pagi, sore dan malam di Rumah Belajar Bersama (RBB) untuk mendalami Matematika dan Bahasa Inggris. Dengan pengaturan jadwal yang baik, ia dapat mengikuti  7 sampai 9 kelas belajar dalam seminggu. Sedangkan aktifitas mengajinya, ia tetap melanjutkan pelajarannya di Ustadzah Murni Lehong, guru dimana semua kakak Ayla belajar hingga lulus pesantren ternama tersebut.  Dan untuk lebih  mempermantap, ayah Ayla bernama Ust. Patahuddin, Lc yang merupakan alumnus Al Azhar di Mesir selalu menanyakan di rumah pelajaran yang ia telah pelajari di tempat mengaji dan sekaligus menambahkan ilmu-ilmu agama yang penting ukuran anak-anak.

    Selain seluruh aktifitas di atas, Ayla yang aktif bergerak hobby berolah raga masih menyempatkkan diri mengikuti Karate dengan jadwal latihan 2 x seminggu di Kodim 1411 Bulukumba dan sekitar 3 x seminggu pergi berenang ke laut di daerah pasar Cekkeng atau Bira bersama orang tuanya.

    Latihan Karate Nabila Alamanda di Kodim 1411 Bulukumba, Sul-Sel.

    Kepadatan aktitifas Ayla tersebut cukup efektif mengurangi kegiatannya bermain games di anroid. Sebagai pengalihan perhatian yang lain, pergaulannya bersama anak-anak tetangga ditingkatkan agar dunia bermain semasa ia anak anak tidak hilang.

    Efek dari latihan Karate yang membuat Nabila Alamanda rajin berolah raga di rumahnya.
    Sumber foto: Fatmawati Patwa

    Saat ditanya, “Apakah Ayla enjoy (baca; senang) dengan segala aktivitasnya yang serba padat sekarang ini?”  Ia dengan santai menjawab, “Enjoy lah. Saya suka pergi belajar karena bisa dapat teman baru cuma tidak suka saja kalau soalnya susah-susah. Kalau olah raga, itu kan kesukaanku.  I like go swimming and Karate,” katanya.

    Begitulah desain orang tua Ayla dalam mendidik anak bungsunya agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat semasa kecil yang diharapkan dapat menjadi bekal untuk bersekolah di sekolah dan kampus yang berkwalitas nantinya. Terus belajar dan olah raga Ayla. Good luck!

    Zulkarnain Patwa
    Staff Rumah Belajar Bersama

  • Bhs. Inggris: Ujian Oral Tense secara Terbuka Sukses

    Bhs. Inggris: Ujian Oral Tense secara Terbuka Sukses

    Bulukumba, RBB (23/01)–Dalam mempelajari memahami perubahan kalimat berbahasa Inggris, yang terpenting dipelajari adalah adalah tense ( Baca: waktu). Kerumitan dari para pelajar Indonesia memahami tense karena dalam bahasa Indonesia tidak terdapat perubahan kata kerja sementara dalam bahasa Inggris terdapat perubahan kata kerja yang disesuaikan dengan waktu kejadian.

    Untuk memudahkan mengerti grammar (tata bahasa) Inggris, Rumah Belajar Bersama (RBB), khususnya pada kelas di malam hari, kini mewajibkan para pelajarnya untuk menguasai 124 perubahan tense yang disertai nonprogressives dan certain adjectives di luar kepala. Sebagai pembuktian kwalitas, RBB mengundang Agustina Dewi—Pendiri Bamboo Academy di Blitar, Jawa Timur dan juga Ex pengajar SMART International Language Colege di Kampung Inggris Pare, Jawa Timur (salah satu lembaga kursus terbaik di kampung Inggris)—guna memberikan ujian oral (lisan) tense secara online dan secara terbuka dapat disaksikan secara live (siaran langsung) di facebook pada Jum’at, 22 Januari 2021.

    Dari 7 pelajar dikategorikan layak ikut ujian, hanya 6 yang hadir karena seorang dari mereka sakit. Saat ujian, tiap pelajar maju satu persatu diuji dan mendapatkan 5 (lima) soal perubahan tense yang tergolong rumit karena terdapat jebakan pada verbal tense dan nominal tense. Beruntung, mereka telah dibekali latihan banyak soal tulisan dan oral sehingga meskipun nervous (gugup), mereka masih mampu menjawab dengan baik.

    Bagi orang yang mengerti bahasa Inggris dan mengikuti siaran langsung tersebut, sebenarnya tidak semua pelajar mampu menjawab dengan sempurna. 2 (dua) orang masuk dalam jebakan perangkap. Namun setelah Tina mengamati dengan teliti, ia memberikan apresiasi dengan menyatakan bahwa mereka sudah memahami struktur tense dan hanya perlu lebih banyak latihan lagi. Pemantapannya dapat dilakukan pada materi passive ke active ataupun active ke passive. Jadi Tina berkesimpulan bahwa semuanya lulus ujian oral tense. Keputusan tersebut disambut meriah sebagai tanda kebahagiaan bersama meraih kesuksesan setelah melalui proses belajar yang panjang.

    Berikutnya, agar tidak tereliminasi dari RBB, satu tahapan ujian lagi yang mereka harus lalui yaitu ujian tulisan. Bila mereka lulus, materi grammar selanjutnya akan jauh lebih mudah dijelaskan dan dipahami.

    Adapun untuk pengembangan reading (bacaan), para pelajar tersebut telah menamatkan 2 buku L. G. Alexander, penulis dari Inggris, berjudul Question and Answer dan Practice and Proggress.  Dan untuk speaking (berbicara), dalam waktu terdekat ini, tepatnya pada Rabu, 27 Januari 2020. Mereka akan berdialog dengan Cita Denni, seorang rekan RBB yang pernah kuliah di  Europa-Universität Viadrina, Jerman. Para alumnus RBB dapat bergabung. Info selanjutnya akan kita sampaikan di media sosial.

    Zulkarnain Patwa
    Staff Rumah Belajar Bersama