Kategori: Program

Program dan mata pelajaran dari Rumah Belajar Bersama

  • (Tidak) Takut

    (Tidak) Takut

    Saya ingin terus jadi anak-anak saja, tidak mau besar (baca:dewasa)”, kata seorang anak. “Kenapa?”, tanya guru. “Orang besar suka marah-marah”, jawabnya sambil bermain. “Kalau saya besar nanti, saya nanti marah-marah juga”, tambahnya.

    Penolakan ini karena ia bahagia dengan dunianya. Kita pun tidak perlu menghakimi, menyalahkan pikirannya. Itulah kemampuan berpikirnya. Ketika mereka sudah mampu membaca keadaan di sekitarnya, itu tanda bahwa Mereka menggunakan otaknya untuk berkembang.

    Yang perlu kita tindak lanjuti adalah mengikuti alur berpikirnya dan memberikan pertanyaan yang mampu mereka cerna. Misal, pernah lihat orang besar tidak marah marah? Atau memberikan contoh orang dewasa yang mereka kenali yang tidak suka marah-marah. Selangkah lebih maju, kita buat mereka bertanya, bukan menjawab karena dengan rajin bertanya,.mereka bisa belajar sepanjang hidupnya.

    B. J. Habibie, penemu keseimbangan pesawat terbang, mengkisahkan masa kecilnya yang ingin tahu banyak hal. Ia sangat rajin bertanya kepada keluarga dan orang-orang yang dikenalnya hingga orang-orang bosan. Pada akhirnya ia diberikan buku-buku untuk menjawab rasa penasarannya. Di kemudian hari, Habibie dikenal dunia internasional sebagai manusia jenius dan sekaligus mantan Presiden Indonesia yang berhasil menyelesaikan krisis ekonomi dan perpecahan bangsa pasca reformasi 1998.

    Contoh lain yang dapat kita jadikan inspirasi adalah Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela. Novel Jepang ini mengkisahkan anak kecil yang ditafsirkan nakal sehingga harus pindah sekolah. Di sekolah yang barunya yang memanfaatkan gerbong kereta bekas sebagai kelas, Kepala Sekolah Sosaku Kobayashi sangat perhatian, bersedia mendengarkan cerita Totto Chan selama berjam-jam. Totto Chan sangat bahagia bersekolah. Novel diangkat dari kisah nyata kehidupan sang penulis, Tetsuko Kuroyanagi mendunia dan menjadi rujukan tentang sekolah yang menyenangkan.

    Anak-anak sejatinya tidak bisa menolak untuk tumbuh menjadi dewasa. Itu ungkapan protes saja atas dunianya yang tidak bisa berbuat apa-apa atas ketidaknyamanan yang pernah dialaminya. Yang mereka inginkan adalah dunia masa kecilnya yang penuh keceriaan dipahami dan tidak diganggu oleh orang dewasa. Mari kita menyayangi mereka seperti kehidupan Totto Chan, Habibie, atau cara kita sendiri yang membuatnya bangga tumbuh menjadi dewasa.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 1 Juni 2026

  • Bahasa Asing Lumpuh di Kawasan Wisata Bulukumba?

    Bahasa Asing Lumpuh di Kawasan Wisata Bulukumba?

    Bulukumba itu sangat kaya akan potensi sumber daya manusia. Anak anak ramai di RBB (Rumah Belajar Bersama) ini bergembira belajar Bahasa Inggris dengan wisatawan mancanegara. Ratusan tamu asing dari berbagai macam latar belakang telah sering berkunjung ke RBB. Kenapa mereka mau ke kota Bulukumba? Alasan yang paling berkesan adalah karena mereka peduli pada pendidikan dan ingin mengenal dan berkomunikasi dengan penduduk lokal.

    Lalu, kenapa di daerah wisata Bulukumba seperti Tanah Beru, Lemo-Lemo, Ara, Dato Tiro di Hila-Hila dan Amma Toa di Kajang dan lainnya tidak dibangun pusat pembelajaran bahasa asing? Wisatawan mancanegara itu
    seringkali mengeluhkan kurangnya kemampuan orang lokal yang bisa berbicara bahasa internasional sedikitnya Bahasa Inggris. Mereka tidak tahu bertanya kepada siapa terhadap informasi lebih lanjut pada tempat yang mereka ketahui dari media sosial.

    Coba perhatikan Borobudur, Prambanan dan Bali. Wow kan! Masyarakat di kawasan wisata melayani tamu dengan bahasa asing, lapangan kerja tercipta. Kemampuannya bukan hanya Bahasa Inggris tapi Perancis, Belanda, Jerman dan banyak lagi. Para turis itu jadi nyaman menanyakan banyak hal dan memperoleh informasi yang mereka butuhkan. Nuansa wisatanya benar-benar hidup.

    Ya, itu karena pemerintahnya punya perhatian ditambah anak muda-mudinya sadar, mau belajar diberikan fasilitas. Kombinasi yang apik antara pemerintah dan pelaku wisata. Penduduk lokal kemudian itu punya perhatian lebih ke pariwisata karena mereka juga memperoleh dampak ekonomi, tidak sekedar jadi penonton.

    Para pemuda-pemudi yang mengerti asing yang berada di kawasan wisata sebaiknya membuat pelatihan, kursus, atau apalah namanya untuk mendidik orang-orang di sekitarnya. Tidak usah menunggu bantuan dari X, Y dan Z. Mulai saja. Itu pasti berkembang mengingat selain pembelajaran dari guru lokal, wisatawan mancanegara yang silih berganti datang sepanjang tahun bisa dimanfaatkan untuk diundang mengajar sehari berbagi ilmu kepada para pelajar.

    Kalau kalian yang pintar-pintar itu tidak memulai, siapa lagi yang mau diharapkan? Jika punya jawaban, silahkan tindak lanjuti. Bila, tidak, berbuatlah. Intinya, kemajuan itu harus berdasarkan kualitas sumber daya manusia karena hanya otak yang cerdas dapat mengelola sumber daya alam untuk kemakmuran masyarakat di daerah wisata tersebut.

    Apa yang ada, sudah cukup untuk memulai, kata Mohamad Natsir. Mulailah dari hal yang terkecil. Apa lagi pepatah orang dulu itu? Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit. Asalkan konsisten, pasti bisa sukses. Lagi pula, kalian tidak sendiri. Silahkan menggandeng RBB atau lembaga apapun yang terpercaya untuk melakukan percepatan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia khususnya di Bulukumba.

    Atau apakah kita sudah lumpuh?

    Zulkarnain Patwa
    Minggu, 31 Mei 2026

  • Ide Mulia, Waktu Sekarat

    Ide Mulia, Waktu Sekarat

    Bisakah seluruh tenses itu diajarkan dan dipahamkan di luar kepala pada anak SD dan SMP? Pasti bisa. Sekolah punya sejumlah besar guru sarjana yang berkualitas lolos verifikasi standar pemerintah. Kenapa tenses penting? Karena tenses adalah hal yang paling mendasar untuk mengetahui perubahan kalimat berdasarkan waktu dan kejadian atau kondisi. Tanpanya, para pelajar tidak tahu apa itu kalimat dalam Bahasa Inggris.

    Lalu, kalau itu penting, kenapa tidak diajarkan secara detail saja? Karena kurikulum sekolah baik Merdeka ataupun K 13 tidak lagi mengarah ke situ. Abdul Mu’ti, Kemendignasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah), memberikan penekanan ke speaking (bicara) yang menurutnya sebagai persiapan untuk mencetak generasi produktif, adaptif dan berdaya saing global.

    Dua orang anak sekolah yang sedang berjuang memahami tenses di luar kepala.

    Tetapi ingat, Bahasa Inggris itu cuma diajarkan sekali dalam seminggu: SD sebanyak 70 menit dan SMP sebanyak 120 menit. Waktu yang sungguh tidak seimbang untuk membumikan ide besar yang mulia itu.

    Inilah letak persoalannya. Pemerintah mau mencetak pelajar Indonesia punya daya saing tapi waktu belajar yang sangat terbatas. Untuk anak SD, membuang tenses mungkin dapat diterima dengan alasan untuk membangun keberanian berbicara dan pronunciation (pengucapan). Tapi kenapa di SMP dan SMA tidak diterapkan? Secara tidak langsung, pemerintah membiarkan pelajar tidak mampu menjawab soal-soal esai yang membutuhkan pemahaman akurasi struktur grammar (tata bahasa). Pada tahapan inilah, tenses wajib dimengerti untuk bisa menjawab kalimat.

    Praktik penguasaan tenses di luar kepala menggunakan kotak kosong oleh Titania Noor Ilmi, pelajar kelas 1 SMP. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama, Jum’at 29 Mei 2026.

    Teori Piaget mengatakan kapasitas anak SD berusia 7 sampai 12 tahun masih dalam tahap operasional kongkrit. Dalam artian, tenses yang penuh dengan rumus-rumus memaksa pelajar berpikir abstrak, logis atau matematis beresiko membuat bahasa Inggris jadi kaku, menakutkan dan benci Bahasa Inggris sejak masa kecil. Ini sungguh meremehkan kapasitas murid berbakat dan kreativitas guru. Pembelajaran tenses itu bisa sangat menyenangkan dengan alat peraga kotak kosong tenses tanpa rumus yang diajarkan dalam bentuk permainan, tulisan untuk mengikat makna dan percakapan. Ini malahan memperkuat anak-anak mampu berlogika melalui pendekatan bahasa.

    Zhah Noor Aisyah kelas 4 SD sedang berusaha memahami cara memahami tenses di luar kepala dengan memperhatikan kotak kosong tenses. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama pada Jum’at 29 Mei 2026.

    Zhah Noor Aisyah anak kelas 4 SD dan Titania Noor Ilmi kelas 1 SMP adalah bukti potensi pelajar Indonesia di daerah yang sanggup melakukan itu. Anak anak SD dan SMP lainnya yang sudah punya vocabularies (kosa-kata) dan akrab dengan Bahasa Inggris justru lebih bisa berbicara lebih teratur dan terarah. Mereka tahu kapan menggunakan kalimat present past dan future (saat ini, lampau dan akan datang). Kemampuannya tidak berhenti sampai di situ saja. Seluruh perubahan kalimat mencakup pernyataan positif, pertanyaan positif, pernyataan negatif dan pertanyaan negatif mampu dipraktekkan. Hasilnya, mereka jauh lebih mudah membaca dan mengerti teks buku kurikulum sekolah.

    Ayahnya Tita dan Zhah yang sedang menjamu tamu asing dari NGO Belanda membahas tentang penanganan penyakit lepra. Dari kesadaran orang tua, kedua anak bersaudara tersebut dapat meluangkan banyak waktunya untuk ikut belajar Bahasa Inggris di pendidikan alternatif.

    Akibat pembiaran semasa SD dan SMP, pelajar SMA harus menanggung beban lebih berat karena pelajarannya pasti lebih rumit.Mereka seharusnya tidak lagi belajar tenses tapi pada kenyataannya, tidak demikian. Tidak ada penambahan jam belajar, 120 menit pada Kurikulum Merdeka seperti di SMP dengan sekali pertemuan per minggu.

    Dengan memahami bahasa asing, mari menciptakan pergaulan dunia.

    Tanpa tenses, apakah ini cukup untuk menciptakan pelajar yang punya daya saing global? Apakah pemerintah perlu menambah jam belajar Bahasa Inggris sekolah? Bisakah soal beasiswa kuliah ke luar negeri yang isinya TOEFL atau IELTS itu didapatkan tanpa mengerti grammar? Silahkan menjawabnya.

    Zulkarnain Patwa
    Sabtu, 30 Mei 2026

  • Iqra Wajib Karena Manusia Malas?

    Iqra Wajib Karena Manusia Malas?

    Apakah perjuangan membumikan literasi telah membuahkan hasil? Mari kita simak pendapat anak-anak yang mengikuti kelas reading (membaca) pada kelas Bahasa Inggris.

    Untuk mengecek, seorang guru memberikan pertanyaan sederhana. “Apakah membaca itu perintah Mr. atau bukan?”

    Dengan cepat Faika menjawab, “Perintah Allah”.
    “Apa buktinya Faika?”, guru mengajak muridnya untuk berpikir.
    “Iqra itu artinya membaca” jawab Faika lugas. Sebenarnya sih, kata “iqra” adalah kalimat perintah yang berarti bacalah. Faika mengutip ajaran agama Islam yang ia hubungkan dengan pelajaran Inggrisnya.

    Anak-anak yang lainnya tahu arti iqra dan sepakat, tidak ada protes.

    “Okay, kalau begitu anak-anak”, guru melanjutkan. “Lalu, kenapa kita diperintahkan membaca?”

    Tiap anak punya pendapat sendiri. Alasan mereka adalah agar pintar, berilmu, bisa speaking (bicara) dengan orang asing dan reading text (teks bacaan).

    Ketika ditanya mengenai pengalaman pribadi, Nisa paling awal angkat tangan untuk mengutarakan pikirannya,
    “Saya pintar membaca Inggris dan Matematika di sekolah”, ungkapnya bangga.

    Faika, kelas 3 SD, berpendapat, “Kalau mau belajar Bahasa Inggris, orang harus pintar membaca dalam Bahasa Indonesia supaya tidak susah membaca dalam Bahasa Inggris”. Ia mengingat dirinya sewaktu TK sudah ingin belajar Bahasa Inggris. Itu pulalah yang membuatnya cepat lancar membaca.

    Nabila, kelas 3 SD, menyambung. “Saya jadi pintar. Sebelum saya masuk RBB (Rumah Belajar Bersama), kalau saya membaca kata “standing”, saya membacanya dengan standing, padahal, yang benar adalah stending”. Kata “good” saya baca “god”, terangnya sambil tertawa mengingat masa lalunya.

    Belva, kelas 4 SD, “Saya makin pintar di sekolah. Saya membaca dengan tidak mengeja lagi, tidak terbata-bata. Sekarang saya bisa membaca yang susah disebut.

    Gavino, kelas 3 SD, “Saya mendapatkan ilmu Inggris. Saya bisa membaca yang susah dibilang. Contohnya xzdxxdghb. Sekarang, Mrs. Robinson is in her garden”, katanya dengan penuh percaya diri.

    Penulis sadar bahwa literasi itu bukan urusan mudah karena iqra adalah perintah, hal yang wajib. Kenapa diwajibkan? Merujuk Cak Nun, karena Allah tahu bahwa manusia itu tidak suka. Dan ketika telah menjadi sebuah kewajiban, manusia mau tidak mau harus melakukannya.

    Beruntung, anak-anak ini sudah terbiasa membaca dan telah merasakan manfaatnya. Terkadang mereka bosan juga membaca tapi betapapun demikian, program ini tetap dijalankan. Kecerdasan mengelola kelas saja dalam mengemas kegiatan literasi ini melalui games (permainan) dibutuhkan agar semangat belajarnya tetap terjaga. Dan yang terpenting, games yang diberikan mesti mengandung edukasi, bukan sekedar permainan untuk menghabiskan waktu jam belajar.

    Sebenarnya, iqra bukan sebatas teks tertulis saja tetapi juga yang tidak tertulis. Iqra terhadap keadaan sosial manusia, alam semesta dan lain-lain Namun hal itu belum sempat dicerna baik oleh otak anak-anak. Karena mereka anak sekolah yang erat kaitannya dengan akademik, tidak ada salahnya menguatkan iqra pada pemahaman yang tertulis. Seiring waktu disertai perkembangan pemikiran, makna iqra secara lebih luas akan mereka mengerti. Sebab, pada akhirnya perjuangan membumikan literasi tidak berhenti setelah membuahkan hasil karena perjalanan belajar manusia itu sepanjang hayat hingga akhir masa.

    Zulkarnain Patwa
    Jum’at, 29 Mei 2026

  • Keliling Dunia dari Tempat Duduk

    Keliling Dunia dari Tempat Duduk

    Bisakah manusia mengenal dunia yang luas ini tanpa harus keliling dunia? Bisa. Tanamkan literasi, kebiasaan membaca. Cara paling mudah adalah memberikan bacaan yang berhubungan dengan kehidupan pembaca. Dengan demikian, ia pun akan menjelajah, mengetahui dunia luar.

    Seorang anak kelas 3 SD, Nabila, telah beberapa bulan belajar Bahasa Inggris. Keakrabannya dengan kosakata asing mengantarkannya pada buku berbahasa Inggris karya orang asing. Kisah-kisah yang diangkat pada buku itu menceritakan kejadian manusia di berbagai macam benua dengan menyebut negara-negara tempat terjadinya peristiwa. Wawasan Nabila terbuka lebar, tidak terbatas di Indonesia, dan pada saat yang sama, pemahaman bahasa Inggrisnya berkembang.

    Melalui literasi ini, pengetahuan akademik juga terasah. Terdapat pola pembelajaran tentang cara menjawab pada pola soal yang berbeda yang sesuai standar Bahasa Inggris, grammar (tata bahasa). Dari jawaban yang diberikan, guru dapat mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman pelajar dan melakukan pembimbingan lebih lanjut terhadap kelebihan dan kekurangan dari anak didiknya.

    Nabila baru saja menyelesaikan latihan cerita pada “He’s not an Artist” (Dia bukan seorang Pelukis). Pemetaan pada bentuk soal-soal Yes or No Questions, Choices, and Information Questions (Jawaban ya atau tidak, Pilihan, dan Pertanyaan informasi) telah tergambar baik dalam pikirannya karena ia mempraktikkan bacaan dengan suara nyaring segera setelah menjawab secara tertulis. Itu adalah strategi penggabungan kekuatan dari tulisan ke lisan.

    Kemudian, Nabila akan dipertemukan dengan orang-orang asing yang tidak berbahasa Indonesia. Percakapannya pasti menggunakan bahasa Inggris. Nabila punya kesempatan untuk memverifikasi hasil bacaannya tentang dunia luar, dan orang asing akan membutuhkan informasi tentang Indonesia. Hubungan timbal-balik positif ini akan terwujud. Pergaulan lintas negara dan benua pun tercipta di lingkungan belajarnya di Rumah Belajar Bersama.

    Zulkarnain Patwa
    Jum’at, 29 Mei 2026

  • Anak TK Ketagihan Membaca Buku Inggris

    Anak TK Ketagihan Membaca Buku Inggris

    Sehari setelah Idul Adha 1447 H./2026 M., RBB (Rumah Belajar Bersama) tetap buka meskipun tanggal merah (28/05/2026). Afwa anak TK berumur enam tahun datang belajar. Ibunya, Miss Uci, langsung masuk ke ruangan kelas Matematika untuk mengajar. Afwa tetap di depan teras untuk belajar Bahasa Inggris.

    “Main games, Mr.”, kata Afwa.
    “Ayo. Games apa?”, tanya guru.
    “Itu yang eye, eyeball, eyelash dan seterusnya” (mata, bola mata alis), lanjut Afwa.
    “Oh. Itu namanya Parts of the Body”, (Bagian-Bagian dari Tubuh), kata guru.

    Setelah latihan selama 10 menit, Afwa meminta untuk divideo secara live (siaran langsung). Keinginannya dipenuhi.

    Kemudian, ia bertanya, “Belajar apa lagi?”
    Sang guru mengajaknya membaca buku.
    “Saya tidak bawa tas”, katanya. Buku bacaan Inggrisnya biasanya ia taruh dalam tas.
    “Ambil saja di perpustakaan”, saran guru.

    Afwa masuk ke ruangan dan segera memperlihatkan buku yang ingin ia baca.

    Afwa membuka lesson (pelajaran) 43, 44, 45 dan 46. Cara membacanya dengan suara nyaring bagus, lebih banyak benar dengan sedikit kesalahan. Tapi kan, itu belum sempurna. Guru berinisiatif mengajarkan pronunciation (pengucapan) pada kesalahan kecil yang ia buat. Berkali-kali ia mengulangi lessons tersebut hingga sampai pada tingkat kesalahan dapat ditolerir dalam artian hampir sempurna.

    Sebagai tambahan, Afwa yang membaca dalam Bahasa Inggris itu dibantu memahami oleh gurunya dengan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia agar ia mengerti isi cerita.

    Pada sesi terakhir, pilihannya jatuh pada lesson 20 karena lesson itu bisa disertai ekspresi gerakan tubuh sambil bicara.

    Kelas sore Afwa pun selesai. Miss Uci yang telah selesai mengajar menanti kepulangan anaknya, Afwa. Karena guru Matematika tersebut akan mengajar lagi di malam hari, Afwa tentunya juga mau datang.

    “Nanti malam, Afwa ingin belajar Inggris lagi?”, tanya guru.
    “Iya”, ungkapnya sembari tersenyum. “Nanti malam, saya mau membaca lagi, Mr.”, terangnya sambil pamit pulang bersama ibunya.

    Dari proses belajar di atas, Afwa yang masih TK itu sudah mampu berpikir bahwa belajar adalah literasi (membaca). Dan itulah yang sedang dan terus diperjuangkan oleh RBB dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kenapa? Karena dengan membaca, para pelajar bisa belajar dimanapun; Di Rumah Belajar ataupun di rumahnya sendiri tanpa perlu terpengaruh oleh tanggal merah.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 28 Mei 2026

  • Melawan Candu Smartphone

    Melawan Candu Smartphone

    Apple terkenal dengan kecanggihan teknologi smartphone. Steve Jobs, think tank sekaligus pendiri Apple, berdalih bahwa ia sengaja tidak memberikan smartphone kepada anaknya dengan alasan agar tidak merampas masa kecilnya. Ia tidak menjelaskan betapa besarnya bahaya yang ditimbulkan dari efek dampak psikologis kepada otak anak.

    Coba kita perhatikan sebagian besar anak-anak yang memakai smartphone. Isinya games. Ternyata, masalah ini juga terjadi pada orang dewasa. Bila kita ke warkop ((warung kopi) tak jarang sekolompok manusia kita temui sibuk games dan bahkan hingga judi online dikemas dalam bentuk games. Waktu habis duduk di depan layar.

    Perubahan sosial apa yang kita harapkan dari generasi yang seperti itu? Sebagian orang berpikir, peduli amat. Itu urusan pribadi mereka. Sebagian lagi prihatin menyaksikan fenomena sosial yang mengubah cara hidup manusia zaman sekarang ini. Keprihatinannya itu mendorong untuk berbuat sesuatu.

    Dunia bermain anak harus kita dekatkan dengan permainan rakyat, memperbanyak interaksi sosial yang secara otomatis mengurangi jadwalnya dengan smartphone. Peran utama untuk mengelola pengaturan jadwal tersebut berada dalam tanggungjawab orang tua. Tapi tak jarang kita menemui alasan dimana orang tua merasa sibuk sehingga tidak punya cukup waktu untuk mengontrol anak-anaknya sehingga jalan singkat dengan memberikan smartphone sebagai solusi agar anak-anaknya tidak ngambek. Dan ya, anak-anak tidak bikin repot lagi bila keinginannya terhadap smartphone terpenuhi.

    Oh, justru dari situlah masalah besar dimulai. Anak-anak akan kecanduan games, menghabiskan waktu tanpa guna dan tidak perhatian lagi untuk mengisi bekal ilmu pengetahuan berharga yang mempengaruhi masa depannya. Kalaupun ada, keinginan belajar dan memorinya sangat pendek. Kenapa? Anak yang kecanduan tidak memikirkan lagi selain games. Belajar adalah musuh karena merebut waktunya untuk bersenang-senang. Titik.

    Rantai masalah ini harus diputus, tidak peduli apapun resikonya. Bila tidak berani bersikap dari sekarang, masalah yang jauh lebih besar pasti datang. Kita melahirkan generasi konsumtif, minus kreativitas. Kita juga menyia-nyiakan dan bahkan membuang potensi satu generasi penerus ummat manusia yang seharusnya dapat ditangani sejak masa usia dini.

    Era digitalisasi ini yang mempunyai daya rusak yang dahsyat kepada anak-anak dapat dibendung melalui pendidikan dalam keluarga–anak anak paling dekat dengan keluarganya sendiri. Kalaupun tidak bisa menghindari smartphone, orang tua mesti punya sikap tegas terhadap jadwal penggunaan smartphone secara terbatas.

    Cara bijak berikutnya adalah menyibukkan anak-anak dengan mengikuti kegiatan yang sesuai minat dan bakatnya: mengaktifkan pada kegiatan olahraga, bermain dengan pernainan anak-anak untuk menumbuhkan keceriaan bersama, dan atau membawanya pada lingkungan belajar yang cocok untuk menumbuhkan kreativitas berpikir.

    Apakah perlu mengikuti langkah Steve Jobs yang tidak memberikan smartphone kepada anaknya? Keputusan berada pada kendali orang tua dalam mengarahkan jalan kehidupan masa depan anak-anaknya. Life is a choice, hidup adalah pilihan.

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 28 Mei 2026

  • Strategi Pencerdasan Sang Juara Inggris

    Strategi Pencerdasan Sang Juara Inggris

    Peraih emas Olimpiade Bahasa Inggris di NSMAO (National Science and Mathematics Olympiad) Februari 2026 ini sebenarnya tidak suka grammar (tata bahasa). Ia hebat karena rajin membaca buku Inggris dan menjawab soal-soal cerita Inggris. Kebutuhan grammar-nya sebatas untuk menjawab soal dengan benar. Baginya itu cukup.

    Pada awal kali belajar grammar, ia mau gabung beberapa pertemuan saja. Itu pun karena program liburan Kampung Belajar yang ia ikuti di RBB (Rumah Belajar Bersama) mewajibkan ia belajar grammar. Perlahan-lahan, ia menghindar, tidak mau masuk kelas lagi.

    Penulis bertanya, “Kenapa tidak masuk kelas grammar, Faika?”
    “Saya tidak mau. Pusing kepalaku”, katanya spontan.
    “Kenapa bisa pusing?”, penulis berusaha mendeteksi masalah.
    “Saya pusing karena saya tidak mengerti pelajarannya. Itu sangat susah”, jawabnya jujur.
    “Baiklah. Kalau begitu, mari kita membaca latihan grammar yang kamu telah selesaikan.” bujuk penulis.
    “Iya. Tapi tidak jawab soal kan?” katanya penasaran.
    “Iya. Yang penting Faika mau membaca buku grammar, itu cukup.
    “Oke”, balasnya riang.

    Agar Faika senang, penulis memilih materi grammar yang mempunyai dialog. Ia senang dan mengira itu seperti materi conversation (percakapan) saja, sedangkan bagi penulis, itu adalah review grammar. Cara belajar Faika ini terus berlaku hingga Kampung Belajar selesai dalam sebulan.

    Mengatasi Kebingungan Belajar Grammar
    Faika Qinara Putri Ridwan anak kelas 3 SD yang punya mental juara didapatkan dari karate sejak ia TK dan punya segudang prestasi di karate. Kini ia juara Bahasa Inggris se-Indonesia dan pasti akan banyak melibatkan diri di lomba Bahasa Inggris juga. Bila ia tidak dibekali pengetahuan yang terus bertambah, ia pasti akan tertinggal.

    Penulis berdiskusi dengan Mr. Ancha, gurunya Faika di kelas Reading untuk mencari solusi. Kesimpulan yang diambil adalah menghubungi ibunya Nurlaelah agar merubah cara pandang Faika. Beberapa rekan kelasnya telah paham materi tenses di luar kepala dan semestinya ia juga bisa. Dorongan untuk mengubah cara pandang tentang grammar dari lingkungan keluarga pasti mempengaruhi Faika. Dan sang ibu menyanggupi permintaan tersebut.

    Perubahan itu berefek nyata. Ibunya pasti telah memberikan saran terbaik buat Faika. Beberapa hari yang lalu, Faika meminta untuk diuji kemampuannya pada tenses.
    Faika berkata “Mr., saya sudah mengerti tenses.
    “Ah, yang benar Faika. Kamu belum berlatih lagi”, kata penulis.
    “Sudah. Saya sudah berlatih ke Mr. Anca”, katanya percaya diri.
    “Coba buktikan. Ambil kotak kosong tenses dan jawab semampumu”.

    Faika menghadirkan kotak tenses. Kalimat yang ia pakai “I write” untuk merubah ke 16 tenses di mana tiap tenses terdapat empat perubahan kalimat. Setelah istirahat sejenak, ia lanjutkan lagi pada kalimat “You write”. Ia mampu melakukannya secara lisan, lumayan bagus. Link siaran langsung (live) dapat anda tonton di sini:

    Tahap 1
    https://www.facebook.com/share/v/1Cwr2bhJTh/

    Tahap 2
    https://www.facebook.com/share/v/14gkHU5zGFN/

    “Wah, ini luar biasa”, pikir penulis dalam hati. Sebagai pengajar, ada harapan dan kepercayaan diri yang tumbuh dari dalam diri penulis bahwa Faika mampu bersaing lebih ketat dengan para pelajar terbaik di Indonesia. Ia akan dididik lebih tersistematis hingga pada akhirnya ia mampu menjawab seluruh soal-soal lisan tenses secara acak.

    Dukungan lainnya yang menguatkan Faika adalah literasi. Saat ini ia telah sampai pada buku Pre-Intermediate Reading di mana buku pelajarannya biasanya dipelajari oleh pelajar SMP dan SMA. Ia hanya perlu didesain agar ia tertatih tanpa beban alias dengan senang hati membaca buku-buku Inggris yang melampaui pelajaran sekolahnya. Ia pasti akan membuka jendela dunia yang luas, wawasan bertambah dengan bacaan asing.

    Mengikutkan pelajar untuk mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris dan menanamkan pemikiran untuk bisa menjadi juara adalah strategi cerdas untuk membuat pelajar mau belajar lebih fokus belajar secara mendalam. Hal yang sulit namun penting seperti grammar yang awalnya tidak disukai oleh Faika bisa dicarikan solusi, bukan ditinggalkan mengingat materi tersebut berguna untuk Olimpiade dan kejuaraan lainnya. Tapi yang patut diingat, Olimpiade adalah jalan saja agar para pelajar kita berpengetahuan.

    Apakah Anda juga punya ide yang sedang dijalankan? Mari kita berbagi inspirasi.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu 27 Mei 2026

  • Jelang Idul Adha, Anak-Anak RBB memilih Belajar

    Jelang Idul Adha, Anak-Anak RBB memilih Belajar

    Sehari sebelum hari raya Idul Adha (26/05/2026), banyak pelajar memilih libur di kegiatan belajar informalnya seperti di RBB (Rumah Belajar Bersama), Bulukumba, Sulawesi-Selatan. Namun hal tersebut berbeda dengan anak-anak pelajar Inggris di kelas malam ini. Mereka antusias datang belajar, tidak ada urusan dengan liburan. Toh, belajarnya di malam hari.

    Saat memasuki jam belajar pada 19.15 Wita, anak-anak bertanya, “Kita akan membaca buku apa,. Mr.?”. Penulis mencoba menjaga suasana hati mereka yang riang gembira. “Bagaimana kalau kita review bacaan Basic Reading saja, anak-anak?”. Mereka menjawab dengan serempak, “Setuju”. Maka buku yang berisi bahan percakapan dibaca bersama. Setelah itu, penulis berbagi cara pronunciation (pengucapan) yang tepat agar apa yang mereka ucapkan tidak salah ucap sehingga tidak terjadi kesalahan makna. Mereka mengikuti melalui pendekatan listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi).

    Selain itu, anak-anak ini juga berlatih seni berbicara agar suaranya enak didengarkan. Karena bahan bacaannya dalam bentuk dialog, cara bertanya dan menjawab pertanyaan menjadi titik fokus. “Bila bersuara, usahakan menjelang akhir kata dari sebuah pertanyaan, naikkan suara kalian”, kata penulis. “Kalau sebaliknya yaitu saat menjawab, itu gampang. Cukup turunkan suara kalian saja”, tambah penulis. Dengan cepat mereka mengerti dan mengulangi praktik bacaan sesuai yang dianjurkan. Perubahan perlahan-lahan nampak setelah berkali-kali melawan kebosanan me-review bacaan hingga benar.

    Anak-anak ini berhasil membaca sekitar 25 lessons (pelajaran) yang tentunya diselingi dengan istirahat sebanyak dua kali. Pada saat sedang berlatih bicara secara bersama-sama, mereka tidak lagi fokus pada kesalahan cara baca tapi bagaimana mereka membaca dengan nyaman dengan memunculkan irama suara yang sesuai. Ya, terkadang tercipta ketidaksesuaian karena ada yang membaca lebih cepat dan ada pula yang membaca lebih lambat. Tugas penulis menyelaraskan agar bacaan mampu dibaca secara serentak. Dengan demikian, mereka menikmati perpindahan satu lesson ke lesson yang lainnya.

    Setelah itu, Belva berkomentar. “Mr., kenapa kita tidak membaca lagi buku yang ada tulisan ‘Believe me’ said Mr. Green to Peter. You need a cup of tea”‘ (Percayalah padaku, kata Pak Green ke Peter. Kamu butuh secangkir teh). Nabila juga memberikan dukungan, “Iya Mr. Ayo kita belajar buku itu sekarang”. Pelajar yang lainnya ikut-ikutan, “Iya. Iya”. Seolah-olah anak-anak ini tidak mengenal capek untuk suatu pelajaran yang menurutnya menarik.

    Penulis langsung mengerti bahwa maksud Belva adalah buku pronunciation (pengucapan). “Nanti kalian bisa belajar itu lagi. Kalau kalian rajin membaca buku reading kalian, saya janji akan mengajarkan pronunciation”, terang penulis. “Buku yang kalian sedang pelajari sekarang ini memperbaiki pengucapan kalian juga. Ini lebih mudah karena kalian sudah mengenal kosa-katanya”. Seluruh peserta kelas mengerti. Tapi Belva kemudian menyambung, “Tapi janji ya?”, tanyanya. “Iya, saya janji”.

    Menjelang pulang, anak-anak tetap ingin riang gembira. Nabila mengusulkan praktik Preposition of Place dan Parts of the body (Kata depan untuk Tempat dan Bagian-Bagian dari Tubuh). Dipimpin oleh Nabila, mereka bergerak seirama dengan apa yang mereka ucapkan, terlihat anggun dan mengesankan. Pada akhirnya mereka puas tepat waktu jam belajar kelas malam selesai pada 20.45 Wita.

    Malam terus larut menuju lebaran Idul Adha, Rabu 27 Mei 2026. Semua kegiatan belajar di hari raya besar tentu diliburkan. Melalui tulisan ini, penulis menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H./2026 M. Setelah ini, ayo kita kembali belajar, jadikan belajar bagian dari kehidupan sehari-hari, lifestyle.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu 27 Mei 2026

  • Peradaban Tulis dan Peradaban Mulut

    Peradaban Tulis dan Peradaban Mulut

    Memasuki bulan kedua belajar Bahasa Inggris secara intensif, Lulu telah mengerjakan banyak latihan Reading dan Grammar (Bacaan dan Tata Bahasa). Ia bekerja tiada henti untuk menamatkan buku. Ini layak jadi contoh bagi pemuda pemudi yang punya cita-cita tertentu melalui jalur pembelajaran bahasa asing.

    Latihan menjawab soal itu tidak cukup. Karena itu, Lulu mencoba latihan lisan pada grammar, simple present. Praktek tanpa teks membuatnya kewalahan. Ia masih sulit membedakan penggunaan do, does atau am, is, are pada kalimat verbal maupun nominal. Pikirannya masih campur aduk. Guru yang membantu untuk memahami di luar kepala menyarankan agar menulis bahan yang akan dibicarakan agar ia punya bilamana ia salah ucap. Kemudian, ia praktek lagi. Setiap kali ia salah, ia membuka catatannya. Sekitar 20 menit, ia pun akhirnya mengerti.

    Agar Lulu tidak lupa bahwa sebenarnya ia telah melewati pelajaran tersebut, ia ajak untuk membaca buku latihan grammar-nya yang telah ia kerjakan. Semua hal tentang perubahan kalimat pada simple present ia baca lagi untuk menyesuaikan kebenarannya di ‘peradaban tulis’ juga berlaku di ‘peradaban mulut’. Setelah itu, guru kelas pun yakin bahwa ia mengerti. Ia pun puas.

    Sebelum kelas berakhir, Lulu penasaran untuk mengetahui seluruh perubahan tenses di luar kepala. Ia mengatakan, “Saya ingin praktik lisan lagi di pertemuan selanjutnya”. Guru menanggapi, “Belajar di RBB (Rumah Belajar Bersama) itu mewajibkan lulus tulis dan lisan’. Karena itu, inisiatif Lulu untuk praktek lisan sudah tepat.

    Dua kelas intensif tingkat dasar yang Lulu ikuti yaitu Reading dan Grammar mensyaratkan ia lulus dua buku Inggris disertai kemampuan berbicara secara lisan pada materinya. Ia siap menghadapi dan terus belajar menghadapi tantangan tersebut. Dan ini sejalan dengan cita-citanya yang membuahkan pengetahuan Bahasa Inggris yang punya daya saing.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 27 Mei 2026