Kategori: Program

Program dan mata pelajaran dari Rumah Belajar Bersama

  • Menyelamatkan “Saudara-Saudara” Pinisi

    Menyelamatkan “Saudara-Saudara” Pinisi

    Membuat tulisan tentang perahu tradisional bersama Dr. Horst H. Liebner tidak butuh banyak kata, sebisa mungkin sedikit saja dengan makna yang padat. Yang banyak adalah pembahasannya. Membahas 50, 100 sampai 200 kata saja menghabiskan lebih dari empat jam. Terlebih lagi, pembahasan yang sama akan diulang lagi di hari berikutnya.

    Ah! Bagi kita orang Indonesia, itu mungkin terasa sangat melelahkan termasuk saya. Sesuatu yang sudah tersusun rapi masih saja didiskusikan atau diperdebatkan. Apakah memang begini cara otak orang Jerman yang cerdas itu bekerja? Kami—Horst, Anjar dan saya—pun harus menginap dua hari di Bira untuk memperluas waktu saling bersilat lidah untuk mencari penempatan kalimat yang benar dan mudah dipahami pada tulisan itu.

    Kertas tulisan yang menjadi bahan pembahasan 

    Kok masih diperdebatkan ya? Itu berarti masih ada masalah. Dari sini saya mendapatkan pelajaran bahwa sesuatu yang sungguh berkualitas baik mesti selalu siap dikoreksi dan mau menerima perubahan untuk mendapatkan hasil yang semudah dan sepraktis mungkin bagi pembaca.

     

    Dr. Horst Liebner terus menerus berusaha memperbaiki tulisan dari hasil kajian bersama.

    Setelah puluhan lembar dari kumpulan tulisan yang sangat pendek itu dihamparkan di atas meja, semakin jelas segala kelemahan yang telah dibuat. Kami pun terus merevisi dan mencari solusi agar setiap satu tulisan terhubung dengan lainnya, saling kait mengait. Karena bekerja dengan sebuah team yang meskipun sedikit, beragam solusi dihadirkan dan kemudian solusi terbaik dari hasil bermusyawarah–bukan debat lagi–disepakati.

    Sekadar info tambahan, apa yang kami sedang kerjakan ini adalah hal yang sama berharga karena kami mengabadikan berbagai macam model perahu tradisional dengan segala bagian-bagiannya serta bagaimana para Panrita Lopi membuat perahu. Bila tidak dicatat, khazanah kekayaan ilmu pengetahuan yang luar biasa ini akan tenggelam oleh zaman, tidak meninggalkan jejak abadi. Lagi pula, bahasa yang digunakan diupayakan sebisa mungkin dipahami oleh generasi gen Z dan Alfa. Misalnya, halo cess atau gitu kan? Itulah mengapa struktur tata bahasa yang rapi digabungkan dengan gaya bahasa anak-anak zaman sekarang.

    Di sela-sela kesibukan. Kami sempat berfoto. Ada rekan Nur Anjas, seorang guide profesional di Bira dan manager Nusa Bira Indah Hotel, bersilaturahmi ke tempat kami sedang bekerja di Bira Dive Camp.

    Ke depan, orang akan lebih mengerti bahwa pengetahuan perahu tradisional Indonesia dari Bulukumba yang pembuatannya menyebar di kecamatan Bonto Bahari: Tanah Beru, Lemo-Lemo, Bira, dan Ara serta sekarang di Samboang Kecamatan Bonto Tiro dapat terwariskan kepada generasi berikutnya. Perahu Pinisi yang mendunia itu mempunyai banyak ‘saudara’ yang disiap diperkenankan kepada dunia minimal dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris.

    Zulkarnain Patwa
    Bira, 21 September 2026

  • Menanam Bibit Literasi  Global di RBB Tanete

    Menanam Bibit Literasi Global di RBB Tanete

    Orang yang bisa berbahasa Inggris dianggap pintar. Anggapan umum ini berkembang begitu saja tanpa pernah dikoreksi ulang. Itu aneh tapi nyata. Ukuran kepintaran mungkin saja karena kebanyakan orang tidak bisa berbahasa Inggris sehingga sedikit orang yang pintar itu terlihat istimewa.

    Padahal, persoalan bahasa tidak sesederhana itu. Banyak orang yang bisa berbahasa Indonesia tetapi buta huruf. Demikian halnya dalam bahasa Inggris. Banyak orang Indonesia bisa berbahasa Inggris, tetapi buta huruf juga: bahasa hanya jadi ‘gaya-gayaan’, bukan alat pengetahuan. Tidak dapat dipungkiri bahwa para guide, pelayan hotel, dan pedagang mampu berbahasa Inggris dengan baik dengan kebiasaan berbahasa saja dan berfungsi dengan baik. Cuma saja, kemampuan mereka masih sangat terbatas.

    Kemampuan berbicara itu semestinya mampu dibarengi dengan membaca, literasi. Bacaan buku berbahasa Inggris itu jauh lebih kompleks karena orang harus tahu cara pengucapan dengan benar. Itu tentu membutuhkan panduan dari guru yang mempunyai keahlian dalam berbicara atau pengucapan karena dalam pandangan orang Indonesia, bahasa Inggris itu lain di tulisan lain pula pengucapannya. Untuk urusan lebih tinggi, bahasa Inggris menjadi alat untuk berpengetahuan, membaca pemikiran orang luar.

    Maka tidak mengherankan bila RBB Tanete membangun kemampuan pelajarnya yang multifungsi. Dengan memanfaatkan Youtube, kemampuan pelajar dilatih akrab dengan aktivitas sehari-hari. I make my bed dan I clean my room (Saya merapikan tempat tidurku dan saya membersihkan kamarku), dan sederet contoh lainnya memudahkan orang untuk berbicara.

    Kemudian, agar tidak mencetak pelajar yang buta huruf, pelajar pun didekatkan dengan literasi. Pembahasan buku ada lesson 47, 48 dan 49 mengacu pada kemampuan tanya jawab. Do you like milk? Does he like coffee? dan Arika likes milk, but she doesn’t like coffee (Apakah kamu suka susu? Apakah dia suka kopi?, dan Dia suka susu, tetapi dia tidak suka kopi). Setiap kesalahan yang dibuat pada dialog, mereka kembali merujuk kepada buku. Berangkat dari hal ringan itu, mereka terus dilatih hingga mampu membaca buku-buku yang tebal nantinya. Dengan demikian, buta huruf Inggris terbantahkan.

    Itu terlihat sangat sederhana, kan? Tetapi, justru karena sederhana, itu jadi mudah. Kerumitan itu terjadi karena para pelajar tidak dibiasakan membaca saja. Karena ini sudah dipersepsikan tidak rumit, anak-anak SD hingga SMA pun senang belajar. Setiap kali belajar, praktik percakapan dan literasi diajarkan.

    Miss Fathy Cayadi, guru yang mengajarkan materi ini di RBB Tanete, perlahan tapi pasti turut membantu mengubah pemahaman pelajar bahwa gadget dengan pelajaran di YouTube adalah alat belajar, bukan sekadar nonton atau main game. Mengelola kemampuan berbicara berbasis pada buku adalah cara yang paling efektif untuk membiasakan para pelajar suka membaca, pengetahuan luas yang tidak sempat dijelaskan oleh guru dapat diperoleh dengan bacaan.

    Ukuran standar kecerdasan pelajar yang bisa berbahasa Inggris menjadi lebih bermakna, wawasan lebih luas dan percakapan pun akan jauh lebih berbobot.

    Di masa yang akan datang, kepada orang-orang yang pintar berbahasa Inggris seperti inilah yang dapat terlibat aktif dalam pergaulan dunia seperti yang dinyatakan di dalam Undang-Undang 1945: ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. RBB Tanete turut menanam bibitnya dan menumbuhkannya.

    Zulkarnain Patwa
    Minggu, 20 September 2026

  • Pintar Bareng di RBB Tanete

    Pintar Bareng di RBB Tanete

    Pendapat umum adalah pelajar Indonesia kebanyakan tidak bisa berbahasa Inggris. Ah! Itu memang kenyataan yang terjadi. Kita bisa saja membantahnya dengan seribu alasan masuk akal dan tidak masuk akal. Fakta akan selalu lebih mudah dipercaya daripada argumentasi pembenaran. Misalnya, di sekolah bertaraf internasional, kemampuan bahasa Inggris para pelajar mereka bagus. Baiklah. Bagaimana dengan sekolah umum? Apakah kita berani mengatakan itu bagus juga?

    Segelintir pelajar saja yang bisa menikmati sekolah berfasilitas mewah, super mahal dan itu hanya tersedia di kota besar.Artinya, begitu banyak pelajar Indonesia yang tidak bisa mengakses. Bagi orang yang percaya pada ilmu pengetahuan, itu adalah masalah besar yang semakin dipikirkan semakin bikin pusing kepala karena kapitalisasi pendidikan sangat menyulitkan sebagian besar orang Indonesia mengakses pendidikan yang berkualitas. Tingkat kesejahteraan ekonomi rakyat kebanyakan masih belum merata yang membuat mereka tidak bisa lebih leluasa bergerak.

    Ada yang bisa pintar dengan belajar secara mandiri lewat YouTube atau media sosial lainnya. Sayangnya, itu juga sangat sedikit karena harus ada inisiatif pribadi dari pelajar itu sendiri.

    Di sebuah tempat yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian, ada kecanggihan dibalut dalam bentuk kesederhanaan. Kurikulum pembelajarannya pun sangat terstruktur rapi. Gurunya pun sangat cerdas mengelola bahan pelajaran. Sebagai contoh, pada lesson 45 dan 46, kata can dan can’t (bisa dan tidak bisa) bahan percakapan yang bisa melibatkan lebih dari dua orang. “Can Rafli play football?” (Dapatkah Rafli bermain sepak bola?). Rafli akan ditanya apakah ia bisa bermain sepak bola atau tidak: kemungkinan jawaban, “Yes, he can atau No, he can’t.” Pembahasan ini pun merambah ke makhluk hidup lainnya: “Can a bird swim?” (Dapatkah seekor burung terbang?) atau “Can a rabbit fly?” (Dapatkah seekor kelinci terbang?). Para pelajar dilatih kreatif berpikir.

    Fathy Cayadi, sang pengampu di Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete sangat senang pada keaktifan para pelajar bercakap. “Anak-anak kami telah memahami penggunaan can dan cannot dengan baik serta menemukan dan menyampaikan informasi dengan baik pula,” ungkap Fathy dengan nada gembira. Menjelang kelas belajar berakhir, ia pun menambahkan pembelajaran verbs (kata kerja) agar penggunaan kalimat di pertemuan berikutnya lebih beragam. Semua proses belajar mereka ini dibangun dengan semangat bekerja sama, pintar bareng, bukan seorang diri.

    Marilah kita memandang pembelajaran bahasa Inggris itu bukan dari pendekatan pendidikan formal saja, mengecek pada pendidikan nonformal juga. Kita akan menemukan bahwa banyak pelajar Indonesia yang aktif berbahasa Inggris itu karena mereka aktif di lembaga nonformal. Meskipun bersekolah di pendidikan formal, kemampuan mereka bisa setara dengan para pelajar di sekolah internasional. RBB turut terlibat mengelola dan mencetak pelajar yang mempunyai keahlian di atas rata-rata.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 19 September 2026

  • Jangan Ikut Tolol!

    Jangan Ikut Tolol!

    Lomba menjawab verbal tenses di luar kepala untuk lima orang anak berumur sembilan dan sepuluh tahun ini bukan lagi dominan adu kecerdasan, melainkan adu kecepatan. Sebegitu cepatnya mereka mengangkat tangan, guru yang memberikan soal merasa kewalahan menunjuk siapa yang paling awal mengangkat tangan untuk mendapatkan kesempatan menjawab. Akhirnya, beberapa murid ditunjuk khusus bertugas untuk siapa yang lebih dahulu berhak menjawab. Para pelajar lainnya yang sedang dalam proses penguasaan tenses di luar kepala dengan penuh perhatian menyaksikan lomba dalam bentuk permainan ini. Mereka juga berharap untuk bisa ikut terlibat aktif seperti ini nantinya.

    Bukti konkret tidak biasa ini menyadarkan kita bahwa sesungguhnya banyak anak Indonesia itu tidak tolol pada pelajaran bahasa Inggris. Mereka hanya tidak mendapatkan akses yang benar untuk berbahasa Inggris. Pemahaman seluruh verbal tenses itu bukan pelajaran SD, tetapi kenapa anak-anak bisa? Persoalan metode mengajar dan kualitas sumber daya manusia (SDM) guru yang menjadi hambatan utama karena Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI tidak merekrut guru sarjana bahasa Inggris di SD.  Dengan adanya contoh keberhasilan kecil dari anak-anak itu, inilah yang membalikkan pemahaman di mana rasa takut belajar berganti menjadi berani dan antusias.

    Jika pihak yang bertanggung jawab mengatur pendidikan itu mempunyai kepedulian pada model pendidikan yang berkualitas baik yang ada di wilayahnya mau mengambil pelajaran, pastilah cerita kebuntuan pelajar segera teratasi. Mereka cukup mengkloning dan menerapkannya secara struktural. Jangkauannya pasti lebih luas, dirasakan secara lebih merata. Tapi, kan itu ‘jika’, sebatas angan-angan saja. Mereka itu lebih suka menggembor-gemborkan pembangunan fisik untuk mengukur kemajuan pendidikan daripada SDM. Padahal, kedua-duanya mesti saling berjalan secara bergandengan layaknya pasangan suami istri. Kan, itu lebih harmoni.

    Bila kita terus terjebak dalam alur berpikir kaku seperti itu, kita hanya akan melanggengkan ketertinggalan pendidikan kita. Untuk itu, kita tidak perlu menanti dalam waktu yang tidak pasti hingga terjadi perubahan. Itu sangat membosankan dan melelahkan. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah bertindak sesegera mungkin untuk menjadi bagian dari solusi agar masa depan anak-anak kita itu berwawasan dan berpengetahuan tinggi: bekal berharga yang akan mereka gunakan dalam menumbuhkan kemampuan berdaya saing, bukan jadi penonton di negeri sendiri. Rumah Belajar Bersama (RBB) dan lembaga pendidikan alternatif lainnya yang masih peduli pada pendidikan yang memanusiakan manusia itu masih banyak bertebaran di sekitar kita.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at, 18 September 2026

  • Futri: Langkah Solutif Persiapan S-3

    Futri: Langkah Solutif Persiapan S-3

    Seorang alumni S-2 ingin lanjut S-3 di Malaysia mengikuti kelas bahasa Inggris. Pilihannya unik. “Saya mau kelas pronunciation (cara pengucapan)?” kata Futri Syam. “Hah! Kenapa? Biasanya mahasiswa lanjut S-3 itu mempersiapkan diri pada tes TOEFL atau IELTS,” balas guru bahasa Inggris yang sedang ia temani berbicara. “Karena saya ingin lebih percaya diri berbicara,” balas Futri. “Okay. Tapi, saya ingin tahu dulu kemampuan reading dan speaking-mu (membaca dan berbicaramu) agar tahu tingkat apa yang saya ajarkan,” tanggap guru itu.

    Kemudian, sang guru pun mengambil buku reading yang bercerita dan disodorkan ke Futri. Ia membaca dengan suara nyaring beberapa paragraf. “Bacaanmu cukup baik. Mendengar nada suaramu itu, kamu ada bakat. Cuma, ini tidak diasah dengan baik saja. Pertahankan saja semangat belajarmu ini. Orang sepertimu tidak butuh waktu lama di kelas pronunciation. Satu bulan cukuplah,” respons guru itu. “Baik,” jawab Futri singkat.

    Ketika kelas perdana berjalan, Futri dengan sigap mengetahui cara membedakan kata yang pengucapannya sangat mirip, hanya dibedakan dengan nada lebih panjang dan pendek. Puluhan kosakata dan paragraf pendek ia baca dengan lancar. Untuk lebih matang, ia diminta mengulangi beberapa kali agar selain pemahaman lebih melekat, ia pun tahu cara menggabungkan atau penyingkatan beberapa kata yang sesuai aturan dan tentunya enak didengar.

    Kemudahan yang Futri peroleh ini karena ia mempunyai niat dan latar belakangnya dari pendidikan agama Islam. Ini mirip saja dengan ilmu tajwid dalam mengaji atau bahasa Arab. Beberapa kosakata Inggris yang sulit ia sebutkan dihubungkan dengan bahasa Arab sehingga dengan cepat ia menemukan cara yang tepat dalam mengucapkan kata dengan benar.

    Pertemuan belajar di hari pertama ini berjalan dengan sangat lancar. Menjelang kelas selesai, guru berkata, “Hari ini tidak ada rekaman video. Besok, semua pelajaran yang kamu dapatkan akan direkam. Silakan berlatih di rumah.” Maksudnya, Futri ada kesempatan berlatih di rumah sehingga penampilannya pada video yang akan disebar di media sosial terlihat lebih sempurna. Tentu saja, ia (Futri) tahu akan hal ini. Sebagai pendukung, MP3 tentang materi pronunciation yang sedang ia pelajari diberikan untuk bahan rujukan. Futri sangat senang dan terlihat siap menghadapi pelajaran hari esok.

    Futri adalah salah satu di antara sekian banyak mahasiswa Indonesia yang terkendala dalam bahasa Inggris yang mengambil langkah solutif untuk bisa lebih aktif dalam pergaulan akademis dan internasional. Ia sadar akan kemampuan dirinya bahwa kuliah di luar negeri itu bukan sebatas formalitas kelulusan tes bahasa Inggris saja seperti yang telah ia lalui di S-1 dan S-2.

    Agar lebih bersinergi, Futri pun dimotivasi oleh guru Rumah Belajar Bersama (RBB), tempat ia belajar, agar ia bisa menjadikan bahasa Inggris itu sebagai alat untuk membaca literatur asing yang mendukung pengembangan pengetahuannya saat proses perjalanan meraih gelar doktor di S-3-nya nanti. Ia sepakat.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 17 September 2026

  • Memecahkan Kebuntuan Literasi

    Memecahkan Kebuntuan Literasi

    Rilis terbaru Programme for International Student Assessment (PISA) tentang literasi Indonesia pada 2025 baru saja dikeluarkan pada 2026 ini. Tidak ada yang mengagetkan. Dari 90 negara yang diteliti, pelajar Indonesia berada pada posisi 74 dengan 365 poin. Dengan poin rendah itu, pelajar kita masuk dalam kategori mampu menemukan informasi eksplisit tunggal yang dinyatakan dengan jelas dalam teks pendek. Begitulah ukuran kecerdasan anak Indonesia.

    Bagaimana dengan para pelajar daerah yang motivasi dan akses buku bacaannya tidak memadai? Mereka tidak terdeteksi, tetapi kita telah mempunyai gambaran hasil jika mereka diteliti. Ini karena budaya literasi yang tidak diterapkan di sekolah formal tidak berjalan dengan baik. Gagasan Anies Baswedan sewaktu menjabat Menteri Pendidikan RI dalam bentuk membaca buku sekitar 15 menit sebelum kelas belajar dimulai di sekolah formal sudah lama mati suri.

    Pidato memajukan pelajar kita yang mempunyai daya saing global masih dalam bentuk angan-angan. Kita pun tidak perlu menyalahkan pemerintah karena mereka sedang bergelut menyelesaikan hal-hal yang mereka anggap lebih penting, semisal memahamkan pelajaran wajib dengan baik. Bila itu terlaksana dengan baik, pastilah para pelajar dan orang tua pelajar itu bergembira.

    Sebenarnya solusi itu ada. Inisiatif ini harus hadir dari Dinas Pendidikan Daerah dengan menjalin kerja sama dengan Dinas Perpustakaan. Buku-buku disalurkan ke sekolah setiap bulan dan diadakan pergiliran buku di berbagai sekolah. Perpustakaan Daerah pasti suka karena buku-bukunya dapat terbaca—target membumikan literasi tercapai. Guru sekolah mengkreasikan bagaimana cara agar anak-anak senang membaca. Pendekatan struktural ini pasti punya dampak yang sangat dahsyat.

    Di luar dari pendekatan struktural, Rumah Belajar Bersama (RBB) selama lebih dari sepuluh tahun menggerakkan literasi berbahasa Inggris. Para pelajarnya telah menamatkan beragam buku asing: memahami teks panjang, mendeteksi bias, membuat inferensi abstrak, dan mengevaluasi hubungan antara teks dan pengetahuan luar. Para pelajar binaan RBB ditargetkan memiliki kompetensi setara tahapan tertinggi PISA (level 6, ≥ 698 poin) dengan pelatihan bertingkat untuk memahami teks kompleks.

    Sedangkan dalam pendekatan kultural, Rumah Belajar Bersama (RBB) mempunyai perpustakaan yang tergabung dalam jaringan Pustaka Bergerak Indonesia sejak almarhum Nirwan Ahmad Arsuka masih hidup. RBB juga memiliki kelas Reading (membaca) dalam bahasa Inggris mulai dari tingkat pemula hingga tingkat tinggi.

    Penguatan Reading didukung oleh grammar (tata bahasa) sehingga bacaan bisa dipahami secara komprehensif, yang kemudian mengantarkan para pelajarnya mendapatkan modal besar untuk menjawab soal-soal serta bekal untuk bisa menulis sesuai standar akademis. Pendekatan ini ternyata sangat membantu pemahaman tata bahasa Indonesia karena bahasa Inggris dan Indonesia mempunyai banyak kesamaan. Kebiasaan dalam menulis dalam bahasa Inggris berpengaruh kuat pada penulisan yang sesuai standar dalam bahasa Indonesia.

    RBB percaya bahwa literasi yang sedang dijalankannya itu mampu mencetak para pelajarnya berwawasan dan berpengetahuan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Penanaman literasi ini ditumbuhkan kepada semua pelajarnya, mulai dari pelajar SD hingga mahasiswa dan umum.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 16 September 2026

  • RBB Turut Membantah Juara Dunia Catur

    RBB Turut Membantah Juara Dunia Catur

    Ketika dua orang sahabat akrab telah selesai belajar di sore hari, mereka bersepakat untuk tidak pulang dan menanti malam hari untuk pembelajaran bahasa Inggris. Beberapa waktu menjelang Maghrib dimanfaatkan untuk berlatih catur. Semua pasukan catur beserta notasi langkah catur dijelaskan dalam bahasa Inggris. Mereka tertarik dengan notasi karena selain kemampuan linguistik juga terasah, mereka juga berpikir secara tepat menempatkan anak buah catur dengan tepat—sebuah sistem koordinat matematika aljabar standar internasional.

    Proses mempelajari notasi catur.

    Di luar dari perkiraan, setelah memahami semua langkah catur, Alika dan Faika mencoba untuk bertanding. Di sini, guru tidak terlibat lagi dan membiarkan mereka saling memakan pasukan. Mereka pun saling mengingatkan bila ada langkah yang salah. Skor berakhir satu sama.

    Di waktu keluar main pada pembelajaran bahasa Inggris, Alika dan Faika meminta izin lagi bermain catur. Mereka tidak begitu minat lagi kejar-kejaran sebagaimana anak-anak lainnya. Pilihan bermain dengan olahraga asah otak jauh lebih menyenangkan. Mungkin mereka akan olahraga fisik lagi bila otaknya lelah. Menjelang pulang, mereka mengatakan skor dua sama. Ternyata, ada kompetisi terselubung di antara mereka.

    Pengenalan catur buat anak-anak bukan tanpa alasan. Bobby Fischer, Juara dunia catur pada 1972, menerangkan bahwa catur itu pelatih kemampuan menganalisis, imajinasi dan kreativitas. Sayangnya, ia tidak percaya kualitas otak perempuan sehingga permainan itu tidak cocok buat perempuan. Beruntung Judit Polgar adalah perempuan pertama di era modern yang telak membantah itu. Jika Fischer meraih gelar grand master pada umur 15 tahun 6 bulan 1 hari, Judit malahan lebih cepat; 15 tahun 4 bulan. Sekarang ini, kejuaraan catur wanita telah diselenggarakan. Bahkan ada pertandingan tanpa batas gender di mana perempuan yang sanggup mengalahkan laki-laki bergelar grand master. Dari kompetisi tersebut, Judit diakui sebagai pecatur wanita terkuat sepanjang masa, setidaknya hingga masa sekarang ini.

    Anak-anak senang belajar catur.

    Kedua gadis cilik ini dengan sengaja diperkenalkan catur oleh Rumah Belajar Bersama (RBB) bukan untuk maksud membuat atlet catur. Selain Rusia, Tiongkok, dan Hungaria yang sudah punya sejarah catur yang kuat, negara-negara seperti Armenia (2011), Georgia (2022) dan Spanyol (2015) menerapkan catur di SD dengan maksud untuk melatih logika, konsentrasi berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah serta Matematika.

    Indonesia tidak menerapkan hal demikian. Lembaga nonformal seperti RBB merasa beruntung bisa menerapkan catur bagi segelintir para pelajarnya yang berminat karena olahraga catur bisa dimanfaatkan di waktu senggang, hal yang lebih baik daripada membuang waktu secara percuma.

    Bila suatu saat, Alika, Faika dan pelajar lainnya yang berminat catur di kemudian menjadi atlet catur berprestasi juga, itu adalah bonus saja. Target utama RBB adalah mencerdaskan para pelajar dengan mencari strategi memanfaatkan waktu sebaik-baiknya selama mereka berada di RBB. Salah satu pilihan terbaik yang ada saat ini adalah catur.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 15 September 2026

  • Murid Mengatur Guru Menuju Merdeka

    Murid Mengatur Guru Menuju Merdeka

    Ketika kelas dibuka, seorang anak langsung mengusulkan praktik latihan percakapan. “Mister, supaya semua bisa bicara, semua diberikan pertanyaan tentang benda-benda yang ada di sekitar kita,” kata Nisa. “Iya, Mister,” sahut yang lainnya. Guru langsung sepakat dan mengusulkan untuk mengumpulkan benda-benda yang dapat ditaruh di atas meja. Setelah terkumpul, seseorang bertindak sebagai pemimpin dengan bertanya, “What is that?” (Apa itu?). Para pelajar secara serempak akan menjawab, “That is a notebook” (Itu adalah sebuah buku catatan). Pemimpin kelas dilakukan secara bergantian hingga mereka paham inti pelajaran sederhana ini.

    Usulan kedua pun hadir. Anak-anak menginginkan tanya-jawab yang sedikit panjang dalam bentuk percakapan, juga. Mereka pun membuat cerita:

    A: Who sells Cing Cau at your school?
    B: They are Dama, Attar, and Adam.
    A: How much is it?
    B: It is Rp7.000,-
    A: Who buys it?
    B: Imam buys it.
    A: Ok. Thank you for your information.
    B: You are welcome.

    Terjemahan:
    A: Siapa yang menjual Cing Cau di sekolahmu?
    B: Mereka adalah Dama, Attar, dan Adam.
    A: Berapa harganya?
    B: Harganya Rp7.000,-
    A: Siapa yang membeli?
    B: Imam yang membeli.
    A: Ok. Terima kasih atas informasi Anda.
    B: Sama-sama.

    Cerita ini dianggap sangat berkesan karena ini berdasarkan usulan anak-anak itu sendiri. Guru kelas hanya membantu menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, mereka tidak kewalahan menghafal percakapan itu dan dengan segera berlomba-lomba untuk menyetor percakapan secara berpasangan. Ini agak berbeda bila mereka diminta menghafal percakapan dari buku. Kemungkinan besar, penyebabnya adalah konteks percakapan sesuai dengan kehidupan sehari-hari mereka.

    Hal berikutnya adalah membaca percakapan yang tertera di papan tulis dan menerjemahkan secara bersama-sama—tidak ada terjemahan bahasa Indonesia di papan tulis. “Yang berani tampil adalah yang terbaik malam ini,” kata guru. Adeeva, Audree dan Belva mengacungkan tangan. Satu per satu membaca dan menerjemahkan dengan caranya sendiri. Hasilnya, ketiganya disebut terbaik. Nabila berkata kepada rekan kelasnya, “Saya tahu cuma saya tidak mau tampil.” Pelajar yang lainnya hanya terdiam sambil berpikir-pikir untuk memilih tampil atau tidak. Sejurus kemudian keheningan itu terpecahkan. “Pada pertemuan belajar berikutnya, semoga kalian berani juga tampil dan menjadi bagian dari yang terbaik,” kata guru menyemangati.

    Sesi pelajaran berikutnya adalah review of parts of the body (revisi pada bagian-bagian dari tubuh) mulai dari rambut hingga jari kaki. Usulan dari seorang pelajar ini ditolak oleh beberapa anak karena menganggap itu terlalu mudah. Namun, guru bertanya, “Apakah kalian menguasainya?” Mereka menjawab, “Iya. Tentu saja.” Pancingan berlanjut, “Apakah kalian bisa membuktikannya?” Tantangan diterima dengan jawaban, “Bisa.” Seluruh pelajar mempraktikkan parts of the body secara bersama. Terdapat beberapa kata yang terlupakan—itulah pentingnya review.

    Pelajaran diakhiri dengan game kosakata. Anak-anak menentukan sebuah huruf berdasarkan jari yang dihitung menggunakan huruf. Jika hitungan jatuh pada huruf ‘n’, setiap peserta menyebut kosakata Inggris yang dimulai dari huruf n seperti number, nostril, dan nose. Pelajar yang paling banyak menyebut dianggap paling cerdas dan memperoleh pengakuan, sedangkan pelajar yang tidak menyebut satu kata pun mendapatkan hukuman dalam bentuk petikan tangan, sebuah aturan yang dibuat oleh mereka sendiri. Karena ini permainan, pujian dan hukuman ini membuat mereka tertawa bahagia.

    Mayoritas pelajaran pada pertemuan ini adalah usulan dari para pelajar itu sendiri. Mereka perlu dilibatkan secara langsung pada pembelajaran yang mereka suka, bukan dipaksa suka. Keaktifan mereka menandakan tidak ada yang merasa terpaksa belajar. Mereka bukan lagi sebagai objek tetapi subjek alias pelaku yang menumbuhkan jati diri mereka sendiri: pelajar merdeka. Demikian kilasan aktivitas belajar pada kelas malam di Rumah Belajar Bersama (RBB) yang selalu memotivasi para pelajarnya untuk berani berpikir secara mandiri.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 14 September 2026

  • The Champion Mentality: Conquering Fear and Building Discipline

    The Champion Mentality: Conquering Fear and Building Discipline

    A legend is born from a long struggle. Muhammad Ali once talked about people who became famous because of boxing. But did Ali become famous because of boxing? According to him, he was the one who made boxing famous. This was a very bold statement, and he never changed it. Do you know why? Because he trained very hard, but his will was stronger than his training. He was also not afraid of going to prison when he and most Americans opposed the U.S. involvement in the Vietnam War. He never gave up on what he believed in.

    The Hollywood Walk of Fame placed Muhammad Ali’s name as the only one displayed on the wall, not on the floor like other great world figures. The name ‘Muhammad’ on Muhammad Ali is an honor, and no one should step on it. It represents self-esteem, principles, and honor achieved through a strong attitude.

    The fun learning days at Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete have been running normally. Now, it is the time to upgrade their learning quality. Lessons on changing tenses are being deepened by Fajar Hamzah (Mr. Ancha). With bright faces and confident looks, the students are becoming braver to mention tenses from memory using a ‘blank box’ method, just to know which tense they will present during a live broadcast on social media. They break through their fear of speaking and deliver sentences with the correct structure.

    Their seriousness in learning increases even more after Mr. Agung Pratama Salassa arrived at class to give a written test—in the previous meeting, they also took a written test. The goal is to make tests, which are often considered scary, feel normal to them. Moreover, the target score is more than 90 percent correct so that their English can be useful in the academic world.

    So, do not be surprised if students who are good at speaking and answer written questions correctly can still get a score of zero just because they put a comma, question mark, or period in the wrong place. This is mental training. Mr. Agung knows that the habit of not using capital letters at the beginning of a sentence comes from lack of discipline when writing in Indonesian, which then affects their English. Therefore, if the correct writing in English becomes a habit, it will definitely have a good effect on their Indonesian, because both languages use the Latin alphabet and have many similarities in using punctuation marks.

    With the implementation of this strict rule, Miss Fathy Cayadi said, “With a fairly large and varied number of questions, many students are nervous. But it does not mean they give up, because they think they should be able to get a good score after succeeding in the oral practice.” This contradiction inside the students is like an effort to build a champion’s mindset like Muhammad Ali: high discipline, strong will, and the courage to face challenges.

    In line with that, B. J. Habibie said, “You must always be consistent in pursuing a discipline of science that you learn. Because with consistency, you can be like me.” Andi Widya Maulidyah, an alumna of RBB Bulukumba and now a student at Universitas Negeri Makassar (UNM), achieved 1st place in the Grammar Hacks Competition at English Fair, 2026. This is because she has been learning English since elementary school. During middle and high school, she never won. She realized her quality was very good and only needed time to fight in the right place. She kept fighting until she became the only one who defeated all the senior students competing in the university, the best of the best.

    1st Place Certificate for Andi Widya Maulidyah, RBB Bulukumba Alumna.

    Students can follow the footsteps of those successful people by learning from the journeys of their lives. As long as RBB Tanete students also walk the path of those great champions, one day they will surely prove something great too.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, September 13, 2026