Kategori: Program

Program dan mata pelajaran dari Rumah Belajar Bersama

  • Kampung Belajar Dobrak Kebuntuan Bahasa Inggris

    Kampung Belajar Dobrak Kebuntuan Bahasa Inggris

    Memasuki pertemuan ke-43 sampai ke-49 di Kampung Belajar pada Rabu, 24 Juni 2026, keterasingan para pelajar pada bahasa Inggris tampak jelas terkikis. Saat review bacaan, para pelajar membaca teks dengan lancar, sedikit kesalahan. Keberanian praktik percakapan secara berpasangan pun makin meyakinkan. Hal ini dapat dilihat dari nada suara mereka bertambah nyaring dan berirama.

    Ini berkembang karena penerapan prinsip “tiada hari tanpa membaca dan percakapan” benar-benar diterapkan. tiada satu orang pun dibiarkan berpikir tidak bisa, semua bisa. Tiap kesalahan tidak dibiarkan berlalu begitu saja, melainkan dikoreksi dan diperbaiki oleh sesama rekan pelajar dan guru.

    Pada materi grammar yang menjadi momok kebanyakan pelajar, penggunaan am, is, dan are pada simple present di nominal sentences hampir tuntas dengan memperhatikan capaian hasil latihan bab pada buku. Dua bab yang membahas materi tersebut hampir terselamatkan khususnya pelajar SMP dan SMA. Segelintir pelajar SD masih bergelut di bab 1 namun mereka terlihat bersemangat terus mengerjakan latihan karena lingkungan di sekelilingnya sibuk memajukan diri—lingkungan belajar mempengaruhi untuk turut giat.

    Sejalan dengan kemajuan di bidang tata bahasa tersebut, materi reading (bacaan), pemahaman teks cerita telah sampai pada lesson (pelajaran) 12. Para pelajar diajak membaca, memahami teks cerita dan menjawab soal-soal cerita. Pengetahuan tentang kemampuan berbicara kembali diolah dengan membaca nyaring dan grammar untuk memberikan jawaban yang terstruktur pada soal bacaan. Terdapat perpaduan antara bahasa Inggris untuk pergaulan dan akademis.

    Adapun materi mengarang di malam hari kini diubah ke arah percakapan karena mayoritas pelajar kewalahan membuat karangan. Sebagai pengganti, mereka mengisi soal tanya jawab yang berhubungan tentang diri mereka. Sumber utamanya bukan buku tapi kehidupan pribadi tiap pelajar. Langkah pertama adalah membaca secara perorangan ditayangkan secara Iive (siaran langsung) di Facebook. Setelah itu, bahan tersebut digunakan untuk berdialog secara berpasangan.

    Kampung Belajar sengaja memberikan jumlah pertemuan yang sangat padat melalui enam kali pertemuan sehari, sembilan jam sehari selama dua puluh hari dalam sebulan dalam rangka meruntuhkan kebuntuan belajar bahasa Inggris. Kita tahu, sekolah hanya menawarkan sekali atau dua kali dalam seminggu—mayoritas sekali tanpa ada pembiasaan praktik bicara Inggris di luar kelas belajar. Dengan adanya program liburan Kampung Belajar diselenggarakan oleh Rumah Belajar Bersama (RBB) ini, para pelajar dan khalayak umum yang bergabung membiasakan berbahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 24 Juni 2026

  • Strategi Cerdas Menumbuhkan Minat Belajar

    Strategi Cerdas Menumbuhkan Minat Belajar

    Liburan sekolah dengan mengisi kegiatan berbahasa Inggris di Kampung Belajar adalah strategi cerdas memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan berharga, pengetahuan. Ini karena terdapat keinginan dari pelajar itu sendiri yang ingin belajar dan kesadaran orang tua yang merayu dan meyakinkan anak-anaknya agar mau bergabung pada program yang dibuat oleh Rumah Belajar Bersama (RBB).

    Rekan-rekan pengajar mengetahui dengan baik cara para pelajar tersebut menikmati dunia belajar. Betapapun buku pelajarannya murni buatan orang asing berstandar internasional, pelajar dibuat senyaman mungkin dengan meramu pelajaran sulit tersebut terlihat sederhana. Bahan-bahan grammar (tata bahasa) dan bacaan lainnya diolah sedemikian rupa dalam bentuk bahan percakapan agar pelajar aktif berkomunikasi sesama rekan. Beragam permainan dibuat tapi yang sebenarnya adalah pelajaran bahasa Inggris. Games hanya sebatas trik menyenangkan hati guna memasukkan pengetahuan ke dalam isi kepala mereka.

    Karena tidak ada tekanan yang membuat pelajar terpaksa belajar, mereka selalu bersemangat betapapun menghabiskan waktu belajar sembilan jam sehari–pagi hingga malam hari. Bahkan di sela-sela waktu istirahat di siang hari, mereka kebanyakan memilih tetap berada di lingkungan Kampung Belajar, tidak pulang ke rumah, meminta orang tuanya untuk mengirimkan makanan dan minuman untuk makan siang. Ini juga menciptakan keakraban sesama pelajar yang baru berkenalan.

    Hal yang menjadi kejutan adalah anak-anak SD di waktu senggangnya berlatih mengerjakan modul perkalian dan pembagian 1 sampai 9 ala metode 40—perulangan 40 kali untuk bisa paham di luar kepala. Guru sekadar memberikan modul secara percuma (gratis) dan dengan sigap disambut dengan menjawab soal-soal, tanpa arahan tindak lanjut. Mereka sendiri yang berinisiatif untuk pandai perkalian dan pembagian dengan latihan mandiri. Dukungan ini diberikan karena selain mendukung pelajaran Matematika, anak-anak akan sangat mudah belajar grammar (tata bahasa) yang membutuhkan kemampuan berpikir abstrak dan logis karena grammar mempunyai sistematika yang juga butuh logika untuk menempatkan kata yang benar pada kalimat.

    Ketika memasuki kelas belajar di sore hari, pelajar terlihat telah mulai terbiasa dengan bacaan teks Inggris. Minat baca mereka melebihi minggu pertama. Efek rasa ingin tahu makin tumbuh di dalam diri mereka masing-masing, suatu tanda bahwa literasi melalui pendekatan bahasa Inggris berjalan efektif.

    Satu-satunya kendala terberat yang dihadapi Kampung Belajar saat ini adalah ketidakhadiran pelajar karena sakit atau ada kegiatan penting lainnya yang menyebabkan mereka tidak hadir di kelas. Keseimbangan kelas untuk menyelaraskan materi membuat para guru RBB berpikir ekstra. Beruntung, guru yang tidak sedang sibuk mengajar selalu bersedia membantu sehingga pelajar yang mengalami ketertinggalan materi dapat terselamatkan.

    Pada akhirnya, semua tim RBB berusaha semaksimal mungkin untuk menyukseskan capaian belajar sesuai yang ditawarkan ke publik. Berhasil atau tidak, masih ada waktu sekitar tiga minggu—berakhir 10 Juli 2026—untuk membenahi hal-hal yang luput dari perhatian. Harapannya, para pelajar yang menikmati Kampung Belajar ini dapat menumbuhkan budaya belajar di dalam diri mereka dan lingkungan terdekatnya minimal di rumah dan keluarga. Dengan demikian, belajar itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

    Zulkarnain Patwa
    Selasa, 23 Juni 2026

  • English Practice Club Memanggil Anda

    English Practice Club Memanggil Anda

    Orang yang ingin praktik bicara Inggris dengan gaya bebas melibatkan berbagai macam kalangan dapat bergabung di English Practice Club (EPC). EPC ini bukan perkumpulan baru, didirikan tahun 2018, dan sempat sangat populer. Teror Covid 19 membuatnya tiarap. Sesekali ia muncul ke publik setelah covid namun tidak sehebat di awal-awal berdirinya. Satu hal yang pasti, ia punya semangat untuk aktif sebagaimana di masa lalu dan bila perlu berbuat lebih baik dari yang sebelumnya.

    Pada kepemimpinan Andi Aryono saat ini, EPC mensolidkan diri dengan mengadakan rapat di Warkop NR, BTN 1 Bulukumba, Sulawesi Selatan. Para pengurus bermusyawarah untuk mengadakan minimal sekali pertemuan dalam sebulan di mana setiap kegiatan, seseorang tampil memberikan pengantar—semacam pembicara–dan kemudian ditindaklanjuti dengan diskusi atau obrolan santai, bisa juga serius karena anggotanya terdiri dari pemula dan tingkat lanjutan–tergantung suasana.

    Untuk membuat lebih semarak, EPC membuka ruang untuk merekrut anggota baru mulai dari kalangan pelajar dan mahasiswa hingga orang dewasa. Setiap orang tidak perlu khawatir karena yang dibangun adalah bukan sistem kompetisi tapi kolaborasi, saling mendukung untuk berani dan akrab berbicara dalam bahasa Inggris. “Itu orang Malaysia campur-campur bahasa Inggrisnya dengan Melayu,” kata Mr. Andy, salah seorang rekan yang baru bergabung. Gagasannya diterima itu artinya EPC memperkenankan untuk berbicara Inggris campur Indonesia. Kita semua sedang dan terus berproses dalam belajar.

    Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. EPC sebagai satu-satunya komunitas yang hidup di kota Bulukumba dengan tangan terbuka memanggil Anda semua untuk berakrab ria dan berbahagia praktik berbahasa Inggris. Insya Allah pertemuan perdana akan dilaksanakan pada Minggu, 28 Juni 2026, pukul 16.00 Wita di Warkop NR.

    Ingin tahu lebih jauh? Bergabunglah. Anda bisa menghubungi Moci: 0853-9494-6379.

    Zulkarnain Patwa
    Senin, 22 Juni 2026

  • Menakar Prabowo dan Abdul Mu’ti pada Pendidikan Bahasa Asing

    Menakar Prabowo dan Abdul Mu’ti pada Pendidikan Bahasa Asing

    Seruan Presiden Prabowo untuk memasukkan pelajaran bahasa Prancis dan Portugis membuat penulis yang aktif dalam penyebaran pengetahuan bahasa Inggris pusing. Betapa tidak, bahasa Inggris saja rumitnya bukan main diajarkan.

    Penyebabnya dua hal. Pertama, bahasa Inggris hanya sekali atau dua kali dengan total tiga jam penuh diajarkan dalam seminggu di sekolah. Kedua, kualitas. Tidak ada rancangan dari kurikulum dan guru sekolah untuk mendorong bahasa Inggris itu sebagai bahasa pergaulan yang diterapkan di hari-hari tertentu di sekolah sebagaimana yang dilakukan pesantren yang membumikan bahasa Arab dan (sebagian) bahasa Inggris.

    Contoh lain dari negeri yang jauh adalah Finlandia yang terpercaya sebagai pendidik terbaik dunia saat ini melampaui Amerika Serikat, Inggris, dan lainnya. Mereka malah mencetak pelajarnya mampu aktif bicara dalam tiga sampai empat bahasa asing sejak SD karena mereka aktif menggunakannya minimal dalam lingkungan sekolah dan kemudian ditindaklanjuti dengan membaca literatur asing. Itu sungguh dahsyat. Bahasa bukan saja menjadi alat pergaulan hidup sehari-hari tetapi juga alat untuk mengakses pengetahuan yang tersebar di mana-mana.

    Sebenarnya apa yang didengungkan Prabowo itu bisa masuk akal bila saja ia mau membuka kembali kelas bahasa di sekolah umum. Kita tahu, hingga tahun 2020-an, jurusan bahasa di kelas 3 SMA masih ada. Sayangnya, jurusan itu dianggap sebagai pembuangan sehingga pelajar kurang minat. Seandainya itu dipersepsikan jurusan unggulan, pastilah peminatnya juga tinggi. Perubahan ke arah persepsi positif tidak pernah terjadi hingga sistem jurusan IPA, IPS, dan Bahasa resmi dihapus sejak berlakunya Kurikulum Merdeka nasional pada 26 Maret 2024 melalui aturan Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024.

    Sesuai rancangan presiden, kurikulum semestinya ini dapat membuka ruang pilihan bahasa asing intensif dengan format yang lebih bagus dari jurusan bahasa di masa lalu. Di sinilah bahasa Portugis, Prancis, Inggris, dan Jerman yang telah ada sejak jurusan bahasa bisa dimasukkan. Peminatnya bisa sangat banyak bila presiden memberikan gambaran lebih rinci maksud pembelajaran bahasa asing tersebut. Tidak akan ada lagi istilah jurusan pembuangan sebagaimana yang lalu.

    Mari kita sandingkan pemikiran Prabowo dengan Abdul Mu’ti. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) ingin mencetak pelajar yang punya daya saing global. Karena itu, mulai dari 2027, bahasa Inggris diwajibkan di kurikulum SD. Langkah yang bagus. Celakanya, ia juga menerapkan pembelajaran Inggris sekali atau dua kali seminggu dan tidak merekrut sarjana Inggris, melainkan mendidik guru sekolah fasih berbahasa Inggris–waktu yang sangat lama dengan tingkat error yang tinggi.

    Niat baik dari Prabowo dan Abdul Mu’ti bisa terwujud dengan cara membuka ruang pilihan bahasa asing intensif itu. Tapi apakah mereka berani memajukannya ke SMP atau minimal di kelas 1 SMA? Jika ini terjadi, jadwal belajar bahasa asing justru menjadi lebih banyak–menutup kritikan jam belajar bahasa yang sedikit. Guru yang direkrut juga harus berkualitas dan kreatif karena mereka akan terlibat aktif membangun kebiasaan berbahasa Prancis, Portugis, dan Inggris dipraktikkan pada hari-hari tertentu di bawah aturan sistem yang terstruktur yang nantinya diharapkan melahirkan kultur berbicara asing dalam keseharian.

    Tapi yang patut diingat, jangan lagi baru mau mendidik guru sekolah untuk belajar bahasa Prancis, dan Portugis seperti yang berlaku di bahasa Inggris SD itu. Pemerintah cukup memaksimalkan 20 persen anggaran pendidikan secara tepat agar para intelektual Indonesia yang ahli bahasa mau ikut terlibat. Dengan anggaran yang dikerjakan dengan benar minus korupsi, kualitas terbaik pasti akan hadir. Para intelektual bahasa itu pasti berpikir dan bekerja maksimal karena ada penghargaan gaji yang layak.

    Dengan demikian, diplomasi politik luar negeri Prabowo tidak lagi terdengar omong kosong sebagaimana kritik netizen dan pernyataan Abdul Mu’ti tidak lagi pemanis kata dalam pidatonya. Tidak ada benturan antara ide Prabowo yang sepertinya menganut multilingualisme ingin bahasa Portugis dan Prancis dan mungkin saja ada lagi bahasa lainnya yang ia pidatokan dengan Abdul Mu’ti yang hanya fokus pada bahasa Inggris saja. Cukup Bahasa Inggris, Portugis, Prancis dan Jerman saja lebih dahulu. Itu sudah pasti sudah hebat, mampu mendekati kemajuan pendidikan di Finlandia.

    Nanti setelah sukses, barulah kemudian ditambah lagi. Berkaca dari pendiri bangsa kita, mereka pandai berbagai macam bahasa asing. Jadi ini sebenarnya bisa asalkan dikerjakan sebenar-benarnya, bukan lahan sunat-sunatan yang merusak reputasi pendidikan kita.

    Apakah pemerintah punya ide yang lebih baik? Adakah alasan anggaran yang terbatas untuk tidak mewujudkannya? Apakah kita perlu diam saja dan tetap jalan di tempat? Setiap pilihan menentukan kualitas pendidikan manusia Indonesia.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 21 Juni 2026

  • Lompatan Logika Berpikir

    Lompatan Logika Berpikir

    Pembalikan Logika dalam Bahasa
    Mengubah kalimat active voice ke passive voice mudah bagi yang mengerti tenses (active voice), tetapi mengubah dari passive voice ke active voice, itu jauh lebih sulit. Padahal, jika diperhatikan, cukup membalik cara berpikir. Lalu apa masalah?

    Kebiasaan pelajar adalah terlebih dahulu mempelajari active dan itulah cara terbaik. Tatkala tiba-tiba diminta mengubah passive ke active dengan kalimat yang berbeda: simple past pada passive voice ke present perfect pada active voice, banyak pelajar pemula yang kewalahan—tidak peduli anak-anak atau dewasa, sama saja. Setelah sering praktik lisan, kesulitan pun terlewatkan.

    Konsistensi
    Penulis belajar dari proses yang dilalui Adeeva, anak kelas 4 SD. Pelajaran passive voice ke active voice ia lakukan hampir dalam sebulan, setiap kali datang belajar di Rumah Belajar Bersama (RBB), ia berlatih. Sekarang, ia sudah bisa mengubah kalimat passive ke active ataupun sebaliknya tanpa melihat catatan.

    Orang mungkin berpikir bahwa Adeeva anak yang memang pintar bisa mempelajari materi bahasa Inggris yang tidak diajarkan di SD. Penulis malahan punya pendapat yang berbeda. Sebelum Adeeva fasih, anak-anak yang tekun berlatih juga punya kemampuan yang sama dengan Adeeva. Kepintaran itu adalah hasil usaha dari pembiasaan belajar. Orang yang dicap pintar bila malas, mereka akan tertinggal.

    Lingkungan dan Kreativitas
    Hal lain yang mempengaruhi adalah lingkungan belajar. Para guru yang punya kreativitas berpikir mengetahui kemampuan pelajarnya yang memungkinkan mendapatkan pelajaran yang di luar kebiasaan. Para pelajar berbakat yang menjadi target sasaran guru pun merasa tertarik dan tertantang mempelajari hal-hal yang baru. Pertemuan gagasan inilah yang konsisten dijalankan hingga terwujud loncatan pembelajaran yang dianggap cenderung tidak bisa terbukti bisa.

    Olimpiade
    Para pelajar tersebut dapat didorong untuk kompetisi olimpiade bahasa Inggris untuk lebih memotivasi dirinya dalam belajar. Soalnya, pelajaran sekolah terlalu sederhana buat mereka. Bila mereka tidak dibuatkan tantangan, mereka cenderung bersantai belajar karena menganggap tidak ada yang sulit di sekolah.

    Faika, rekan kelas Adeeva di RBB, mengatakan, “Kalau ujian semester di sekolah, saya tidak belajar.” Terdengar arogan tapi sebenarnya tidak. Komentar anak kelas 3 SD ini adalah hal yang wajar mengingat ia adalah anak yang pernah meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris. Soal ujian semester sekolah bukan lagi masalah buatnya. Yang ia pikirkan adalah bagaimana ia mampu mempelajari sesuatu yang baru untuk persiapan olimpiade berikutnya.

    Kedua anak tersebut sengaja dibuat akrab agar mereka saling mengisi, bukan kompetisi. Maksudnya pelajaran yang tidak dipahami Faika dapat ia tanyakan ke Adeeva dan Adeeva pun melakukan hal yang sama. Ikatan perkawanan menumbuhkan rasa ingin tahu, bukan sekadar rekan bermain. Selain itu, saat olimpiade nantinya, mereka berada di kelas yang berbeda karena tingkat kelas mereka di sekolah berbeda: Faika kelas 3 dan Adeeva kelas 4.

    Kolaborasi
    Dalam waktu dekat ini, mereka akan mengikuti olimpiade bahasa Inggris. Sebelum mereka mendapatkan soal-soal latihan, gurunya memberikan penekanan agar materi tingkat dasar pada Reading (bacaan) yang berisi soal-soal cerita dan grammar termasuk active voice dan passive voice diperkuat agar mereka punya bekal kemandirian berpikir untuk menganalisis soal-soal tingkat tinggi.

    Bagi pelajar berbakat, adakah tantangan yang lebih menarik selain olimpiade?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 20 Januari 2026

  • Meruntuhkan Kerumitan

    Meruntuhkan Kerumitan

    Kerumitan adalah kesempatan untuk melakukan hal yang lebih baik, kata B. J. Habibie. Begitulah teori keseimbangan sayap pesawat ditemukan oleh Habibie. Merujuk pernyataan Habibie, Eropa pada masa itu tiap minggu gagal mendaratkan pesawatnya dengan selamat. Habibie diminta menyelesaikan masalah tersebut dan ia berhasil menyelesaikan persoalan super rumit tersebut.

    Berguru dari filosofi Habibie tentang “kerumitan”, penulis bertanya kepada Mr. Agung mengenai masalah yang ia hadapi mengelola kelas grammar (tata bahasa) di Kampung Belajar–program liburan Rumah Belajar Bersama (RBB). Agung menjelaskan bahwa ada dua orang anak SD yang sangat kesulitan mengikuti pelajaran. Maklum, grammar itu butuh ketelitian dalam menganalisis soal. Ini sulit ditangani bukan karena tidak cukup waktu–tiga jam sehari– tapi karena tingkat soal-soal yang tersedia belum mampu dicerna dengan baik oleh logika berpikir pelajar tersebut.

    Penulis berpikir sejenak. “Gampang,” ungkap penulis meyakinkan. “Agar jam mengajarmu tidak banyak menyita waktu mengurus mereka, serahkan saja anak-anak tersebut kepada saya karena saya tidak sibuk saat kamu sedang mengajar.” Mr. Agung sepakat.

    Solusi terbaik buat kedua anak tersebut adalah memberikan jawaban pada latihan soal-soal dan dibaca dengan suara nyaring secara berulang-ulang hingga pikiran mereka akrab gaya bahasa grammar. Tindak lanjut berikutnya, grammar diajarkan dalam bentuk speaking (bicara). Dalam buku latihan grammar, terdapat banyak materi soal tanya jawab yang sangat memungkinkan didesain menjadi bahan percakapan. Kebiasaan membaca dan bercakap dengan terstruktur tersebut akan sangat berpengaruh membentuk pola pikir yang lebih tertata.

    Dari kalimat-kalimat Inggris sederhana yang mereka kenal baik dalam pikiran mereka, itulah yang diolah dan dipahamkan secara perlahan. Penulis pernah menerapkan metode ini saat menghadapi pelajar yang mempunyai karakteristik mirip seperti yang dijelaskan di atas.

    Jadi, jika Habibie menaklukkan kerumitan dengan analisis yang mendalam, penulis justru mencoba menaklukkannya dengan meruntuhkan kerumitan itu menjadi hal yang paling sederhana.

    oplus_0

    Sedangkan kelas belajar di malam hari pada materi mengarang, terdapat strategi dari Mr. Ancha, guru kelas, untuk membuat pelajar aktif berbicara dimulai dengan pertanyaan. Ia menyederhanakan proses mengarang yang menakutkan menjadi sekadar menjawab pertanyaan obrolan sehari-hari. Intinya, menurut Mr. Ancha, “Ini berguna untuk menghindari anak-anak menerjemahkan kata-kata ketika berbicara.” Mereka dididik agar mampu berbicara secara spontan (spontaneous speech). “Oleh karena itu,” lanjut Mr. Ancha, “mereka dituntut menjawab soal-soal di bawah ini dengan gaya deskripsi, bukan yes or no answers (jawaban ya atau tidak).”

    1. Do you have a family?
    2. How many people are there?
    3. Who looks like your father and your mother?
    4. How often do you spend your time with your family?
    5. Say what you like about your family.
    6. Say what you dislike about your family.
    7. Do you have an extended family?

    Dari jawaban pada soal-soal tersebut di atas, ini adalah bahan untuk dijadikan karangan. Layaknya peribahasa yang mengatakan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui: kelas ini mengasah kemampuan berbicara dan mengarang.

    Ketika kerumitan telah menjadi sederhana, masih adakah kerumitan itu?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at, 19 Juni 2026

  • Komat-Kamit Bermakna

    Komat-Kamit Bermakna

    Dua orang anak SD bernama Heril dan Aul sedang dibiasakan membaca, akrab dengan literasi. Guru meminta mereka membaca sebuah buku cerita sederhana berbahasa Inggris dengan suara nyaring. Mulut mereka “komat-kamit” bicara dengan percaya diri tanpa ada rasa bersalah pada kesalahan dalam pengucapan. Berkali-kali mereka dipandu guru untuk memperbaiki bacaan, namun sayang sekali, tingkat kesalahannya masih sulit ditoleransi.

    Guru memutar otak. Modul terjemahan cerita ke dalam bahasa Indonesia itu diminta untuk dibaca bersama-sama. Setelah itu, mereka mendialogkan isi cerita secara berpasangan sebanyak tiga kali. “Apakah kalian sudah mengerti isi cerita itu?,” tanya guru. “Mengerti,” jawab anak-anak. “Baiklah,” kita kembali membaca dalam bahasa Inggris.

    Seorang anak bernama Hilal yang bacaannya sudah lebih baik dipanggil untuk membantu kedua anak tersebut. Metode ini disebut Peer Tutoring (Tutor Sebaya). Hilal memimpin bacaan hingga tuntas. Ada perasaan dari Hilal bahwa ilmunya berharga dan terpercaya karena dirinya menjadi rujukan buat rekan pelajar lainnya. Selain itu sang guru hendak memberitahu secara tidak langsung bahwa anak-anak yang hampir seumuran pasti bisa lancar membaca dalam bahasa Inggris, asalkan rajin mengulang. Mereka pun kagum akan kemampuan Hilal dan ingin punya kemampuan yang sama.

    Kemudian, guru mengambil alih kelas. Listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) dipraktikkan. Agar tidak repot membuka modul terjemahan, setiap kalimat diterjemahkan secara lisan oleh guru. Pada akhirnya, tingkat kesalahan membaca mereka jauh lebih rendah dari sebelumnya. Senyum bahagia pun terpancar.

    Di waktu istirahat, guru mengingatkan agar kedua murid yang bergabung di Kampung Belajar tersebut untuk rajin membaca. Beragam buku telah diberikan kepada mereka. Mereka tinggal memilih buku mana yang merasa nyaman dibaca di waktu santai agar suara komat-kamit mereka terdengar lebih merdu, jelas, dan bermakna.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 19 Juni 2026

  • Kampung Belajar Menembus Kemustahilan

    Kampung Belajar Menembus Kemustahilan

    Mendidik segelintir manusia sangat efektif menggunakan personalized learning (pendekatan per individu). Terdapat cukup waktu untuk mengelola potensi manusia yang daya serapnya berbeda-beda. Pelajar yang pelajarannya tertinggal dapat bertanya lebih banyak dan guru langsung punya kesempatan . Guru langsung dapat mengetahui kendala pelajar tanpa menunggu waktu lama untuk segera mengatasi masalah. Alhasil , proses interaksi dan feedback (umpan balik tercipta dengan intens.

    Bila kita membandingkan dengan sekolah umum, personalized learning ini sangat sulit diterapkan disebabkan jumlah pelajar bisa mencapai lebih dari 40 orang dalam satu kelas. Namun ada yang menarik yang penulis temukan tatkala berkunjung ke MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Insan Cendekia, sekolah yang.didirikan B. J. Habibie, di Gorontalo pada 2011. Gurunya menerangkan bahwa dalam satu kelas jumlah maksimal 20 sampai 24 orang saja. Ini bukan berarti peminat sekolah itu sedikit, tapi kebalikannya–peminat tumpah ruah se-Indonesia dengan kuota yang sangat terbatas.

    Rasa kaget tidak terhenti sampai di situ saja. Guru itu melanjutkan bahwa pelajar yang kelas 2 sudah mempelajari soal-soal ujian persiapan masuk perguruan tinggi. Banyak alumninya mendapatkan tawaran beasiswa dari luar negeri seperti Jerman dan Amerika namun sayang sekali, sebagian kecil saja memanfaatkan peluang tersebut karena selain beasiswa yang kadang tidak penuh, orang tua pelajar khawatir anaknya kuliah di tempat yang jauh utamanya perempuan.

    Potret pendidikan di MAN Insan Cendekia Gorontalo sangat sejalan dengan Rumah Belajar Bersama (RBB). Setelah pembelajaran teori yang dikuatkan dengan praktik, satu per satu pelajar tampil di depan kamera, siaran langsung di media sosial tanpa editing. Efeknya, tiap orang orang berpikir tidak mau terlihat bodoh disaksikan oleh publik. Karena itu, sebelum memperoleh kesempatan, mereka memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk memahami materi yang akan disampaikan.

    Sekarang ini RBB sedang menjalankan Kampung Belajar—program berbahasa Inggris selama liburan sekolah selama satu bulan dengan sembilan jam belajar sehari. Memasuki hari keempat, pelajar dan telah tampil berkali-kali yang dimulai dari kosakata, percakapan dan tata bahasa. Perkembangan luar biasa terlihat pada kelas mengarang. Hasil karangan tersebut diterjemahkan oleh guru kelas dan kemudian pelajar berlatih bicara dalam bahasa Inggris. Tiga orang telah berhasil tampil menceritakan impian masa depannya dalam bahasa Inggris dan disiarkan secara langsung di Facebook. Itu lumayan mengagetkan bagi banyak orang.

    Bagaimana mungkin pemula secepat itu?

    Jawabnya terjelaskan pada jam belajar yang padat disertai kualitas materi. Pelajar diminta untuk menjadi dirinya sendiri sehingga tidaklah sulit untuk menemukan bahan yang hendak dikisahkan. Bagaimana dengan pelajar yang masih takut? Itu hanyalah ketakutan semu. Di Kampung Belajar, semua orang diberikan kebebasan berekspresi: selama ekspresi tersebut tidak mengganggu kegiatan belajar, dilarang melarang berlaku.

    Pendekatan personalized learning di Kampung Belajar—yang hanya diikuti oleh kurang dari sepuluh peserta dan dibimbing oleh tiga guru berbakat alumni Kampung Inggris Kediri, Jawa Timur—sangat berpotensi menciptakan “faktor wow”. Di sinilah para pelajar menciptakan terobosan baru yang diharapkan mampu menginspirasi pelajar lainnya, sekaligus membuktikan bahwa hal-hal yang dianggap mustahil sebenarnya sangat bisa diwujudkan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 18 Juni 2026

  • Belajar Bahasa: Dari Percakapan hingga Mengenal Diri

    Belajar Bahasa: Dari Percakapan hingga Mengenal Diri

    Hari ketiga pada kelas pagi Kampung Belajar diisi dengan literasi dan percakapan. Para pelajar didampingi guru membaca bersama dengan suara nyaring sebanyak tujuh lessons (pelajaran). Setiap selesai membaca satu lesson, mereka memilih pasangan untuk mempraktikkan ulang materi tersebut melalui percakapan. Setiap pergantian lesson, pasangannya berganti juga agar keakraban sesama pelajar terjalin lebih kuat.

    Praktik percakapan secara berpasangan.

    Strategi ini awalnya berjalan lambat karena kesalahan dalam membaca kosakata secara tepat masih sering terjadi. Beruntung, sesama pelajar dan guru kelas selalu mengingatkan dan membantu memperbaiki pengucapan yang salah tersebut. Misal: kata late, name, dan typist yang seharusnya dibaca leit, neim, dan taipist tapi dibaca let, nem, dan tipis. Hal-hal kecil tersebut sangat diperhatikan. Kesalahan dalam pengucapan mengakibatkan pendengar salah tafsir.

    Selain itu, mereka juga diminta untuk tidak terburu-buru dalam membaca dan tidak takut salah karena pelajar yang terburu-buru sering kali buat banyak kesalahan dan yang takut salah tidak berani bicara dengan suara lantang. Untuk mewujudkannya, tidak seorang pun diperkenankan meledek pelajar yang salah.

    Karena tidak ada yang mem-bully, mereka saling menghargai. Keakraban pun terbangun. Pelajar yang mendapatkan masalah dalam memahami materi tidak sungkan bertanya kepada temannya. Hubungan baik ini harus terus dijaga agar suasana belajar tetap terasa nyaman.

    Merasa cukup dengan percakapan, seorang pelajar mengusulkan pelajaran yang lebih ringan, parts of the body (bagian-bagian dari tubuh). Materi ini jauh lebih mudah—menyebut kosakata yang ada di tubuh sembari memegang benda yang disebut. Misalnya, hair, head, dan forehead (rambut, kepala dan jidat). Puluhan kosakata mampu dipraktikkan tanpa kendala yang berarti. Lagi pula, Faika yang lebih dahulu mengerti pelajaran tersebut tampil di depan kelas melakukan praktik bersama rekan-rekannya. Ini terlihat seru, seolah mereka sedang bermain.

    Ketika waktu jam belajar hampir selesai, tiap orang maju satu per satu mempraktikkan di depan camera melalui siaran langsung (live) di Facebook. Ternyata, satu dua orang lupa beberapa kosakata sehingga membutuhkan bantuan guru. Tapi itu sudah lebih baik karena mereka telah berjuang dan berani tampil.

    Sebagai penutup, guru menyampaikan pentingnya parts of the body. “Jangan kalian dianggap pandai bercakap tapi ketika mendapatkan pertanyaan tentang apa bahasa Inggris dari lubang hidung, bulu mata, dan bola mata, kalian tidak tahu.” kata guru kelas tersebut. “Apa guna belajar banyak hal bila hal-hal yang melekat di diri tidak diketahui?” tutupnya. Pelajar sepakat tanpa perlu menjawab. Kelas pagi yang mulai dari 9 pagi hingga 12 siang pun selesai.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 17 Juni 2026

  • Kecerdasan pada Hukum Perulangan

    Kecerdasan pada Hukum Perulangan

    “Apakah conversation (percakapan) ini dihapal?” seorang pelajar bertanya sambil melihat bahan bacaannya. “Tidak,” jawab guru. “Alhamdulillah,” balasnya dengan raut wajah gembira. Pelajar yang lain pun bersorak ria. Guru melanjutkan, “Ada cara yang lebih mudah yaitu dengan mengulangi bacaan dilakukan secara serempak, listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) dan berpasangan.”

    Ini adalah the law of repetition (hukum perulangan) untuk menginternalisasi pengetahuan dalam kepala yang berujung pada pemahaman—hal yang lebih tinggi dari hafalan, mesin fotokopi. Selain itu, terdapat kesepahaman antara guru dan pelajar yang sama-sama tidak suka hafalan yang dianggap cenderung melelahkan dan membosankan.

    Sesi pertama diisi dengan membaca buku secara serempak. Ada yang lancar, ada yang tidak. Tugas guru adalah menyelaraskan ketidaksesuaian suara, memperbaiki pengucapan yang salah. “Bagi yang belum lancar bicara, silakan membuka buku sambil bicara, namun yang merasa lancar, tutup buku saja,” terang guru. Setelah beberapa kali praktik, semua menutup buku.

    Karena sebagian pelajar anak-anak SD bergabung dengan orang dewasa yang masih pemula, cara cerdik membuat semua senang adalah berbicara disertai gerakan tubuh sesuai arah pembicaraan. Pikiran tertarik untuk turut membayangkan benda-benda yang disebut yang memudahkan otak mengenal istilah asing. Semua terlihat senang menghapus anggapan bahasa Inggris susah dibaca dan diucapkan.

    Sesi berikutnya meninggalkan tempat duduk ruang kelas. Semua pelajar menuju depan teras dinaungi pohon mangga yang rindang untuk mendapatkan suasana belajar yang baru. Pelajar berdiri berhadap-hadapan untuk conversation. Agar the law of repetition tetap berjalan, setelah satu pasangan menyelesaikan conversation, satu orang dari tiap pasangan diganti dengan orang lain sehingga semua pelajar terus berkomunikasi dengan orang yang berbeda hingga mereka yakin bahwa apa yang mereka praktikkan sudah cukup baik dikuasai.

    Conversation yang pasangannya terus berganti hingga semuanya saling bercakap.

    Sesi terakhir adalah games kosakata. Setiap pelajar memilih satu benda diletakkan di atas meja: Sapu, lakban, batu merah, sendok, daun, dan sebagainya. Kemudian, sebuah barisan dibuat. Seseorang yang menghadap ke barisan bertindak sebagai pemimpin. Sang pemimpin bertanya, “What is this?” (Apa ini?) sambil menunjuk suatu benda di meja. Jika peserta salah dalam menjawab, ia akan mundur, berada di barisan belakang, antre kembali untuk mendapatkan pertanyaan. Jika benar, ia menjadi pemimpin dan mengajukan pertanyaan yang sama. Mereka bermain games sampai semua istilah Inggris dari semua benda di meja dikenali dengan baik.

    Dari tiga jam kelas pagi hari di Kampung Belajar ini, pelajaran di atas menghabiskan waktu sekitar dua setengah jam. Setengah jam tersisa dimanfaatkan untuk istirahat, menikmati makanan, dan bersantai. Para pelajar ini mengira bahwa bahasa Inggris itu fun (menyenangkan). Untuk pemula, kenyataannya sengaja dibuat demikian. Nanti setelah mereka cukup lama menikmati dunia belajar, pelajaran yang sulit penuh dengan tantangan akan diberikan. Pemahaman yang telah mereka bangun pada tingkat dasar akan diuji dengan materi yang baru yang mengejutkan dan menantang.

    Zulkarnain Patwa

    Selasa, 16 Juni 2026