Kategori: Program

Program dan mata pelajaran dari Rumah Belajar Bersama

  • Melirik Hari Pertama di Kampung Belajar

    Melirik Hari Pertama di Kampung Belajar

    Hari pertama pada jam 9 sampai 12 siang, Kampung Belajar Inggris dihadiri enam orang pelajar, jumlah yang sangat efektif untuk mengolah materi pelajaran. Setelah berkenalan, hampir semua pelajar masih benar-benar tahap pemula kecuali Faika yang telah ikut Kampung Belajar pada semester yang lalu. Ini membuat penulis berpikir ganda bagaimana menemukan cara belajar yang membuat pelajar tidak takut pada Bahasa Inggris sebagaimana yang mereka alami dalam menjalani perjalanan kehidupannya.

    Kami memulai dengan mempertanyakan benda-benda yang ada sekitar ruang belajar. Is this your book? (Apakah ini bukumu?) Kata “book” diganti dengan “pen, pencil” dan sebagainya untuk memperkenalkan kosakata baru tanpa harus menghafal. Agar terjadi komunikasi, dibuatlah percakapan secara berpasangan. Karena mudah, ini terlihat menyenangkan. Mereka tidak takut berbicara.

    Langkah kedua mencari cara agar sesama pelajar saling berkenalan. Penulis bertanya, “What is your name?” kepada tiap orang. Setelah mereka pandai menjawab, pertanyaan untuk orang ketiga dimasukkan “What is her/his name?” (Siapa namanya). Kemudian, sesama pelajar saling bertanya dengan caranya sendiri. Penulis sekedar memandu memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam pengucapan.

    Langkah ketiga adalah bacaan. Sebagian besar yang telah mereka pelajari secara lisan terdapat di dalam buku. Jadi meskipun bacaan berbeda dengan pengucapan, mereka tidak begitu kewalahan mengucapkan. Pengenalan teks Inggris diperkenankan agar mereka tidak buta huruf. Rumah Belajar Bersama (RBB)–penggagas utama Kampung Belajar–selaras dengan pendidikan akademis yang tidak memperkenankan pandai bicara tapi tidak pandai membaca teks.

    Tahap Kedua
    Di siang hari, para pelajar masuk kelas Reading (Bacaan) namun Mr. Ancha, guru Reading, tidak langsung membuat mereka membaca tapi menceritakan pengalaman pribadi dalam bahasa Indonesia yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Mereka dilatih untuk pandai menulis dan dari hasil tulisannya dijadikan bahan pembicaraan. Inilah yang akan dibuat dalam bentuk video yang dipraktikkan secara perorangan.

    Latihan mengarang dalam bahasa Indonesia yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

    Setelah itu, sesuai dengan nama kelas Reading, bacaan buku berbahasa Inggris diperkenalkan. Anak anak SD dan SMP diminta membaca Basic Reading tahap satu dan SMA tahap dua. Beberapa kali perulangan dilakukan untuk menciptakan kelancaran dan kefasihan pada bacaan. Disadari atau tidak, gerakan literasi telah ditancapkan dalam pikiran dan perilaku belajarnya.

    Tahap Ketiga
    Pembelajaran dalam bentuk grammar (tata bahasa) yang dikelola oleh Mr. Agung. Para pelajar tidak diminta berbicara tapi berlogika menempatkan kata yang tepat pada kalimat. Mereka dikenalkan penggunaan article (kata sandang) dan kata dan kalimat tunggal dan jamak. Ruangan relatif sunyi karena semua pelajar lebih fokus menganalisa. Suara Mr. Agung nyaring terdengar memahamkan segala persoalan yang dihadapi.

    Berpikir logis melalui pendekatan grammar (tata bahasa).

    Setelah beberapa waktu, sebagian dari mereka telah menyelesaikan latihannya. Penulis meminta izin kepada Mr. Agung untuk mendidik pelajar yang telah menyelesaikan latihannya membaca latihan tersebut di ruangan berbeda. Hal ini dimaksudkan agar grammar dapat diaplikasikan dalam berkomunikasi. Semua nama yang disebut Mr. Agung berkenalan melakukannya.

    Menjelang matahari tenggelam, kelas hari pertama nampaknya selesai. Tapi ternyata, pelajaran dari jam 09.00 pagi hingga 18.00 sore dengan istirahat 1.30 jam saja ini tidak berhenti sampai di situ. Mereka akan lanjut lagi belajar pada 19.15 – 20.45 malam. Kampung Belajar ini punya desain belajar sedikitnya 9 jam sehari dengan total 180 jam untuk mencetak pelajar yang punya kualitas handal dan daya saing.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 15 Juni 2026

  • Salah Kaprah tentang Pinisi

    Salah Kaprah tentang Pinisi

    Silaturahmi Dr. Horst Liebner ke Rumah Belajar Bersama (RBB) tak lepas dari pembicaraan tentang pelestarian perahu tradisional Indonesia khususnya Sulawesi Selatan di mana ia mengajak penulis bergabung menuliskan isu-isu penting yang perlu diperkenalkan kepada khalayak umum. Terus-terang, peneliti yang sekaliber Horst membuat penulis merasa tidak punya kapasitas yang cukup untuk berdampingan dengannya, tapi ia meyakinkan bahwa apa yang penulis nantinya tuangkan bukanlah hal yang rumit sebagaimana yang ia kerjakan selama ini.

    Kami pun membahas beberapa tulisannya untuk mencari padanan kata yang lazim dan tepat untuk konsumsi publik. Terjadilah perbedaan paham yang saling menguatkan dengan argumentasi. Ah! Asyik juga. Pertemuan kami terletak pada pemahaman grammar (tata bahasa) sehingga jalan tengah dapat disepakati. Sedangkan istilah kosakata, kami mencari secara bersama hingga menemukan kosakata yang paling tepat dan nyaman dibaca pada paragraf.

    Penulis terheran-heran, Pak Horst banyak menghabiskan waktu meneliti dunia maritim tapi pengetahuan bahasanya sangat bagus, mengerti perubahan kata yang sesuai dengan standar baku. Rasa heran penulis terjawab karena Pak Horst memang dikenal luas sebagai seorang pakar antropologi maritim sekaligus pemerhati sastra Melayu. Mengenai kemampuannya berbahasa Indonesia, ia menempuh S 2 di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Sebuah buku kuliahnya berjudul Bahasa Indonesia, Deskripsi dan Teori bernama N. F. Alieva dkk. karya orang Rusia sempat ia rekomendasikan untuk penulis baca.

    Seandainya penulis bukan penutur asli Indonesia dan tidak memahami struktur bahasa Inggris–yang memberikan modal logika untuk menghubungkannya dengan struktur–bahasa Indonesia, pastilah penulis tertinggal jauh darinya. Untuk itu, beberapa istilah yang tidak nyambung dengan Indonesia, istilah Inggris sangat membantu menjembatani konsep-konsep yang sulit dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia. Bagi Horst, bahasa Inggris itu hal biasa karena mayoritas hasil penelitiannya dipublikasikan dalam bahasa tersebut.

    Setelah membahas tentang tulisan, kami mengajak dua orang pelajar RBB yang masih SMP untuk membaca esai yang setiap laman berisi sekitar 150 sampai 200 kata. Itu sengaja dibuat sependek dengan makna yang padat karena berdasarkan hasil penelitian, mayoritas pembaca di depan layar hp tidak sanggup membaca banyak kata. Hasilnya terlihat menggembirakan. Kedua anak remaja itu penasaran untuk tahu lebih banyak tentang perahu dan dunia maritim.

    Namun itu bukan sebuah kesimpulan. Horst mengatakan, “Mereka mau membaca karena ada gurunya yang meminta.” Kami tertawa. “Jadi mereka takut kalau tidak melaksanakan perintah guru,” tambahnya. Karena penulis yang meminta pelajar itu membaca, pembelaan pun dibuat. “Tidak Pak Horst. Mereka ini datang ke RBB karena mau belajar. Arahan membaca itu sekadar pengantar saja. Lagi pula, saya bukan guru kelasnya.” Horst tersenyum dan menganggukkan kepala. “Okelah,” kata Horst.

    Kemudian Horst berbincang-bincang dengan pelajar tersebut untuk mengetahui sejauh mana ketertarikannya dengan dunia pembuatan perahu. Ternyata yang mereka kenal adalah perahu Pinisi, lainnya tidak. Mereka mengira semua perahu yang dibuat di Kecamatan Bonto Bahari yaitu Tanah Beru, Ara, Bira serta di Samboang di Kecamatan Bonto Tiro adalah Pinisi. Padahal, Pinisi itu hanyalah istilah layar. Inilah salah satu alasan kenapa website dibuat di samping untuk menelaah tradisi folklor yang berkembang di masyarakat yang perlu dibandingkan dan diterangkan secara logis.

    Para pelajar generasi sekarang ini memang kurang mengetahui tentang perahu, tapi Bulukumba cukup punya perhatian karena kedua anak ini mengaku kepada Horst bahwa mereka pernah diberikan sedikit pembekalan tentang Pinisi di sekolah di SMPN 2 Bulukumba melalui pemutaran video tentang Pinisi. Video tentu tidak cukup namun itu membuka rasa penasarannya sehingga mau membaca.

    Dari eksperimen kecil dari kedua anak tersebut, kami mendapat gambaran yang lumayan jelas tentang bagaimana cara merancang tulisan yang lebih familiar dengan pelajar sekolah yang tentunya mudah dimengerti oleh khalayak umum. Pengetahuan dan istilah perahu tradisional dalam bahasa Konjo memang sangat rumit dijelaskan dan itu bagian dari tugas kami untuk turut menyederhanakannya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 14 Juni 2026

     

  • Intelektual Muda Membangun Kampung Halamannya

    Intelektual Muda Membangun Kampung Halamannya

    Masa muda yang penuh semangat menuntut ilmu mempertemukan penulis dengan Hadi Kasmaja Dg Saktiala. Waktu itu, Sakti kuliah di Makassar dan penulis di Yogyakarta. Kehausan berbahasa Inggris tanpa sengaja mempertemukan kami di Kampung Inggris Pare Jawa Timur sekitar tahun 2012. Anak sesama Sulawesi mudah berkenalan karena ada Asset (Associaton of Sulawesi Students), perkumpulan organisasi daerah terbesar di Kampung Inggris itu.

    Suatu kesyukuran ketika setelah sarjana Sakti yang masih intelektual muda pulang kampung dan membangun pendidikan alternatif di Karama. Latar belakangnya sebagai sarjana Matematika dan pemahaman bahasa Inggris yang lumayan bagus tentu sangat luar biasa membangkitkan pendidikan desa. Tapi menariknya, ia lebih dekat dengan tradisi keagamaan sehingga lembaganya lebih sering mengangkat isu pendidikan agama. Dan satu lagi, menanamkan kecintaan terhadap bacaan (literasi) kepada pelajar.

    Penulis mengisi pelajaran bahasa Inggris di Desa Karama, kampung halaman Sakti.

    Sebelum menjadi penceramah agama, Sakti populer di Bulukumba berkat kecerdasannya menjadi motivator. Penjelasannya memukau massa di mana orang bisa tertawa dan menangis dalam satu acara. Ia diundang berbagai macam tempat. “Silakan undang saya,” katanya. “tanpa perlu bayar,” lanjutnya agar orang tidak merasa terbebani. Pelajar sekolah, guru sekolah dan lembaga swasta pun kemudian tanpa sungkan banyak mengundangnya, termasuk Rumah Belajar Bersama (RBB).

    Penulis pun terkesan dengan upaya menebar ilmu dan mencoba mengenal pencerahannya lebih dekat di desanya dengan mengisi pelajaran bahasa Inggris di lembaganya, Tbm Karama Cendekia. Saat mengisi materi dengan konsep bermain kepada anak-anak, semangat belajar yang sangat tinggi terpancar dari wajah-wajah yang bersahaja. Mereka juga sangat cepat memahami pelajaran. Mereka sama sekali tidak terlihat capek, padahal itu bulan puasa, 2018. Mereka anak-anak desa yang luar biasa.

    Di tangan dingin Sakti bersama para intelektual muda lainnya digabungkan dengan spirit belajar anak-anak di Karama, pendidikan di desa tersebut pasti akan berkembang sebagaimana yang pernah terjadinya di Bonto Tiro, Kab. Bulukumba yang telah dikenal sebagai gudangnya orang terdidik dengan reputasi sarjana terbanyak di Sulawesi Selatan.

    Terlebih, Sakti sudah punya pengalaman sukses mengelola Kelas Inspirasi di mana ia sebagai pemimpin di organisasi itu berhasil menghimpun berbagai macam kalangan dan profesi untuk datang mengajar sehari di sekolah sekolah terpencil. Kesuksesan itu otomatis membangun network dan trust (kepercayaan) publik buatnya dan menjadi modal untuk lebih mengembangkan gagasan pendidikan yang sedang ia bangun.

    Semoga penulis dan Sakti bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 13 Juni 2026

  • Berbahasa Inggris (Tidak) Mengandalkan Sekolah

    Berbahasa Inggris (Tidak) Mengandalkan Sekolah

    Mungkinkah pelajar lancar berbahasa Inggris mengandalkan pelajaran sekolah? Pelajaran ini diajarkan sekali dalam seminggu mulai dari SD, SMP dan SMA. Itu bukan masalah bila saja keseharian mereka akrab berbicara inggris dengan sesama pelajar dan guru. Ah! Itu hanya terjadi di sekolah standar internasional yang harganya selangit. Kalau di sekolah negeri, mungkin ada tapi mayoritas tidak, terlebih bagi daerah yang jauh dari pusat kota.

    Strategi pemerintah membekali pelatihan guru SD pada Bahasa Inggris adalah niat baik karena guru sekolah akan terbiasa berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan pelajarnya. Masalahnya, apakah pelatihan yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendiknasmen) menyediakan waktu belajar yang cukup? Jangan-jangan, kursus yang disediakan orang pendidikan informal sebanyak 3 x sampai 5 seminggu dengan durasi 90 menit tiap pertemuan itu lebih banyak daripada yang diadakan Kemendikdasmen. Bila sekedar mengadakan pelatihan dalam seminggu atau sekali belajar dalam seminggu, pastilah pengetahuan guru sekolah tertinggal jauh. Wajar bila persepsi masyarakat umum tidak berubah bahwa sekolah tidak menjamin kemampuan pelajar berbahasa Inggris. Oleh karena itu, orang tua mendorong anaknya ikut kursus seperti di Kampung Inggris Pare, Kab. Kediri, Jawa Timur dan tempat lainnya yang dipercaya lebih profesional.

    Kemudian, mengapa pemerintah tidak merekrut sarjana Pendidikan Bahasa Inggris? Bukankah itu tugas dan tanggungjawab pemerintah mengurangi pengangguran terdidik? Alasan klasik yaitu keterbatasan anggaran adalah jurus ampuh yang selalu berulang. Pilihan mendidik guru sekolah dianggap paling rasional untuk menyesuaikan anggaran yang tersedia. Para sarjana bahasa Inggris silahkan mencari pekerjaan di jalur yang lain.

    Dari segi kualitas, pengetahuan para sarjana jauh lebih kompeten dibandingkan mendidik guru mulai dari nol. Abdul Mu’ti, Menteri Dikdasmen, mengkampanyekan pelajar Indonesia mempunyai daya saing global. Sebagai penyemangat, itu bagus saja tetapi dengan tidak memberdayakan sarjana yang punya keahlian, kita telah membuang langkah percepatan pencerdasan anak bangsa yang diharapkan punya daya saing di kancah internasional. Tidak ada keberanian melakukan perombakan radikal pada kuantitas jam pelajaran dan kualitas pengajar.

    Karena program pelatihan untuk para guru sudah terlanjur berjalan, kita tidak bisa berharap lagi kepada para sarjana. Bukankah lebih baik bila duit anggaran tersebut langsung saja diserahkan ke guru yang bersangkutan? Layaknya beasiswa unggulan yang mengikat, duitnya langsung diserahkan ke rekening guru. Biarlah mereka menentukan sendiri kemana harus belajar dengan pilihan jadwal yang lebih memadai, padat. Kementrian tinggal buat standarnisasi saja yang harus dipenuhi. Misal, bila tidak dipenuhi, uang dikembalikan.

    Bila tawaran ini berbenturan dengan birokrasi negara di BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) karena dianggap penyelewengan, pemerintah dapat merumuskan sistem akuntabilitas yang baru yang lebih fleksibel namun ketat guna memastikan guru yang terpilih berkomitmen penuh mencapai target. Sedangkan sekolah daerah terpencil yang jauh dari akses pendidikan dapat mengakses pelajaran yang telah dibuat dan tetap belajar lewat online yang telah disediakan oleh Mendikdasmen.

    Solusi berikutnya adalah sekolah membuat komunitas bahasa Inggris didampingi dan diawasi perkembangannya oleh Dinas Pendidikan setempat. Ini untuk menyiasati jam belajar di kelas yang sangat terbatas. Untuk lebih semarak, setiap kegiatan resmi sekolah, para pelajar diberikan ruang untuk memandu acara dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris serta menyemarakkan lomba berbahasa inggris lebih massif dimulai dari internal sekolah itu sendiri agar minat berbahasa asing tersebar lebih luas.

    Pada akhirnya, dengan lebih banyak jam belajar disertai dengan proses belajar yang berkualitas, keahlian dalam hal ini bahasa Inggris pasti tercipta yang dapat disiapkan menghadapi kompetisi global.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at, 12 Juni 2026

  • Kampung Belajar Inggris

    Kampung Belajar Inggris

    Jadwal:
    15 Juni sampai 10 Juli 2026
    6 x belajar dalam sehari
    180 jam dalam sebulan
    Belajar tiap Senin – Jum’at

    Materi:
    * Speaking (Bicara)
    * Reading (Bacaan)
    * Grammar (Tata Bahasa)
    * Pronunciation (Pengucapan)
    Note:
    Pelajaran disesuaikan tingkat kemampuan pelajar mencakup materi basic hingga advance (dasar hingga tingkat tinggi).

    Jam Belajar:
    Pagi
    09.00 – 10.30
    10.30 – 12.00
    Siang/Sore
    13.30 – 15.00
    15.00 – 16.30
    16.30 – 18.00
    Malam
    19.15 – 20.45

    Total: 180 jam belajar.

    Hari Belajar:
    Tiap Senin – Jum’at. Sabtu dan Minggu libur.

    Fasilitas
    * Buku Grammar
    * Buku Reading dan modul terjemahan
    * Kamus Inggris – Inggris
    * Modul Pronunciation

    Biaya:
    Rp. 1.300.000,- (Satu Juta Tiga Ratus Ribu Rupiah).

    Pilihan Tinggal di Camp
    Rp. 500.000,- (Lima Ratus Ribu Rupiah).

    Sertifikat bagi pelajar yang lulus.

    Telp./WA:
    * 0821-9716-3489
    * 0877-5534-6689

    Penyelenggara:
    Rumah Belajar Bersama
    Jl. Teratai No. 16, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan

  • (Tidak) Berbobot

    (Tidak) Berbobot

    Sebuah kenyataan tak terbantahkan ketika Adeeva, anak kelas 4 SD, mampu praktik lisan pada active and passive voices (kalimat aktif dan pasif) dengan beragam bentuk perubahan berbekal kotak kosong tanpa melihat catatan sama sekali dan disiarkan secara live (siaran langsung) di Facebook. Orang bisa mengamati dan menyaksikan apakah Adeeva menyontek atau tidak. Penulis yang memandu secara terus-terang menyatakan bahwa Adeeva mengerti perubahan tersebut di luar kepala.

    Karena latihan tersebut disertai dengan praktik lisan, ini adalah bukti bahwa belajar grammar (tata bahasa) tidak membuat anak-anak SD gagap berbicara Inggris. Justru ini bekal berharga untuk speaking (bicara) sesuai standar bahasa yang sangat berguna dalam percakapan dan pembelajaran akademik. Mengajarkan speaking tanpa perlu perhatian yang sama pentingnya dengan grammar dengan alasan belum waktunya anak-anak SD belajar grammar adalah bayang-bayang ketakutan saja atau sebuah simplifikasi (penyederhanaan) untuk menghindari kompleksitas pengajaran yang berbobot.

    Orang bisa berpikir bahwa ini adalah generalisasi–satu contoh yang sukses dijadikan klaim untuk banyak orang. Itu benar. Tapi apa salahnya satu contoh yang baik tersebut dijadikan acuan untuk diterapkan kepada para pelajar dalam skala yang lebih luas? Dengan metode belajar yang tepat, itu adalah peluang untuk membantah generalisasi. Apakah anak-anak SD yang mayoritas bisa seperti Adeeva masih dapat disebut generalisasi? Keadaan pasti akan berbalik. Justru anak-anak SD yang tidak mampu itulah yang disebut generalisasi.

    Para intelektual yang bergelut dalam dunia pendidikan sudah saatnya melakukan terobosan dengan mematahkan argumentasi para pendesain kurikulum bahasa Inggris sekolah yang hanya menitikberatkan pada speaking. Mana lah mungkin membaca teks dan menjawab pelajaran sekolah dengan baik bila tidak mengerti grammar? Terlebih, bahasa Indonesia mengunakan hukum D-M (Diterangkan-Menerangkan), sedangkan bahasa Inggris menggunakan hukum M-D (Menerangkan-Diterangkan). Terbalik, kan? Bisakah itu dipahamkan dengan mayoritas speaking saja? Mau tidak mau, dasar-dasar grammar pasti berlaku. Dan itu minimal dijelaskan pada frase dan paling efektif di kalimat dengan menggunakan tenses–orang berkomunikasi paling sering memakai kalimat.

    Patut diingat, selain pendalaman grammar pada tenses dan passive yang dituduh tidak relevan bagi anak-anak, apa yang dilakukan Adeeva sejalan dengan kurikulum melalui cara pembiasaan literasi pada buku reading (bacaan) yang mempunyai tuntutan menjawab soal-soal sebagai pembuktian pemahaman terhadap bacaan. Nah, dalam menjawab soal, grammar mutlak perlunya, tidak cukup dengan modal speaking. Misal: Does Anita go to school? Jawaban yang tepat: Yes, she does. Anita goes to school. Anak-anak yang sekedar belajar speaking biasanya menjawab: Yes. Anita go to school. Pendengar bisa paham dan mengerti maksudnya, tapi jawaban itu salah.

    Kemudian, untuk apa pula pemerintah mengizinkan Olimpiade Bahasa Inggris yang soalnya jauh lebih rumit? Pelajar yang mengandalkan speaking dari sekolah–itu yang dominan diajarkan–tanpa pembelajaran grammar yang baik, mereka pasti tersingkir. Pembelajaran ala sekolah tidak akan mencetak para juara. Tugas kurikulum pemerintah memang bukan mencetak para juara, tapi di sisi lain, pemerintah memberikan jalan lebar bagi penyelenggara untuk membuat soal yang melampaui kurikulum. Kan itu tidak fair bagi pelajar.

    Pada akhirnya, kombinasi praktik lisan, reading, dan grammar harus mampu berjalan seiring untuk menutup celah kelemahan pembelajaran bahasa Inggris dalam dunia akademik.

    Have they read books or have books been read by them? (Sudahkah mereka membaca buku-buku atau apakah buku-buku telah dibaca oleh mereka?) adalah hal biasa untuk Adeeva pahami dan dipraktekkan olehnya baik dalam bentuk active atau passive.

    Zulkarnain Patwa 
    Bulukumba, Kamis, 11 Juni 2026

  • Menghapus Kemustahilan

    Menghapus Kemustahilan

    “Mr. jangan beri tahu saya. Tolong perhatian saja!”, kata Faika ketika sedang berlatih pengantar 88 perubahan kalimat tenses secara acak di luar kepala. Saat itu, ia sedang kesulitan menjawab sehingga guru memberikan sedikit bantuan, namun bantuan itu ditolaknya karena ia percaya diri sanggup melakukannya tanpa bantuan siapa pun. Kepercayaan dirinya tumbuh karena ia sudah memahami seluruh perubahan tersebut secara teratur.

    Anak berumur sembilan tahun ini sungguh mempunyai daya juang yang jarang dimiliki anak seumurannya. Hal ini terlihat dari permintaannya untuk praktik kalimat pada setiap subjek: I, you, they, we, he, she, dan it. Coba bayangkan, dari setiap subjek tersebut, terdapat 88 perubahan kalimat kecuali subjek I hanya 86. Itu berarti 614 perubahan kalimat yang ia praktikkan tanpa melihat catatan, sebuah tantangan yang memang ia inginkan disiarkan secara langsung (live) di Facebook. Tiap pertemuan belajar, ia pun suka mengganti verb (kata kerja), membuat kalimat baru, membuktikan bahwa ia memahami perubahan verb dan praktik sedikitnya 128 perubahan kalimat.

    Alasan paling kuat mengapa Faika jauh lebih tekun belajar Inggris dari sebelumnya ialah ajang Olimpiade Bahasa Inggris di masa mendatang. “Meskipun pernah meraih emas se-Indonesia, kamu pasti kalah jika tidak lebih tekun belajar”, ungkap gurunya mengingatkan. “Iye, pale“, (pale: baiklah), balas Faika. Beberapa contoh soal-soal rumit olimpiade terbaru untuk kelas 3 dan 4 SD sengaja diperlihatkan kepadanya agar semangat belajarnya tetap membara. Strategi ini efektif membuatnya fokus, terlebih kedua orang tuanya di rumah aktif mencari informasi olimpiade yang diadakan di Indonesia.

    Tapi jangan kira Faika ini memanfaatkan seluruh waktu jam belajarnya saat berada di kelas Bahasa Inggrisnya di Rumah Belajar Bersama (RBB). Di samping sifatnya suka bergaul dan suka bermain sebagaimana anak-anak lainnya, ia juga dikenal sebagai anak periang dan berani berpendapat. Ia selalu meminta jam keluar mainnya ditambah, termasuk berani protes bila tidak diberikan jam tambahan untuk bermain. Otaknya tidak tertekan pada sebuah sistem yang kaku. Usulannya itu kadang-kadang diterima dan ditolak oleh gurunya dengan mempertimbangkan apakah anak-anak masih fit (segar dan fokus) belajar atau tidak.

    Faika dan anak-anak lainnya sengaja diberikan kebebasan berpendapat agar kreativitas berpikirnya tidak terpenjara. Apa pun pendapatnya perlu kita dengarkan agar mereka terbiasa mengungkapkan ide-idenya secara terbuka. Bila terdapat perbedaan, itu tidak serta-merta dikunci dengan aturan, melainkan dibahas bersama hingga pada tahap tertentu anak-anak mengerti kenapa idenya diterima atau ditolak. Dengan demikian, mereka merasa dihargai dan berusaha mencari alasan lebih bagus jika suatu saat mempunyai usulan baru.

    Dunia belajar tidak semata-mata penguasaan materi akademis atau angka superioritas di atas kertas, melainkan juga ruang pertumbuhan karakter, daya juang dan kebebasan berekspresi anak. Biarkan anak-anak berkembang menjadi dirinya sendiri minimal seperti halnya Faika yang menemukan kemandiriannya sendiri dalam menjawab soal.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 10 Juni 2026

  • Keunggulan Grammar

    Keunggulan Grammar

    1. Keputusan para pelajar sekolah mengikuti kelas grammar (tata bahasa) di Rumah Belajar Bersama (RBB) cukup mengagetkan karena kurikulum sekolah sekarang tidak membahas materi tersebut secara mendalam. Pada awal kedatangan, mereka tidak tahu sama sekali pembagian Bahasa Inggris mencakup speaking, listening, reading and pronunciation (Bicara, Mendengarkan, Membaca, dan Pengucapan). Alasan utama memilih kelas grammar karena mereka ingin pandai menjawab soal-soal sekolah.

    “Gampang sekali ujian semester sekolah”, kata seorang pelajar SMP yang didukung oleh pelajar SMA yang baru saja ujian kenaikan kelas. Mereka tahu cara menjawab sesuai kaidah tata bahasa. Lalu, bagaimana mereka mengerti soal-soal bacaan? Grammar yang diajarkan RBB juga membantu menjawab soal-soal dalam bentuk bacaan. Malahan, pelajar juga dilatih menjawab persoalan grammar menjadi suatu teks cerita panjang atau artikel sederhana.

    Fenomena serupa juga dialami pelajar lainnya. Di RBB, beberapa orang pelajar SMP dan SMA yang telah tamat Basic Grammar (Tata Bahasa Dasar) melanjutkan ke buku Pre-Intermediate. Itu berarti mereka memperoleh manfaat sehingga mendalami grammar lebih detail. Pelajaran sekolah diangggap biasa karena tidak sering dibahas. Justru, pembahasan yang sering mereka diskusikan adalah tantangan soal-soal yang diberikan oleh Agung Pratama Salassa, guru grammar di RBB.

    Tapi, menjadi penganut grammar punya masalah juga. Mereka yang keasyikan ribuan soal tanpa rajin praktik speaking (bicara) kewalahan berkomunikasi. Itu adalah konsekuensi karena pilihannya hanya kelas grammar saja. Strategi penyelamatan dibuat dengan mengajak mereka membaca dengan suara nyaring pada hasil latihannya. Dengan demikian, meskipun sedikit, setidaknya mereka dapat pengantar pelajaran Reading dan Pronunciation serta beberapa bagian pada speaking yang berpola grammar. Kemampuannya dalam hal ini relatif biasa saja karena itu memang bukan tujuan utama mereka.

    Bila menggali lebih jauh, para grammarian yang juga ikut kelas Reading dan Speaking, memiliki kemampuan berbicara sesuai standar internasional. Penyampaiannya tidak hanya tertata rapi dan hemat kata tapi juga padat makna dan mudah dimengerti. Otak mereka sudah terlatih untuk mengungkapkan pernyataan yang benar agar lawan bicaranya dapat dengan cepat tahu maksudnya.

    Keunggulan lain yang diperoleh adalah bekal untuk menjadi penulis. Pelajar yang mengetahui grammar pasti bisa menyusun kalimat yang rapi dan teratur. Tingkat kesalahannya relatif lebih rendah dibandingkan pelajar speaking dan lainnya karena mereka telah terlatih menggunakan logika dalam membolak-balik kata. Ini sangat berguna bagi orang yang aktif dalam dunia akademik.

    Di balik kelebihan dan kelemahan pelajar grammar, semua itu dapat dijadikan peluang untuk lebih ahli berbahasa Inggris dengan cara tetap menekuni grammar sembari mempelajari bagian lain dari pengetahuan tersedia pada Bahasa Inggris: speaking, listening, reading and pronunciation. Itu dapat dilakukan secara mandiri ataupun ikut bergabung di kelas belajar.

    Zulkarnain Patwa
    Selasa, 9 Juni 2026

  • Membumikan Bahasa Inggris di Tanete

    Membumikan Bahasa Inggris di Tanete

    When nothing is impossible, impossibility is nothing. That is a thing without not (Ketika tidak ada yang mustahil, kemustahilan itu tidak ada. Begitulah kenyataannya, tanpa pengecualian). Ungkapan filosofis ini terpahat dalam pikiran saat penulis berdiskusi dengan Fathy Cayadi, guru Bahasa Inggris tingkat SMA, mengingatkan akan kebutuhan paling mendasar yang dihadapi para pelajar sekolah. Sebagai seorang pengajar berpengalaman, ia menjelaskan keunggulan dan kelemahan kurikulum yang berlaku saat ini.

    Penulis tertarik tidak membenturkan pemahaman Bahasa Inggris sekolah vs luar sekolah (pendidikan alternatif), melainkan mencari hal-hal yang belum atau tidak dikerjakan. Menurut Fathy, kurikulum SMA sudah tidak lagi mencantumkan listening (mendengarkan) pada UAN (Ujian Akhir Nasional), grammar (tata bahasa) sekadarnya saja, dan pronunciation (pengucapan) sama sekali tidak digubris. Malahan, jam belajar dipangkas empat jam menjadi tiga jam, sekali belajar dalam seminggu. Orang bisa melihat hal-hal tersebut masalah, namun diskusi itu bersepakat memanfaatkannya sebagai peluang untuk menggarapnya karena hal tersebut tetap penting dan bermanfaat.

    Pembicaraan kemudian mengarah pada strategi yang efektif untuk memahamkan pelajaran. Ciri khas yang menjadi keunggulan guru tetap dipertahankan sembari terus memperbarui dan mempertajam materi yang akan diajarkan. Berbagai literatur dari penulis asing yang diterapkan di universitas di luar negeri dibedah dan dibandingkan dengan kurikulum Indonesia dan kemudian disesuaikan dengan pelajaran yang sesuai konteks pelajar Indonesia. Prediksinya, materi tentu lebih padat ketika Fathy membumikan kegiatan mengajarnya di luar jam sekolah di Tanete.

    Pelajar SD, SMP, dan SMA akan dipersiapkan punya daya saing dengan memotivasi mereka mengikuti berbagai lomba pidato, debat, storytelling, dan lainnya, termasuk olimpiade Bahasa Inggris tingkat lokal, provinsi dan nasional. Dan bagi pelajar dan umum yang belum minat kompetisi, mereka dididik sesuai kebutuhannya hingga mempunyai skill (keterampilan) yang cukup untuk menghadapi dunia kerja yang mereka cita-citakan. Jadi keberagaman motivasi orang belajar bahasa Inggris dapat difasilitasi.

    Pikiran dan aksi untuk bergerak lebih cepat, maju dan terarah sesuai target tidaklah sulit bila hasil kesepakatan diskusi dikerjakan secara bersama-sama. Jam terbang pengajar pasti berpengaruh besar. Fathy telah lama mengajar di sekolah dan akrab dengan plus-minus kurikulum sekolah di Indonesia, kini akan menjadi bagian dari Rumah Belajar Bersama (RBB)–dikenal sebagai lembaga yang mengedepankan kualitas. Dengan modal tersebut, ia pasti punya “ramuan” mengajar yang lebih terbarukan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 7 Juni 2026

  • The Dream of Bulukumba Students to See the World

    The Dream of Bulukumba Students to See the World

    It was a very surprising day for the students. Victor from Spain and Jessica from France visited an English class. The students whispered to each other because they were curious to know. Then, they sat at the same table with Victor and Jessica.

    In the classroom, Mr. Agung Pratama Salassa, the English teacher, welcomed the guests warmly. He told the guests that most of his students were children and teenagers. After that, they all started a simple conversation. Apart from a few words, most students hoped to get questions, and the two foreigners thought the same. The room was quiet for a moment. Then, Jessica broke the silence with her friendly personality. She greeted some students, and they answered in the same. The atmosphere became closer and warmer.

    Soon after that, Lulu, a recent high school graduate got some questions. She used this valuable chance to speak as best as she could. She talked about her dream to study in the United States or Japan. To study at a top university and join the world community, Lulu is learning English and Japanese. She also learned Mandarin before. Some of her family members are also learning foreign languages at Rumah RBB (Rumah Belajar Bersama) where she is learning English now. Her elder cousin, Lala, is teaching at an international school in Bali now. Lala is the close family example that Lulu wants to follow. Lala is one of the important persons who has inspired her to learn foreign languages.

    “Wow, that is amazing family”, Jessica said and Victor agreed. Jessica asked more questions. “Is Japanese language difficult?”, Jessica asked. “No”, Lulu answered. “I have learned Mandarin before. It is similar to Japanese”, she added confidently.

    Jessica and Lulu

    In short, from this good understanding, Jessica and Victor saw that the 19-year-old girl did not just have big dreams but also made a real effort. This meeting made Lulu very happy. She smiled because the guests could understand her words, even though she is still at the Basic English level at RBB.

    Try to talk with children

    Other students at the same level also wanted to speak. However, they understood that the two kind foreign guests were the visitors of Kak Aris Irfan—the Head of Cahaya Bone of Kalla Travel and the Owner of Villa Malomo. It was time for them to leave Bulukumba and go to Bira, their main destination. Moreover, Kak Irfan and his beloved wife had been waiting patiently for a long time. Therefore, the students quickly took some pictures together as memories of this inspiring meeting which almost ended.

    Kak Rani, a teacher of learning to read, write and Math for kids and Mademoiselle Jessica.

    Kak Irfan did a great thing. He supported local Indonesian students to be brave and speak English with foreigners. To Kak Irfan, Mademoiselle Jessica, and Señor Victor, all of us in informal education thank you very much for your kindness. Because of you all, this unpredictable, unimaginable and valuable meeting came true.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Friday, June 5, 2026