Kalau Anda menjawab satu pertanyaan, Anda menemukan satu jawaban. Tetapi, kalau Anda rajin bertanya, Anda akan belajar seumur hidup. Jalan ini sangat penting untuk memunculkan rasa ingin tahu. Ketika ini menginternalisasi dalam diri pelajar, siapa yang dapat menghalangi faktor internal perkembangan kecerdasan?
Sehubungan dengan hal itu, Miss Fathy Cayadi mengajarkan speaking (berbicara) menggunakan dummy subject (subjek semu) menggunakan ‘there’ (di sana bermakna ada atau adakah). Miss Fathy mengatakan, “Hari ini Rumah Belajar Bersama (RBB) khusus membahas lesson 41–43. Contoh: ‘is there any…?’, ‘is there a…?’, ‘are there any…?’, dan ‘are there some…?’. Ini gampang dan saya yakin kalian bisa.”
Agar tidak terlihat rumit, kalimat pertanyaan itu diolah dalam bentuk percakapan, tanya jawab. Bahan bercakapnya adalah contoh-contoh yang sudah benar, merujuk pada buku. Kemudian, benda-benda yang ada di sekeliling dijadikan pembelajaran lanjutan. Awalnya, mereka dipandu guru untuk mengungkapkan pikiran mereka dengan benar dan terus dimotivasi untuk mampu berpikir mandiri.
Setelah puas berbicara, barulah penjelasan tata bahasa mengikuti. Begitulah strategi jitu dari Miss Fathy menumbuhkan keberanian berbicara kepada anak didiknya di RBB Tanete.
Apakah usaha pemahaman materi berhenti sampai di situ? Tidak. Pelajar tidak hanya perlu tahu bertanya dan menjawab secara lisan. Hal penting lainnya adalah menjawab soal secara tertulis. Saat pembahasan materi, setiap pelajar tidak pernah dihalangi untuk bertanya mengapa suatu jawaban salah dan mereka bebas mengutarakan pembelaan pada jawaban yang dipilih. Ini adalah proses membangun kesadaran metakognitif—mereka belajar memahami bagaimana cara mereka berpikir. Efeknya, suasana kelas belajar terasa sangat demokratis. Tidak ada larangan dalam menyampaikan pendapat: dilarang melarang. Rasa takut salah berbicara dalam bahasa Inggris menjadi berkurang dan berubah menjadi berani berbicara.
Pembelajaran ini memberikan kita pelajaran bahwa guru yang cerdas itu tidak sekadar mengajarkan pengetahuannya, tetapi juga para pelajarnya mengetahui cara mengembangkan cara berpikir mereka. Bahasa Inggris di RBB Tanete telah menjadi alat untuk membuka kemerdekaan berpikir dalam belajar yang mana ini sangat berguna untuk menemukan cara berpikir yang sangat efektif dalam mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.
Pembelajaran di RBB Tanete itu sedikit banyak mempunyai kesamaan dengan keterampilan abad 21 mendengungkan 4C: Critical Thinking, Communication, Collaboration, Creativity (Pemikiran Kritis, Komunikasi, Kolaborasi, dan Kreativitas). Hal ini sangat jelas bahwa RBB Tanete tidak sedang menargetkan para pelajar mereka untuk menyelesaikan pelajaran sekolah saja, melainkan merancang para pelajar mereka untuk setara dengan para pelajar kelas dunia.
Karena itu, bertanyalah. Siapa yang tahu bahwasanya keterampilan abad 22 nanti sudah dapat dipikirkan dan ditemukan di abad 21? Itu adalah tugas RBB dan kita semua.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Sabtu, 12 September 2026
Pembelajaran di akhir minggu diupayakan sesantai mungkin. Ini semacam ‘hadiah’ kecil karena pada minggu-minggu sebelumnya, anak-anak belajar dengan serius: praktik lisan tenses di luar kepala dan menjawab soal-soal latihan. Kontan saja, mereka menolak. Guru tidak ingin membebani materi terbaru. Sebagai jalan tengah, tuntutannya dipenuhi dengan praktik lisan tenses secara bersama-sama dan perorangan.
Lalu, guru memberikan waktu keluar main. “Tidak mau,” kata seorang anak, “Kita sebaiknya belajar perkalian.” Guru langsung merespons, “Ini bukan kelas matematika, tetapi bila kalian mau, boleh saja asalkan soal dan jawaban disebut dengan bahasa Inggris.” Anak-anak pun menunjuk Adeeva sebagai pemimpin yang mengatur permainan ini dengan menggunakan kartu. Mereka berlomba menjawab hingga puas. Setelah itu, mereka pun mau keluar main tanpa diminta.
Pada pembelajaran selanjutnya, Nisa mengusulkan untuk menyebut angka satu sampai satu juta dalam bahasa Inggris. Ia bersedia menjawab semua soal yang diberikan. Guru pun bertanya hingga angka ribuan. Mengetahui Nisa sudah mampu menjawab dengan baik, semua anak diperkenankan bertanya hingga angka ratusan juta. Nisa meladeni semua pertanyaan, meskipun ia kadang-kadang membutuhkan waktu sedikit lebih lama dari yang sebelumnya.
Guru kemudian bertanya, “Apakah kalian mengakui kecerdasan Nisa?” Sebagian menjawab ‘ya’, tetapi sebagian menolak. Penolakan itu terjadi karena mereka menganggap soal seperti itu gampang dijawab, sedangkan mereka yang menerima karena mengakui kecerdasan Nisa.
Permainan terakhir adalah bermain tebak-tebakan kosakata dalam bahasa Inggris. Misal, bila mereka sepakat huruf ‘q’, maka jawaban harus dimulai huruf q seperti queen, Qatar, dan Qur’an. Yang paling sulit mereka jawab adalah huruf yang dimulai ‘x’ dan ‘z’. Namun, ada juga yang mampu menjawab dengan mengatakan x-ray dan Zimbabwe. Huruf yang lainnya relatif lebih mudah karena mereka telah terbiasa dengan bacaan berbahasa Inggris.
Belajar menggunakan kurikulum itu memang bagus dan tersistematis, tetapi belajar tanpa terlebih dahulu merujuk kurikulum pembelajaran dalam artian meminta anak-anak bersantai dalam belajar juga baik seperti yang terjadi di atas. Malahan, para pelajar yang menuntut belajar dan menciptakan ‘kurikulum sendiri’–pakar pendidikan menyebutnya kurikulum organik: berbasis pada kebutuhan pembelajar–bukan tuntutan kurikulum atau tuntutan guru. Itulah gambaran kecil pada kemerdekaan belajar di Rumah Belajar Bersama (RBB).
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at, 11 September 2026
Alika and Faika practiced speaking English together for a long time—almost forty minutes. They chose to talk using a Basic Grammar book, focusing on conversations they had already answered before.
The teacher let them choose their own topics. They were excited and even argued a bit about who would pick first. The teacher did not stop them. He wanted them to learn how to solve disagreements and make decisions together without always asking their teacher for help. In the end, they successfully made a deal.
Because there was no pressure, their conversation flowed naturally. They only stopped when they felt tired. “The conversation was fun, but I am sleepy now,” Faika said. Alika added, “I understand what we said because I practice reading a lot. I already know many words.” The teacher asked, “Do you agree that you understand it because you did the exercises?” They quickly answered, “Yes, we agree.”
They kept talking. Alika felt that speaking with correct grammar makes it easier to understand written texts. “But learning grammar without speaking is useless, because we won’t know how to use it,” Faika explained. “Why?” asked the teacher. Both girls went silent. “Because the purpose of language is communication,” the teacher said, helping them express their thoughts. “Yes, that is what I meant,” Faika replied.
Since they already enjoy reading English books, these children now understand that speaking, grammar, and reading are all connected. You cannot separate them; they must support each other. There are two important skills they have not tried yet: writing essays and practicing British or American pronunciation. Looking at their talents, writing takes more energy than pronunciation. Therefore, the fastest goal they can achieve next is pronunciation, which is closely related to speaking. They can learn this naturally by practicing how to link or cut words and phrases whenever they talk.
These basics are very important parts of English, which are usually taught in universities or professional courses with complete lesson plans. However, Alika and Faika do not need to wait until college, because they can already learn these lessons at Rumah Belajar Bersama (RBB).
Sebuah percakapan berbahasa Inggris secara terstruktur telah dikerjakan oleh Alika dan Faika. Waktunya lumayan panjang: hampir empat puluh menit. Mereka bersepakat berdialog pada buku Basic Grammar yang berisi percakapan yang latihannya telah mereka selesaikan.
Keduanya diberikan kebebasan memilih bahan yang disukai. Mereka senang dan sesekali saling berdebat untuk mendahului pilihan percakapannya. Guru kelasnya tidak menyela karena berpikir bahwa ini bagian dari cara melatih membangun kesepakatan ketika terjadi perbedaan pendapat tanpa harus mengandalkan orang yang mempunyai otoritas yang lebih tinggi. Pada akhirnya, mereka saling berkompromi.
Karena tidak ada paksaan, obrolan mereka mengalir apa adanya sehingga mereka menyatakan berhenti ketika mencapai tahapan capek. “Percakapannya seru, cuma saja saya sudah mengantuk,” kata Faika. Alika menyambung, “Saya mengerti isi percakapan itu karena saya sudah sering latihan membaca. Banyak kosakata yang telah saya ketahui.” Guru menambahkan, “Apakah kalian sepakat bahwa kalian mengerti karena telah mengerjakan latihan?” Dengan jeda waktu yang sedikit saja, mereka menjawab, “Sepakat.”
Pembicaraan pun berlanjut. Alika memandang bahwa berbicara sesuai standar tata bahasa memudahkannya mengerti soal tulisan. “Tetapi belajar tata bahasa tanpa percakapan juga tidak akan tahu apa gunanya,” terang Faika. “Mengapa?” tanya guru. Keduanya terdiam. “Karena tujuan bahasa adalah komunikasi,” ungkap guru untuk mewakilkan pikiran mereka yang terlambat dirangkai. “Iya. Maksud saya begitu,” balas Faika.
Sehubungan dengan kebiasaan membaca buku dalam bahasa Inggris telah terbangun, anak-anak ini telah sampai pada pemahaman bahwa percakapan, tata bahasa, dan membaca adalah bagian yang saling terkait. Tidak bisa disalahkan satu sama lainnya, melainkan harus saling mendukung. Dua hal yang penting tersisa belum mereka terapkan: mengarang dan pengucapan yang mengikuti aksen Amerika atau Inggris. Memperhatikan bakat mereka, kemampuan mengarang memang membutuhkan energi lebih dibandingkan pengucapan, sehingga satu hal yang paling cepat untuk dicapai adalah pengucapan yang erat kaitannya dengan percakapan. Itu bisa dibiasakan dan diajarkan langsung melalui cara penyambungan atau pemotongan kata atau frasa setiap kali mereka bercakap-cakap.
Dasar-dasar tersebut adalah bagian terpenting dari bahasa Inggris yang diajarkan di universitas atau lembaga pendidikan nonformal yang mempunyai kurikulum komprehensif. Alika dan Faika tidak perlu menunggu hingga kuliah karena sebagian materi itu bisa mereka dapatkan di Rumah Belajar Bersama (RBB).
Every time he reads seriously, his hands shake. His English reading is also hesitant and broken. However, one thing makes him strong: his learning spirit never fades. He loves to play, but whenever the teacher calls him to read, he willingly leaves all his activities. He is A. Abizar Mappajaji, a boy who loves to be taught directly by his teacher.
In the classroom, only one or two girls want to pair up with Abizar for speaking practice. He does not care. For him, having a partner is enough. The most important thing is that he actively completes his assignments and work with great enthusiasm.
Outside the classroom, his name is called most often. “His name is not Abizar, Mister. It’s Azibar,” said one child. “Yes, Azibar,” another chimed in. Shouldn’t we avoid changing people’s names as we please? Abizar is aware of this, but he does not protest and takes it as a joke. The name ‘Azibar’ is heard most often during playtime. The children say it with a cheerful and happy heart.
Recently, Abizar took a random tenses writing exercise. His mind still struggled to understand the changes of tenses in sentences. He always sat patiently, waiting until his teacher was no longer busy answering other students’ questions. When the room grew quiet, Abizar said, “Please, show me how!.” The teacher, who pays great attention to Abizar, immediately guided him until all the question sheets were answered. He never argued with anything his teacher asked him to do.
A major challenge Abizar faces is his handwriting, which still has many corrections. He does not rush to ask for a new sheet of paper; he chooses a harder challenge instead. “Abizar, do you want to continue or tidy up your writing?” the teacher asked. “I want to tidy it up first, Mister,” he answered firmly. A new piece of paper was given to him to rewrite the correct answers nicely.
Abizar with his classmates.
In the writer’s view, Abizar holds the signs of success. If we divide students into two sides, many smart children often take their lessons for granted and stop paying close attention. As a result, they only know bits and pieces and do not understand the lesson fully. Abizar is the opposite. He learns little by little and does it continuously. Like a marathon, the human learning journey is very long: elementary school, middle school, high school, university, and non-formal environments. With his dedication to learning, Abizar’s knowledge will likely grow as high as a mountain. This makes perfect sense. Time will prove this thought right.
On the other hand, there are also many smart children who are diligent, humble, and understand their lessons completely. Reality is not just black and white.
Who could predict that Abizar would become a great person? Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) once told a story about a young man studying at a pesantren (Islamic boarding school) in Bangkalan, Madura. His knowledge was ordinary compared to his peers. Many students had memorized a lot of the Al-Qur’an. This young man had not memorized the Al-Qur’an, but he had one thing: devotion (khidmah) to his teacher. His task, which he did sincerely, was taking care of his teacher’s horses—feeding them and cleaning the stables belonging to Kiai Syaikhona Kholil. Who would have thought that in the future, this young man would be known as the founder of Nahdlatul Ulama (NU), the largest Islamic organization in the world. He is K.H. Hasyim Asy’ari.
In the tradition of Islamic education, especially in pesantrens, Intelligence Quotient is not everything. The blessing of knowledge comes from a clean heart and sincerity in serving (khidmah) the teacher. Imam Ali bin Abi Thalib said, “Knowledge is light, and light is given to those who clean their hearts.” Of course, developing the brain must also keep moving forward.
This connects back to Abizar’s story, as he does not take shortcuts and focuses on the learning process. He is a nine-year-old boy who, in his daily life, is humble, not arrogant, and fully focused on his learning journey. “When he was very small, Abizar learned to read at the Rumah Belajar Bersama (RBB).” After he became fluent, he graduated and chose to learn English. In this class, Abizar’s mind and heart are shaped to be stronger in facing the ocean of life as he grows into a teenager and an adult.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Thursday, September 10, 2026
Setiap kali membaca dengan serius, tangannya gemetar. Bacaan berbahasa Inggrisnya pun terbata-bata, tetapi satu hal yang membuatnya tangguh: semangat belajar yang tidak pernah padam. Ia suka bermain. Bila guru memanggil untuk membaca, ia rela meninggalkan semua aktivitasnya. Ia adalah A. Abizar Mappajaji, bocah yang senang diajar langsung oleh gurunya.
Di ruang kelas, satu atau dua anak perempuan saja yang ingin berpasangan dengan Abizar dalam praktik berbicara. Ia juga tidak peduli. Baginya, asalkan sudah ada rekan, itu sudah cukup. Yang terpenting adalah ia juga aktif mengerjakan tugas yang diberikan: bekerja dengan penuh semangat.
Di luar ruang kelas, ia anak yang paling sering disebut namanya. “Bukan Abizar panggilannya, Mister. Azibar,” kata seorang anak. “Iya. Azibar,” sahut yang lainnya. Bukankah kita tidak boleh menyebut atau mengganti nama orang seenaknya? Abizar sadar akan hal itu, terlihat tidak protes, dan menganggapnya candaan. Nama ‘Azibar’ yang paling sering disebut saat bermain. Lidah anak-anak suka menyebutkan dengan suasana hati riang gembira.
Baru-baru ini, Abizar mengikuti latihan tulis tenses secara acak. Pikirannya masih kesulitan mengetahui perpindahan tense dalam kalimat. Ia selalu duduk sabar menanti hingga gurunya tidak begitu sibuk lagi menjawab pertanyaan murid-murid. Ketika suasana agak tenang, Abizar berkata, “Tolong kasih tahu caranya.” Guru yang memang sangat perhatian kepada Abizar akan segera mendampingi hingga semua lembaran soal terjawab. Ia tidak pernah membantah apa pun yang diminta oleh gurunya untuk dikerjakan.
Abizar bersama rekan-rekannya di kelas Bahasa Inggris.
Kendala besar yang Abizar hadapi adalah tulisannya yang masih banyak coretan. Ia tidak terburu-buru untuk meminta lembaran kertas baru, tantangannya juga lebih sulit. “Abizar mau lanjut atau merapikan tulisan?” tanya guru. “Saya mau rapikan dulu, Mister,” jawabnya lugas. Kertas baru diberikan untuk menyalin ulang jawaban yang telah ia buat dengan benar.
Dalam pandangan penulis, Abizar mengantongi tanda-tanda kesuksesan. Jika dibagi dalam dua kutub, banyak anak yang pintar terlalu sering menganggap remeh pelajarannya sehingga tidak begitu perhatian lagi. Akibatnya, mereka tahu sepotong-potong saja, tidak memahami pelajaran secara utuh. Abizar adalah kebalikannya. Ia mengetahui sedikit demi sedikit dan terus berkelanjutan. Layaknya lari maraton, perjalanan manusia dalam belajar itu sangat panjang: SD, SMP, SMA, dan universitas serta lingkungan nonformal. Abizar yang teguh dalam belajar, pengetahuannya kemungkinan besar akan menggunung. Begitulah logika dalam pikiran. Waktu yang akan membuktikan bahwa kebenaran dalam pikiran ini menjadi nyata.
Fakta lain, ada banyak anak pintar yang juga tekun, rendah hati, dan memahami pelajaran secara utuh. Realitas tidak se-hitam-putih itu.
Siapa yang bisa memprediksi bahwa Abizar bisa menjadi orang yang hebat? Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) pernah bercerita tentang seorang pemuda yang nyantri di Bangkalan, Madura. Ilmunya biasa saja dibandingkan rekan-rekan lainnya. Santri-santri sudah banyak menghafal Al-Qur’an. Pemuda itu tidak hafal Al-Qur’an, tetapi ia mempunyai satu hal, berkhidmat ke gurunya. Tugas pemuda itu yang ia laksanakan dengan tulus adalah mengurus kuda: memberi makan, dan membersihkan kandang kuda milik gurunya, Kiai Syaikhona Kholil. Siapa sangka, di kemudian hari, pemuda itu dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU), pendiri organisasi Islam terbesar sedunia. Ia adalah K. H. Hasyim Asy’ari.
Dalam tradisi pendidikan Islam khususnya pesantren, kecerdasan isi kepala bukanlah segalanya. Keberkahan ilmu itu lahir dari kebersihan hati dan ketulusan dalam melayani (khidmah) kepada guru. Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Ilmu itu cahaya dan cahaya itu diturunkan kepada orang yang membersihkan hatinya.” Tentunya, penjelajahan pencerdasan otak harus terus bergerak juga.
Seperti halnya kisah Abizar sebelumnya yang tidak memilih jalan pintas dan fokus pada proses belajar. Ia anak sembilan tahun yang dalam kehidupan kesehariannya rendah hati, tidak sombong dan fokus menjalani proses belajar. Kita tidak tahu pasti apakah jejak kehidupannya juga akan menjadi tokoh besar atau tidak. Tetapi, beberapa hal kecil yang mirip dengan K. H. Hasyim Asy’ari juga ia lakukan.
“Sewaktu masih sangat kecil, Abizar belajar membaca di Rumah Belajar Bersama (RBB).” Setelah lancar, ia menyatakan diri tamat dan kemudian, memilih belajar bahasa Inggris. Di kelas inilah pikiran dan hati Abizar ditempa lebih tangguh menghadapi samudra kehidupan menuju masa remaja, muda dan dewasa.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis 10 September 2026
Seorang anak kecil sembilan tahun, masih sangat berwajah polos dan memancarkan cahaya mata ingin mengetahui banyak hal. Ia menamatkan buku Basic Reading (bacaan dasar) kurang dari satu bulan, 144 lessons. Ia juga telah hampir menyelesaikan tenses teratur di luar kepala, pelajaran setingkat SMP dan SMA yang hampir ditinggalkan oleh kurikulum Indonesia. Namanya Ashimah Nusaibah Shiddiqah. Seorang anak kecil berusia sembilan tahun yang masih sangat berwajah polos dan memancarkan cahaya mata ingin mengetahui banyak hal. Ia menamatkan buku Basic Reading (bacaan dasar) kurang dari satu bulan: 144 lessons. Ia juga telah hampir menyelesaikan tenses, pelajaran setingkat SMP dan SMA yang hampir ditinggalkan oleh kurikulum Indonesia, secara teratur di luar kepala. Namanya Ashimah Nusaibah Shiddiqah.
Ashimah dengan dua orang anak segudang prestasi tingkat provinsi hingga nasional.
Fajar Hidayat, sang paman, mempunyai rekam jejak kuliah di Universitas Glasgow, bagian dari universitas terbaik dunia kedokteran di Skotlandia. Ia juga relawan kemanusiaan di Masjid Jami’ Glasgow.
Dokter Fajar Hidayat. Adik kandung Dokter Yuni yang kuliah di Inggris. Sumber gambar: drg. Yuni Afriani Salim.
Yuni Afriani Salim, ibu Ashimah, seorang dokter gigi yang bercita-cita menjadikan anaknya memiliki kecerdasan almarhum pamannya yang bersekolah hingga ke luar negeri. Ia ingin anaknya mempunyai kepekaan sosial. Lalu, seorang polisi yang aktivitasnya melebihi intelijen sangat rajin mengikuti video jejak perkembangan Ashimah di media sosial. Setiap video live Ashimah sebisa mungkin tidak terlewatkan ia tonton. Polisi muda ini adalah Aswar Adjieafry Zed, ayah Ashimah. Kedua orang tua ini sangat percaya bahwa kemajuan anaknya bersumber dari pendidikan.
Ashimah belajar bersama Faika (jilbab putih), pelajar kelas 4 SD yang meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris tingkat Nasional diselenggarakan oleh National Science & Mathematics Academic Olympiad (NSMAO) pada 17 Februari 2026.
Tetapi, Ashimah dianggap oleh ibunya kurang pandai Matematika. Di kelas 4 SD, ia masih belum menguasai perkalian 1 sampai 9. Ini hal biasa di sekolah zaman sekarang. Anak-anak yang lain banyak mengalami nasib yang sama. B. J. Habibie mengatakan bahwa gen pada super intelligence software (perangkat lunak kecerdasan luar biasa) anak itu ada pada ibunya. Mungkin ibu ini ‘menyerah’ dengan sistem yang ada sehingga berpikir anaknya kurang pandai berhitung. Padahal, ia sendiri pandai berhitung. “Selain Inggris, saya ikutkan juga Ashimah les Matematika. Kalau dalam beberapa bulan, ia tidak bisa Matematika, saya sebaiknya hentikan saja di Matematika. Itu mungkin bukan bakatnya,” kata ibunya.
Ashimah bersama Adeeva, peraih emas Olimpiade Bahasa Inggris diselenggarakan oleh GEMANESIA dan KOMPAS pada 23 Juni 2026.
Teori pendidikan modern hebat dalam hal mengukur umur dan kemampuan anak dalam berhitung. Sayangnya, itu sering kebablasan karena banyak anak yang sudah mencapai kelas 4 SD belum tuntas perhitungan sederhana: sungguh terlambat.
Sukreni Abdullah (Daeng Reni)—dokter gigi juga, seorang pelajar yang berasal dari Kalumpang, Kec. Bonto Tiro, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada tahun 80-an telah menjadi representasi terbaik Sulsel untuk kejuaraan cerdas cermat di Jakarta. Menurut pengakuannya, anak cerdas Desa Tri Tiro di SD Inpres 196 Kalumpang ini gagal juara satu nasional bukan karena tidak tahu jawaban atau kalah cerdas, tetapi sorotan video kamera TVRI membuatnya terhenyak kaget, demam panggung. Pikirannya buyar. Ia kembali ke kampung halaman dan menceritakan kepada keluarga serta rekan-rekannya tentang kesiapan mental anak ketika menghadapi keadaan yang tidak terduga dan tanpa didampingi langsung oleh orang tua. Hal ini sangat perlu diperhatikan.
Sukreni Abdullah bersama kedua orang tuanya Puang Dullah (Alm.), Ummi Sia, dan Daeng Accul serta anak-anaknya.
Fukushima, Tokyo dan Miyagi—hanya contoh karena hampir seluruh Jepang sangat aktif karena terletak di empat pertemuan lempeng tektonik—negeri Jepang paling rawan terkena gempa bumi. Keadaan alam memaksa mereka berpikir untuk mampu membuat bangunan kokoh anti gempa. Seorang rekan Andi Dayat sarjana teknik bercerita, pada pondasi bangunan kokoh di Jepang, ada bantalan karet laminasi, inti timbal, pegas baja raksasa dan peredam hidrolik. Gedung tidak roboh, hanya bergoyang-goyang, serasa bayi yang diayun-ayun oleh ibunya. Gempa megathrust sekali pun kini tidak semencekam dahulu kala.Fukushima, Tokyo, dan Miyagi—hanya contoh; hampir seluruh Jepang sangat aktif karena terletak di empat pertemuan lempeng tektonik—adalah bagian dari negeri Jepang yang paling rawan terkena gempa bumi. Keadaan alam memaksa mereka berpikir untuk mampu membuat bangunan kokoh anti gempa. Seorang rekan, Andi Dayat, sarjana teknik, bercerita bahwa pada pondasi bangunan kokoh di Jepang, ada bantalan karet laminasi, inti timbal, pegas baja raksasa, dan peredam hidrolik. Gedung tidak roboh dan hanya bergoyang-goyang: serasa bayi yang diayun-ayun oleh ibunya. Gempa megathrust sekali pun kini tidak semencekam dahulu kala.
Kecerdasan manusia Jepang dalam menghadapi tantangan alam.
Bonto Tiro yang alamnya berbatu karang, tidak ramah untuk pertanian besar. Makanan kesehariannya hanya jagung yang diolah berbentuk seperti beras, disebut beras jagung. Enak dimakan jika baru saja dimasak atau hangat. Bila dingin, beras jagung ini keras membatu. Beras padi hanya milik orang kota. Beras dari kota itu primadona, betapa pun di kemudian hari hasil penelitian mengatakan beras jagung itu sangat sehat karena tidak memicu lonjakan gula darah secara drastis seperti yang biasanya terjadi setelah memakan beras padi.
SDN Inpres 196 dan SDN Inpres 134, dua sekolah dalam satu tempat tanpa dipisahkan oleh pagar. Di sinilah Daeng Reni, Fatmawati Patwa dan Saiful Patwa pernah bersekolah. Ummi Sia, ibu Daeng Reni, mengajar dan sebelum pensiun pernah menjadi Kepala Sekolah di SDN Inpres 134.
Bonto Tiro yang alamnya berbatu karang tidak ramah untuk pertanian besar. Makanan kesehariannya disebut beras jagung: hanya jagung yang diolah berbentuk seperti beras. Beras jagung enak dimakan jika baru saja dimasak atau hangat. Bila dingin, beras jagung ini keras membatu. Beras padi hanya milik orang kota. Beras dari kota itu primadona, betapa pun di kemudian hari hasil penelitian mengatakan beras jagung itu sangat sehat karena tidak memicu lonjakan gula darah secara drastis seperti yang biasanya terjadi setelah memakan beras padi.Untuk mengubah nasib, ada budaya siri’ (malu). Lebih baik mati daripada hidup menanggung siri’. Rakyat Bonto Tiro meledakkan energi siri’-nya ke arah pendidikan, bukan berkelahi untuk saling membunuh bila ada yang menghina. Siri’ ko punna tala sikola (malulah kamu atau kalian bila tidak sekolah/terdidik): sebuah proses pembudayaan pada pengalihan dari adu fisik ke adu otak. Tak heran, harta benda mudah dikorbankan untuk pendidikan anak-anak hingga minimal selesai tahap S-1. Hasilnya, Bonto Tiro di kemudian hari menjadi buah bibir sebagai sarang pendidikan termaju dengan mencetak sarjana terbanyak di Sulsel. Tentu saja, kesuksesan ini tidak berdiri sendiri. Faktor pendukung lainnya, seperti kualitas guru sekolah yang berdedikasi tinggi dan menjalankan kurikulum secara cepat, turut mempengaruhi.
B. J. Habibie dengan Asse Nur Izza Maharani, anak dari Fatmawati Patwa di Taman Pintar Yogyakarta, 2013.
Sewaktu TK hingga kelas 3 SD, penulis tinggal di Kalumpang, di rumah Daeng Reni. Abdullah Demma (Puang Dullah) dan Syamsiah Lambero (Ummi Sia), orang tua Daeng Reni, tiap hari memberikan soal aritmatika (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian). Bila menginginkan sesuatu, penulis terlebih dahulu harus mampu menjawab soal. Di waktu bermain juga begitu. Itu sudah semacam lifestyle. Di kelas 1 SD, penulis sudah lancar perkalian. Anak-anak lain di sekolah juga banyak yang bisa. Itu hal biasa saja, tetapi istimewa buat kampung yang lain. Mungkin.
Fatmawati Patwa bersama anaknya Lala yang kini kuliah di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir.
Hampir semua—kata ‘hampir’ untuk menghindari hal yang luput dari perhatian—anak yang tinggal di rumah Daeng Reni pendidikannya berhasil. Dua orang kakak penulis, yaitu Fatmawati Patwa dan Saipul Patwa, juga berhasil. Fatmawati Patwa selalu mempunyai nilai rata-rata 10 di rapor selama bersekolah di Pondok Pesantren Modern IMMIM serta Pondok Pesantren Madinah. Kemudian, Saipul Patwa—nama panggilannya adalah Sampulo (sepuluh) karena terlalu sering dapat nilai sepuluh—menjadi pelajar SMA terbaik se-Bulukumba dan mendapatkan tiket sekolah khusus di Makassar yang dirancang oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel.
Saipul Patwa bersama anaknya Aufa Patwa sewaktu masih bersekolah di MAN Insan Cendekia Gorontalo, sebuah sekolah yang didirikan oleh B. J. Habibie. Setelah tamat SMA, Aufa bercita-cita kuliah di Universitas Harvard di Amerika Serikat, tetapi orang tuanya meminta S-1 di Indonesia. Pilihan terdekat pun jatuh ke Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulsel.
Keterbatasan alam menambah klaim manusia untuk berkeluh kesah. “Jangan mengeluh! Mengeluh adalah tanda kelemahan jiwa,” kata Soekarno. Keterbatasan itu dijebol. Di genggaman tangan orang-orang yang mempunyai ketangguhan mental dan kemandirian, mereka berpikir untuk menolak menyerah. Penanaman spirit yang tangguh ini sangat penting ditanamkan sejak usia anak-anak seperti Ashimah yang sedang didesain membongkar kemustahilan lewat jalur pendidikan nonformal di Rumah Belajar Bersama (RBB). Rumah Belajar Bersama pun mendorong agar lifestyle kesuksesan cara belajar yang dijelaskan di atas diterapkan secara bersama oleh orang tua anak di rumah masing-masing.
A 4th-grade elementary student and a 7th-grade junior high student are here to remind us of a lesson we have never taken seriously: they will shake the world of formal education.
Andi Nurhidayah Yadawiah (9 years old) and Afifah Rayya Az Zahra (12 years old) regularly memorize and recite both verbal and nominal tenses. They have memorized at least 1,438 sentence variations without looking at any notes. They do not do this all at once, but step by step in every class session. These children say nothing about formal school education. After all, they are still too young to understand why their parents sent them to non-formal education. Yet, a glimmer of a brighter future remains lit.
In less than 10 years, these two children will enter university. Together with millions of other Indonesian students, they will witness the incredible impact of the lessons they learned during their childhood. Many students will fall behind, unable to step into the international community or access valuable knowledge from abroad due to their limited English skills. In a healthy academic competition, students who are properly educated from childhood will have a great chance to face every challenge.
In this fast-paced era, people forget to plant.
People forget that ironwood and na’nasa (bitti) are trees unique to Sulawesi. For centuries, they have been the main material for building Bulukumba’s traditional boats. Their quality is so famous that they are marketed internationally. As a treasure of knowledge, the Pinisi boat was recognized as an Intangible World Heritage by UNESCO in 2017. These trees grow very slowly to make themselves hard and strong, becoming the best wood for shipbuilding and other vital human needs.
People forget about long-term education.
After graduating from high school, students rush to take short preparation courses for university entrance exams or jobs. These short courses waste their time and are very exhausting. They forget that they wasted a long period of time from elementary to high school. In fact, people are willing to spend hundreds of millions of rupiah just to pass into a certain campus or institution. We refuse to build a strong quality that is developed slowly over time.
Why do we not learn from nature around us? Why are we becoming more disconnected from the things around us? The universe stretched out before us is meant to be a reflection for human welfare and happiness. But then, greedy exploitation of natural resources destroys our own home—and there is no other home but nature itself.
The best quality trees teach us about endurance and long-term patience until they are ready to be used. The result will never disappoint. An education that ignores process, time, and patience will only create unskilled people who work outside their fields, act irresponsibly, and ruin themselves. We are destroying the human future, but if we realize it and are willing to take action, we can change this path.
Shaping the future depends heavily on what we do today. Past history has become a lesson for us living in the present. Non-formal education at RBB continuously creates renewable human resources, sharing solutions for our next generation.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Tuesday, September 8, 2026
Anak kelas 4 SD dan kelas 1 SMP hadir untuk mengingatkan kita bahwa ada pelajaran yang tidak pernah diperhatikan secara serius: mereka akan turut menggetarkan pendidikan formal.
Andi Nurhidayah Yadawiah, 9 tahun, dan Afifah Rayya Az Zahra, 12 tahun, sama-sama menyelesaikan setoran verbal tenses dan nominal tenses di luar kepala secara teratur. Sedikitnya 1.438 perubahan kalimat tenses mereka setor tanpa melihat catatan—tidak sekaligus, melainkan dicicil pada tiap pertemuan kelas belajar. Mereka tidak berkata-kata apa pun tentang pendidikan sekolah formal. Toh, pikiran mereka belum sampai mengapa orang tua mereka mengirim ke pendidikan nonformal. Secercah masa depan yang lebih cerah tidak padam.
Tidak cukup 10 tahun ke depan, kedua anak ini akan menempuh pendidikan di universitas. Kedua anak ini bersama jutaan manusia Indonesia yang belajar akan menyaksikan dahsyatnya pelajaran yang mereka peroleh selama masa pertumbuhan mereka. Banyak pelajar akan terpelanting, tidak bisa melangkah maju pada pergaulan internasional dan mengakses ilmu pengetahuan berharga dari negeri luar karena keterbatasan bahasa Inggris. Dalam pertarungan akademis, pelajar yang sejak masa kecil terdidik dengan benar mempunyai peluang yang sangat besar untuk menyambut setiap tantangan.6
Era yang serba instan ini, orang lupa menanam.
Era yang serba-instan ini, orang lupa menanam kayu besi dan na’nasa (bitti) adalah endemik khas Sulawesi yang menjadi andalan pembuatan perahu tradisional Bulukumba berabad-abad lamanya dan sangat terkenal kualitasnya sehingga pemasarannya sampai ke tingkat internasional. Sebagai sebuah kekayaan pengetahuan, perahu pinisi pun ditetapkan sebagai warisan dunia takbenda oleh UNESCO pada 2017. Kayu besi dan pertumbuhannya lambat untuk mengeraskan diri dan menjadi bagian kayu terbaik dalam pembuatan perahu dan juga urusan terpenting manusia.
Orang lupa pendidikan jangka panjang.
Setelah tamat SMA, para pelajar berlomba-lomba mengikuti kursus singkat untuk ujian masuk ke institut, universitas, ataupun kerja. Kursus singkat yang menyita waktu dan sangat melelahkan. Lupa, ada waktu yang panjang semasa SD hingga SMA tidak dimanfaatkan. Bahkan, ratusan juta bersedia dikorbankan untuk urusan lulus di kampus atau institusi tertentu. Kita menolak membangun kualitas tangguh yang dibangun secara perlahan-lahan.
Mengapa kita tidak mengambil pelajaran dari alam sekitar kita? Mengapa kita semakin terasing dari benda-benda di sekitar kita? Alam semesta yang terhampar di hadapan kita adalah benda-benda yang dimanfaatkan untuk bahan renungan bagi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Tetapi kemudian, pengerukan sumber daya alam dengan serakah merusak rumah kita sendiri—tidak ada lagi rumah yang lain selain alam itu sendiri.
Dari pohon yang berkualitas terbaik itu mengajarkan kita tentang daya tahan dan kesabaran jangka panjang hingga masa layak untuk digunakan. Tentu itu tidak akan mengecewakan. Pendidikan yang mengabaikan proses, waktu, dan ketekunan pada akhirnya akan mencetak manusia yang tidak ahli dan bekerja bukan pada bidangnya, tidak bertanggung jawab, dan merusak diri manusia itu sendiri. Kita menghancurkan masa depan manusia yang bila kita sadar dan mau bertindak, kita bisa mengubah alurnya.
Menentukan arah masa depan sangat besar dipengaruhi oleh tindakan kita sekarang. Sejarah masa lalu telah menjadi pelajaran buat kita yang hidup di masa sekarang. Pendidikan informal di RBB yang terus mencetak sumber daya manusia yang terbarukan turut menyebarkan solusi buat generasi penerus kita.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa, 8 September 2026
The world of children is play; learning through play, or games themselves, is learning. This is how these children first started. This is the beginning of a big design that will become the foundation for global competition. They did not yet understand why knowledge is important. All they knew was that learning must be fun. If not, the lessons and the teacher would become their common enemy.
This mindset changed after the elementary school children in this night class mastered English tenses. Moving to the next stage, they felt that doing written exercises on English sentences no longer required a noisy atmosphere full of games. They wanted quiet so they could think clearly while answering randomized tense questions. Occasionally, some children needed the teacher’s help with difficult questions. However, once they understood, they preferred working independently rather than being guided by the teacher.
Looking at the test results, most students scored above 90 out of 52 randomized tense questions. This is unusual for elementary school students in Bulukumba. At school, children only learn simple vocabulary and sentences for a very limited time, once a week. However, this was not the only target. These children also wanted to master randomized tenses because some of their peers could already do it very well.
Changing from ordinary to extraordinary learning habits is a long journey. This awareness grew step by step, along with patience in teaching. Every difficult time was faced with resilience. No child who fell behind was left behind; instead, they were constantly encouraged and taught to their maximum potential. Simply put, no student should be left uneducated. The teacher and all students helped one another and took responsibility for making every student smart.
Whether realized or not, this night class at Rumah Belajar Bersama (RBB) has applied a new learning model. They did not worry that the material—which people assumed was too heavy—actually became the main attraction for the students. They felt challenged and broke the limits, strengthening their foundation for a big dream. Why was RBB so brave to do this? Because they have enough human resources, not material resources. RBB tries to make learning a lifestyle; every place is a place to learn.
RBB designs its students for global competition. The teachers know the most important things to strengthen. They build a culture of literacy and academic speaking skills. This way, in the future, the students will be ready to face tough challenges, including writing in English. What else? This preparation is enough if the students later dream of working or studying abroad, including getting scholarships.
Children who are still in the play phase are not a problem for RBB. Instead, it is a good way to lead them into the world of advanced learning. After all, education will eventually be measured by the quality of human resources it produces. RBB stands right on that line.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Monday, September 7, 2026