Bridging smart teachers and talented students together has happened many times through a partnership between GAIA in Pati, Central Java, and RBB (Rumah Belajar Bersama) in Bulukumba, South Sulawesi. What made this fifth online English meeting special was that each institution sent four students to participate in a question and answer session.
This idea came up after Miss Salma Minasaroh from GAIA filled the teaching sessions four times. The RBB children were very excited to learn from her. It would be much better if the GAIA children could also join, so that students across islands—Java and Sulawesi—could connect. She agreed. To make it effective, the number of participants was very limited so that everyone had enough chance to speak and answer twenty questions.When they met on the screen, the children just looked at each other. None of them greeted each other or started a conversation until the silence was broken when Miss Salma took over the class for the English lesson.
The question and answer session went very smoothly. Only one or two English words from the students’ conversation were hard to understand. In short, the English learning process ran normally. The secret lay in the skill and experience of the teacher, an alumna of two universities, UAD and UGM Yogyakarta. She knew exactly how to manage a classroom and the students had practiced well on the question and answer materials that would be discussed online.
After understanding the basics of simple conversation, our students should be motivated to be brave enough to communicate with other people, not just their teachers. Yes, we know that children tend to be shy around people they just met. That is our challenge for the future, so they can become close friends with fellow Indonesian students before stepping further into international relations between countries.
GAIA and RBB, which are part of the institutions focused on developing the quality of Indonesian students, are certainly ready to move in that direction. Based on the evaluation above, a better plan for the next online learning has been prepared. Knowledge and mental strength must walk hand in hand. Do you have any interesting ideas too? Let’s see. That’s all for now
Mempertemukan guru dan pelajar berbakat telah berulang-ulang terlaksana melalui kerjasama antara GAIA di Pati, Jawa Tengah dan RBB (Rumah Belajar Bersama), Bulukimba, Sulawesi Selatan. Yang istimewa pada pertemuan kelima English online ini adalah masing masing lembaga memasukkan empat orang pelajarnya untuk materi tanya jawab.
Ide ini muncul setelah Miss Salma Minasaroh dari GAIA telah empat kali mengisi materi. Anak-anak RBB sangat antusias belajar darinya. Alangkah ini lebih baik bila anak-anak GAIA juga dapat terlibat agar terdapat keterhubungan pelajar lintas pulau: Jawa dan Sulawesi. Dia sepakat. Agar efektif, jumlah peserta dibuat sangat terbatas agar semua peserta punya kesempatan cukup untuk berbicara menjawab dua puluh soal.
Saat bertemu di layar, anak anak itu saling tatap muka saja. Tidak ada di antara mereka yang saling menyapa dan memulai pembicaraan hingga keheningan terpecahkan ketika Miss Salma mengambil alih kelas untuk pembelajaran Bahasa Inggris.
Tanya jawab berlangsung sangat lancar. Satu dua kata kosa kata Inggris saja dari pembicaraan para pelajar itu yang sulit dimengerti. Pendek kata, urusan pembelajaran Bahasa Inggris berjalan normal. Rahasianya terletak pada kemampuan dan pengalaman guru alumni dua universitas yaitu UAD dan UGM Yogyakarta tersebut yang sudah tahu betul cara mengelola kelas belajar dan para pelajar yang telah berlatih dengan matang pada materi tanya jawab yang akan dibahas secara online.
Setelah memahami dasar dasar percakapan sederhana, para pelajar kita sebaiknya dimotivasi untuk berani berkomunikasi dengan orang lain, bukan sebatas guru saja. Ya, kita tahu anak anak itu cenderung pemalu pada orang yang mereka baru kenal. Itulah yang menjadi tantangan kita ke depan agar mereka mampu berakrab ria sesama pelajar Indonesia sebelum melangkah lebih jauh pada pergaulan internasional antar negara.
GAIA dan RBB yang termasuk bagian dari lembaga yang fokus pada pengembangan kwalitas pelajar Indonesia tentu siap mengerakkan ke arah tersebut. Berangkat dari evaluasi di atas, rancangan lebih baik pada pembelajaran online berikutnya telah disiapkan. Pengetahuan dan mental harus saling bergandeng tangan. Apakah Anda punya ide menarik juga? Let’s see. Sekian.
The classroom atmosphere which was not crowded made the writer have more opportunity in designing these students to practice leadership when learning English. The first thing done was appointing Adeeva as the leader because she was the only child who had finished two English storybooks and completed the story questions. The third book she is studying now is also almost finished. The other students are still at the stage of trying to finish books one and two.Adeeva accepted the offer and got the right to control the class as she pleased for 30 minutes. Before Adeeva asked her colleagues to read the second-stage storybook, Belva suggested, “I also want to lead the class, Mr. May I?”
The writer said, “The leadership has fallen to Adeeva. Please convey your suggestion to her.””After Adeeva leads one reading, may I be the one who leads? Then Gavino and Aliza lead too after I am finished,” said Belva hopefully.”Yes,” Adeeva answered shortly.Everyone shouted, “Hooray.”
So the class for about 20 minutes ran according to their agreement. Because the time was not up yet, the leadership returned to Adeeva. She suggested to practice orally on the preposition of place–Strengthening of the material that had been learned the day before. Everyone claimed to have been fluent and one by one alternately practiced in front of Adeeva.
A break time was given for 15 minutes.In the remaining 45 minutes, Belva suggested something again.”Mr., everyone reads one lesson according to their choice.”A good idea. “Okay. How about the others? Agree?” asked the writer.”Agree,” said the children in unison.
“Alright. But what is read is not only the story in the lesson but also the questions so that your reading is firmer.” No one objected.Gavino and Aliza took an easy reading. Because they were free to choose, there was no protest. Meanwhile, Adeeva read the lesson which was almost on the last page and it was read very well.Belva appeared different. He was the only student who wanted to read two lessons.
“I want to read twice,” she said.
“No problem. Please go ahead. That is even better for you,” said the writer. When everyone had finished, they looked very satisfied. Why? Because the suggestion about the way of learning they wanted was fulfilled, deliberated and without any coercion.
From here we can see these children have learned to express their opinions which without them realizing it, they have practiced to be leaders, managing the class like an experienced teacher because the class can run according to the target. Besides that, the courage to express one’s own thoughts and self-confidence are also built.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Saturday, May 16, 2026.
Suasana kelas yang sedang tidak padat membuat penulis punya kesempatan lebih dalam merancang para pelajar ini untuk melatih kepemimpinan saat belajar Bahasa Inggris. Hal yang pertama dilakukan adalah menunjuk Adeeva sebagai pemimpin karena dia adalah anak satu-satunya yang telah tamat dua buku cerita berbahasa Inggris dan menyelesaikan soal soal cerita. Buku ketiga yang sedang ia pelajari sekarang pun hampir tamat. Pelajar yang lain masih tahap sedang berusaha menamatkan buku satu dan dua.
Adeeva menerima tawaran tersebut dan mendapatkan hak mengendalikan kelas sesukanya selama 30 menit. Sebelum Adeeva meminta rekan rekannya membaca buku cerita tahap kedua, Belva mengusulkan, “Saya juga mau memimpin kelas, Mr. Boleh?”
Penulis berkata, “Kepemimpinan telah jatuh kepada Adeeva. Silahkan sampaikan usulanmu kepadanya”.
“Setelah Adeeva memimpin satu bacaan, bolehkah saya yang memimpin? Lalu Gavino dan Aliza memimpin juga setelah saya selesai”, kata Belva penuh harap.
“Boleh”, jawab Adeeva singkat.
Semua berteriak, “Hore”.
Maka kelas sekitar 20 menit berjalan sesuai kesepakatan mereka. Karena waktu belum habis, kepemimpinan pun kembali ke Adeeva. Ia mengusulkan untuk praktek lisan pada preposition of place (Kata depan untuk tempat)–Pemantapan materi yang telah dipelajari sehari sebelumnya. Semuanya mengaku telah lancar dan satu persatu secara bergiliran praktek di depan Adeeva.
Waktu istirahat diberikan selama 15 menit.
Pada 45 menit yang tersisa, Belva mengusulkan sesuatu lagi.
“Mr., setiap orang membaca satu lesson yang sesuai pilihannya”.
Ide yang bagus. “Oke. Bagaimana yang lain? Sepakat?” tanya penulis.
“Sepakat”, kata anak anak serentak.
“Baiklah. Tapi yang dibaca bukan hanya cerita pada lesson tapi juga soal-soalnya agar bacaan kalian lebih mantap”. Tidak ada yang keberatan.
Gavino dan Aliza mengambil bacaan yang mudah. Karena bebas memilih, tidak ada protes. Sedangkan Adeeva membaca lesson yang hampir pada halaman terakhir dan dibaca dengan sangat baik.
Belva tampil beda. Ia satu satunya pelajar yang ingin membaca dua lessons.
“Saya mau dua kali membaca”, katanya.
“Tidak masalah. Silahkan saja. Itu malah lebih bagus buatmu”, kata penulis.
Saat semua telah selesai, mereka terlihat sangat puas. Mengapa? Karena usulan tentang cara belajar yang mereka inginkan dipenuhi, dimusyawarahkan dan tanpa ada paksaan.
Dari sini kita dapat melihat anak anak ini telah belajar untuk mengutarakan pendapatnya yang tanpa mereka sadari, mereka telah berlatih untuk menjadi pemimpin, mengelola kelas layaknya seorang guru yang berpengalaman karena kelas dapat berjalan sesuai target. Selain itu keberanian mengutarakan pikiran sendiri dan kepercayaan diri juga terbangun.
The best (Terbaik). Ungkapan singkat dari Arrumi Putri Irbeck yang baru saja menerima sertifikat kelulusan Ujian Tulis dan Lisan pada Tenses. Arrumi harus ujian sebanyak tujuh kali hingga ia dinyatakan lulus, paham luar kepala.
Arrumi adalah alumni SMA 9 Ujung Loe dan tinggal di Desa Seppang. Ia harus berkendara motor seorang diri sekitar 20 sampai 25 menit untuk tiba ke RBB (Rumah Belajar Bersama) di kota Bulukumba. Selama tujuh bulan ia belajar Basic Grammar (Tata Bahasa Dasar) di bawah bimbingan Agung Pratama Salassa.
“Metode belajar di RBB gampang dimengerti karena materinya tersusun rapi”, kata Arrumi. Untuk suasana kelas, “Banyak orang yang memang datang dengan niat mau “Guru gurunya juga baik dan ramah. Penjelasan materinya detail”, lanjutnya. Karena itu, ia tidak merasa rugi jauh jauh datang dari desa. Kwalitas seimbang dengan pengorbanan.
Arrumi yang bercita cita kuliah di kampus kedinasan, sekarang ini mengikuti kursus kedinasan untuk menghadapi materi ujiannya. Ia memanfaatkan pengetahuan dasar Inggrisnya yang diperoleh untuk menganalisa soal soal. Ia merasa bersyukur karena dengan adanya basic yang bagus, ia dapat sedikit banyak mengerti cara menjawab dengan benar.
Langkah Arrumi sudah tepat. RBB hanya memberikan materi tingkat lanjutan ke Pre Intermediate, Intermediate dan TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan sejenisnya hanya bagi pelajar yang lulus dari satu tahap ke tahap berikutnya. Karena waktunya yang terbatas, ia berjuang memahami Basic Grammar dan Tenses secara total. Itu cukuplah sebagai bekal utama untuk belajar secara acak. Dan menurutnya, dari bekal tersebut, ia bisa nyambung dengan latihan soal-soal kedinasan yang sedang ia pelajari saat ini.
Seperti itulah mungkin tafsir “the best” Arrumi, menemukan kemudahan untuk melangkah lebih jauh menempuh cita cita. Mr. Agung sengaja memberikan ujian tulisan dan lisan karena tinggi kepada Arrumi dan pelajar lainnya karena ia ingin agar sertifikat kelulusan itu memang sesuai dengan kapasitas, mampu dipertanggungjawabkan. Dan setelah jatuh bangun tanpa kenal menyerah, Agung menyatakan Arrumi layak mendapatkan sertifikat kelulusan dengan nilai akhir termasuk kategori the best.
Students who possess greater intelligence than their classmates should be given trust and responsibility. Teachers can appoint them to lead a few classmates and teach the material they have already understood. By doing so, they will gain a deeper understanding because they must relearn the material through explanation. Their self-confidence will also grow. Meanwhile, the students being taught may feel more relaxed because they are learning from their peers and will likely be motivated to reach the same level of understanding.
Adam is a student who quickly understands lessons. Once he has grasped the material being studied, he tends to draw or chat with nearby classmates. His influence spreads quickly, and soon the classroom becomes noisy—not because students are discussing the lesson, but because they are sharing childish gossip.
Should Adam be punished? Not necessarily. Instead, he should be kept busy in a productive way while still being supervised. The teacher can appoint him as the leader of a small study group. He can be made responsible for teaching the material he understands to two or three classmates at first so that he does not become overwhelmed in managing the group. However, this process still requires supervision because Adam may return to chatting about unrelated topics instead of discussing the lesson.
The same method can be applied to Nabila and Aliza. Each of them may choose several classmates they enjoy working with to teach. Afterward, the class can be divided into separate groups that remain close enough for the learning atmosphere to be visible to everyone. Around ten to fifteen minutes may be given for discussion and understanding. When the allotted time ends, each group presents what they have learned. Through this process, it becomes clear which groups are better able to learn and cooperate as a team.
To identify weaknesses, the teacher may observe whether the group leader lacks the ability to explain the material clearly or whether the students being taught are simply not suited to this learning method. Personal guidance from the teacher is still necessary so that, in the future, the students can work together more effectively in achieving learning targets.
The writer has read that this learning method feels more relaxed. Because students are not entirely dependent on the main classroom teacher, they tend to think more creatively by developing their own ways of understanding the material. These methods emerge through group discussion and mutual agreement led by their respective group leaders.
Exceptional intelligence and the trust given to gifted students are powerful forces that can effectively influence their classmates to become smarter and more trustworthy as well. They, too, will aspire to gain the opportunity to become “little leaders” in the classroom.
Pelajar yang mempunyai kecerdasan lebih di atas rekan-rekan kelasnya sebaiknya diberi kepercayaan. Guru dapat menunjuknya untuk memimpin beberapa orang agar ia mengajarkan materi yang telah ia pahami. Ia akan tambah paham dan kembali belajar menjelaskan pemahamannya. Mental percaya diri pun terbangun. Sedangkan pelajar yang diajar merasa bisa lebih santai karena diajar oleh temannya sendiri dan pasti ingin selevel dalam hal kecerdasan.
Adam anak yang cepat memahami pelajaran. Ia akan menggambar atau menemani rekan di dekatnya untuk bicara manakala ia telah mengerti materi yang sedang dipelajari. Pengaruhnya ini cepat menyebar di mana kelas suara di kelas akan lebih riuh tapi bukan membahas pelajaran tetapi gossip ala anak anak.
Apakah Adam harus dihukum? Tidak perlu. Kita buat ia sibuk tapi harus tetap diawasi dengan jalan menunjuknya menjadi memimpin. Ia bertanggungjawab mengajarkan hal yang ia pahami. dua sampai tiga orang yang ia didik cukup sebagai langkah awal agar ia tidak kewalahan mengkondisikan kelas. Namun ini harus tetap diawasi karena bisa jadi Adam tidak membahas pelajaran alias kembali bergosip.
Begitupun pada Nabila dan Aliza. Keduanya masing-masing menunjuk beberapa orang yang mereka senangi untuk diajar. Setelah itu, kelas dibuat terpisah namun tidak berjauhan agar nuansa belajarnya saling terlihat. Waktu yang diberikan sekitar sepuluh sampai lima belas menit untuk memahamkan. Ketika jam yang ditentukan berakhir, setiap kelompok tampil menerangkan hal yang dipelajari. Di sini terlihat kelompok mana yang lebih mampu belajar secara team.
Untuk melihat titik kelemahan, bisa jadi yang memimpin kurang tahu cara menjelaskan pemahamannya kepada rekannya atau pelajar yang diajar belum tidak cocok dengan metode ini. Pendekatan personal pun dilakukan oleh guru agar ke depan mereka dapat lebih kompak dalam mencapai target pelajaran.
Penulis membaca bahwa cara belajar ini terlihat lebih rileks. Karena tidak tergantung pada guru utama kelas, mereka cenderung berpikir lebih kreatif dengan menciptakan cara sendiri dalam memahami suatu materi. Dan itu dibuat dari hasil musyawarah yang kemudian disepakati oleh pemimpinnya masing-masing.
Kecerdasan lebih dan kepercayaan yang diberikan kepada pelajar yang cerdas tersebut adalah kekuatan yang dahsyat yang sangat efektif digunakan untuk mempengaruhi rekan-rekan yang lain untuk ikut cerdas dan terpercaya—mereka juga ingin memperoleh kesempatan menjadi pemimpin kecil.
The Real Vacation of a Danish Diving Instructor
Caoralia Liveaboard became an introduction to the diving world of Ditte Spanggaard, a Danish diving instructor working aboard the luxurious Pinisi sailing boat built in Bira, Bulukumba Regency, South Sulawesi Province in 2019. According to its official description, the name “Carolia” is inspired by the word “coral” and the Latin suffix “-ia,” expressing the idea of a “Nation of Corals.” Ditte seems to work in a place perfectly suited to her expertise. She appears not to work in order to go on vacation, but rather to vacation together with guests who have worked hard to afford a journey aboard Coralia.
Together with Coralia, Ditte has been exploring diving destinations and marine tourism routes across eastern Indonesia, including Raja Ampat, Komodo National Park, Banda Islands, Alor, and Cenderawasih Bay.
If you are accustomed to diving, you will know how to be as relaxed as in this photograph. Photo source: Ditte.
“Last year, I worked in Una-Una in the Togean Islands of Central Sulawesi,” Ditte explained. It was an extraordinary underwater destination. “So, I want to come back to Indonesia,” the Danish woman continued.
Based on her personal experience, Una-Una occupies the top place among her favorite diving destinations, followed by Raja Ampat, the Banda Islands, Alor, and even Timor-Leste, although it is not part of Indonesia.
For divers, marine creatures are part of the beauty that delights the eyes. As you can see, the jellyfish drift freely through the water. Photo source: Ditte.
As a diving instructor working aboard a ship, does Ditte spend more of her life at sea than on land?
For a moment, she paused in thought. “I don’t know,” she answered.
“Her life is on the boat. It is understandable that her vacation time at Cosmos Bungalow in Bira is relatively short,” the writer thought. A moment later, she smiled warmly and said honestly, “Every two months on the boat, one month off. That’s the cycle.”
Notice her hands. Underwater, it is impossible to communicate by speaking, so divers use sign language through hand gestures to communicate. Photo source: Ditte.
“I like Indonesia, the people, and working in Indonesia,” Ditte added.
Her presence in Bira was part of her life journey to experience natural beauty different from anything she had seen before. She also admired local culture. Unfortunately, she did not have the opportunity to visit Kajang during her stay in Bulukumba.
The indigenous Ammatoa Kajang Indigenous Community live in harmony with nature: walking barefoot, wearing black clothing, and protecting their customary forest without electricity or excessive modernization. In their tradition, anyone who cuts down one tree must plant two trees in return.
The underwater world also has its own forests in the form of colorful coral reefs. Photo source: Ditte.
According to Imam Shamsi Ali, a prominent figure from Kajang now known in New York City, the Kajang people’s commitment to environmental conservation has drawn international attention. They are recognized as guardians of tropical forests and as an inspiration showing how humanity and nature can live in harmony rather than in conflict.
What else makes people want to explore the world?
“I could travel the world for food,” Ditte said. “I love trying different kinds of food.”
Among Indonesian dishes, her favorite is Gado-Gado. Since she was visiting South Sulawesi, the writer suggested she try Coto Makassar—a traditional beef soup with thick spiced broth and roasted peanuts from Makassar. Ditte seemed interested in trying it.
As for Denmark, anyone familiar with the country would certainly know The Little Mermaid, the most famous statue in Copenhagen. Ditte also briefly explained the idea of a “half flat,” a small beautiful house in the Danish countryside. She then mentioned a unique tower in Copenhagen surrounded by larger buildings. Since there was no more time to ask further questions, the tower she referred to was perhaps The Round Tower, or Rundetårn, an iconic 17th-century structure famous for its panoramic 360-degree view of Copenhagen and its spiral ramp leading all the way to the top.
Ditte with the diving life that brings happiness to her world. Photo source: Ditte.
The car from Bulukumba to Makassar was scheduled to depart exactly at nine in the morning. Aris Irfan, Manager of Cahaya Bone from Kalla Travel, invited Ditte to get ready.As a memory, we took a photograph together and promised to preserve this simple yet meaningful conversation in writing—a remembrance of a brief but pleasant friendship.
Ditte, Irfan, and the writer at the Cahaya Bone Travel office of Kalla Transport in Bulukumba. This photo serves as a memory for someone far away, preserving a meaningful moment of friendship. Photo source: Aris Irfan, Monday, May 11, 2026.
Ditte tried to make the most of her limited time on land by visiting famous places that were not included in Coralia Liveaboard’s itinerary. Perhaps this was her real vacation before returning once again to the diving world—a world that many people would consider a dream holiday in itself.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Wednesday, May 13, 2026
Coralia Liveaboard adalah sebuah pengantar untuk mengenali dunia selam DitteSpanggaard, instruktur selam di kapal pesiar mewah dibuat dengan layar Pinisi di Desa Bira, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan pada 2019. Merujuk situs resminya, kata “coral” (Karang) dan akhiran Latin “-ia,” yang mengekspresikan gagasan tentang Bangsa Karang. Ditte bekerja di tempat yang tepat yang sesuai keahliannya. Ia seolah tidak perlu bekerja untuk pergi berlibur tapi berlibur bersama para tamu yang telah mencari duit untuk dapat berlibur di Coralia.
Bersama Coralia, Ditte menikmati destinasi diving dan wisata bahari di Indonesia timur dengan rute Raja Ampat, Taman Nasional Komodo, Kepulauan Banda, Alor dan Teluk Cenderawasih.
Bila anda terbiasa menyelam, anda akan tahu bagaimana cara untuk bisa serileks mungkin seperti pada foto ini. Sumber Foto: Ditte.
“Tahun lalu, saya bekerja di Una-Una di kepulauan Togean, Sulawesi Tengah” terang Ditte. Itu adalah destinasi wisata bawah laut yang menakjubkan. “Jadi, saya ingin kembali lagi ke Indonesia”, lanjut orang Denmark ini. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia Una-Una sangat spesial ditempatkan di urutan pertama dan kemudian diikuti Raja Ampat, Kepulauan Banda, Alor dan juga Timur Leste meskipun itu bukan Indonesia.
Bagi penyelam, makhluk laut itu adalah bagian dari keindahan untuk memanjakan mata. Ubur ubur bergerak dengan bebas. Sumber Foto: Ditte.
Sebagai intruktur selam yang bekerja di atas kapal, apakah Ditte perempuan yang kehidupannya lebih banyak di laut daripada di darat? Sejenak ia merenung. “Saya tidak tahu”, jawabnya. “Hidupnya di atas kapal. Wajarlah bila waktu berliburnya di Cosmos Bungalow di Bira relatif singkat”, pikir penulis. Sejurus kemudian, ia tersenyum manis dan berkata dengan terus terang, “Setiap dua bulan saya di kapal, satu bulan istirahat. Begitulah perputarannya”.
Perhatikan tangannya. Di dalam laut, anda tidak akan mungkin menggunakan mulut untuk bicara sehingga komunikasi yang dibuat dalam bentuk bahasa isyarat dengan gerakan tangan: Sumber Foto: Ditte.
“Saya suka Indonesia, orang-orangnya dan bekerja di Indonesia”, tambah Ditte. Keberadannya di Bira adalah bagian dari perjalanan hidupnya untuk menikmati keindahan alam yang berbeda yang ia pernah lihat sebelumnya. Ia juga mengagumi budaya. Sayangnya, ia tidak sempat mengenal Kajang pada kunjungannya ke Bulukumba. Masyarakat adat Amma Toa di Kajang hidup menyatu dengan alam, dengan berjalan dengan kaki telanjang, berpakaian serba hitam, tanpa listrik atau modernisasi apapun juga tidak diberlakukan oleh Amma Toa (Kepala Adat Kajang) untuk menjaga kelestarian alamnya. Setiap orang yang menebang satu pohon harus menanam dua pohon.
Alam bawah laut juga punya hutan dalam bentuk karang yang berwarna warni. Akankah kita merusak alam bawah laut yang indah ini? Sumber Foto: Ditte.
Menurut pemahaman Imam Syamsi Ali, orang asli Kajang yang kini jadi tokoh New York AS, komitmen orang Kajang kini dikenal penjaga hutan tropis terbaik, inspirasi untuk melestarikan alam. Manusia dan alam hidup selaras dan bersinergi, bukan bertentangan.
Apa lagi hal yang membuat orang mau menjelajahi dunia? “Saya bisa berkeliling dunia untuk makanan”, terang Ditte. “Saya suka mencoba berbagai macam makanan”. Untuk makanan Indonesia, makanan favoritnya adalah Gado-Gado. Karena dia sedang berada di Sulawesi-Selatan, penulis menyarankan untuk mecoba Coto Makassar—Sup daging sapi dengan kuah kental berbumbu rempah dan kacang tanah sangrai. Ia mengerti dan sepertinya tertarik untuk mencobanya.
Sedangkan mengenai Denmark, Orang yang mempelajari Denmark tentu tahu, The Little Mermaid, patung paling terkenal di Copenhagen. Ditte tertarik sedikit menjelaskan tentang Half Flat, semacam rumah kecil yang indah di tanah pertanian. “Hal yang spesifik, kami mempunyai menara special yang dikelilingi menara yang tinggi. Karena waktu untuk bertanya lebih jauh tidak ada lagi, menara yang ia maksudkan mungkin saja Rundetårn (The Round Tower) yang merupakan arsitektur abad 17 yang sangat ikonik, view 360° kota Copenhagen dan spiral ramp berputar 7½ kali sampai puncak.
Ditte dengan kehidupan dunia selamnya yang membahagiakan hidupnya. Sumber Foto: Ditte
Mobil dari Bulukumba ke Makassar akan berangkat tepat jam 9 pagi. Aris Irfan, Manager Cahaya Bone of Kalla Travel, mempersilahkan Ditte bersiap siap. Untuk kenangan, kami foto bersama dan berjanji akan merekam pembicaraan sederhana yang berkesan baik di hati ini untuk dijadikan tulisan sebagai sebagai kenangan persahabatan yang singkat yang menyenangkan.
Malomo Villa yang merupakan salah satu tempat beristirahat terbaik ketika Anda berkunjung ke pantai Bira. Sumber Foto: Aris Irfan.
Oh iya, Irfan juga terlibat aktif dalam dunia bahari dan punya Malomo Villa di Bira yang bangunannya semi modern yang dekorasinya hasil kombinasi jiwa seninya bersama para ahli pengrajin kayu yang handal.
Ditte, Irfan dan Penulis saat berada di kantor Travel Cahaya Bone of Kalla Transport di Bulukumba. Foto adalah kenangan pada orang jauh untuk mengingat moment persahabatan yang berharga. Sumber Foto: Aris Irfan pada Senin, 11 Mein 2026.
Ditte berusaha menikmati waktunya yang sangat terbatas berada di darat sebaik-baiknya dengan mengunjugi tempat wisata yang terkenal yang tidak masuk daftar kunjungan Coralia Liveaboard. Ini adalah liburannya yang sesungguhnya sebelum ia kembali bekerja di dunia selam di mana orang lain menganggapnya sebagai liburan.
Keistimewaan anak ini adalah di umurnya lima tahun, ia sudah lancar membaca dalam bahasa Indonesia, mengaji dan Bahasa Inggris. Berhitung sudah menjadi bagian kesehariannya karena ibunya guru Matematika. Olahraga yang ia suka adalah karate.
Namanya Afwa. Sekarang ia sudah enam tahun. Tiap kali ketemu, ia selalu minta untuk diajar. Ia suka bawa bukunya sendiri tapi kadang juga lupa. Jadi ia sering ke perpustakaan Rumah Belajar Bersama, ambil buku bacaan dan kemudian mengatakan, “Siapma Mister” (Saya sudah siap Mister). Bacaannya sudah pertengahan Basic Reading tapi kalau ia capek atau penulis lagi sibuk dimana sulit untuk mengoreksi bacaannya secara langsung, Lesson 1 sampai 10 akan jadi hiburannya. Ia sudah sangat mahir bacaan itu. Yang terpenting, setiap datang ke RBB, ada waktu untuk membaca.
Urusan berhitung, Afwa sudah sampai perkalian tujuh tapi ia merasa belum terlalu lancar. Jadi ia menawar untuk latihan lisan perkalian dua dan tiga saja. Tak mengapa ia mengikuti the law of repetition (Hukum perulangan). Perlahan lahan ia pasti akan suka perkalian tujuh, delapan dan sembilan. Bila itu tuntas, urusan matematikanya pasti terasa sangat ringan saat masuk SD nanti.
Kalau karate, sekarang Afwa agak jarang latihan setelah sakit. Mungkin ia perlu banyak nonton video karate untuk mengembalikan semangatnya. Soalnya, ia tertarik gabung karena sering nonton latihan karate.
Tahun ini, Afwa kemungkinan akan masuk SD dan akan tinggal di kampung halaman neneknya di Turungan Beru di Kec. Herlang, Kab. Bulukumba. Suasana pedesaan dekat laut akan membuatnya akrab dengan alam. Semoga orang orang yang mendidiknya nanti di sana bisa memaksimalkan bakat anak yang luar biasa ini.
Paling sedikit, bacaan buku cerita anak anak berbahasa Inggris, Indonesia dan Matematika selalu tersedia untuk Afwa. Sedangkan mengajinya cenderung aman karena neneknya sendiri adalah guru mengaji di Masjid. Bagaimana dengan hobi karate? Karena tidak ada dojo (tempat latihan) karate hobby itu sepertinya akan beralih ke berenang di laut dekat rumah neneknya.