Kategori: Program

Program dan mata pelajaran dari Rumah Belajar Bersama

  • The Dream of Bulukumba Students to See the World

    The Dream of Bulukumba Students to See the World

    It was a very surprising day for the students. Victor from Spain and Jessica from France visited an English class. The students whispered to each other because they were curious to know. Then, they sat at the same table with Victor and Jessica.

    In the classroom, Mr. Agung Pratama Salassa, the English teacher, welcomed the guests warmly. He told the guests that most of his students were children and teenagers. After that, they all started a simple conversation. Apart from a few words, most students hoped to get questions, and the two foreigners thought the same. The room was quiet for a moment. Then, Jessica broke the silence with her friendly personality. She greeted some students, and they answered in the same. The atmosphere became closer and warmer.

    Soon after that, Lulu, a recent high school graduate got some questions. She used this valuable chance to speak as best as she could. She talked about her dream to study in the United States or Japan. To study at a top university and join the world community, Lulu is learning English and Japanese. She also learned Mandarin before. Some of her family members are also learning foreign languages at Rumah RBB (Rumah Belajar Bersama) where she is learning English now. Her elder cousin, Lala, is teaching at an international school in Bali now. Lala is the close family example that Lulu wants to follow. Lala is one of the important persons who has inspired her to learn foreign languages.

    “Wow, that is amazing family”, Jessica said and Victor agreed. Jessica asked more questions. “Is Japanese language difficult?”, Jessica asked. “No”, Lulu answered. “I have learned Mandarin before. It is similar to Japanese”, she added confidently.

    Jessica and Lulu

    In short, from this good understanding, Jessica and Victor saw that the 19-year-old girl did not just have big dreams but also made a real effort. This meeting made Lulu very happy. She smiled because the guests could understand her words, even though she is still at the Basic English level at RBB.

    Try to talk with children

    Other students at the same level also wanted to speak. However, they understood that the two kind foreign guests were the visitors of Kak Aris Irfan—the Head of Cahaya Bone of Kalla Travel and the Owner of Villa Malomo. It was time for them to leave Bulukumba and go to Bira, their main destination. Moreover, Kak Irfan and his beloved wife had been waiting patiently for a long time. Therefore, the students quickly took some pictures together as memories of this inspiring meeting which almost ended.

    Kak Rani, a teacher of learning to read, write and Math for kids and Mademoiselle Jessica.

    Kak Irfan did a great thing. He supported local Indonesian students to be brave and speak English with foreigners. To Kak Irfan, Mademoiselle Jessica, and Señor Victor, all of us in informal education thank you very much for your kindness. Because of you all, this unpredictable, unimaginable and valuable meeting came true.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Friday, June 5, 2026

  • Mimpi Pelajar Bulukumba Menembus Dunia

    Mimpi Pelajar Bulukumba Menembus Dunia

    Sebuah pertemuan yang cukup mengagetkan bagi para pelajar ketika Victor dari Spanyol dan Jessica dari Prancis mengunjungi kelas belajar. Para pelajar saling berbisik untuk menjawab rasa penasarannya. Mereka semua kemudian diajak duduk satu meja bersama Victor dan Jessica.

    Saat berada di dalam ruang kelas, Mr. Agung Pratama Salassa, guru Bahasa Inggris, menyambut dengan penuh ramah tamah dan memberikan pengantar tentang para pelajarnya yang mayoritas oleh anak anak dan remaja itu. Setelah itu para pelajar diajak untuk berdialog. Wah! Sebagian besar berharap mendapatkan pertanyaan dan dua orang bule itu pun berpikir sama. Diam sejenak. Keheningan terpecahkan melalui kepandaian bergaul Jessica. Ia menyapa beberapa orang dan mendapatkan balasan dalam Bahasa Inggris. Suasana terlihat lebih akrab.

    Tak berselang lama, Lulu yang telah tamat SMA mendapatkan beberapa pertanyaan. Ia yang kesempatan berharga tersebut memanfaatkan diri untuk berbicara sebaik yang ia bisa dengan menceritakan keinginannya berkuliah di Amerika Serikat atau Jepang.

    Untuk bisa kuliah di universitas terbaik dan turut aktif dalam pergaulan dunia, Lulu sedang belajar Bahasa Inggris dan Jepang. Ia juga pernah belajar Bahasa Mandarin. Beberapa orang keluarganya pun belajar bahasa asing di RBB, tempat dimana ia belajar Bahasa Inggris. Tak lupa, Lala, sepupunya Lulu, yang kini mengajar di sekolah Internasional di Bali adalah contoh keluarga dekat yang ia ingin ikuti jejaknya. Dari Lala, ia terinspirasi belajar bahasa asing.

    ‘Wow, keluarga yang luar biasa!”, ekspresi Jessica dalam Bahasa Inggris dan pernyataan itu didukung oleh Victor. Jessica mencoba mengecek lebih jauh. “Apakah Bahasa Jepang itu sulit?” tanya Jessica dalam Bahasa Inggris. “Tidak”, jawab Lulu. “Saya pernah belajar Bahasa Mandarin. Itu ada kemiripan dengan Bahasa Jepang”, tambahnya meyakinkan.

    Singkat kisah, dari obrolan santai tersebut, Jessica dan Victor membaca bahwa anak mudi sembilan belas tahun itu tidak sekedar punya mimpi dan cita-cita yang tinggi tapi juga usaha yang nyata. Mereka bertemu di kelas Bahasa Inggris. Terlihat dari ekspresi wajah Lulu senang mendapatkan sambutan hangat karena pembicaraannya dapat dimengerti betapapun ia masih di level Basic English di RBB (Rumah Belajar Bersama).

    Pelajar yang lain yang setara kemampuannya dengan Lulu tentu juga ingin ikut berbicara. Namun, mereka mengerti bahwa keduanya merupakan tamu Kak Aris Irfan–Pimpinan Cahaya Bone of Kalla Travel dan Owner Villa Malomo–yang sudah waktunya harus meninggalkan kota Bulukumba menuju Bira yang menjadi tujuan utama mereka. Terlebih lagi, Kak Irfan ditemani istrinya tercinta sudah cukup lama sabar menanti. Rekan-rekan pun sesegera mungkin berfoto bersama sebagai tanda akhir dan sekaligus kenangan dari pertemuan yang mencerdaskan ini.

    Apa yang dilakukan Kak Irfan sudah memberikan kontribusi besar mendukung kemajuan pelajar Indonesia di daerah untuk lebih berani dan aktif berbahasa Inggris dengan penutur asing. Kepada Kak Irfan, Mademoiselle Jessica dan Señor Victor, kami semua yang terlibat aktif dalam dunia pendidikan berterima kasih sedalam-dalamnya atas kebaikan hati kalian semua. Karena anda semua, pertemuan berharga yang tidak terbayangkan ini terlaksana.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at, 5 Juni 2026

  • Berebut Memimpin Kelas

    Berebut Memimpin Kelas

    Pelajaran Parts of the body (Bagian-Bagian dari Tubuh) adalah games yang sangat disukai anak-anak. Mereka tidak terlihat bosan dan terus membuat pertanyaan secara bergantian. Seorang pemimpin yang berdiri paling depan membuat pertanyaan, “What is the English word for nadi?” (Apa bahasa Inggris dari nadi?). Yang sanggup menjawab dengan benar berhak jadi pemimpin, sedangkan yang salah mundur ke baris paling belakang. Setiap orang berusaha menjawab benar, ingin memimpin.

    Anak-anak yang berada di dalam barisan juga saling berbisik. “Saya lupa Bahasa Inggrismya siku”. Rekannya memberitahukan, “elbow“, katanya. Dan ada pula yang mendatangi guru kelas menanyakan kosakata yang ia lupa.

    Cara belajar yang ini sangat efektif membuat anak-anak rajin bertanya tanpa diminta untuk bertanya. Diri mereka sendiri merasa butuh untuk mengetahui, bukan guru. Yang membuat games lebih seru adalah beberapa anak yang memimpin memberikan pertanyaan sulit agar mereka mempunyai kesempatan memimpin permainan lebih lama. Anak yang tidak mampu menjawab mempunyai rasa ingin tahu yang lebih tinggi dan berharap bisa menjawab untuk memimpin.

    Memperkenalkan kosakata dipraktekkan secara bersama-sama di kelas terlihat mengesankan. Tapi untuk membuat anak-anak lebih bergembira, games pilihan yang menyenangkan. Terdapat pertanyaan-pertanyaan yang diberikan secara individu membuat anak tersebut sadar akan tingkat kemampuannya sendiri. Dan tentu saja, mereka tidak ingin selalu gagal dalam menjawab.

    Selain itu, ada kondisi dimana mereka bertindak selangkah lebih maju. Mereka bisa berkreasi sendiri membuat aturan permainan. Guru sekedar memperhatikan saja agar kelas berjalan efektif sambil tetap menyemangati dan mengingatkan kosakata yang membuat mereka gagal dalam menjawab.

    Games tentang Parts of the Body adalah contoh percakapan sederhana dalam mengasah keberanian berbicara Inggris. Ada tanya-jawab, rasa ingin tahu dan pelatihan kepemimpinan ala anak-anak.

    Apakah anak-anak bagian dari games belajar tersebut?

    Zulkarnain Patwa
    Jum’at, 5 Juni 2026

  • Rahasia Anak SD Jago Tenses di Luar Kepala

    Rahasia Anak SD Jago Tenses di Luar Kepala

    Tiga orang anak SD belajar praktik lisan tenses di luar kepala. Bagi orang luar, itu terkesan istimewa karena pelajaran ini untuk SMP dan SMA. Tapi di RBB (Rumah Belajar Bersama), ini hal biasa karena banyak anak-anak SD telah lulus ujian tulis dan lisan tenses.

    Bagaimana hal ini bisa diterapkan? Guru mendeteksi cara belajar muridnya. Ada yang suka melalui pendekatan contoh kalimat dan ada juga yang melalui pendekatan rumus. Tapi yang terpenting dari semua itu adalah memberikan pemahaman tentang apa itu tense, makna dan fungsi tenses secara perlahan. Dengan memahami, murid akan lebih mudah menghafal.

    Dalam penerapan, satu contoh kalimat sudah cukup untuk merubah satu kalimat menjadi sedikitnya delapan puluh delapan perubahan kalimat secara teratur pada verbal tenses. Setelah lancar, beragam kalimat bisa dipakai hingga murid mampu merubah tenses secara acak.

    Latihan dilakukan secara tulis untuk mengikat makna, merujuk catatan bila lupa dan lisan untuk mengasah kesesuaian pikiran dan bicara. Praktek sedikitnya diulang sebanyak 40 kali yang oleh RBB disebut sebagai Metode 40. Dalam artian, 40 kali praktik secara berulang adalah ukuran standar untuk mengerti.

    Tapi patut diingat, ada murid yang dapat mengerti tanpa harus mengulang sebanyak 40 kali. Tapi bagi murid yang belum mengerti meskipun telah diulang sebanyak 40 kali, perulangan terus dilakukan hingga mengerti. 40 dipakai sebagai ukuran standar rata-rata perulangan latihan. Dalam istilah akademik, ini dapat juga disebut the law of repetition (hukum perulangan).

    Apakah perulangan membosankan? Ini sangat tergantung dari cara mendidik murid. Oleh karena itu, pelajar dilatih menjawab soal-soal cerita, berbicara inggris secara teratur, menunjukkan materi basic grammar (tata bahasa dasar) yang erat kaitannya dengan tenses. Motivasi belajar pun menjadi meningkat karena mereka percaya tenses adalah yang sangat penting dikuasai untuk memudahkannya menghadapi persoalan Bahasa Inggris baik dalam reading, grammar dan speaking sekalipun.

    Seiring dengan perkembangan pemahaman, beragam perubahan kata kerja dikenalkan untuk memperkaya kemampuan mengubah kalimat. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengenalkan kelas kata (parts of speech) lainnya sehingga murid tahu peletakan kata yang benar dalam suatu kalimat.

    Para murid yang mampu mencapai tahapan ini akan lebih cepat mengembangkan diri mempelajari materi lanjutan karena fondasi yang kokoh telah dibangun. Dan itu akan lebih berarti bila dapat diterapkan sejak SD.

    Kini sudah saatnya kita melakukan terobosan belajar sehingga persepsi tentang Bahasa Inggris itu susah berubah menjadi mudah. Pemahaman tenses di luar kepala itu dapat diterapkan kepada anak-anak, hal yang tidak difokuskan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui kurikulum sekolah di Indonesia.

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 4 Juni 2026

  • Ketagihan Belajar Tercipta

    Ketagihan Belajar Tercipta

    Tepat sesuai jadwal, pada jam 19.15 Wita kelas Reading (Membaca ) mulai. Anak-anak mengikuti listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) pada cerita “Help!”. Selain cara mendapatkan cara mengatur tinggi rendahnya suara, mereka juga tahu kapan menggunakannya pada kalimat yang tepat. Kemudian, mereka mengulangi praktik bacaan yang sama dengan bantuan guru. Suara mereka terdengar lebih kompak dan semarak.

    Sebenarnya, meskipun mereka sangat bersemangat, ternyata bacaan tersebut agak sulit dibaca dengan sempurna. Penulis yang bertindak sebagai pengajar langsung mengalihkan pelajaran pada lesson (pelajaran) yang lebih mudah, lesson 1 sampai 5. Mereka senang dan merasa tidak perlu bantuan sama sekali. Namun beberapa kesalahan kecil tetap penulis perbaiki di sela sela bacaannya. Misalnya, kata “with” mereka sebut “waith” dan “murderer’s” mereka sebut marderers.

    Pembiasaan reading ini akan punya pengaruh besar dalam speaking (bicara). Soalnya, salah ucap bisa salah makna, tafsir. Penguatannya mesti dilakukan sedini mungkin melalui pendekatan literasi agar mempunyai efek ganda: mampu mengenal tulisan Inggris dan bicara dengan benar. Itulah yang dibangun dalam dunia akademik.

    Karena pelajaran di atas cukup menyita energi yang besar, anak-anak diberikan kesenangan dengan keluar main. Saat masuk kelas lagi, pelajarannya tentang Parts of the Body (Bagian-Bagian dari Tubuh) sekitar 25 kotakata mulai dari neck (leher) sampai two thumbs up (dua jempol). Mereka suka mengunakan tubuhnya sendiri sebagai alat peraga.

    Kemudian, waktu keluar main diberikan lagi. “Hore”, sorak anak-anak.

    Pada akhir pelajaran, anak-anak mengusulkan games. Karena ingatan tentang Parts of the Body masih segar, soal tebakan dengan siapapun yang angkat tangan paling awal, dialah yang berhak menjawab. Games ini sangat seru sehingga guru sulit menentukan siapa yang paling cepat angkat tangan. Guru sering diprotes oleh anak yang merasa lebih dahulu angkat tangan tapi tidak mendapatkan kesempatan.

    Menghindari perdebatan lebih lanjut, guru meminta seorang sukarelawan yang khusus mengamati pelajar yang lebih dahulu angkat tangan sekaligus mengecek kebenaran jawaban. Faika bersedia mengambil peran tersebut dan diterima. Bagi anak-anak, itu lebih baik karena Faika sudah tahu jawaban, saingan berkurang. Games ini terus dimainkan hingga waktu jam belajar selesai, 20.45 Wita.

    Kombinasi belajar dengan pendekatan bermain dan literasi buku ini mempunyai daya tarik yang kuat. Anak-anak tidak bosan dan bahkan merasa belajar adalah dunia bermainnya. Wah, betapa indahnya kehidupan anak-anak yang kesehariannya belajar. Itu adalah lifestyle, bukan?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 3 Juni 2026

  • Bergembira di Masa Ujian Sekolah

    Bergembira di Masa Ujian Sekolah

    Anak-anak yang ujian akhir semester sekolah tidak menurunkan semangat mereka untuk tetap datang belajar Bahasa Inggris. Kami para pengajar mengerti bahwa belajar dalam bentuk bermain mesti lebih dominan agar tidak ada perasaan terbebani.

    Ketika kelas baru dimulai, materi yang anak-anak mempelajari adalah Parts of the body (bagian-bagian dari tubuh). Mereka bergembira mengucapkan kosa-kata yang disebut sambil menyentuh anggota tubuhnya. Misal, menyebut mustache, nostril and nose (kumis, lobang hidung dan hidung) diucapkan secara bersamaan saat memegang anggota tubuh yang disebutkan. Metode ini disebut Total Physical Response (Respon Fisik Menyeluruh).

    Pelajar yang lebih cepat mengerti menjadi pemimpin. Metode Peer Tutoring (Tutor Sebaya) diterapkan. Sirin dan Nabila yang terpilih menjadi melatih rekan-rekannya dengan cara membentuk dua kelompok. Setelah lima menit, kedua kelompok tersebut secara bergiliran praktik siaran langsung di Facebook.

    Pada sesi berikutnya, pelajaran mengarah pada literasi. Terdapat delapan lesson diselesaikan dan dibaca bersama-sama. Yang tidak lancar sekedar memperhatikan bacaan dan yang lancar bersuara nyaring. Tidak ada teguran dari guru pada pelajar yang tidak lancar membaca. Selama mereka memperhatikan bacaan, itu sudah cukup. Perhatian sudah cukup untuk membuatnya mengerti. Dalam hatinya, mereka pasti juga ingin lancar sebagaimana teman-temannya.

    Pelajaran akhir diisi dengan bernyanyi Make a Circle (Membuat sebuah Lingkaran) dan If You’re Happy (Jika Kamu Bahagia). Ini dilakukan dengan suara yang semarak dan gerakan tubuh yang energik. Dan setelahnya, mereka meminta bebas bermain sesukanya, lima menit sebelum jam pelajaran berakhir.

    Sebelum pulang, anak-anak bercerita bahwa ujian sekolahnya tidak susah. Apa buktinya? Mereka mengatakan bahwa soal-soal ujian gampang. Penulis tidak memberikan pertanyaan lanjutan yang berat dan membiarkan mereka percaya bahwa menghadapi ujian sekolahnya selama seminggu yang sedang berlangsung dari 2 Juni hingga minggu depan dapat mereka hadapi dengan Positive Mindset (Pemikiran Positif).

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 2 Juni 2026

  • Loncatan Belajar di Luar Kebiasaan

    Loncatan Belajar di Luar Kebiasaan

    Nurailu Sholehah bercita-cita kuliah di jurusan sastra Inggris atau Jepang di Universitas Hasanuddin. Setelah tamat SMA, ia memanfaatkan waktunya belajar Bahasa Inggris di RBB (Rumah Belajar Bersama) dengan mengikuti dua kelas yaitu pada Reading and Grammar (Bacaan dan Tata Bahasa) menghabiskan waktu minimal tiga jam sehari.

    Lulu, panggilan akrab gadis delapan belas tahun ini, di luar dugaan menyelesaikan buku Reading tahap dua hampir dalam dua bulan dengan kemampuan menjawab soal-soal esai yang sedikit sulit karena terdapat Information Questions (Pertanyaan Informasi) yang membutuhkan argumentasi. Sekarang ia berada pada tahap ketiga, Pre-Intermediate, membahas seluruh Information Questions dan membuat cerita berbahasa Inggris.

    Keunikan belajar Lulu terletak pada kemampuannya menjawab soal-soal reading yang membutuhkan grammar dimana Lulu sendiri masih berada di bab 8 dari 16 bab yang harus ia selesaikan pada Basic Grammar (Tata Bahasa Dasar). Itu berarti ia telah mengerti garis umum dari grammar (tata bahasa) tapi belum tuntas secara detail. Oleh karena itu, satu orang guru turut aktif memberikan materi tambahan agar ia tidak kewalahan menghadapi materinya yang bertambah rumit.

    Lulu diselamatkan oleh spirit belajarnya yang luar biasa. Sebagai pengajar kelas tambahan, saat penulis memberikan materi review grammar, ia bisa praktik lisan dengan baik dan menuntaskan nominal dan verbal dalam simple present tense. Kemudian, ia mencatat kembali pola tenses untuk memperkaya model pendekatan cara belajar. Ia menambahkan catatannya pada Present Progressive sebagai penguat latihan lisan nantinya. Latihan tulisnya sih sudah tuntas.

    Awal-awal lesson pada buku Pre-Intermediate Reading tersebut, Lulu akan mendapatkan pendalaman soal cerita pada tenses. Ini kesempatan yang bagus untuk memahamkan tenses di luar kepala. Kemudian, materi lanjutan setelah tenses seperti passive, gerund clause dan lainnya yang penulis akan pandu diselaraskan dengan buku Reading-nya saja.

    Betapapun ia mendapatkan loncatan pelajaran, buku Basic Grammar-nya tidak boleh ditinggalkan, harus tuntas agar ia tetap memperoleh pelajaran yang tersistematis. Inilah yang kita yakin yang akan memudahkannya mengorelasikan dengan materi grammar tingkat menengah yang ia pelajari.

    Para pengajar mengharap Lulu mampu menyelesaikan pelajaran Bahasa Inggris tingkat Intermediate baik di Reading dan Grammar. Bila terdapat waktu yang cukup, ia dapat memperoleh bekal writing (menulis) dan TOEFL dan IELTS sebagai persiapan untuk memperoleh beasiswa pertukaran pelajar ke luar negeri.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 2 Juni 2026

  • Menerobos Kemustahilan Kurikulum Bahasa Inggris

    Menerobos Kemustahilan Kurikulum Bahasa Inggris

    Ini adalah sekilas kisah anak-anak yang sangat jarang terjadi dalam dunia pendidikan. Kemampuan Faika Qinara Putri Ridwan, kelas 3 SDN 2 Terang-Terang Bulukumba, memahami seluruh perubahan struktur tenses di luar kepala mengingatkan penulis dengan Asse Icha (Asse Nur Izza Maharani) yang mampu melakukan hal yang sama sewaktu dia juga masih kelas 3 SDN 10 Ela-Ela Bulukumba. Ini terkesan istimewa karena ini sangat langka anak anak berumur sembilan tahun bisa praktik lisan tenses tanpa melihat buku catatan.

    Bila Faika meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris di NSMAO (National Science and Mathematics Academic Olympiad) 2026, Icha dipercaya menjadi guru Bahasa Inggris di pesantren Gontor 5 Jawa-Timur sejak masa sekolah hingga tamat kuliah di Unida (Universitas Darussalam), Kampus Gontor. Karena pengabdian mengajar itulah, ia dapat potongan pembayaran. Bahkan, Icha yang lingkungan kesehariannya akrab berbahasa arab selama mengaku bahwa tenses memudahkannya mempelajari struktur tata bahasa Arab ketika ia masih kelas 1 Tsanawiyah (SMP).

    Kesamaan Masa Kecil
    Faika dan Icha sama-sama atlet karate di INKAI Bulukumba dilatih oleh Sensei Sarif (Pasele Mattaro Mattaro) dan Senpai Rauf. Faika juga dilatih oleh Senpai Riri. Di sini mereka mendapatkan pelatihan fisik untuk kesehatan, penguatan mental untuk berani menghadapi tantangan berat dan membangun kepercayaan diri dan kedisiplinan memperkokoh fisik dan mentalnya.

    Dalam hal Matematika, Kalau Faika terlatih berhitung dari orang tuanya–Nurlaelah dan suaminya yang sarjana teknik. Icha berlatih pada ibunya Fatmawati Fatwa, dan penulis dimana saat masih kelas 2 SD, ia sudah paham perkalian 1 sampai 9. Ada bekal untuk agak agak abstrak dan logis. Dan dalam hal literasi, masing-masing orang tua membiasakannya membaca buku di rumah. Dukungan tambahan literasi mereka dapatkan ketika berada di RBB (Rumah Belajar Bersama).

    Faika sedang praktik lisan tenses dengan sekedar mengandalkan otaknya saja untuk bisa merubah seluruh struktur tenses di Rumah Belajar Bersama. Foto pada Senin, 1 April 2026.

    Dari karate, Matematika dan literasi yang telah tertanam sejak kecil, semua itu adalah modal yang memberanikan para pengajar RBB untuk menerobos kemustahilan. Fisik yang sehat, mental pejuang dan rajin membaca adalah bukti bahwa anak-anak tersebut siap mendapatkan materi tenses yang penuh dengan tantangan berpikir kreatif dan logis untuk sampai pada tingkat pemahaman yang baik.

    Asse Nur Izza Maharani yang sempat bertemu B. J. Habibie, Presiden RI ke 3, di Taman Pintar Yogyakarta pada 15 Agustus 2012. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama.

    Sebagai pembanding, anda bisa bayangkan, para mahasiswa pun masih harus belajar tenses hanya karena materi dasar ini tidak tuntas di kurikulum SD, SMP dan SMA. Para dosen tahu bahwa mereka kesulitan mengajarkan perubahan kalimat sederhana dan memahamkan materi lanjutan bila para mahasiswa tidak punya pemahaman dasar yang kokoh.

    Tantangan Kita
    Penerapan tenses pada anak-anak bukanlah hal mustahil. Dua contoh dari anak kelas 3 SD bukanlah generalisasi tapi sebuah tanda bahwa kita mesti mampu mendeteksi potensi kecerdasan yang dimiliki anak-anak untuk dimaksimalkan sesegera mungkin. Penulis yakin masih banyak anak-anak Indonesia yang punya bakat seperti Faika dan Icha. Bagi pemerhati pendidikan, ini adalah tantangan kita semua untuk mendeteksi dan mendidiknya dengan penuh rasa tanggungjawab agar tercipta pelajar Indonesia yang punya daya saing global seperti yang diharapkan Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 2 April 2026

    Catatan tambahan:
    Anda bisa menonton siaran langsung (live) dari Faika praktik tenses di link FB ini:

    Part 1
    https://www.facebook.com/share/v/1BVhPAyVDX/

    Part 2
    https://www.facebook.com/share/v/1DJ67oMZHT/

  • Menyiksa?

    Menyiksa?

    Jadwal anak-anak yang sedang belajar ini sungguh padat. Betapa tidak, seiring dengan matahari terbit, mereka pergi sekolah hingga siang. Setelah istirahat sejenak di rumahnya, mereka lanjut lagi berangkat mengaji hingga jelang Maghrib. Otak dan fisik mereka pasti lelah.

    Malam hari, mereka ikut Bahasa Inggris. Terlebih lagi, mulai 2 Juni 2026 ini, mereka menghadapi ujian akhir semester di sekolah untuk naik kelas di SD.

    Bagaimana mengelola anak-anak seperti ini?

    Oleh karena itu, guru Bahasa Inggris di RBB (Rumah Belajar Bersama) memperlakukan murid-murid ini seperti kawan dekat agar mereka lebih rileks belajar. Karena kawan, mereka sering kali protes dengan alasan bahwa pelajaran mereka terlalu berat atau banyak. Padahal, sebenarnya pelajarannya sama saja dengan pelajar Inggris di sore hari di RBB. Karenanya, memberikan dua kali waktu istirahat dalam 90 menit belajar terasa fair. Ini dalam rangka menciptakan bahagia belajar.

    Dari anak-anak ini, para guru belajar bagaimana menciptakan metode belajar yang dalam bentuk permainan. Lagu, games, gerakan tubuh disertai praktik bicara dan beragam permainan lainnya dikemas yang isinya Bahasa Inggris. Ini diselingi dengan literasi, membaca buku berbahasa Inggris sebagai inti pelajarannya. Bila otak guru gagal berpikir kreatif, kelasnya pasti membosankan.

    Jalan terakhir yang kita tempuh adalah memberikan pujian yang tulus tiap kali anak-anak ini memperoleh kemajuan belajar. Pujian itulah yang membuat mereka tetap bersemangat, merasa dihargai dan bernilai dari setiap usahanya. Mereka bangga dan entah mengapa, mereka terlihat punya energi baru, menganggap bahwa belajar itu bukan lagi sebagai beban, melainkan pembuktian bahwa mereka bisa melakukan hal-hal yang luar biasa.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 2 Juni 2026

  • (Tidak) Takut

    (Tidak) Takut

    Saya ingin terus jadi anak-anak saja, tidak mau besar (baca:dewasa)”, kata seorang anak. “Kenapa?”, tanya guru. “Orang besar suka marah-marah”, jawabnya sambil bermain. “Kalau saya besar nanti, saya nanti marah-marah juga”, tambahnya.

    Penolakan ini karena ia bahagia dengan dunianya. Kita pun tidak perlu menghakimi, menyalahkan pikirannya. Itulah kemampuan berpikirnya. Ketika mereka sudah mampu membaca keadaan di sekitarnya, itu tanda bahwa Mereka menggunakan otaknya untuk berkembang.

    Yang perlu kita tindak lanjuti adalah mengikuti alur berpikirnya dan memberikan pertanyaan yang mampu mereka cerna. Misal, pernah lihat orang besar tidak marah marah? Atau memberikan contoh orang dewasa yang mereka kenali yang tidak suka marah-marah. Selangkah lebih maju, kita buat mereka bertanya, bukan menjawab karena dengan rajin bertanya,.mereka bisa belajar sepanjang hidupnya.

    B. J. Habibie, penemu keseimbangan pesawat terbang, mengkisahkan masa kecilnya yang ingin tahu banyak hal. Ia sangat rajin bertanya kepada keluarga dan orang-orang yang dikenalnya hingga orang-orang bosan. Pada akhirnya ia diberikan buku-buku untuk menjawab rasa penasarannya. Di kemudian hari, Habibie dikenal dunia internasional sebagai manusia jenius dan sekaligus mantan Presiden Indonesia yang berhasil menyelesaikan krisis ekonomi dan perpecahan bangsa pasca reformasi 1998.

    Contoh lain yang dapat kita jadikan inspirasi adalah Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela. Novel Jepang ini mengkisahkan anak kecil yang ditafsirkan nakal sehingga harus pindah sekolah. Di sekolah yang barunya yang memanfaatkan gerbong kereta bekas sebagai kelas, Kepala Sekolah Sosaku Kobayashi sangat perhatian, bersedia mendengarkan cerita Totto Chan selama berjam-jam. Totto Chan sangat bahagia bersekolah. Novel diangkat dari kisah nyata kehidupan sang penulis, Tetsuko Kuroyanagi mendunia dan menjadi rujukan tentang sekolah yang menyenangkan.

    Anak-anak sejatinya tidak bisa menolak untuk tumbuh menjadi dewasa. Itu ungkapan protes saja atas dunianya yang tidak bisa berbuat apa-apa atas ketidaknyamanan yang pernah dialaminya. Yang mereka inginkan adalah dunia masa kecilnya yang penuh keceriaan dipahami dan tidak diganggu oleh orang dewasa. Mari kita menyayangi mereka seperti kehidupan Totto Chan, Habibie, atau cara kita sendiri yang membuatnya bangga tumbuh menjadi dewasa.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 1 Juni 2026