Kategori: Program

Program dan mata pelajaran dari Rumah Belajar Bersama

  • Menghapus Batas Dunia dari Kampung Belajar

    Menghapus Batas Dunia dari Kampung Belajar

    Kisah Mr. Hill yang seorang pilot yang pernah bekerja di Royal Air Force (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) terbang dari satu negara ke negara lainnya hingga hampir berkeliling ke seluruh dunia digambarkan sebagai seorang lelaki yang beruntung. Tetapi, istrinya dianggap tidak beruntung, hanya tinggal di rumah.

    Para pelajar di Kampung Belajar seperti senasib dengan istri Mr. Hill. Semuanya tidak pernah ke luar negeri. Perbedaannya mereka anak sekolah dan pemuda-pemudi, belum menikah dan masih punya waktu yang cukup panjang untuk berproses. Penulis lantas tertarik mengenalkan mereka kota-kota besar yang cukup populer di dunia.

    Karena kelas tersebut tentang bahasa Inggris, dibuatlah kalimat,
    “Will you go to Accra?” (Akankah kamu pergi ke Accra?).

    Kata “Accra” kemudian di ganti dengan Bombay, Athena, Berlin, Geneva, London, Madrid, Moscow, New York, Paris, Rome, Stockholm, Sydney, Teheran dan Tokyo.

    Nama-nama tersebut memancing rasa ingin tahu di negeri mana kota tersebut. Pertanyaan berikutnya pun hadir.

    “Where is Accra?” Dimana Accra?
    Jawabannya, “Accra is in Ghana.” Accra di Ghana, sebuah negara di Afrika. Seperti halnya yang di atas, kata “Accra” diganti dengan nama-nama kota lainnya. Para pelajar mengenal kota-kota dan negara-negara di dunia yang luas ini. Wawasan tentang geografi bertambah.

    Agar tidak mudah lupa, games dibuat, menanyakan kembali materi, tiap orang mendapatkan soal secara bergiliran secara acak. Games ini sepenuhnya dirancang oleh pelajar di mana guru tidak terlibat langsung agar tidak ada tekanan dan kreatif mengembangkan pola games yang sedang dijalankan. Imajinasi berkembang dan materi tersebut dapat dihapal bukan lewat hapalan tapi pemahaman dengan cara bermain.

    Sebagian anak tertarik untuk mengenal lebih jauh. Apakah kota Stockholm itu di Swedia di benua Eropa atau Amerika? Pelajar yang tahu langsung menyebut Eropa. Ada juga yang kemudian bercita-cita untuk keliling dunia seperti Mr. Hill dan ada pula yang ingin tahu apa istimewanya kota-kota dan negara-negara tersebut.

    Model pembelajaran bahasa Inggris ini sangat efektif meningkatkan rasa ingin tahu. Seorang guru yang berwawasan dapat memberikan sekilas pengantar dengan memberikan penjelasan langsung tentang negara-negara tersebut. Selanjutnya, para pelajar bisa diajak menggunakan smartphone-nya untuk berselancar lebih jauh di internet tentang berbagai hal yang ditanyakan. Jadi, mereka memanfaatkan smartphone bukan lagi sebatas main games.

    Selain itu, buku-buku perlu disiapkan yang berhubungan dengan hal di atas sehingga literasi digital dan dunia nyata berimbang. Bila perlu, pelajar diajak membaca buku-buku yang sederhana dalam bahasa Inggris. Niat hati belajar bahasa Inggris dihubungkan langsung dengan ilmu pengetahuan.

    Pelajar kita memang tidak seberuntung pelajar di negeri-negeri jauh seperti di Eropa dan Amerika yang berkeliling dunia. Bukan hanya Mr. Mill yang beruntung itu, para pemuda-pemudi mereka berkeliling dunia. Ini sangat mudah mendeteksinya. Kunjungi saja pusat-pusat wisata seperti Bira, Bali, Borobudur dan lainnya. Tanyakan saja negara-negara mana saja yang mereka pernah kunjungi. Tidak perlu kaget bila jawaban mereka ialah tidak terhitung.

    Lalu, bagaimana caranya bisa beruntung juga? Bila menjadi bukan keturunan orang yang sangat kaya raya, sebaiknya menuntut ilmu sebanyak-banyaknya saja dan bercita-cita beruntung, keliling dunia juga layaknya Mr. Hill atau mencontoh orang-orang sukses lainnya.

    Apakah Anda ingin juga seperti Mr. Hill atau istri Mr. Hill?

    Lalu, pilihan mana yang Anda ambil? Menjadi penjelajah dunia seperti Mr. Hill, atau seperti istrinya?

    Zulkarnain Patwa
    Kamis, 2 Juli 2026

  • Pos tanpa judul 2604

    “Apa pelajaran, Mister?” tanya Faika saat baru saja tiba di kelas pagi Kampung Belajar.

    “Kamu pimpin saja kelas anak-anak SD,” kata guru. “Pelajarannya bebas. Mau membaca bersama atau bercakap, atur sajalah”.

    Faika terlihat senang. Sejurus kemudian, ia pun meminta lima orang anak SD membuka buku Basic Reading (Bacaan Dasar) yang berisi conversation (percakapan). Faika mendisiplinkan rekan-rekannya dengan “menyita” handphone agar penjelasannya diperhatikan. Selanjutnya, ia meminta membuka lesson (pelajaran) yang agak sulit dibaca. Listen and repeat (Mendengarkan dan mengulangi) dimulai. Setiap Faika selesai bicara, seluruh peserta mengulang kalimat yang baru saja didengarkan.

    Aul, kelas 3 SD, kesulitan mengikuti bacaan.

    “Faika lesson 1 (pelajaran 1) saja,” harapnya.

    Heri, rekan duduk Aul, menyambung, “Iya. Lesson 2 juga.”

    Faika tertawa. “Tidak! Semakin kalian minta lesson 1 dan 2, semakin kalian tidak saya berikan lesson yang gampang itu.”

    “Ayolah, Faika. Saya janji saya akan buatkan kamu satu gedung mengatasnamakan namamu.”
    Faika hanya mendengarkan, tidak menanggapi.

    Kemudian, pelajaran terus berlanjut. Faika menentukan lesson baru meminta tiap pelajar berpasangan bercakap. Percakapan berjalan normal, tidak ada kendala yang berarti karena semua kosakata yang sulit diucapkan diperbaiki oleh rekan bicaranya sendiri atau Faika yang bertindak mengawasi secara langsung memberi tahu tiap kesalahan.

    Saat materi kembali lagi ke listen and repeat, Aul sesekali mendahului bacaan Faika sehingga suasana kelas terlihat tidak kompak.

    “Hei, jangan melambung. Saya kasih nanti pelajaran yang sulit,” protes Faika ke Aul. Aul terdiam sejenak, takut dengan ancaman Faika. Dia tidak berani lagi menentang.

    Tidak lama kemudian, Aul berhasil memutar otaknya. Ia pun kembali menebar janji.

    “Faika, lesson yang gampang saja,” terang Aul. “Betul ini. Nanti, saya buatkan dua gedung atas namamu,” lanjutnya.

    Kali ini Faika tertawa. “Tidak usah. Nanti kamu menghilang,” balas Faika.

    Aul tidak berkutik. Ia harus rela mulutnya komat-kamit tanpa pengucapan yang baik pada isi bacaan lesson yang serba sulit.

    Aul menampakkan wajah yang hampir tak berdaya, namun Faika tetap fokus pada lesson yang hampir berada di tengah halaman buku. Tidak ada tanda-tanda ia akan mengarahkan lesson 1 sampai 10.

    Namun, setelah pelajaran sudah cukup lama berlangsung, keadaan tiba-tiba berubah–tanpa alasan, tanpa iming-iming janji yang bertambah. Faika memperkenankan agar lesson 1 dan 2 dibaca. Aul dan Heri dan semua anak-anak senang. It bacaan paling mudah. Semuanya unjuk kebolehan juga, terlihat fasih melafalkan tiap kata.

    Lalu, pelajaran beralih ke lesson 20, bacaan andalan untuk semua. Kalimat pada lesson tersebut, dapat dibuat seperti games, diikuti dengan gerakan akting gerakan tubuh, terlihat seru dan menggembirakan.

    “Aul,” kata Faika. “Kamu yang pimpin mengucapkan look at them (lihatlah mereka).” Pelajar yang lain akan menindaklanjuti dengan pernyataan disertai gerakan tubuh tiap kali “look at them” disebut.

    Betapa girang hatinya Aul. Ia tidak menyangka mendapatkan kesempatan untuk jadi pusat perhatian teman kelas meskipun itu hanya sesaat.

    “Terima kasih banyak, Faika,” ungkap Aul. Pada bacaan tersebut, Aul sangat lancar berbicara, seolah-olah ia bukan pelajar pemula lagi. Ia bangga, tersenyum, dan menepuk dada.

    Setelah itu, Faika kembali memimpin kelas dan meminta rekan-rekannya membaca beberapa lessons lagi. Sebelum lanjut, ada beberapa peserta mengusulkan keluar main tapi itu tidak ditanggapi karena menurut Faika, beberapa bacaan penting belum selesai. Lembaran buku kembali dibuka.

    “Ulangi! Ulangi lagi! Saya belum puas,” kata Faika. Cara membaca rekan kelasnya dianggap tidak sesuai standar, tidak enak pula didengar. Semua pun berusaha sebaik-baiknya dengan harapan usulan untuk istirahat yang dari tadi mereka usulkan segera diberikan. Beberapa perbaikan diberikan dan diucapkan lagi secara bersamaan. Irama suara terdengar kompak dan sesuai standar pengucapan. Istirahat pun diberikan.

    Faika, anak 9 tahun, telah memperoleh pengalaman dalam hal cara mengelola kelas dengan baik dan berhasil membangun kepercayaan dirinya lewat micro teaching. Ia kini tahu bahwa menjadi pemimpin itu harus berilmu pengetahuan dan pandai membuat management kelas agar orang yang dipimpin tersebut dapat diarahkan dengan benar guna mencapai tujuan bersama.

    Aul yang meskipun mendapatkan banyak lesson yang sulit, ia tidak menyerah. Ia menerapkan cara berpikirnya sendiri, negosiasi. Biarpun segala iming-imingnya tidak mempan, pada akhirnya ia memperoleh lesson yang ia inginkan tanpa harus berjanji menambah jumlah gedung yang ia akan buat atas nama Faika.

    Dari cerita di atas, Kampung Belajar di Rumah Belajar Bersama (RBB) tersebut memang berisi pelajaran bahasa Inggris, tapi di situ tergambarkan bahwa banyak hal dicapai memanfaatkan ketertarikan pelajar mempelajari bahasa. Bahasa dijadikan alat untuk membangun mental kepemimpinan, literasi dan kreativitas lainnya.

    Apakah pendidikan kita berani dan siap membuka kebebasan berpikir dan berekspresi? Bukankah pendidikan itu membebaskan?

    Zulkarnain Patwa
    Selasa, 30 Juni 2026

  • Keajaiban Lidah dan Logika dalam Bahasa Inggris

    Keajaiban Lidah dan Logika dalam Bahasa Inggris

    Ketika melihat atau mendidik orang dewasa belajar bahasa Inggris yang tidak tahu alasan penempatan verb (kata kerja) dengan benar, itu mengingatkan masa penulis belajar bahasa Inggris. Meskipun waktu itu tidak tahu banyak tentang seluk-beluk penamaan  kata, penulis sedikit lebih beruntung karena pembicaraan Inggris itu sudah terbiasa dilakukan di rumah dan ditambah lagi majalah bulanan berbahasa Inggris dari Jerman dan buku-buku dari ayah penulis baca. No matter what it means, tanpa memedulikan artinya. Yang menarik adalah cara membuat irama naik turunnya suara dan cara pengucapan yang terdengar keren.

    Kebiasaan tersebut ternyata membuat penulis lumayan fasih bercakap-cakap dengan orang asing. Zaman dahulu, banyak turis yang mau ke pantai Bira kesasar di kota Bulukumba di Sulawesi Selatan karena tidak mendapatkan mobil pete-pete (angkot) di sore hari. Mereka kebanyakan berdiri di pinggir jalan raya arah ke Bira, dekat Masjid Borong Kalukue di kota Bulukumba. Ayah penulis–(Alm.) Drs. H. Patiroi, yang biasanya shalat Magrib di Masjid Borong Kalukue seringkali bertemu para turis yang tidak tahu di mana harus menginap diajak bermalam di rumah, tanpa pernah bayar–kebiasaan masyarakat setempat.

    Dari sini, terjadi keakraban dengan orang-orang penjuru dunia dan ayah saling kirim surat–awal tahun 90-an belum ada handphone. Bila turis itu mengirimkan hadiah, umumnya dalam bentuk buku. Mereka tahu ayah adalah pembaca dan rumah kami pun berisi banyak buku. Penulis kecipratan dapat bacaan, layaknya Dunia dalam Berita yang membahas isu internasional, tayang malam hari di TVRI. Otomatis bahasa Inggris itu akrab dalam pergaulan di rumah. Ayah pun menyediakan masing-masing satu koper kaset lengkap dengan bukunya–lupa judulnya–untuk bahasa Inggris dan Arab. Sayangnya, penulis hanya mau peduli Inggris saja.

    Dibalik kemudahan tersebut, penulis abai pada satu hal, grammar (tata bahasa). Orang Indonesia lancar bicara Indonesia tapi tidak tahu struktur. Begitulah nasib. Jawaban ujian Inggris sekolah di SMP dan SMA bukan karena pintar, tapi karena merasa ini cocok di lidah–efek kebiasaan membaca teks berbahasa Inggris–atau tidak. Untungnya sih, mayoritas benar, tidak tahu alasannya apa.

    Kebuntuan grammar tersebut membuat penulis mengunjungi Kampung Inggris di Pare. Ini bermula ketika gagal masuk kelas internasional di kuliah, tidak bisa menulis dengan struktur yang benar. Padahal syarat untuk mendaftar terpenuhi, dua semester mendapatkan minimal satu ada nilai A dan B pada bahasa Inggris. Mendapatkan nilai double A pada dua semester tidak cukup memghadapi ujian menulis esai dalam bahasa Inggris yang wajib memasukkan gerund, tiga bentuk clause dan lainnya untuk bisa lulus di kelas mentereng itu. Singkat kata, keok.

    Kegagalan itu mendorong rasa ingin tahu. Kampung Inggris di Pare, Kediri Jawa Timur jadi pilihan. Dari basis pendidikan kerakyatan dengan pengetahuan super itulah yang menyadarkan bahwa betapa pentingnya memahami dasar-dasar grammar (tata bahasa). Bayangkan, pembagian kelas kata saja tidak dimengerti. Clause dan materi rumit lainnya sebenarnya itu biasa hadir dalam teks bacaan tapi karena tidak tahu asal pembentukannya, itu rumitnya luar biasa. Tapi enjoy aja. Pelajar Indonesia lainnya juga yang ada di sana kebanyakan tidak mengerti juga. Setelah paham dasar-dasar tersebut, penulis bisa sedikit melaju agak cepat, diuntungkan kebiasaan membaca teks Inggris semasa sejak kecil.

    Setelah mempelajari banyak hal di berbagai macam kursus, barulah penulis punya kepercayaan diri yang cukup untuk menulis. Bekal itulah yang kemudian penulis rancang untuk turut terlibat mendesain para aktivis mahasiswa untuk ikut kejuaraan pidato dan debat antar mahasiswa dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Karena tradisi membaca dibangun, banyak rekan-rekan yang menyabet juara.

    Dari pengalaman tersebut, jalan pintas pun diambil. Setiap pelajar yang belajar bahasa Inggris sebaiknya tidak hanya pandai bicara saja tetapi juga pandai grammar. Siapa tahu, pelajar tersebut aktif dalam dunia akademik. Jika itu terjadi, mereka tidak perlu lagi mengalami nasib yang seperti penulis alami. Jika tidak, minimal kemampuan berkomunikasi tertata baik, tidak terbalik-balik dan mudah dipahami orang lain. Kepercayaan diri berbicara pun lebih tinggi karena ada keyakinan bahwa apa yang disampaikan sudah tersusun dengan benar.

    Mengkondisikan percakapan dan grammar bagi pemula itu tidak mudah. Terlebih, ada pemahaman bahwa ketika belajar bicara, bicara saja. Tidak perlu peduli grammar agar lekas lancar bercakap. Ketika belajar grammar, tidak usah mengurus percakapan. Grammar itu menjawab soal-soal tertulis, bukan bicara.

    Tapi, bukankah orang bisa berbicara dengan tata bahasa yang baik? Itu dapat dipelajari sejak menjadi pelajar pemula dengan meniru kalimat baku (pattern drilling) atau lewat cerita pendek. Bila pembiasaan itu dimulai sejak awal belajar, itu akan terus terbawa hingga berada di tingkat atas. Agar lebih kokoh, semua itu semestinya diikuti dengan penjelasan argumentatif, ditujukan pada orang dewasa atau pelajar yang dianggap sudah mampu diajak berpikir logis. Penulis memilih jalan tersebut, tapi tidak menyalahkan pada orang lain yang memilih jalan yang berbeda.

    Pengalaman perjalanan hidup sedikit banyak mempengaruhi cara berpikir dalam menentukan suatu jalan yang ditempuh. Apa yang diyakini terbaik, itulah yang semestinya dijalani dan diterapkan pada diri sendiri dan disebarkan pelajar yang lainnya. Sukses atau tidak atau mengalami perubahan metode atau tidak, perjalanan waktu yang akan membuktikannya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 29 Juni 2026

  • Ruang Kreatif Aul di Kampung Belajar

    Ruang Kreatif Aul di Kampung Belajar

    Andi Kalimbara Aulian AF. alias Aul seorang anak kelas 3 di SDN 193 dari Kec. Herlang, jauh-jauh datang ke kota Bulukumba khusus bergabung di Kampung Belajar untuk bisa berbahasa Inggris. Saat tiba di Rumah Belajar Bersama (RBB) raut wajahnya terlihat mau belajar diselimuti rasa khawatir–tumpukan pemikiran bahwa Inggris sulit mengendap baik dalam kepalanya. Ayahnya, Andi Alamsyah, yang menemaninya ke RBB mengatakan, “Bagus di sini. Para gurunya hebat mengajar.”

    Andi Alamsyah ketika pertama kali mengajak Aul, anak laki-lakinya, bergabung di Kampung Belajar. Foto pada 15 Juni 2026 di Rumah Belajar Bersama.

    Agar Aul tidak tegang, guru kelas terlebih dahulu menemaninya berbicara santai. Ia diajak bercerita tentang kesukaannya main di kampung. Kemudian, untuk urusan bahasa guru menjelaskan bahwa bahasa Inggris itu gampang, mirip bahasa Konjo–bahasa kesehariannya di kampung. Aul kaget dan penasaran, seakan tidak percaya. Dalam keadaan seperti itu, guru berpikir bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk memulai pelajaran Inggris tanpa harus menulis.

    Mereka pun belajar Parts of the Body (Bagian-Bagian dari Tubuh) tanpa tulisan di papan tulis dan buku catatan. Mereka praktik bicara sambil memegang bagian tubuh yang disebut dalam bahasa Inggris. Terjemahan dibuat dalam bahasa Konjo dan Indonesia. Ia terlihat terbata-bata menyebut hair, head, forehead (rambut, kepala dan dahi) dan lainnya tapi ia suka sesuatu hal yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Terlebih, ia merasa bahwa itu semacam permainan saja.

    Saat memasuki kegiatan membaca teks, Aul menjadi lebih heran. Ia menemukan bacaan yang serba lain tulisan, lain pula cara bacanya. Gurunya pun berkali-kali mengulang sampai pengucapan Aul sesuai. Beberapa lessons (pelajaran) Aul ulangi hingga mampu diucapkan dengan benar. Wajahnya kemudian berkeringat, tanda ia butuh istirahat

    Pada pelajaran selanjutnya, Aul bertemu dengan Faika, anak kelas 3 SD. Bacaan teks dan percakapan Inggris Faika terlihat sangat lancar. Maklum, Faika telah mengikuti Kampung Belajar di liburan sekolah semester lalu dan pernah juara olimpiade Inggris se-Indonesia pada Februari 2026, dan pelajar aktif belajar di RBB. Aul tidak minder. Malahan, ia mencari cara akrab dengan Faika. Faika pun senang karena ada tambahan anak yang seumurannya menjadi teman bermain dan belajar.

    Hari demi hari berjalan normal hingga memasuki akhir minggu kedua. Tiba-tiba Aul menyampaikan sesuatu kepada seorang guru kelasnya.

    “Saya sudah tahu siapa anak yang paling pintar di kelas,” katanya memancing.
    “Siapa?” tanya guru.
    “Faika,” jawab Aul sigap.
    “Kenapa bisa?” lanjut guru yang ingin tahu alasan.
    “Karena Faika paling lancar membaca. Dia juga pintar menulis dalam bahasa Inggris,” terang Aul berdasarkan hasil pengamatannya.

    Beberapa waktu kemudian, Aul melanjutkan, “Saya sudah tahu rahasianya kenapa Faika pintar.”
    “Bagus, Aul,” kata guru yang senang memperoleh dampak positif dari lingkungan Kampung Belajar.
    “Apa itu rahasianya?”

    “Dia sangat rajin membaca,” jawab Aul dengan bangga menemukan sesuatu yang ia anggap berharga. Faika itu memang anak yang jarang menolak ketika ia diminta membaca dengan suara nyaring. Kalaupun ia punya alasan untuk menolak, ujung-ujungnya ia tetap bersedia.

    “Lalu, kamu mau pintar seperti Faika?” tanya guru lagi.
    “Mau lah,” jawab Aul dengan cepat.
    “Bagaimana caranya?”
    “Rajin membaca dan bicara.” Maksud Aul adalah Faika sering membaca nyaring pada buku bacaan–sebuah kebiasaan yang dibangun tiap belajar.

    Cara berpikir Aul disambut hangat. Tak heran, ketika istirahat, Aul seringkali meminta kepada guru untuk dipandu membaca buku percakapan dan buku grammar (tata bahasa). Ia tidak terburu-buru untuk pindah lesson sebelum ia lancar. Bahkan, ia takkan mau berhenti membaca hingga wajahnya penuh dengan berkeringat. Bila kondisinya sudah demikian, ia minta istirahat.

    Di lain sisi, Faika juga bercerita ke guru.
    “Mister, saya punya fans sekarang.”
    “Siapa itu Faika?” tanya guru seolah tidak tahu.
    “Aul. Dia bilang dia nge-fans sama saya,” jawab Faika sambil tersenyum.
    “Kenapa bisa?” pertanyaan lanjutan mengikuti.
    “Saya tidak tahu,” balas Faika dengan nada santai.
    “Coba cari tahu alasannya,” tambah guru agar Faika mengerti kenapa sebuah pernyataan dibuat.
    Ia sepakat saja.

    Faika kemudian tidak ditanya lagi. Gurunya yakin bahwa kedua anak mungil tersebut akan kembali bercerita bila ada sesuatu yang menarik.

    Kisah mereka sengaja dicatat di sini untuk mengetahui sejauh mana dampak positif dari pembicaraan dan pergaulan mereka di lingkungan Kampung Belajar.

    Kampung Belajar yang mempertemukan pelajar desa seperti Aul dengan pelajar kota seperti Faika semasa liburan sekolah bukan sekadar mengajak para pelajar pandai berbahasa Inggris tetapi juga memberikan ruang agar mereka bisa berpikir kreatif, menemukan jalan sendiri dalam menumbuhkan dan menjawab rasa ingin tahunya dalam menuntut ilmu.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 28 Juni 2026

  • Serpihan Surga dalam Kepungan Plastik

    Serpihan Surga dalam Kepungan Plastik

    Indonesia adalah serpihan surga yang diturunkan ke bumi (qit’atun min al-jannah), ungkap Syekh Mahmud Syaltut (mantan Grand Syekh Al-Azhar, Mesir) kepada Bung Karno. Sebagai seorang orator ulung, Bung Karno pun seringkali mengutip ungkapan indah tersebut untuk menggemakan keindahan alam Indonesia ke dunia internasional—singkat, padat, dan jelas.

    Tapi, apakah serpihan keindahan alam di Bulukumba, Sulawesi Selatan, terawat dengan benar? Alam ini layaknya manusia: tubuh lelaki yang kekar atau atletis dan kecantikan perempuan akan pudar bila tidak diperhatikan. Seiring pertambahan umur manusia, keindahan tersebut luntur sedikit demi sedikit.

    Mencoba menarik plastik yang panjang yang terkubur di pantai. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama.

    Bagaimana dengan alam tempat kita hidup ini?

    Baru-baru ini, penulis bergabung dengan kegiatan pembersihan sampah plastik di Pantai Marumasa, Desa Darubia, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, dengan 28 orang mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode II 2026 dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang live di Tik Tok dengan akun Kareba Umba bersama Dego-Dego Na Bira, Indo Ocean, dan Rumah Belajar Bersama (RBB). Keindahan Pantai Marumasa yang airnya sangat jernih itu sangat mirip dengan Pantai Bira—awalnya Desa Darubia bagian dari Desa Bira yang kemudian dipecah jadi desa baru. Nasibnya begitu memprihatinkan. Terlihat tidak ada perawatan sama sekali di sana. Sepanjang pantai penuh dengan sampah plastik, sampah kiriman kayu, botol, dan lainnya dari laut. Marumasa terlihat indah di iklan, tapi mengenaskan di dunia nyata.

    Semua pemerhati lingkungan berkumpul di depan tumpukan plastik yang telah dimasukkan dalam karung dan siang angkut Denga mobil pick up. Sumber Foto: Mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada pada Sabtu, 27 Juni 2026.

    Itu ulah siapa? Siklus angin timur atau barat dianggap membawa sampah ke pantai. Penulis yang pernah bolak-balik dari Sulawesi Selatan ke Jawa semasa mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) seringkali melihat sampah di atas kapal laut dalam jumlah besar dibuang ke laut begitu saja. Itulah yang terhempas mengotori berbagai pantai di Indonesia. Sebagian melilit terumbu karang yang merusak alam bawah laut atau dimakan hewan laut dan yang kemudian hewan itu dikonsumsi oleh manusia. Tanpa sadar, manusia makan hewan sakit atau hewan campuran plastik.

    Kondisi pantai saat belum dibersihkan. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama.

    Manusia di darat juga berperilaku sama. Mereka memilih pantai yang indah dan sekaligus menjadikan pantai tersebut tempat sampah dengan membuang plastik sesukanya. Sepanjang pantai penuh dengan plastik bekas minuman serta makanan, botol, sandal, dan masih banyak lagi yang tak terhitung. Apakah itu semua kiriman dari laut? Plastik yang terlihat baru disertai sisa makanan tidak mungkin dari laut yang ditinggalkan begitu saja. Pasti semua itu berasal dari ulah manusia di darat.

    Gerakan membersihkan pantai dari para pemuda-pemudi pecinta lingkungan itu adalah seruan moral untuk melestarikan alam ini. Pekerjaan utama mereka bukan membersihkan sampah dan itu tidak bisa dilakukan setiap hari. Mereka adalah tamu yang tidak menetap, namun kehadiran mereka membekas: tidak sekadar berpolemik atau melempar kritik di media sosial—melakukan aksi nyata.

    Setelah menimbang sampah plastik yang lebih dari 140 kg, sekarang ini Pantai Marumasa terlihat indah kembali untuk sekejap. Menurut seorang relawan, sampah plastik yang mereka berhasil kumpulkan telah mencapai lebih dari satu ton: hasil dari berkali-kali kunjungan ke pantai. Angka tersebut cukup mengagetkan dan seringkali luput dari perhatian kita. Ini akan terus bertambah hingga sampai pada angka yang tidak pernah dibayangkan.

    Selain kampanye kesadaran, penyediaan tempat sampah di sekitar pantai itu sangat penting ditaruh di tempat tertentu. Desa juga dapat menghidupkan kembali semangat gotong-royong, mengajak masyarakat setempat untuk kerja bakti di hari-hari tertentu yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat.

    Selangkah lebih jauh, Nur Anjas, pelaku wisata yang namanya tercatat di buku Lonely Planet—buku panduan wisata dunia, mengharapkan agar Indiz sebagai penggiat lingkungan dan juga anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Darubia bisa intens berkordinasi dengan Kepala Desa guna merumuskan langkah terbaik untuk membuat program kebersihan mulai jalan setelah Tana Beru sampai penurunan Lahongka yang dipenuhi sampah berserakan di pinggir jalan. Keresahan Anjas ini bersumber dari para tamu penginapannya di Nusa Bira Indah dikombinasikan hasil pengamatan lapangannya.

    Bila langkah tersebut di atas gagal, pemilik membuat aturan atau pemerintah desa ataupun pemerintah daerah melakukan penegakan hukum yang ketat kepada para wisatawan minimal di kawasan wisata bila membuang sampah sembarangan. Bila aturan ini dianggap mustahil, kenapa di Bali bisa terjadi pembatasan plastik sekali pakai dan Singapura mampu menerapkan denda yang ketat? Romi, relawan Indo Ocean asal Jerman yang turut memungut sampah, memberikan keterangan bahwa ada denda sebesar 200 Euro bila buang sampah sembarangan. Itu setara dengan empat juta empat puluh ribu rupiah dengan kurs dua puluh ribu dua ratus rupiah.

    Kalau tidak, siapa yang menjamin bahwa berbagai macam pantai yang telah dibersihkan tidak akan kotor pada minggu berikutnya? Berbeda dengan manusia yang pasti menua, pantai dan alam semesta beserta isinya akan tetap indah selama beribu-ribu tahun bila manusia mempunyai kesadaran untuk menjaganya.

    Setiap dari kita mesti mampu merawat alam—atau lebih sedikitnya turut merasa bertanggung jawab terhadap tanah air Indonesia—dan pada batas paling sedikit, tidak membuang plastik di sembarang tempat terutama pantai dan laut. Bila kita menjadikan alam ini sebagai rumah, kemudian rumah itu dirusak, adakah rumah yang lain untuk tinggal? Adakah kita mau mengubah serpihan surga menjadi serpihan neraka?

    Zulkarnain Patwa
    Pantai Bira di Bulukumba pada Sabtu, 27 Juli 2026

  • Anak Daerah Berdaya Saing Nasional

    Anak Daerah Berdaya Saing Nasional

    Dua orang pelajar SD asal Bulukumba yang meraih emas olimpiade bahasa Inggris membuktikan bahwa anak-anak daerah memiliki daya saing di tingkat nasional. Tidak mudah mempercayai kenyataan ini. Betapapun Bulukumba terkenal dengan destinasi wisata internasional dikunjungi banyak wisatawan mancanegara, masyarakatnya belum punya kultur berbahasa asing seperti di Bali atau membangun pelatihan bahasa asing seperti di Borobudur, Jawa Tengah.

    Untuk urusan sekolah, belum ada seorang pun guru SD di Bulukumba yang mendapatkan jatah Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI), program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI. Tak mengherankan, meskipun ada bahasa Inggris di sekolah, pembelajarannya ala kadarnya saja, sama sekali tidak menciptakan keakraban berbahasa asing—benar-benar asing.

    Itu bukan kesalahan sekolah, tapi karena pemerintah pusat dan daerah belum melirik potensi pelajar Bulukumba yang sesungguhnya luar biasa.

    Dari realitas yang memprihatinkan tersebut, kita dikagetkan oleh Adeeva Syakila Zulfikar, kelas 4 di SDN 230 Palambarae Bulukumba, pada Juni 2026 pada olimpiade bahasa Inggris meraih emas di Kompetisi Sains Nasional (KOMPAS). Sebelum ledakan tersebut, Faika Qinara Putri Ridwan, kelas 3 SDN 2 Terang-Terang pada Februari 2026 meraih emas pada olimpiade bahasa Inggris di National Science and Mathematics Academic Olympiad (NSMAO). Ini pasti bukan hal biasa karena mereka mampu menggetarkan dan menjadi bagian pelajar bahasa Inggris terbaik di Indonesia, sama dengan pendidikan yang maju di kota-kota besar.

    Jalur Alternatif
    Kesadaran berbahasa Inggris ini terbangun berkat kesadaran orang tua pelajar yang mempengaruhi anak-anaknya di lembaga pendidikan alternatif. Sebab, jika mereka menanti program pencerdasan lewat sekolah, anak-anaknya pasti tertinggal jauh, jangankan berbicara Inggris, tidak akan ada keberanian untuk mengikuti olimpiade.

    Lembaga pendidikan alternatif yang mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas berkesempatan luas membuka berbagai macam kelas seperti speaking, reading, pronunciation, grammar, and writing (bicara, membaca, pengucapan, tata bahasa, dan menulis). Waktu belajar yang ditawarkan pun umumnya lebih banyak dari sekolah karena sekolah mewajibkan pelajaran lainnya untuk dipelajari. Oleh karena itu, pelajar bisa memilih sesuai kebutuhannya.

    Menangkap Peluang
    Kekayaan alam Bulukumba yang menarik kunjungan mancanegara adalah potensi sumber daya manusia yang bisa dikelola untuk pemberdayaan bahasa Inggris bagi pelajar dan masyarakat umum. Lembaga pendidikan alternatif dan komunitas dapat mengunjungi pusat wisata mancanegara untuk praktik Inggris atau mengajak wisatawan tersebut untuk hadir perkumpulan berbahasa Inggris. Langkah ini sangat berguna untuk membangun keaktifan dalam berkomunikasi dan menumbuhkan kepercayaan diri. Speaking dan pronunciation dapat berkembang dengan baik.

    Namun untuk urusan akademis semisal olimpiade komunikasi di atas tidak cukup. Kemampuan reading disertai pemahaman grammar sangat dibutuhkan untuk mengerti alur teks cerita bacaan sehingga dapat memberikan jawaban yang tepat. Pembiasaan ini mutlak selalu dilakukan karena soal-soal olimpiade itu terdesain rumit bagi kalangan umum. Oleh karena itu, semakin banyak membaca, alurnya lebih mudah dikenali.

    Menyambut Masa Depan
    Adeeva, Faika dan calon-calon peraih juara olimpiade lainnya diakrabkan dengan komunikasi dan pembelajaran akademik. Anak-anak SD dan pelajar sekolah lainnya relatif punya waktu yang lebih panjang untuk belajar sehingga pembelajaran speaking, reading, pronunciation, grammar, and writing sangat memungkinkan diajarkan kepada mereka. Bahasa Inggris bukan sebatas pergaulan di dunia internasional tetapi juga alat untuk membaca pengetahuan yang tersebar di berbagai belahan dunia.

    Zulkarnain Patwa
    Dego-Dego Na Bira di Bulukumba,
    Sabtu, 27 Juni 2026

  • Bahasa Inggris Hidup di Kampung Belajar

    Bahasa Inggris Hidup di Kampung Belajar

    Ketika kelas baru saja mulai, guru ingin mengetahui sejauh mana pelajar berminat mengerti arti bacaan percakapan.

    “Siapa yang mau tahu arti percakapan yang kita pelajari di hari-hari yang lalu?”, tanya guru.

    Tiada seorangpun menjawab.

    “Atau kalian terlebih dahulu mau membaca terjemahan lebih dalam bahasa Indonesia?”, lanjut guru.

    “Tidak,” jawab serentak.

    “Kenapa?,” guru heran.

    “Kami mau memperbaiki irama suara dalam percakapan,” kata Fifi. Pelajar yang lain sependapat. Guru paham bahwa pengaruh seni berbicara di kelas percakapan ini telah mendominasi pikiran pelajar.

    “Baiklah,” respon guru. “Kalian baca percakapan tiap kalimat, saya yang menerjemahkan agar kalian tidak kehilangan maknanya.”

    Para pelajar menerima tawaran tersebut. Maka setelah membaca secara bersama, mereka bercakap secara berpasangan. Ini dilakukan sebanyak enam lessons (pelajaran).

    Guru memang sengaja tidak meminta modul terjemahan bahasa Indonesia dibaca untuk menghemat waktu. Selain itu, ada rasa bersalah dari guru kelas yang datang terlambat. Hak belajar pelajar yang seharusnya tiga jam penuh telah berkurang. Terlebih lagi, hari belajar kali ini Jumat, kelas biasanya sedikit lebih cepat selesai karena alasan laki-laki bersiap-siap pergi shalat Jum’at.

    Setelah urusan bacaan selesai, guru menanyakan tentang hal menarik lainnya dipelajari.

    “Parts of the body,” (bagian-bagian dari tubuh), usul seorang pelajar.

    “Ini yang saya paling suka,” kata Aul, pelajar SD.

    Pelajar SMP dan SMA dipasangkan dengan anak-anak SD agar anak-anak SD tersebut tidak kewalahan menyebut anggota tubuh, mulai dari rambut hingga jari kaki. Lumayan banyak kan. Mereka terlebih dahulu diberikan jeda waktu untuk berlatih sebelum live (siaran langsung) di Facebook Rumah BelajarBersama.

    Kolaborasi belajar terbukti sangat bermanfaat. Saat live, anak-anak lupa beberapa kata. Itulah mengapa mereka dibuat berkelompok agar saling mendukung, bukan sebatas kecerdasan individu. Bagi yang SMP dan SMA, membantu anak SD membuat mereka makin tahu cara menyebarkan ilmu pada orang lain. Lagi pula tutor sebaya ini tidak mengurangi pengetahuan yang telah diperoleh melainkan bertambah.

    Dengan metode belajar seperti ini, bahasa Inggris sungguh tidak menyeramkan lagi. Mereka belajar seolah berdiskusi santai dengan rekan kelasnya. Kosakata dan bacaan Inggris tidak dipaksa dimasukkan ke dalam kepala melalui hapalan. Titik tekannya pada pemahaman yang jauh lebih kuat daripada hapalan. Inilah yang disukai pelajar. Guru pun tidak merasa memberikan beban berat kepada anak didiknya.

    Ketika jam belajar hampir selesai, kegiatan membaca bersama dan percakapan disertai penerjemahan kembali dilakukan. Target yang ingin dicapai adalah menamatkan satu buku percakapan dalam satu bulan. Para pelajar telah melewati lesson 80. Ada sekitar 60 percakapan yang belum selesai dipelajari. Nampaknya ini bisa terwujud karena khusus kelas percakapan, masih terdapat 10 pertemuan dengan total waktu 30 jam yang akan diselesaikan dalam dua minggu ke depan.

    Setelah berhasil menamatkan buku dengan kemampuan berbicara disertai pemahaman teks bacaan, kegiatan Kampung Belajar di Rumah Belajar Bersama ini akan menjadi pengingat program liburan sekolah patut untuk disemarakkan pada liburan berikutnya.

    Dengan demikian, bukankah liburan itu sejatinya adalah jalan untuk memperluas pengetahuan?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at, 26 Juni 2026

  • Adeeva Raih Emas: Olimpiade Inggris SD Rasa Kuliah

    Adeeva Raih Emas: Olimpiade Inggris SD Rasa Kuliah

    Adeeva Syakila Zulfikar adalah satu-satunya pelajar SD di Sulawesi Selatan yang meraih emas pada olimpiade bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh Kompetisi Sains Nasional (KOMPAS) pada Minggu, 21 Juni 2026. Keberanian bertarung antar pelajar se-Indonesia ini tumbuh karena Adeeva telah punya pengetahuan bahasa Inggris melampaui pelajaran kurikulum sekolahnya. Pelajarannya pada buku reading, speaking, dan grammar (bacaan, bicara, dan tata bahasa), mengacu pada buku-buku standar asing, dikerjakan dengan tekun.

    Melihat ketekunan, spirit belajar, dan kemampuan Adeeva menuntaskan beragam buku berbahasa Inggris, sang ibu merasa perlu membuktikan pengetahuan yang telah dipelajari anaknya: layak punya daya saing atau tidak. Ibunya yang juga punya pemahaman bahasa Inggris tentu telah mengukur dan melakukan uji coba kualitas dengan langsung mengikutkan anaknya pada kompetisi tingkat nasional. Beberapa urusan administrasi semisal surat keterangan bahwa Adeeva bersekolah di SDN 230 Palambarae Bulukumba—pengganti Kartu Pelajar—dan beberapa urusan administrasi resmi lainnya ia urus agar anaknya bisa ikut berkompetisi online KOMPAS tersebut.

    Jika mengacu pada pembelajaran sekolah, capaian Adeeva pada emas mungkin mengagetkan. Guru sekolah SDN 230 Palambarae Bulukumba sama sekali belum mendapatkan pelatihan bahasa Inggris dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Mereka tidak masuk hitungan. Kalaupun mendapatkan pelayanan dari Kemendikdasmen, gurunya masih dalam tahap proses belajar. Terlebih lagi, ia bersekolah di tempat yang jauh dari segala fasilitas belajar yang serba lengkap.

    Tentu orang akan bertanya: bagaimana ini bisa terjadi?

    Ternyata, Adeeva telah lama bergabung belajar bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama (RBB). Memperhatikan bakatnya yang luar biasa dalam menyelesaikan basic English (bahasa Inggris dasar), para guru RBB segera memberikan pembelajaran tingkat Pre-Intermediate. Umur Adeeva masih sepuluh tahun, kelas 4 SD, tapi ia diyakini sanggup mengerti pelajaran tingkat lanjutan. Pemahaman reading dengan segala latihan soal diajarkan hingga tamat tiga buku asing oleh Mr. Ancha, online speaking dengan Miss Salma Minasaroh di lembaga GAIA di Pati, Jawa Tengah, dan tenses di luar kepala secara acak yang super sulit oleh Mr. Agung Pratama Salassa. Ditambah lagi, akar-akar grammar–pelajaran yang kini dihapus oleh Kurikulum Merdeka–diperdalam oleh Adeeva untuk memperkokoh kemampuan akademis. Itu semua bermanfaat untuk kejuaraan olimpiade.

    Benturan pada Olimpiade
    Tapi, itu bukan berarti dunia belajar Adeeva berjalan mulus. Rekan kelas Adeeva di RBB bernama Faika Qinara Putri Ridwan, kelas 3 di SD 2 Bulukumba dan peraih emas pada bahasa Inggris di National Science & Mathematics Academic Olympiad (NSMAO), pada Februari 2026 juga mempunyai masalah yang sama. Keduanya mengaku agak kesulitan mengenali kosakata yang tidak lazim dipakai dalam kejuaraan. Gurunya memberikan tanggapan bahwa justru itulah mengapa mereka dikenalkan olimpiade: hal-hal yang tidak akrab tersebut bisa dijadikan akrab. Lagi pula, soal olimpiade itu memang sengaja dibuat susah.

    Betapapun demikian, para pembuat soal olimpiade itu tidak sepenuhnya bebas dari kritik. Mereka juga perlu mengingat bahwa berdasarkan kurikulum Indonesia, anak kelas 3 SD yang belajar bahasa Inggris bisa ikut olimpiade. Olimpiade yang diadakan sekarang cenderung tidak membagi pada tingkat kelas lagi: kelas 3, 4, 5, dan 6 SD, bertarung pada soal yang sama. Sebagian penyelenggara olimpiade dengan sengaja membuat materi soal yang dibuat menggunakan grammar tingkat intermediate, yaitu pendalaman clause (klausa). Itu semacam “penyiksaan akademik”, bukan kompetisi yang sehat.

    Para pembuat soal olimpiade itu perlu mempertimbangkan kemampuan anak kelas 3 dan 4 SD agar tidak takut menghadapi olimpiade. Olimpiade itu memang perlu tantangan, tapi ia jangan dibuat menjadi hantu menakutkan yang membuat anak-anak kita melarikan diri. Artinya, jangan terlalu jauh meninggalkan kurikulum agar peluang anak-anak lainnya juga terbuka lebar.

    Oleh karena itu, para pembuat soal itu mesti berbasis pada realitas kemampuan pelajar Indonesia saat ini, dan pemerintah, khususnya Kemendikdasmen, tetap perlu memberikan pengawasan dan batasan dengan klasifikasi kelas sekolah di olimpiade sehingga tingkat kerumitan terukur lebih tepat. Dengan demikian, ini memancing daya tarik anak-anak Indonesia mengikuti olimpiade dan menjadi bagian dari solusi kita membumikan bahasa Inggris.

    Solusi Lanjutan 
    Adeeva dan Faika sebagai pelajar daerah yang jauh dari hiruk pikuk pembelajaran bahasa Inggris yang canggih sebagaimana di kota besar pasti telah mempunyai solusi ke depan dalam menghadapi kerumitan kosakata dalam menjawab soal tingkat tinggi. Mereka bersama rekan-rekannya yang diprediksi punya peluang yang sama akan diakrabkan pada bacaan tingkat Intermediate setelah menyelesaikan Pre-Intermediate.

    Namun, ini tidak dilakukan dengan terburu-buru. Segala materi yang telah lalu di-review kembali, menipiskan tingkat kelemahan, dan sekaligus menguatkan pondasi untuk persiapan pembelajaran yang lebih tinggi. Selain itu, pelajaran grammar tetap dipertajam karena itu adalah alat yang ampuh untuk menjawab soal tanpa perlu mengerti arti dari kosakata, memperkuat struktur untuk menganalisis kesalahan soal.

    Dengan demikian, entah soal olimpiade mengalami perubahan ke arah yang lebih familiar untuk pelajar SD atau tidak, semua tantangan tetap siap dihadapi dengan basis pengetahuan terbarukan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Jum’at 26 Juni 2026

  • Nyala Api Literasi di Kampung Belajar

    Nyala Api Literasi di Kampung Belajar

    Jam 9 di pagi hari, dua orang anak remaja dan satu orang dewasa lebih dahulu hadir di kelas Kampung Belajar. Kumpulan kecil ini sudah mampu berpikir abstrak dan logis serta tertarik mengatasi persoalan grammar (tata bahasa) yang dihadapinya di hari sebelumnya. Karena pasukan kecil anak-anak belum hadir, penulis yang bertugas mengajar percakapan dan reading (bacaan) mempersilakan peserta kelas membahas grammar.

    Saat membuka latihan buku grammar, sebenarnya tidak ada hal sulit yang pelajar itu hadapi. Mereka telah mengerti konsep materi simple sentences pada nominal tense. Kendala mereka terletak pada keterbatasan kosakata untuk memahami arti soal. Padahal, menjawab soal-soal grammar tidak mesti tahu artinya. Namun, penulis membiarkan mereka mencari arti kosakata agar bahannya untuk bercakap dan lainnya bertambah.

    Pelajaran grammar terus berlangsung sekitar 80 menit. Anak-anak SD yang datang belakangan juga turut terpengaruh membuka buku grammar-nya. Penulis membiarkan mereka saling bekerjasama mengerjakan latihan sembari sesekali membantu hal-hal yang rumit dalam pikiran mereka. Suasana kelas sangat santai–belajar sambil mendiskusikan pelajaran yang telah mereka lewati. Sesekali mereka juga membahas hal di luar pelajaran semisal nonton film dan makanan kesukaan. 10 menit terakhir menuju pukul 10.30, mereka pun istirahat dan memesan makanan.

    Setelah urusan makanan selesai, semua pelajar membaca buku percakapan secara bersama-sama dengan suara nyaring. Setelah membaca satu lesson, mereka berpasangan melakukan percakapan berdasarkan bacaan yang baru saja dibaca. Terdapat 10 lessons yang berhasil mereka selesaikan. Praktik bicara ini menghabiskan banyak energi karena percakapan dalam setiap lesson cukup panjang serta menyita banyak waktu dan suara. Untuk membuat mereka tetap semangat, penulis membagi waktu 90 menit pada sesi kedua ini dengan memberikan istirahat selama dua puluh menit. Jadi, 10 lessons tersebut tidak terasa menguras banyak energi.

    Persoalan yang penulis hadapi adalah tidak sempat menerjemahkan isi percakapan secara lisan kepada pelajar.

    “Mereka punya modul terjemahan yang mereka bisa baca sendiri,” pikir penulis. Penulis memaksimalkan waktu untuk bercakap dan memperbaiki cara pengucapan mereka.

    “Kalau kemampuan bicara mereka bagus, kepercayaan diri untuk bicara dengan orang lain pasti tumbuh,” pikir penulis dalam hati. Jadi, kosakata tidak lazim saja yang penulis terjemahkan.

    Namun, penulis tidak yakin 100 persen bahwa pelajar tersebut membaca buku terjemahannya. Ada rasa khawatir dari dalam hati karena berdasarkan hasil riset Programme for International Student Assessment (PISA), literasi pelajar Indonesia itu tergolong rendah.

    “Sial! Kenapa pula saya mengingat PISA itu?” pikir penulis. “Harus ada kepastian bahwa mereka membaca modulnya.”

    Oleh karena itu, pada pertemuan berikutnya, ada baiknya bila percakapan pada buku dimengerti sebelum aktif bercakap. Dalam artian, mereka akan membaca modul terjemahan di kelas.

    Para pelajar di Kampung Belajar ini sebenarnya telah membaca buku. Tiap kelas pagi, siang, sore, dan malam hari, pelajaran mereka berbasis buku-buku asing. Jadi, sebenarnya tingkat literasi-nya lumayan menggembirakan. Di tiap kelas pasti ada bacaan. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana membuat mereka mau membaca selain di ruang kelas. Memberikan tugas bacaan di rumah mereka masing-masing nampaknya bagian dari solusi. Tugas yang diberikan oleh guru itu dapat dianggap sebagai beban. Tak mengapa lah untuk sementara karena hal tersebut punya dampak positif. Ini belum keputusan final–masih mempertimbangkan apakah tepat atau tidak. Suasana perkembangan kelas belajar akan sangat menentukan untuk menemukan jurus yang paling efektif.

    Tetapi, yang lebih penting adalah bagaimana menciptakan rasa ingin tahu lebih banyak. Penulis seringkali mengajak pelajar untuk berpikir fungsi belajar bahasa Inggris. Mereka menanggapi bahwa belajar bahasa Inggris adalah jalan kemudahan untuk mencapai cita-citanya. Selama mereka berada di Kampung Belajar, fokus belajarnya pasti terjaga. Mereka hadir di kelas sembilan jam sehari. Penguatan lebih lanjut dapat dilakukan oleh orang tua masing-masing di rumah agar anak-anaknya dapat tetap aktif belajar di sekitar lingkungan terdekatnya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 25 Juni 2026

  • Menjadikan Bahasa Inggris Bukan Penjara

    Menjadikan Bahasa Inggris Bukan Penjara

    Kemampuan membaca anak-anak SD ini telah sampai pada tahap yang menggembirakan. Sepuluh lessons (pelajaran) mereka berhasil baca secara bersama-sama yang kemudian ditindaklanjuti dengan percakapan secara berpasangan. Pengucapan mereka pun sangat bagus selain karena lessons tersebut adalah review, mereka juga punya semangat untuk menjadi lebih baik dari pertemuan sebelumnya.

    Kenapa pelajar diminta membaca seirama secara bersamaan? Ini karena mereka dilatih untuk kompak sebagai satu kesatuan dalam kelas, tidak diperbolehkan saling mendahului. Bagi pelajar yang agak sedikit tidak fasih, rasa takut untuk berbicara tentu ada tapi mereka tetap mengeluarkan suara dengan nada yang lebih rendah. Karena semua praktik, ketakutan itu tenggelam dengan suara riuh. Lagi pula, tidak ada yang menyalahkan saat membaca. Koreksi diberikan setelah bacaan selesai.

    Kenapa ada percakapan secara berpasangan? Tiap anak diberikan kebebasan memilih rekan yang mereka suka agar tercipta rasa nyaman saat berkomunikasi—memutus minder untuk bercakap terselesaikan. Mereka dilatih untuk mengandalkan dan mengukur kemampuan diri sendiri. Mereka akan tahu sendiri kosakata yang mana yang sulit diucapkan yang luput dari perhatian. Anak yang mengalami kesulitan biasanya bertanya, “Apa pengucapan typist?” Rekan kelas atau guru selalu dengan senang hati membantu melafalkan dengan benar.

    Dibalik dunia belajar anak-anak ini, satu hal yang tidak boleh terlupakan yaitu jadwal bermain. Mereka akan sangat bersemangat berlatih bila diberikan janji jam bermain yang lebih banyak dari biasanya. Agar seimbang, guru meminta mereka untuk selalu bersemangat saat belajar. Kesepakatan yang dibuat tanpa dilanggar itu membuat anak-anak seolah punya tenaga ekstra untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Dengan waktu bermain yang mereka anggap cukup, mereka bahagia.

    Penulis yang mengambil bagian untuk turut mendidik tahu bahwa anak-anak tersebut punya jadwal belajar yang sangat padat. Mereka memilih belajar bahasa Inggris di malam hari karena waktu pagi hingga siang dihabiskan di sekolah dan sore hari hingga jelang Maghrib digunakan untuk mengaji. Kehidupan tentu melelahkan, karena jarang istirahat atau tidur siang. Oleh karena itu, kebebasan berekspresi dan berpendapat mereka saat berada kelas Inggris mendapatkan porsi yang lebih tinggi.

    Sikap ini mempunyai dampak positif. Anak-anak tidak merasa terpenjara dengan pelajaran bahasa Inggris. Mereka dengan senang hati mau banyak membaca, target yang Rumah Belajar Bersama (RBB) kejar untuk membuat mereka akrab dalam literasi–menjadikan bahasa Inggris sebagai alat untuk berpengetahuan.

    Sanggupkah kita mendesain kegiatan membaca itu bukan sebagai beban buat anak-anak? Itu adalah tugas para intelektual untuk menemukan cara belajar yang lebih baik dari yang sebelumnya.

    Zulkarnain Patwa
    Rabu, 24 Juni 2026