Ruang Kreatif Aul di Kampung Belajar

Andi Kalimbara Aulian AF. alias Aul seorang anak kelas 3 di SDN 193 dari Kec. Herlang, jauh-jauh datang ke kota Bulukumba khusus bergabung di Kampung Belajar untuk bisa berbahasa Inggris. Saat tiba di Rumah Belajar Bersama (RBB) raut wajahnya terlihat mau belajar diselimuti rasa khawatir–tumpukan pemikiran bahwa Inggris sulit mengendap baik dalam kepalanya. Ayahnya, Andi Alamsyah, yang menemaninya ke RBB mengatakan, “Bagus di sini. Para gurunya hebat mengajar.”

Andi Alamsyah ketika pertama kali mengajak Aul, anak laki-lakinya, bergabung di Kampung Belajar. Foto pada 15 Juni 2026 di Rumah Belajar Bersama.

Agar Aul tidak tegang, guru kelas terlebih dahulu menemaninya berbicara santai. Ia diajak bercerita tentang kesukaannya main di kampung. Kemudian, untuk urusan bahasa guru menjelaskan bahwa bahasa Inggris itu gampang, mirip bahasa Konjo–bahasa kesehariannya di kampung. Aul kaget dan penasaran, seakan tidak percaya. Dalam keadaan seperti itu, guru berpikir bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk memulai pelajaran Inggris tanpa harus menulis.

Mereka pun belajar Parts of the Body (Bagian-Bagian dari Tubuh) tanpa tulisan di papan tulis dan buku catatan. Mereka praktik bicara sambil memegang bagian tubuh yang disebut dalam bahasa Inggris. Terjemahan dibuat dalam bahasa Konjo dan Indonesia. Ia terlihat terbata-bata menyebut hair, head, forehead (rambut, kepala dan dahi) dan lainnya tapi ia suka sesuatu hal yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Terlebih, ia merasa bahwa itu semacam permainan saja.

Saat memasuki kegiatan membaca teks, Aul menjadi lebih heran. Ia menemukan bacaan yang serba lain tulisan, lain pula cara bacanya. Gurunya pun berkali-kali mengulang sampai pengucapan Aul sesuai. Beberapa lessons (pelajaran) Aul ulangi hingga mampu diucapkan dengan benar. Wajahnya kemudian berkeringat, tanda ia butuh istirahat

Pada pelajaran selanjutnya, Aul bertemu dengan Faika, anak kelas 3 SD. Bacaan teks dan percakapan Inggris Faika terlihat sangat lancar. Maklum, Faika telah mengikuti Kampung Belajar di liburan sekolah semester lalu dan pernah juara olimpiade Inggris se-Indonesia pada Februari 2026, dan pelajar aktif belajar di RBB. Aul tidak minder. Malahan, ia mencari cara akrab dengan Faika. Faika pun senang karena ada tambahan anak yang seumurannya menjadi teman bermain dan belajar.

Hari demi hari berjalan normal hingga memasuki akhir minggu kedua. Tiba-tiba Aul menyampaikan sesuatu kepada seorang guru kelasnya.

“Saya sudah tahu siapa anak yang paling pintar di kelas,” katanya memancing.
“Siapa?” tanya guru.
“Faika,” jawab Aul sigap.
“Kenapa bisa?” lanjut guru yang ingin tahu alasan.
“Karena Faika paling lancar membaca. Dia juga pintar menulis dalam bahasa Inggris,” terang Aul berdasarkan hasil pengamatannya.

Beberapa waktu kemudian, Aul melanjutkan, “Saya sudah tahu rahasianya kenapa Faika pintar.”
“Bagus, Aul,” kata guru yang senang memperoleh dampak positif dari lingkungan Kampung Belajar.
“Apa itu rahasianya?”

“Dia sangat rajin membaca,” jawab Aul dengan bangga menemukan sesuatu yang ia anggap berharga. Faika itu memang anak yang jarang menolak ketika ia diminta membaca dengan suara nyaring. Kalaupun ia punya alasan untuk menolak, ujung-ujungnya ia tetap bersedia.

“Lalu, kamu mau pintar seperti Faika?” tanya guru lagi.
“Mau lah,” jawab Aul dengan cepat.
“Bagaimana caranya?”
“Rajin membaca dan bicara.” Maksud Aul adalah Faika sering membaca nyaring pada buku bacaan–sebuah kebiasaan yang dibangun tiap belajar.

Cara berpikir Aul disambut hangat. Tak heran, ketika istirahat, Aul seringkali meminta kepada guru untuk dipandu membaca buku percakapan dan buku grammar (tata bahasa). Ia tidak terburu-buru untuk pindah lesson sebelum ia lancar. Bahkan, ia takkan mau berhenti membaca hingga wajahnya penuh dengan berkeringat. Bila kondisinya sudah demikian, ia minta istirahat.

Di lain sisi, Faika juga bercerita ke guru.
“Mister, saya punya fans sekarang.”
“Siapa itu Faika?” tanya guru seolah tidak tahu.
“Aul. Dia bilang dia nge-fans sama saya,” jawab Faika sambil tersenyum.
“Kenapa bisa?” pertanyaan lanjutan mengikuti.
“Saya tidak tahu,” balas Faika dengan nada santai.
“Coba cari tahu alasannya,” tambah guru agar Faika mengerti kenapa sebuah pernyataan dibuat.
Ia sepakat saja.

Faika kemudian tidak ditanya lagi. Gurunya yakin bahwa kedua anak mungil tersebut akan kembali bercerita bila ada sesuatu yang menarik.

Kisah mereka sengaja dicatat di sini untuk mengetahui sejauh mana dampak positif dari pembicaraan dan pergaulan mereka di lingkungan Kampung Belajar.

Kampung Belajar yang mempertemukan pelajar desa seperti Aul dengan pelajar kota seperti Faika semasa liburan sekolah bukan sekadar mengajak para pelajar pandai berbahasa Inggris tetapi juga memberikan ruang agar mereka bisa berpikir kreatif, menemukan jalan sendiri dalam menumbuhkan dan menjawab rasa ingin tahunya dalam menuntut ilmu.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 28 Juni 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *