Menolak Omong Kosong Kesuksesan di Atas Kertas

Izzatunnisa dan Nabila dua orang pelajar kelas 4 SD baru saja (03/08/2026) membuktikan kefasihannya mendemonstrasikan seluruh struktur perubahan verbal tenses di luar kepala secara teratur. Seberapa besar kalkulasi matematis capaian mereka?

Bayangkan saja, ada 16 tenses.
Dalam setiap tense, terdapat 6 perubahan kalimat dengan satu subjek, kecuali subjek “I” hanya 4 perubahan kalimat karena pada present progressive tense, “I am not” dan “Am I not” tidak punya singkatan sehingga itu dihitung 4 perubahan kalimat saja meliputi kalimat positif, pertanyaan, negatif, dan pertanyaan negatif.

Subjek yang mereka praktikkan pada tiap tenses sebanyak 10: I, you, they, we, He (Adam), She (Hawa), dan It (A cat). Itu berarti:

* 1 subjek, 6 perubahan kalimat.
Keterangan:
1 kalimat pada positif.
2 kalimat pada negatif.
1 kalimat pada pertanyaan positif.
2 kalimat pada pertanyaan negatif.
Total = 6 kalimat.

* 10 subjek, 60 perubahan kalimat dalam satu kotak tense.
* 16 kotak tenses, 960 perubahan kalimat.

60 x 16 = 960.
960 – 2 = 958. Pengurangan 2 itu bersumber dari “I am not going? and Am I not going?“, tidak bisa dihitung 6, tetapi 4.
Total seluruh kalimat tenses = 958

958 kalimat itulah diucapkan tanpa melihat buku catatan, live (siaran langsung) di akun Facebook Rumah Belajar Bersama (RBB).

Izzatunnisa. Pelajar ini pada awalnya belajar bahasa Inggris “suka-suka” saja. Ia termasuk anak yang tidak mau menjawab soal-soal pada bacaan berbahasa Inggris. Melihat teman-temannya bertambah lancar, tiba-tiba ia mengatakan, “saya mau menguasai tenses.” Niatnya itu kini terbukti. Hanya dalam dua minggu, ia menuntaskannya. Semoga spirit belajarnya semakin meningkat.

Langkah berikutnya adalah menguasai tenses tersebut secara acak. 958 kalimat akan ditanyakan ulang menggunakan kalimat yang berbeda-beda pula. Inilah saatnya di mana setoran irregular verbs (kata kerja yang tidak beraturan) yang mereka telah pelajari sebelumnya berfungsi. Mereka akan menemukan jawaban mengapa terjadi perubahan verb 1, 2, dan 3 dalam bahasa Inggris, tetapi tidak dalam bahasa Indonesia.

Pelajaran dasar lainnya, Izzatunnisa dan Nabila diwajibkan juga menyetor nominal tenses—ordinary verb (kata kerja utama) menggunakan be—yang prosesnya sama sewaktu mereka belajar verbal tenses. Meskipun nominal tense jauh lebih mudah, materi ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena itu adalah pembandingnya verbal tenses. Bila pelajar tidak mampu membedakan dasar-dasar verbal tenses vs nominal tense, mereka dianggap masih belum mengerti tenses dengan baik.

Nabila. Anak ini cerdas, cepat memahami pelajaran,.namun seperti halnya kebanyakan anak-anak, ia ingin lebih banyak bermain. Dalam beberapa waktu terakhir, ia diingatkan bahwa potensi kecerdasannya sangat besa. Sayang sekali bila ia sendiri sengaja memperlambatnya. Perubahan kemudian terjadi dengan dengan meminta untuk selalu di-video terutama pada setoran tenses. Akhirnya, ia pun tuntas.

Metode belajar ini memang sungguh berbeda, tidak lazim. Jangankan institusi formal seperti sekolah, lembaga nonformal seperti kursus jarang yang berani menerapkannya. Permasalahannya terletak pada konsep waktu dan kejadian pada kalimat dari tata bahasa Indonesia sangat jauh berbeda dengan bahasa Inggris. Selain itu, dalam frasa semisal noun phrase (frasa benda), struktur sintaksis bahasa menganut pola DM (Diterangkan-Menerangkan), sementara Inggris menganut pola MD (Menerangkan-Diterangkan).

Indonesia
Wanita (D) + Cantik (M) = Wanita Cantik.

Inggris
Beautiful (M) + Girl (D) = Beautiful girl.

Frasa yang berada dalam kalimat dalam bahasa Inggris dianggap terbolak-balik dalam pikiran pelajar Indonesia. Lebih parah lagi pada verb (kata kerja). Indonesia tidak mengalami perubahan pada kata “pergi”, tetapi bahasa Inggris berubah menjadi “to go, go, goes, went, gone, going“.

Bahasa Indonesia:
Saya pergi ke sekolah setiap hari.
Saya pergi ke sekolah kemarin.

Di sini, “pergi” tidak mengalami perubahan.

Bahasa Inggris:
I go to school every day.
I went to school yesterday.

Di sini, “go” berubah menjadi “went“. Bahasa Inggris mengalami banyak perubahan kata kerja.

Demikian sekilas kerumitan sederhana yang ditampilkan di sini. Wajar saja jika sebagian besar orang yang tidak mengerti alur berpikir seperti ini menganggap itu tidak penting, bikin pusing kepala. Padahal, bahasa besar lainnya seperti bahasa Arab juga mengalami perubahan yang mirip dan bahkan lebih kompleks daripada bahasa Inggris.

Mengingat beratnya tantangan linguistik tersebut, di Indonesia sendiri lembaga seperti SMART, BEC, dan ELFAST di Kampung Inggris Pare di Jawa Timur yang mempunyai kapasitas mumpuni bersedia menerapkannya. Perbedaannya, para pelajar mereka dominan remaja dan dewasa yang ingin bekerja atau kuliah S-1, S-2, dan S-3 di dalam dan luar negeri, bukan anak SD sebagaimana yang di RBB.

Lalu, apa keistimewaan tenses di luar kepala ini? Pertama, para pelajar akan terbiasa menggunakan kalimat yang benar saat berinteraksi dengan orang lain. Kedua, membaca teks dalam bahasa Inggris akan lebih mudah dipahami. Ketiga, mampu menjawab soal-soal esai. Pembelajaran untuk tujuan akademis dan non-akademis tercapai.

Let’s make a better place for our next generation.

Kesiapan pencapaian akademis inilah yang menjadi modal utama bagi para pelajar SD RBB termotivasi menguasai tenses. Mereka bersiap menghadapi tantangan besar, mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris. Bercermin dari realitas, para pelajar yang diberikan pelatihan olimpiade adalah mereka yang telah menguasai tenses. Hal ini sengaja dibuat demikian agar terdapat alasan untuk mau belajar lebih giat. Tentu saja, bagi pelajar yang berminat dan memenuhi syarat yang ditetapkan, mereka tentu akan mendapatkan pelatihan olimpiade. Tetapi, makna yang sebenarnya yang hendak dibangun adalah penguasaan dasar-dasar bahasa Inggris sebagai kunci utama untuk bisa melejit, berkembang dengan sangat pesat sehingga pengetahuan mereka bisa digunakan untuk kepentingan olimpiade dan berbagai macam kebutuhan lainnya yang berhubungan dengan cita-cita pelajar itu sendiri. Pekerjaan ini memang ekstra, namun setelahnya, percepatan pencerdasan lebih mudah tercapai. Kesulitan pelajaran pada materi tingkat lanjut akan tampak lebih sederhana di mata para pelajar.

Manifestasi nyata dari kemudahan memahami materi ini langsung diterapkan pada aspek penting berikutnya, yaitu speaking (bicara). Para pelajar ini perlu diajak saling bercakap-cakap secara berpasangan. Izzatunnisa dan Nabila telah menamatkan satu buku Basic Reading (Bacaan Dasar) secara otomatis mempunyai perbendaharaan kosakata yang cukup banyak. Kosakata yang mereka miliki itu yang akan diolah dalam bentuk dialog untuk memudahkannya memahami makna dan arah pembicaraan. Bahan percakapan lain dengan mengikutkan kosakata yang baru pasti ikut serta—pengembangan lain pun harus terus berjalan.

Dari proses belajar yang baik dari kedua anak berbakat ini, kecerdasan mereka tidak boleh dinikmati sendiri, menang sendiri. Bila dibiarkan, tanpa sadar kita telah menanamkan paham individualisme, egoisme menang sendiri kepada anak-anak kita yang itu bertentangan dengan ajaran agama khususnya Islam dan negara kita menganut yang paham “keadilan sosial” yang tertera jelas pada sila kelima di Pancasila.

Oleh karena itu, tiap anak yang telah berhasil mencapai kemampuan di atas rata-rata dari rekan sesama pelajarnya dilatih untuk mengamalkan ilmunya minimal kepada rekan-rekan terdekatnya. Konsep peer tutoring (belajar sebaya) ini menciptakan keseimbangan pemahaman dalam kelas belajar, tidak menciptakan jurang pemisah yang menganga lebar antara pelajar yang bodoh dan pintar. Semuanya berlatih untuk pintar. Sistem kerja sama di kelas inilah yang menghapus kesenjangan. Lagi pula, pelajar yang mendapatkan kepercayaan untuk berbagi ilmu, ilmunya pasti bertambah, tidak pernah berkurang sedikit pun.

Berangkat dari contoh kecil dari keberhasilan Izzatunnisa dan Nabila yang masih SD itu, apakah kita mau lebih berani dan lebih siap melakukan terobosan yang lebih besar? Apakah omong kosong kesuksesan di laporan lembaran kertas akan terus dipertahankan? Apakah kita bersedia berkorban mengerahkan seluruh potensi kecerdasan dan tenaga untuk masa depan generasi yang lebih baik?

Zulkarnain Patwa

Bulukumba, Selasa, 4 Agustus 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *