Jangan mengandalkan sumber daya alam (SDA). Andalkanlah sumber daya manusia (SDM) yang terbarukan. Itulah pengingat B. J. Habibie kepada Indonesia yang selalu mendengungkan SDA. SDA tanpa SDM, nilainya sangat rendah. Dan untuk menciptakan daya saing global, Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), mendorong pelajar Indonesia menguasai bahasa Inggris.

Kemampuan berbahasa Inggris di Indonesia sangat banyak dipengaruhi oleh pendidikan alternatif karena kurangnya jam belajar bahasa Inggris dan pembiasaan bahasa Inggris di sekolah. Kemudian, muncullah beragam ide. Dalam skala mikro, Fathy Cayadi, guru bahasa Inggris di SMA 2 Tanete di Bulukumba, membaca dengan baik peluang ini. Ia mengadakan penelitian tidak resmi dengan menjejajaki lembaga pendidikan yang dianggapnya mempunyai kualitas yang punya daya saing. Pilihannya jatuh pada Rumah Belajar Bersama (RBB).

Oleh RBB, Fathy dipercaya punya kemampuan praktik bahasa Inggris yang bagus untuk menangani pelajar sekolah. Namun, ia tidak serta merta bangga. Berbekal pengetahuan Inggrisnya, ia mampu membaca bahwa RBB menerobos pembelajaran yang tidak lazim dilakukan. Karena itu Ia ingin kurikulum RBB yang meliputi Reading, Speaking, Grammar dan Pronunciation (Bacaan, Bicara, Tata Bahasa dan Pengucapan) diterapkan juga di Tanete.

Ditilik dari kejadian terbaru, tahun 2026 ini, pelajar RBB yang baru saja kuliah bernama Andi Widya Maulidyah meraih emas pada grammar (tata bahasa) di Universitas Negeri Makassar dan bahkan, dua pelajar SD meraih emas pada olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional: Faiqa Qhinara Putri Ridwan pada National Science & Mathematics Academic Olympiad (NSMAO) dan Adeeva Syakila Zulfikar pada Kompetisi Sains Nasional (KOMPAS).

Capaian pada orang dewasa hingga anak-anak ini memberikan sinyal bahwa RBB mengendepankan SDM—inspirasi B. J. Habibie—dan turut mempersiapkan dan memperbanyak para pelajarnya pada kompetisi tingkat nasional dan internasional nantinya. Untuk itu pelebaran sayap lembaga seperti cabang di Tanete perlu diperluas dalam rangka merekrut dan membina pelajar berbakat.
Tanete Menjawab Tantangan Zaman
Penulis yang mengunjungi kelas perdana RBB di Tanete melihat potensi yang sangat besar dari para pelajar Miss Fathy. Spirit belajar mereka hampir sama dengan pelajar RBB di Kota Bulukumba. Mereka mampu mengikuti pelajaran, mendengar dengan baik dan berbicara dengan benar. Mereka hanya perlu mendapatkan pelajaran yang tersistematis.

Setelah mengetahui peluang pencerdasan yang sangat potensial dari pelajar di Tanete ini, yang dibutuhkan saat ini adalah konsistensi jam belajar yang melebihi jam belajar sekolah dan pendampingan pemahaman pelajaran yang berkelanjutan–inilah posisi yang paling penting dari Miss Fathy.

Kombinasi yang apik antar guru dan para pelajar akan terwujud dengan dukungan orang tua pelajar. Kita tahu tantangan terberat pelajar zaman sekarang ini adalah gadget yang membunuh kreatifitas pelajar. Orang tua sadar bahwa mengikutkan anak pelajaran bahasa Inggris dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan produktif, solusi pengetahuan dari kebuntuan menghabiskan waktu dengan percuma bermain games.
Ini adalah kunci menuju tangga keberhasilan. “Kebanyakan pelajar yang bergabung,” kata Fathy, “karena orang tuanya yang menganjurkan. Ini adalah suatu bukti bahwa masyarakat Tanete juga punya kesadaran akan pentingnya bahasa Inggris di zaman sekarang.”

Guru, pelajar dan orang tua saling kait mengait sehingga perlu terus terkoordinasi dengan baik agar percepatan pencerdasan itu dapat dibumikan di lingkungan terdekat, tempat di mana kegiatan belajar tersebut berlangsung. Saatnya berpikir bahwa sumber daya alam adalah pendukung pengembangan SDM.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, 10 Juli 2026

Tinggalkan Balasan