Siapa yang datang lebih dahulu, dialah yang mendapatkan pelayanan. Seperti itulah gambaran sederhana bagi Aul yang terbiasa paling cepat datang di kelas pagi Kampung Belajar. Guru kelas yang senang melihat spirit dan disiplin belajar yang luar biasa ini pun senang dan memberikan pelajaran yang terbaik
—fokus perhatian tertuju pada satu orang saja, Aul itu sendiri.

“Aul, kamu bebas memilih. Mau belajar pronunciation, speaking atau reading?” tanya guru. “Saya sangat suka irregular verbs, Mister,” balas Aul. “Baiklah. Baca saja 70 perubahan irregular verbs itu beserta artinya,” respon guru yang mencoba masuk dari hal yang Aul senangi. Karena Aul seringkali mengulangi latihan ini, anak kelas 2 SD ini hanya melakukan kesalahan kecil dalam membaca dengan suara nyaring. Ia menuntaskan bacaannya dengan hati yang gembira.

“Saya sudah lulus kan, Mister?” tanya Aul. Guru tertawa dan menjawab, “Belum. Materinya harus kamu pahami di luar kepala. Kemudahan diberikan dengan cara kamu boleh melihat verb 1. verb 2 dan verb 3 harus kamu endapkan baik dalam pikiranmu karena hal itu tidak boleh kamu lihat,” ungkap gurunya. Aul terheran-heran tapi tidak menanggapi. Ia mungkin sadar karena ia melihat rekan lainnya yang hampir seumuran dengannya mampu memahami irregular verbs dengan aturan yang menurutnya agak ketat tersebut. Dengan pemahaman itu, ia selalu berusaha untuk bisa selevel dengan pelajar lainnya.

Ketika pelajar Kampung Belajar yang lain datang, mereka pun ikut arus–membaca irregular verbs hingga tuntas. Satu persatu tampil di depan kamera melalui siaran langsung di Facebook. Kemajuan mereka juga menggembirakan. Mereka sudah sama memungkinkan untuk dikelola pada pelajaran tenses di luar kepala, sebuah pengantar untuk membuka pintu gerbang pemahaman kalimat dalam bahasa Inggris.

Setelah urusan irregular verbs ini selesai, semua orang tahu bahwa ini adalah hari terakhir mereka berada di Kampung Belajar. Agar ada kenangan, guru meminta semua pelajar menuliskan pengalamannya selama berada di Kampung Belajar. Ada yang sekedar mencatat poin-poin saja yang hendak disampaikan dan ada juga yang membuat karangan esai. Mereka belajar mengungkapkan hal-hal yang berkesan baik mengenai pelajaran dan atau bermain.

Kebebasan berekspresi dan mengutamakan pendapat ini adalah jalan untuk mengembangkan pola pikir dan kepercayaan diri menyampaikan pendapat sendiri. Segera setelah setiap orang selesai berbicara, sesi tanya jawab dibuka. Semua rekan yang mendengarkan penjelasan berhak bertanya, apapun itu, tiada sekat kepada sesama rekan belajar. Pertanyaan serius seperti pelajaran yang sulit dan santai seperti makanan kesukaan saat keluar main jadi bahan pembicaraan yang menarik. Pembicaraannya mengalir apa adanya.

Momentum menjelang perpisahan ini dijadikan pengingat bahwa pendidikan itu sebenarnya adalah kebebasan itu sendiri. Hal ini selaras dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia, yang percaya bahwa pendidikan harus memerdekakan manusia secara utuh, baik secara lahir, batin, maupun tenaganya. Semua orang diperlakukan dan diberikan kesempatan yang sama. Yang membedakan adalah tingkat usaha dari pelajar itu sendiri.
Untuk itu, para pelajar dan manusia pada umumnya memang harus menghargai waktu sebaik-baiknya. Orang yang menghargai waktu adalah orang yang disiplin dan bisa diandalkan. Orang yang tidak menghargai waktu meskipun pintar, tidak disiplin, akan tenggelam. “Tidak ada yang bertahan di tangan orang yang tidak disiplin,” kata Imam Ali bin Abi Thalib.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at 10 Juli 2026

Tinggalkan Balasan