Kategori: Program

Program dan mata pelajaran dari Rumah Belajar Bersama

  • Jadwal Padat, Bukan Hambatan Belajar

    Jadwal Padat, Bukan Hambatan Belajar

    Belva dan Gavino dua orang bersaudara yang selalu menyapa dalam Bahasa Inggris baik saat baru datang ke kelas ataupun mau pulang. Ini mereka lakukan sejak pertama kali bergabung di RBB (Rumah Belajar Bersama) dan terus bertahan sampai sekarang.

    Hebatnya lagi, mereka selalu bertanya hal hal yang baru yang mereka dapatkan di luar kelas. Misalnya, secara tiba-tiba mereka bertanya, ‘What is the English of cicak?’ Kata ‘cicak’ tidak didapatkan dari kelas tapi dari rumahnya. Beragam kosa-kata baru digunakan untuk mengetes rekan kelasnya dan bahkan ke gurunya.

    Ini menandakan bahwa dua orang bersaudara ini belajar di rumahnya. Orang tuanya nampaknya memberikan fasilitas tambahan seperti buku-buku dan mengajarkan hal-hal yang sederhana yang mampu dicerna oleh otak anak-anak.

    Keunggulan lain yang Belva dan Gavino peroleh ialah meskipun keduanya tidak full masuk kelas yaitu lima kali belajar dalam seminggu karena ikut kelas Matematika di mana sebagian jamnya bertabrakan dengan kelas Inggris, mereka tidak ketinggalan materi, bersedia membaca lebih banyak yang membuatnya lekas tamat buku basic Reading (Bacaan Dasar). Cara membacanya pun cukup bagus dan jelas dimengerti. Hal yang wajar ketika gurunya memperkenannya masuk pada buku reading tahap kedua.

    Kendala
    Belva dan Gavino mengikuti kelas mengaji di siang hingga sore hari, jam yang tidak bisa diganggu gugat mengingat orang tua berpikir bahwa mengaji itu wajib. Di sini lain, orang tuanya juga sadar bahwa Bahasa Inggris dan Matematika juga sangat penting agar anak-anaknya nyambung pelajaran sekolah dan
    bekal untuk punya daya saing dalam menempuh cita-citanya.

    Matematika dan Bahasa Inggris pada akhirnya dipelajari di malam hari. Penulis seringkali mengajaknya untuk mengikuti kelas Bahasa Inggris setelah kelas Matematikanya selesai. Belva dan Gavino lebih sering menolak daripada menerima dengan alasan capek. Maklum, anak-anak juga punya keinginan untuk bermain dan haknya itu harus diberikan. Tapi tak jarang juga, saat bermain, mereka tiba-tiba bergabung di kelas Inggris karena melihat pelajarannya seru, seperti bermain.

    Pada pembelajaran ala bermain itu, pengetahuan yang diperoleh sedikit. Bukan masalah, minimal menambah kosa-kata. Pada akhirnya, pemikiran sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit adalah pilihan terbaik.

    Khusus untuk jam pelajaran Bahasa Inggris, tidak ada kendala yang berarti. Ketekunannya dalam membaca disertai menjawab soal-soal cerita bisa diandalkan. Dengan demikian, mereka punya peluang besar untuk tamat pada buku kedua.

    Seiring dengan perjalanan waktu, kemampuan Belva dan Gavino menyapa di RBB dan di lingkungan orang berbahasa Inggris pasti akan berkembang. Mereka pasti akan bisa bercerita banyak hal, bukan lagi ‘what is the English of …?’ tapi pada hal yang berhubungan dengan pengembangan wawasan. Itulah harapan kita semua.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba,. Rabu 20 Mei 2026

  • Different Approaches

    Different Approaches

    The Ministry of Primary and Secondary Education (Kemendigdasmen) no longer focuses on grammar in school English lessons. Instead, they focus more on active speaking. They believe this is effective for elementary and junior high school students.

    On the other hand, alternative education centers like RBB (Rumah Belajar Bersama) do the opposite. They design lessons so elementary school students can memorize grammar, especially tenses and their changes. For them, this is the most basic material for understanding sentences.

    If students learn too much grammar, will their speaking skills become slow?

    The answer can be yes if the lesson only focuses on grammar. However, the answer is no if the lesson also includes reading and speaking.
    Then, how can students answer test questions correctly if they do not know basic grammar, such as parts of speech and tenses? Do elementary and junior high school English tests focus on speaking?

    To answer the first question: written tests always require correct grammar. The only exception is multiple-choice questions, where students just click the answer they think is right. In multiple-choice tests, if students do not know the answer, they can guess. There is a chance to get it right by luck. However, on essay questions, the chance of guessing correctly is very low.

    To answer the second question: speaking tests are not common yet. This is because the current school curriculums (K13 and Merdeka Curriculum) still use written formats. Even at the university level, TOEFL tests do not always include a speaking section.

    The Solution

    Adeeva, a 4th-grade student, has memorized English tenses perfectly. Is her speaking rigid because she learns too much grammar? Not at all. Before learning grammar, she finished two English reading books. In the first book, she practiced reading aloud and understanding the meaning. In the second book, she answered questions based on stories. In this second stage, basic grammar was introduced because she needed it to write the correct answers.

    Now, she is reading her third book, Pre-Intermediate Reading, where the questions require more than just basic tenses.

    The benefit for Adeeva is that her speaking is more structured and organized. She feels more confident to speak because she knows what she says is correct. This is because her Reading, Speaking, and Grammar lessons work well together.
    By keeping grammar in the lessons, our students will also have a great chance to write essays, articles, or other texts. Writing is an important part of academic life. We can encourage children and teenagers to write down their ideas and even write books.

    Elementary school students have a great opportunity to be like Adeeva. They can master tenses without missing school curriculum targets, as long as we combine different English lessons properly.

    By 2027, the Ministry will implement English lessons starting from the 3rd grade of elementary school. They hope this will help students speak actively. After that, they will evaluate the pros and cons of the curriculum. Then, they can design a more comprehensive learning system to create globally competitive students.
    Will grammar get more attention in the future? Let’s wait and see.

    Overall, we may take different steps, but we have the same goal: to educate our nation’s children.

    Zulkarnain Patwa
    Tuesday, May 19, 2026

  • Beda Langkah

    Beda Langkah

    Kemendigdasmen (Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah) tidak menekankan lagi pada pendekatan grammar (Tata Bahasa) pada pelajaran Bahasa Inggris sekolah. Kementrian ini lebih fokus pada keaktifan berbicara para siswa. Menurutnya, ini efektif bagi anak-anak yang masih SD dan SMP.

    Berkebalikan dari hal di atas, lembaga pendidikan alternatif semacam RBB (Rumah Belajar Bersama) malah mendesain anak anak SD menguasai grammar khususnya tenses di luar kepala lengkap dengan segala perubahannya. Ini adalah materi paling mendasar pada tahu perpindahan kalimat.

    Apakah pelajar yang terlalu banyak grammar, kemampuan berbicara para pelajar bisa jadi lambat?

    Bisa ya bila saja pembelajarannya dominasi grammar dan bisa tidak bila pelajaran reading dan speaking dimaksukkan.

    Lantas, bagaimana para pelajar itu menjawab soal-soal dengan benar bila tidak punya fondasi grammar minimal kelas kata dan tenses? Apakah ujian Bahasa Inggris SD dan SMP mengarah ke speaking (bicara)?

    Menjawab pertanyaan pertama, ujian tulis selalu menuntut kebenaran tata bahasa kecuali jawaban dalam pilihan ganda, tinggal klik aja yang yang dianggap benar. Dalam pilihan ganda, bila pelajar tidak tahu, tebak-tebakan pasti berlaku. Ada peluang untuk bisa benar, tergantung tebakan tepat atau tidak. Pada soal essai, kemungkinan tebak-tebakan sangat rendah.

    Menjawab pertanyaan kedua, ujian speaking pasti belum berlaku mengingat kurikulum yang dipakai sekarang masih kurikulum K 13 dan Merdeka. Bahkan di tingkat universitas, ujian TOEFL tidak menawarkan ujian bicara.

    Solusi
    Adeeva seorang anak kelas 4 SD malah menguasai materi tenses luar kepala. Apakah ia kaku berbicara karena kebanyakan belajar grammar? Tentu tidak. Sebelum memasuki pelajaran grammar, ia menamatkan dua buku Reading (bacaan) berbahasa Inggris. Satu buku khusus sekedar membaca dengan suara nyaring disertai pemahaman arti bacaan dan satunya lagi, ia menjawab soal-soal cerita. Tahap kedua ini, dasar dasar grammar dimasukkan karena jawaban yang benar dibutuhkan.

    Sekarang, ia sedang berada pada buku ketiga, Pre Intermediate Reading di mana jawaban pada soal sudah melebihi materi tenses.

    Keuntungan yang Adeeva peroleh adalah kemampuan berbicara yang lebih terstruktur, tidak terbolak-balik. Ia pun lebih percaya diri untuk mengatakan sesuatu karena apa yang ia sampaikan telah ia yakini benar. Ya, itu karena ada keselarasan antara Reading, Speaking dan Grammar.

    Selain itu, dengan tidak mengesampingkan grammar, pelajar kita sangat berpeluang untuk menulis essai atau artikel dan lainnya. Bukankah menulis bagian dari tuntutan akademik? Kita tentu bisa mendorong anak anak dan remaja menuliskan gagasan-gagasannya dan bahkan mendorongnya menulis buku.

    Anak anak SD sangat berpeluang besar untuk punya kemampuan seperti Adeeva sanggup menguasai tenses luar kepala tanpa kehilangan target kurikulum selama kita mampu melakukan kombinasi pembelajaran yang tepat pada beragam materi dalam Bahasa Inggris yang tersedia.

    Pada 2027, Kemendigdasmen akan menerapkan Bahasa Inggris mulai dari kelas 3 SD dengan harapan keaktifan berbicara siswa-siswi dapat berjalan dengan baik. Setelah itu, mereka akan membaca plus minus dari penerapan kurikulum dan dapat merancang pembelajaran yang lebih komprehensif agar target mencetak pelajar yang punya daya saing global yang mereka inginkan dapat terwujud.

    Apakah grammar akan mendapatkan perhatian lebih? Let’s wait and see.

    Overall, kita bisa beda langkah tapi punya tujuan yang sama yaitu mencerdaskan anak bangsa.

    Zulkarnain Patwa
    Selasa, 19 Mei 2026

  • Membangkitkan Literasi Pelajar

    Membangkitkan Literasi Pelajar

    Menamatkan buku disertai pemahaman adalah hal istimewa bagi pelajar Indonesia. Betapa tidak, penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) pada 2022, literasi pelajar Indonesia berumur 15 tahun berada pada urutan 68 dari 81 negara, nomer 13 terbawah. Indonesia meraih Skor 359 dengan ukuran rata rata 476 untuk skor rata-rata negara. Hasil penelitian PISA pada 2025 belum terpublikasikan pada 2026.

    Skor Indonesia di PISA dari tahun ke tahun.

    Muhammad Sandy Junandra, umur 12, bagian dari sedikit anak yang punya literasi yang baik dengan pembuktian menamatkan buku Basic English Grammar (Tata Bahasa Inggris Dasar) yang tebalnya hampir 600 halaman. Buku karya Betty Scrampfer Azar berstandar internasional itu berisi segudang soal-soal latihan didahului kotak penjelasan untuk cara mengerjakan. Pelajar kelas 1 SMP ini harus berjuang hampir satu tahun untuk menyelesaikan 16 bab.

    Sebenarnya Andra (Maksudnya Muhammad Sandy Junandra) bisa lebih cepat menyelesaikan buku grammar itu”, Kata Agung Pratama Salassa. “Ia lebih banyak bersantai mengerjakannya sehingga ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya butuh waktu agak lama”, lanjut guru kelas grammar-nya itu di RBB (Rumah Belajar Bersama). “Padahal, membaca dari kemampuannya sewaktu Ramadhan, fokus belajar Andra sangat bagus. Ia seharusnya bisa jauh lebih cepat tamat”, ungkap Agung tahu potensi pelajarnya.

    Agung Pratama Salassa bersama Andra.

    Sepertinya Andra butuh mendapatkan tantangan yang besar. “Biarpun tidak pergi ke sekolah, Saya bisa tahu Bahasa Inggris”, kata Andra. “Yang dibahas di sekolah masih simple present dan simple past saja”, tambahnya. Penulis mengerti bahwa materi itu telah ia telah pelajari tahun lalu. Dari sini terlihat bahwa meskipun dirinya tidak menamatkan buku, ia sudah merasa sanggup. Tuntutan RBB lah yang mewajibkannya tamat agar ia bisa mendapatkan pelajaran yang lebih tinggi.

    Karena kurikulum sekolah tidak membahas grammar secara detail, penulis mencoba menanyakan bacaan Inggris pada buku kurikulumnya. Andra mengaku dirinya tidak mempunyai masalah sama sekali. “Cukup dibaca saja”, terangnya. “Apakah kamu mengerti?” tanya penulis. “Ya” jawabnya dengan penuh percaya diri. Penulis tidak menanyakan lebih jauh cara menjawab soal-soal pada bacaan tersebut karena yakin bahwa jawabannya pasti sama saja. Pendeknya, dengan mempelajari grammar, ia mudah mengerti bacaan Inggris karena buku grammar di RBB yang ia pelajari juga banyak mengandung cerita-cerita berbahasa Inggris.

    Untuk pembelajaran lanjutan, Andra tidak bisa berkomentar seringan itu lagi. Mr. Agung tidak serta merta memperbolehkan Andra masuk pada buku tahap kedua, Pre Intermediate Grammar karena pendalaman Kelas Kata, Frase dan Klausa yang sebagian materinya yang tidak dibahas di basic kini wajib ia pahami. Menurut Mr. Agung, Ini langkah penguatan agar lebih siap mengahadapi soal-soal yang lebih kompleks. Dan Andra tidak keberatan, terlihat menikmati pelajaran yang nampaknya baru buatnya itu.

    Tiada hari tanpa belajar.

    Untuk percepatan kecerdasan dan menciptakan semangat belajar lebih tinggi, Andra perlu mengikuti lomba Bahasa Inggris khususnya grammar karena itu adalah keahlian yang sedang ia dalami. Ada baiknya juga ia aktif menjadi anggota Perpustakaan Daerah Bulukumba untuk memperkaya khazanah intelektualnya. Mengenai reading and speaking (Bacaan dan bicara), ia bisa berselancar di internet untuk membiasakan membaca teks berbahasa inggris dan mencari perkumpulan orang yang aktif speaking secara online.

    Gerakan literasi seperti yang dilakukan Andra layak dicontoh, turut membantu menyelesaikan pelajaran sekolah. Ketika ia mengerti minimal buku bacaan Inggris sekolah, ia telah mempunyai modal untuk melangkah pada buku buku Inggris non sekolah.

    Pilihan untuk belajar selain dari pendidikan formal adalah solusi untuk membantah penelitian PISA di masa akan datang. Sekarang ini, Perpustakaan Daerah di berbagai macam daerah juga aktif menjalin kerjasama dengan pendidikan formal. Ruang ruang literasi akan berjalan lebih massif bila pendidikan formal dan non formal saling mendukung gerakan literasi. Bukankah negara-negara yang maju itu punya literasi yang mapan? Indonesia pun bisa.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 18 Mei 2026

  • Mental Strengthening for Students

    Mental Strengthening for Students

    Bridging smart teachers and talented students together has happened many times through a partnership between GAIA in Pati, Central Java, and RBB (Rumah Belajar Bersama) in Bulukumba, South Sulawesi. What made this fifth online English meeting special was that each institution sent four students to participate in a question and answer session.

    This idea came up after Miss Salma Minasaroh from GAIA filled the teaching sessions four times. The RBB children were very excited to learn from her. It would be much better if the GAIA children could also join, so that students across islands—Java and Sulawesi—could connect. She agreed. To make it effective, the number of participants was very limited so that everyone had enough chance to speak and answer twenty questions.When they met on the screen, the children just looked at each other. None of them greeted each other or started a conversation until the silence was broken when Miss Salma took over the class for the English lesson.

    The question and answer session went very smoothly. Only one or two English words from the students’ conversation were hard to understand. In short, the English learning process ran normally. The secret lay in the skill and experience of the teacher, an alumna of two universities, UAD and UGM Yogyakarta. She knew exactly how to manage a classroom and the students had practiced well on the question and answer materials that would be discussed online.

    After understanding the basics of simple conversation, our students should be motivated to be brave enough to communicate with other people, not just their teachers. Yes, we know that children tend to be shy around people they just met. That is our challenge for the future, so they can become close friends with fellow Indonesian students before stepping further into international relations between countries.

    GAIA and RBB, which are part of the institutions focused on developing the quality of Indonesian students, are certainly ready to move in that direction. Based on the evaluation above, a better plan for the next online learning has been prepared. Knowledge and mental strength must walk hand in hand. Do you have any interesting ideas too? Let’s see. That’s all for now

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sunday, May 17, 2026

  • Penguatan Mental Pelajar

    Penguatan Mental Pelajar

    Mempertemukan guru dan pelajar berbakat telah berulang-ulang terlaksana melalui kerjasama antara GAIA di Pati, Jawa Tengah dan RBB (Rumah Belajar Bersama), Bulukimba, Sulawesi Selatan. Yang istimewa pada pertemuan kelima English online ini adalah masing masing lembaga memasukkan empat orang pelajarnya untuk materi tanya jawab.

    Ide ini muncul setelah Miss Salma Minasaroh dari GAIA telah empat kali mengisi materi. Anak-anak RBB sangat antusias belajar darinya. Alangkah ini lebih baik bila anak-anak GAIA juga dapat terlibat agar terdapat keterhubungan pelajar lintas pulau: Jawa dan Sulawesi. Dia sepakat. Agar efektif, jumlah peserta dibuat sangat terbatas agar semua peserta punya kesempatan cukup untuk berbicara menjawab dua puluh soal.

    Saat bertemu di layar, anak anak itu saling tatap muka saja. Tidak ada di antara mereka yang saling menyapa dan memulai pembicaraan hingga keheningan terpecahkan ketika Miss Salma mengambil alih kelas untuk pembelajaran Bahasa Inggris.

    Tanya jawab berlangsung sangat lancar. Satu dua kata kosa kata Inggris saja dari pembicaraan para pelajar itu yang sulit dimengerti. Pendek kata, urusan pembelajaran Bahasa Inggris berjalan normal. Rahasianya terletak pada kemampuan dan pengalaman guru alumni dua universitas yaitu UAD dan UGM Yogyakarta tersebut yang sudah tahu betul cara mengelola kelas belajar dan para pelajar yang telah berlatih dengan matang pada materi tanya jawab yang akan dibahas secara online.

    Setelah memahami dasar dasar percakapan sederhana, para pelajar kita sebaiknya dimotivasi untuk berani berkomunikasi dengan orang lain, bukan sebatas guru saja. Ya, kita tahu anak anak itu cenderung pemalu pada orang yang mereka baru kenal. Itulah yang menjadi tantangan kita ke depan agar mereka mampu berakrab ria sesama pelajar Indonesia sebelum melangkah lebih jauh pada pergaulan internasional antar negara.

    GAIA dan RBB yang termasuk bagian dari lembaga yang fokus pada pengembangan kwalitas pelajar Indonesia tentu siap mengerakkan ke arah tersebut. Berangkat dari evaluasi di atas, rancangan lebih baik pada pembelajaran online berikutnya telah disiapkan. Pengetahuan dan mental harus saling bergandeng tangan. Apakah Anda punya ide menarik juga? Let’s see. Sekian.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 17 Mei 2026

  • Leadership and Freedom of Expression

    Leadership and Freedom of Expression

    The classroom atmosphere which was not crowded made the writer have more opportunity in designing these students to practice leadership when learning English. The first thing done was appointing Adeeva as the leader because she was the only child who had finished two English storybooks and completed the story questions. The third book she is studying now is also almost finished. The other students are still at the stage of trying to finish books one and two.Adeeva accepted the offer and got the right to control the class as she pleased for 30 minutes. Before Adeeva asked her colleagues to read the second-stage storybook, Belva suggested, “I also want to lead the class, Mr. May I?”

    The writer said, “The leadership has fallen to Adeeva. Please convey your suggestion to her.””After Adeeva leads one reading, may I be the one who leads? Then Gavino and Aliza lead too after I am finished,” said Belva hopefully.”Yes,” Adeeva answered shortly.Everyone shouted, “Hooray.”

    So the class for about 20 minutes ran according to their agreement. Because the time was not up yet, the leadership returned to Adeeva. She suggested to practice orally on the preposition of place–Strengthening of the material that had been learned the day before. Everyone claimed to have been fluent and one by one alternately practiced in front of Adeeva.

    A break time was given for 15 minutes.In the remaining 45 minutes, Belva suggested something again.”Mr., everyone reads one lesson according to their choice.”A good idea. “Okay. How about the others? Agree?” asked the writer.”Agree,” said the children in unison.

    “Alright. But what is read is not only the story in the lesson but also the questions so that your reading is firmer.” No one objected.Gavino and Aliza took an easy reading. Because they were free to choose, there was no protest. Meanwhile, Adeeva read the lesson which was almost on the last page and it was read very well.Belva appeared different. He was the only student who wanted to read two lessons.

    “I want to read twice,” she said.

    “No problem. Please go ahead. That is even better for you,” said the writer. When everyone had finished, they looked very satisfied. Why? Because the suggestion about the way of learning they wanted was fulfilled, deliberated and without any coercion.

    From here we can see these children have learned to express their opinions which without them realizing it, they have practiced to be leaders, managing the class like an experienced teacher because the class can run according to the target. Besides that, the courage to express one’s own thoughts and self-confidence are also built.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Saturday, May 16, 2026.

  • Kepemimpinan dan Kebebasan Berpendapat

    Kepemimpinan dan Kebebasan Berpendapat

    Suasana kelas yang sedang tidak padat membuat penulis punya kesempatan lebih dalam merancang para pelajar ini untuk melatih kepemimpinan saat belajar Bahasa Inggris. Hal yang pertama dilakukan adalah menunjuk Adeeva sebagai pemimpin karena dia adalah anak satu-satunya yang telah tamat dua buku cerita berbahasa Inggris dan menyelesaikan soal soal cerita. Buku ketiga yang sedang ia pelajari sekarang pun hampir tamat. Pelajar yang lain masih tahap sedang berusaha menamatkan buku satu dan dua.

    Adeeva menerima tawaran tersebut dan mendapatkan hak mengendalikan kelas sesukanya selama 30 menit. Sebelum Adeeva meminta rekan rekannya membaca buku cerita tahap kedua, Belva mengusulkan, “Saya juga mau memimpin kelas, Mr. Boleh?”

    Penulis berkata, “Kepemimpinan telah jatuh kepada Adeeva. Silahkan sampaikan usulanmu kepadanya”.

    “Setelah Adeeva memimpin satu bacaan, bolehkah saya yang memimpin? Lalu Gavino dan Aliza memimpin juga setelah saya selesai”, kata Belva penuh harap.

    “Boleh”, jawab Adeeva singkat.

    Semua berteriak, “Hore”.

    Maka kelas sekitar 20 menit berjalan sesuai kesepakatan mereka. Karena waktu belum habis, kepemimpinan pun kembali ke Adeeva. Ia mengusulkan untuk praktek lisan pada preposition of place (Kata depan untuk tempat)–Pemantapan materi yang telah dipelajari sehari sebelumnya. Semuanya mengaku telah lancar dan satu persatu secara bergiliran praktek di depan Adeeva.

    Waktu istirahat diberikan selama 15 menit.

    Pada 45 menit yang tersisa, Belva mengusulkan sesuatu lagi.

    “Mr., setiap orang membaca satu lesson yang sesuai pilihannya”.

    Ide yang bagus. “Oke. Bagaimana yang lain? Sepakat?” tanya penulis.

    “Sepakat”, kata anak anak serentak.

    “Baiklah. Tapi yang dibaca bukan hanya cerita pada lesson tapi juga soal-soalnya agar bacaan kalian lebih mantap”. Tidak ada yang keberatan.

    Gavino dan Aliza mengambil bacaan yang mudah. Karena bebas memilih, tidak ada protes. Sedangkan Adeeva membaca lesson yang hampir pada halaman terakhir dan dibaca dengan sangat baik.

    Belva tampil beda. Ia satu satunya pelajar yang ingin membaca dua lessons.

    “Saya mau dua kali membaca”, katanya.

    “Tidak masalah. Silahkan saja. Itu malah lebih bagus buatmu”, kata penulis.

    Saat semua telah selesai, mereka terlihat sangat puas. Mengapa? Karena usulan tentang cara belajar yang mereka inginkan dipenuhi, dimusyawarahkan dan tanpa ada paksaan.

    Dari sini kita dapat melihat anak anak ini telah belajar untuk mengutarakan pendapatnya yang tanpa mereka sadari, mereka telah berlatih untuk menjadi pemimpin, mengelola kelas layaknya seorang guru yang berpengalaman karena kelas dapat berjalan sesuai target. Selain itu keberanian mengutarakan pikiran sendiri dan kepercayaan diri juga terbangun.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 16 Mei 2026.

  • Perjuangan Belajar Arrumi

    Perjuangan Belajar Arrumi

    The best (Terbaik). Ungkapan singkat dari Arrumi Putri Irbeck yang baru saja menerima sertifikat kelulusan Ujian Tulis dan Lisan pada Tenses. Arrumi harus ujian sebanyak tujuh kali hingga ia dinyatakan lulus, paham luar kepala.

    Arrumi adalah alumni SMA 9 Ujung Loe dan tinggal di Desa Seppang. Ia harus berkendara motor seorang diri sekitar 20 sampai 25 menit untuk tiba ke RBB (Rumah Belajar Bersama) di kota Bulukumba. Selama tujuh bulan ia belajar Basic Grammar (Tata Bahasa Dasar) di bawah bimbingan Agung Pratama Salassa.

    “Metode belajar di RBB gampang dimengerti karena materinya tersusun rapi”, kata Arrumi. Untuk suasana kelas, “Banyak orang yang memang datang dengan niat mau “Guru gurunya juga baik dan ramah. Penjelasan materinya detail”, lanjutnya. Karena itu, ia tidak merasa rugi jauh jauh datang dari desa. Kwalitas seimbang dengan pengorbanan.

    Arrumi yang bercita cita kuliah di kampus kedinasan, sekarang ini mengikuti kursus kedinasan untuk menghadapi materi ujiannya. Ia memanfaatkan pengetahuan dasar Inggrisnya yang diperoleh untuk menganalisa soal soal. Ia merasa bersyukur karena dengan adanya basic yang bagus, ia dapat sedikit banyak mengerti cara menjawab dengan benar.

    Langkah Arrumi sudah tepat. RBB hanya memberikan materi tingkat lanjutan ke Pre Intermediate, Intermediate dan TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan sejenisnya hanya bagi pelajar yang lulus dari satu tahap ke tahap berikutnya. Karena waktunya yang terbatas, ia berjuang memahami Basic Grammar dan Tenses secara total. Itu cukuplah sebagai bekal utama untuk belajar secara acak. Dan menurutnya, dari bekal tersebut, ia bisa nyambung dengan latihan soal-soal kedinasan yang sedang ia pelajari saat ini.

    Seperti itulah mungkin tafsir “the best” Arrumi, menemukan kemudahan untuk melangkah lebih jauh menempuh cita cita. Mr. Agung sengaja memberikan ujian tulisan dan lisan karena tinggi kepada Arrumi dan pelajar lainnya karena ia ingin agar sertifikat kelulusan itu memang sesuai dengan kapasitas, mampu dipertanggungjawabkan. Dan setelah jatuh bangun tanpa kenal menyerah, Agung menyatakan Arrumi layak mendapatkan sertifikat kelulusan dengan nilai akhir termasuk kategori the best.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 16 Mei 2026

  • Little Leaders

    Little Leaders

    Students who possess greater intelligence than their classmates should be given trust and responsibility. Teachers can appoint them to lead a few classmates and teach the material they have already understood. By doing so, they will gain a deeper understanding because they must relearn the material through explanation. Their self-confidence will also grow. Meanwhile, the students being taught may feel more relaxed because they are learning from their peers and will likely be motivated to reach the same level of understanding.

    Adam is a student who quickly understands lessons. Once he has grasped the material being studied, he tends to draw or chat with nearby classmates. His influence spreads quickly, and soon the classroom becomes noisy—not because students are discussing the lesson, but because they are sharing childish gossip.

    Should Adam be punished? Not necessarily. Instead, he should be kept busy in a productive way while still being supervised. The teacher can appoint him as the leader of a small study group. He can be made responsible for teaching the material he understands to two or three classmates at first so that he does not become overwhelmed in managing the group. However, this process still requires supervision because Adam may return to chatting about unrelated topics instead of discussing the lesson.

    The same method can be applied to Nabila and Aliza. Each of them may choose several classmates they enjoy working with to teach. Afterward, the class can be divided into separate groups that remain close enough for the learning atmosphere to be visible to everyone. Around ten to fifteen minutes may be given for discussion and understanding. When the allotted time ends, each group presents what they have learned. Through this process, it becomes clear which groups are better able to learn and cooperate as a team.

    To identify weaknesses, the teacher may observe whether the group leader lacks the ability to explain the material clearly or whether the students being taught are simply not suited to this learning method. Personal guidance from the teacher is still necessary so that, in the future, the students can work together more effectively in achieving learning targets.

    The writer has read that this learning method feels more relaxed. Because students are not entirely dependent on the main classroom teacher, they tend to think more creatively by developing their own ways of understanding the material. These methods emerge through group discussion and mutual agreement led by their respective group leaders.

    Exceptional intelligence and the trust given to gifted students are powerful forces that can effectively influence their classmates to become smarter and more trustworthy as well. They, too, will aspire to gain the opportunity to become “little leaders” in the classroom.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Friday, May 15, 2026