Kategori: News

Berita terbaru dari Rumah Belajar Bersama

  • Speaking dan Reading

    Speaking dan Reading

    Banyak orang berpikir bahwa belajar bahasa asing itu urusan komunikasi. Itu benar karena kita akan menggunakannya berbicara dengan orang asing yang tidak menggunakan bahasa kita. Wajar bila kelas speaking (bicara) ramai peminatnya.

    Bagaimana bila pelajar membutuhkan hal lebih selain kemampuan berbicara? Tawaran yang menarik adalah kelas reading (membaca). Reading bagian dari cara pembaca mampu mengenali pemikiran orang lain lewat buku yang ditulisnya tanpa sang penulis perlu hadir di hadapannya. Kisah kisah tempo doeloe terjelaskan yang dapat dijadikan pelajaran untuk membaca dan mewujudkan cita-cita penulis di masa akan datang.

    Kelas Bahasa Inggris di Kampung Belajar mencoba untuk saling menghubungkan antara speaking dan reading. Untuk itu kelas binaan Mr. Ancha alias Pocha Pocha bertujuan untuk:

    1. Mendidik para pelajar memahami pembicaraan Bahasa Inggris lisan.
    2. Mendidik para pelajar membaca dengan suara nyaring dengan penekanan dan intonasi yang benar.
    3. Melatih para pelajar menjawab dan menggunakan segala model pertanyaan dan membangun fondasi kebiasaan berbicara Inggris.
    4. Melatih berekspresi secara lisan dengan bebas dengan berdiskusi mengenai tema tema yang dibahas pada buku bacaan.
    5. Mempersiapkan para pelajar untuk ujian standar internasional.

    Secara sederhana untuk mewujudkan target di atas, semua bagian bagian pada buku dibaca dan latihannya dikerjakan secara menyeluruh. Dengan demikian speaking dan reading menjadi alat pembelajaran yang sangat efektif membangun komunikasi berbahasa asing.

    Zulkarnain Patwa

  • Membangun Kepercayaan Diri Berbicara 

    Membangun Kepercayaan Diri Berbicara 

    Kelemahan itu dapat dijadikan kekuatan dengan cara membenahi kelemahan. Para pelajar sekolah yang kami temui kebanyakan masih sangat malu untuk mengekspresikan pendapatnya secara resmi di depan kelas Takkala diminta untuk berpendapat, mereka biasanya salin menunjuk orang lain untuk berbicara atau hanya terdiam hingga pertanyaan itu berlalu. Masalah klasik ini sering kita temui dari pelajar SD, SMP dan SMA.

    Di Kampung Belajar, Mr. Ancha (Pocha Pocha) pengajar kelas Reading (Membaca) kewalahan mengajak para pelajarnya untuk berkomunikasi langsung dalam Bahasa Inggris meskipun pelajar tersebut telah membaca buku lumayan banyak. Ia pun mengambil inisiatif dengan meminta agar tiap pelajar mengekspresikan gagasannya dalam bentuk tulisan didahului dengan pengajaran cara cara membuat tulisan sederhana dan berkesan. Suasana pun mejadi semarak. Mereka ternyata masing-masing punya pengalaman berharga yang dituangkan dalam tulisan. Mr. Ancha membantu menerjemahkan ke dalam Bahasa Inggris yang kemudian dibuat dalam bentuk interaksi d dimana dua orang berpasangan saling bercerita. Pada tahap ini, teks tidak dipakai lagi. Tidaklah sulit untuk menghapal teks karena semuanya berdasar.pada pengalamannya.

    Strategi ini cukup sukses. Pada akhir Minggu pertama, empat orang pelajar telah berhasil membuat rekaman obrolan dalam Bahasa Inggris. Dan memasuki minggu kedua ini, tiga orang pun mampu melakukan hal yang sama Setiap pelajar tidak ingin tertinggal. Mereka telah menemukan cara untuk mengekspresikan gagasan dan sekaligus berbahasa Inggris. Suatu tanda bahwa bahasa Inggris itu pelajaran yang dapat dinikmati dan membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi.

    Capaian ini tentu tidak hanya berhenti sampai di sini saja. Kita pun telah mendeteksi kelemahan yang paling mendasar yaitu grammar (tata bahasa). Kemampuan membaca teks dan pola komunikasi yang berkelas hingga sesuai standar akademik sangat besar dipengaruhi oleh grammar. Mr. Agung Pratama Salassa masih sedang berjuang membuat para pelajar tersebut mampu menganalisa soal soal latihan. Dari kesanggupan menjawab latihan tersebut, perlahan tapi pasti, kita telah menanamkan kepercayaan bahwa grammar itu tidak sulit.

    Kelemahan pada Basic Grammar tersebut dapat dituntaskan dengan pemahaman tenses luar kepala. 180 jam belajar dengan 120 pertemuan adalah waktu yang cukup luang untuk menuntaskan tenses. Untuk mencapai target tersebut, semua guru di Rumah Belajar Bersama saling bahu membahu melakukan riview materi agar tenses tuntas maksimal tepat program Kampung Belajar ini selesai pada 9 Januari 2025.

    Sebenarnya ada beberapa target lagi yang ingin dijelaskan cuma karena penulis sudah agak mengantuk, lain kali dilanjutkan lagi. Menulis saat mengantuk itu juga tanda kelemahan. Jadi perlu istirahat untuk menghimpun tenaga agar pikiran dan fisik kembali kuat. Semoga nanti berlanjut

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

    Foto pada Senin, 22 Desember 2025.

  • Penguatan Basic Grammar di Kampung Belajar

    Penguatan Basic Grammar di Kampung Belajar

    Grammar (tata bahasa) adalah pembelajaran yang tersistematis dan menguras banyak energi berpikir untuk dapat memahaminya. Grammar bukan hanya ukuran fundamental bagi dunia pendidikan akademik tetapi juga tulisan resmi dan kemampuan berbicara yang tergolong ‘intelek’ itu pastilah punya standar tata bahasa.

    Karena begitu rumitnya memahamkan Basic Grammar, para guru pun bekerja ekstra. Kelas utama grammar ini dipercayakan kepada Mr. Agung Pratama Salassa, seorang pemuda berbakat yang sekitar tujuh tahun tinggal di Kampung Inggris, Jawa Timur, selalu berusaha maksimal membuat seluruh para peserta pemula di Kampung Belajar mengerti materi basic ini. Loncatan berarti terlihat karena dalam seminggu, peserta didik ini telah menyelesaikan latihan soal-soal dalam dua bab dan kini masuk bab ketiga. Isinya mencakup struktur simple present baik nominal.maupun verbal tenses disertai beberapa pola penggunaannya.

    Tapi ini bukan berarti bahwa pelajar telah paham total. Karena itu, kelas lain yang dihandle oleh Mr. Ancha memberikan dukungan pemahaman dengan melatih pelajar menulis dimana terjemahannya dibuat sedemikian rupa berhubungan dengan materi grammar yang sedang dipelajari. Penulis yang juga bertugas mengajar pronunciation (pengucapan) turut me-review materi grammar dengan menghubungkan dengan pronounciation. Para pelajar diajak membaca ulang dengan suara nyaring pada latihan grammar-nya yang berguna untuk mengetahui tingkat kesalahan dan sekaligus pendalaman tata bahasa serta memperbaiki cara pelafalan yang benar dalan tiap kata hingga kalimat.

    Memasuki minggu kedua, materi simple present pada grammar telah lebih utuh dimengerti. Dasar penguatannya terlebih dahulu diletakkan pada teks yang kemudian teks dilepas. Semua materi harus mampu diucapkan secara lisan tanpa melihat lagi buku catatan lagi. Dan karena disiarkan secara live (siaran langsung), semua pelajar berusaha secara maksimal dan yang hadir pagi tadi mampu melakukannya dengan baik, hampir sempurna.

    Pancaran kebahagiaan pun tersebar di dalam kelas. Jelang kelas pagi selesai, tiap orang masing mengeluarkan alasan mengapa Tenses paling dasar seperti simple present itu telat mereka pahami. Inti yang dapat kita sampaikan di sini adalah terdapat sebuah metode yang efektif, jam belajar yang padat dan semua yang terlibat melakukan yang terbaik. Cara pandang para pelajar pun tentang kerumitan pada grammar itu perlahan berubah menjadi lebih sederhana. Ini menjadi motivasi yang kuat untuk berani menghadapi bab bab selanjutnya pada grammar.

    Betapapun Kampung Belajar hanya sekedar pengisi waktu luang bagi orang yang tidak punya kegiatan liburan ke luar kota selama liburan sekolah, kami percaya ini adalah waktu yang terbaik untuk memasukkan materi terpenting dalam bahasa Inggris: Speaking (bicara), Reading (Membaca), Grammar (tata bahasa) dan Pronounciation (pengucapan) dapat dibedah secara mendalam. Itu sangat memungkinkan karena pelajar tidak disibukkan dengan urusan pelajaran sekolah sehingga mereka dapat fokus pada semua materi yang disediakan di Kampung Belajar. Paling sedikit, materi gambaran garis besar basic dapat dimengerti.

    Modal awal tersebut menjadi pembuka jalan lebar untuk menapaki sistematika grammar tingkat menengah dan lanjutan. Para pelajar yang berbicara dengan tata bahasa yang baik pastilah mampu tercipta lagi.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

    Selasa, 23 Desember 2025

  • Sekilas tentang Kampung Belajar

    Sekilas tentang Kampung Belajar

    Sekelompok kecil para pelajar SD, SMP dan SMA yang bergabung di Kampung Belajar selama liburan sekolah ini percaya bahwa Bahasa Inggris dapat membangun cita citanya tinggi. Ada yang mau jadi guru, dokter dan bahkan mau kuliah ke keluar negeri. Mereka datang dengan penuh semangat untuk belajar memahami setiap materi yang penting dan mereka yakini sangat berguna untuk masa depannya.

    Perbedaan umur atau jenjang sekolah bukanlah kendala untuk membuatnya bersatu dalam satu ruangan. Maklum, semuanya masih tergolong pemula dari segala tingkatan. Itu bagus karena tidak ada yang paling menonjol sehingga para pelajar ini saling berlomba untuk paling cepat memahami pelajaran di luar kepala. Yang lebih dahulu mengerti dan punya keberanian angkat tangan, dialah yang mendapatkan rekaman biasa ataupun siaran langsung, sebuah strategi agar mereka mau belajar serius dimana tiap pelajar tidak ingin tampil buruk di depan kamera. Lagi pula, tidak ada proses editing. Dalam dua hari, tidak ada satupun yang gagal membuat conversation (percakapan) tanpa teks. Itu berarti mereka mampu mengingat bahan pembicaraannya.

    Pada kelas Reading (Bacaan), mereka diminta membaca buku cerita dengan suara nyaring, memahami isinya dan menjawab soal-soalnya. Ini berguna untuk kebutuhan akademik dan penguatan budaya literasi. Kita ingin kemampuan berbicara Inggris dan membaca buku buku inggris dijadikan alat untuk mendapatkan pengetahuan dan mengakses informasi tertulis.

    Kelas grammar (tata bahasa) yang merupakan momok bagi para pelajar Indonesia sudah dapat ditebak. Mereka benar-benar pemula juga dan masih belajar menentukan kata benda (noun) yang tunggal dan jamak, adjective (kata sifat) dan adverb (kata keterangan) serta bagaimana kata kerja berlaku pada sebuah subjek. Dan setelah mereka mengerjakan latihan, Basic Grammar tersebut dibaca kembali disertai rekaman video dan dibuat contoh percakapan agar apa yang telah diikat dengan tulisan lebih mahir diucapkan.

    Kelas pronunciation (pengucapan) pun punya daya kesan tersendiri. Mereka disadarkan bahwa salah ucap mengakibatkan salah makna. Bagaimana mengucapkan kosa kata yang mirip dengan benar? Misal set vs sat, feel vs fill dan green vs grin dan masih banyak lagi. Mereka diberitahu arti pada perbedaan kata tersebut yang membuatnya jadi lebih peduli untuk fasih dalam berbicara.

    Conversation, Reading, Grammar dan Pronunciation pada Kampung Belajar ini dibuat saling terhubung erat. Semua kelas jadi penting. Enam kali pertemuan belajar dengan sedikitnya menghabiskan waktu sembilan jam dalam sehari itu benar-benar dimanfaatkan secara maksimal. Terdapat waktu yang cukup bila ada pelajar untuk review bagi yang mengalami kesulitan ataupun ingin pendalaman materi lebih lanjut.

    oppo_2

    Liburan sekolah memang tidak membawa mereka pergi jalan-jalan sebagaimana orang lain yang punya kesempatan. Mereka berlibur di kampung halamannya dengan menikmati dunia belajar yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Kesenangan tentu mengiringi karena materi hanya dapat dilanjutkan bila dimengerti. Di Kampung Belajar ini, selama mereka tekun dan berjuang dengan sungguh-sungguh, tidak ada alasan yang cukup untuk untuk tidak mengerti. Guru-guru kelasnya pun tergolong berpengetahuan luas dan berpengalaman belajar dan mengajar di Kampung Inggris Pare Kediri Jawa Timur dan sarjana di universitas.

    Sebuah kombinasi yang apik untuk mewujudkan cita-cita pada pelajar dan target Rumah Belajar Bersama (RBB) yang memilih mengedepankan kwalitas sumber daya manusia dalam mendidik para pelajar. Di sinilah, kita meramu pelajar SD, SMP dan SMA saling mendukung untuk mewujudkan cita-cita yang tinggi tersebut. Demikian sekilas tentang Kampung Belajar, 2025 di Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

  • Juara Dayung SEA GAMES untuk Indonesia

    Juara Dayung SEA GAMES untuk Indonesia

    Target raih emas, kenyataan raih perak pada ajang SEA GAMES kali ini di Thailand, 2025. Indonesia memang mengalahkan tuan rumah Thailand pada posisi nomor tiga belum mampu melambung Vietnam.

    Itulah yang diraih atlet dayung Indonesia dimana salah seorang dari mereka ada yang kukenal dekat, Nur Azizah Patwa, mungkin karena mirip nama penulis 😀 .Teamnya sudah berjuang yang terbaik untuk Indonesia.

    Penulis tahu anak ini mengalami perubahan pola pikir dan sikap yang sangat berarti sejak di SMA. Sebelumnya Azizah hanya dikenal dengan istilah battala (gemuk) seperti badan pemain Sumo. Penulis menyebutnya gumbang (semacam guci air di taruh di tangga rumah kayu untuk cuci kaki) tapi tidak pernah menyebutkan itu secara langsung padanya dan berharap tidak pernah diketahuinya hingga kapan pun untuk menghargai perasaannya yang tanpa sadar memilih jalan hidup sebagai manusia battala.

    Tapi siapa sangka perjalanan hidup manusia yang panjang ini. Kedua orang tua Azizah, Sultan Rasyid Patwa dan Nur Wahidah Bakkas Tumengkol (almarhumah), dengan penuh kesabaran selalu memberikan pandangan tentang cara meraih masa depan yang cerah. Semua ini dilakukan tanpa paksaan agar pilihan hidup itu dilakukan secara sadar. Entah nasehat apa yang mengendap baik dalam pikirannya. Yang jelas, ia pun berubah dimulai dari perubahan badan battala jadi langsing. Itu sungguh mengangetkan. Entah kedua, pelatih dayungnya ketika ia masih proses pelangsingan badan pun pada masa itu sudah paham bahwa anak ini akan menjadi atlet olahraga yang handal. Dan itu kemudian terbukti dengan merebut dua emas pada PORDA (Pekan Olahraga Daerah) Sulawesi Selatan yang kemudian hari jadi pembuka jalan lebar menuju atlet nasional Indonesia.

    Raihan perak pada SEA GAMES buat Azizah dan teamnya ini bukanlah hasil puncak. Ini langkah awal untuk mengenal dunia yang lebih luas dengan melihat kwalitas atlet dari berbagai macam negara. Para atlet dan pelatih tentu lebih jeli membaca kelebihan dan kelemahan diri sendiri dan lawan. Perak bukanlah medali akhir betapapun kejuarannya telah berakhir. Akhir tersebut satu tangga terakhir menuju emas pada kejuaraan lebih bergengsi dan lebih besar berikutnya.

    Selamat buat Azizah dan team. Kalian adalah aset berharga yang dimiliki Indonesia yang membuat bangsa ini akan semakin dihargai di mata dunia. Tetap berlatih dengan tekun dan disiplin dimana keinginan dan tekad kalian harus lebih kuat dari segala latihan hingga suatu saat mampu membuktikan bahwa you are the best, the greatest. (Kalian yang terbaik, terbesar).

    Zulkarnain Patwa
    * Penulis Bebas

  • KAMPUNG BELAJAR

    KAMPUNG BELAJAR

    International Standard Lesson
    Liburan Berbahasa Inggris selama tiga pekan.

    Batas Daftar
    Minggu, 14 Desember 2025.

    Mulai dan Akhir Belajar
    Senin, 15 Desember 2025 sampai Jum’at, 9 Januari 2026 (Tiga Minggu efektif belajar).

    Jumlah Jam dan Pertemuan
    * 180 Jam.
    * 120 Pertemuan.

    Hari Belajar
    * Tiap Senin sampai Jum’at.
    * Tiap Sabtu dan Ahad libur.

    Jam Belajar
    Pagi:
    09.00 – 10.30 Wita.
    10.30 – 12.00 Wita.

    Siang/Sore:
    13.30 – 15.00 Wita.
    15.00 – 16.30 Wita.

    Malam:
    19.15 – 20.45 Wita.

    Para Pengajar
    Dididik langsung oleh guru guru berpengalaman dan berkwalitas yang sebelumnya telah belajar selama bertahun tahun di Kampung Inggris Pare, Jawa Timur, Indonesia dan sarjana di universitas.

    Materi Pelajaran
    * Speaking (Bicara).
    * Reading (Bacaan).
    * Pronouncing. (Pengucapan/Tajwid)
    * Grammar (Tata Bahasa).

    * Para pelajar yang telah paham _Basic English_ (Dasar Bahasa Inggris) akan mendapatkan materi tingkat Intermediate (Menengah) dan atau Advance (Tinggi).

    Fasilitas
    * Buku Bahasa Inggris.
    * Modul Bahasa Inggris.
    * Kamus Inggris-Inggris.
    * Sertifikat Kelulusan.

    Biaya Belajar
    * Rp. 999.000,- (Sembilan Ratus Sembilan Puluh Sembilan Ribu Rupiah).

    Memilih Tinggal di Camp Inggris
    * Rp. 399.000,- (Tiga Ratus Sembilan Puluh Sembilan Ribu Rupiah).

    Alamat
    Rumah Belajar Bersama, Jl. Teratai No. 16, Kel. Caile. Kec. Ujung Bulu, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan.

    Telp./WhatsApp
    * 0821-9716-3849 (Admin)
    * 0877-5534-6689 (Mr. Nain)

    Catatan Tambahan
    Terdapat praktek bicara dengan wisatawan mancanegara dengan kunjungan wisata ke pembuatan perahu Pinisi di Tanah Beru, Pantai Bira, atau Amma Toa di Kajang bila terjadi kesepakatan bersama.

    Untuk penyebaran menfaat lebih luas, mohon kesediaan anda men-share info ini.That’s all.

    Keep fighting and studying hard.
    Thank you very much for your attention.

  • Perputaran Makna Mengabadi

    Perputaran Makna Mengabadi

    Tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari (novi sub sole). Ungkapan berbahasa latin ini berhasil menjelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana dan ringkas tentang teori sejarah yang berulang, atau melingkar. Kalau pun ada perubahan, hanya waktu dan pelaku saja yang berubah. Tapi bagaimana kita memahami hal tersebut bila kita tidak mecoba mengenal hal hal yang baru? Perulangan itu memang membosankan dan yang baru pun akan jadi tua mengikuti siklus sejarah yang melingkar. Begitulah!

    Pertemuan dengan Mariella Kempen bersama Mr. Belanda–Kesulitan melafalkan dengan benar, penulis menyebut Mr. Egbert dengan Mr. Belanda. Beruntung, dia tidak keberatan. Ide ini muncul karena Mariella lebih dahulu menyebut penulis Mr. Karate–saat menjemputnya di Bira penuh dengan kehangatan. Dalam pandangan Aris Irfan dan penulis, sama-sama asing: kami adalah orang asing di mata mereka dan mereka juga menganggap kami orang asing tapi karena sama sama ingin tahu tentang perbedaan budaya, terbangunlah komunikasi yang diniatkan untuk saling memahami. Ini berdasarkan pemikiran terbuka sehingga pembicaraan yang sangat serius pun dapat menjadi hiburan dimana perjalanan dari Bira menuju kota Bulukumba terasa singkat.

    Saat melintasi Desa Bira dan Darubia, Mariella bertanya tentang kegiatan orang orang desa. Tentu saja kebanyakan masyarakatnya adalah nelayan dan pelaut. Anak muda suka melaut ke berbagai pulau di Indonesia dan bahkan ikut bekerja di kapal besar yang membuat mereka bisa melihat negeri-negeri terjauh.

    Dalam membangun keluarga, biasanya orang orang desa tersebut menikah semasa kampung atau keluarga sendiri sehingga wajar bila sistem kekerabatan itu sangat kuat.

    Para pelaut muda bila pulang kampung, mereka pun masih patuh pada orang tuanya saat dijodohkan sesama keluarga dekatnya. Kepatuhan yang baik kepada orang tua dipercaya sebagai sebagai bagian dari jalan menuju kesuksesan.

    Mr. Egbert membandingkan dengan negaranya. Ia menjelaskan bahwa anak bebas memilih siapapun yang mereka suka dan orang tua tidak campur tangan. Mereka bisa memilih hidup dengan siapapun yang mereka suka.

    Penulis pun memberikan dukungan. Beberapa para pelaut saat berlayar menikah di luar dan membawa pulang istri dan sekaligus anaknya. Mariella langsung menyambung, “Pelaut adalah orang bebas’, katanya sembari senyum ramah. Seisi mobil sepakat, tiada bantahan.

    Penulis sekedar menambahkan bahwa seiring dengan perkembangan zaman, menikah sesuai pilihan hati pemuda pemudi pun itu tidak seketat seperti dahulu. Para orang tua di daerah pesisir pun pada dasarnya cenderung punya pemikiran terbuka disebabkan oleh interaksinya dengan dunia luar melalui jalur perdagangan laut antar pulau.

    Saat tiba di Tanah Beru, kami mengusulkan untuk sedikit berbelok agar dapat melihat pusat pembuatan perahu tradisional terkenal dengan sebutan Pinisi yang menjadi simbol bahari Indonesia di dunia dan telah ditetapkan oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) pada 2017. Itu memang mengalihkan perhatian dimana kayu besi yang terkenal kuat dan keras mampu dibengkokkan dengan dengan peralatan sederhana. Jumlah pekerja pun cukup dengan empat atau sepuluh orang untukmembuat perahu yang sangat besar seperti yang dilihatnya secara langsung.

    Rasa penasaran pun muncul. ‘Bagaimana bisa terbentang begitu banyak perahu yang sedang dibuat?’ Mr. Egbert dan Mariella bertanya. ‘Orang orang lokal dan orang dari berbagai penjuru dunia terlebih dahulu memesan sebelum dibuatkan’, jawab penulis. Lagi pula tradisi pembuatan perahu ini telah diwariskan oleh nenek moyang kami dari generasi ke generasi beratus ratus lamanya.

    Satu hal membuat kepala saya pusing dan butuh waktu lama untuk menjawab. Pertanyaan sederhana, tak pernah kubayangkan dan tidak ada yang pernah menanyakan sebelumnya. ‘Apa yang paling anda sukai di Sulawesi?’, tanya Mariella. Sebenarnya penulis ingin menjawab ‘Saya mencintai tanah kelahiran saya dan tempat dimana saya dibesarkan’. Itu cukup namun tidak terucapkan. Penulis menginginkan jawaban sedikit lebih intelek dan tetap mengandung kejujuran. Pada akhirnya penulis bilang, ‘Sebenarnya saya ingin keliling dunia juga seperti anda tapi saya memilih mengikuti saran ayahku untuk pulang kampung. Jadi, ilmu yang saya peroleh sewaktu sekolah dan kuliah sebisa mungkin bermanfaat untuk lingkungan sekitarku’.

    Menjelang masuk kota Bulukumba dimana kami hampir berpisah, suasana pun makin akrab. Umur, pekerjaan, lajang atau menikah, jumlah anak dan hal privasi lainnya bukanlah obrolan yang perlu disembunyikan.malahan, ini bagaikan bumbu penyedap rasa yang membuat makanan jadi super lezat. Yang menarik kami sampaikan kesediaan Mariella menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya adalah seorang manajer pada sebuah taman yang luas nan indah bernama Garden De Lage Orsprong di desa Oortesbek dibangun sebelum perang dunia kedua.

    Taman itu terlihat alami dipadukan dengan imajinasi dan kreativitas kecerdasan manusia memasukkan desain tata ruang artistik, beragam seni musik dan karya yang selaras dengan alam membuatnya terlihat sempurna. Sang manager ini memimpin sekitar enam puluh orang termasuk Mr. Egbert. Wajarlah orang ramai tertarik melaksanakan kegiatan di tempat itu. Anda bisa melihat linknya di sini: https://tuindelageoorsprong.nl

    Ketika hendak berpisah di kota Bulukumba, kami tanpa sengaja sempat bertemu dengan Andi Ayatullah Ahmad, Humas (Hubungan Masyarakat) Pemerintah Daerah Bulukumba. Dia pun menyapa dan saling berinteraksi dalam Bahasa Inggris dan mendapatkan pernyataan tentang bagaimana humas bekerja. Penulis tahu ada beberapa tafsir yang berbeda yang ditangkap oleh Mariella dari penjelasan Kak Ayatullah. Namun semua itu hanya karena persoalan bahasa saja dan dapat saling memaklumi dan diakhiri dengan canda tawa dan salaman yang ramah dan Mariella pun bersiap menuju Makassar.

    Begitulah. Semua kisah di atas bukanlah sesuatu yang baru di bawah matahari. Kami yakin apa yang kami lakukan ini telah dilakukan oleh orang orang sebelum kami. Pilihan untuk mencatatkan perjalanan kehidupan saat bertemu dengan orang orang asing betapapun singkat itu mengikat makna dan mungkin saja berguna bagi orang lain karena bila tidak ditulis, itu akan berlalu bersama angin. Scriptamanent.

    Zulkarnain Patwa
    * Penulis Bebas
    * Pengajar di RumahBelajar Bersama

  • The Eternal Cycle of Meaning

    The Eternal Cycle of Meaning

    There is nothing new under the sun (novi sub sole). This Latin expression successfully explains in very simple and concise language the theory of history repeating itself, or circling. Even if there are changes, only time and the actors change. But how can we understand this if we don’t try to learn new things? Repetition is indeed boring, and even the new will become old, following the circular cycle of the history. That’s how it is!

    The meeting with Mariella Kempen and Mr. Belanda—having difficulty to pronounce the name correctly, the writer calls Mr. Egbert as Mr. Belanda (Read: Netherland). Luckily, he didn’t mind. This idea arose because Mariella previously called the writer Mr. Karate—when picking them up in Bira. It was filled with warmth. In Aris Irfan’s and the writer’s perspectives, we are both strangers: we are strangers in their mind, and they also consider us strangers. But because we both had a curiosity about cultural differences, communication was aimed to have mutual understanding. This is based on open mindedness so that even it was very serious conversations, it could become joyful discussion.

    While passing through Bira and Darubia villages, Mariella asked about the villagers’ activities. Naturally, most of the people are fishermen and sailors. Young people enjoy sailing to various islands in Indonesia and even working on large ships sailing them to see many countries

    Beside that, when starting a family, villagers typically marry within their own village or family, so it is natural for the kinship system to be very strong.

    When young sailors return home, they still obey their parents when they are arranged marriage with someone within their immediate family. Obedience to believed to be part of the path to success.

    Mr. Egbert compared this to his country. He explained, ‘Men or women are free to choose whomever they like, and their parents do not interfere. They can choose to live with whomever they are pleased’. The writer also supported his idea. Some sailors married abroad while sailing and bringing home their wives and children. Mariella immediately added, “Sailors are free men,” she said with a friendly smile. The entire car agreed and laughted without any objection.

    The writer simply added that with the changing times, marrying according to one’s own choice is no longer as strict as it once was. Parents in coastal areas also tend to be more open-minded due to their interaction with the outside world through inter-island sea trade routes.

    Arriving in Tanah Beru, we suggested a slight detour to see the famous traditional boat-making center known as Pinisi, a symbol of Indonesian maritime heritage worldwide and it was designated by UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) in 2017. It was indeed a sight to behold, as the renowned ironwood, known for its strength and hardness, could be bent with simple tools. As information, to build an enormous boat, it just need four to ten workers. Maybe you don’t believe it but it is true.

    Curiosity arose. ‘How can there be so many boats being built?’, Mr. Egbert and Mariella asked. ‘Locals and people people from all over the world order before boats are made’, the writer replied. After all, this boat-building tradition has existed from our ancestors for hundreds of years.

    As we approached Bulukumba district, where we were about to say goodbye, the atmosphere grew more friendly. Age, job, single or married, number of children, and other private matters were no longer private conversation to be kept as secrets. In fact, all of them were like spices that enhance the flavor of a meal. The interesting thing that we could share is Mariella’s job. She is a manager of a vast and beautiful garden called Garden De Lage Orsprong in the village of Oortesbek built before World War II.

    The garden’s natural beauty, combined with the imagination and creativity of human intelligence, incorporates artistic spatial design, a variety of musical forms, and work of art that harmonize with nature, creating a perfect atmosphere. The manager has been leading a group for about sixty people, including Mr. Egbert. It is no wonder that people love to make events there. You can find the link here:  https://tuindelageoorsprong.nl

    When we arrived in Bulukumba, we accidentally met Andi Ayatullah Ahmad, Public Relations Officer. He greeted us and interacted in English, receiving a briefing on how public relations works, I understand that Mariella had several different interpretations of Ayatullah’s explanation. However, it was simply a language barrier, and we were able to reach a mutual understanding. The conversation ended with laughter and a friendly handshake, and Mariella prepared to go to Makassar.

    That’s how it is! All of the stories above are nothing new. We believe that what we are doing has been done by people before us. The choice to write our short life journey, even brief encounters with strangers, holds meaning and may be useful to others, for if not written down, they will simply be forgotten. Scripta manent: spoken words fly away, written ones remain.

    Zulkarnain Patwa
    * Independent Writer
    * Teacher at Rumah Belajar Bersama

  • Menikmati Kebersamaan

    Menikmati Kebersamaan

    Kelelahan latihan panjang bela diri karate di malam hari tidaklah mesti membuat saya malas bangun pagi. Aris Irfan mengajak saya menemaninya untuk menjemput seorang tamunya jam 08.00 pagi di kawasan wisata Bira yang mau ke Airport Sultan Hasanuddin di Makassar. Saya pun selalu bersemangat bertemu dengan orang orang baru melihat jendela dunia yang luas berdasarkan obrolan dengan orang asing yang punya wawasan tanpa saya harus menginjakkan negeri orang.

    Wah, sungguh menarik. Di Bira kami bertemu dengan seorang gadis muda periang yang ternyata liburan bers0ama ayah dan ibunya. Kami sempat saling bercerita sejenak dengan keluarga yang terlihat berbahagia liburan di Indonesia itu. Hal itu kami lihat dari cara berkomunikasinya sesama keluarga yang memancarkan energi positif dengan menyaksikan bagaimana gadis itu pamit kepada kedua orang tuanya.

    Setelah berada di mobil, Tessa memberitahukan bahwa dirinya mahasiswi yang sedang memperoleh pertukaran pelajar dari kampusnya di Belanda ke Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta selama lima bulan. Satu bulan ke depan ia akan kembali ke universitasnya di Belanda.

    Rasa ingin tahu mengenal dunia yang luas ini membuat Tessa berkeliling dunia. Sebegitu banyaknya negara yang pernah ia kunjungi, ia tidak sempat lagi menghitungnya. Dan berada di Indonesia dimana ada waktu belajar dan berkeliling menikmati keindahan pulau-pulaunya semisal Bira yang terbentang luas dan mempesona sangat mendukung harapan dan pendidikannya yang memilih jurusan Hubungan Internasional.

    Para pelajar Indonesia khususnya yang telah mempunyai kemampuan berbahasa asing minimal Bahasa Inggris penting juga untuk mengikuti jejak Tessa. Kesempatan ini sangat terbuka karena relasi pertukaran pelajar tersebut atas dibangun atas hubungan baik antar negara dan kemudian diikuti oleh kerjasama antar universitas. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi pelajar sekolah untuk mahir berbahasa asing dengan cara bergabung di lembaga pendidikan alternatif semisal RumahBelajar Bersama atau lembaga apapun itu untuk mengembangkan diri sebelum masuk ke jenjang universitas.

    Mi

    Berada di negeri orang, Tessa punya kesan positif terhadap dunia Islam. Ia memandang bahwa orang Indonesia itu punya kepekaan sosial yang tinggi. Hal itu ia baca dari pengalamannya menyaksikan dimana orang bahkan hidupnya miskin sekalipun masih sempat memikirkan orang lain dengan membantu. Kejadian ini jarang terjadi di negaranya karena kehidupan di Eropa yang sangat individualis.

    Dunia penuh dengan warna warni dengan beragam kegiatan harian. Karate yang betapapun melelahkan, itu memperkuat mental dan fisik, berkenalan dengan orang baru memperkaya cara pandang kita dan mempererat ikatan persaudaraan seperti Pak Irfan dan orang sederetannya membuat hidup ini jadi lebih bermakna.

    Zulkarnain Patwa
    * Penulis Bebas

  • Jurus Cerdik untuk Rajin Belajar

    Jurus Cerdik untuk Rajin Belajar

    Ada banyak cara untuk membuat orang itu mau dan bersemangat belajar. Khusus bagi dunia anak, kita sangat sering mengemas belajar itu dalam bentuk games tapi intinya bukan pada games tetapi pada kandungan ilmu harus serta merta mengikut di dalamnya.

    Foto ini adalah waktu keluar main pada kelas Bahasa Inggris. Anak anak ini suka saling kejar kejaran sambil teriak teriak tanpa mengerti bahwa itu mengganggu kelas lainnya yang sedang belajar. Dan untuk menyelesaikan masalah ini, kita buat permainan berhitung menggunakan kartu joker. Ya, berhitungnya dalam Bahasa Indonesia saja agar pelajar pemula bisa ikut bergabung dan mau ikut berlomba menjawab dengan cara cepat.

    Sekedar tambahan, sistem permainan ini diatur oleh anak anak sendiri. Ada yang jadi wasit, ada yang menghitung poin dan ada pula yang menunjuk siapa yang berhak menjawab. Jadi semua aktif. Ini adalah cara kita melatih membentuk sebuah team dan yang terpenting agar logika berpikirnya lebih tertata melalui jalan dasar dasar aritmatika (tambah, kurang dan kali, bagi).

    Yang jadi persoalan, takkala keasyikan pada permainan ini, anak anak ini tidak mau berhenti. Mereka begitu termotivasi untuk jadi nomer satu. Sang juara memang bergantian, tidak ada yang paling pintar sehingga wajarlah bila ada usaha untuk kembali menang bila kalah dalam satu babak.

    Tapi bagaimanapun juga, Bahasa Inggris tetap harus jalan. Target kita memanfaatkan waktu keluar main dengan kegiatan belajar yang menyenangkan telah tercapai. Tiap anak kita ajak kembali dengan lembaran kertas berbahasa asing. Dan agar tetap merasa tidak tertekan akibat kelelahan berpikir pada jelang akhir pelajaran, kita berlatih cara pengucapan yang benar pada kosa kata Inggris yang mirip saja. Semisal seat vs sit atau feel vs fill. Melalui penjelasan yang ringan nan logis disertai praktek bicara secara bersama, pelajaran ini jadi lebih gampang. Dan itu seru juga. Mereka berakting juga menampilkan intonasi atau irama suara yang terbaiknya yang enak didengar dan tentunya harus benar.

    Dunia belajar anak memang mestilah menyenangkan. Kemasan games memang terbukti punya daya tarik yang tinggi memotivasi anak anak kita untuk belajar. Kita hanya perlu membuat banyak games yang isinya menekankan pada cara agar anak anak dapat menyerap ilmu pengetahuan lebih banyak dalam bentuk games.

    Zulkarnain Patwa
    * Pengajar Bahasa Inggris