Kategori: News

Berita terbaru dari Rumah Belajar Bersama

  • Agung: Breaking the Deadlock of Youth

    Agung: Breaking the Deadlock of Youth

    What Should Youth Do? In the midst of the confusion of dropping out of college in Makassar, Agung Pratama Salassa broke his mental deadlock by finding the right step to build his future. He decided to travel far to study English in Kampung Inggris (English Village), Tulungrejo Village, Kediri, East Java. He didn’t half-measure; he stayed there for seven years.

    This young man from Bulukumba left only with information, traveling alone without knowing anyone. When he arrived at ASSET (Association of Sulawesi Students) Camp in Kampung Inggris, the fellow Sulawesi residents didn’t trust him immediately. As a stranger, he was interrogated. However, because his intentions were sincere, the interrogation turned into trust. Agung was accepted. From there, he learned that there were thousands of students from Sulawesi in the village. There are five ASSET camps: Laga Ligo, Sam Ratulangi, and Halu Oleo for men, and Camp Tanriabeng and Andi Depu for women. The rest stay in various camps provided by language institutions or the local community.

    Agung Pratama Salassa, a smart gammar teacher at RBB, welcome Verena at his class. Photo Source: Rumah Belajar Bersama, 2026.

    From his seniors, Agung received nice advice: as a beginner, don’t act like a know-it-all. Thus, he took a beginner’s course focusing on vocabulary—where 100 words had to be memorized daily—as well as Basic Speaking and Grammar. The knowledge gained in class had to be shared at ASSET, which held meetings twice a day after the Subuh (dawn) and Maghrib (sunset) prayers. Initially, he struggled to adapt. As time passed, he realized that deep learning is essentially “reviewing” (repeating important things). Living in the camp also mandated speaking English, making daily activities automatically conducted in the language.

    Due to his growing and the quality of his studies, Agung became “addicted” to learning. Without realizing it, he had studied for two years. He didn’t stop; he didn’t go back home in Bulukumba. His curiosity was as unstoppable as a thirsty person in a desert under the scorching sun. How could he stay longer? He devised a clever strategy by telling his parents he wanted to go to college in Pare, majoring in Management at the Islamic University of Kadiri (UNISKA). Why not English? To him, that was too easy. He believed English proficiency could be achieved without a university degree. Everything needed for English—minus a thesis—was already available there. By choosing management, he gained additional knowledge. His parents accepted the proposal.

    Agung set a record: seven years studying English in Kampung Inggris and five years of university until graduation. Most people come to study for a few months or one to two years; three years is already considered impressive. When English became part of his daily life, Agung developed a deep interest in pronunciation, complemented by learning phonetic symbols in the dictionary. Another enjoyable challenge was grammar, as it triggered his critical thinking to find the reasoning behind the formation of sentences and phrases. These intricacies played a major role in analyzing high-level materials such as TOEFL and IELTS.

    “After spending time in Kampung Inggris, Pare, East Java, Agung returned to his hometown in Bulukumba. Now he is teaching grammar at Rumah Belajar Bersaman in Bulukumba.”

    The Other Side of Kampung Inggris
    Living in the village taught the meaning of humanity. Having served as a leader in one of the ASSET camps, Agung experienced how to strengthen bonds of brotherhood and empathy. As the largest and oldest regional association in Pare, ASSET frequently organizes donations for students in trouble, bazaars for fundraising, and blood drives. Networks, friendships, and trust are built there. Young people also learn to organize and mobilize others, much like student activists on campus.
    The learning environment is very conducive. Before sunrise, camps are already busy with students. Afterward, they can choose courses according to their needs from morning until 9:00 PM. During breaks, English practice happens everywhere—in canteens, on the streets, or in cafes—because Kampung Inggris is a gathering of people from all corners of Indonesia specifically to learn English.

    Kampung Inggris is a village where the cost of food, camp, and courses remains affordable. Some options are pricier, but not sky-high like in big cities. Studying all day in hot daytime weather makes one easily hungry and thirsty, while nights tend to be cooler. Newcomers must manage their finances wisely; because almost everything is cheap, money can slip away unnoticed. Financial mismanagement is often why people cannot stay longer.

    The local community is very welcoming. Residents rent out their homes for camps, courses, and boarding. Others open food stalls. Pollution is low because students are encouraged to use bicycles. This is also a profitable business niche; since the majority of students cycle, rentals, sales, and repair shops for both new and used bikes are found on every corner.
    Kampung Inggris is a meeting point for dreamers. Students, college students, youths, and even those pursuing Master’s or Doctoral degrees gather there. Their goals differ, but they share a common interest, English. There is a positive energy where they share stories on how to achieve their dreams. This pattern is formed naturally and culturally.

    The Next InspiratorFrom Agung’s journey, we can reflect that youth should not pass by without equipping oneself with knowledge. For Agung, his choice was English—attaining high proficiency without needing an English degree from a university. Other youths can choose according to their own talents. The most important thing is the initiative to change oneself by doing something they believe will build their future. Agung is an example, and you could be the next inspirator.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Monday, May 5, 2026

  • Agung: Memecahkan Kebuntuan Masa Muda

    Agung: Memecahkan Kebuntuan Masa Muda

    Apa yang pemuda harus lakukan? Di tengah kebingungan putus kuliah di Makassar, Agung Pratama Salassa memecah kebuntuan berpikir dengan menemukan langkah yang tepat membangun masa depan. Ia memutuskan pergi jauh belajar Bahasa di Kampung Inggris, Desa Tulungrejo, Kediri,  Jawa Timur. Tidak tanggung-tanggung, ia tinggal selama tujuh tahun di sana.

    Pemuda Bulukumba hanya berbekal informasi berangkat seorang diri, tidak mengenal siapa pun. Saat tiba di Camp Asset (Associtaon of Sulawesi Students) di kampung Inggris, orang-orang Sulawesi tidak langsung percaya begitu saja. Ia orang asing dan diinterogasi. Karena niatnya yang benar, interogasi malah berbuah keparcayaan. Agung diterima. Dari situ, ia tahu bahwa terdapat ribuan pelajar dari Sulawesi ada di kampung Inggris. Ada lima camp Asset: . Laga Ligo, Sam Ratulangi, Halu Oleo untuk Camp Putra dan Camp Tanriabeng dan Andi Depu untuk Camp Putri. Selebihnya mereka tinggal di berbagai macam Camp yang disediakan lembaga kursus atau masyarakat setempat.

    Agung Pratama Salassa, a smart gammar teacher at RBB, welcome Verena at his class. Photo Source: Rumah Belajar Bersama, 2026.

    Oleh para senior, Agung memperoleh saran yang baik. Pemula tidak perlu sok pintar. Karena itu, ia mengikuti kursus pemula tentang vocabularies (kosa kata) di mana 100 kata wajib dihapal setiap hari, Basic Speaking and grammar (Dasar berbicara dan tata bahasa). Pengetahuan yang diperoleh di kursus wajib disebarkan di Asset yang mempunyai pertemuan dua kali sehari; setelah shalat Subuh dan Maghrib secara berjamaah. Awalnya ia sulit beradaptasi. Beberapa waktu berlalu, ia sadar bahwa ternyata belajar mendalam itu adalah review (mengulangi hal-hal penting). Tinggal di Camp juga wajib Speaking English sehingga segala aktivitas keseharian otomatis berbahasa Inggris.

    Karena pemahaman dan peningkatan kwalitas belajar, Agung kecanduan belajar. Tidak terasa, ia telah belajar selama dua tahun. Ia tidak berhenti, tidak pulang kampung. Rasa ingin tahunya makin tak terbendung layaknya orang yang kehausan di tengah gurun di bawah pancaran sinar matahari membakar. Bagaimana ia bisa tinggal lebih lama? Ia merancang strategi cerdas dengan menyampaikan kepada orang tuanya bahwa ia hendak kuliah di Pare, mengambil jurusan Manajemen di  Universitas Islam Kadiri. Kenapa bukan jurusan Bahasa Inggris? Itu terlalu mudah. Ia percaya keahlian berbahasa Inggris bisa tanpa universitas. Semua kebutuhan bahasa Inggris minus skripsi telah tersedia. Dengan memilih manajemen, ia memperoleh ilmu tambahan. Usulan diterima oleh orang tua.

    Agung mencetak rekor, tujuh tahun belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris, lima tahun kuliah hingga sarjana. Orang-orang biasanya datang belajar untuk beberapa bulan atau satu sampai dua tahun. Tiga tahun itu sudah hebat. Ketika belajar Bahasa Inggris menjadi bagiabn dari kehidupan sehari-hari, perhatian Agung ketertarikan mendalam pada pronunciation (pengucapan) yang dilengkapi dengan cara membaca phonetic symbol tertera di kamus. Tantangan menyenangkan lainnya adalah grammar karena otaknya terpicu berpikir kritis untuk menemukan alasan dibalik terbentuknya suatu kalimat, frase dan kalimat. Sekelumit itu yang banyak berperan menganalisa persoalan tingkat tinggi semisal materi TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan IELTS (International English Language Test System).

    Agung yang setelah berada di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur, kembali ke pulang kampung di Bulukumba dan mengajar Grammar di Rumah Belajar Bersama.

    Sisi Lain Kampung Inggris
    Tinggal di kampung mengajarkan makna kemanusiaan. Agung pernah menjadi ketua di salah satu Camp Asset merasakan bagaimana cara menguatkan ikatan persaudaraan, dan  berempati. Asset sebagai perkumpulan daerah terbesar dan tertua di Pare seringkali mengadakan open donasi bagi pelajar yang tertimpa masalah, bazar untuk penggalangan dana dan donor darah. Jaringan, perkawanan dan kepercayan pun terbangun. Para pemuda juga belajar berorganisasi, menggerakkan orang banyak sebagaimana aktivitas para mahasiswa yang kuliah.

    Aktivitas belajar memang sangat kondusif. Menjelang matahari terbit, orang-orang telah ramai belajar di camp masing masing. Setelahnya, orang-orang bisa memilih lembaga kursus yang sesuai kebutuhannya mulai dari pagi hingga malam hari, pukul 21.00 Wita. Di sela-sela waktu istirahat, suasana Bahasa Inggris dapat dilakukan di mana saja. Di kantin, di jalan, di café dll karena Kampung Inggris adalah kumpulan manusia yang datang dari berbagai macam penjuru Indonesia khusus belajar Inggris.

    Kampung Inggris adalah sebuah desa.  Biaya makanan dan minuman, camp dan kursus masih terjangkau. Ada juga yang agak mahal tapi tidak harga selangit seperti di kota-kota besar. Belajar sepanjang hari disertai cuaca yang panas di siang hari membuat orang mudah lapar dan haus. Dan di malam hari cuaca cenderung lebih dingin.  Orang yang baru datang ke sana harus lebih pandai manajemen keuangan karena tanpa terasa uang habis, efek hampir segalanya serba murah sehingga uang mudah keluar. Kegagalan manajemen keuangan membuat orang tidak bisa tinggal lebih lama.

    Masyarakat setempat juga sangat welcome dengan pendatang. Penduduk menyewakan rumahnya untuk camp, kursus, kos-kosan. Sebagian membuat warung makan. Polusi rendah karena para pelajar dianjurkan bersepeda. Ini lahan bisnis yang sangat menguntungkan juga karena para pelajar mayoritas bersepeda. Penyewaan atau penjualan dan bengkel sepeda baru dan bekas tersedia di berbagai sudut.

    Kampung Inggris juga pertemuan manusia yang bercita-cita. Pelajar sekolah, mahasiswa,  pemuda-pemudi dan bahkan yang mau S 2 dan S 3 pun berkumpul di sana. Cita-citanya berbeda tapi punya kepentingan sama, Bahasa Inggris. Terdapat energi positif di mana mereka akan saling berbagi cerita bagaimana cara mewujudkan impiannya. Pola ini terbentuk secara alami, kultural.

    Inspirator Berikutnya
    Dari perjalanan kehidupan masa muda Agung, kita dapat bercermin bahwa masa muda jangan berlalu begitu saja tanpa membekali diri dengan pengetahuan. Bagi Agung, pilihannya Bahasa Inggris, berpengetahuan tinggi tanpa perlu sarjana Bahasa Inggris di universitas. Pemuda yang lain bisa memilih sendiri sesuai dengan bakatnya . Yang terpenting ialah ada sebuah inisiatif dari pemuda itu sendiri untuk merubah diri dengan melakukan sesuatu yang ia percaya dapat membangun masa depan. Agung adalah contoh pemuda dan berikutnya andalah yang menjadi inspirator berikutnya.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 4 Mei 2026

  • Recognition of the Ministry of Education to Ansar Langnge

    Recognition of the Ministry of Education to Ansar Langnge

    Inventions change the course of knowledge and the world. Abu Ja’far Muḥammad bin Mūsā Al-Khwārizmī is known as the Father of Algebra and the pioneer of the number zero. For his extraordinary contributions, we witness the development of technology today, such as the computer through binary opposition (0 vs 1).

    Without the intellectual breakthrough of this Persian scholar, we can only imagine how dark the world of science—especially mathematics—would be. The West, which initially used Roman numerals, successfully transitioned through the Dark Ages because Al-Khwārizmī’s works were translated into Latin by European scholars.

    The name Al-Khwārizmī is monumental. To keep it grounded, let’s bring the focus to Indonesia, specifically the world of teacher education. Ansar Langnge, a Mathematics teacher in Bulukumba District, South Sulawesi Province, Indonesia received recognition and an award from the Minister of Education and Culture of the Republic of Indonesia in 2015. This was for his work on the use of “Tongmini” (Mini stick) as teaching aids to improve the ability of Grade VIIB students at Sate Junior High School 11 Bulukumba to solve integer division. Ansar did not change the world like Al-Khwārizmī, but he played a significant role in transforming the face of Mathematics education, which is often seen as terrifying in Indonesian schools.

    Award from the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia to Anshar Langnge for successfully simplifying Whole Numbers using the Tongmini (Mini Stick).

    Learning about integers, which is usually presented abstractly on the whiteboard, became more visual through affordable teaching aids that were easier for students to grasp. Is that not turning complexity into simplicity? Jalaluddin Rakhmat once said that a smart person is one who is able to simplify a complex problem. An intellectual teacher like Ansar is capable of answering that challenge.

    Every outstanding student receives the honor of standing in the middle of the field and receiving appreciation from Ansar Langnge, the headmaster. This generates pride for the champion and motivation for other students to strive for achievement.

    “How many people from South Sulawesi received this award?” I asked while looking at his certificate. “I was the only teacher from South Sulawesi who went to Yogyakarta to receive that award,” he said in a calm voice. His friendly, smiling persona and easy-going nature reinforced the impression that he is far from being a “killer” teacher. From the word “only,” a critique and a hope emerged. We still lack teachers who are willing to be creative, even though the Ministry of National Education has opened doors for innovation. In fact, it is a great opportunity to improve teacher quality and career paths.

     

    The figure of Anshar Langnge who is now the headmaster of State Junior High School 1 Bulukumba.

    Ansar Langnge now is a headmaster of State Junior High School 1 Bulukumba in South Sulawesi, the best high local school across generations. Under his leadership, the school continues to increase its number of high-achieving students, from local to national levels. The combination of an innovative principal and talented students creates a powerful momentum for progress. Because there are so many achievements, he mentioned that every week—specifically during the Monday flag ceremony—there is an appreciation ceremony for students with academic and non-academic achievements at the District, Provincial, and National levels. How can it be that great? According to him, the school performs structured and neat mapping to identify student talents and interests, then encourages them to participate in competitions.

    Ansar Langnge is also very active in building networks and strengthening brotherhood bonds. In this photo, he inaugurated the IKA (Alumni Association) of State Junior High School 1 Bulukumba, 2026.

    The grand physical structure of a school, equipped with all its supporting facilities—as important as they are—indeed becomes a source of pride and is often touted as a sign of progress. But what is the use of it all if the students’ minds are empty? A school should not merely be a tool for legitimizing certicates, reflecting backward thinking like Europe’s Dark Ages. A school is not a five-star hotel advertisement. The best advertisement for a school is the proof of improved human resource quality that convinces its students that pursuing knowledge is vital for their future.

    If the West has succeeded in taking the initiative to catch up by translating Al-Khwārizmī’s works and then translating them into all languages, can Ansar Langnge’s work be followed up by the Regional and Central Government to be implemented in schools?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, May 3, 2026

  • Dari Hal Biasa ke Luar Biasa

    Dari Hal Biasa ke Luar Biasa

    “Memilih lesson (Pelajaran), Mr.”, anak anak mengusulkan ketika kelas baru saja mulai. Usulan diterima. “Okay. Tiap orang boleh memilih satu lesson dan memimpin kelas secara bergantian saat membaca pilihan lesson tersebut”, kata guru kelas. Mereka sepakat.

    Secara tiba tiba, Nisa mengangkat tangan paling cepat untuk dapat memimpin paling awal. Yang tercepat selanjutnya diikuti oleh Adeeva, Belva dan Gavino. Pada pilihan cerita, yang memimpin kegiatan listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) namun soal soal pada cerita dibaca secara bersamaan, tanpa menjawab soal karena fokus kali ini pada perbaikan pengucapan (Pronunciation) dan intonasi (Intonation).

    Praktek berbicara Inggris sesama rekan.

    Nisa memilih lesson 3, He’s not an Artist. Adeeva memilih lesson 48, The Ploughboy. Bacaan ini tergolong sulit sehingga ia agak sulit diikuti oleh rekan kelasnya untuk membaca dengan tepat. Belva memih lesson 2, In the Park dan Gavino memilih A Good Book. Kedua bersaudara ini sangat menikmati karena mereka sudah tahu dengan baik cara melafalkan dengan benar.

    Setelah itu, waktu keluar main selama lima belas menit. Dunia bermain mereka semarak dan ribut. Ada juga yang saling mendukung dan menyalahkan tapi kemudian berdamai. Ini terlihat seru karena ada sosialisasi, dunia anak anak mereka tidak dirampas oleh smartphone.

    Ketika kelas berjalan kembali, mereka membuat percakapan di mana setiap orang berpasangan sesuai pilihannya. Faika yang berada di kelas lain turut bergabung. Selain itu, ia juga bertugas sebagai pembaca narasi sebelum percakapan dimulai. Pembelajaran bukanlah hal yang sulit dan semuanya mampu berdialog dengan lancar betapapun dialognya masih harus merujuk pada buku.

    Pada tahap akhir, anak anak memberanikan diri untuk praktek bicara tanpa teks. Tiga orang mau tampil yaitu Faika, Nisa dan Adeeva. Mereka sepakat berakting sesuai alur cerita pada A Good Book. Setelah beberapa kali latihan memainkan peran sebagai inspektur Robert Jones, Miss Green dan Narrator, mereka pun mengusulkan agar aktivitas percakapannya direkam. Hingga waktu jam belajar telah habis, tidak ada satu pun yang mau pulang dan tetap meminta pergantian peran pada dialog dilakukan secara bergantian hingga semuanya dapat giliran. Dan pada akhirnya, apa yang mereka inginkan tercapai.

    Semangat dan ketekunan belajar yang luar biasa, bukan?

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, 1 Mei 2026

  • Dua Bersaudara

    Dua Bersaudara

    Dua orang bersaudara yang waktu pulang sekolahnya aktif dengan kegiatan. Tita dan Zhah telah mengikuti dua kelas sekaligus; Bahasa Inggris dan Matematika. Itu adalah cara praktis yang membantunya menyelesaikan persoalan sekolah. Orang tuanya tidak repot lagi memikirkan PR (Pekerjaan Rumah).

    Miss Ulfi, guru kelas Matematika, terlebih dahulu menekankan Matematika Dasar sembari membantu menyelesaikan pelajaran sekolah. Dengan kesabaran dan ketekunan, hal itu mengantarkannya Tita sampai pada pembelajaran tingkat Persamaan Liniar, Aljabar dan Garis dan Sudut, pelajaran SMP. Sedangkan Zhah, anak kelas 4 SD tidak kerepotan lagi materi KPK, Pecahan, Panjang dan Berat. Kendala mereka terletak pada cara menjawab pembagian puluhan dengan cepat namun Miss Ulfi percaya hal ini bisa diatasi dengan sering memberikan latihan di sela-sela pembelajaran, waktu yang relatif santai.

    Pada Bahasa Inggris, Tita memilih Grammar (Tata Bahasa) yang berguna untuk jawab-jawab soal sekolah. Sedangkan Zhah memilih Reading (Bacaan) untuk mengasah kemampuan berbicara dan cerita cerita berbahasa Inggris. Perbedaan pilihan ini sebenarnya dapat mereka gunakan untuk saling mengisi di rumah. Tapi ya, namanya juga anak anak, keduanya masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri sehingga kami di RBB (Rumah Belajar Bersama) mengajak mereka untuk saling support dalam berbahasa Inggris.

    Karena waktu belajar mereka hingga dari siang hingga jelang Maghrib, sebelum pulang, kami meminta waktunya sejenak untuk pendalaman pembelajaran. Beruntung orang tuanya yang menjemput bersedia menanti sedikit lebih lama dan kedua anak ini juga mau untuk mendapatkan pelajaran tambahan. Mereka tahu bahwa target belajar yang dicapai adalah kapasitas ilmu yang berguna melebihi pelajaran sekolah. Untuk itu, beberapa pelajaran yang belum berhubungan dengan pelajaran sekolahnya diberikan.

    Mempelajari Matematika dan Bahasa Inggris oleh kedua orang bersaudara ini adalah pilihan yang tepat. Kita tahu, itu momok menakutkan bagi kebanyakan pelajar sekolah. Mereka biasanya membawa setumpuk persoalan sekolah dan selesaikan dengan banyak berdialog dengan guru guru kelas. Selebihnya, waktu dunia anak yaitu bermain mereka dapatkan untuk melepaskan rasa lelah selama berada di RBB.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Senin, 20 April 2026

  • Melatih Kepemimpinan Anak

    Melatih Kepemimpinan Anak

    Adam jadi bintang malam ini. Ia mendapatkan kepercayaan untuk memimpin dua orang rekannya Abizar dan Sirin. Ketika diminta oleh guru bebas memilih lesson (pelajaran),
    Adam mengatakan, “Lesson 1 sampai 10”. Guru merespon “Kelewatan kau Adam. Kamu tahu teman-temanmu itu telah paham materi itu”. Ia pun berpikir sejenak, “Lesson 11 sampai 20”. Itu juga juga terlalu mudah tapi karena Adam yang sedang kita latih memimpin, apa yang ia tentukan, disepakati saja.

    Pada awal bacaan lesson 11, ia langsung membaca beberapa kalimat. Kecepatan membacanya sulit diikuti. Untuk itu, ia mendapat saran untuk membaca perlahan saja agar rekan rekannya bisa mengikuti dengan benar. Bila ada yang salah dalam membaca, Adam hanya tertawa tanpa melakukan pembenaran. Mereka semua terlihat ingin segera menyelesaikan bacaannya untuk mendapatkan waktu bermain.

    Keinginan Adam untuk mempercepat bacaan tidak berjalan mulus. Dia yang mendapat teguran, bukan pelajar yang membuat kesalahan. Seorang pemimpin harus bisa mengarahkan orang yang dipimpinnya tapi bagi Adam, itu tidak berpengaruh sama sekali. Ia cuma bangga ditunjuk jadi pemimpin dengan pertimbangan lebih lancar dan tamat bacaan Basic Reading. Kalau tidak lancar membaca, itu urusan pribadi tiap orang.

    Waktu keluar main, Adam bermain android. Tidak berapa lama berselang, ia mempelajari buku cerita, buku kedua yang menjadi tugas utamanya. Ia agak susah beralih ke buku lagi. Dengan sedikit ketegasan, ia menaruh android fam tas. Judul cerita ‘In a Department Store’ ia selesaikan dengan baik bersama rekan-rekan selevelnya. Setelah itu, semuanya minta istirahat. Ternyata, semua anak yang bawa android ingin bermain games lagi.

    Ini sebenarnya cukup adil. Ada waktu untuk belajar, ada waktu untuk android. Sayangnya, bila kebanyakan anak-anak yang bawa android, sosialisasi bermain sesama mereka akan berkurang karena mereka semua akan fokus pada androidnya. Mereka biasanya mengusulkan untuk membuat permainan tapi dengan adanya android, mereka tidak punya usulan lagi dan meskipun guru memberikan ulasan, itu ditolak. Anak anak yang tidak bawa android berkumpul mengikuti Adam. Di sini, Adam merasa benar benar jadi pemimpin.

    Kepemimpinan dapat didesain dalam lingkungan belajar dimulai dari hal hal terkecil seperti yang dialami oleh Adam. Anak anak memang belum mengerti tugas dan tanggungjawab seorang pemimpin dan perlu tetap dalam pendampingan ketika memimpin. Waktu berproses yang akan membuatnya mengerti mengapa ia dipilih jadi pemimpin. Dan saat mereka dewasa nanti, mereka akan paham pentingnya latihan kepemimpinan yang diajarkan secara kultural di kelas belajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 30 April 2026

  • Belajar tanpa Batas

    Belajar tanpa Batas

    “Better” (Lebih baik). Itulah ekspresi pengembangan dikatakan oleh Miss Salma Minasaroh dari Lembaga GAIA di Pati, Jawa Tengah saat menutup pembelajaran Bahasa Inggris online tahap ketiga (29/04). Lima orang anak anak RBB (Rumah Belajar Bersama) di Bulukumba , Sulawesi Selatan hadir dari sembilan yang lolos klasifikasi. Peserta memang sengaja dibuat terbatas agar kelas pembelajaran lebih efektif, tidak boros waktu.

    Keterikatan belajar tanya-jawab online ini semakin meningkat karena
    berkenalan dengan orang baru dan mendapat perhatian dari orang pintar melahirkan kebanggaan tersendiri baginya. Para pelajar ingin agar ekspresi mereka dapat didengarkan dan diakui. Dan bagi penulis, ini mampu memberikan cara pandang baru dari kebiasaan anak-anak menggunakan android untuk bermain games menjadi sarana belajar. Aturan ketat dibuat agar mereka berjuang dan merasa menjadi istimewa ketika terpilih.

    Sehari sebelum pertemuan, ada usaha di mana beberapa pelajar yang tidak termasuk kategori diperjuangkan oleh rekan-rekannya untuk tetap bisa ikut.

    “Dua sampai tiga orang belum boleh gabung karena belum lancar bicara”, kata guru RBB.
    “Kasi ikut saja Mr.. nanti saya bantu” kata Adam.
    “Please, Mr.”, kata yang lainnya.

    Mereka pun mengurangi jatah keluar main dan saling praktek tanya-jawab lebih serius. Melihat usaha ala “gotong royong” itu, usulan mereka diterima.

    Sebagai konsekuensi, kemampuan akselerasi dalam menyampaikan pendapat lebih terlihat jelas: bicara lancar dan tidak terlihat grogi lagi. Anak anak tidak saling berebutan lagi untuk dapat kesempatan berbicara dan menanti dengan sabar mendapatkan giliran karena mereka tahu bahwa dengan jumlah peserta yang sedikit, kesempatan untuk dapat bicara jauh lebih banyak.

    Dalam hal materi pembelajaran, kemajuan yang berarti ini dipengaruhi oleh 20 model soal yang dibuat Salma dengan memasukkan information Question (Pertanyaan Informasi) seperti what, where, why dan who (Apa, di mana, kenapa dan siapa), bukan lagi soal yang mayoritas yes no questions seperti pembelajaran online Part 1. Otomatis, setiap pelajar diajak membuat argumentasi sesuai dengan apa yang mereka pikirkan dan rasakan.Bahasa Inggris telah berfungsi sebagai alat untuk membangun kemandirian anak untuk punya pendapat sendiri.

    Kemana Arah Pendidikan Kita?
    Sebagaimana yang kita sering dengar, Indonesia itu tidak kekurangan intelektual, bertaburan di mana mana. Sebagian orang yang cerdas kita malahan memilih berkarir di luar negeri karena merasa tidak dihargai di Indonesia. Sebagian tetap tinggal di dalam negeri dan melakukan perubahan secara kultural, di luar sistem pemerintahan.

    Dengan menemukan pelajar pelajar berbakat mulai dari anak anak hingga dewasa, kita dapat membangun koneksi yang tidak dibatasi oleh dengan siapapun, kalangan intelektual baik dalam dan luar negeri. Mereka dapat diundang mengisi pembelajaran secara online kepada para pelajar berbakat tersebut. Dari situ, kita dapat membaca pemikiran-pemikiran yang brilian yang kemudian kita tulis dan sebarkan untuk dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.

    Sedangkan dalam pendekatan struktural, kementrian Pendidikan RI telah menerapkan wajib belajar Bahasa Inggris di SD sejak 2025, sebuah solusi menghadapi lemahnya pelajar Indonesia berbahasa asing selama puluhan tahun Bahasa Inggris mulai di di SMP.

    Sayang sekali, langkahnya pembenahan di SD masih terseok-seok. Ada kurikulum dalam bentuk buku sebagai bahan pelajaran. Masalahnya, kebanyakan guru yang mengajar tidak tahu berbahasa Inggris. Itu salah siapa? Bukan salah guru, salah sistem yang tidak merekrut guru-guru yang tepat mengisi pos tersebut. Alasan klasik adalah keterbatasan anggaran.

    Sebenarnya sih, selama ada niat dan usaha yang sungguh-sungguh, pasti ada jalan. “Bukankah kesulitan itu adalah kesempatan untuk melakukan yang lebih baik (better)?”, kata B. J. Habibie. Seribu langkah dimulai dari satu langkah. Sekecil apapun langkah kita, we just want to make something (Kita hanya ingin membuat sesuatu), mengutip Salma, “Better”.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 30 April 2026

  • Inisiatif untuk Cepat Pintar

    Inisiatif untuk Cepat Pintar

    Kesan yang sangat menggembirakan. Pada waktu sedang istirahat, Zhah Noor Aisyah, pelajar kelas Malam Reading (Bacaan) yang telah tamat dua buku, tiba-tiba duduk di depan penulis dan membuka buku catatan grammar-nya. Ia langsung praktek bicara pada simple future menggunakan “be” sebagai kata kerja utama, nominal tenses istilah orang Indonesia. Di hari hari sebelumnya, ia mesti dirayu agar mau belajar simple present dan simple past hingga paham luar kepala. Sekarang, ia berinisiatif sendiri.

    Berbekal buku catatan, ia praktek lisan. Kewalahan menyusun kata pada perubahan simple future pasti Zhah temukan.
    Karena itu, ia lebih banyak bicara sambil melihat peta yang ia buat. Ilmu memang tidak secepat kilat bisa dipahami, butuh proses. Hukum perulangan menjadikan pelajaran melekat dengan baik di kepala.

    Seluruh proses perubahan kalimat termasuk pada penggunaan shall untuk British English pada subjek I dan We telah Zhah praktekkan. Variasi ini sengaja diajarkan karena ia tidak hanya membaca buku buku karya orang Amerika tetapi juga karya orang Inggris. Buku catatan sangat berguna untuk merujuk pada tiap kesalahan bicara yang ia praktekkan di depan gurunya.

    Setelah merasa cukup yakin, Zhah tidak memilih untuk beristirahat. Ia pun kembali mengerakkan pena, membuat catatan terbaru. Agar tidak kesulitan, ia menulis materi simple present, simple Past dan simple future pada verbal tenses sebagai pembanding dari simple pada nominal tenses. Pelajar Indonesia sering kali gagal membedakan ini, apakah menggunakan “do, does atau did” atau am, is atau are saat bertanya.

    Kemungkinan besar, Zhah tidak membutuhkan banyak penjelasan lagi dalam merangkai kata pada latihan berikutnya. Pemahaman penting yang akan disampaikan kepadanya yaitu mengapa “do” atau does” dipakai, bukan “am, is atau are” pada simple present untuk bertanya. Hal yang sama juga terjadi pada simple past. Mengapa “did” bukan “was, were” dan seterusnya.

    Apakah ini sulit dipahami oleh anak kelas 4 SD seperti Zhah? Tidak sama sekali. Zhah tergerak hari untuk mempelajari materi ini karena melihat beberapa teman seumurannya telah mengerti tenses dengan sangat baik. Berdasarkan proses belajar yang ia lakukan,
    ia dan guru guru di RBB (Rumah Belajar Bersama) yakin ia sanggup paham tenses luar kepala juga. Prediksi dalam dua atau tiga minggu ke depan, ia akan mendapatkan live (siaran langsung) disaksikan oleh publik untuk praktek perubahan seluruh kalimat tenses di luar kepala.

    Percepatan tersebut kuncinya terletak pada Zhah sendiri. Ketika ia mau menggunakan sebagian jam istirahatnya dengan duduk di depan guru, membuka buku catatan grammar-nya dan praktek, ia tidak hanya menyelesaikan tenses tapi pembelajaran Basic Grammar lainnya akan jauh lebih banyak ia mengerti yang sangat berguna memahami teks reading, speaking dan writing bila ia tertarik menulis dalam Bahasa Inggris.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 29 yang April 2026

  • Semua Aktif Belajar

    Semua Aktif Belajar

    Menarik dan sederhana. Itulah yang kita temukan ketika Steven Riley, seorang guru senior dari Australia, mengajar sehari di RBB (Rumah Belajar Bersama). Dalam berkomunikasi, ia mengajarkan intonasi yang erat kaitannya dalam tanya jawab. Pertama, ia menanyakan kabar dan nama peserta sembari memperhatikan cara menjawab. Kemudian, para pelajar diminta membuat pernyataan yang ditujukan kepadanya.

    Berangkat obrolan singkat tersebut, Steven yang sudah melanglang buana ke negeri terjauh sampai ke Jepang ini langsung tahu kapasitas pelajar. Dengan segera, ia mendekati pelajar yang kurang PD (percaya diri) bicara dan menyapanya menggunakan kosa-kata percakapan sehari-hari. Lalu, suasana jadi cair. Para pelajar jadi lebih siap. Setelah itu, ia memberikan contoh pengaturan tinggi rendah suara. “Kalau mau bertanya, naikkan nada suara di akhir kata pada kalimat. Sebaliknya, kalau mau menjawab, turunkan saja suara nada suara di akhir kata”, katanya. Sederhana itu.

    Pelajaran berlanjut. Karena Steven total berbahasa Inggris, ia pun menggunakan gerakan tubuh agar maksud penjelasannya bisa dimengerti. Penulis kadang-kadang hadir membantu menerjemahkan pada hal-hal yang rumit saja untuk membuat pelajar lebih cepat mengerti. Selebihnya, mereka diajak untuk berusaha menafsirkan sendiri segala hal yang dijelaskan Steven.

    Mengatur tinggi rendah suara terlihat remeh-temeh tapi mayoritas pelajar belum tahu cara menaikkan atau menurunkan suara dengan tepat dengan nada yang enak didengar. Steven tidak menyerah. Guru yang telah makan garam ini tahu betul cara mengatasinya. Pada setiap pelajar yang gagal berbicara dengan benar, ia diminta untuk membuat pengulangan. Dan bila mereka masih tetap gagal, meskipun umurnya mencapai 72 tahun, ia tidak terlihat lelah dan malahan tidak segan-segan aktif berjalan mendekati untuk membantu satu persatu pelajar mengikuti apa yang ia katakan hingga sampai pada ukuran suara yang menurutnya nyaman untuk didengarkan.

    Setelah itu, Steven melatih kemampuan berbicara lebih banyak. Untuk pemahaman tentang arah, Steven terlebih dahulu membuat tanda panah untuk arah utara, selatan, timur dan barat. Kemudian, membuat jalan berkelok-kelok mempunyai pertigaan dan perempatan. Ia juga menggambar rumah, sekolah, kantor dan lainnya. “Dimana sekolah?”, tanya Steven. Jawaban tidak sekedar menunjuk pada gambar tapi bercerita. Pelajar harus bisa mengatakan jalan terus ke arah barat, belok kiri dan kemudian kanan pada pertigaan dan seterusnya. Jawaban akan beragam karena yang ditanyakan adalah berbagai macam tempat yang berbeda.

    Capaian Pengajaran Steven
    Pembelajaran interaktif dua arah dari Steven berhasil merangsang cara berpikir, aktif berbicara dan memastikan tingkat pemahaman siswa secara langsung. Bahkan, para pelajar yang pasif pun berpikir dan mempersiapkan diri karena memprediksi dirinya akan mendapatkan pertanyaan. Dan bagi pelajar yang telah berani bicara, mereka akan lebih kreatif dan kritis dalam berpendapat.

    Suasana belajar juga terlihat lebih semarak karena terjalin hubungan komunikasi sesama pelajar dan pelajar dengan guru. Seorang guru yang berpemikiran terbuka seperti Steven tepat melakukan metode pembelajaran ini. Ia telah siap akan kemungkinan munculnya pertanyaan kritis yang tidak terduga. Pengalaman, wawasan dan mental Steven dalam mengelola kelas belajar membuat pembelajaran terlihat sangat menyenangkan dari awal hingga akhir yang berlangsung sekitar 90 menit.

    Steven Riley sebenarnya saat ini tidak lagi berprofesi sebagai seorang guru tapi kontraktor di Perancis. Ia bertemu dengan Anjas, seorang guide paham peta dan kebutuhan tamunya, yang membuat Steven dapat menyalurkan hobby mengajarnya dengan menguji RBB. Metode pengajaran Steven yang erat kaitannya dengan pronunciation, speaking and intonation (Pengucapan, bicara dan intonasi)

    Steven Riley sebenarnya saat ini tidak lagi berprofesi sebagai seorang guru tapi kontraktor di Perancis di mana sebelumnya ia mengajar di Jepang. Ia bertemu dengan Nur Anjas, seorang guide paham peta dan kebutuhan tamu di Bira, yang membuat Steven dapat menyalurkan hobby mengajarnya dengan mengunjugi RBB. Pengajaran sehari Steven yang erat kaitannya dengan pronunciation, speaking and intonation (Pengucapan, bicara dan intonasi) sangat bagus dan menjadi kekayaan referensi untuk ditindaklanjuti dalam mendukung percepatan kecerdasan para pelajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 28 April 2026

  • Jurus Belajar

    Jurus Belajar

    Jurus Kung Fu mabuk sangat cocok bagi para pelajar yang sebenarnya tidak kurang perhatian dalam belajar. Mereka datang ke kelas untuk sekedar menutupi tuntutan orang tuanya. Tidak perlu banyak hal yang harus dibebankan padanya. Yang penting, mereka membaca dan praktek. Paham atau tidak, itu urusan belakangan. Berada di lingkungan belajar itu sudah cukup membantu mereka mengurangi bermain android–Masalah besar yang dihadapi kids zaman now. Kita doakan saja agar mereka bisa paham dengan pembiasaan belajar.

    Sementara itu, para pelajar yang sudah punya sedikit lebih bagus dari yang dijelaskan di atas cocok pakai jurus Kung Fu Master–Keahlian diperoleh dari ketekuna, disiplin dan waktu yang lama. Mereka mendapatkan pelajaran yang lebih terstruktur dan punya jam tambahan di luar jam belajar wajibnya. Ada waktu bermain tapi relatif lebih sedikit. Sebelum jemputan orang tuanya datang, sedapat mungkin belajar.

    Afifah dan Zhah adalah pelajar kelas Reading (Bacaan) tapi ia tertarik belajar Grammar (tata Bahasa. Melihat para pelajar grammar punya kemampuan berbeda dengan dirinya, mereka penasaran. Untuk setelah jam belajar reading-nya selesai, kami pun memintanya mencatat beberapa hal penting pada Tenses. Kemudian, mereka pun berlatih lisan pada tenses luar kepala dengan target bukan sebatas tahu tahu paham.

    Ah, yes! Faktor kebiasaan membaca
    pasti sangat mempengaruhi kecepatan berpikir. Para pelajar ini sudah sering menemukan kalimat yang sama atau minimal mirip tapi belum tahu kenapa ditulis seperti demikian–Tentu karena tidak tahu grammar. Jadi, dengan mendapatkan dasar dasar grammar, mereka lebih girang dan bersemangat mencari tahu lebih jauh. Hal ini kami lihat dari kebiasaannya bertanya, Apa maksudnya ini dan itu? Kenapa bisa begitu dan begitu? Rasa ingin tahu tersebut memotivasinya untuk memenuhi target yang ingin dicapai.

    Jurus Kung Fu Mabuk atau Jurus Kung Fu Master, itu adalah istilah atau klasifikasi saja. Yang utama adalah kesediaan menghadapi proses belajar. Dalam menjalaninya, tentu ada kemudahan, ada kesulitan saling silih berganti. Mari terus melangkah memperbaiki cara belajar kita. Siapa tahu, ada jurus Kung Fu Belajar lainnya yang ditemukan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukimba, Sabtu, 25 April 2025