Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Terbaik dari yang Terbaik

    Terbaik dari yang Terbaik

    Untuk kesekian kalinya, INKAI Sul Sel (Sulawesi Selatan) semakin menguatkan diri sebagai Juara Umum 1 tak terbantahkan. Piala Menpora (Menteri Pemuda dan Olahraga) Republik Indonesia pada 16 – 18 Nopember 2025 di GOR Sudiang, Makassar pun diraih dengan mengokohkan diri di posisi puncak.

    Dan sudah menjadi kebiasaan setiap juara diraih, para atlet mengangkat Ketua Ir. Abdul Djalil Razak, Ketua INKAI Sul Sel, sebagai wujud rasa bangga dan cinta yang selama dalam kepemimpinannya berhasil menjadikan INKAI the best of the best (Terbaik dari yang terbaik) dengan pembuktian meraih beragam Juara Umum 1 dalam berbagai Open Tournament (Kejuaraan Terbuka) yang memungkinkan seluruh perguruan karate se Indonesia hadir bertanding.

    Zulkarnain Patwa
    * Humas INKAI Sulawesi Selatan
    * Pengajar di Rumah BelajarBersama
    * Pelatih INKAI Bulukumba

  • Senior

    Senior

    Sensei Herman punya fisik yang berotot dengan kepalan tangan yang besar dan bertenaga. Saya pun pernah kumite dengannya saat pelatihan wasit juri INKAI di Do Jo Lifiyura, markas utama INKAI Sulawesi Selatan. Beruntung dia berbaik hati tidak mengeluarkan seluruh tenaganya dan hanya mengeluarkan jurus jurus sederhana. Saya merasa lega.

    Terus terang, saya bukan hanya khawatir pada pukulan Sensei Herman yang telak tapi juga pada tendangan Mae Geri-nya yang masih punya bentuk bagus dan ia tahu kapan menggunakannya di waktu yang tepat. Semua itu tidak diberikan ke saya karena dia adalah sosok yang telah menjadi bagian dari pelatih senior yang punya kematangan mental dalam mendidik yuniornya, termasuk saya.

    Foto saat INKAI Sulawesi Selatan meraih Juara Umum 1 pada Kejuaraan Karate Piala Menpora RI pada 16 Nopember 2025 di GOR Sudiang Makassar Sulawesi Selatan.

    Zulkarnain Patwa
    * Humas INKAI Sulawesi Selatan
    * Pelatih INKAI Bulukumba

  • Impossible to Possible

    Impossible to Possible

    We will never forget when the first time we taught this little girl. Two years ago, Faika won a Karate Championship in Gowa District, South Sulawesi. A consequence for this, she got a scholarship for three months studying at Rumah Belajar Bersama.

    At that time, Faika chose to join English class eventhough she still couldn’t read well. ‘Why does Faika not want to take Math class?’, a question to Nurlaelah, Faika’s mother. Without hesitation, her mother simply answered, ‘She wants English.’ It was a hard decision to accept because we knew that Faika still needed to learn to read and write in Indonesian before reading and writing in English.

    Because we didn’t want to make Faika disappointed, we let her come together with all of her friends who got medals. It was the first time we taught English without books in order to make Faika enjoy the class. We just talked simple words, singing and playing games. It was all about.

    After a month, Faika felt bored with the lessons and suddently asked us to write English words, phrases and sentences on the board. It was a big surprised for us because a kid who was still learning to read and write in Indonesian wanted something more in English. You know, what? Faika could write all the teacher’s writings on her notebook.

    From this experience, we were not only just very happy but also very proud of her. Something that we imagined was impossible is possible.

    Zulkarnain Patwa

  • Proving Our Best

    Proving Our Best

    INKAI (Institute Karate Do Indonesia) South Sulawesi has always won in various major Open Tournaments of karate competitions because the management and senpai dan sensei (karate intructors) have successfully built a champion mentality, driven by relentless effort and a strong sense of courage in facing every challenge.

    It’s no surprise that every INKAI South Sulawesi athlete who competes always strives for their best. Even if some of our athletes only win silver or bronze, they always think about how they can win gold in the next competition.

    Even gold medalists don’t just go training karate as they want. They are aware that greater challenges will surely come soon. The best atheletes will be immediately replaced if they are detected not dicipline.

    According to Ir. Abdul Djalil Razak, Chairman of INKAI South Sulawesi, if the first-place winners don’t practice hard, they will be replaced by the second-place winner as a representative and also carry the mandate and responsibility to elevate and bring honor to INKAI South Sulawesi and prove even greater achievements.

    It is natural that karate intructors and athletes from all INKAI do jo (the place to practice karate) in each district in South Sulawesi welcome TC (Training Center) implementations to create the best athletes as a great preparation to go international standard, a great target of INKAI center in Jakarta for its kohai (members of karate ) spreading throughout Indonesia.

    Note:
    In that photo, the author represents INKAI South Sulawesi to receive the first Champion Trophy at the karate championship in Sorowako, East Luwu, South Sulawesi, Indonesia.

    Zulkarnain Patwa
    * Manager of INKAI South Sulawesi at the Open Tournament, Karate Championship in North Luwu, 2024.
    * Public Relations Officer of INKAI South Sulawesi.
    * Karate Intructor of INKAI Bulukumba

  • Pembuktian sebagai Terbaik

    Pembuktian sebagai Terbaik

    INKAI (Institut Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan juara umum satu dalam berbagai kejuaraan besar terbuka di berbagai kompetisi karate karena pengurus dan pelatih berhasil menanamkan mental juara yang diikuti dengan usaha tiada henti dan dengan kepala tegak berani menghadapi setiap kendala yang dihadapi.

    Tidaklah mengherankan, setiap atlet INKAI Sulawesi Selatan yang turun berlaga selalu mengusahakan yang terbaik. Bahkan betapa pun atlet atlet kita ada yang sekedar meraih Perak atau Perunggu, mereka selalu berpikir bagaimana caranya agar pada kejuaraan berikutnya mereka bisa meraih emas.

    Peraih emas pun tidak bersantai. Mereka sadar tantangan yang lebih besar pasti datang. Posisi terbaik akan segera diganti bila terdeteksi malas atau sesuka hati saja datang berlatih.
    Menurut Ir. Abdul Djalil Razak, Ketua INKAI Sulawesi Selatan, Yang juara satu bila tidak rajin latihan, orangnya akan diganti oleh atlet juara dua sebagai representasi dan sekaligus mengemban amanah dan tanggung jawab mengangkat dan mengharumkan nama INKAI Sulawesi Selatan ke jenjang prestasi yang lebih tinggi.

    Wajarlah bila pelatih dan atlet seluruh do jo INKAI di tiap kabupaten sambut menyambut melaksanakan TC (Training Center) untuk mencetak atlet atlet terbaik yang akan didorong untuk go internasional, sebuah target INKAI Pusat untuk para kohai-nya yang menyebar di seluruh Indonesia.

    Note:
    Pada foto, penulis mewakili INKAI Sulawesi Selatan untuk menerima Piala Juara Umum 1 di kejuaraan karate di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

    Zulkarnain Patwa
    * Manager INKAI Sulawesi Selatan pada Open Tournament, Kejuaraan Karate di Luwu Utara, 2024.
    * Humas INKAI Sulawesi Selatan.
    * Pelatih INKAI Bulukumba.

  • Lulus Ujian Perkalian dan Pembagian

    Lulus Ujian Perkalian dan Pembagian

    Siti Nur Fatihah Azzahrini S. S. adalah pelajar kelas 5 adalah pelajar yang pertama dari SDN 322 Ela Ela Bulukumba yang lulus pada ujian tulis pada Perkalian dan Pembagian.

    Dari delapan puluh soal perkalian, Fatiha hanya punya satu salah pada perkalian yaitu pada 8 x 4.

    Dan dari delapan puluh soal pembagian, Fatiha hanya punya lima salah.

    Untuk menghadapi dan mampu lulus ujian tahap kedua yaitu ujian lisan, Fatiha sangat perlu penguatan latihan pada pembagian tiga, empat, enam dan delapan sebelum masuk pada ujian lisan.

    Hal ini berdasarkan kesalahan kecil yang kita telah cek pada ujian tulisnya dimana hal tersebut ia akui dan ia siap menjadikan kelemahannya tersebut dengan latihan lebih banyak sebelum maju ujian lisan.

    Semoga hal tersebut tercapai karena selain ilmu dasar ini sangat berguna menganalisa pelajaran Matematika sekolahnya lebih lanjut, dasar dasar berpikir logis pun akan tertanam dengan baik pada diri anak yang bermanfaat untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

    #Metode40

  • Sempurna pada Ujian Perkalian dan Pembagian

    Sempurna pada Ujian Perkalian dan Pembagian

    Izzatunnisa pelajar kelas tiga SD ini turut dinyatakan lulus ujian tulis pada Perkalian dan Pembagian dengan nilai sempurna, seratus. Hal ini karena ia melihat seorang pelajar bernama Faizah yang lebih dahulu ujian dan memperoleh nilai seratus juga.

    Nisa anak yang berhasil meningkatkan kwalitas belajarnya dengan sistem kompetisi. Bila ia melihat rekannya pintar, ia juga ingin punya kemampuan yang sama dan bahkan melebihi orang yang ia anggap pintar. Tak heran, ia selalu mengajak rekan kelasnya yang ia anggap pintar untuk berlomba menjawab soal-soal secara lisan. Dan dalam berbagai macam lomba informal tersebut, Nisa lebih sering juara 1.

    Pengembangan cara belajar dengan sistem kompetisi memang menguatkan mental dan memperteguh daya juang. Kelemahan yang biasa muncul, anak akan mudah menganggap remeh orang lain yang berada di bawah kemampuannya. Oleh karena itu, Nisa selalu kita ingatkan untuk membantu rekan kelasnya yang kewalahan memahami pelajaran dengan cara memberitahu cara menjawab soal, bukan langsung pada jawaban sehingga tercipta komunikasi yang akrab yang membuat Nisa peduli pada orang yang ada di lingkungan belajarnya.

    Mengenai pelajaran sekolah, Nisa banyak dididik oleh Suci Rahmayani Masdah, guru utamanya pada kelas Matematika di Rumah Belajar Bersama. Pelajarannya Miss Uci menekankan untuk terlebih dahulu menuntaskan semua materi yang diberikan untuk mendapatkan waktu keluar main. Dan Nisa dengan senang hati mengikuti nasehat gurunya. Nisa telah terbiasa mengerjakan soal soal Matematika yang belum dipejari di sekolahnya. Tak mengherankan bila Nisa selalu berpendapat bahwa pelajaran sekolah itu gampang yang ia buktikan dengam sering mendapatkan nilai seratus. Dan bila ia kebanyakan bermain, ia selalu mengatakan bahwa ia sudah mengerjakan semua soal yang diberikan Miss Uci.

    Sekarang ini, untuk membuat Nisa lebih bersemangat belajar, ia perlu tantangan. Selain menuntaskan Matematika sekolah sesuai tingkat kelasnya, Nisa akan mendapatkan soal yang erat kaitannya dengan aritmatika (tambah, kurang, kali dan bagi) lanjutan yang bentuk soalnya mengasah ketelitian, kecepatan dan ketelitian berpikir.

    Semua in akan kita tekankan dalam waktu dekat. Ujian lisan pada Perkalian dan Pembagian akan dihadapi Nisa sebagai konsekuensi lulus ujian tulis. Dari sini, kita akan dapat mengukur sejauh mana kemampuannya dan akan memberikan soal soal lanjutan yang sesuai dengan perkembangan otaknya.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

  • Pemenang Ujian Tulis dan Lisan

    Pemenang Ujian Tulis dan Lisan

    Faizah adalah anak SDN 8 Nipa yang pertama yang memperoleh beasiswa lanjutan. Ia yang sebelumnya meraih nilai seratus pada ujian tulis pada perkalian dan pembagian satu sampai sepuluh maju ke tahap ujian lisan. Hasilnya, ia hanya salah satu pada perkalian dan tiga salah pada pembagian.

    Faizah tersenyum puas setelah mengetahui pengumuman ini. Saat ditanya tentang manfaat ikut manfaat, ‘Biasanya saya mendapatkan nilai di bawah tujuh puluh pada pelajaran sekolah’ kata pelajar kelas lima SD ini. ‘Sekarang saya selalu dapat seratus.’

    Pernyataan Faizah ini adalah bukti bahwa yang perlu kita tuntaskan terlebih dahulu adalah materi di atas. Pelajaran sekolah seperti pecahan, persen dan seterusnya akan dengan mudah dipahami pelajar bila punya pemahaman perkalian dan pembagian yang baik. Dan dengan keberaniannya menghadapi ujian tulis dan lisan, ia pun kini berhak mendapatkan pelajaran yang erat kaitannya dengan pelajaran sekolahnya termasuk cara cara menyelesaikan soal soal dengan cepat.

    Oh iya. Saat ujian lisan, satu kesalahan Faizah saat ditanya 7 x 8. Ia kehabisan waktu dan benar benar tidak tahu jawabannya. Namun saat soal soal terus berlanjut, sampailah pada soal 8 x 7 dan ia menjawab dengan benar. Ini lucu, pada soal lainnya semisal 6 x 8 atau 8 x 6 dan semua soal yang terbolak balik seperti itu mampu ia jawab dengan benar. Dan saat memasuki pembagian pada 56 : 8 dan 56 : 8, ia jawab benar.

    Pada soal Pembagian, titik kelemahan Faizah ketemu. Ia sedikit lambat menjawab pada pembagian delapan dan di situ pula ia memperolah dua kelas dan satu kesalahan pada pembagian tujuh. Itu berarti, ia perlu sedikit latihan lagi agar akselerasinya cepat menyempurna.

    Faizah yang tidak menyangka bahwa Matematika menjadi pelajaran favoritnya dan bagian dari kebanggaannya dengan biasa memperolah nilai seratus pada sekolah saat ini sepertinya akan kaget lagi dengan model model penyederhanaan penyelesaian dasar dasar Matematika. Terlebih bila pemahaman perkalian dan pembagiannya itu akan ia gunakan untuk menjawab soal-soal olimpiade SD. Betapapun ia tidak sempat lagi ikut olimpiade sekolah karena ia akan naik kelas enam SD, pelajaran tersebut berguna untuk pendalaman pengetahuannya. Dan Mira Asmiranti, guru inspiratif kelas 6 SDN 8 Nipa, tentu akan memperkaya untuk anak anak berbakat seperti ini.

    Last but not the least, anak anak kita memang perlu dibiasakan ujian tulis dan lisan karena dengan itulah kita bisa membuat mereka lebih tekun belajar dan memperoleh kwalitas yang menyakinkan.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

  • Bahasa Inggris untuk Kita

    Bahasa Inggris untuk Kita

    Oleh : Taufiqurrahman Muslim

    ‎Era globalisasi sekarang, Bahasa Inggris berperan penting sebagai bahasa internasional. Hampir semua bidang kehidupan, seperti pendidikan, teknologi, dan komunikasi, memakai Bahasa Inggris sebagai sarana utama.

    Bagi saya, alasan belajar Bahasa Inggris tidak hanya demi kepentingan pribadi atau karier, tetapi juga agar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama masyarakat kampung halaman saya di Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba.

    ‎Saat ini, saya masih belajar Bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama (RBB), sebuah tempat belajar yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kemampuan bahasa dan pengetahuan.

     

    Di RBB, saya belajar berbagai hal seperti tata bahasa, cara mengucapkan kata, dan kosa-kata. Selain itu, saya juga belajar nilai-nilai penting seperti saling membantu, serta semangat untuk terus belajar dan berkembang. Lingkungan belajar yang positif di RBB membuat saya semakin termotivasi untuk terus memperbaiki kemampuan berbahasa Inggris.

    ‎Belajar bahasa Inggris bukanlah hal yang mudah. Ada banyak rintangan, seperti kesulitan mengerti cara menyusun kalimat dan rasa gugup saat berbicara. Namun, setiap tantangan mengajarkan saya pentingnya sabar dan terus belajar. Saya tahu bahwa belajar bahasa tidak hanya tentang menghafal teori, tetapi juga tentang berani mencoba dan tidak takut salah. Dari proses itu, saya belajar bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan tekun pasti akan mendatangkan hasil.

     

    ‎Bahasa Inggris memberi banyak peluang baru. Jika seseorang bisa menguasainya, dia bisa mengetahui informasi dari berbagai belahan dunia, memahami perkembangan ilmu pengetahuan, dan memperluas pengetahuan. Bagi saya, manfaat terbesar dari kemampuan ini adalah kesempatan untuk memberi tahu orang-orang di kampung halaman tentang ilmu yang saya ketahui. Saya ingin suatu hari nanti bisa mengajar anak-anak di Desa Tanah Towa, agar mereka juga bisa belajar Bahasa Inggris seperti yang saya alami di RBB.

    ‎Desa Tanah Towa terkenal sebagai desa yang memiliki budaya dan keunikan wisata. Di sini tinggal masyarakat adat Kajang yang menghargai nilai kesederhanaan serta kearifan lokal mereka. Budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat membuat desa ini menarik perhatian banyak wisatawan, termasuk dari luar negeri. Karena banyak wisatawan asing yang berkunjung, kemampuan berbahasa Inggris menjadi sangat penting, terutama untuk berkomunikasi dengan orang asing. Banyak wisatawan membutuhkan bantuan penerjemah, dan hal ini memberi kesempatan bagi warga lokal untuk lebih aktif dalam memperkenalkan budaya Kajang kepada dunia.

    ‎Dengan berbahasa Inggris, masyarakat Desa Tanah Towa bisa bantu wisatawan paham adat istiadat, mempromosikan produk kerajinan lokal, serta memperkuat citra desa sebagai tempat wisata budaya. Di sini saya sadari bahwa belajar Bahasa Inggris punya arti sosial yang besar, tidak hanya untuk perkembangan pribadi, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan melestarikan budaya setempat.

    ‎Akhirnya, saya menyadari bahwa menguasai Bahasa Inggris bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari sebuah perjuangan. Ilmu yang saya pelajari di Rumah Belajar Bersama menjadi bekal berharga untuk berkontribusi bagi desa kelahiran saya. Saya yakin, meskipun ilmu yang dimiliki sangat kecil, nilainya akan besar jika digunakan untuk kebaikan dan kemajuan bersama. Dengan Bahasa Inggris, saya berharap dapat membawa nama Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, ke kancah nasional bahkan internasional.

  • Bukan Kapten

    Bukan Kapten

    Kalau kapten itu sibuk berpikir dan bekerja. Kalau bukan kapten seperti saya, sibuk foto disamping kapten saja.

    Foto pada Pinisi Layar Perla Anugerah Ilahi pada 4 September 2024 di laut Losari, Makassar.

    Zulkarnain Patwa