Anak kelas 4 SD dan kelas 1 SMP hadir untuk mengingatkan kita bahwa ada pelajaran yang tidak pernah diperhatikan secara serius: mereka akan turut menggetarkan pendidikan formal.
Andi Nurhidayah Yadawiah, 9 tahun, dan Afifah Rayya Az Zahra, 12 tahun, sama-sama menyelesaikan setoran verbal tenses dan nominal tenses di luar kepala secara teratur. Sedikitnya 1.438 perubahan kalimat tenses mereka setor tanpa melihat catatan—tidak sekaligus, melainkan dicicil pada tiap pertemuan kelas belajar. Mereka tidak berkata-kata apa pun tentang pendidikan sekolah formal. Toh, pikiran mereka belum sampai mengapa orang tua mereka mengirim ke pendidikan nonformal. Secercah masa depan yang lebih cerah tidak padam.
Tidak cukup 10 tahun ke depan, kedua anak ini akan menempuh pendidikan di universitas. Kedua anak ini bersama jutaan manusia Indonesia yang belajar akan menyaksikan dahsyatnya pelajaran yang mereka peroleh selama masa pertumbuhan mereka. Banyak pelajar akan terpelanting, tidak bisa melangkah maju pada pergaulan internasional dan mengakses ilmu pengetahuan berharga dari negeri luar karena keterbatasan bahasa Inggris. Dalam pertarungan akademis, pelajar yang sejak masa kecil terdidik dengan benar mempunyai peluang yang sangat besar untuk menyambut setiap tantangan.6
Era yang serba instan ini, orang lupa menanam.
Era yang serba-instan ini, orang lupa menanam kayu besi dan na’nasa (bitti) adalah endemik khas Sulawesi yang menjadi andalan pembuatan perahu tradisional Bulukumba berabad-abad lamanya dan sangat terkenal kualitasnya sehingga pemasarannya sampai ke tingkat internasional. Sebagai sebuah kekayaan pengetahuan, perahu pinisi pun ditetapkan sebagai warisan dunia takbenda oleh UNESCO pada 2017. Kayu besi dan pertumbuhannya lambat untuk mengeraskan diri dan menjadi bagian kayu terbaik dalam pembuatan perahu dan juga urusan terpenting manusia.
Orang lupa pendidikan jangka panjang.
Setelah tamat SMA, para pelajar berlomba-lomba mengikuti kursus singkat untuk ujian masuk ke institut, universitas, ataupun kerja. Kursus singkat yang menyita waktu dan sangat melelahkan. Lupa, ada waktu yang panjang semasa SD hingga SMA tidak dimanfaatkan. Bahkan, ratusan juta bersedia dikorbankan untuk urusan lulus di kampus atau institusi tertentu. Kita menolak membangun kualitas tangguh yang dibangun secara perlahan-lahan.
Mengapa kita tidak mengambil pelajaran dari alam sekitar kita? Mengapa kita semakin terasing dari benda-benda di sekitar kita? Alam semesta yang terhampar di hadapan kita adalah benda-benda yang dimanfaatkan untuk bahan renungan bagi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Tetapi kemudian, pengerukan sumber daya alam dengan serakah merusak rumah kita sendiri—tidak ada lagi rumah yang lain selain alam itu sendiri.
Dari pohon yang berkualitas terbaik itu mengajarkan kita tentang daya tahan dan kesabaran jangka panjang hingga masa layak untuk digunakan. Tentu itu tidak akan mengecewakan. Pendidikan yang mengabaikan proses, waktu, dan ketekunan pada akhirnya akan mencetak manusia yang tidak ahli dan bekerja bukan pada bidangnya, tidak bertanggung jawab, dan merusak diri manusia itu sendiri. Kita menghancurkan masa depan manusia yang bila kita sadar dan mau bertindak, kita bisa mengubah alurnya.
Menentukan arah masa depan sangat besar dipengaruhi oleh tindakan kita sekarang. Sejarah masa lalu telah menjadi pelajaran buat kita yang hidup di masa sekarang. Pendidikan informal di RBB yang terus mencetak sumber daya manusia yang terbarukan turut menyebarkan solusi buat generasi penerus kita.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa, 8 September 2026

Tinggalkan Balasan