Desain Global dalam Pendidikan Non-Formal

Dunia belajar adalah bermain, belajar dengan suasana bermain atau permainan adalah belajar. Begitulah awal kondisi belajar anak-anak ini. Ini awal sebuah desain besar yang akan dijadikan fondasi kompetisi global. Mereka sama sekali belum tahu apa pentingnya berilmu pengetahuan. Yang mereka tahu adalah belajar itu harus menyenangkan. Bila tidak, pelajaran dan guru yang mengajar menjadi musuh bersama dari para pelajar.

Asumsi ini kemudian mengalami perkembangan setelah anak-anak SD di kelas malam ini menamatkan tenses di luar kepala secara teratur. Memasuki tahap selanjutnya, mereka merasa bahwa mengerjakan latihan tulis pada perubahan kalimat berbahasa Inggris itu tidak harus lagi dengan suara yang ramai dengan permainan. Mereka ingin ketenangan agar dapat berpikir dengan jernih dalam menjawab soal-soal tenses secara acak. Sesekali ada beberapa anak yang membutuhkan bantuan guru dalam menyelesaikan soal yang dirasa sulit, namun setelah mengerti, mengerjakan latihan secara mandiri lebih mereka suka daripada didampingi guru.

Setelah melihat hasil kerja latihan itu, mayoritas pelajar memperoleh nilai di atas 90 dari 52 jumlah soal tenses acak. Ini tidak lazim dilakukan oleh pelajar SD di Bulukumba karena di sekolah, anak-anak sekadar belajar kosakata dan kalimat sederhana dengan waktu yang sangat terbatas, sekali seminggu. Tetapi, target yang ingin dicapai bukan sebatas itu saja. Anak-anak ini juga berminat untuk menguasai tenses acak karena beberapa rekan sebayanya telah sanggup melakukannya dengan sangat baik.

Perubahan pola belajar dari yang biasa saja menjadi luar biasa ini adalah perjuangan yang panjang. Kesadaran itu muncul secara bertahap yang dibarengi dengan kesabaran dalam mendidik. Semua masa sulit dihadapi dengan tabah sehingga tiap anak yang tertinggal tidak ditinggalkan, tetapi terus disemangati dan dididik semaksimal mungkin. Singkat penjelasan, tidak boleh ada pelajar yang bodoh. Guru dan semua pelajar saling membantu dan bertanggung jawab mencerdaskan setiap pelajar yang ada.

Disadari atau tidak, kelas malam di Rumah Belajar Bersama (RBB) ini telah menerapkan suatu model pembelajaran yang baru tanpa merasa khawatir bahwa kualitas materi yang diasumsikan agak berat itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelajar mereka. Mereka tertantang dan mendobrak, menguatkan dasar-dasar demi sebuah cita-cita besar. Kenapa RBB sangat berani melakukannya? Karena terdapat sumber daya manusia yang cukup, bukan sumber daya materi. RBB berusaha menjadikan belajar itu lifestyle (gaya hidup), setiap tempat adalah belajar.

RBB merancang para pelajarnya untuk persiapan kompetisi global. Para pengajarnya mengetahui hal-hal terpenting yang sangat perlu dikuatkan untuk membangun budaya literasi dan kemampuan berbicara secara akademis sehingga ke depan, para pelajarnya siap menghadapi tantangan yang berat termasuk menulis dalam bahasa Inggris. Apa lagi? Bekal itu sudah cukup bila para pelajarnya nanti bercita-cita kerja atau kuliah di luar negeri termasuk mendapatkan beasiswa belajar.

Anak-anak kita yang masih pada tahap belajar dengan suasana bermain sama sekali bukanlah masalah bagi RBB. Itu malahan suatu jalan yang baik untuk menuju ke dunia belajar tingkat tinggi, yang sesungguhnya. Sebab, pada akhirnya, pendidikan itu akan diukur dari sumber daya manusia yang berkualitas yang dihasilkan. RBB berada di garis tersebut.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Senin, 7 September 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *