Aneh tapi nyata. Itulah yang terjadi bagi para Tenaga Kesehatan (Nakes) Indonesia yang melamar pekerjaan di Timur Tengah. Mereka wajib wawancara dalam bahasa Inggris, bukan bahasa Arab. Kata calon peserta, itu karena mereka akan melayani manusia dari seluruh penjuru dunia di mana bahasa Inggris sebagai penghubung.

Memperhatikan model tes wawancara, soal-soalnya relatif mudah, seputar alasan mengapa mereka memilih kerja di Arab dan tentang keahlian yang mereka miliki. Itu semacam obrolan santai untuk mengakrabkan diri saat berkenalan dengan orang asing. Namun, urusan ini bukan perkara mudah bagi sarjana kesehatan itu betapa pun mereka telah belajar bahasa Inggris di SMP, SMA dan kampus perkuliahan.

Dua orang dewasa, Nurdillah, alumni STIKES Muhammadiyah Sidrap dan Nirfiani, alumni AKBID Thahira Al Baeti Bulukumba tidak punya pilihan lain selain belajar bahasa Inggris. Rumah Belajar Bersama (RBB) menerima karena lembaga ini sudah terbiasa mendidik nakes yang mencari rezeki di negeri jauh. Keduanya belajar cara menghadapi wawancara dimulai cara berkenalan hingga urusan penting menangani pasien. Seperti kebanyakan orang, lidah mereka kaku, seakan semua pelajaran bahasa Inggris semasa menuntut ilmu menguap. Kejadian ini hal biasa. Lembaga nonformal sudah terbiasa menangani masalah klasik ini dan selalu mempunyai jurus untuk menangani gagap bicara. Lagi pula, buat apa mereka datang ke RBB jika bahasa Inggris pada pendidikan formal sudah tuntas?

Para pelajar itu diajak untuk memikirkan segala pembicaraan yang ingin mereka katakan. Tugas utamanya adalah mengungkapkan dalam bahasa Indonesia. Fajar Hamzah (Mr. Ancha) menerjemahkan semua kalimat mereka ke dalam bahasa Inggris. Kemudian, mereka praktik bicara. Percakapan sederhana berbahasa Inggris pun mulai sedikit terlihat. Selanjutnya, mereka bersama-sama memetakan kemungkinan soal yang akan keluar pada tes wawancara nanti. Setelah mencapai kesepakatan, mereka membuat tanya jawab di mana seseorang menjadi pewawancara dan seorang lagi diwawancarai. Simulasi tes wawancara ini dirancang sesantai mungkin agar kalimat-kalimat yang telah dipelajari mudah diucapkan kembali. Sebagai antisipasi, ketika lupa, mereka boleh melihat buku catatan. Praktik ini terus dikembangkan hingga mereka merasa tidak perlu merujuk pada buku catatannya lagi.
Setelah melewati tiga pertemuan belajar, keduanya sudah tidak lagi ketakutan berbahasa Inggris. Perlahan tapi pasti, mereka pun bergaul dengan pelajar sekolah di lingkungan RBB dan saling bertanya dalam bahasa Inggris. Bahkan, sesekali semuanya berkumpul membaca buku berbahasa Inggris dengan suara nyaring secara bersama-sama dengan tujuan melatih pengucapan, menghilangkan kekakuan lidah. Keakraban pun terjalin.
Kini, perlahan tapi pasti, asumsi ketakutan berbahasa Inggris itu terkikis. Bergaul dengan pelajar sekolah membuat mereka bisa belajar sembari bermain. Menariknya lagi, mereka saling berbagi bahan pelajaran yang telah didapatkan. Ternyata, pergaulan tanpa memandang jarak umur di lingkungan belajar itu menambah wawasan.

Dengan kondisi belajar di atas, dua atau tiga bulan adalah waktu yang sudah sangat ideal menghadapi tes ujian nakes yang hendak ke luar negeri. Mereka tidak harus belajar bahasa Inggris sebagaimana anak muda-mudi yang hendak lanjut S-2 yang menuntut pembelajaran tingkat tinggi karena wajib menghadapi tes TOEFL atau IELTS.

Jadi, bagi para nakes yang terobsesi melihat negeri jauh dan tentu saja ingin mendapatkan gaji yang jauh lebih layak dibandingkan di dalam negeri tidak perlu khawatir. Ketakutan berbahasa Inggris tetap mengendap abadi dalam pikiran itu hanya karena tidak mencoba saja mencari pengalaman belajar yang baru. Perjalanan belajar Nurdillah dan Nirfiani yang sedang berjuang untuk kehidupan yang lebih baik patut ditiru dalam memajukan kualitas diri. Mereka bermimpi ke luar negeri disertai dengan aksi nyata.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu, 2 September 2026

Tinggalkan Balasan