Dari Bulukumba untuk Dunia: Mengikis Batas Belajar

Sebagai pelajar dan guru, kita tidak perlu sungkan, terlebih lagi malu belajar. Penulis baru saja belajar dan memperoleh inspirasi dari seorang anak yang bernama Athirah Salsabila Nur Faisyal di Makassar. Anak kecil imut ini berumur sembilan tahun, lancar berbahasa Inggris. Penulis yang sejak kecil sudah akrab berbahasa Inggris sangat tertarik berbicara dengannya dan bahkan membuat dokumentasi video.

Athirah suka berbahasa Inggris karena ia bercita-cita untuk menjadi seorang pramugari. Dengan cara itu, keinginannya berkeliling dunia dapat terwujud. Ia juga ingin belajar bahasa Arab, Korea, dan Jepang—negeri yang ingin ia kunjungi yang ia kenal dari hasil berselancar informasi di internet. Selain itu, ia juga sangat antusias menjelaskan tentang hobinya dan teman terbaiknya yang meninggalkannya. Obrolan kami sangat lancar dan mengalir apa adanya. Tanpa sadar, pembicaraan santai nan akrab ini berlangsung sekitar lima belas menit. Selesai.

Penulis berpikir, bisakah anak-anak daerah mempunyai kemampuan seperti Athirah? Tentu saja bisa. Penulis adalah anak desa dari Bulukumba yang sejak kecil sudah bisa berbahasa Inggris seperti Athirah. Bedanya, Athirah mendapatkan fasilitas sekolah internasional, sedangkan penulis SD Negeri saja. Beruntung, di Bulukumba ada Rumah Belajar Bersama (RBB) di mana anak-anak daerah yang meskipun fasilitas belajarnya biasa saja, para pelajarnya bisa mendapatkan pelajaran berstandar internasional juga.

Saat pulang kampung ke Bulukumba, penulis langsung melirik Faika, anak berumur sembilan tahun juga. Awalnya, materi yang ingin penulis ajarkan adalah materi olimpiade bahasa Inggris mengingat ia ingin lagi meraih emas tingkat nasional, tetapi karena pengalaman berkesan bersama Athirah di Makassar, penulis mengajaknya untuk berbicara Inggris. Ia sepakat, sama sekali bukan masalah berarti baginya. Diskusi berjalan selama hampir delapan belas menit.

Faika yang ingin menjadi dokter mempunyai kesamaan dengan Athirah, keliling dunia. Impian yang indah itu tidak dibiarkan sebatas mimpi, melainkan diwujudkan dengan belajar bahasa Inggris sejak usia belia. Memperhatikan spirit belajarnya yang luar biasa, kemungkinan besar, kedua anak berbakat yang belum saling kenal ini akan belajar bahasa asing lainnya. Mereka tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk dapat mewujudkannya.

Sebagaimana halnya Athirah dan Faika, berpuluh-puluh juta anak Indonesia pasti juga mempunyai impian yang indah juga. Kita tidak mengenalnya saja. Mereka tentu ingin mempunyai masa depan yang cerah. Anak-anak di daerah banyak yang berpotensi untuk pintar, masih banyak yang belum kita ketahui. Kita perlu langkah untuk lebih dekat kepada mereka. Suatu keberuntungan, atas inisiatif Miss Fathy Cayadi, kini RBB di Kecamatan Tanete, Bulukumba telah dibuka sekitar dua bulan lalu. Anak-anak Tanete pun mempelajari segala hal yang dahulu dipelajari oleh Faika. Itu berarti, selama mereka tekun belajar, mereka sangat berpeluang untuk menjadi generasi penerus anak-anak hebat.

Kini saatnya kita menyerap inspirasi, menyerap energi positif dari siapa pun tanpa perlu sungkan dan malu untuk membangun kualitas sumber daya manusia pelajar Indonesia hingga sampai ke pelosok desa. Kita ubah nasib bangsa kita dengan pendidikan. Mengutip B. J. Habibie, “Hanya dengan ilmu pengetahuan, kita sanggup sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya.”

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa, 1 September 2026

Link video Athirah:
https://youtu.be/F4fkLvRg3RQ?si=0D7B6V8pQHI1VRvo

Link video Faika:
https://youtu.be/HqOoy1uAKfQ?si=7diiB6i5tV7D-uwW

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *