Menerobos Kemustahilan Kurikulum Bahasa Inggris

Ini adalah sekilas kisah anak-anak yang sangat jarang terjadi dalam dunia pendidikan. Kemampuan Faika Qinara Putri Ridwan, kelas 3 SDN 2 Terang-Terang Bulukumba, memahami seluruh perubahan struktur tenses di luar kepala mengingatkan penulis dengan Asse Icha (Asse Nur Izza Maharani) yang mampu melakukan hal yang sama sewaktu dia juga masih kelas 3 SDN 10 Ela-Ela Bulukumba. Ini terkesan istimewa karena ini sangat langka anak anak berumur sembilan tahun bisa praktik lisan tenses tanpa melihat buku catatan.

Bila Faika meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris di NSMAO (National Science and Mathematics Academic Olympiad) 2026, Icha dipercaya menjadi guru Bahasa Inggris di pesantren Gontor 5 Jawa-Timur sejak masa sekolah hingga tamat kuliah di Unida (Universitas Darussalam), Kampus Gontor. Karena pengabdian mengajar itulah, ia dapat potongan pembayaran. Bahkan, Icha yang lingkungan kesehariannya akrab berbahasa arab selama mengaku bahwa tenses memudahkannya mempelajari struktur tata bahasa Arab ketika ia masih kelas 1 Tsanawiyah (SMP).

Kesamaan Masa Kecil
Faika dan Icha sama-sama atlet karate di INKAI Bulukumba dilatih oleh Sensei Sarif (Pasele Mattaro Mattaro) dan Senpai Rauf. Faika juga dilatih oleh Senpai Riri. Di sini mereka mendapatkan pelatihan fisik untuk kesehatan, penguatan mental untuk berani menghadapi tantangan berat dan membangun kepercayaan diri dan kedisiplinan memperkokoh fisik dan mentalnya.

Dalam hal Matematika, Kalau Faika terlatih berhitung dari orang tuanya–Nurlaelah dan suaminya yang sarjana teknik. Icha berlatih pada ibunya Fatmawati Fatwa, dan penulis dimana saat masih kelas 2 SD, ia sudah paham perkalian 1 sampai 9. Ada bekal untuk agak agak abstrak dan logis. Dan dalam hal literasi, masing-masing orang tua membiasakannya membaca buku di rumah. Dukungan tambahan literasi mereka dapatkan ketika berada di RBB (Rumah Belajar Bersama).

Faika sedang praktik lisan tenses dengan sekedar mengandalkan otaknya saja untuk bisa merubah seluruh struktur tenses di Rumah Belajar Bersama. Foto pada Senin, 1 April 2026.

Dari karate, Matematika dan literasi yang telah tertanam sejak kecil, semua itu adalah modal yang memberanikan para pengajar RBB untuk menerobos kemustahilan. Fisik yang sehat, mental pejuang dan rajin membaca adalah bukti bahwa anak-anak tersebut siap mendapatkan materi tenses yang penuh dengan tantangan berpikir kreatif dan logis untuk sampai pada tingkat pemahaman yang baik.

Asse Nur Izza Maharani yang sempat bertemu B. J. Habibie, Presiden RI ke 3, di Taman Pintar Yogyakarta pada 15 Agustus 2012. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama.

Sebagai pembanding, anda bisa bayangkan, para mahasiswa pun masih harus belajar tenses hanya karena materi dasar ini tidak tuntas di kurikulum SD, SMP dan SMA. Para dosen tahu bahwa mereka kesulitan mengajarkan perubahan kalimat sederhana dan memahamkan materi lanjutan bila para mahasiswa tidak punya pemahaman dasar yang kokoh.

Tantangan Kita
Penerapan tenses pada anak-anak bukanlah hal mustahil. Dua contoh dari anak kelas 3 SD bukanlah generalisasi tapi sebuah tanda bahwa kita mesti mampu mendeteksi potensi kecerdasan yang dimiliki anak-anak untuk dimaksimalkan sesegera mungkin. Penulis yakin masih banyak anak-anak Indonesia yang punya bakat seperti Faika dan Icha. Bagi pemerhati pendidikan, ini adalah tantangan kita semua untuk mendeteksi dan mendidiknya dengan penuh rasa tanggungjawab agar tercipta pelajar Indonesia yang punya daya saing global seperti yang diharapkan Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa, 2 April 2026

Catatan tambahan:
Anda bisa menonton siaran langsung (live) dari Faika praktik tenses di link FB ini:

Part 1
https://www.facebook.com/share/v/1BVhPAyVDX/

Part 2
https://www.facebook.com/share/v/1DJ67oMZHT/

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *