Di sebuah ruang kelas terbuka beratap pohon mangga yang rindang, empat orang pelajar sedang asyik membuat kegiatan berdiskusi. Guru memilih tidak terlibat langsung. “Kalian bebas menentukan apa yang ingin dipelajari,” kata guru. “Kalau belum mempunyai ide baru, kalian boleh memanfaatkan buku Basic Grammar (Dasar-dasar Tata Bahasa) kalian,” lanjutnya. Setelah itu, ia meninggalkan tempat dan memantau aktivitas anak didiknya dari pandangan mata yang jaraknya tidak jauh dari kelas. Sebuah keputusan yang tepat agar para pelajar itu berada di bawah otoritas guru sehingga mereka mau berpikir lebih leluasa dan santai sesama rekan kelas.
Dalam beberapa menit, anak SD dan SMP itu praktik percakapan. Buku Basic Grammar mengandung percakapan menjadi pilihan terbaik mereka. Praktek bergantian pasangan dalam berkomunikasi ini dilakukan secara bergiliran. Kadang juga, hanya dua orang yang bercakap, sementara dua orang lainnya mendengarkan, tetapi hal yang paling sering mereka lakukan adalah empat orang itu saling berkomunikasi. Bila selesai, mereka pasangan berganti. Aktivitas ini terus terjadi selama lebih dari satu jam.
Di waktu jam istirahat, guru mendekat. Hilal, pelajar SD, berpendapat, “Yang tidak menarik dari pelajaran ini adalah adanya latihan yang belum saya selesaikan yang jadi bahan percakapan. Itu yang membuat saya kurang semangat.” Alika menyambung, “Iya. Kalau saya, jawabanku dari soal-soalku di buku ini sudah lumayan lengkap. Anak yang belum menyelesaikan latihannya membuat percakapan kadang terhambat.”
Seorang pelajar pemula turut berkomentar. Aska, pelajar SMP, berkata, “Kalau hanya latihan menjawab soal, saya hanya fokus menyelesaikan soal-soal. Saya tidak terlalu paham. Dengan praktek, saya sekarang sudah lebih paham. Saya juga jadi ingat kosakata yang sudah kupelajari. Komentar ini segera ditindaklanjuti oleh pelajar yang sudah hampir tamat buku Basic Reading. “Ini memang sangat bagus karena meskipun saya di kelas grammar (tata bahasa), saya dapat belajar berbicara dan membaca dengan baik,” ungkap Azka.
Alika tidak tinggal diam. “Saya lebih suka praktek bicara dengan pelajar yang sedikit lebih ramai. Empat orang bercakap lebih seru dibandingkan dengan dua orang saja,” terangnya. Gadis remaja ini memandang bahwa terdapat beragam ide dari teman-temannya yang bisa didiskusikan untuk mengerti suatu materi.
Ketika anak SMP dan seorang anak SD ini sependapat bahwa pelajaran bahasa Inggris di sekolah sangat mudah diketahui karena materinya secara sangat detail telah diperoleh di Rumah Belajar Bersama (RBB). Di sisi lain, keluhan tentang sedikitnya ruang untuk praktek berbicara di sekolah dipengaruhi oleh jam belajar yang sangat terbatas. Jumlah siswa-siswi yang cukup padat dalam satu kelas sangat menyulitkan guru formal untuk memberikan perhatian per individu. Para guru formal itu serba susah. Mereka berada pada posisi yang sulit. Memperbaiki kualitas itu membutuhkan waktu lebih lama, sementara penyelesaian materi pada kurikulum tidak bisa ditunda.
Sang guru juga turut berpendapat bahwa waktu belajar di RBB memang jauh lebih banyak. Ia menyatakan bahwa dirinya sengaja memberikan ruang kebebasan untuk mengelola kelas karena para pelajar itu telah mempunyai dasar-dasar pengetahuan dan pengalaman belajar yang baik. Hal ini sangat penting diterapkan agar ketika mereka berada di luar RBB semisal di sekolah, mereka bisa menjadi contoh kecil dalam mendukung pelajaran bahasa Inggris sekolah. Dengan mengajarkan kebebasan yang terarah, itu sedikit banyak akan mempengaruhi dinamika belajar dan mengubahnya menjadi ruang kolaborasi yang produktif.
Barangkali, efeknya memang kecil, tetapi bukankah tidak ada yang besar bila tidak dimulai dari hal yang kecil? Gerakan solutif yang dibangun atas dasar kesadaran ini merupakan langkah terbaik yang harus kita tempuh saat ini, sebuah tindakan nyata yang bertumpu langsung pada realitas masalah yang sampai saat ini sulit diselesaikan.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 1 Nopember 2026

Tinggalkan Balasan