Rahasia Hari Lahir di Balik Lesson 70

Tiada suatu kejadian kebetulan. Sesuatu terjadi karena telah memenuhi syarat terjadinya sesuatu. Siapa yang menyangka bahwa Lesson 70 (Pelajaran 70) pada Basic Reading (Bacaan Dasar) berhubungan dengan hari, tanggal, bulan, dan tahun. Selain itu, pengenalan tentang negara-negara di benua Asia, Eropa, dan Afrika melalui peta yang tergambar di dalam buku melengkapi petualangan pembaca terhadap pengembangan wawasan para pelajar.

Ketika fokus pelajaran mengarah pada “di” mengacu pada di hari, di tanggal, dan di tahun disertai latihan yang dipraktikkan di depan kelas, sekelompok pelajar secara mengejutkan masuk ke ruang kelas sambil membawa kue dan donat diiringi lagu Happy Birthday (Selamat Ulang Tahun/Selamat Hari Lahir). Heroik kegembiraan pada Sabtu, 31 Oktober 2026 yang khusus buat Miss Fathy Cayadi ini kemudian ditindaklanjuti dengan doa agar karunia panjang umur itu disertai dengan kehidupan yang bermanfaat. Kenapa doa itu begitu penting? Karena umur hanyalah angka; ia bisa menjadi berkah jika diisi kebaikan, atau menjadi sia-sia jika dilewati tanpa arti. Yang kita syukuri bukan sekadar bertambahnya usia, melainkan bertambahnya kemanfaatan.

Untuk menghindari tafsir bid’ah pada orang-orang yang tidak sepakat dengan perayaan hari lahir, ada baiknya kita hadirkan sejenak pemikiran Prof. Quraish Shihab. Beliau menyatakan bahwa mengucapkan selamat hari lahir tidak merusak akidah selama hal itu diletakkan secara proporsional sebagai bentuk syukur atas nikmat keberadaan di dunia dan penghormatan terhadap sesama manusia. Dalam QS. Maryam: 33, “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Para pelajar yang berlatar belakang sekolah umum ini cenderung tidak tahu bahwa ada konflik yang tajam terhadap perbedaan cara pandang hari lahir. Terlepas dari benturan keras itu, mereka ingin turut serta membahagiakan gurunya di hari istimewa tersebut. Target itu tercapai dan membuat guru tersenyum haru. Seisi ruang kelas berbahagia.

Sebagai seorang guru yang profesional, Miss Fathy tak ingin waktu habis percuma untuk perayaan. “Kita lanjut belajar,” katanya. Semua pelajar pun ke depan kelas menyetor bacaan.

Kemudian, pelajaran memasuki Lesson 72. Kalimat Present Progressive (kejadian yang sedang berlangsung di masa sekarang) yang rumusnya ribet itu disulap menjadi permainan kartu. Ketika ada gambar bermain bola di kartu, pelajar akan berakting sedang bermain bola. “He is playing football” (Dia sedang bermain bola). Begitu juga ketika terjadi perubahan kalimat pada Simple Past (kejadian sederhana di masa lampau) dan lainnya. Mereka tidak menguasai rumus, tetapi benar dalam gerakan tubuh dan praktik bicara. Barulah setelah itu, penjelasan perubahan kata kerja dipahamkan agar ada gambaran kenapa kata kerja dalam bahasa Inggris itu sungguh berbeda dengan bahasa Indonesia.

Trik yang cukup jitu sebagai pengantar. Memahami suatu pelajaran yang utuh itu membutuhkan waktu yang lebih masif (terus-menerus dan berkelanjutan). Siapa yang menyangka bahwa para pelajar pemula Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete ini telah melewati 70 lesson, setengah buku telah tamat. Itu bukan kebetulan, melainkan karena mereka tekun. Siapakah yang menyangka bahwa tepat ketika menamatkan satu buku nantinya, ada pelajar yang turut merayakan ulang tahun? Siapa yang menyangka bahwa suatu saat mereka berpisah dan kemudian bertemu di negara-negara di benua Asia, Eropa, dan Afrika? Semua ini bukan kebetulan. Pertemuan pada waktu yang tepatlah yang mempertemukannya membangun cita-cita yang tinggi di bawah naungan RBB Tanete.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Sabtu, 31 Oktober 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *