Nilai Merah Soal Olimpiade Disambut Nyanyian Anak SD

Ketika jam belajar kelas malam bahasa Inggris telah mulai, anak-anak mengambil inisiatif sendiri untuk membuat kelas yang ingin dipelajari. Adeeva didaulat menjadi guru. Gavino bertindak sebagai negosiator untuk meminjam spidol ke guru tanpa meminta guru masuk ke kelas. “Bisa pinjam spidol, Mister?” Guru tersenyum dan memberikan spidol dengan segera. Bocah ini kemudian langsung menyerahkan spidol ke Adeeva.

Adeeva langsung membuat soal-soal pilihan ganda berjumlah enam soal. Hebatnya, soal-soal itu dibuat berdasarkan ingatannya saja, tanpa merujuk buku. Soal grammar-nya (tata bahasa) lumayan sulit bagi anak SD karena materi grammar tidak diajarkan di SD. Ada simple present, simple past, simple future, dan present progressive. Anak-anak menyambutnya dengan tawa dan nyanyian, seolah-olah soal-soal itu mudah. Setelah diperiksa, hampir semuanya salah. Hanya Belva yang mampu menjawab dua soal dengan benar. Para pelajar lainnya, satu soal saja yang benar.

Sepertinya Adeeva, sang pemberi soal, memperlakukan teman-teman kelasnya seperti dirinya yang sedang berlatih soal-soal olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional. Namun, hal yang berkesan adalah anak-anak tidak protes dengan hasil yang diperoleh. Mereka hanya memohon agar nilai yang tertera tidak merah. Adeeva menolak dengan tegas. Setelah itu rekan-rekannya pun tidak merengek lagi. Mereka tahu, perlakuan dongkrak nilai tidak pernah berlaku di Rumah Belajar Bersama (RBB).

Adeeva yang pernah meraih emas Olimpiade Bahasa Inggris tingkat Nasional ini tidak menyadari bahwa rekan-rekannya belum waktunya mendapatkan pelajaran yang kompleks. Itu bukan kesalahan Adeeva karena anak sepuluh tahun ini masih dalam tahap berpikir bahwa apa yang diajarkan oleh gurunya bisa diberlakukan kepada orang lain. Namun, bagi anak-anak yang menyukai tantangan, mereka pasti berpikir untuk menyamai kemampuan Adeeva dan bahkan melebihinya.

Kemudian, Belva bertindak sebagai guru untuk pelajaran Agama dan Budi Pekerti. Meskipun itu sama sekali tidak berhubungan dengan bahasa Inggris, guru tidak langsung menghentikan kelas agar Belva juga merasakan nikmatnya memimpin kelas. Tujuh soal berhasil ia buat. Namun sayangnya, itu tidak berlangsung lama karena bila terus berlanjut, tidak ada habisnya hingga jam belajar selesai. Sedikitnya, Belva sudah terlihat mampu mengendalikan kelas dengan baik.

Sang guru bahasa Inggris yang sesungguhnya kemudian mencoba mengecek penyebab kegagalan dalam menjawab soal-soal bahasa Inggris dari Adeeva. Anak-anak ternyata belum mengetahui perubahan kata kerja bila kata kerja tersebut belum akrab dilatih secara lisan. Latihan menggunakan kotak kosong tenses menggunakan kata kerja yang baru pun dipraktikkan secara bersama-sama. Hambatan terlihat dengan sangat jelas. Sesekali, pelajaran terlihat seru saat soal secara lisan diperlombakan untuk dijawab, namun tak jarang juga mereka malas-malasan menjawab karena belum mengerti alur perubahan kata kerja pada perpindahan tenses (kalimat).

Untuk mempermudah urusan pemahaman, pola membuat kelas sendiri dari anak-anak itu perlu didukung dengan cara mengingatkan sekaligus menerangkan cara membuat soal yang mudah kepada Adeeva dan pelajar cerdas lainnya. Lobi-lobi tuntutan untuk tidak diberikan skor merah bisa berkurang dan para guru cilik tidak harus saling ngotot lagi mempertahankan pendapatnya merawat kejujuran dalam memberikan nilai. Meskipun demikian, beberapa soal yang rumit tetap harus diberikan agar pelajar tidak mudah menganggap remeh dan tetap tertantang mempelajari hal-hal yang belum kuasai baik secara tertulis ataupun lisan di luar kepala.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at, 30 Oktober 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *