Kunjungan Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat, ke sebuah SMK benar-benar menelanjangi kemampuan dasar berhitung pendidikan kita. KDM bertanya perkalian dan pembagian dasar, “14 x 2? 24 : 2?, 12 x 3? Taruna, 12 x 3, berapa Taruna?” Pakaian seragam yang rapi nan menawan itu seolah menampakkan wajah terlihat cerdas, namun itu sama sekali tidak dapat membantu. Ya, pakaian memang tidak mencerminkan isi kepala. Hampir semua pelajar di sekolah itu yang mendapatkan pertanyaan tidak sanggup mengucapkan dua angka puluhan dengan benar. Segelintir pelajar yang mampu menjawab dengan benar pun membutuhkan waktu yang lama. “Kaget, Pak,” kata seorang pelajar. “Bukan kaget. Tidak biasa,” balas KDM. “Masa kalah sama anak-anak Nabire,” lanjutnya. Anak SD dari Papua dibenturkan dengan SMK.
Satu contoh pelajar SMK yang tidak bisa matematika dijadikan landasan untuk menganggap semua SMK atau SMA tidak bisa matematika disebut overgeneralization (baca:melebih-lebihkan). Apakah contoh dari KDM ini overgeneralization? Hanya orang yang mempunyai pengaruh besar seperti KDM yang bebas memvideokan secara langsung. Maukah pemerintah membuka keran lebih luas untuk diteliti atau, paling tepatnya, memberikan nilai rapor matematika sesuai dengan capaian pelajar yang sesungguhnya?
Sebagai bagian dari pejabat pemerintah, KDM tidak sedang ingin mempermalukan pelajar SMK itu, tetapi ia sedang membuka mata kita lebih luas bahwa betapa akut persoalan pendidikan: matematika SD tidak bisa dijawab oleh SMK. Ia tidak menyebut secara langsung bahwa kurikulum pendidikan Indonesia telah salah urus. Ketika fakta bicara, 1001 pembelaan pembenaran tak berkutik.
Sejak tahun ajaran 2025-2026, Koding (Coding) dan Kecerdasan Artifisial (AI) telah diperkenalkan secara bertahap kepada sekolah. Itu mengesankan. Tapi, bagaimana mungkin anak-anak bisa menguasai logika algoritma dan teknologi digital masa depan bila mereka lumpuh pada persoalan-persoalan berhitung paling dasar? Memperkenalkan tantangan penguasaan teknologi masa depan adalah hal penting dan mendesak agar tidak terus menjadi konsumen teknologi. Namun, hal yang paling penting dan paling mendesak ada pada menuntaskan numerasi agar pelajar bisa koding. Janganlah kita jatuh pada lubang yang sama. Bila masih terperosok, mereka akan menggunakan komputer atau HP untuk bermain game dengan alasan belajar koding.
Hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) 2025 dari pelajar kita di bawah 15 tahun, media Kompas merilis bahwa Indonesia berada di urutan terbawah (peringkat ke-8) di ASEAN dalam domain matematika, berada di bawah Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Filipina, bahkan Kamboja yang mencatatkan lompatan skor yang cukup ekstrem.
Singapura: 563 poin, Kamboja: 366 poin, dan Indonesia: 364 poin, turun 2 poin dari 366 poin pada 2022. Indonesia tertinggal hampir 200 poin dan Kamboja yang nilainya rendah, negeri kecil itu masih menang dua poin dari Indonesia. Poin tertinggi jatuh pada China: 612 poin. Dari 90 negara, Indonesia menduduki peringkat 78. Untuk dapat dihitung bisa berkompetisi secara global, poin yang Indonesia harus capai adalah 472. Indonesia yang masih berada pada 364 poin harus bisa mengejar minimal 111 poin, hal yang belum pernah diraih selama menjadi anggota PISA sejak tahun 2000.
Bagaimana dengan realitas anak-anak SD tahun 2026? “Saya pusing dengan murid-muridku,” kata Miss Uci, penggiat pendidikan. “Anak-anak yang dua bulan saja beristirahat les, mereka sepertinya lupa perkalian dan pembagian. Jadi, saya harus meluangkan waktu lagi untuk mengulangi pelajaran mereka. Padahal, sebelum istirahat les, mereka sudah bisa sedikit menalar, bukan menghafal.” Anak-anak itu tetap aktif bersekolah, namun kemampuan berhitung mereka turun drastis. Kemungkinan besar, mereka kembali pada model pembelajaran yang usang: menghafal saja tanpa konsep proses berpikir tentang cara mendapatkan jawaban.
Karena itu, rekan-rekan pemerhati matematika di lingkungan belajar pendidikan alternatif itu turut serta mendidik anak-anak agar kemampuan bernalar lebih kuat melekat dalam pikiran anak-anak. Masalah kasuistik kecil merepotkan ini pun teratasi.
Para pemerhati pendidikan alternatif itu sadar betul bahwa sandaran terakhir dari harapan orang tua dari pelajar ada pada mereka. Selain kerja tim (teamwork), mereka pun selalu mengecek tingkat kemampuan para pelajar agar materi yang diberikan sesuai dengan kapasitas otak mereka. Mengajarkan aljabar pada anak SD itu sangat bisa. Mengajarkan perkalian kepada pelajar SMP dan SMA pun itu wajib ketika aritmatika dasar mereka belum beres.
Kurikulum bukan didasarkan pada tingkat umur atau tingkat kelas di sekolah, melainkan ukuran kemampuan otak mencerna pelajaran. Untuk apa mengajarkan trigonometri pada anak SMA yang masih belum tahu perkalian dasar tingkat SD? Itu sungguh menghabiskan waktu, anggaran, dan tenaga secara percuma saja. Obat sakit perut janganlah diberikan kepada pasien yang sakit gigi. Meskipun tidak mati, pasien itu bisa sakit hati.
Sebelum pendidikan Indonesia tertinggal dari Malaysia, para pelajar Malaysia dengan bangga dapat kuliah ke Indonesia. Indonesia mengirim guru dan dosen untuk membantu kurikulum Malaysia. Masa keemasan Indonesia yang digelari “Abang Tua” pada 70-an hingga 80-an ini berakhir ketika Malaysia pada akhirnya membangun kemandiriannya. Sekarang, pelajar Indonesia yang menjadi bangga kuliah ke Malaysia. Bahkan, Indonesia mengirim (Tenaga Kerja Indonesia) TKI, pekerja kasar dalam jumlah besar.
Komedian Cak Lontong menghibur dengan nada satire. Menurutnya, sumber daya manusia (SDM) Indonesia kualitasnya menurun. Data tidak bisa dibantah, tapi kesimpulan mereka seratus persen salah. Tahun 90-an dan 2000-an, pembantu yang diimpor dari Indonesia. Bukan kualitas SDM Indonesia yang turun, kita tetap hebat. Yang turun adalah selera mereka yang turun. Dulu mereka suka guru, sekarang mereka suka pembantu.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 24 September 2026
Seorang anak bertanya, "Mister, kenapa pelajaran bahasa Inggris di sini berbeda dengan di sekolah?" Pertanyaan…
Kemampuan lisan tidak selalu berbanding lurus dengan tulisan. Anak-anak SD di kelas malam terkenal jago…
Membuat tulisan tentang perahu tradisional bersama Dr. Horst H. Liebner tidak butuh banyak kata, sebisa…
Orang yang bisa berbahasa Inggris dianggap pintar. Anggapan umum ini berkembang begitu saja tanpa pernah…
Pendapat umum adalah pelajar Indonesia kebanyakan tidak bisa berbahasa Inggris. Ah! Itu memang kenyataan yang…
Leave a Comment