Memerdekakan Pikiran Pelajar

Seorang anak remaja mengumpulkan pikiran untuk mengekspresikan kesan pembelajaran Inggris yang ia peroleh di sore hari. Hampir satu menit berlalu. Lalu ia tersenyum dengan mata berbinar. “Saya tidak takut lagi divideo,” kata Afifah Rayya Az Zahra. Ia selalu takut video siaran langsung karena takut salah. Namun, kali ini ia bebas. Sebuah kalimat baru untuk semua perubahan tenses mampu ia lakukan, hampir sempurna.

Sebagai seorang pelajar pemula, Afifah, anak dua belas tahun, terhenyak kaget (shock) berkenalan dengan Faika, sembilan tahun, dan Adeeva, sepuluh tahun, yang bukan hanya jauh lebih mahir darinya, tetapi juga telah meraih emas Olimpiade Bahasa Inggris tingkat Nasional. Ia sangat minder dan berusaha menjauh.

Guru kelas selalu mencari cara agar Afifah bisa akrab dengan kedua anak itu dan mengikuti sistem belajar yang menciptakan kualitas pelajar yang berdaya saing tinggi. Hati Afifah tergerak. Di bawah bimbingan Fajar Hamzah (Mr. Ancha), ia pun menamatkan satu buku bacaan berbahasa Inggris dan menguasai tenses di luar kepala. Ia pun jadi bangga.

Penulis yang juga turut terlibat mendidik pun berusaha menambah keyakinan diri Afifah dengan mengajaknya berdialog.

“Kenapa kamu merasa takut?”

Dengan jujur ia menjawab, “Saya merasa tidak mampu.”

Penulis bertanya lagi, “Sekarang kamu sudah tidak takut, kan. Seandainya kamu tidak melawan rasa takutmu, bisakah kamu jadi seperti ini?”

Ia menjawab, “Tidak.”

Lalu, penulis memberikan pertanyaan pamungkas, “Apakah sekarang kamu sudah berani bergaul dengan Faika dan Adeeva?”

“Iya,” jawabnya mantap.

“Ya, harus begitu. Kamu harus banyak menuntut ilmu untuk bisa lebih percaya diri,” tutup sang guru.

Afifah dan anak-anak pelajar pemula lainnya dilatih untuk tidak menjadi orang biasa saja. Mental rendah diri, merasa tidak mampu, dan tidak memaksimalkan waktu belajar dihancurkan, sehancur-hancurnya karena hal itu bertolak belakang dengan kemerdekaan berpikir yang bertanggung jawab. Ilmu pengetahuan itu mencerahkan, bukan sekadar mengisi kepala. Mereka diajak untuk terlebih dahulu berani mengubah diri mereka sendiri sebelum mampu mengubah orang lain dan lingkungan terdekatnya.

Pendidikan dengan spirit yang telah dijelaskan di atas ada pada Rumah Belajar Bersama (RBB) di Bulukumba. Lembaga yang berpikir merdeka ini sangat percaya bahwa pendidikan adalah jalan terbaik dari yang terbaik untuk menjadikan kualitas manusia lebih baik dan terus berperan aktif mencari jalan terbarukan untuk selalu bermanfaat bagi sesama.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jumat, 25 September 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Kurikulum Sakit Perut Salah Obat

Kunjungan Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat, ke sebuah SMK benar-benar menelanjangi kemampuan dasar…

2 hari ago

Ilusi Pendidikan Gotong Royong

Seorang anak bertanya, "Mister, kenapa pelajaran bahasa Inggris di sini berbeda dengan di sekolah?" Pertanyaan…

2 hari ago

Siri’ Menjadi Bahan Bakar Belajar

Kemampuan lisan tidak selalu berbanding lurus dengan tulisan. Anak-anak SD di kelas malam terkenal jago…

3 hari ago

Menyelamatkan “Saudara-Saudara” Pinisi

Membuat tulisan tentang perahu tradisional bersama Dr. Horst H. Liebner tidak butuh banyak kata, sebisa…

4 hari ago

Menanam Bibit Literasi Global di RBB Tanete

Orang yang bisa berbahasa Inggris dianggap pintar. Anggapan umum ini berkembang begitu saja tanpa pernah…

5 hari ago