Perjalanan belajar yang sunyi dan panjang. A. St. Alilatulbariza, panggilan Aliza, anak kelas 4 SD yang sungguh mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran bahasa Inggris. Tiap kali ia membaca, bacaannya lebih banyak salah daripada benar. Rekan-rekan kelasnya tidak mengalami nasib sulit seperti dirinya. Karena itu, ia menjadi penasaran. “Kalau orang lain bisa, kenapa ia tidak?” Pertanyaan itu memotivasinya untuk maju, tidak patah semangat.
Rasa penasaran itu mengantarkannya belajar lebih ekstra daripada yang lainnya. Aliza suka mengulangi bacaannya dan meminta guru untuk memandunya memperbaiki kesalahannya. Inisiatif sering me-review pelajaran membuat lidahnya lebih cepat dan lincah dalam melafalkan kosakata dan kalimat hingga pada akhirnya ia lancar pada buku Basic Reading (Bacaan Dasar).
Dari kemajuan belajar itu, Aliza berkata kepada ibunya, “Bahasa Inggris di sekolah gampang.” Pernyataan itu wajar karena di sekolah ia hanya belajar sekali dalam seminggu, sementara di Rumah Belajar Bersama (RBB), ia belajar lima kali dalam seminggu. Namun, guru RBB mengingatkan, “Di mana pun berada, Aliza tidak boleh menganggap remeh pelajaran. Di setiap tempat belajar, itu pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Apa pun yang diajarkan, pelajarilah dengan sungguh-sungguh.” Pesan ini dimaksudkan agar semangat belajarnya tidak menurun, tetap terjaga.

Di RBB, tantangan belajar Aliza meningkat. Ia sangat bersemangat mengikuti pembelajaran penguasaan tenses di luar kepala. Melihat jumlah kalimat yang harus disetor tanpa melihat rujukan, keningnya berkerut, tanda pelajaran itu sangat sulit baginya. Ia berpikir sejenak dan kemudian tersenyum. Tampaknya ia menemukan solusi. Benar! Ia menggunakan pola review dengan mengulangi pelajaran lebih rajin lagi dari yang lalu. Akhirnya, anak sembilan tahun ini sanggup menyetor ratusan perubahan kalimat tenses secara teratur dengan percaya diri.

Aliza menaikkan lagi status belajarnya. “Mana soal tulis pada tenses acak?” Aliza bertanya, “Saya mau juga seperti teman-temanku.” Guru kelasnya memberikan lembaran kertas yang Aliza minta disertai cara mengerjakan. Aliza girang karena tidak pernah menyangka bahwa ia akan sanggup melangkah sejauh itu. Ia bangga dan merasa selevel dengan anak-anak pintar di kelas RBB itu.
RBB Menghasilkan Lingkungan Belajar yang Hebat
Strategi pembelajaran RBB adalah membongkar kemustahilan. Pada dasarnya, manusia itu seperti lembaran kertas putih. Lingkungan belajar yang akan mengisi kertas kosong itu dengan pena pengetahuan. Anak-anak didesain agar mereka merasa berinisiatif sendiri untuk maju betapapun sebenarnya, ini adalah rekayasa yang sengaja dibuat oleh RBB agar anak-anak merasa tidak diarahkan, melainkan merasa butuh mengarahkan diri mereka sendiri untuk pintar.

Puluhan anak seperti Aliza telah melewati pembelajaran seperti ini. Klaim anak-anak tidak berbakat berbahasa Inggris dengan sendirinya terpatahkan, minimal di lingkungan RBB. Untuk bisa sukses, anak-anak kita butuh lingkungan belajar yang membangkitkan rasa ingin tahu dengan pengarahan yang tepat serta pengetahuan dan guru yang berkualitas dan bertanggung jawab. Itulah yang perlu kita tingkatkan dalam dunia pendidikan kita.
Menghancurleburkan kesulitan belajar yang dialami anak-anak Indonesia di daerah seperti di Bulukumba adalah cita-cita besar yang ingin diwujudkan oleh RBB Bulukumba. Tentu, masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan akses pendidikan yang layak yang dapat meningkatkan kepercayaan diri seperti yang dialami oleh Aliza. Oleh karena itu, dengan niat untuk mengangkat derajat pelajar, RBB hadir untuk mereka.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Senin, 7 September 2026

Tinggalkan Balasan