“Seseorang yang naik ke kekuasaan tanpa perjuangan akan turun tanpa kehormatan.” Perkataan singkat Aristoteles, sang filosof pertama, itu menekankan pentingnya akan usaha manusia untuk meraih sesuatu. Manusia harus berjuang. Jalan instan akan berakhir dengan tragis.
Jika dihubungkan dengan pendidikan, orang akan mudah terhipnotis dengan capaian orang yang meraih juara dalam sebuah kompetisi. Juara 1 akan melahirkan kebanggaan, dielu-elukan layaknya pahlawan. Orang-orang pun mengikuti sang pahlawan itu. Model rambut, cara bicara dan berjalan hingga aktivitas yang remeh-temehnya ditiru. Padahal, itu hanya bagian kulit luarnya saja. Sedikit sekali orang yang mau menukik lebih dalam mengapa sang juara itu sukses.
Adeeva Syakila Zulfikar dan Faika Qhinara Putri Ridwan adalah anak paling sukses tingkat SD di Bulukumba dalam hal kejuaraan bahasa Inggris. Keduanya meraih emas Olimpiade Bahasa Inggris tingkat Nasional. Tentu saja, anak SD lainnya di Bulukumba yang juga ikut berkompetisi, namun sejauh pemahaman penulis, belum ada yang meraih emas sebagaimana kedua anak itu. Singkatnya, mereka ini bukan belum ada duanya, tetapi belum ada tiganya.

Bagaimana bisa itu terjadi? Rumah Belajar Bersama (RBB) mendidik Adeeva dan Faika dengan membiasakan budaya literasi, hal tidak menarik di mana Indonesia memang terkenal literasi yang terbelakang di antara negara-negara berkembang. Buku-buku bacaan dan percakapan dibaca hingga tuntas secara teratur. Tidak boleh ada selembar pun yang terlewatkan. Ini adalah proses pembelajaran yang tersistematis, berdisiplin, bertanggung jawab pada tugas yang diberikan. Penguatannya selanjutnya pada tata bahasa yang titik tekannya pada tenses agar mengetahui perubahan kalimat secara tepat. Tenses diajarkan hingga dikuasai di luar kepala, bukan sebatas tahu. Semua bacaan berpola tenses. Literasi tanpa tenses hanya mencetak pelajar pandai membaca tanpa tahu makna mendalam dari isi bacaan.

Ada beberapa kritik yang muncul. Di RBB itu sekadar membaca dan percakapan singkat saja. Yang lain mengatakan, belajar tata bahasa—dalam hal ini tenses—tidak terlalu dibutuhkan dalam percakapan. Inilah letak perbedaannya. RBB mengajarkan fondasi terlebih dahulu, fokus pada bagian yang paling mendasar dan butuh kesabaran dan pemahaman yang mendalam untuk bisa mengerti. Waktunya memang cukup lama sehingga dengan mudah, orang bisa berasumsi bahwa pembelajaran di RBB biasa saja. RBB tidak bergeser. Ia percaya bahwa jalan yang ia tempuh akan menghasilkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang terbaik. Lembaga pendidikan harus mampu membuktikan bahwa SDM itu harus berada di garis terdepan, sebesar apa pun risikonya.

Sekarang ini, RBB sedang gencar-gencarnya memahamkan materi tenses kepada semua pelajarnya termasuk kelas pemula yang belum tamat satu buku. Tujuannya agar pelajarnya lebih siap untuk mampu berbicara secara teratur, membaca dengan benar dan menjawab soal-soal secara tertulis. Sekilas, ini terlihat mustahil, tetapi kenyataannya anak kelas 3 SD sekali pun sanggup mempelajari dan menguasai di luar kepala. Biarlah kemustahilan itu tinggal sebuah kosakata saja.

Oleh karena itu, perjuangan belajar yang ulet itu semestinya dibarengi dengan strategi pengajaran yang andal juga agar terdapat sinergi yang berkelanjutan. Sejatinya, nilai A+ yang terpampang di sertifikat juara olimpiade dari kedua anak itu hanyalah efek. Mereka terlebih dahulu bersungguh-sungguh berjuang meraih A+ di RBB yang kemudian membuatnya lebih percaya diri bertarung di tingkat nasional. Selain itu, mereka juga yakin bahwa pelajaran yang diajarkan di RBB itu berstandar internasional. Buat apa ragu berkompetisi? Kehormatan yang diperoleh di atas lembaran sertifikat dibuktikan dalam dunia nyata. Sebaliknya, para peraih sertifikat A+ yang tidak diikuti dengan perjuangan atau lewat jalur instan sudah pasti tidak mempunyai keberanian bertarung di tempat yang lebih luas. Tragis.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 3 September 2026

Tinggalkan Balasan