Tragedi Gadget

Dewasa ini, kita sering menjumpai anak-anak mulai kelas 4 sampai 6 SD yang tidak bisa membaca. Meskipun tidak memenuhi standar, mereka tetap saja naik kelas. Dampaknya, beban guru kelas di sekolah bertambah. Akibatnya, para guru harus mengurusi materi pelajaran yang seharusnya bukan lagi di tingkatan kelasnya. Selama murid-murid itu rajin ke sekolah, mereka tidak boleh tinggal kelas.

Baco, nama samaran dengan tiada maksud menyinggung siapa pun yang mempunyai kesamaan nama, anak kelas 4 SD yang belum sanggup membaca. Guru sekolahnya menyarankan untuk kursus Baca, Tulis, dan Hitung di Rumah Belajar Bersama (RBB)—sebuah rekomendasi berdasarkan fakta selama lebih dari lima belas tahun bahwa banyak anak yang sejak usia dini telah belajar di RBB pandai membaca, menulis, dan berhitung sederhana.

Setelah Baco bergabung, para guru RBB segera mendeteksi bahwa pandangan mata Baco tidak bisa fokus. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman mengajar, mereka sudah tahu penyebabnya. Sebelum guru menarik kesimpulan, anak itu lebih dahulu mengaku bahwa ia selalu main gadget. Baco selalu mengingat, “Saya mau main HP,” katanya saat jam belajar sedang berlangsung. Sudah pasti, HP tidak diberikan. Perasaannya menjadi gundah gulana dan tidak peduli dengan pelajaran di sekelilingnya. Pikiran kacau dan daya ingat sangat rendah. Ia tidak bisa berontak karena suasana kelas tidak memberikan dukungan, tiada yang memperhatikan keinginannya ini.

Guru dengan penuh kesabaran dan ketenangan menanti waktu yang tepat untuk mendidik Baco. Seperti yang telah diprediksi, apa yang telah diajarkan berlalu begitu saja. Ini bukan lagi apa yang masuk di telinga kiri, keluar di telinga kanan, tetapi apa yang masuk di telinga kiri memantul keluar. Tidak ada yang tertinggal. Ini memang masalah pelik, tetapi bukan berarti tidak mempunyai solusi.

Beberapa anak yang pengalaman hidupnya mirip dengan Baco juga terperangkap dengan gadget. Solusinya sederhana, bila masalah ini hanya karena gadget, tidak ada game gadget selama di RBB. Pikiran anak-anak diarahkan agar mau bersosialisasi dengan anak lainnya yang tidak memikirkan gadget. Game-nya dalam bentuk dunia nyata, bermain di dunia nyata dengan rekan sebaya. Ada keringat untuk menyehatkan fisik.

Dalam hal pengajaran, para guru RBB berjuang tiada henti dengan sering mengulangi pelajaran anak-anak tersebut hingga ada sedikit pelajaran yang mampu mengendap dalam pikiran mereka. Dalam dua bulan, daya ingat mereka terlihat sedikit berkembang. Mereka bisa mengingat suku kata dan mampu membaca lebih baik. Dua bulan terkesan lama dengan kemajuan yang kecil. Bukankah mereka selama bertahun-tahun tidak bisa membaca itu waktunya jauh lebih lama? Belajar bukan seperti makan mie instan. Proses belajar yang menunjukkan kemajuan ini mesti terus dipelihara dan dikembangkan.

Orang tua murid pasti menginginkan anak-anak mereka normal sebagaimana anak-anak lainnya. Untuk itu, mereka perlu memberikan pengarahan yang tepat disertai ketegasan pada penggunaan gadget. Aturan pembatasan gadget yang konsisten dan disiplin di Rumah Belajar seharusnya diselaraskan dengan rumah tempat tinggal anak-anak itu. Merujuk kata “Rumah”, tempat tinggal dan juga tempat belajar. Sebuah kata yang mengandung harapan yang ingin dicapai ialah menjadikan rumah sebagai tempat belajar. Kesepahaman yang mesti dibangun ‘bersama’.

Pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Persoalan kasuistik seperti Baco ini tentu banyak bertebaran di lingkungan sekitar kita. Sinergi antara guru sekolah, orang tua murid, dan RBB tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus bersatu padu dalam mengatasi persoalan perusakan otak generasi penerus kita lewat game gadget yang sesungguhnya hanya memberikan kesenangan semu. Masa emas mereka untuk belajar terbuang dengan percuma.

Tentu saja, ini perlu ditindaklanjuti dengan komunikasi lebih berkesinambungan untuk menemukan akar masalah hingga keputusan yang diambil oleh guru-guru di RBB tepat sasaran untuk diterapkan hingga anak-anak itu dapat kembali hidup normal, bahagia seperti anak-anak lainnya. Mereka juga berhak mempunyai masa depan yang cerah. Hal itu dibangun melalui perubahan pola pikir yang jalan terbaiknya ditemukan melalui jalur pendidikan.

Di RBB, urusan Baca, Tulis, dan Hitung sudah lazim dituntaskan sejak kelas 1 SD. Kalaupun itu harus mundur diselesaikan di kelas 4 SD, solusinya cukup dalam beberapa bulan, bukan tahunan. Tragedi gadget berakhir.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 27 Agustus 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *