oplus_0
Mendidik pelajar khususnya anak-anak SD berpikir logis dengan pendekatan bahasa Inggris sungguh bukan urusan yang mudah. Dalam beberapa contoh kasus, beberapa pelajar yang kecerdasan mereka di atas rata-rata mudah untuk dikelola. Atas dasar kesuksesan kecil ini, beberapa rekan guru mengambil hipotesis bahwa hal tersebut dapat diterapkan pada jangkauan lebih luas.
Minat pelajar kebanyakan pada bahasa Inggris. Para guru sepakat untuk menguatkan logika berpikir pada pemahaman tenses—kalimat yang berhubungan dengan waktu dan kejadian atau kondisi. Parts of speech (Kelas kata) yang seharusnya lebih detail belum diajarkan secara mendalam karena guru berpikir bahwa Parts of speech itu lebih baik diajarkan dalam bentuk kalimat. Membedah parts of speech terkesan sangat teoretis, membosankan bagi anak-anak. Penguatan parts of speech yang diberikan ditekankan pada perubahan verb (kata kerja) mengingat itu adalah inti kalimat dalam bahasa Inggris. Hal yang lainnya diajarkan saat mereka bertanya untuk menjawab rasa ingin tahu. Hal yang paling penting adalah kalimat yang dipelajari mempunyai struktur yang benar.
Ketika anak-anak belajar tenses, mayoritas anak-anak belum bisa berpikir abstrak, pendekatan rumus dan penjelasan yang logis pun masih sulit dicerna. Para guru pun kemudian berkreasi melebihi apa yang telah dilakukan. Peta alur perubahan kalimat pada seluruh tense lebih disederhanakan yang membuat anak-anak mudah memahami perubahan kalimat. Mereka diminta menyetor perubahan kalimat tanpa membaca teks. Aturan ini menjadikannya berpikir untuk mau mencari jalan sendiri menguasai pelajaran di luar kepala. Guru juga memberikan motivasi, menyebut nama-nama pelajar yang berumur sembilan dan sepuluh tahun yang sanggup menyetor tenses. Semangat belajar pun makin membara.
Meskipun mayoritas anak-anak tersebut menyelesaikan seluruh setoran perubahan tenses, bukan berarti mereka telah mencapai logika berpikir yang matang. Yang mengendap dalam pikiran mereka adalah kalimat yang mereka telah setor—masih kewalahan dalam mengelola contoh kalimat yang berbeda. Oleh karena itu, variasi kalimat itu belum diberikan. Guru mengajarkan kembali kalimat itu secara acak. Ternyata, cara berpikir mereka berkembang. Mereka saling bekerja sama berlatih cara memindahkan kalimat acak baik secara tertulis ataupun lisan.
Langkah penyederhanaan berikutnya datang dari usulan anak-anak itu sendiri. Guru pun dengan senang hati menerima usulan itu. Setiap anak menyetor tenses acak dengan caranya sendiri. Ini menunjukkan bahwa cara pandang mereka makin maju, tidak terpaku lagi pada guru kelas. Anak-anak, disadari atau tidak, telah mengerti pola kalimat dan pandai dalam mencari solusi. Mereka memang belum sampai pada tahap berpikir logis, tetapi sedikitnya tenses menjadi pengantar yang nantinya diajarkan untuk berpikir logis melalui materi Two—Concept Events (Konsep Dua Kejadian).
Pembelajaran bahasa Inggris atau ilmu pengetahuan apapun semestinya diajarkan dengan cara yang sederhana dan mengajak pelajar untuk berani berpikir mandiri. Dan sejatinya, pendidikan itu adalah perubahan pola pikir yang memerdekakan manusia.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa, 18 Agustus 2026
Pada 1901, benih ide kemerdekaan Indonesia lahir. Ratu Wilhelmina mengeluarkan kebijakan yang dikenal dengan Politik…
Dwi Tunggal antara Sukarno dan Hatta sungguh dahsyat, Indonesia merdeka--tanpa menaikkan peran toko-tokoh lainnya. Dari…
Matematika selalu menjadi momok mengerikan bagi pelajar SD. Penyebabnya sederhana. Sejak kelas 1 sampai kelas…
Heboh mereka. Ungkapan kegembiraan belajar yang digambarkan Miss Fathy. Literasi berbahasa Inggris dikemas dalam bentuk…
Pelajar kelas Reading (Membaca) biasanya membaca tanpa perlu tahu banyak tentang unsur yang membentuk suatu…
Dua orang anak kembali berhasil menyetor perubahan verbal tenses di luar kepala secara teratur (11/08/2026).…
Leave a Comment