oplus_0
Salah eja atau ucap seringkali dialami para pelajar bahasa inggris. Fokus kebanyakan orang adalah kemahiran speaking (berbicara). Orang yang pandai speaking itu seringkali mengalami kendala saat menghadapi pengucapan kata yang cara bacanya mirip. Misal eat vs it, bad vs bed, dan land vs lend. Salah ucap pada kata itu menyebabkan salah tafsir.
Jawaban untuk mengatasi masalah krusial tersebut berada pada pronunciation (pengucapan). Ini bukan hanya mengatasi salah tafsir tetapi juga memperindah suara karena terdapat penekanan terhadap tinggi rendahnya suara, terdengar indah. terdapat juga cara pemotongan atau penggabungan kata sehingga frase atau kalimat lebih ringkas, tanpa mengurangi makna. Selain itu, oang yang pandai pronunciation tidak mudah ragu berbicara, maksud tersampaikan dengan tepat.
Terkhusus bagi pelajar yang sudah terbiasa speaking atau membaca buku dengan suara nyaring, mereka sebenarnya tidak butuh waktu yang lama untuk belajar. Hal ini karena mereka telah mempunyai perbendaharaan kosakata yang sudah cukup banyak dan biasa diucapkan. Mereka hanya perlu tahu beberapa teknik pengucapan dan jumlah Syllable (Suku Kata) dan Vowel Length: Panjang pendeknya pelafalan huruf vokal.
Bagi pelajar yang masih sangat pemula, mereka sebaiknya terlebih dahulu belajar speaking atau membaca dengan suara nyaring. Bila energinya cukup–waktu dan kapasitas otak mampu menyerap lebih banyak—sebaiknya speaking disertai pronunciation dipelajari dalam waktu yang bersamaan. Di sinilah yang membedakan kemampuan pelajar yang hanya mengandalkan speaking vs speaking dan pronunciation.
Futri Syam, seorang dosen universitas Teuku Umar di Aceh, malah mempunyai pemikiran yang berbeda. Ia terlebih dahulu mengikuti kelas pronunciation secara intensif, hampir setiap hari belajar. Sebagai seorang yang terlibat aktif dalam dunia akademik, ia merasa membutuhkan literatur bacaan yang lebih banyak. Ia pun memilih kelas Reading (Membaca) di mana ia aktif membaca buku percakapan dan membaca buku dengan suara nyaring. Akselerasi belajar pun menjadi lebih efektif karena terdapat keterhubungan erat diantara dua kelas yang ia ikuti itu.
Faika peraih emas pada olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional 2026 turut bergabung di kelas pronunciation yang diikuti Futri. Gadis cilik yang saat ini kelas 4 SD tidak merasa sungkan lagi bergaul dengan orang dewasa karena sejak masih masih TK ia sudah belajar bahasa Inggris dan sering sekelas dengan orang dewasa. Ia malah merasa senang selalu berkenalan dengan orang baru dan tetap rajin mengulangi pelajaran yang telah ia tamatkan. Futri terhibur karena ada anak yang cerdas yang menjadi rekan belajarnya.
Pembelajaran di Rumah Belajar Bersama (RBB) ini mengkoneksikan antara anak-anak dengan orang dewasa dalam satu ruang belajar menghapus sekat tingkatan umur sebagaimana yang juga terjadi di kampung Inggris Pare, Jawa Timur. Tidak ada sekat umur. Pikiran para pelajarnya bergaul untuk berbicara dengan siapa pun juga untuk kemahiran berbahasa Inggris.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa, 29 September 2026
Para pelajar yang menguasai perubahan seluruh kalimat tenses dengan segala bentuk perubahannya bukanlah jaminan bahwa…
Ahmadi Hatta adalah mahasiswa jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 87. Pada tahun 2000-an,…
Suatu pembelajaran akan terasa sangat mudah dipelajari apabila para pelajar tidak asing dengan lingkungan kehidupan…
Seorang anak remaja mengumpulkan pikiran untuk mengekspresikan kesan pembelajaran Inggris yang ia peroleh di sore…
Kunjungan Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat, ke sebuah SMK benar-benar menelanjangi kemampuan dasar…
Seorang anak bertanya, "Mister, kenapa pelajaran bahasa Inggris di sini berbeda dengan di sekolah?" Pertanyaan…
Leave a Comment