Kerumitan itu adalah sesuatu hal yang selalu dihindari. Namun, menghindari kerumitan bukanlah menyelesaikan masalah, malahan menambah masalah. Kerumitan yang lainnya pasti datang menghadang. B. J. Habibie berpikir sebaliknya. Menurutnya, “Kerumitan adalah kesempatan untuk melakukan hal yang lebih baik.” Setiap minggu terjadi kecelakaan pesawat saat landing. Karena belum ada yang sanggup menyelesaikan masalah yang super pelik ini, Habibie diminta untuk mencari solusinya. Tantangan diterima dan itulah kemudian yang menjadi penemuan Mr. Crack—menurut pengakuan Habibie—membantunya mendapatkan beasiswa kuliah S 3 saat ia di Jerman.
Cerita orang besar itu dapat ditarik dalam dunia pendidikan. Teknik dengan pedagogi memang jauh berbeda, tetapi keberanian menghadapi masalah dan tantangan layak untuk dicontoh. Dalam kasus pelajaran bahasa Inggris, para pelajar yang sedang dididik masih tidak mengerti cara penggunaan pronoun (kata ganti) betapapun telah seringkali mendapatkan contoh dan praktik dalam berbicara. Terlalu dini untuk mengklaim bahwa mereka tolol. Dari kegagalan tersebut, ide penyederhanaan dihadirkan. Dibuatlah latihan tulis untuk mengikat makna terhadap hal-hal yang telah dipelajari. Mereka bisa merujuk pada lembaran kertas bila melupakan pelajaran. Ternyata, daya ingat mereka jauh lebih meningkat secara signifikan. Peradaban lidah diselaraskan dengan peradaban tulis memperkuat daya rekat ingatan.
Melalui pendekatan literasi ini, satu kerumitan terselesaikan. Apakah kerumitan lainnya tidak ada lagi? Tentu saja masih banyak masalah. Ketidaktahuan posisi subjek, kata kerja, dan objek menjadi perhatian selanjutnya, hal yang luput dalam speaking (percakapan). Ini masalah yang sangat kompleks karena kebanyakan pelajar yang kami temui di lapangan masih belum mengerti subjek, verb, dan objek dalam bahasa Indonesia.
Tapi lagi-lagi itu bukan masalah yang sulit. Dari struktur bahasa Inggris, mereka belajar hal-hal yang berefek pada bahasa Indonesia. Maklum saja, tata bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam beberapa hal mengadopsi konsep universal yang sama, yang sumber awalnya berakar dari bahasa Latin. Misalnya, pengategorian kata kerja dalam kamus kita menjadi k.k.t. (kata kerja transitif) dan k.k.i. (kata kerja intransitif). Konsep ini sejalan dengan istilah transitive (butuh objek) dan intransitive (tidak butuh objek) dalam bahasa Inggris. Belajar tata bahasa Inggris juga turut membantu memahamkan tata bahasa nasional kita. Beberapa hal pasti berbeda, namun untuk mengetahui jurang perbedaannya yang mendalam, ada baiknya terlebih dahulu memperkenalkan persamaannya. Dari persamaan, pemikiran tentang perbedaan dengan sendirinya akan muncul.
Untuk mengesankan bahwa ini bukan pelajaran yang rumit, tiap lembaran kertas soal itu bertuliskan kata ‘game’, permainan otak. Otak pelajar langsung menganggap bahwa ini permainan, bukan pelajaran yang sulit. Lembaran kertas yang berhubungan erat dengan materi soal disediakan sehingga mereka mendapatkan pengantar berpikir tentang apa yang harus diisi pada jawaban dan yang diperbaiki pada soal error analysis (memperbaiki kata yang salah). Hasil pekerjaan mereka dibaca secara bergantian untuk didengarkan dan dibahas secara bersama-sama, berguna untuk menyadarkan mengapa mereka salah atau benar, termasuk memperbaikinya kesalahan dalam berbicara Inggris.
Sebagai hiburan–tetap melibatkan pencerdasan otak, meskipun aktivitas fisik lebih dominan–para pelajar itu bermain Uno Game. Peraturannya, peserta yang kalah menghadap ke guru untuk diuji sejauh mana tingkat pemahamannya. Menurut pengampu Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete, Miss Fathy Cayadi, “Game ini harus berulang-ulang untuk mengantisipasi lupa: semakin sering diulang-ulang, semakin mudah diingat. Para pelajar dalam keceriaan bermain itu, sadar atau tidak telah melakukan aktivitas perlawanan melawan lupa.
Tentu saja, aktivitas pencerdasan kepada para pelajar RBB Tanete ini sama sekali tidaklah sedahsyat dengan apa yang telah dikerjakan oleh Habibie: sama sekali tidak layak dibandingkan. Namun, tidak ada salahnya mengikuti alur berpikirnya dan bertindaknya Habibie dalam skala yang sangat kecil. Inspirasi dari tokoh besar mengajak kita berani berpikir dan bertindak besar juga. Hal yang patut diingat adalah apa yang dikerjakan oleh Miss Fathy di daerah ini adalah hal yang langka, jarang dilakukan oleh orang-orang di daerah. Jika hal ini banyak dijalankan di daerah masing-masing, ini memungkinkan lebih banyak pelajar Indonesia yang akan pandai berbahasa Inggris sejak usia dini.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 3 Oktober 2024

Tinggalkan Balasan