Ketakutan para pelajar pada bahasa Inggris seringkali muncul hanya karena gurunya kaku, tidak pandai memecah kebuntuan kelas. Mereka dihadapkan pada teks bacaan yang tidak menemukan jembatan keterhubungan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Memperkenalkan sesuatu yang baru yang semestinya bisa menarik, meskipun itu adalah kewajiban dalam dunia pendidikan, menjadi hilang. Mengajar sebatas mengajar. Ini memperlengkap persoalan klasik pendidikan kita yang tidak mempunyai ujung pangkal. Sebuah tambahan berupa daerah-daerah yang jauh dari pusat dan akses pendidikan yang minim fasilitas digabungkan dengan persoalan-persoalan di atas memperparah citra buruk pendidikan kita.
Indonesia telah begitu lama dihantui kerumitan belajar berbahasa Inggris. Guru-guru yang kreatif tahu bahwa menghancurkan asumsi bayang-bayang ketakutan paling mendasar harus dilakukan sebelum memasuki inti pelajaran. Game selalu menjadi incaran para pelajar dan keinginan belajar dengan suasana bermain dipenuhi. Misalnya, permainan mencari kosakata secara berkelompok untuk melatih kerja sama team. ‘Hom pim pa’ adalah seruan bersama untuk menentukan siapa yang lebih dahulu bermain. Kemudian, beragam kosakata yang berhasil dikumpulkan itu dijadikan kalimat dan kemudian dibaca secara bergiliran. Peristiwa semacam ini terlihat remeh-temeh dan memang sengaja dibuat segampang-gampangnya agar semua pelajar senang. Hal pembuka yang ingin dicapai adalah kebahagiaan dalam belajar.
Setelah itu, materi kemudian perlahan-lahan ditingkatkan. Mempelajari penyebutan jam yang masih dalam keadaan seperti bermain: sebenarnya ini sudah agak serius, tetapi dibuat seramah mungkin agar suasana hati tetap riang. Setiap orang mengerjakan tugas tersebut perorangan. Usaha membangun kepercayaan diri sendiri ditumbuhkan di mana mereka dipicu untuk berani tampil menyetor pemahaman di depan kelas atau guru kelas.
Jadi, pembelajaran secara berkelompok dan individu terwujud.
Pelajaran intelek dalam bentuk literasi buku diberikan pada paling akhir. Para pelajar me-review atau melanjutkan lesson (pelajaran) hingga mereka dapat menamatkan paling minimal satu buku, standar pemula. Lesson (pelajaran) 51 membahas tentang iklim, cuaca, dan musim. Lesson 52 membahas tentang kebangsaan, asal-usul, dan mengerjakan latihan soal tulis. Ini terkesan rumit: ada teks, cara baca dan menjawab soal-soal. Beberapa tambahan kalimat yang tidak ada dalam buku, namun berhubungan dengan lesson yang sedang dipelajari diselipkan untuk memperkaya isi materi.
Bagi guru Rumah Belajar Bersama RBB (RBB) Tanete, kerumitan dalam pembelajaran literasi di mana pelajar Indonesia dicap sangat rendah justru mempunyai daya tarik yang paling dahsyat. Miss Fathy Cayadi dengan sengaja menerangkan inti pelajaran itu menjelang kelas belajar selesai. Inilah fungsi warm up (pemanasan) telah diberikan pada awal-awal pembelajaran dengan maksud menguatkan daya fokus tatkala bertemu dengan pelajaran yang menurut mereka membutuhkan pemikiran yang lebih kreatif.
Serumit apa pun kendala yang ditemukan di kelas teratasi dengan baik karena Miss Fathy tidak hanya merunut materi secara sistematis, tetapi juga memberikan pendampingan langsung dari tiap tahapan: cara membaca dengan benar, stressing (penekanan) pengucapan, dan dasar-dasar tata bahasa pada simple present—hal yang paling sering digunakan dalam percakapan—diajarkan dengan sangat detail hingga lesson tersebut tuntas. Ia dengan jeli mengaitkan pola kalimat bahasa Inggris tersebut dengan struktur bahasa keseharian siswa, sehingga teks yang awalnya asing seketika terasa dekat dan mudah dipahami.
Penilaian objektif tanpa mendongkrak nilai satu poin pun berguna untuk mengingatkan kemampuan pribadi dan dijadikan alat atau alasan untuk siap berusaha lebih baik hingga mencapai nilai terbaik. Maka, tidaklah mengherankan bila para pelajar RBB itu mempunyai keyakinan yang tinggi mampu menamatkan buku-buku berbahasa Inggris. Belajar bukan lagi ketakutan, melainkan ketertarikan untuk menuntaskan pelajaran.
Kemampuan guru seperti Miss Fathy berlatar belakang sarjana bahasa Inggris yang terus membuat inovasi belajar untuk menerobos kebuntuan kurikulum itu terjadi karena RBB percaya, hanya merekrut dan membuat team yang selalu berpikir menawarkan model pendidikan terbaik untuk mencetak para pelajar terbaik: tidak menunggu kiriman solusi, melainkan membuat solusi terbaik.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Sabtu, 3 Oktober 2026
Kekhawatiran orang tua pada anak yang mempelajari tenses tidak lancar berbicara itu mempunyai alasan yang…
Bahasa Inggris ataupun bahasa asing apapun juga pasti terasa asing dilidah bila tidak dibiasakan. Mengulangi…
Kejeniusan Mr. Crack, B. J. Habibie, tentulah turut mengharumkan nama baik Indonesia, disegani di dunia…
Salah eja atau ucap seringkali dialami para pelajar bahasa inggris. Fokus kebanyakan orang adalah kemahiran…
Para pelajar yang menguasai perubahan seluruh kalimat tenses dengan segala bentuk perubahannya bukanlah jaminan bahwa…
Ahmadi Hatta adalah mahasiswa jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 87. Pada tahun 2000-an,…
Leave a Comment