Satu kata yang ampuh untuk melahirkan kemahiran. Perulangan namanya. Kata ini mengingatkan apa pun yang terlupakan. Dari perulangan itu pula, kita bisa lebih mahir dari sebelumnya.
Untuk sebuah ingatan, Milan Kundera mempunyai kalimat magis, “perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingat melawan lupa.” Kalimat di dalam The Book of Laughter and Forgetting (Kitab Tawa dan Lupa) bermakna bahwa kekuasaan otoriter melanggengkan kendali mereka dengan cara menghapus sejarah dan memanipulasi memori kolektif masyarakat. Tipuan maut ini membuat orang kesulitan menemukan kebenaran sejarah.
Fathy Cayadi bukanlah seorang kritikus sejarah. Ia pendidik, menumpahkan segenap ilmu pengetahuannya untuk mendidik generasi. Ia pun tidak sedahsyat sastrawan Ceko-Prancis itu, tetapi ia mempunyai langkah yang sama dalam “melawan lupa”.
Guru bahasa Inggris ini paling sering mengadakan review pembelajaran. Buku-buku pelajaran yang telah dibaca pelajarnya dianggapnya tidak cukup. Ia berkreasi mencetak lembaran kertas bergambar yang menarik sesuai dengan bacaan yang telah dipelajari. Cara pandang pun menjadi lebih kaya.
Apa saja yang Miss Fathy review (revieu)? Penggunaan article a or an (kata sandang bermakna sebuah, seorang, sebiji dll.), verb be: am, is, are (kata kerja be: am, is, are) yang berhubungan dengan pekerjaan dan preposition in, on, under etc. (kata depan bermakna di dalam, di atas, di bawah dll.).
Bagi Miss Fathy dan orang yang biasanya berkecimpung dalam pelajaran itu pasti menganggapnya mudah. Bagi pelajar pemula, pasti tidak semudah itu, Fergusso. Itu sulit, butuh latihan berulang-ulang. Kesadaran itulah yang dihantarkan Miss Fathy ke dalam alam pikiran pelajarannya.
Kemudian, apa manfaat lain yang diperoleh? Selain mengikat makna pada lesson (pelajaran) 1 sampai 20 pada buku Basic Reading (Bacaan Dasar), itu juga meyakinkan bahwa lesson berikutnya siap dipelajari. Terbukti, lesson 21 sampai 24 yang berisi percakapan dan penjelasan kosakata melalui gambar berjalan lebih mulus.
Jadi, pembelajaran itu bukan hanya menyenangkan karena adanya permainan, tetapi materinya berhasil dibuat semenarik mungkin. Tetsuko Kuroyanagi dalam novel otobiografi fenomenalnya menggambarkan dirinya sebagai Totto Chan lebih menyukai memperhatikan pengamen di jalan melalui jendela sekolah daripada pelajaran yang diajarkan di dalam kelas. Gadis cilik di jendela itu harus angkat kaki–pindah sekolah karena guru menganggap perilaku Totto Chan bermasalah. Padahal, bisa jadi karena kelas tidak dikreasikan sehingga alunan musik rakyat lebih enak didengar daripada suara guru.
Tidak perlu kaget, kemampuan berbicara pelajar Miss Fathy di Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete ini akan berbanding lurus dengan kemampuan pelajar di RBB Bulukumba. Keduanya sama-sama menggunakan the law of repetition (hukum perulangan) yang digerakkan dengan kreativitas demi menepis perulangan yang membosankan. Hal yang membosankan itu tidak pernah menarik untuk diingat sebagaimana tidak menariknya para penguasa yang cuma berpura-pura peduli pada pendidikan.
Dalam konteks bernegara, bukanlah peringatan kemerdekaan 17 Agustus itu perulangan? Indonesia melawan lupa untuk tidak mau dijajah lagi. Dalam dunia pendidikan, dari perulangan yang dimasifikasi, kemahiran apa yang tidak bisa diciptakan? Apakah pemerintah masih ingat bahwa untuk menjadi bangsa yang besar, kualitas pendidikan harus diutamakan?
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Sabtu 8 Agustus 2026
Kesulitan mengkombinasikan pelajaran grammar and speaking (tata bahasa dan bicara) akhirnya terjawab. Bila pada pertemuan…
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya di mana sebuah kelas belajar di malam hari terkondisikan untuk mau…
Seorang pemudi tamatan SMA tertarik belajar bahasa Inggris. Ia mencari informasi di media sosial, menemukan…
Izzatunnisa dan Nabila dua orang pelajar kelas 4 SD baru saja (03/08/2026) membuktikan kefasihannya mendemonstrasikan…
Conditional sentences (kalimat pengandaian) biasa penulis sebut dengan kalimat mengkhayal. Namanya juga khayalan: pasti bertentangan…
Mengenal kosakata itu mudah, tetapi mengenalkan kelas kata pada kosakata tidak mudah. Kenapa? Orang Indonesia…
Leave a Comment