Conditional sentences (kalimat pengandaian) biasa penulis sebut dengan kalimat menghayal. Namanya juga khayalan, bertentangan dengan realitas. Biarpun kalimat dibolak-balik, faktanya bukan pada kalimat tersebut. Itu karena kemasukan satu kata, if (jika).
Pada grammar, kalimat menghayal itu berada dalam pembahasan adverbial clause (klausa keterangan), tergolong materi intermediate. Merujuk literatur Betty Schrampfer Azar dan Marcella Frank, guru dan ahli tata bahasa Inggris, mereka menjelaskan materi ini setelah menuntaskan materi adjective clause (klausa sifat) dan noun clause (klausa benda). Kemungkinan besar, ini karena begitu luasnya cakupan adverbial clause sehingga kalimat menghayal tersebut ditaruh pada bagian akhir dan untuk menghindari kerumitan berpikir bagi pelajar asing yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris.
Apakah adverbial clause bisa diajarkan tanpa terlebih dahulu mengenal adjective clause dan noun clause? Pertanyaan ini hadir setelah penulis memperhatikan soal-soal olimpiade bahasa Inggris yang menghadirkan “kalimat menghayal” Tipe 1.
Untuk lebih aplikatif, dua orang peraih emas pada olimpiade SD bernama Adeeva, kelas 4 SD dan Faika, 4 SD diajak “menghayal”. Mereka diminta membuat dua kalimat yang mereka suka. Sebuah contoh kita hadirkan di sini.
Saya menjadi seorang dokter. Saya akan menolong banyak orang.
(I become a doctor. I will help many people.)
Kemudian, mereka diminta memasukkan conjunction (kata sambung) “if” (jika) di awal kalimat, menggabungkan kedua kalimat di atas menjadi satu. Terbentuklah:
If I become a doctor, I will help many people.
(Jika saya menjadi seorang dokter, saya akan menolong banyak orang.)
Lalu,. mereka membalik kalimat.
I will help many people if I become a doctor.
(Saya akan menolong banyak orang jika saya menjadi seorang dokter.)
Luar biasa! Kedua anak itu dapat melakukannya dengan sangat mudah. Faktanya, itu berada di masa akan datang, belum terjadi atau belum menjadi dokter. Itulah yang disebut kalimat menghayal tipe 1 yang hadir dalam olimpiade SD.
Bagaimana dengan tipe 2, 3 serta mixed 1 and 2 (campuran 1 dan 2)? Semua bisa saja diajarkan karena itu dapat diajarkan melalui pendekatan tenses yang telah mereka kuasai di luar kepala. Namun, penulis berpikir untuk tidak membuat anak-anak tidak kesulitan mencari fakta pada kalimat. Pada akhirnya, tipe 2 dan 3 yang dipelajari bersama.
Penulis terlebih dahulu me-review, “jika simple present bertemu dengan simple future, maka simple past bertemu dengan apa?,” tanya penulis.
Mereka menjawab, “Kalau simple past, itu bertemu dengan simple past future lah,” jawab mereka dengan santai.
Soal ini hanya boleh diberikan pada pelajar yang paham struktur tenses. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kedua anak ini telah mengerti. Terlebih, kotak kosong tenses yang ditaruh dihadapannya agar “khayalan” mereka masuk akal.
Khayalan kok masuk akal? Maksudnya, sesuai dengan kaidah tata-bahasa.
Pembahasan pun terus berjalan. “Kalau begitu, silahkan tindak lanjuti dengan membuat kalimatnya. Itu disebut kalimat mengkhayal type 2,” kata penulis.
Adeeva dan Faika saling menanyakan kata kerja kedua dari “become.” Mereka sepakat menyebut “became”. Mereka membaca verb 2 (kata kerja kedua) itu dengan sebutan”bekam”, tidak ada bedanya dengan become di verb 1. Penulis membantu (pronunciation) pengucapan, “Verb 1 dibaca “bɪˈkʌm, lidah Indonesia, bekam” dan verb 2 dibaca “bɪˈkeɪm, lidah Indonesia, bekeim”. Ini penting untuk bahan percakapan, bukan hanya pandai jawab soal tulisan.
Berikut ini kalimat yang berhasil mereka pikirkan.
Type 2
If I became a doctor, I would help many people or I would help many people if I became a doctor.
(Jika saya menjadi seorang dokter, saya akan menolong banyak orang atau saya akan menolong banyak orang jika saya menjadi dokter.)
Dalam bahasa Indonesia, tipe 1 dan 2 terlihat sama saja, tidak ada perubahan kata. Dalam bahasa Inggris, terdapat perubahan kata di mana “become” menjadi “became” dan “will” menjadi”would”. Artinya waktu dan kejadiannya berubah ke masa past (lampau), fakta ke present (saat ini).
Untuk lebih sederhana, sewaktu Adeeva dan Faika masih di kelas 2 SD, mereka bukan dokter. Saat ini, mereka bukan kelas 2 tetapi kelas 4 dan 5 SD. Jadi, faktanya, saat ini keduanya bukan dokter.
Pengantar tipe 2 yang ringan diterima otak anak-anak ini lebih baik dilanjutkan ke tipe 3. Logikanya pun sama.
Penulis memberikan pancingan, “Ingat tipe 2 tadi. Jika ada kalimat past, kalimat yang mengikutinya pasti past juga. Buktinya adalah sinple past bertemu dengan simple past future.” Penulis menghela nafas sejenak untuk memberikan ruang berpikir. “Pertanyaannya sekarang, jika past perfect, itu bertemu dengan past apa?” tanya penulis.
Anak-anak langsung menatap kotak kosong tenses-nya dan menyadari pasangannya pasti berada di kotak perfect juga. Hanya ada satu past yang tersisa setelah past perfect disebut. Dengan enteng mereka menjawab, “tentu past future perfect”.
Penulis membenarkan. Itulah yang disebut tipe 3.
“Sekarang, kalian buat kalimatnya. Perfect menggunakan verb 3,” kata penulis tanpa perlu lagi menjelaskan rumus. Mereka tahu perubahan become-became-become (menjadi) dan help-help-helped (menolong). Dengan santai mereka menjawab:
If I had become a doctor, I would have helped many people or I would have helped many people if I had become a doctor.
(Jika saya [dulu] sudah menjadi seorang dokter, saya akan sudah menolong banyak orang.)
Kalimat ini sedikit membingungkan dalam bahasa Indonesia, tetapi tidak usah khawatir karena penjelasan mengikuti. Simple past adalah kejadian masa lampau yang sederhana, sedangkan past perfect adalah kejadian lebih lampau dari simple past.
Jika analoginya pada Adeeva dan Faika, saat ini mereka kelas 5 dan 4 SD. Bagi mereka, masa kelas 2 SD adalah simple past (masa lampau), sedangkan masa TK adalah past perfect (lebih lampau lagi).
ketika mereka masih kelas 2 SD, itu adalah simple past. Nah, kejadian lebih lampaunya adalah sewaktu mereka masih TK. Itulah past perfect. Faktanya berada di simple past atau saat mereka masih kelas 2 SD, bukan saat ini yang sudah tidak kelas 2 SD lagi.
Nah, kalimat Tipe 3 ini mengkhayalkan andai saja status “sudah menjadi dokter” itu sudah terjadi sejak TK (past perfect), maka dampaknya mereka sudah menolong banyak orang sepanjang masa lalu mereka, termasuk saat mereka kelas 2SD.
Lalu, bagaimana dengan faktanya? Faktanya ditarik ke seluruh realitas masa lalu mereka (Simple Past): Nyatanya, sejak TK sampai kelas 2 SD dulu, mereka bukanlah dokter, melainkan anak-anak sekolah biasa. Karena faktanya di masa lalu mereka bukan dokter, maka khayalan tipe 3 ini murni penyesalan atau pengandaian atas masa lalu yang sudah selesai dan tidak bisa diubah lagi.
Jadi semua. Kalimat tipe 1, 2,, dan 3 itu bukan kejadian sebenarnya, murni khayalan saja. Penulis sengaja menunda materi mixed 1 dan 2 karena masih perlu waktu untuk memastikan bahwa struktur kalimat yang mereka telah berhasil buat tersebut harus diikuti dengan pemahaman makna yang utuh. Mereka tahu gambaran umum tetapi belum paham makna secara detail. Lagi pula, beberapa variasi kalimat conditional belum dijelaskan. Bila mereka mahir jebakan soal atau pemahamannya matang, materi mixed–terus terang sangat rumit dipahamkan pada anak SD, itu pasti akan jauh lebih mudah diajarkan bila makna dari tipe 1, 2, dan 3 tuntas.
Beginilah realitas kalimat mengkhayal. Apakah Anda ingin menuntaskan realitas yang dikhayalkan, atau mengkhayalan realitas?
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Senin, 3 Agustus 2026
Mengenal kosakata itu mudah, tetapi mengenalkan kelas kata pada kosakata tidak mudah. Kenapa? Orang Indonesia…
Kebutuhan belajar bagi rakyat di desa segera terpenuhi bila ada kesadaran dari rakyat itu sendiri.…
Perpaduan speaking and grammar (bicara dan tata bahasa) dikemas dalam bentuk game dan percakapan diolah…
Sebuah kalimat seakan menghilangkan rasa lelah guru dalam berjuang. "Mauka (baca: saya mau) juga kuasai…
Semasa mahasiswa, Catatan Pinggir (Caping) pernah saya beli mulai dari jilid 1 sampai 7. Saya…
Ketika guru sedang asyik duduk santai menyaksikan seorang pelajar bernama Nabila menyetor pemahaman tenses di…
Leave a Comment